Puisi Cinta (Ayah-Bunda): Go Lomba
24 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Setelah nominator Lomba Puisi Cinta terpilih, kini dibuka loba tahap dua, Puisi Cinta Go Lomba bertema Ayah-Bunda. Bagi peminat, silahkan kirimkan puisi melalui bagian komen postingan ini. Pada bulan Maret 2008 nominasi akan diumumkan.
Belajar dari pengalaman sebelumnya, usahakan tidak bertanya apa pun. Kan mudah saja mencerna pengumunan ini, wong syaratnya tidak neko-neko. Tulis puisi, kirimkan melalui bagian komen, cantumkan CV. Oh ya, CV bermuatan siapa Sampeyan, apa karya Sampeyan, atau apa saja yang mengambarkan diri Sampeyan. Silahkan berkreasi.
Contoh:
Ersis Warmansyah Abbas
Wahai Wanita Surga
Malam ini, Wahai Wanita Surga
menumpang angin pada lipatan qalbu
ampun maaf segala rindu seluruh angan segenap ingin
bungkusan jarak memisah raga dimakan waktu
membongkar benteng-benteng pemisah
tali sujudku di jiwamu jembatan siratul mustakim
Elus lembut jari-jari emasmu di ubun-ubun
senyum membentang harap tiada bermuara tiada bertepi
mata teduh getaran dawai pancang-pancang kokoh
kemudiku melawan badai tak berampun
belum apa-apa, wahai kekasih sejati
Enam ratus purnama menjaring makna-makna hikmah
sebait katamu belum terkuak belum terurai
teropong perncarian menjaring wewangi surgamu
abadi pada helaan nafas kelana mengasyikkan
menjangkau surgamu
Banjarbaru, 24 Januari 2008
CV: Ersis Warmansyah adalah









52 Responses to “Puisi Cinta (Ayah-Bunda): Go Lomba”
By Inaz on Feb 24, 2008 | Reply
Ayoo ikutannnn….
By dhikrotul izzah on Feb 24, 2008 | Reply
ups…cinta Rosulullah di pending dulu jadinye…
hm…cari inspirasi dulu…ah…
***Ke Maret.
By jalaindra on Feb 24, 2008 | Reply
Mengering Basah
:Bapak
keringatmu mengering basah
jalanmu menempa lelah
masih belum juga usai gelisah
tubuhmu yang ringkih
langkahmu tertatih
menahan letih
masih belum juga usai perih
untuk siapa
kau redam luka
untuk siapa
kau balut duka
waktumu takkan pernah bisa terbayar olehku
:anakmu
Bunda
tak pernah bisa kuartikan gurat letih di wajahmu
juga tutur doamu yang mengalun pelan
menyusup di antara gegaris hujan
menjelmakan wewangi kesejukan
tak pernah bisa kumaknai senyum tertahanmu
juga nasihatmu yang berbisik pelan
menyelinap di sela pelukan
menjelmakan kehangatan saat lepas kepergian
tak pernah bisa kuraba air matamu
juga langkah kakimu yang mengeja undakan
menuntunku di setiap belokan
tak pernah bisa kubalaskan perihmu
saat kau meregang nyawa
untuk membuatku terlahir ke dunia
: sujudku untukmu, Mak
Jtngr, 030107
Jalaindra, lahir di pekalongan, menetap sementara di jatinangor, menulis di blog: http://jalaindra.wordpress.com. Sedang belajar untuk menulis lebih baik.
By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply
indah namamu itu ..
dijetak degup hati membara
membaurkan rasa sayangku
cinta abadi nan mewangi
tercampur dalam jiwa melati
irama hidup berlabuh
sandaran jiwa teguh menjadi ..
indah nama itu ..
bergaunkan lambaian hati penyayang
dekap rasa nan bergetar
seteguh iman ini ..
sejukan keindahan itu menyatu
tegukan nafas hati ini ..
beriringan dengan cinta sejati ..
dia yang pengasih jiwa
bertalikan asmara bersenandung
direrumputan hati yang subur
indah nian diri itu ..
melewati jiwa yang rapuh
akan perjalanan hidup yang gelap
sinaran hati itu menusuk ..
bersama dia hati ini gembira..
bekasi, 2* 2008
setiawan lahir di purwokerto, tinggal di bekasi.
http://setiawanpribadi.tripod.com/kaindahchandradewi
belajar untuk dipahami dengan hati…
By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply
bunda papa
sang penuntun hati yang kecil ..
dimana bunda papa menimangku
selangkah maju pada kehidupan anakmu
tanpa keluh kesah di rasa
tanpa pandang bulu menjaga
tanpa kasih bunda papa
hidup kan terasa hampa.
lambaian kasih sayang tak berujung
kian tersua terkenang .
akan arti semua keabadian cinta ..
bunda papa siang malam menjaga .
dekap jiwa itu terbekas sinar kasih
kenang masa sedih , senang.
terbiaskan kasih bunda papa
direlung hati mereka kian bersinar.
ingin ku membalas
bunda papa
ku sayang kamu ..
bekasi,2* 2008
my cv :
nama : setiawan pribadi
ttl :purwokerto 5/2/1985
alamat :jln. beringin putih raya blok dd33/6 taman wisma asri
bekasi utara kota bekasi jawa barat
telp :021-92227398
status :single
email :kaindah@yahoo.com
motto :hidup kian bermakna tanpa hati yang tenang
By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply
kasih yang terindah
ditimang penuh keindahan
berlantunan kata sayang
semi hati berjalan merakah
bernuansa kasih sejati
dimana ibu melahirkanku
iba hati ibu penuh likuan
direlung jiwa membara
hidupkan jiwa yang kecil mungil itu
berlinang airmata bahagia
dimanja kasih yang abadi
pelipur setiap insan
di dahan rindang aku berteduh
bersemayang kan selimut hati
berish putih tanpa noda
iringan hati ibu menyertai
tak pernah kan terlupa
jiwa yang kecil mungil itu tumbuh dewasa
bekasi, 2*2008
setiawan pribadi
By unai on Feb 25, 2008 | Reply
Kesunyianku, Ibu…
Ajarkan aku mencintai laut
Berlayar membawa rindu membaui harum pasir di seberang
Aku ingat, ketika dulu beranjak
Tak ada keteduhan, matahari memuncak
musim dipenuhi daun daun berguguran
Ibu…
Ada dua aksara yang hendak kuteriakkan
Namun tersangkut dalam sekat
Ruang yang ada namun tiada
serupa mimpi buruk namun indah
Hari-hari adalah pencarian
Menyusuri lagi ketiadaan
Impian yang terbenam dalam dalam
Jarum jam enggan berdetik
menjadikan sunyi lebih sunyi
Yuni Ambarwati ; pencinta puisi. Lahir di Ambarawa, menghabiskan masa remaja di Prabumulih, sekarang menetap di Yogyakarta.
http://myrealsolitude.wordpress.com
By unai on Feb 25, 2008 | Reply
Seseorang yang warna matanya seperti ibuku
Kugeledah rautmu
Rambut lurus menjuntai lemah
Menaungi sepasang alis teduh
yang setia membingkai kelopak nan sayu
Itu mata ibuku…
kataku perlahan, berisik…sambil tetap menggeledah
Mencari makna di sela riap lelah
Bertanya, diantara dentum meriam kerinduan
yang memekakkan
Adakah laut dan aurora pekat malam menjadi bagianmu?
