Puisi Cinta (Ayah-Bunda): Go Lomba

24 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Setelah nominator Lomba Puisi Cinta terpilih, kini dibuka loba tahap dua, Puisi Cinta Go Lomba bertema Ayah-Bunda. Bagi peminat, silahkan kirimkan puisi melalui bagian komen postingan ini. Pada bulan Maret 2008 nominasi akan diumumkan.

Belajar dari pengalaman sebelumnya, usahakan tidak bertanya apa pun. Kan mudah saja mencerna pengumunan ini, wong syaratnya tidak neko-neko. Tulis puisi, kirimkan melalui bagian komen, cantumkan CV.  Oh ya, CV bermuatan siapa Sampeyan, apa karya Sampeyan, atau apa saja yang mengambarkan diri Sampeyan. Silahkan berkreasi.

Contoh:

Ersis Warmansyah Abbas
Wahai Wanita Surga

Malam ini, Wahai Wanita Surga
menumpang angin pada lipatan qalbu
ampun maaf segala rindu seluruh angan segenap ingin
bungkusan jarak memisah raga dimakan waktu
membongkar benteng-benteng pemisah
tali sujudku di jiwamu jembatan siratul mustakim

Elus lembut jari-jari emasmu di ubun-ubun
senyum membentang harap tiada bermuara tiada bertepi
mata teduh getaran dawai pancang-pancang kokoh
kemudiku melawan badai tak berampun
belum apa-apa, wahai kekasih sejati

Enam ratus purnama menjaring makna-makna hikmah
sebait katamu belum terkuak belum terurai
teropong perncarian menjaring wewangi surgamu
abadi pada helaan nafas kelana mengasyikkan
menjangkau surgamu

Banjarbaru, 24 Januari 2008

CV: Ersis Warmansyah adalah

  1. 52 Responses to “Puisi Cinta (Ayah-Bunda): Go Lomba”

  2. By Inaz on Feb 24, 2008 | Reply

    Ayoo ikutannnn….

  3. By dhikrotul izzah on Feb 24, 2008 | Reply

    ups…cinta Rosulullah di pending dulu jadinye…
    hm…cari inspirasi dulu…ah…

    ***Ke Maret.

  4. By jalaindra on Feb 24, 2008 | Reply

    Mengering Basah
    :Bapak

    keringatmu mengering basah
    jalanmu menempa lelah
    masih belum juga usai gelisah

    tubuhmu yang ringkih
    langkahmu tertatih
    menahan letih
    masih belum juga usai perih

    untuk siapa
    kau redam luka
    untuk siapa
    kau balut duka

    waktumu takkan pernah bisa terbayar olehku
    :anakmu

    Bunda

    tak pernah bisa kuartikan gurat letih di wajahmu
    juga tutur doamu yang mengalun pelan
    menyusup di antara gegaris hujan
    menjelmakan wewangi kesejukan

    tak pernah bisa kumaknai senyum tertahanmu
    juga nasihatmu yang berbisik pelan
    menyelinap di sela pelukan
    menjelmakan kehangatan saat lepas kepergian

    tak pernah bisa kuraba air matamu
    juga langkah kakimu yang mengeja undakan
    menuntunku di setiap belokan

    tak pernah bisa kubalaskan perihmu
    saat kau meregang nyawa
    untuk membuatku terlahir ke dunia

    : sujudku untukmu, Mak

    Jtngr, 030107

    Jalaindra, lahir di pekalongan, menetap sementara di jatinangor, menulis di blog: http://jalaindra.wordpress.com. Sedang belajar untuk menulis lebih baik.

  5. By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply

    indah namamu itu ..

    dijetak degup hati membara
    membaurkan rasa sayangku
    cinta abadi nan mewangi
    tercampur dalam jiwa melati
    irama hidup berlabuh

    sandaran jiwa teguh menjadi ..
    indah nama itu ..
    bergaunkan lambaian hati penyayang
    dekap rasa nan bergetar
    seteguh iman ini ..

    sejukan keindahan itu menyatu
    tegukan nafas hati ini ..
    beriringan dengan cinta sejati ..
    dia yang pengasih jiwa
    bertalikan asmara bersenandung
    direrumputan hati yang subur

    indah nian diri itu ..
    melewati jiwa yang rapuh
    akan perjalanan hidup yang gelap
    sinaran hati itu menusuk ..
    bersama dia hati ini gembira..

    bekasi, 2* 2008

    setiawan lahir di purwokerto, tinggal di bekasi.
    http://setiawanpribadi.tripod.com/kaindahchandradewi

    belajar untuk dipahami dengan hati…

  6. By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply

    bunda papa

    sang penuntun hati yang kecil ..
    dimana bunda papa menimangku
    selangkah maju pada kehidupan anakmu
    tanpa keluh kesah di rasa
    tanpa pandang bulu menjaga
    tanpa kasih bunda papa
    hidup kan terasa hampa.
    lambaian kasih sayang tak berujung
    kian tersua terkenang .
    akan arti semua keabadian cinta ..
    bunda papa siang malam menjaga .
    dekap jiwa itu terbekas sinar kasih
    kenang masa sedih , senang.
    terbiaskan kasih bunda papa
    direlung hati mereka kian bersinar.
    ingin ku membalas
    bunda papa
    ku sayang kamu ..

    bekasi,2* 2008

    my cv :
    nama : setiawan pribadi
    ttl :purwokerto 5/2/1985
    alamat :jln. beringin putih raya blok dd33/6 taman wisma asri
    bekasi utara kota bekasi jawa barat
    telp :021-92227398
    status :single
    email :kaindah@yahoo.com
    motto :hidup kian bermakna tanpa hati yang tenang

  7. By kaindah on Feb 25, 2008 | Reply

    kasih yang terindah

    ditimang penuh keindahan
    berlantunan kata sayang
    semi hati berjalan merakah
    bernuansa kasih sejati
    dimana ibu melahirkanku
    iba hati ibu penuh likuan
    direlung jiwa membara
    hidupkan jiwa yang kecil mungil itu
    berlinang airmata bahagia
    dimanja kasih yang abadi
    pelipur setiap insan
    di dahan rindang aku berteduh
    bersemayang kan selimut hati
    berish putih tanpa noda
    iringan hati ibu menyertai
    tak pernah kan terlupa
    jiwa yang kecil mungil itu tumbuh dewasa

    bekasi, 2*2008
    setiawan pribadi

  8. By unai on Feb 25, 2008 | Reply

    Kesunyianku, Ibu…

    Ajarkan aku mencintai laut
    Berlayar membawa rindu membaui harum pasir di seberang
    Aku ingat, ketika dulu beranjak
    Tak ada keteduhan, matahari memuncak
    musim dipenuhi daun daun berguguran

    Ibu…
    Ada dua aksara yang hendak kuteriakkan
    Namun tersangkut dalam sekat
    Ruang yang ada namun tiada
    serupa mimpi buruk namun indah

    Hari-hari adalah pencarian
    Menyusuri lagi ketiadaan
    Impian yang terbenam dalam dalam
    Jarum jam enggan berdetik
    menjadikan sunyi lebih sunyi

    Yuni Ambarwati ; pencinta puisi. Lahir di Ambarawa, menghabiskan masa remaja di Prabumulih, sekarang menetap di Yogyakarta.

    http://myrealsolitude.wordpress.com

  9. By unai on Feb 25, 2008 | Reply

    Seseorang yang warna matanya seperti ibuku

    Kugeledah rautmu
    Rambut lurus menjuntai lemah
    Menaungi sepasang alis teduh
    yang setia membingkai kelopak nan sayu

    Itu mata ibuku…
    kataku perlahan, berisik…sambil tetap menggeledah
    Mencari makna di sela riap lelah
    Bertanya, diantara dentum meriam kerinduan
    yang memekakkan

    Adakah laut dan aurora pekat malam menjadi bagianmu?
    Katakan saja iya…
    Meski mungkin kau lebih mencintai pegunungan
    yang lengkap dengan sepi

    Masih kugeladah rautmu
    sekedar memastikan
    Kau..pemilik mata coklat
    teduh…berkedip pelan
    Meluruhkan butiran bening yang menetas ketika haru

  10. By unai on Feb 25, 2008 | Reply

    saya kirim dua pak yaaaa

  11. By 5H4L3H on Feb 25, 2008 | Reply

    Surga Dunia Akhiratku

    Ibu
    Tertetes air mata dan keringat
    Di antara persimpangan hidup
    Tertancap namamu di setiap jiwaku
    Terukir surga di telapak kakimu

    Ayah
    Mengalirkan keringat dan darah
    Dalam setiap tulang dan denyut nadi
    Tertanam namamu di setiap ragaku
    Tertulis dunia akhirat di telapak tanganmu

    Ibu…Ibu…Ibu…
    Ayah…Ayah…Ayah…
    Kalianlah segalanya bagiku

    *Isnaini Shaleh, kelahiran Banjarmasin, 15 April 1985. Namun dibesarkan di kota Kandangan. Juga menulis di blog http://shaleh86.blogspot.com. Sekarang telah menyelesaikan kuliah S1 di Universitas Lambung Mangkurat (Unlam).

