Menulis, Narsisme Atau Hikmah?

24 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas 

Sejelek-jeleknya hal baik, jauh lebih baik dari hal jelek sekerdil apa pun.

RIYA. Narsisme dalam arti mencintai diri secara berlebihan yang dalam menulis dikaitkan dengan ‘menampakkan’ diri, bisa jadi mengundang debat berkepanjangan. Narsis, begitu biasa ditulis banyak orang. Entahlah. Kalau pun saya dimasukkan ke kelompok demikian juga tak mengapa. Suka-suka orang saja. Tapi, begitu membaca tulisan seorang sahabat di blognya, ada hal lain mencuat di pikiran. Seolah-olah menulis berkaitan dengan diri, berbau negatif.

Betapa tidak. Si sahabat mengenang kisah prestasi belajar semasa sekolah. Kalau kisah di SMA barangkali bisa dibumbui syair lagi Obie Messakh … malu aku malu … pada semut merah. Ya, menurut saya kurang narsis malahan, sebab tidak tuntas disajikan, tergolong datar-datar saja. Padahal, disitu terkandung muatan hikmah luar biasa. Dimana rela  ‘kebanggaan’ menerima capaian prestasi bertahun-tahun yang digabung keinginan menjadi yang terbaik. Prestasi akhir buktinya.
 
Coba kita kenang-kenang kehidupan Rasulullah. Ketika belum lahir ayah beliau meninggal, masih kanak-kanak ibu menuyusul, ketika menganjak remaja, kakek dan paman pengasuh, dipanggil Allah. Sekalipun demikian, Rasulullah tabah dan tetap berjuang. Dari kecil memelihara ternak, ketika remaja ikut berniaga, menginjak dewasa, berdagang betulan. Ada perjuangan kehidupan disitu.
 
Lebih luar biasa lagi bagaimana Rasulullah berjuang menegakkan syiar Islam. Kendalah-kendala dan kesuksesan tertuang dalam sirah Rasulullah. Kenapa kita mengenali alpha-betha kehidupan Rasululah? Ya, karena ada yang menceritakan, ada yang menulis. Tulisan-tulisan seputar Rasulullah menjadi pengawal kehidupan dan perjuangan Beliau untuk kita teladani. Sampai hari ini masih terpelihara, dan Insya Allah sampai akhir zaman.
 
Kita, memang bukan Rasulullah. Tapi, dalam kehidupan pribadi adalah sedikit kisah kehidupan yang dapat dibagi-bagi guna menjadi inspirasi bagi sesama. Ya, misalnya bagaimana berjuang menggapai prestasi, bagaimanapun belajar (sekolah) yang benar itu memerlukan pejuangan.
 
Pengalaman orang lain perlu kita pelajari untuk diambil hikmahnya. Kita kan tidak perlu lagi merasakan betapa kejamnya Amerika Serikat ketika menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki; dalam hitungan menit penduduk dan kota hancur lebur. Apa kita perlu mengulang pengalaman sadis tersebut untuk sekadar memahami betapa durjananya bom dahsyat yang tidak mungkin dibuat binatang terkejam sekalipun?
 
Memang, kalau menulis dimaksudkan untuk membangga-banggakan diri, riya, mempertontonkan kehebatan, atau sejenisnya, ya tidak eloklah. Tetapi, sejelek-jeleknya hal baik, jauh lebih baik dari hal jelek sekerdil apa pun. Lebih baik membaca atau mendengar kisah sukses dari cerita keburukkan.
 
Saya jadi curiga. Ketika bangsa ini lagi terpuruk begini, banyak orang gatal menyalahkan berbagai pihak sebagai penyebab kesalahurusan bangsa yang dilimpahi banyak kelebihan oleh Yang Maha Kuasa. Mencerca lebih banyak dilansir dibanding prestasi anak bangsa; mengeluh, menggerutu, atau sikat sana sini. Cerita kejelekkan nampaknya lebih diumbar.
 
Ada pula yang ketika memegang posisi penting tidak terlihat hasilnya, ketika dikendalikan orang lain, dengan jernih melihat kesalahan pengantinya. Salah melulu. Heran juga. Kenapa yang ditumpuk tidak hal yang baik-baik untuk ditimbun dengan yang baik berikutknya. Setidanya semakin waktu bangun hal baik dan baik menjadi perekat kokoh bangsa.
 
Ya, menceritakan hal bermakna; menuliskan pengalaman bermuatan hikmah. Kenapa tidak? Ataukah ini akibat dijajah begitu lama oleh penjajah kejam yang secara sistematis menanamkan virus, apa saja yang dilakukan anak bangsa adalah jelek?
 