Katakan saja iya…
Meski mungkin kau lebih mencintai pegunungan
yang lengkap dengan sepi
Masih kugeladah rautmu
sekedar memastikan
Kau..pemilik mata coklat
teduh…berkedip pelan
Meluruhkan butiran bening yang menetas ketika haru
By unai on Feb 25, 2008 | Reply
saya kirim dua pak yaaaa
By 5H4L3H on Feb 25, 2008 | Reply
Surga Dunia Akhiratku
Ibu
Tertetes air mata dan keringat
Di antara persimpangan hidup
Tertancap namamu di setiap jiwaku
Terukir surga di telapak kakimu
Ayah
Mengalirkan keringat dan darah
Dalam setiap tulang dan denyut nadi
Tertanam namamu di setiap ragaku
Tertulis dunia akhirat di telapak tanganmu
Ibu…Ibu…Ibu…
Ayah…Ayah…Ayah…
Kalianlah segalanya bagiku
*Isnaini Shaleh, kelahiran Banjarmasin, 15 April 1985. Namun dibesarkan di kota Kandangan. Juga menulis di blog http://shaleh86.blogspot.com. Sekarang telah menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam).
By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply
salut ku
hidup ku atas doa mu
mati ku karena keihklasan mu
terima kasih ku karna usaha mu
karena kamu aku ada
hidup ku untuk mu
mati ku atas kecintaan ku
terima kasih bu..
salut atas ku untuk mu
barabai 25 Februari 2008
CV:
budi irawan
lahir di Pinggiran kota barabai, Simpang Mahar 03 Januari 1985
mengajar sebagai Guru SD. kini kuliah S1 PJJ PGSD UNLAM
budimeeong@yahoo.co.id
By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply
sedikit koreksi
budimeeong_hst@yahoo.co.id
By ainun jariah on Feb 25, 2008 | Reply
bunda
bunda…
begitu banyak jasamu padaku
tanpa bunda,aku tak akan lahir didunia ini
tanpa bunda aku tidak akan tahu indah nya karunia Allah
bunda ku sayang…
aku belum bisa membahagiakanmu
aku belum bisa membuatmu bangga
belum ada yang bisa ku persembahkan untuk mu
tapi bunda…
aku berjanji suatu hari nanti
aku akan membuat bunda bangga padaku
ku harap do’amu menyertai langkahku
bundaku tercinta…
terimalah ungkapan hati anakmu ini
sebagai pengobat hati dan kelelahanmu
karena baru ini yang bisa kupersembahkan untukmu
biodataku:
nama: ainun jariah
lahir di lubuk jambi riau 19 oktober 1981,pernah kuliah di fakutas tarbiyah di IAIN “IB” PADANG.sekarang mengajar di RA AN-NISAA’ BATAM.
By meiy on Feb 25, 2008 | Reply
Ikutan ah…tapi puisiku dimana yah, ngumpulin dulu ah pak…:)
By dhikrotul izzah on Feb 25, 2008 | Reply
Embun Cinta
Ibu…
Lentik jemari telapakmu bak permadani sutra
Membelai, membawaku bagai bunga
Nan gemulai merajut kelembutan benang-benang kehidupan
Embun cinta nan bening
Tulus menetes di atas pucuk sari auraku
Terhembus semilir angin sayang
Membisikkan kata keteduhan
‘Tuk terus percikkan keihlasan
Pada bilik-bilik kelopakku
Meluruhkan debu-debu iri, benci serta keangkuhan
Jatuh perlahan menelusuri dinding-dinding mahkotaku
Segarkan semangat yang hampir layu
Merembes masuk mengisi ilmu
Rongga dahaga batangku
Meresap sampai ke akar sanubariku
Ku bersyukur…
Menjadi bunga cinta di tamanmu
Yang bermekaran
Terhiasi kasih tiada taramu
Ibu.
Written by: Dhikrotul Izzah
Batu, 22 February 2008
at 08.10
in the fresh town
fresh monday
fresh morning
Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji dan Embun Cinta.
Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id
By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply
SURAT BUAT IBUNDA
kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh
ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang
mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang
ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau
mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda
sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai
tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang
kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga
ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam
tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata
tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda
seperti pesan bunda,
nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh
nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar
tak pernah mudah, ibunda, tak pernah
jika sesekali nanda berhenti
nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah
tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi
tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah
tapi nanda tak gentar
sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda
indah ip
14 juli 2003
8.56 am
note: pernah dimuat di http://suratcinta.blogspot.com/2003_09_01_archive.html#106419964351804523
By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply
IBUNDA 1
senyummu matahari yang tak pernah redup di setiap pagiku
tutur katamu mata air yang tak pernah surut dalam setiap musim di dadaku
indah ip
21 des 06
8.02 pm
By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply
IBUNDA 2
tahu-tahu di keningmu sudah berjatuhan helai-helai rambut memutih
ibunda, ajariku mengekalkan waktu
agar tak pernah lagi ada yang tercuri sedikitpun dari kebersamaan ini
indah ip
21 des 06
8.12 pm
By Handari Y Alchosih on Feb 26, 2008 | Reply
Pak Ersis, apakah saya harus menulis ulang puisi yang saya ikutkan Lomba Menulis Puisi ini? Saya salah meletakkan di komen ‘Korupsi’. Mohon jawaban. Terima kasih.
***Ya. Soalnya yang mendokumentasikannya teman. Dia biasanya ngak mau repot.
By Handari Y Alchosih on Feb 26, 2008 | Reply
Handari Yektiwi Alchosih
Untuk Ibu dan Bapak ku
Ibu, ma’afkan anakmu ini
yang hanya mengingatmu saat berduka
Ibu, masih adakah pintu ma’af
ketika aku menumpahkan kesal dengan suara kerasku
Ibu, masihkah ada ridhlomu,
saat aku terlalu banyak mengabaikanmu
Ibu, masihkah aku boleh,
Bersujud dan mencium kakimu
untuk pintu ma’afmu
untuk ridhlomu
untuk menghapus dosa-dosa ku
Karena hanya engkaulah Ibu,
yang mampu memintakan semua itu kepadaNya
Bapak, aku sudah tak lagi menangis,
tetapi bukan berarti aku tidak bersedih.
Bapak, aku mendengar semua nasehat
tentang orang-orang terpilih
yang datang ke Tanah Suci
sebagai tamu Allah
dan kembali kepada Nya
di Tanah Suci
Bapak, aku sudah tak lagi galau
saat mengingatmu ketika alam sedang sunyi,
tak lagi marah ketika tak ada uluran tanganmu
saat beribu tanya susah terjawab
Bapak, bagiku tak ada guru terbaik selainmu
tak ada teman terbaik selainmu
tak ada lawan terbaik selainmu
Hanya satu Bapak tanyaku,
Banggakah engkau padaku?
26 Februari 2008
Untuk Data Pribadi, saya dokter gigi yang menekuni manajemen kesehatan dan PNS di Dinkes Prop. Jatim sampai dengan 2006 harus pensiun paksa karena suatu keadaan yang tidak perlu saya ceritakan. Hobi menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran dan merasa sayang untuk dibuang sejak saya mahir menulis huruf, kata dan kalimat. Cita2 masa kecil sebetulnya ingin jadi penulis besar seperti Chairil Anwar, HAMKA dan semua penulis besar yang saya kenal lewat cerita Ibu Bapak saya dan Para Guru saya terutama Guru Bahasa Indonesia sedangkan Bapak saya adalah Guru Ilmu Pasti. Hasil tulisan saya yang terdokumentasi pribadi adalah puisi, cerpen dan novelette. Sedangkan keuntungan yang saya dapat sebagai orang yang hobi menulis adalah beberapa modul kesehatan yang dipublikasikan tingkat nasional dan di journal internasional. Beberapa tulisan ilmiah juga menghantar saya ke kongres internasional dan Asia Pasifik di beberapa negara. Cita2 kedepan ingin menerbitkan kumpulan puisi dan cerpen selain beberapa tulisan yang berisi perenungan. Semoga.