  12. By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply

    salut ku

    hidup ku atas doa mu
    mati ku karena keihklasan mu
    terima kasih ku karna usaha mu
    karena kamu aku ada

    hidup ku untuk mu
    mati ku atas kecintaan ku
    terima kasih bu..
    salut atas ku untuk mu

    barabai 25 Februari 2008

    CV:
    budi irawan
    lahir di Pinggiran kota barabai, Simpang Mahar 03 Januari 1985
    mengajar sebagai Guru SD. kini kuliah S1 PJJ PGSD UNLAM
    budimeeong@yahoo.co.id

  13. By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply

    sedikit koreksi
    budimeeong_hst@yahoo.co.id

  14. By ainun jariah on Feb 25, 2008 | Reply

    bunda
    bunda…
    begitu banyak jasamu padaku
    tanpa bunda,aku tak akan lahir didunia ini
    tanpa bunda aku tidak akan tahu indah nya karunia Allah

    bunda ku sayang…
    aku belum bisa membahagiakanmu
    aku belum bisa membuatmu bangga
    belum ada yang bisa ku persembahkan untuk mu

    tapi bunda…
    aku berjanji suatu hari nanti
    aku akan membuat bunda bangga padaku
    ku harap do’amu menyertai langkahku

    bundaku tercinta…
    terimalah ungkapan hati anakmu ini
    sebagai pengobat hati dan kelelahanmu
    karena baru ini yang bisa kupersembahkan untukmu

    biodataku:
    nama: ainun jariah
    lahir di lubuk jambi riau 19 oktober 1981,pernah kuliah di fakutas tarbiyah di IAIN “IB” PADANG.sekarang mengajar di RA AN-NISAA’ BATAM.

  15. By meiy on Feb 25, 2008 | Reply

    Ikutan ah…tapi puisiku dimana yah, ngumpulin dulu ah pak…:)

  16. By dhikrotul izzah on Feb 25, 2008 | Reply

    Embun Cinta

    Ibu…
    Lentik jemari telapakmu bak permadani sutra
    Membelai, membawaku bagai bunga
    Nan gemulai merajut kelembutan benang-benang kehidupan

    Embun cinta nan bening
    Tulus menetes di atas pucuk sari auraku
    Terhembus semilir angin sayang
    Membisikkan kata keteduhan
    ‘Tuk terus percikkan keihlasan
    Pada bilik-bilik kelopakku
    Meluruhkan debu-debu iri, benci serta keangkuhan
    Jatuh perlahan menelusuri dinding-dinding mahkotaku
    Segarkan semangat yang hampir layu
    Merembes masuk mengisi ilmu
    Rongga dahaga batangku
    Meresap sampai ke akar sanubariku

    Ku bersyukur…
    Menjadi bunga cinta di tamanmu
    Yang bermekaran
    Terhiasi kasih tiada taramu
    Ibu.

    Written by: Dhikrotul Izzah
    Batu, 22 February 2008
    at 08.10
    in the fresh town
    fresh monday
    fresh morning

    Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
    Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji dan Embun Cinta.
    Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
    Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
    E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id

  17. By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply

    SURAT BUAT IBUNDA

    kadang hari jadi demikian melelahkan, ibunda, ruang menujumu tiba-tiba saja terasa luas dan jauh
    ingin nanda ceritakan tentang sayap-sayap yang tak henti belajar terbang
    mencari setiap celah untuk memperpendek jarak mempersempit ruang
    ingin nanda ceritakan tentang wangi kelopak sepanjang jalan, biru langit, hembus angin dan warna pucuk-pucuk hijau
    mengumpulkan keindahan dalam telapak untuk dibawa pulang ke pangkuan
    berharap bisa menghapus letih kening dan sudut mata bunda

    sesungguhnya tak jarang langkah nanda tersandung batu terhalang badai
    tapi bekal yang bunda sampirkan sejak dulu selalu bisa menghantar nanda ke seberang

    kadang kabut sama sekali nyaris tak tertembus, ibunda, perjuangan melewatinya tiba-tiba saja kehilangan tenaga
    ingin nanda ceritakan tentang ketakutan-ketakutan dan mimpi buruk menjelang tengah malam
    tentang kegamangan dan keraguan setiap kali jembatan dan pintu menghadang di depan mata
    tapi percayalah bekal yang bunda titipkan di bahu selalu bisa mengisi kekosongan, menguatkan dan menegakkan kembali wajah nanda

    seperti pesan bunda,
    nanda belajar dari rumput yang tegar untuk selalu tumbuh
    nanda belajar dari tetes hujan di atas batu yang tawakal berikhtiar

    tak pernah mudah, ibunda, tak pernah
    jika sesekali nanda berhenti
    nanda ingin bunda tahu bukan tuk menyerah
    tapi menerjemah hikmah dan menelaah diri sebelum berjalan lagi

    tak pernah mudah, ibunda, memang tak pernah
    tapi nanda tak gentar
    sebab cinta dan doa bunda terbukti jadi energi tak berbatas yang tak pernah kehabisan cahaya dalam setiap langkah nanda

    indah ip
    14 juli 2003
    8.56 am

    note: pernah dimuat di http://suratcinta.blogspot.com/2003_09_01_archive.html#106419964351804523

  18. By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply

    IBUNDA 1

    senyummu matahari yang tak pernah redup di setiap pagiku
    tutur katamu mata air yang tak pernah surut dalam setiap musim di dadaku

    indah ip
    21 des 06
    8.02 pm

  19. By indah ip on Feb 25, 2008 | Reply

    IBUNDA 2

    tahu-tahu di keningmu sudah berjatuhan helai-helai rambut memutih

    ibunda, ajariku mengekalkan waktu
    agar tak pernah lagi ada yang tercuri sedikitpun dari kebersamaan ini

    indah ip
    21 des 06
    8.12 pm

  20. By Handari Y Alchosih on Feb 26, 2008 | Reply

    Pak Ersis, apakah saya harus menulis ulang puisi yang saya ikutkan Lomba Menulis Puisi ini? Saya salah meletakkan di komen ‘Korupsi’. Mohon jawaban. Terima kasih.

    ***Ya. Soalnya yang mendokumentasikannya teman. Dia biasanya ngak mau repot.

  21. By Handari Y Alchosih on Feb 26, 2008 | Reply

    Handari Yektiwi Alchosih

    Untuk Ibu dan Bapak ku

    Ibu, ma’afkan anakmu ini
    yang hanya mengingatmu saat berduka
    Ibu, masih adakah pintu ma’af
    ketika aku menumpahkan kesal dengan suara kerasku
    Ibu, masihkah ada ridhlomu,
    saat aku terlalu banyak mengabaikanmu
    Ibu, masihkah aku boleh,
    Bersujud dan mencium kakimu
    untuk pintu ma’afmu
    untuk ridhlomu
    untuk menghapus dosa-dosa ku
    Karena hanya engkaulah Ibu,
    yang mampu memintakan semua itu kepadaNya

    Bapak, aku sudah tak lagi menangis,
    tetapi bukan berarti aku tidak bersedih.
    Bapak, aku mendengar semua nasehat
    tentang orang-orang terpilih
    yang datang ke Tanah Suci
    sebagai tamu Allah
    dan kembali kepada Nya
    di Tanah Suci
    Bapak, aku sudah tak lagi galau
    saat mengingatmu ketika alam sedang sunyi,
    tak lagi marah ketika tak ada uluran tanganmu
    saat beribu tanya susah terjawab
    Bapak, bagiku tak ada guru terbaik selainmu
    tak ada teman terbaik selainmu
    tak ada lawan terbaik selainmu
    Hanya satu Bapak tanyaku,
    Banggakah engkau padaku?