Sampai-sampai, menulis pengalaman, prestasi, ide-ide, cita-cita yang tertancap dan mencuat dianggap narsis. Wah kalau sampai hal bermuatan pelajaran bagi sesama yang datang dari seseorang dianggap narsis, jangan-jangan kita melakukan kesalahan fundamental. Atau, kita memang lebih menghargai cerita buruk infotainent dibanding prestasi di berbagai bidang? Entahlah. Barangkali Sampeyan bisa menjawabnya secara tepat dan mendalam.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 24 Februari 2008.

  1. 11 Responses to “Menulis, Narsisme Atau Hikmah?”

  2. By mathematicse on Feb 24, 2008 | Reply

    Mmmmm…gemana yah? Memang sih, hal yang saya ceritakan di artikel saya itu jelaslah sangat tidak lengkap. Yang diceritakan hanyalah pucuk-pucuknya saja. Sedangkan proses untuk meraihnya, belum berani saya tuliskan.

    Bila dituliskan secara gamblang dan lengkap, saya khawatir dianggap membangga-banggakan diri dan ujung-ujungnya riya.

    Mungkin benar, pemikiran seperti itu banyak salahnya. Kita tak terbiasa menonjolkan diri. Sebabnya mungkin karena budaya kita yang mengajarkan kerendahatian. Budaya yang tak mengajarkan sesuatu kesombongan…

    Tapi, insya Allah, sedikit demi sedikit, akan saya kupas proses perjuangan meraih prestasi. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada kesedihan, ada juga kebahagian. Semuanya silih berganti dam proses perjalanannya.

    Saya merasa masih terlalu muda dan belum layak untuk bisa bercerita sepenggal episode kehidupan saya yang terbilang masih kemarin sore itu.

    Aaaaaaaaaaaaaaargh… :D

  3. By mathematicse on Feb 24, 2008 | Reply

    Mmmmm…gemana yah? Memang sih, hal yang saya ceritakan di artikel saya itu jelaslah sangat tidak lengkap. Yang diceritakan hanyalah pucuk-pucuknya saja. Sedangkan proses untuk meraihnya, belum berani saya tuliskan.

    Bila dituliskan secara gamblang dan lengkap, saya khawatir dianggap membangga-banggakan diri dan ujung-ujungnya riya.

    Mungkin benar, pemikiran seperti itu banyak salahnya. Kita tak terbiasa menonjolkan diri. Sebabnya mungkin karena budaya kita yang mengajarkan kerendahatian. Budaya yang tak mengajarkan sesuatu kesombongan…

    Tapi, insya Allah, sedikit demi sedikit, akan saya kupas proses perjuangan meraih prestasi. Ada kegagalan, ada keberhasilan. Ada kesedihan, ada juga kebahagian. Semuanya silih berganti dalam proses perjalanannya.

    Saya merasa masih belum layak untuk bisa bercerita sepenggal episode kehidupan saya yang terbilang masih kemarin sore itu.

    Aaaaaaaaaaaaaaargh… :D

  4. By mathematicse on Feb 24, 2008 | Reply

    Kalau cerita semasa SMA sih, lebih spektakuler lagi… (duh narsisme lagi nih… :D )

    Dan di perguruan tinggi, bisa bikin orang ga akan percaya dan ujung-ujungnya (mungkin akan) menganggap saya bohong (sombong nih… ) :D
    Sedangkan sekarang, prosesnya seperti berulang. Beragam kendala, beragam masalah menimpa. Ada sedih, ada gembira. Ada suka, ada juga duka. Dan cerita selanjutnya, saya belum tahu bakal seperti apa. :D

  5. By mathematicse on Feb 24, 2008 | Reply

    Pertamax, keduax dan ketigax, sekarang keempax… :D
    Kok, komentar-komentarnya kayak curhat ya jadinya?

    Udah ah… (trix meningkatkan jumlah komentar lagi nih… )

  6. By Yari NK on Feb 24, 2008 | Reply

    Ah… menurut saya narsisisme dalam tulisan sah sah saja… asal dieksploitasi dan dikemas menjadi hal2 yang positif dan tidak menyinggung perasaan orang lain, bisa menjadi tulisan yang lebih bermanfaat dibandingkan dengan tulisan yang ‘low-profile’ tapi hanya menyangkut hal-hal klise.

    Tetapi tentu saja narsisismenya harus dalam bidang dan kajian yang tepat. Narsisisme prestasi bisa dijadikan contoh dan perbandingan bagi orang yang membacanya dan mungkin bermanfaat. Sedangkan narisisime masalah kecantikan ataupun kegantengan, yang tempel foto sana sini di blog, yang itu juga belum tentu ganteng, nah seperti itu narsisisme yang gombal dan kurang bermanfaat jikalau dituangkan dalam sebuah tulisan! :)

    ***Setuju. Artinya menempatkan sesuatu pada tempatnya. Oh, ya kalau saya pasang foto —yan ngak nganetng itu— apa termasuk narsisme Pak Yari? Saya maksudkan sebagai identtas. Bagi saya identitas diri (plus foto diri) sebagai pertanggungajawaban publik, bahwa yang memelihar blog ini, Ersis. Apa perlu fotonya di hapus?