By indah ip on Feb 26, 2008 | Reply
AYAHANDA 1
bahumu karang teramat kuat
tempat ombak pecah
badai patah
burungburung hilang menemu rumah
indah ip
26 feb 08, 7.46 am
By indah ip on Feb 26, 2008 | Reply
AYAHANDA 2
dadamu padang teramat luas
tempat ribu kupukupu lepas
ilalang tumbuh bebas
langit melengkung tak punya batas
indah ip
26 feb 08, 7.50 am
CV
Indah IP. Mencintai dan menikmati dunia tulis-menulis sejak SMP. Aktif berinteraksi dan belajar di dunia cyber, diantaranya: milis penyair, milis puisikita, milis bunga matahari & situs http://www.cybersastra.net. Beberapa puisinya dimuat dalam Buku Antologi Seratus Puisi “Jogja 5.9 Skala Richter”(Bentang, 2006), Antologi Puisi “Bungamatahari” (Avatar Press,2005), Antologi Puisi Cyberpunk “Les Cyberlettres” (YMS, 2005), “Dian Sastro For President: End of Trilogy” (ON/OFF, 2005), Antologi puisi “Maha Duka Aceh” (PDS HB Jassin, 2005),Antologi puisi temu sastra jakarta 2003 “Bisikan Kata, Teriakan Kota”(DKJ & Bentang Budaya, 2003), “Majalah Aksara”(Agst-Sept 2003),Antologi Puisi Digital “Cyberpuitika”(2002)dan Antologi Puisi Cyber “Graffiti Gratitude”(2001). Salah satu cerpennya dimuat dalam “Laminsastra Balikpapan”(2003), “Batu Merayu Rembulan”(2003)dan kumpulan cerpen pendek “Graffiti Imaji”(2002)
Website: http://www.indahip.blogspot.com
Email: indahip@gmail.com
By Abu Salman on Feb 26, 2008 | Reply
Matahari Pengagum Malam
- untuk Ibu -
duduk di beranda bersama senja
mengurai getir genangan silam
jelang larut pada malam penuh gemawan
sudahlah Ibu,
yang telah pergi tak kan kembali
takdir sunyi tlah menghampiri
pada tiap-tiap yang berjiwa
menatapmu adalah samudra sunyi
menyimpan kelam di dasar hati
atas alir air keruh duka yang bermuara
dari anak-anak sungai perjuangan
adalah engkau, ibu
matahari pengagum malam
tersipu malu sembunyi diri
pada senjakala hari
mengintip malam di fajar hari
adalah engkau,ibu
matahari pengagum malam
sinarmu akan tetap mengabadi
pada tiap relung – relung sunyi
Kota Pudak, 23 Oktober 2007
Mengantarmu Berlindung di Negeri Tuhan
’tuk Ayah, Selasa Kliwon, 22 Agustus 2007
lari-lari kecil beberapa langkah mendahului iring-iringan yang mengantarmu
dideras hujan senja yang smakin menggerimis
di sepanjang jalan ku tabur wangi kembang berpadu kuning beras, lembar kertas dan logam penukar
setelah dalam berdiri berjajar mantra doa untukmu dilafalkan
kuyup basah tubuh dan jiwaku!
gerimis merintik usai t’lah
tebaran wangi kembang berpadu kuning beras, lembar kertas, dan logam penukar habis sudah
”inilah gerbang pintu negeri barumu yang t’lah engkau tahu”
menanti engkau empat puluh waktu lamanya dalam baring ada tiada
setelah tujuh puluh delapan masa tak henti menabur karya menyemai makna
kini tlah engkau khatamkan perjalanan dalam bias rela handai tolan
meski isak sesak kehilangan tersisa di sudut ruang
kini ku pulang setelah mengantarmu berlindung di negeri Tuhan
meski puji puja tak kan henti ku pintakan siang malam
Tuban, 22-24 Agustus 2007
Ayah 2
di ritmis satu satu desah nafasmu
rinaiku tetap yang dulu
membiru menyuara membahana dilangit jiwa
menahan arak awan terjatuh titik rintiknya
di perih sayatsayat keriput kulit tubuh dan keras hatimu
aku turut menyemainya
mengharu biru dalam polah kata dan sorot mata tak berasa
semeskipun semesta cinta seringkali hadir di badai kata
di alir air duka sudutsudut matamu
aku tetap mengeja
menyala membara merisau masa depan semua
merenda segunung asa di tiada daya
kini di hening duduk diamku
aku menoreh semua warna
berasa menuai pelangi senja
mewujud indah bagi jiwa jiwa mencinta
kini di puji puja siang malamku
aku melafal mantra
berasa menyatu dalam dukalara
membias sirna dalam rela
Bojonegoro, 31 Juli 2007
Ayah 1
(Tragedi Jumat Legi/Sabtu Pahing, 13 Juli 2007, 17.00 Wib)
tegas kata, keras nada
tak kenal takut
hadapi saja siapa
gigih juang tegar jiwa
menoreh jejak
menghantar kemuliaan para putra
isak sesak siapa
kini merindumu bertegas dan berkeras sedia kala
titik rintik siapa
kini melukismu bergigih dan bertegar serupa
desah susah siapa
mengenangkanmu tetap berkarya di senja usia
sedu pilu siapa
mengangankanmu tetap bersama bercengkerama
tergolek tak berdaya
berbalut pembebat memerah kesumba
terbaring tak bersuara
menghirup oksigen tertutup mata
tatkala jiwa menuai realita
o, sang penuntun jiwa
betapa syafaatMu terdambakan selalu
dalam s’gala kehendakMu
RSUD Bojonegoro, 16-18 Juli 2007
Zawawi atau terkadang menggunakan nama pena Abu Salman adalah seorang buruh di sebuah perusahaan konstruksi berlokasi di Gresik, Alumni Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Jurusan Akuntansi, menyukai karya sastra sejak terhitung masih taruna. Karya sastra yang disukainya adalah berupa novel atau cerpen terutama karya Pramudya Ananta Toer dan beberapa pengarang lain seperti Oka Rusmini, Dewi Lestari, Ayu Utami, Eka Kurniawan dan sekarang sedang giat untuk belajar menikmati puisi. Menikmati puisi dengan jalan membaca karya-karya puisi dari Penyair terkenal maupun puisi-puisi yang di luncurkan di dunia maya. Harapannya dengan membaca karya-karya puisi tersebut agar dapat lebih bisa dalam menikmati puisi dengan jalan: menulis puisi karya sendiri dan membedah puisi karya-karya penyair lain. Terlahir di sebuah desa sepi bagian dari Tuban, pada tanggal 16 April. Sekarang tinggal di Lamongan, Jawa Timur.
Dia Dapat dihubungi melalui:
Email: awidya4776@yahoo.com
Karya puisi-puisi(an)-nya dapat di baca di:
Website: http://dunia-awie.blogspot.com
By ainun jariah on Feb 26, 2008 | Reply
nambah lagi ya pak….
Untuk Ayah Bunda
Ayah Bunda…
Aku ingin pulang dan berkumpul lagi
Dengan semuanya,tapi…itu semua tak mungkin
Karena aku harus menjalani hidupku
Di tempat lain yang telahku pilih sendiri
Ayah Bundaku Tercinta…
Aku merindukanmu,aku ingin memelukmu
Aku ingin berada disampingmmu
Untuk melepaskan kerinduanku
Ayah Bunda…
Maafkanlah anakmu ini yang belum
Mampu memberikan apa-apa kepadamu
Selain kesedihan yang berkepanjangan
Karena aku telah meninggalkanmu
Ayah Bundaku Tersayang….