    26 Februari 2008

    Untuk Data Pribadi, saya dokter gigi yang menekuni manajemen kesehatan dan PNS di Dinkes Prop. Jatim sampai dengan 2006 harus pensiun paksa karena suatu keadaan yang tidak perlu saya ceritakan. Hobi menulis apa saja yang terlintas dalam pikiran dan merasa sayang untuk dibuang sejak saya mahir menulis huruf, kata dan kalimat. Cita2 masa kecil sebetulnya ingin jadi penulis besar seperti Chairil Anwar, HAMKA dan semua penulis besar yang saya kenal lewat cerita Ibu Bapak saya dan Para Guru saya terutama Guru Bahasa Indonesia sedangkan Bapak saya adalah Guru Ilmu Pasti. Hasil tulisan saya yang terdokumentasi pribadi adalah puisi, cerpen dan novelette. Sedangkan keuntungan yang saya dapat sebagai orang yang hobi menulis adalah beberapa modul kesehatan yang dipublikasikan tingkat nasional dan di journal internasional. Beberapa tulisan ilmiah juga menghantar saya ke kongres internasional dan Asia Pasifik di beberapa negara. Cita2 kedepan ingin menerbitkan kumpulan puisi dan cerpen selain beberapa tulisan yang berisi perenungan. Semoga.

  22. By indah ip on Feb 26, 2008 | Reply

    AYAHANDA 1

    bahumu karang teramat kuat

    tempat ombak pecah
    badai patah
    burungburung hilang menemu rumah

    indah ip
    26 feb 08, 7.46 am

  23. By indah ip on Feb 26, 2008 | Reply

    AYAHANDA 2

    dadamu padang teramat luas

    tempat ribu kupukupu lepas
    ilalang tumbuh bebas
    langit melengkung tak punya batas

    indah ip
    26 feb 08, 7.50 am

    CV
    Indah IP. Mencintai dan menikmati dunia tulis-menulis sejak SMP. Aktif berinteraksi dan belajar di dunia cyber, diantaranya: milis penyair, milis puisikita, milis bunga matahari & situs http://www.cybersastra.net. Beberapa puisinya dimuat dalam Buku Antologi Seratus Puisi “Jogja 5.9 Skala Richter”(Bentang, 2006), Antologi Puisi “Bungamatahari” (Avatar Press,2005), Antologi Puisi Cyberpunk “Les Cyberlettres” (YMS, 2005), “Dian Sastro For President: End of Trilogy” (ON/OFF, 2005), Antologi puisi “Maha Duka Aceh” (PDS HB Jassin, 2005),Antologi puisi temu sastra jakarta 2003 “Bisikan Kata, Teriakan Kota”(DKJ & Bentang Budaya, 2003), “Majalah Aksara”(Agst-Sept 2003),Antologi Puisi Digital “Cyberpuitika”(2002)dan Antologi Puisi Cyber “Graffiti Gratitude”(2001). Salah satu cerpennya dimuat dalam “Laminsastra Balikpapan”(2003), “Batu Merayu Rembulan”(2003)dan kumpulan cerpen pendek “Graffiti Imaji”(2002)
    Website: http://www.indahip.blogspot.com
    Email: indahip@gmail.com

  24. By Abu Salman on Feb 26, 2008 | Reply

    Matahari Pengagum Malam
    - untuk Ibu -

    duduk di beranda bersama senja
    mengurai getir genangan silam
    jelang larut pada malam penuh gemawan

    sudahlah Ibu,
    yang telah pergi tak kan kembali
    takdir sunyi tlah menghampiri
    pada tiap-tiap yang berjiwa

    menatapmu adalah samudra sunyi
    menyimpan kelam di dasar hati
    atas alir air keruh duka yang bermuara
    dari anak-anak sungai perjuangan

    adalah engkau, ibu
    matahari pengagum malam
    tersipu malu sembunyi diri
    pada senjakala hari
    mengintip malam di fajar hari

    adalah engkau,ibu
    matahari pengagum malam
    sinarmu akan tetap mengabadi
    pada tiap relung – relung sunyi

    Kota Pudak, 23 Oktober 2007

    Mengantarmu Berlindung di Negeri Tuhan
    ’tuk Ayah, Selasa Kliwon, 22 Agustus 2007

    lari-lari kecil beberapa langkah mendahului iring-iringan yang mengantarmu
    dideras hujan senja yang smakin menggerimis
    di sepanjang jalan ku tabur wangi kembang berpadu kuning beras, lembar kertas dan logam penukar
    setelah dalam berdiri berjajar mantra doa untukmu dilafalkan

    kuyup basah tubuh dan jiwaku!

    gerimis merintik usai t’lah
    tebaran wangi kembang berpadu kuning beras, lembar kertas, dan logam penukar habis sudah

    ”inilah gerbang pintu negeri barumu yang t’lah engkau tahu”
    menanti engkau empat puluh waktu lamanya dalam baring ada tiada
    setelah tujuh puluh delapan masa tak henti menabur karya menyemai makna

    kini tlah engkau khatamkan perjalanan dalam bias rela handai tolan
    meski isak sesak kehilangan tersisa di sudut ruang
    kini ku pulang setelah mengantarmu berlindung di negeri Tuhan

    meski puji puja tak kan henti ku pintakan siang malam

    Tuban, 22-24 Agustus 2007

    Ayah 2

    di ritmis satu satu desah nafasmu
    rinaiku tetap yang dulu
    membiru menyuara membahana dilangit jiwa
    menahan arak awan terjatuh titik rintiknya

    di perih sayatsayat keriput kulit tubuh dan keras hatimu
    aku turut menyemainya
    mengharu biru dalam polah kata dan sorot mata tak berasa
    semeskipun semesta cinta seringkali hadir di badai kata

    di alir air duka sudutsudut matamu
    aku tetap mengeja
    menyala membara merisau masa depan semua
    merenda segunung asa di tiada daya

    kini di hening duduk diamku
    aku menoreh semua warna
    berasa menuai pelangi senja
    mewujud indah bagi jiwa jiwa mencinta

    kini di puji puja siang malamku
    aku melafal mantra
    berasa menyatu dalam dukalara
    membias sirna dalam rela

    Bojonegoro, 31 Juli 2007

    Ayah 1
    (Tragedi Jumat Legi/Sabtu Pahing, 13 Juli 2007, 17.00 Wib)

    tegas kata, keras nada
    tak kenal takut
    hadapi saja siapa

    gigih juang tegar jiwa
    menoreh jejak
    menghantar kemuliaan para putra

    isak sesak siapa
    kini merindumu bertegas dan berkeras sedia kala
    titik rintik siapa
    kini melukismu bergigih dan bertegar serupa
    desah susah siapa
    mengenangkanmu tetap berkarya di senja usia
    sedu pilu siapa
    mengangankanmu tetap bersama bercengkerama

    tergolek tak berdaya
    berbalut pembebat memerah kesumba
    terbaring tak bersuara
    menghirup oksigen tertutup mata

    tatkala jiwa menuai realita
    o, sang penuntun jiwa
    betapa syafaatMu terdambakan selalu
    dalam s’gala kehendakMu

    RSUD Bojonegoro, 16-18 Juli 2007

    Zawawi atau terkadang menggunakan nama pena Abu Salman adalah seorang buruh di sebuah perusahaan konstruksi berlokasi di Gresik, Alumni Universitas Dr. Soetomo, Surabaya, Jurusan Akuntansi, menyukai karya sastra sejak terhitung masih taruna. Karya sastra yang disukainya adalah berupa novel atau cerpen terutama karya Pramudya Ananta Toer dan beberapa pengarang lain seperti Oka Rusmini, Dewi Lestari, Ayu Utami, Eka Kurniawan dan sekarang sedang giat untuk belajar menikmati puisi. Menikmati puisi dengan jalan membaca karya-karya puisi dari Penyair terkenal maupun puisi-puisi yang di luncurkan di dunia maya. Harapannya dengan membaca karya-karya puisi tersebut agar dapat lebih bisa dalam menikmati puisi dengan jalan: menulis puisi karya sendiri dan membedah puisi karya-karya penyair lain. Terlahir di sebuah desa sepi bagian dari Tuban, pada tanggal 16 April. Sekarang tinggal di Lamongan, Jawa Timur.
    Dia Dapat dihubungi melalui:
    Email: awidya4776@yahoo.com
    Karya puisi-puisi(an)-nya dapat di baca di:
    Website: http://dunia-awie.blogspot.com

  25. By ainun jariah on Feb 26, 2008 | Reply

    nambah lagi ya pak….