  7. By sawali tuhusetya on Feb 24, 2008 | Reply

    wew…. ngakak jugak baca komennya kang jupri sampek yang ke-empax, hiks. lagi menabur benih2 curhat di lshan yang subur ini. mudah2an tanamannya makin lebat menghijau sehingga mengundang banyalk orang untuk memetik buahnya, hahahaha … narsis gaya pak ersis tuh memang khas, kok, kan tujuan utamanya utk menyebarkan “virus” menulis kepada pembaca. itu narsis yang normal dan bermanfaat kok. yang ndak wajar dan ndak bermanfaat, menurut hemat saya, pak, hehehehe :lol: kalo di bawah foto pak ersis itu dicantumin kata2, misalnya, begene: “halo, nama saya ersis, sosok tampan ini sudah menaklukkan puluhan, bahkan ratusan perempuan. siapa yang mau jadi “korban” saya berikutnya?”, wakakakakakaka …. *kabuuuur lageeee *

    ***Hik … ntar biar saya coba, ngiman kira-kira respon yang lan.

  8. By Yari NK on Feb 24, 2008 | Reply

    Ooooo…. saya tahu sih, pemasangan foto pak Ersis lebih sekedar identitas belaka, jadi bukan termasuk narsisisme kok. Lagian pak Ersis kan kasih fotonya cuma satu, yang lainnya itu yang dipamerkan kan bukunya bukan foto pak Ersisnya kan? Hehehehe….

    Maksud saya, dulu ada rekan blogger bapak2 juga yang merasa kegantengan (padahal……. masih gantengan aku! Wakakakak!), masang foto sana sini, udah gitu di salah satu postingannya ingin cerita mengenai mantan pacar2nya (yang belum tentu kisah benar!!), yang jelas bukan Pak Ersis atau Pak Sawali, hehehe… Tetapi alhamdulillah postingan beliau sekarang sudah jauh lebih baik (setelah sadar bahwa dia kalah ganteng dan kalah keren dari aku…. wakakakak….. maaf sedikit narsisis :mrgreen: ) dan sekarang postingannya sudah jauh lebih dewasa. Wah, ini mudah2an bukan termasuk meng-ghibah ya! Huehehehe…. :D

    ***He he … makasih pencerahannya.

  9. By danalingga on Feb 24, 2008 | Reply

    Bagi saya sih yang penting saya bisa menulis pak. Mau dianggap narsis atau nggak, mau di anggap riya atau nggak. Sing penting nulis terus, soale emang lagi belajar nulis. :D

    ***Yoi, yang penting memang menulis. Siiiiiiiiip.

  10. By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply

    tanggapan seseorang dengan niat kita tentu berbeda.
    “awalilah segala sesuatu dengan niat”
    tentunya dengan yang baik.
    nulis,,,,ada sesuatu yang di ungkapkan.
    narsis….ngga

    ***Ha ha yang tau niat kita kan kita, ya kan? Dalam memasihkan menulis, ya soal diri sajalah dulu. Soal tanggapan orang nomor 1001, dan itu digunakan untuk kebaikan menulis. Setuju?

  11. By fans EWA on Feb 27, 2008 | Reply

    Sebenarnya suatu hikmah, karena tidak semua orang pandai menulis untuk menuangkan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Suatu keberuntungan bagi yang diberi kelihaian dalam menulis oleh_NYA. Tidak sedikit orang yang tidak mampu untuk menuangkan idenya dalam tulisan.

    Narcis tergantung dari cara memandangnya, yang mengatakan narcis bisa saja karena iri (iri tanda tak mampu kan om……..) atau tidak mempunyai keahlian dalam membuat tulisan, yang bisanya cuma mengejek punya orang lain.
    Yang narcis yang selalu mengganggap dirinya hebat, -ex : pamer kekayaan, pamer jabatan, pernah dapat nominasi laaa, aduhh….. pamer yang Ga ada gunanya. heeee
    Bilangnya buat motivasi bagi yang mendengarkan, apa Ga ada cara memotivasi yang lebih baik…………

    Begitulah om kalau sudah menjadi public figure, sering jadi buah bibir. Sampai-sampai dianggap NARCIS ^_^

    ” NURKHULIS WARDANI”

    ***Begitukah rupanya … ya semua ada di hati kita masing-masing kan?

  12. By meiy on Mar 4, 2008 | Reply

    tanpa narsisme jadi rendah diri kali ya pak…narsisme yg pas boleh2 aja untuk tujuanpositif asal gak sombong dan ria…

Post a Comment