Restuilah perjalananku untuk menuju
Hidup yang bahagia dan diridhoi Allah
Karena ridho Allah tergantung ridhomu
Ainun Jariah di batam.biodata lengkap ada dipuisi sebelumnya yang berjudul bunda
By yunita p on Feb 26, 2008 | Reply
Mengurat Daging…
Ketika ku menoleh ke kanan…
Hanya terdengar gemuruh ombak yang bertempur melawan karang
Ketika ku menoleh ke kiri…
Hanya tampak wajah-wajah asing yang menyiratkan keangkuhannya
Ketika ku menatap ke atas…
Hanya ada sang walet berpacu mengarungi cakrawala biru
Ketika ku menunduk ke bawah…
Hanya tanah pekat sebagai pijakan kaki yang terpapar
Namun,
Ketika ku memejamkan mata…
Aku menemukanmu…
Menemukanmu dalam lapisan benak tedalam
Menemukanmu bak dewa gagah pelindung nurani
Tersenyum hangat…
Menemukanmu sebagai lentera terang penuntun jiwa
Menerangi hatiku yang kelam
Menerangi benakku yang kalut
Merengkuh diri dalam rasa aman tak bercela
Menyadarkanku akan arti seorang engkau…
Kedamaian sergap gempita menyelimutiku
Auramu terang riang terpancar
Ragaku tenang dalam dekapan istanamu
Tenggelam…
Hangat…
Ayah…
Namamu telah menjadi alur yang terpatri cantik dalam sukma
Hidupku terlahir dari peluhmu yang mengucur akibat lelah
Lelah menguras otak…
Lelah membanting tulang…
Lelah mengarungi samudera waktu…
Aku tumbuh dari kedua asuhan jemari kasarmu
Aku bernafas dari ukiran ruang hidup yang kau cipta
Aku berpijak dari bekal ilmu yang kau tanakam dalam dasar diri
Selamanya…
Kau pedomanku…
Kau penuntunku…
Kau hidupku…
Ayah
Jakarta, 18 Okt. 2007…
Buah karya : A. A. Kt. Yunita Paramita
Biodata lengkap ada pada puisi sebelumnya pak,yang judulnya “Anyaman Cinta”
Terimakasih pak atas motivasinya
Puisi ini hadiah untuk ayah saya ketika beliau berulang tahun…^_^
By makaribi on Feb 26, 2008 | Reply
BUAT RINDU YANG KAU TITIP SETIAP SENJA
: Ibu
Kau diam merajut kain ditanganmu
Kau bilang menjahit pakaianku
Kau rajut sederhana
hingga usiamu senja
musim telah berganti
masih kusimpan kenangan pagi
saat ku hampir telat sekolah
kau suapi ku dengan tanganmu
dan katamu
“kau ‘kan ingat ini walau tak lagi pakai celana merah”
lalu ku pakai celana biru
aku tetap sering terlambat
namun kau masih jejalkan suap nasi kemulutku
lalu katamu “saat ini akan selalu kau ingat”
aku tak berubah
kau pun gelisah
ku pakai celana abu-abu
tiap pagi terburu-buru
kau masih jejalkan juga nasi dan kata-kata
“kau tak akan lupa semuanya”
Lalu bagaimana ku bisa lupa
kau yang ajari ku pakai celana
kini kau tak bangunkanku tiap pagi
kini tak ku dengar bentakan mu tiap pagi
ku jauh darimu
ku pisah darimu
musim ini dedaun rontok satu-satu
buat apa rontokkan air matamu
aku pergi jauh, aku pergi jauh
seperti hatiku tak lagi utuh
katamu adikku rindu, bukankah itu juga rindumu
aku pun rindu, aku pun rindu
satu masa aku dalam dirimu
kau merasa aku ini milikmu
lalu kelahiran seperti melepaskan
dan menemukan kesendirian
Jejak melambat
suara tercekat
kau titipkan rindu pada senja buat si anak
senja menua, awan berarak
Kau pun tahu aku suka senja seperti cintaku pada gerimis
dan kau bisa memberiku gerimis setiap senja
By Bibidapi on Feb 26, 2008 | Reply
Pak saya kirim 7 puisi sbb:
1)Rasanya Tak Cukup…..Bunda
Untuk seseorang yang tak henti mencintaiku
Rasanya aku tak bisa menerima cintamu yang paling, karena
Segala amarahku kau ubah jadi bisu
Dusta-dustaku yang telah tercetus
Kau ukir jadi sejarah hidup yang indah
Pantaskah aku memohon ampun
Atas semua perasaanmu yang tersakiti
Oleh tanganku yang nista
Atau pikiranku yang mungkar ini
Sejenak ingin kuhampiri samudera
Haruskah kugenggam ombaknya agar jadi pasir
Atau kupeluk buihnya agar jadi telaga
Untuk mampu mendinginkan durhakaku padamu
Tombak keyakinanku berkata tidak…
Rasanya semua itu tak cukup…
2) 21 Agustus Setiap Hari
Surat Untuk Ayah
Sebuah sosok tercipta amat sempurna
Berasal dari seonggok tanah dan segumpal darah
Tangannya terbuat dari baja
Kakinya terbuat dari besi
Jiwanya lebih hebat dari karang di lautan
Keringatnya lebih kuat dari matahari yang membakar
Pikirannya lebih cerdas dari ahli apapun di dunia
Namun hatinya lebih lembut dari kabut yang melayang seusai Subuh
Seorang yang rela kekuatannya diberikan untuk mencari nafkah buat keluarga
Seorang yang selalu lindungiku dari ancaman dunia yang keras dengan seribu nasihatnya
Seorang yang mengundangku lahir ke dunia
Seseorang yang memilihku sebagai putri bungsunya
Kupastikan sosok itu bernama ayah
Ya Allah…
Berikan ayah panjang umur yang sehat,
Karena pernah satu kali Kau mengurangi kekuatan tubuhnya
Hari itu aku menyaksikan kelemahan luar biasa dari seorang ayah
Maka aku mohon, jangan kau kembalikan saat-saat seperti itu
Berikan ayah kekuatan dalam bersabar, nikmat yang berlimpah,
Selalu rukun dengan ibu sampai akhir usia,
Mudahkanlah ia dalam menemui sakaratul maut,
Ringankan sakitnya ketika Kau pisahkan jasad dengan ruhnya
Jadikanlah ayah wafat dengan Khusnul Khatimah, dengan menggenggam nikmatnya iman dan islam dalam hatinya
Ayah…
Terima kasih atas tumpah ruahnya sayang
Atas segala pemikiranmu yang laksana
Semuanya mampu membuatku kian tegar menafaskan hidup
Aku ingin bertemu 21 agustus setiap hari
Agar selalu kuingat betapa berharganya memiliki seseorang yang kuat seperti ayah
Seribu doa kuucap untukmu
Agar mampu kau rangkum hidup
Dan mencapai surga yang Maha Kekal
3) Gadis
Gadis, tak lelah ia mencari jati diri
Terombang ambing dalam maraknya kota dan peradaban
Semua pelajaran dilahapnya, entah benar atau salah
Dalam gemerlap malam ia masih berjalan
Tenggelam dalam foya yang dianggapnya surga
Gadis, gadisku…
Ke mana kau pergi
Ibu menantimu
Rindu memelukmu
Mengapa kau belum kembali
Akulah surgamu
4) Ibu
Saat airmata berderik memenuhi panggilan hati
Meleleh semua goresan yang terpantul dari fatamorgana kehitaman