    Untuk Ayah Bunda

    Ayah Bunda…
    Aku ingin pulang dan berkumpul lagi
    Dengan semuanya,tapi…itu semua tak mungkin
    Karena aku harus menjalani hidupku
    Di tempat lain yang telahku pilih sendiri

    Ayah Bundaku Tercinta…
    Aku merindukanmu,aku ingin memelukmu
    Aku ingin berada disampingmmu
    Untuk melepaskan kerinduanku

    Ayah Bunda…
    Maafkanlah anakmu ini yang belum
    Mampu memberikan apa-apa kepadamu
    Selain kesedihan yang berkepanjangan
    Karena aku telah meninggalkanmu

    Ayah Bundaku Tersayang….
    Restuilah perjalananku untuk menuju
    Hidup yang bahagia dan diridhoi Allah
    Karena ridho Allah tergantung ridhomu

    Ainun Jariah di batam.biodata lengkap ada dipuisi sebelumnya yang berjudul bunda

  26. By yunita p on Feb 26, 2008 | Reply

    Mengurat Daging…

    Ketika ku menoleh ke kanan…
    Hanya terdengar gemuruh ombak yang bertempur melawan karang
    Ketika ku menoleh ke kiri…
    Hanya tampak wajah-wajah asing yang menyiratkan keangkuhannya
    Ketika ku menatap ke atas…
    Hanya ada sang walet berpacu mengarungi cakrawala biru
    Ketika ku menunduk ke bawah…
    Hanya tanah pekat sebagai pijakan kaki yang terpapar

    Namun,
    Ketika ku memejamkan mata…
    Aku menemukanmu…
    Menemukanmu dalam lapisan benak tedalam
    Menemukanmu bak dewa gagah pelindung nurani
    Tersenyum hangat…
    Menemukanmu sebagai lentera terang penuntun jiwa

    Menerangi hatiku yang kelam
    Menerangi benakku yang kalut
    Merengkuh diri dalam rasa aman tak bercela
    Menyadarkanku akan arti seorang engkau…

    Kedamaian sergap gempita menyelimutiku
    Auramu terang riang terpancar
    Ragaku tenang dalam dekapan istanamu
    Tenggelam…
    Hangat…

    Ayah…
    Namamu telah menjadi alur yang terpatri cantik dalam sukma
    Hidupku terlahir dari peluhmu yang mengucur akibat lelah
    Lelah menguras otak…
    Lelah membanting tulang…
    Lelah mengarungi samudera waktu…

    Aku tumbuh dari kedua asuhan jemari kasarmu
    Aku bernafas dari ukiran ruang hidup yang kau cipta
    Aku berpijak dari bekal ilmu yang kau tanakam dalam dasar diri

    Selamanya…
    Kau pedomanku…
    Kau penuntunku…
    Kau hidupku…
    Ayah

    Jakarta, 18 Okt. 2007…

    Buah karya : A. A. Kt. Yunita Paramita
    Biodata lengkap ada pada puisi sebelumnya pak,yang judulnya “Anyaman Cinta”
    Terimakasih pak atas motivasinya
    Puisi ini hadiah untuk ayah saya ketika beliau berulang tahun…^_^

  27. By makaribi on Feb 26, 2008 | Reply

    BUAT RINDU YANG KAU TITIP SETIAP SENJA
    : Ibu

    Kau diam merajut kain ditanganmu
    Kau bilang menjahit pakaianku
    Kau rajut sederhana
    hingga usiamu senja

    musim telah berganti
    masih kusimpan kenangan pagi

    saat ku hampir telat sekolah
    kau suapi ku dengan tanganmu
    dan katamu
    “kau ‘kan ingat ini walau tak lagi pakai celana merah”

    lalu ku pakai celana biru
    aku tetap sering terlambat
    namun kau masih jejalkan suap nasi kemulutku
    lalu katamu “saat ini akan selalu kau ingat”

    aku tak berubah
    kau pun gelisah
    ku pakai celana abu-abu
    tiap pagi terburu-buru
    kau masih jejalkan juga nasi dan kata-kata
    “kau tak akan lupa semuanya”

    Lalu bagaimana ku bisa lupa
    kau yang ajari ku pakai celana

    kini kau tak bangunkanku tiap pagi
    kini tak ku dengar bentakan mu tiap pagi
    ku jauh darimu
    ku pisah darimu
    musim ini dedaun rontok satu-satu
    buat apa rontokkan air matamu

    aku pergi jauh, aku pergi jauh
    seperti hatiku tak lagi utuh
    katamu adikku rindu, bukankah itu juga rindumu
    aku pun rindu, aku pun rindu
    satu masa aku dalam dirimu
    kau merasa aku ini milikmu
    lalu kelahiran seperti melepaskan
    dan menemukan kesendirian

    Jejak melambat
    suara tercekat
    kau titipkan rindu pada senja buat si anak
    senja menua, awan berarak

    Kau pun tahu aku suka senja seperti cintaku pada gerimis
    dan kau bisa memberiku gerimis setiap senja

  28. By Bibidapi on Feb 26, 2008 | Reply

    Pak saya kirim 7 puisi sbb:
    1)Rasanya Tak Cukup…..Bunda

    Untuk seseorang yang tak henti mencintaiku
    Rasanya aku tak bisa menerima cintamu yang paling, karena
    Segala amarahku kau ubah jadi bisu
    Dusta-dustaku yang telah tercetus
    Kau ukir jadi sejarah hidup yang indah

    Pantaskah aku memohon ampun
    Atas semua perasaanmu yang tersakiti
    Oleh tanganku yang nista
    Atau pikiranku yang mungkar ini

    Sejenak ingin kuhampiri samudera
    Haruskah kugenggam ombaknya agar jadi pasir
    Atau kupeluk buihnya agar jadi telaga
    Untuk mampu mendinginkan durhakaku padamu

    Tombak keyakinanku berkata tidak…
    Rasanya semua itu tak cukup…

    2) 21 Agustus Setiap Hari
    Surat Untuk Ayah

    Sebuah sosok tercipta amat sempurna
    Berasal dari seonggok tanah dan segumpal darah
    Tangannya terbuat dari baja
    Kakinya terbuat dari besi
    Jiwanya lebih hebat dari karang di lautan
    Keringatnya lebih kuat dari matahari yang membakar
    Pikirannya lebih cerdas dari ahli apapun di dunia
    Namun hatinya lebih lembut dari kabut yang melayang seusai Subuh

    Seorang yang rela kekuatannya diberikan untuk mencari nafkah buat keluarga
    Seorang yang selalu lindungiku dari ancaman dunia yang keras dengan seribu nasihatnya
    Seorang yang mengundangku lahir ke dunia
    Seseorang yang memilihku sebagai putri bungsunya
    Kupastikan sosok itu bernama ayah

    Ya Allah…
    Berikan ayah panjang umur yang sehat,
    Karena pernah satu kali Kau mengurangi kekuatan tubuhnya
    Hari itu aku menyaksikan kelemahan luar biasa dari seorang ayah
    Maka aku mohon, jangan kau kembalikan saat-saat seperti itu
    Berikan ayah kekuatan dalam bersabar, nikmat yang berlimpah,
    Selalu rukun dengan ibu sampai akhir usia,
    Mudahkanlah ia dalam menemui sakaratul maut,
    Ringankan sakitnya ketika Kau pisahkan jasad dengan ruhnya
    Jadikanlah ayah wafat dengan Khusnul Khatimah, dengan menggenggam nikmatnya iman dan islam dalam hatinya

    Ayah…
    Terima kasih atas tumpah ruahnya sayang
    Atas segala pemikiranmu yang laksana
    Semuanya mampu membuatku kian tegar menafaskan hidup

    Aku ingin bertemu 21 agustus setiap hari
    Agar selalu kuingat betapa berharganya memiliki seseorang yang kuat seperti ayah
    Seribu doa kuucap untukmu
    Agar mampu kau rangkum hidup
    Dan mencapai surga yang Maha Kekal

