Menulis Memaknai Kegagalan
23 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Experience the best teacher. Pengalaman kehidupan, pahit manis, adalah lautan manik-manik makna bermuatan change in progress.
PADANG. Selepas magrib saya menjemput seorang sahabat perempuan dan membawanya ke sebuah hotel. Ah, jangan berpikir macam-macam ya. Dekan FKIS IKIP Padang menugaskan kami mengikuti tes program pencangkokan kerjasama Indonesia-Belanda. Masa itu di IKIP Padang baru ada program sarjana muda sementara kami tinggal diwisuda. Sangat pas. Leknas LIPI yang merekrut sementara kuliah sarjana di UGM Jogja. Lalu, ceile … dikirim ke Belanda. Apa tidak menggiurkan?
Pendek kisah, tes itu dilalui dengan sangat baik. A. B. Lapian, sangat puas dengan wawancara sekitar dua jam tersebut. Sebagai anak muda, apalagi nilai perkuliahan saya sejak semester satu layak dijadikan referensi, tidak terbetik sedikitpun tidak diterima. Bak judul novel, tinggal menunggu waktu.
Ndilalah, hasilnya terbalik. Yang diterima sahabat dekat, dan … saya tercampak. Sebagai orang yang sangat sensitif kalau (merasa) diperlakukan tidak adil, tentu saja meradang. Dekan FKIS FKIP Padang melemahkan dengan menugaskan kuliah ke IKIP Jogja sebagai kader dosen. Langsung di-Ok dengan satu tekad, mendatangi Taufik Abdullah, ketua tim perekrutan, dan Lapian sebagai tukang wawancara. Peluru yang disiapkan: Kenapa saya tidak lulus?
Sesampai di Betawi, langsung ke Gondangdia Lama, markas Leknas LIPI. Menemui Taufik Abdullah —sejarawan kondang negeri ini, dan tulisannya sangat saya kagumi. Pak Taufik idola saya. Kata pertama saya: Pak, kenapa saya tidak lulus?
Pak Taufik, nampaknya tak hendak memberi keterangan. Kira-kira, body language saya rada-rada kurang sopan kali, he he. Dengan sangat menyentuh beliau meminta saya ke ruang Pak Lapian menanyakan hal-ikhwalnya. Saya bergegas. Penasaran sih, kog bisa-bisanya ngak lulus.
Bukan sombong. Saya ingat apa pertanyaanya dan apa jawaban saya. Sekalipun tidak doyan mencatat, bahkan sampai hari ini, saya hampir tidak pernah membawa pulpen. Pertanyaan dan jawaban sudah dianalisis. Tidak ada yang melenceng.
Pak Alpian membiarkan saya bicara sampai tumpah semuanya. Pertanyaan pokok saya: Kenapa saya tidak lulus?
“Begini. Bukan saudara tidak lulus, bukan soal saudara bodoh atau tidak, bukan tidak mengakui prestasi saudara selama perkuliahan, tapi …”, dia menghela nafas. “Ini soal prioritas. Program ini dirancang menyertakan wanita. Hanya ada dua pelamar wanita dari seluruh Indonesia, dari Jogja dan Padang”.
Pendek kisah, saya diberi surat pengantar, diminta menghadap Pak Sartono Kartodirdjo di UGM sebagai pemegang otoriti proyek. Kalau memungkinkan saudara bisa ikut. Saya tinggalkan Leknas LIPI dengan sedikit kepuasan didenda ‘dendam diri’.
Sesampai di Jogja mendaftar di IKIP Jogja. Bahwa surat Leknas LIPI sekadar basa-basi, sudah diprediksi. Saya menemui Pak Sartono, dan Ibu Yang Aisyah Thalib. Ya itu tadi, tidak mungkin menambah orang. Begini saja kata Yang Aisyah: Saudara kuliah saja di IKP dulu, tahun depan ikut. Sungguh tidak mungkin ada peserta susulan.
Ya, oleh IKIP Jogya, tahun berikutnya, saya satu-satunya orang yang diusulkan. Kelanjutanya yang tidak menyamankan. Entah apa sebabnya, UGM tidak ada kerjasama dengan IKIP.
Sungguh menguncang batin. Sampai-sampai menganggap Allah tidak adil. Hal ini, termasuk mendorong dosa keagamaan. Saya mohon ampun, tobat. Sekalipun, sampai hari ini belum beres sempurna. Semoga Allah mengampuni.