Terbuai lama nadi tak berdetak saat kutatap wajah itu setelah sujud
Putihnya meluruhkan sakit menjadi fajar yang merekah
Dan makin lama semakin sempurna
Karena setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah doa
Aku bangga mencintaimu
Tidak untuk sementara
Tapi untuk selamanya
5) Mengulum Rahasia
Kubaca wajahmu perlahan
Di sana, mengalirlah alunan yang sering disebut cinta
Kau tegakkan tiang cinta melalui airmata yang berurai
Seulas senyum tersungging, menambah maraknya ekspresi cinta
Meluluh dalam hati yang lembut
Kubaca wajahmu lagi
Kali ini bukan cinta, tapi kemarahan
Yang meledak menggosongkan airmata
Memanaskan gumpalan darah yang lama mengendap
Namun dalam diam, masih kaurasakan sensasinya menggeliat dalam hati
Meski wajahmu terbaca jelas
Selalu saja kau layarkan wajah lembut
Kubaca wajahmu selalu
Garis-garis kelelahan mulai terukir, berhenti pada satu titik dimana
Seluruh hati akan haru memandangnya
Dalam mata yang terpejam, kau masih sunggingkan senyum
Kau tebarkan ke setiap orang terkasih
Sungguh hebat kau kulum rahasia-rahasia
Tak lelah menelan sendiri setiap kecipak rasa
Dan semua itu mengental jelas diwajahmu
6) Ini Cinta Terindah
Darah mengalir sedemikian
Nafas masih merasuki paru-paru
Jantung pun tak kuasa menolak perintah detak
Cintanya tetap tertuju
Tersenyum saat aku ada, menangis saat tak ada
Hampa saat tawaku lenyap
Tangan itu yang selalu memeluk
Mata itu yang dapat menembus kesedihan dibalik pintu
Dan bahu yang selalu ia berikan saat aku lemah
Namun amarah, emosi, dan keliru tercampur
Menjadi jarum panas yang menusuk hatinya
Menancap sampai ke ujung
Terkoyak berkeping-keping
Aku jatuhkan tetesan kekecewaannya
Telah kugaris luka di jiwa cantik itu
Dan seruanku memohon untuk pulihkannya
Akan kupilin benang putih di luka itu
Agar darahnya tak mengalir menghujani hatiku
Maafkanlah…
Mohon jangan hentikan sayang itu
Aku mencari cinta suci sampai ke negeri pelosok
Sungguh hanya cintamu yang paling
Jika tidak ada perintah untuk menyembah Tuhan
Maka seluruh wajah akan bersujud di kakimu
Ibu…
7) Wajah Ayah
Terbujur kaku
Mengiris pandangan mata
Auranya peluh kelelahan
Garis-garis wajah mulai terukir
Ia tertawa saat malam
Tapi saat diam, wajah itu seperti kini
Tersenyum hati saat mata berkaca
Apa yang diperbuat siang hingga mengeruhkan wajah bening itu
Mungkin ia terlalu mengabdi
Sampai lupa pada hari
Hanya sosok-sosok tercinta yang lewati garis ingatannya
Bara panas yang menggilas hidupnya tiap menit
Tak mampu membakar lengannya
Bara itu terlalu dingin bagi gurun pengorbanannya yang kian memanas
Karena tiap esok
Ia selalu bentangkan sayap
Rengkuh dunia melewati gurun itu
Kini wajah itu sedang bermain-main dengan mimpi
Mimpi nikmatnya
Yang membawanya hingga subuh menyeru manusia
CV Bibidapi: Marisa Ermita Devy yang memiliki nama pena Bibidapi, alumnus Stimik Perbanas Jakarta ini terlahir dari rahim yang teramat istimewa pada 16 Maret 1983. Saat ini aktif belajar menulis di komunitas maya diantaranya kolomkita, puitika.net, milis Apresiasi Sastra. Puisinya yang berjudul “Ayat-Ayat Alam” pernah menang sebagai favorit Lomba Puisi “Pesan Kepada Presiden 2009-2014″ Januari lalu. Kegiatan lain yang sedang ditekuni adalah mengelola website iklan properti. Sekarang menetap di Jakarta.
By Abu Fauzan on Feb 27, 2008 | Reply
Mengenangmu
:ayah
Dengan apa kuganti semua lelah hidupmu?
Semua peluh yang meleleh oleh terik surya dari legam kulitmu
Juga airmata yang tertumpah diam-diam dalam tahajudmu
Semua kenangan tentangmu adalah ketegaran
Dalam setiap arus dan kelok kegetiran jalan hidup
Ketika tangis kecil kami mengusik peluk malam dari tubuhmu
Kau melangkah begitu gegas menyibak keheningan pagi
Lalu tangan kurusmu melukis senyum di lumpur sawah seperti biasa
Di masa jeda bertanam, tak ada alasan mengerami bantal
Meski matamu kelam, matahari tak pernah redup di sana
Menuntun arah memecah belenggu
Bebatuan yang kaugali, terbayang senyum bahagia kami
Sajian kuliner di restoran bintang sekian
Hanya melintas sekejap di lidah lalu membekas sebagai lupa
Tapi nasi campur irisan sukun dan lauk sedikit garam
Terus terbaca, membekas indah dalam lembar kenanganku
Masa itu bertahun telah lampau
Serasa baru kemarin ku mohon restumu
Sebelum melangkah mengejar mimpi yang terselip keangkuhan kota
Lalu kau pamit tanpa aku menuntun talkin di sisimu
Dengan apa kubalas semua itu?
Bahkan cinta yang lebih dari selamanya
Tak mampu membanding indahnya lukisanmu di hatiku
(6 Pebruari 2008)
short CV:
Abu Fauzan, lahir 18 Mei, belum ada karya di media cetak, baru belajar menulis puisi di situs kemudian.com beberapa bulan yl, Jakarta Timur 13440.
By unai on Feb 27, 2008 | Reply
ckckck banyak sekali yah puisi yang masuk :)…kalo dah jadi buku kabari yah pakmau dicari di toko buku, atau dapat dari bapak? hehe maunyayaaa
By dhikrotul izzah on Feb 27, 2008 | Reply
Munajat Bunda
Lantunan tasbih jengkerik nyaring memecah
Laungan tahmid Sang katak syahdu membahana
Hembusan tahlil semilir malam sejuk terasa
Senyap, alam beradu memuji Pengusanya
Dalam simpuh-sujud seorang hamba
Ratapan tangis tumpah
Keheningan malam memecah
Para malaikat turut serta
Temani tahajud Bunda
Putaran mutiara tasbihmu
Asyik-masyuk menderu-ombak batin
Mengiba sembilan puluh sembilan
Kemurahan Asma-Nya
Dalam tengadah telapak doamu
Kau panggul Ananda
Satu demi satu terayun
Dalam timangan seribu satu bahasa cinta
Munajatmu berucap
Rabbi habli minasshalihin
Tuhan, jadikanlah buah hatiku
Permata dunia-akhiratku.
Written by: Dhikrotul Izzah
Batu, February 27, 2008
At 08.17
Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab, lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji, Embun Cinta dan Munajat Bunda.
Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id
By dhikrotul izzah on Feb 27, 2008 | Reply
Munajat Bunda
Lantunan tasbih jengkerik nyaring memecah
Laungan tahmid Sang katak syahdu membahana
Hembusan tahlil semilir malam sejuk terasa
Senyap, alam beradu memuji Penguasanya
Dalam simpuh-sujud seorang hamba
Ratapan tangis tumpah
Keheningan malam memecah
Para malaikat turut serta
Temani tahajud Bunda
Putaran mutiara tasbihmu
Asyik-masyuk menderu-ombak batin
Mengiba sembilan puluh sembilan
Kemurahan Asma-Nya
Dalam tengadah telapak doamu
Kau panggul Ananda
Satu demi satu terayun
Dalam timangan seribu satu bahasa cinta
Munajatmu berucap
Rabbi habli minasshalihin
Tuhan, jadikanlah buah hatiku
Permata dunia-akhiratku.
Written by: Dhikrotul Izzah
Batu, February 27, 2008
Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab, lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji, Embun Cinta dan Munajat Bunda.
Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id
By atah on Feb 28, 2008 | Reply
MU LELAKI
dekapmu:
sepoi angin yang cengkeram pepohonan muda
belaimu:
desir air yang membelai batu bebatu
senyummu:
kilau embun, tak silau, namun manis enau
tuturmu:
bulir mutiara, serpih perak, tersiram jiwa
lelaki berambut bersepuh kabut putih dalam sepi
ramai duka nestapa suka cita Selalu labuhkan jangkar
cinta untuk benih bijih hatinya.
tatapanmu:
lembut salju nan tak kenal musim
lelakonmu:
geliat rerumput zikirkan irama bayu
lelaki kokoh berpancang matahari pagi siang senja
petang malam genang senantiasa cinta berkubang sayang
kasih tak kenal lekang demi buah darah hatinya.
BUNDA SEMESTA
cahaya tersulam di rahim suci
kembara dalam gulita
detak masih hampa jelaga
ayat-ayat sudah kau deraikan
sirami dengar yang belum jua sempurna
sketsa cahaya
metamorfosa matahari mungil
terlahir dari mulut lazuardi
dengan sisasisa rintih
hidup tak, mati tak
raga kapas jiwa serasa hempas
demi cinta ini, kau desah
matahari mungil masih merah
pasrah dalam gerah dunia
namun semesta masih menjaga
susui matahari hingga bernyawa
dampingi kitari illahi
ajari memilah-milah cahaya
mana gelap, mana ungu, mana pekat
mana terang, mana nila, mana putih
matahari muda tatihtatih
semesta kembali benih
lahir mataharimatahari kecil
detik menua detak melayu
kelam menunggu
pekat terselubung biru
semesta senyum
DIA-nya telah putuskan
‘tuk ke haribaan
semesta titipkan iqra’
iringi matahari mungilnya
nuju-Nya
BIODATA
Nama : Lalu Abdul Fatah
Nama Pena : Lafatah
Tempat/Tgl Lahir : Pancor / 27 Juni 1988
Alamat : Jl. Gubeng Jaya II / 70 Surabaya
Pekerjaan : Mahasiswa S-1 Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
Universitas Airlangga, Surabaya
Email : fatabdul@gmail.com
HP : 08175178429
Blog : http://lafatah.multiply.com - http://menulisuntukbunda.blogspot.com
No Rekening : Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram
No. Rek 0340031744 a.n. Lalu Abdul Fatah
PENGALAMAN:
Aktif di milist kepenulisan (FLP, Id-ebook, escaeva, Sekolah Kehidupan, dan lain-lain) dan dunia blogging (gagasmedia, apresiasipuisi, dan penulisindonesia). Sebagai moderator Komunitas Cerpen Online (http://cerpenonline.multiply.com). Beberapa tulisan pernah dimuat di Jawa Pos, Majalah Sabili, dan media-media lokal lainnya di Pulau Lombok, serta dua cerpen masuk dalam Antologi Lomba Cipta Cerpen Pelajar I & II se-NTB. Dua kali pula menjadi finalis lomba yang diadakan situs ini: lomba menulismudah dan puisi cinta.
By amin on Feb 28, 2008 | Reply
sapamu terasa pilu di teligaku
meliuk dengan percaya diri lalu angkuh menghujam hatiku
tangisku tak hendak redam amarahmu
keji katamu meleburkan diriku dalam lubang hitam ketidakpercayaan
hangat jemarimu terasa mahal dalam ingatku
yang tersisa adalah panas menyengat ujung jemarimu yang lentik di pipiku
waktu itu, sakit rasanya tak hanya di kulitku..tapi terasa sakit di sekujur tubuhku
bunda..
engkau adalah puisi yang tak pernah akan selesai kutulis..
kucari kata yang mampu melukiskanmu,
penat rasanya berusaha,
terhenti di tengah jalan karena harus mengusap air mata di pipi dan ingus yang tak henti
cukuplah aku bunda..
cukuplah aku saja..
wanita yang melahirkanku, adalah wanita yang membuatku hilang..
hilang dalam suramnya kehidupan
aku hilang karenamu bunda
cukuplah aku saja..
aku mencintaimu..
aku tahu engkau juga mencintaiku..
dengan caramu,
yang tak pernah kupahami..yang tak pernah henti kutangisi..
aku mencintaimu bunda..
engkau adalah hujan yang dingin mengguyur tubuhku
membasahai luka-lukaku sehingga pedih adalah ujungnya
ya bunda, engkau adalah hujan..
tak pernah siap aku akan hadirnya,
akan tetapi selalu kurindukan..
depok, 28 februari 2008
maaf, saya mungkin melukiskan cinta kepada seorang ibu dalam perspektif yang berbeda. baru2 ini saya menjumpai yang kebetulan adalah korban KDRT..
By makaribi on Feb 28, 2008 | Reply
II
SEPUCUK SENJA BUAT BAPAK
1/
Tak terasa waktu menggerogoti usia
garisnya mulai memutih
senja mulai nyata
menampakkan keindahan
mungkin pula kesunyian
dan yang abadi hanyalah kenangan
seperti rindumu pada nenek
atau masa kecil yang membekas.
Ku tak dapat lagi berkata
Ku ‘kan tiba juga disana
di tepi senja
peraduan malam
sepi
sunyi
menjauh
berjarak
kemudian hilang
tapi Tuhan tak pernah mati
Ia terus ada
meski kita berusaha membunuhnya dalam pikiran kita.
Kita ‘kan kembali ke keabadian.
2/
: Bapak
Kini semua memiliki kehidupan sendiri
Ada suka ada sedih
Idealisme tinggal idealisme,
karna orang sibuk dengan realitas
Orang yang hidup dengan idealisme adalah orang yang hidup dengan mimpi,
Tapi ku lebih suka bermimpi tentang kedamaian,
tentang kejujuran
dan tentang cinta yang tulus,
Meski kenyataan tidak
Karna hidup hanyalah mimpi
Dan saat kita mati kita terbangun
Disitulah hidup.
……………
Ario Makaribi, lahir di Wonogiri, sementara ini tinggal di Bandung, suka menulis sejak kecil (SD), sering mengirimkan karya ke media massa dan tidak pernah dimuat (he..he..),terus memperbaiki tulisan secara otodidak. Berharap menulis puisi sebagai bagian kesehariannya.
By Usman Didi Khamdani on Feb 29, 2008 | Reply
Kalo udah cerita soal Ayah-Bunda, jadi kangen sama Abah-Emak di kampung. Terlebih Emak …
Memang, kasihnya itu .. bagai sang surya menyinari dunia
Btw, titip puisi berikut ya, kang?? Sebagai “sembah-sujud” buat Emak tercinta. I love you, Mom. Thanks!!