    3) Gadis

    Gadis, tak lelah ia mencari jati diri
    Terombang ambing dalam maraknya kota dan peradaban
    Semua pelajaran dilahapnya, entah benar atau salah
    Dalam gemerlap malam ia masih berjalan
    Tenggelam dalam foya yang dianggapnya surga

    Gadis, gadisku…
    Ke mana kau pergi
    Ibu menantimu
    Rindu memelukmu
    Mengapa kau belum kembali
    Akulah surgamu

    4) Ibu
    Saat airmata berderik memenuhi panggilan hati
    Meleleh semua goresan yang terpantul dari fatamorgana kehitaman
    Terbuai lama nadi tak berdetak saat kutatap wajah itu setelah sujud
    Putihnya meluruhkan sakit menjadi fajar yang merekah
    Dan makin lama semakin sempurna
    Karena setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah doa

    Aku bangga mencintaimu
    Tidak untuk sementara
    Tapi untuk selamanya

    5) Mengulum Rahasia

    Kubaca wajahmu perlahan
    Di sana, mengalirlah alunan yang sering disebut cinta
    Kau tegakkan tiang cinta melalui airmata yang berurai
    Seulas senyum tersungging, menambah maraknya ekspresi cinta
    Meluluh dalam hati yang lembut

    Kubaca wajahmu lagi
    Kali ini bukan cinta, tapi kemarahan
    Yang meledak menggosongkan airmata
    Memanaskan gumpalan darah yang lama mengendap
    Namun dalam diam, masih kaurasakan sensasinya menggeliat dalam hati
    Meski wajahmu terbaca jelas
    Selalu saja kau layarkan wajah lembut

    Kubaca wajahmu selalu
    Garis-garis kelelahan mulai terukir, berhenti pada satu titik dimana
    Seluruh hati akan haru memandangnya
    Dalam mata yang terpejam, kau masih sunggingkan senyum
    Kau tebarkan ke setiap orang terkasih

    Sungguh hebat kau kulum rahasia-rahasia
    Tak lelah menelan sendiri setiap kecipak rasa
    Dan semua itu mengental jelas diwajahmu

    6) Ini Cinta Terindah

    Darah mengalir sedemikian
    Nafas masih merasuki paru-paru
    Jantung pun tak kuasa menolak perintah detak
    Cintanya tetap tertuju
    Tersenyum saat aku ada, menangis saat tak ada
    Hampa saat tawaku lenyap
    Tangan itu yang selalu memeluk
    Mata itu yang dapat menembus kesedihan dibalik pintu
    Dan bahu yang selalu ia berikan saat aku lemah

    Namun amarah, emosi, dan keliru tercampur
    Menjadi jarum panas yang menusuk hatinya
    Menancap sampai ke ujung
    Terkoyak berkeping-keping
    Aku jatuhkan tetesan kekecewaannya
    Telah kugaris luka di jiwa cantik itu

    Dan seruanku memohon untuk pulihkannya
    Akan kupilin benang putih di luka itu
    Agar darahnya tak mengalir menghujani hatiku
    Maafkanlah…
    Mohon jangan hentikan sayang itu
    Aku mencari cinta suci sampai ke negeri pelosok
    Sungguh hanya cintamu yang paling

    Jika tidak ada perintah untuk menyembah Tuhan
    Maka seluruh wajah akan bersujud di kakimu
    Ibu…

    7) Wajah Ayah

    Terbujur kaku
    Mengiris pandangan mata
    Auranya peluh kelelahan
    Garis-garis wajah mulai terukir
    Ia tertawa saat malam
    Tapi saat diam, wajah itu seperti kini

    Tersenyum hati saat mata berkaca
    Apa yang diperbuat siang hingga mengeruhkan wajah bening itu
    Mungkin ia terlalu mengabdi
    Sampai lupa pada hari
    Hanya sosok-sosok tercinta yang lewati garis ingatannya
    Bara panas yang menggilas hidupnya tiap menit
    Tak mampu membakar lengannya
    Bara itu terlalu dingin bagi gurun pengorbanannya yang kian memanas
    Karena tiap esok
    Ia selalu bentangkan sayap
    Rengkuh dunia melewati gurun itu

    Kini wajah itu sedang bermain-main dengan mimpi
    Mimpi nikmatnya
    Yang membawanya hingga subuh menyeru manusia

    CV Bibidapi: Marisa Ermita Devy yang memiliki nama pena Bibidapi, alumnus Stimik Perbanas Jakarta ini terlahir dari rahim yang teramat istimewa pada 16 Maret 1983. Saat ini aktif belajar menulis di komunitas maya diantaranya kolomkita, puitika.net, milis Apresiasi Sastra. Puisinya yang berjudul “Ayat-Ayat Alam” pernah menang sebagai favorit Lomba Puisi “Pesan Kepada Presiden 2009-2014″ Januari lalu. Kegiatan lain yang sedang ditekuni adalah mengelola website iklan properti. Sekarang menetap di Jakarta.

  29. By Abu Fauzan on Feb 27, 2008 | Reply

    Mengenangmu
    :ayah

    Dengan apa kuganti semua lelah hidupmu?
    Semua peluh yang meleleh oleh terik surya dari legam kulitmu
    Juga airmata yang tertumpah diam-diam dalam tahajudmu

    Semua kenangan tentangmu adalah ketegaran
    Dalam setiap arus dan kelok kegetiran jalan hidup

    Ketika tangis kecil kami mengusik peluk malam dari tubuhmu
    Kau melangkah begitu gegas menyibak keheningan pagi
    Lalu tangan kurusmu melukis senyum di lumpur sawah seperti biasa

    Di masa jeda bertanam, tak ada alasan mengerami bantal
    Meski matamu kelam, matahari tak pernah redup di sana
    Menuntun arah memecah belenggu
    Bebatuan yang kaugali, terbayang senyum bahagia kami

    Sajian kuliner di restoran bintang sekian
    Hanya melintas sekejap di lidah lalu membekas sebagai lupa
    Tapi nasi campur irisan sukun dan lauk sedikit garam
    Terus terbaca, membekas indah dalam lembar kenanganku

    Masa itu bertahun telah lampau
    Serasa baru kemarin ku mohon restumu
    Sebelum melangkah mengejar mimpi yang terselip keangkuhan kota
    Lalu kau pamit tanpa aku menuntun talkin di sisimu

    Dengan apa kubalas semua itu?
    Bahkan cinta yang lebih dari selamanya
    Tak mampu membanding indahnya lukisanmu di hatiku
    (6 Pebruari 2008)

    short CV:

    Abu Fauzan, lahir 18 Mei, belum ada karya di media cetak, baru belajar menulis puisi di situs kemudian.com beberapa bulan yl, Jakarta Timur 13440.

  30. By unai on Feb 27, 2008 | Reply

    ckckck banyak sekali yah puisi yang masuk :)…kalo dah jadi buku kabari yah pakmau dicari di toko buku, atau dapat dari bapak? hehe maunyayaaa

  31. By dhikrotul izzah on Feb 27, 2008 | Reply

    Munajat Bunda

    Lantunan tasbih jengkerik nyaring memecah
    Laungan tahmid Sang katak syahdu membahana
    Hembusan tahlil semilir malam sejuk terasa
    Senyap, alam beradu memuji Pengusanya

    Dalam simpuh-sujud seorang hamba
    Ratapan tangis tumpah
    Keheningan malam memecah
    Para malaikat turut serta
    Temani tahajud Bunda

    Putaran mutiara tasbihmu
    Asyik-masyuk menderu-ombak batin
    Mengiba sembilan puluh sembilan
    Kemurahan Asma-Nya

    Dalam tengadah telapak doamu
    Kau panggul Ananda
    Satu demi satu terayun
    Dalam timangan seribu satu bahasa cinta

    Munajatmu berucap
    Rabbi habli minasshalihin
    Tuhan, jadikanlah buah hatiku
    Permata dunia-akhiratku.