Lalu, mendaftar di Fakulstas Filsafat UGM. Membenamkan diri membaca. Seluruh perpustakaan di Jogja didatangi. Dunia ‘normal’ hanya mengajar di SMA Marsudi Luhur Jogjakarta. Selebihnya, membaca dan atau diskusi dengan teman-teman. Saya tidak mungkin melupakan Amien Rais yang baru pulang dari Amrik. Dia masih pakai sepeda motor Honda butut. Amin luar biasa memotivasi. Kalau Pak Amien tidak ingat saya, itu baru wajar, he he.
Kini, barulah paham arti kegagalan. Kegagalan bermuatan mutiara-mutiara hikmah. Kegagalan adalah sahabat sejati dalam kesuksesan manakala kita mampu memaknainya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 23 Februari 2008.













9 Responses to “Menulis Memaknai Kegagalan”
By mathematicse on Feb 23, 2008 | Reply
Iya betul. Kegagalan bukan berarti gagal sesungguhnya. Kegagalan hanyalah di mata kita. Padahal yang dianggap sebagai kegagalan di mata kita, sesungguhnya itulah keberhasailan yang sudah dirancang oleh Allah swt.
***Bisa jadi, Kang.
By mathematicse on Feb 23, 2008 | Reply
Eh, pertamax yaaaaaa…
Saya juga, pernah mengalami kejadian serupa. Tapi, masih belum berani bercerita, masih malu-malu…
Eh, tadi pertamax yaaaaaaaaaaaaaaa…
***kenapa harus takut, selama itu kejadian ngak pa pa kog he he
By Mega on Feb 23, 2008 | Reply
Kegagalan juga merupakan awal dari keberhasilan seseoarang..asal orang yg pernah gagal itu ga putus asa aja..seperti aku,,sering gagal dalam cinta..akhirnya nemu juga hehehe..cinteee ni yeeeee…
***Pemicu keberhasila …
By sawali tuhusetya on Feb 23, 2008 | Reply
wew…. sabar, pak ersis, sabar, hehehehehe
masih banyak juga loh anak2 bangsa di negeri ini yang berpendidikan jauh di bawah bapak. emang benar, pak, gagal seringkali membuat kita jadi sense, halah. tapi kalo menurut saya, gagal itu sebenarnya ndak ada. hanya sejak mungkin waktu itu pak ersis *halah* yang biasa menaklukkan kaum perempuan, giliran pak ersis yang kudu takluk sama kaum hawa itu, hehehehe
*wew… komennya ngaco lageee. kabuuuuuuur *
***Wuallah bisa-bisa Pak Swali. Perlu dibikin cerpen?
By unai on Feb 23, 2008 | Reply
kegagalan da kekecewaan itu mampu membuat kita menikmati keberhasilan senikmat nikmatnya, bukan begitu pak?
***Nikmat senikmatnya, kekokohan tekad. Amin.
By Zulfaisal Putera on Feb 23, 2008 | Reply
Kegagalan itu obat, keberhasilan itu ujian. Hikmah pasti ada. Pernah gagal justru modal. Bang Ersis sudah menikmati mutiara itu sekarang. Tinggal membutirinya dan memberikan cahayanya bagi ummat.
Sukses, Bang!
Teruslah menulis dengan cerdas dan independen.
Tabik!
***Ya ya ya, Kegagalan itu obat, keberhasilan itu ujian.
By Inas on Feb 24, 2008 | Reply
Menulis tentang kegagalan, menelusuri lika-likunya tentu akan menambah perbendaharaan pengalaman hidup. Konon dalam sebuah lomba karya tulis ilmiah di negara Kincir Angin yang banyak bunga Tulipnya itu, salah seorang pemenangnya terpilih karena ia meneliti tentang kenapa ia gagal dalam tugas akhir kuliah.
By nurul huda on Feb 24, 2008 | Reply
Saya juga pernah gagal dan sangat terpukul dengan kegagalan saya, sampai suatu saat, tidak begitu lama setelah itu akhirnya saya sangat menyadari bahwa kehendak Allah memang lebih luar biasa hikmahnya dibalik kegagalan saya ….sekarang saya malahan sangat Bersyukur bahwa kehendak Allah memang yang terbaik ….
***Bagus, itu penyadaran namanya.
By fafau30 on Mar 10, 2008 | Reply
Kata orang kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda, tapi ada lho orang yang gagal untuk selama-lamanya. nah lho gimana?