======================================================
Usman Didi Khamdani:
SURAT (LAMA) DARI IBU
melihatmu tumbuh dewasa
adalah semacam
menelan pil pahit
aku tahu aku akan
bahagia
namun aku pun harus
menahan kepedihan
bahwa aku telah kehilangan
anak semata wayangku
bocah yang tangisannya
tak pernah membuatku
sedih
–karena kau selalu
terlelap kemudian di pelukanku
tapi bunga memang harus mekar
burung memang harus terbang
dari sangkarnya
musim memang harus berganti
maka
pergilah anakku
gapai bintang kejoramu
gapai matahari jinggamu yang
kerapkali kau ceritakan di saat-saat senja
yang kerapkali kau gumamkan saat lelap malam
hingga, saat kau mempunyai
buah hati nanti
kau pun kan tahu
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat burung kecilmu itu
mulai belajar meniti dan menuruni
ranting pepohonan
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat bunga kecilmu
mulai mengembangkan kelopaknya
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat musim panasmu
tak lekas berganti hujan
karena kau belum siap
karena kau memang tak pernah siap
menggigil karena tak ada teriknya
kamu pasti kan tahu anakku
pasti
2007/2008
By meiy on Feb 29, 2008 | Reply
INGIN KEMBALI
Kepada Ibu
Kerinduan membelenggu kenang
hadirkan semakan ungu
dibelakang rumah kita
yang selalu ku pandang dari jendela kamar
saat pagi menjelang
kerinduan adalah merah jambu
pucuk-pucuk cengkeh dilatar Merapi yang anggun
dan pepohon merimbun
di kebun kita
masih lekat rasa
beria di antara kembang-kembang
dan dirimu yang berdendang
tentang elok gadis Sungayang
jemarimu yang lincah mengajariku
merangkai bunga-bunga yang semi
membingkai harihari, mimpimimpi
dan harapan
yang ditumbuhkan kesederhanaan
kerinduan
menderaku ibu,
saat ruang dan waktu
menggores perih
tak tertahankan
Lamreng, 27 Mei 2004
SAJAK RINDU BUAT IBU
Aku terserap kenang tua
merunut waktu
hadirkan pesona
pelukan kabut ditaman kita
kau tersenyum di pagi berembun
memetik kuntum-kuntum mawar, merah, putih
dan dahlia
bersama wangi aroma daun aru
yang kau berikan padaku
“Taruhlah di kamarmu nak, sebab bunga memberi gairah untuk memulai pagi.”
Lama tak kumengerti apa makna kembangmu bunda
selain hatiku riang penuh cinta
cerah menghadapi harihari
tapi mengapa aku mesti mencari makna lagi
apakah yang lebih indah, daripada cinta
Lamreung, 15 aug. ’04, 03.00
By meiy on Feb 29, 2008 | Reply
Sajak buat Papa
Mengenangmu,
adalah bening bansi pitunang
dan merdu saluang
menghias dendang ibu
di sore-sore kita yang biru
mengingatmu,
menyematkan rindu
menjelajah bukit-bukit Sumpu, pohon-pohon sawo
menghitung burung punai, tupai-tupai
mengumpulkan biji saga
berlarian ke telaga
kenangan
membayang dirimu
memancing di Singkarak
diiring semarak gelak kami anak-anakmu
riuh berkecimpung di riak danau
mengenagmu
melenyapkan amarah
pertentangan-pertentangan kita
keindahan kenang
tak menyisakan buram
di album lama
Lamreung, 26-27 Juni 2004
NOTE: Kirim 3 ya pak
By Usman Didi Khamdani on Feb 29, 2008 | Reply
Ralat nih kang! (sory, ralat ‘mulu :))….
pada larik ke-17 harusnya sarang bukan sangkar –> dari sarangnya
Kalo bisa puisi/comment di atas hapus aja deh, kang.. ganti yang berikut: …
======================================================
Usman Didi Khamdani:
SURAT (LAMA) DARI IBU
melihatmu tumbuh dewasa
adalah semacam
menelan pil pahit
aku tahu aku akan
bahagia
namun aku pun harus
menahan kepedihan
bahwa aku telah kehilangan
anak semata wayangku
bocah yang tangisannya
tak pernah membuatku
sedih
–karena kau selalu
terlelap kemudian di pelukanku
tapi bunga memang harus mekar
burung memang harus terbang
dari sarangnya
musim memang harus berganti
maka
pergilah anakku
gapai bintang kejoramu
gapai matahari jinggamu yang
kerapkali kau ceritakan di saat-saat senja
yang kerapkali kau gumamkan saat lelap malam
hingga, saat kau mempunyai
buah hati nanti
kau pun kan tahu
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat burung kecilmu itu
mulai belajar meniti dan menuruni
ranting pepohonan
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat kau melihat bunga kecilmu
mulai mengembangkan kelopaknya
bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
saat musim panasmu
tak lekas berganti hujan
karena kau belum siap
karena kau memang tak pernah siap
menggigil karena tak ada teriknya
kamu pasti kan tahu anakku
pasti
2007/2008
By ichal on Feb 29, 2008 | Reply
Pak EWA ! kiniko awak ikutan, iko puisinyo.
TEPIAN NURANI
…mak!!!!
hari ini aku pulang
setelah penat dengan semua kegiatan
24 jam lebih dalam sehari aku bertarung demi hidup ini
ketika mereka berlayar dengan dengan pesiar
ku iringi mereka dengan sampan
tidak,,,!! aku tidak gentar
ketika mereka berpesta ke dermaga…
ku tetap tidak ketepian
…mak!!!
ketika ku sampai dirumah nanti
jangan tanyakan kapan ku akan hidup di tepian
bukan ku takut berlabuh
namun bidukku masih rapuh
memang… aku bukan saudagar
tapi aku juga bukan mencari kayu bakar…
jika kupulang nanti
kuingin bawakan emak sebuah selendang…
tidak sutera,… tapi kumampu belikan yang satin
buat dapur nanti
ku akan mampir ke pasar ikan
tidak kakap,.. tapi kumampu belikan patin
30 juni 2007
JUDUL asli pada postingan : tepi nurani
cv.
bukan siapa-siapa, hanya seorang kembara yang mencoba merangkai kata.
berharap manfaat untuk diri syukur-syukur bisa berguna untuk orang lain.
By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply
Kulihat bunda dan selembar kertas di jemarinya
Tersirat gundah dalam penglihatan yang mulai basah
Kuhampiri, kusapa sang wanita surga
Selembar di tangannya lekas ditenggelamkan dalam saku
Dan seperti biasa
Ku palingkan mata
Pura-pura tak tahu
Ah bunda, maafkan aku.
(Bunda, aku hanya tak mampu melihatmu sedih jika kau menceritakan tentang tagihan hutang itu)
-Jogja, Februari 2008-
Hafny adalah seorang mahasiswi FISIPOL UGM. Lahir di Kebumen pada tahun 1988. Mencintai puisi dan tulis menulis..
By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply
MasiH bisa ikuT tak. .
By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply
Aduh maaf lupa, puisi saya di atas judulnya “Bunda dan Kertas di Tangannya”
Terimakasih..^^
By Agus Maulana on Feb 29, 2008 | Reply
Ikutan yah bang ersis
————————–
Oh Mama …
Mama …
Kini ku sendiri
Hampa dalam kesepian
Jauh dari kehangatan
Mama …
Dalam perantauan ini
Rasa rindu itu datang lagi
Mencari jawab kasih itu
Mama …
Doa dan restu mu
Begitu ku harap
Untuk sebuah perjuangan
Mama …
Adakah rasa kangen
Dalam jiwa mu
seperti jiwa ini
Mama …
Allah memuliakan-mu
Selalu dan selalu
untuk mu, mama ku
——————————————–
http://gus-maul.blogspot.com
Agus Maulana
Penulis Lepas
By danalingga on Mar 1, 2008 | Reply
Teruntuk Ayah Bunda
Tanpa perlu kata-kata mengiringi
segala cinta sampai mati
mengumbar dari diri
kupersembahkan tanpa ragu hati
demi semua hidup sampai kini.