    Written by: Dhikrotul Izzah
    Batu, February 27, 2008
    At 08.17

    Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab, lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
    Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji, Embun Cinta dan Munajat Bunda.
    Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
    Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
    E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id

  32. By dhikrotul izzah on Feb 27, 2008 | Reply

    Munajat Bunda

    Lantunan tasbih jengkerik nyaring memecah
    Laungan tahmid Sang katak syahdu membahana
    Hembusan tahlil semilir malam sejuk terasa
    Senyap, alam beradu memuji Penguasanya

    Dalam simpuh-sujud seorang hamba
    Ratapan tangis tumpah
    Keheningan malam memecah
    Para malaikat turut serta
    Temani tahajud Bunda

    Putaran mutiara tasbihmu
    Asyik-masyuk menderu-ombak batin
    Mengiba sembilan puluh sembilan
    Kemurahan Asma-Nya

    Dalam tengadah telapak doamu
    Kau panggul Ananda
    Satu demi satu terayun
    Dalam timangan seribu satu bahasa cinta

    Munajatmu berucap
    Rabbi habli minasshalihin
    Tuhan, jadikanlah buah hatiku
    Permata dunia-akhiratku.

    Written by: Dhikrotul Izzah
    Batu, February 27, 2008

    Izzah/ I’is/ Dhikro sapaan akrab, lahir di Malang, 30 Mei 1981. Sekarang tinggal di Jl. Raya Caru 2 Pendem Junrejo Batu. Karya yang sudah masuk di web http://www.webersis.com :
    Hadirkan Aku Dirinya (sebagai nominasi puisi cinta), Janji, Embun Cinta dan Munajat Bunda.
    Suka berkecimpung di dunia seni lukis, kria, tari, desain grafis dan dunia anak.
    Website: http://www.creative-bee.blogspot.com
    E-mail: creative_izzah@yahoo.co.id

  33. By atah on Feb 28, 2008 | Reply

    MU LELAKI

    dekapmu:
    sepoi angin yang cengkeram pepohonan muda
    belaimu:
    desir air yang membelai batu bebatu
    senyummu:
    kilau embun, tak silau, namun manis enau
    tuturmu:
    bulir mutiara, serpih perak, tersiram jiwa

    lelaki berambut bersepuh kabut putih dalam sepi
    ramai duka nestapa suka cita Selalu labuhkan jangkar
    cinta untuk benih bijih hatinya.

    tatapanmu:
    lembut salju nan tak kenal musim
    lelakonmu:
    geliat rerumput zikirkan irama bayu

    lelaki kokoh berpancang matahari pagi siang senja
    petang malam genang senantiasa cinta berkubang sayang
    kasih tak kenal lekang demi buah darah hatinya.

    BUNDA SEMESTA

    cahaya tersulam di rahim suci
    kembara dalam gulita
    detak masih hampa jelaga
    ayat-ayat sudah kau deraikan
    sirami dengar yang belum jua sempurna

    sketsa cahaya
    metamorfosa matahari mungil
    terlahir dari mulut lazuardi
    dengan sisasisa rintih
    hidup tak, mati tak
    raga kapas jiwa serasa hempas
    demi cinta ini, kau desah

    matahari mungil masih merah
    pasrah dalam gerah dunia
    namun semesta masih menjaga
    susui matahari hingga bernyawa
    dampingi kitari illahi
    ajari memilah-milah cahaya
    mana gelap, mana ungu, mana pekat
    mana terang, mana nila, mana putih
    matahari muda tatihtatih

    semesta kembali benih
    lahir mataharimatahari kecil
    detik menua detak melayu
    kelam menunggu
    pekat terselubung biru
    semesta senyum
    DIA-nya telah putuskan
    ‘tuk ke haribaan

    semesta titipkan iqra’
    iringi matahari mungilnya
    nuju-Nya

    BIODATA

    Nama : Lalu Abdul Fatah
    Nama Pena : Lafatah
    Tempat/Tgl Lahir : Pancor / 27 Juni 1988
    Alamat : Jl. Gubeng Jaya II / 70 Surabaya
    Pekerjaan : Mahasiswa S-1 Ilmu Hubungan Internasional
    Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik
    Universitas Airlangga, Surabaya
    Email : fatabdul@gmail.com
    HP : 08175178429
    Blog : http://lafatah.multiply.com - http://menulisuntukbunda.blogspot.com
    No Rekening : Bank Syariah Mandiri Cabang Mataram
    No. Rek 0340031744 a.n. Lalu Abdul Fatah

    PENGALAMAN:

    Aktif di milist kepenulisan (FLP, Id-ebook, escaeva, Sekolah Kehidupan, dan lain-lain) dan dunia blogging (gagasmedia, apresiasipuisi, dan penulisindonesia). Sebagai moderator Komunitas Cerpen Online (http://cerpenonline.multiply.com). Beberapa tulisan pernah dimuat di Jawa Pos, Majalah Sabili, dan media-media lokal lainnya di Pulau Lombok, serta dua cerpen masuk dalam Antologi Lomba Cipta Cerpen Pelajar I & II se-NTB. Dua kali pula menjadi finalis lomba yang diadakan situs ini: lomba menulismudah dan puisi cinta.

  34. By amin on Feb 28, 2008 | Reply

    sapamu terasa pilu di teligaku
    meliuk dengan percaya diri lalu angkuh menghujam hatiku
    tangisku tak hendak redam amarahmu
    keji katamu meleburkan diriku dalam lubang hitam ketidakpercayaan

    hangat jemarimu terasa mahal dalam ingatku
    yang tersisa adalah panas menyengat ujung jemarimu yang lentik di pipiku
    waktu itu, sakit rasanya tak hanya di kulitku..tapi terasa sakit di sekujur tubuhku

    bunda..
    engkau adalah puisi yang tak pernah akan selesai kutulis..
    kucari kata yang mampu melukiskanmu,
    penat rasanya berusaha,
    terhenti di tengah jalan karena harus mengusap air mata di pipi dan ingus yang tak henti

    cukuplah aku bunda..
    cukuplah aku saja..
    wanita yang melahirkanku, adalah wanita yang membuatku hilang..
    hilang dalam suramnya kehidupan
    aku hilang karenamu bunda
    cukuplah aku saja..

    aku mencintaimu..
    aku tahu engkau juga mencintaiku..
    dengan caramu,
    yang tak pernah kupahami..yang tak pernah henti kutangisi..
    aku mencintaimu bunda..

    engkau adalah hujan yang dingin mengguyur tubuhku
    membasahai luka-lukaku sehingga pedih adalah ujungnya
    ya bunda, engkau adalah hujan..
    tak pernah siap aku akan hadirnya,
    akan tetapi selalu kurindukan..

    depok, 28 februari 2008

    maaf, saya mungkin melukiskan cinta kepada seorang ibu dalam perspektif yang berbeda. baru2 ini saya menjumpai yang kebetulan adalah korban KDRT..

  35. By makaribi on Feb 28, 2008 | Reply

    II

    SEPUCUK SENJA BUAT BAPAK

    1/
    Tak terasa waktu menggerogoti usia
    garisnya mulai memutih
    senja mulai nyata
    menampakkan keindahan
    mungkin pula kesunyian
    dan yang abadi hanyalah kenangan
    seperti rindumu pada nenek
    atau masa kecil yang membekas.

    Ku tak dapat lagi berkata
    Ku ‘kan tiba juga disana
    di tepi senja
    peraduan malam
    sepi
    sunyi
    menjauh
    berjarak
    kemudian hilang

    tapi Tuhan tak pernah mati
    Ia terus ada
    meski kita berusaha membunuhnya dalam pikiran kita.

    Kita ‘kan kembali ke keabadian.

    2/
    : Bapak

    Kini semua memiliki kehidupan sendiri
    Ada suka ada sedih
    Idealisme tinggal idealisme,
    karna orang sibuk dengan realitas
    Orang yang hidup dengan idealisme adalah orang yang hidup dengan mimpi,
    Tapi ku lebih suka bermimpi tentang kedamaian,
    tentang kejujuran
    dan tentang cinta yang tulus,
    Meski kenyataan tidak

    Karna hidup hanyalah mimpi
    Dan saat kita mati kita terbangun
    Disitulah hidup.

    ……………
    Ario Makaribi, lahir di Wonogiri, sementara ini tinggal di Bandung, suka menulis sejak kecil (SD), sering mengirimkan karya ke media massa dan tidak pernah dimuat (he..he..),terus memperbaiki tulisan secara otodidak. Berharap menulis puisi sebagai bagian kesehariannya.

  36. By Usman Didi Khamdani on Feb 29, 2008 | Reply

    Kalo udah cerita soal Ayah-Bunda, jadi kangen sama Abah-Emak di kampung. Terlebih Emak … :( Memang, kasihnya itu .. bagai sang surya menyinari dunia
    Btw, titip puisi berikut ya, kang?? Sebagai “sembah-sujud” buat Emak tercinta. I love you, Mom. Thanks!!