CV : Danalingga, seorang bloger dari jakarta.
By yunita p on Mar 2, 2008 | Reply
TERSURAT UNTUKMU IBU
Terngiang olehku ibu,
Terngiang dentuman kata yang kau olah menjadi nada
Ketika sang jarum menyapa dasa,
Aku pun terlelap…
Tersirat darimu ibu,
Tersirat dalam pelupuk mata yang terkedip
Mengulum takbir amanat yang ku panut sangat
Mengurat daging…
Terpahat hatiku ibu,
Terpahat oleh tulus menjadi galur-galur kasih abadi
Mengalahkan kasihku pada sang pujangga
Mengalahkan geloraku pada sang langit magenta
Tak bercela…
Tercurah padamu ibu,
Tercurah bulir-bulir cinta yang kurangkum dalam sebentuk hati
kuvisualisasikan dalam rentetan bait pembangun jiwa
Terjalin…
Terpukau diriku ibu,
Ketika ku rengkuh ragamu
Roda-roda jiwaku terkayuh tergesa
Seolah menghempaskanku ke dalam taman firdaus
Tak terlukis…
Tersayat batinku ibu,
Ketika segelintir tingkah nakalku,
Memancing keluh dari bibir merahmu
Atau bahkan,
Hingga menciptakan bendungan sungai dalam selaput inderamu
Hati ini mengharu biru…
Maafkan aku, sungguh!
Ibu,
Terngiang…
Tersirat…
Terpahat…
Tercurah…
Terpukau…
Tersayat…
Tersurat untukmu ibu,
Aku sayang padamu…
Aku sayang padamu…
Aku sayang padamu…
______________________________________________________________
Ini puisi kedua yang saya kirim pak,..
terima kasih ^_^
By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply
THANK’S GOD FOR ALL…..
^_^
By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply
YA ALLAH…..YANG MAHA BESAR….
KATAKAN KEPADA KEDUA ORANG TUAKU…..AKU MENYAYANGI MEREKA….
KATAKAN….PADA SAUDARA-SAUDARAKUKU…..AKU MENYAYANGI MEREKA…..
TERIMA KASIH ALLAH…..
DISELURUH ALAM SEMESTA….ENGKAULAH YANG MAHA TERPUJI DAN MAHA MULIA…
By Dyan on Mar 23, 2008 | Reply
Mama
Papa
entah mengapa
tanganku menjadi gemetar seketika itu
jari-jariku kudekatkan pada mulutku
dan bersinggunganlah bibirku dengan ujung jariku
jari yang menyimpan begitu banyak rahasia
ya dalam sidik jari itu tertuang cetakan mama dan papa
kututup mataku
kudapatkan diriku dalam dunia yang berbeda
dunia yang indah
dunia yang membuatku sungguh nyaman
tubuhku terasa hangat di sini
kakiku dibalut dengan kaus kaki yang tebal
aku didekap penuh kasih sayang
di gendongan ayah sungguh ku rasa aman
aku tak bisa melihat dengan jelas
tapi aku bisa memandangi tangan-tanganku yang mungil
berusaha menggapai apa saja yang bisa kuraih
dunia yang indah
tanganku bergetar kembali
kubuka mataku
disini kini aku berdiri
tegap
memandang ke depan
aku ingin maju
aku tak ingin menengok dan berjalan mundur
namun aku tak akan melupakan semua yang telah terjadi
saat aku berjalan
aku jatuh berulang kali
namun selalu ada yang menopangku
selalu ada yang menjagaku
selalu ada yang mengangkatku
dan terus menggandeng tanganku
hingga kini aku sudah tumbuh besar
aku ingat hari-hari dimana aku menangis
aku ingat hari-hati dimana kau yang menangis
aku ingat hari-hari dimana kau marah padaku
aku ingat hari-hari dimana aku marah padamu
aku ingat hari-hari kau memelukku
dan memanggilku anakku
mama dan papa telah mengajarkan aku begitu banyak hal
mama dan papa telah membimbing aku dengan penuh cinta
mama dan papa telah membuat aku siap menghadapi dunia
aku tanya
berapakah aku harus membayarmu untuk menebus semuanya?
kau jawab
kamu tidak usah membayar
aku memberikannya dengan cuma-cuma
dengan ketulusan hati
dengan kasih orangtua yang tak terhingga
untuk kebahagiaanmu
keringat dan peluh tiada artinya
karena aku mencintaimu anakku
dan tiada kasih yang sebesar kasihmu mama papa
kini
aku sendiri
aku tersenyum manis
mama
papa
terima kasih atas semuanya
aku mencintai kalian
CV
Saya hanyalah murid SMA yang suka menuangkan pikirannya dalam puisi. Maih harus banyak belajar. Namun percayalah, puisi ini berasal dari hati. Panggil saya Dyan.
By supriyadi on Apr 1, 2008 | Reply
Kasih Mu Bunda
Dengan Kasih Sayang Mu Bunda
Dan Menyayangi Ku Sepenuh Hati
Tanpa Ada Rasa Kesal Dan Benci
Walau Aku Tidak Peduli
Bunda…
Kasih Sayangmu Yang Tiada Tara
Tiada Satu Pun Yang Bisa Menilai Kasih SayangMu
Tanpa Merasa Letih Untuk Merawat KU
Bunda…
Kini Ku Sadar…!!!
Bahwa Pengorbanan Yang Kau Berikan
Tidak Akan Bisa Terbalas Oleh Ku
Bunda Ku Sayang…
Do’a Ananda Akan Selalu Mengiringi HidupMu
Sampai Ke Akhir Hayatku.
Seperti Bunda Mengiringi Hidupku
Dengan Do’a Dan Restu Yang Suci
Kasih Mu Bunda
Tiada Yang Yang Mengganggu
Aku Tetap Berada Di Dekapan Mu
Bunda Ku Sayang
Salam Dari Ananda
Supriyadi
By kaindah on Apr 13, 2008 | Reply
buat doa ibuku
di setiap hari kau selalu
menangadahkan tangan penuh
harapan jiwa yang mungil ini
seriring hati kian merasuki
dimana jiwa kian menyemangati
di dalam hati ini terpatri
kuat membeku kutub es
dilimpahan doa itu
simpan jiwa yang merenungi
hati yang mungil ini
tersyukuri oleh belaianmu
ibu
kian hari akan terbuktikan
di doa ini
untuk ibuku sayang
By iwan on May 27, 2008 | Reply
ibu
berlinang air mata ini
bercampur asa di dada
menyatukan hati , jiwa
dimana keindahan terdapatkan
kasih sayang berlinangan
semerbak wangi di rasa
seelok cahaya sinar itu
menyatukan hati , raga
dimana keserasian terpatrikan
keindahan jiwa sang ibu
meluluhkan raga yang lemah
disana kasih itu terukir indah
bersama ibu ku sayang
iwan/bekasi- 27/05/2008
cv : setiawan pribadi / lahir di puwokerto . tinggal di bekasi -
***Bagus sih … cuman nominasi sudah diumumkan tu. Sayang ya.
By Joseph on May 28, 2008 | Reply
Kirimin w puisi yang buagus donk ke email w
W tunggu