    ======================================================

    Usman Didi Khamdani:
    SURAT (LAMA) DARI IBU

    melihatmu tumbuh dewasa
    adalah semacam
    menelan pil pahit
    aku tahu aku akan
    bahagia
    namun aku pun harus
    menahan kepedihan
    bahwa aku telah kehilangan
    anak semata wayangku
    bocah yang tangisannya
    tak pernah membuatku
    sedih
    –karena kau selalu
    terlelap kemudian di pelukanku
    tapi bunga memang harus mekar
    burung memang harus terbang
    dari sangkarnya
    musim memang harus berganti
    maka
    pergilah anakku
    gapai bintang kejoramu
    gapai matahari jinggamu yang
    kerapkali kau ceritakan di saat-saat senja
    yang kerapkali kau gumamkan saat lelap malam
    hingga, saat kau mempunyai
    buah hati nanti
    kau pun kan tahu
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat kau melihat burung kecilmu itu
    mulai belajar meniti dan menuruni
    ranting pepohonan
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat kau melihat bunga kecilmu
    mulai mengembangkan kelopaknya
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat musim panasmu
    tak lekas berganti hujan
    karena kau belum siap
    karena kau memang tak pernah siap
    menggigil karena tak ada teriknya
    kamu pasti kan tahu anakku
    pasti

    2007/2008

  37. By meiy on Feb 29, 2008 | Reply

    INGIN KEMBALI
    Kepada Ibu

    Kerinduan membelenggu kenang
    hadirkan semakan ungu
    dibelakang rumah kita
    yang selalu ku pandang dari jendela kamar
    saat pagi menjelang

    kerinduan adalah merah jambu
    pucuk-pucuk cengkeh dilatar Merapi yang anggun
    dan pepohon merimbun
    di kebun kita

    masih lekat rasa
    beria di antara kembang-kembang
    dan dirimu yang berdendang
    tentang elok gadis Sungayang
    jemarimu yang lincah mengajariku
    merangkai bunga-bunga yang semi
    membingkai harihari, mimpimimpi
    dan harapan
    yang ditumbuhkan kesederhanaan

    kerinduan
    menderaku ibu,
    saat ruang dan waktu
    menggores perih
    tak tertahankan

    Lamreng, 27 Mei 2004

    SAJAK RINDU BUAT IBU

    Aku terserap kenang tua
    merunut waktu
    hadirkan pesona
    pelukan kabut ditaman kita

    kau tersenyum di pagi berembun
    memetik kuntum-kuntum mawar, merah, putih
    dan dahlia
    bersama wangi aroma daun aru
    yang kau berikan padaku
    “Taruhlah di kamarmu nak, sebab bunga memberi gairah untuk memulai pagi.”

    Lama tak kumengerti apa makna kembangmu bunda
    selain hatiku riang penuh cinta
    cerah menghadapi harihari
    tapi mengapa aku mesti mencari makna lagi
    apakah yang lebih indah, daripada cinta

    Lamreung, 15 aug. ’04, 03.00

  38. By meiy on Feb 29, 2008 | Reply

    Sajak buat Papa

    Mengenangmu,
    adalah bening bansi pitunang
    dan merdu saluang
    menghias dendang ibu
    di sore-sore kita yang biru

    mengingatmu,
    menyematkan rindu
    menjelajah bukit-bukit Sumpu, pohon-pohon sawo
    menghitung burung punai, tupai-tupai
    mengumpulkan biji saga
    berlarian ke telaga

    kenangan
    membayang dirimu
    memancing di Singkarak
    diiring semarak gelak kami anak-anakmu
    riuh berkecimpung di riak danau

    mengenagmu
    melenyapkan amarah
    pertentangan-pertentangan kita
    keindahan kenang
    tak menyisakan buram
    di album lama

    Lamreung, 26-27 Juni 2004

    NOTE: Kirim 3 ya pak :)

  39. By Usman Didi Khamdani on Feb 29, 2008 | Reply

    Ralat nih kang! (sory, ralat ‘mulu :))….

    pada larik ke-17 harusnya sarang bukan sangkar –> dari sarangnya

    Kalo bisa puisi/comment di atas hapus aja deh, kang.. ganti yang berikut: …

    ======================================================

    Usman Didi Khamdani:
    SURAT (LAMA) DARI IBU

    melihatmu tumbuh dewasa
    adalah semacam
    menelan pil pahit
    aku tahu aku akan
    bahagia
    namun aku pun harus
    menahan kepedihan
    bahwa aku telah kehilangan
    anak semata wayangku
    bocah yang tangisannya
    tak pernah membuatku
    sedih
    –karena kau selalu
    terlelap kemudian di pelukanku
    tapi bunga memang harus mekar
    burung memang harus terbang
    dari sarangnya
    musim memang harus berganti
    maka
    pergilah anakku
    gapai bintang kejoramu
    gapai matahari jinggamu yang
    kerapkali kau ceritakan di saat-saat senja
    yang kerapkali kau gumamkan saat lelap malam
    hingga, saat kau mempunyai
    buah hati nanti
    kau pun kan tahu
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat kau melihat burung kecilmu itu
    mulai belajar meniti dan menuruni
    ranting pepohonan
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat kau melihat bunga kecilmu
    mulai mengembangkan kelopaknya
    bahwa saat yang paling membahagiakan adalah
    saat musim panasmu
    tak lekas berganti hujan
    karena kau belum siap
    karena kau memang tak pernah siap
    menggigil karena tak ada teriknya
    kamu pasti kan tahu anakku
    pasti

    2007/2008

  40. By ichal on Feb 29, 2008 | Reply

    Pak EWA ! kiniko awak ikutan, iko puisinyo.

    TEPIAN NURANI

    …mak!!!!
    hari ini aku pulang
    setelah penat dengan semua kegiatan
    24 jam lebih dalam sehari aku bertarung demi hidup ini

    ketika mereka berlayar dengan dengan pesiar
    ku iringi mereka dengan sampan
    tidak,,,!! aku tidak gentar

    ketika mereka berpesta ke dermaga…
    ku tetap tidak ketepian

    …mak!!!
    ketika ku sampai dirumah nanti
    jangan tanyakan kapan ku akan hidup di tepian
    bukan ku takut berlabuh
    namun bidukku masih rapuh

    memang… aku bukan saudagar
    tapi aku juga bukan mencari kayu bakar…

    jika kupulang nanti
    kuingin bawakan emak sebuah selendang…
    tidak sutera,… tapi kumampu belikan yang satin

    buat dapur nanti
    ku akan mampir ke pasar ikan
    tidak kakap,.. tapi kumampu belikan patin

    30 juni 2007
    JUDUL asli pada postingan : tepi nurani

    cv.
    bukan siapa-siapa, hanya seorang kembara yang mencoba merangkai kata.
    berharap manfaat untuk diri syukur-syukur bisa berguna untuk orang lain.

  41. By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply

    Kulihat bunda dan selembar kertas di jemarinya
    Tersirat gundah dalam penglihatan yang mulai basah
    Kuhampiri, kusapa sang wanita surga
    Selembar di tangannya lekas ditenggelamkan dalam saku
    Dan seperti biasa
    Ku palingkan mata
    Pura-pura tak tahu
    Ah bunda, maafkan aku.
    (Bunda, aku hanya tak mampu melihatmu sedih jika kau menceritakan tentang tagihan hutang itu)
    -Jogja, Februari 2008-

    Hafny adalah seorang mahasiswi FISIPOL UGM. Lahir di Kebumen pada tahun 1988. Mencintai puisi dan tulis menulis..

  42. By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply

    MasiH bisa ikuT tak. .

  43. By Hafny on Feb 29, 2008 | Reply

    Aduh maaf lupa, puisi saya di atas judulnya “Bunda dan Kertas di Tangannya”
    Terimakasih..^^

  44. By Agus Maulana on Feb 29, 2008 | Reply

    Ikutan yah bang ersis :) ————————–

    Oh Mama …

    Mama …
    Kini ku sendiri
    Hampa dalam kesepian
    Jauh dari kehangatan

    Mama …
    Dalam perantauan ini
    Rasa rindu itu datang lagi
    Mencari jawab kasih itu

    Mama …
    Doa dan restu mu
    Begitu ku harap
    Untuk sebuah perjuangan

    Mama …
    Adakah rasa kangen
    Dalam jiwa mu
    seperti jiwa ini

    Mama …
    Allah memuliakan-mu
    Selalu dan selalu
    untuk mu, mama ku

    ——————————————–
    Agus Maulana
    Penulis Lepas :) http://gus-maul.blogspot.com

  45. By danalingga on Mar 1, 2008 | Reply

    Teruntuk Ayah Bunda

    Tanpa perlu kata-kata mengiringi
    segala cinta sampai mati
    mengumbar dari diri
    kupersembahkan tanpa ragu hati
    demi semua hidup sampai kini.

    CV : Danalingga, seorang bloger dari jakarta.

  46. By yunita p on Mar 2, 2008 | Reply

    TERSURAT UNTUKMU IBU

    Terngiang olehku ibu,
    Terngiang dentuman kata yang kau olah menjadi nada
    Ketika sang jarum menyapa dasa,
    Aku pun terlelap…

    Tersirat darimu ibu,
    Tersirat dalam pelupuk mata yang terkedip
    Mengulum takbir amanat yang ku panut sangat
    Mengurat daging…

    Terpahat hatiku ibu,
    Terpahat oleh tulus menjadi galur-galur kasih abadi
    Mengalahkan kasihku pada sang pujangga
    Mengalahkan geloraku pada sang langit magenta
    Tak bercela…

    Tercurah padamu ibu,
    Tercurah bulir-bulir cinta yang kurangkum dalam sebentuk hati
    kuvisualisasikan dalam rentetan bait pembangun jiwa
    Terjalin…

    Terpukau diriku ibu,
    Ketika ku rengkuh ragamu
    Roda-roda jiwaku terkayuh tergesa
    Seolah menghempaskanku ke dalam taman firdaus
    Tak terlukis…

    Tersayat batinku ibu,
    Ketika segelintir tingkah nakalku,
    Memancing keluh dari bibir merahmu
    Atau bahkan,
    Hingga menciptakan bendungan sungai dalam selaput inderamu
    Hati ini mengharu biru…
    Maafkan aku, sungguh!

    Ibu,
    Terngiang…
    Tersirat…
    Terpahat…
    Tercurah…
    Terpukau…
    Tersayat…
    Tersurat untukmu ibu,

    Aku sayang padamu…

    Aku sayang padamu…

    Aku sayang padamu…

    ______________________________________________________________

    Ini puisi kedua yang saya kirim pak,..
    terima kasih ^_^

  47. By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply

    THANK’S GOD FOR ALL…..

    ^_^

  48. By ET-TARO on Mar 3, 2008 | Reply

    YA ALLAH…..YANG MAHA BESAR….
    KATAKAN KEPADA KEDUA ORANG TUAKU…..AKU MENYAYANGI MEREKA….
    KATAKAN….PADA SAUDARA-SAUDARAKUKU…..AKU MENYAYANGI MEREKA…..
    TERIMA KASIH ALLAH…..
    DISELURUH ALAM SEMESTA….ENGKAULAH YANG MAHA TERPUJI DAN MAHA MULIA…

  49. By Dyan on Mar 23, 2008 | Reply

    Mama
    Papa
    entah mengapa
    tanganku menjadi gemetar seketika itu
    jari-jariku kudekatkan pada mulutku
    dan bersinggunganlah bibirku dengan ujung jariku
    jari yang menyimpan begitu banyak rahasia
    ya dalam sidik jari itu tertuang cetakan mama dan papa

    kututup mataku
    kudapatkan diriku dalam dunia yang berbeda
    dunia yang indah
    dunia yang membuatku sungguh nyaman
    tubuhku terasa hangat di sini
    kakiku dibalut dengan kaus kaki yang tebal
    aku didekap penuh kasih sayang
    di gendongan ayah sungguh ku rasa aman

    aku tak bisa melihat dengan jelas
    tapi aku bisa memandangi tangan-tanganku yang mungil
    berusaha menggapai apa saja yang bisa kuraih

    dunia yang indah
    tanganku bergetar kembali
    kubuka mataku

    disini kini aku berdiri
    tegap
    memandang ke depan

    aku ingin maju
    aku tak ingin menengok dan berjalan mundur
    namun aku tak akan melupakan semua yang telah terjadi

    saat aku berjalan
    aku jatuh berulang kali
    namun selalu ada yang menopangku
    selalu ada yang menjagaku
    selalu ada yang mengangkatku
    dan terus menggandeng tanganku
    hingga kini aku sudah tumbuh besar

    aku ingat hari-hari dimana aku menangis
    aku ingat hari-hati dimana kau yang menangis
    aku ingat hari-hari dimana kau marah padaku
    aku ingat hari-hari dimana aku marah padamu
    aku ingat hari-hari kau memelukku
    dan memanggilku anakku

    mama dan papa telah mengajarkan aku begitu banyak hal
    mama dan papa telah membimbing aku dengan penuh cinta
    mama dan papa telah membuat aku siap menghadapi dunia

    aku tanya
    berapakah aku harus membayarmu untuk menebus semuanya?

    kau jawab
    kamu tidak usah membayar
    aku memberikannya dengan cuma-cuma
    dengan ketulusan hati
    dengan kasih orangtua yang tak terhingga
    untuk kebahagiaanmu
    keringat dan peluh tiada artinya
    karena aku mencintaimu anakku

    dan tiada kasih yang sebesar kasihmu mama papa

    kini
    aku sendiri
    aku tersenyum manis
    mama
    papa
    terima kasih atas semuanya
    aku mencintai kalian

    CV
    Saya hanyalah murid SMA yang suka menuangkan pikirannya dalam puisi. Maih harus banyak belajar. Namun percayalah, puisi ini berasal dari hati. Panggil saya Dyan.

  50. By supriyadi on Apr 1, 2008 | Reply

    Kasih Mu Bunda

    Dengan Kasih Sayang Mu Bunda
    Dan Menyayangi Ku Sepenuh Hati
    Tanpa Ada Rasa Kesal Dan Benci
    Walau Aku Tidak Peduli

    Bunda…
    Kasih Sayangmu Yang Tiada Tara
    Tiada Satu Pun Yang Bisa Menilai Kasih SayangMu
    Tanpa Merasa Letih Untuk Merawat KU

    Bunda…
    Kini Ku Sadar…!!!
    Bahwa Pengorbanan Yang Kau Berikan
    Tidak Akan Bisa Terbalas Oleh Ku

    Bunda Ku Sayang…
    Do’a Ananda Akan Selalu Mengiringi HidupMu
    Sampai Ke Akhir Hayatku.
    Seperti Bunda Mengiringi Hidupku
    Dengan Do’a Dan Restu Yang Suci

    Kasih Mu Bunda
    Tiada Yang Yang Mengganggu
    Aku Tetap Berada Di Dekapan Mu

    Bunda Ku Sayang
    Salam Dari Ananda
    Supriyadi

  51. By kaindah on Apr 13, 2008 | Reply

    buat doa ibuku

    di setiap hari kau selalu
    menangadahkan tangan penuh
    harapan jiwa yang mungil ini

    seriring hati kian merasuki
    dimana jiwa kian menyemangati
    di dalam hati ini terpatri
    kuat membeku kutub es
    dilimpahan doa itu
    simpan jiwa yang merenungi

    hati yang mungil ini
    tersyukuri oleh belaianmu
    ibu
    kian hari akan terbuktikan
    di doa ini
    untuk ibuku sayang

  52. By iwan on May 27, 2008 | Reply

    ibu

    berlinang air mata ini
    bercampur asa di dada
    menyatukan hati , jiwa
    dimana keindahan terdapatkan

    kasih sayang berlinangan
    semerbak wangi di rasa
    seelok cahaya sinar itu
    menyatukan hati , raga
    dimana keserasian terpatrikan

    keindahan jiwa sang ibu
    meluluhkan raga yang lemah
    disana kasih itu terukir indah
    bersama ibu ku sayang

    iwan/bekasi- 27/05/2008

    cv : setiawan pribadi / lahir di puwokerto . tinggal di bekasi -

    ***Bagus sih … cuman nominasi sudah diumumkan tu. Sayang ya.

  53. By Joseph on May 28, 2008 | Reply

    Kirimin w puisi yang buagus donk ke email w
    W tunggu

Post a Comment