Antropologi: Kebudayaan Korupsi
20 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Terlepas dari berbagai debat, nampaknya disepakati secara nasional, satu pengendala pembangunan bangsa saat ini adalah perilaku korupsi. Korupsi bukan saja monopoli aparat pemerintahan, tetapi telah menjadi tindak laku segala lapisan masyarakat. Sampai-sampai dikatakan, korupsi sudah membudaya.
Seorang Kepala Daerah, katakanlah Tuan Korup, tercenung setelah berpikir keras bagaimana caranya memajukan daerahnya. Ternyata, kendala utama bukan pada persoalan dana, tetapi pada sikap, pada budaya. Betapa tidak. Banyak pegawai tidak kompeten, tidak disiplin, tidak bekerja sebagaimana mestinya. Anehnya, … ternyata berfaslitas kehidupan melebihi takaran aparat pemerintahan.Tuan Korup ‘melihat’ dirinya.
Sejak kecil sering ditipu ibunya. Ketika menangis mau ikut ke pasar, ibunya meredam dengan mengajak bermain-main dengan saudara-saudaranya. Ketika asyik bermain, ibunya ke dapur, dan … ke pasar. Di otaknya ‘ditanamkan’ perilaku curang, menipu. Ketika bersekolah, hal-hal serupa dipraktikkan dengan nyamannya; menyontek ketika ujian. Bahkan, ketika mengikuti ujian nasional (UN), justru gurunya yang membocorkan jawaban ujian. Luluslah dia dengan prestasi membanggakan. Tanpa sadar, ya tanpa sadar, memantapkan kebudayaan curang.
Ketika memasuki perguruan tinggi, Tuan Korup memakai joki mensisati soal-soal yang rumit. Ketika kuliah membawakan dosennya ikan telang atau kain sarung menjelang idul fitri. Tuan Korup tidak lupa ketika melamar pekerjaan memberi uang tali asih kepada panitia, dan dalam mendapatkan jabatan tidak alfa menyogok atasan. Kalau sudah demikian, mungkinkah mampu membedakan mana yang halal mana yang haram?
Wajar saja, ketika sekolah-sekolah dibangun, begitu diresmikan roboh; jalan-jalan yang diperbaiki belum sebulan sudah seperti ‘aslinya’; begitu instansinya mendapatkan pegawai baru, sang pegawai tidak piawai bekerja. Tuan Korup terecenung, dan mulailah memperbaiki keadaan dari dirinya.
Artinya, pada dataran pikiran, aktivitas, dan hasil karya telah terkomtanimasi; pola yang terbentuk tidak memungkinkan untuk tidak korup. Sebab, secara individu, masyarakat, dan hasilan karya, tidak sadar lagi bahwa hal tersebut melenceng. Rangkaian kehidupan, baik individu nmaupun masyarakat, terpola begitu mantapnya, masyarakat korupsi. Keseluruhan itulah yang dinamakan kebudayaan. Sajian di atas berupa illustrasi belaka.
Wujud Kebudyaan
Menurut Koentjaraningrat (2002: 186-187) ada tiga wujud kebudayaan:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ativitas serta tidakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Apa yang ditulis Koentjaraningrat tentu tidak terlepas dari apa yang diketengahkan J.J. Honigman, adanya tiga ‘gejala kebudayaan’, yaitu: ideas, activities, dan artifacs. Dalam kalimat lain, ada ide, ada aktivitas sebagai aplikasi dari ide, dan ada hasilnya.
Wujud pertama kebudayaan disebut wujud ideal. Wujud ideal kebudayaan tidak dapat didekati dengan alat indera; dilihat, didengar, dicium, ‘dicicipi’, atau diraba; ada di alam pikiran individu atau alam pikiran masyarakat pendukung kebudayaan; bersifat abstrak. Tetapi, kalau ditulis, dalam arti sebagaimana hal abstrak tersebut ‘ditangkap’, maka ‘tempatnya’ berpindah. Kita mengenal buku atau karya ilmiah ahli-ahli ilmu sosial, bahkan laporan pewarta, yang menjadi ‘lokasi baru’ kebudayaan ideal. Harap dicatat, hal-hal ideal tidak selalu, bahkan jarang sepadan, dengan kondisi obyektif.
Hal-hal ideal, bisa jadi, tidak hanya ada di kepala individu, tetapi menyebar dalam komunitas atau pendukung kebudayaan. Saling berkait dan menjadi suatu sitem, yang disebut sebagai cultural system. Kita bisa mendeteksinya dari adat atau norma yang berlaku di masyarakat pendukung kebudayaan.
Wujud kedua kebudyaan disebut social system. Social system adalah tindakan berpola manusia pendukung kebudayaan. Dalam kehidupannya manusia melakukan aktivitas-aktivitas; berinteraksi, behubungan berdasarkan adat, tata kelakuan. Berbedah dengan wujud ideal, ranah tata sosial dapat diamati, dan atau didokumentasikan.
Wujud ketiga kebudayaan disebut kebudayaan fisik. Kebudayaan fisik sangat konkret dapat dipindai dengan alat indra. Misalnya pulpen yang dipakai sehari-hari, kondom, rumah tempat tinggal, candi Borobudur, atau deodoran, dan sebagainya. Keseluruhan hasil karya manusia masuk kebudayaan fisik. Ranah ketiga wujud kebudayaan begitu konkret sampai-sampai banyak disalahmengerti, pengertian kebudayaan disempitkan menjadi kebudyaan fisik.
Sebagai satu sistem, ketiga wujud kebudyaan saling tekait. Kebudayaan fisik menjelma sebagai hasil aktivitas manusia dimana aktivitas tersebut berupa lanjutan dari pikiran atau gagasan manusia. Begitu juga sebaliknya, kebudayaan fisik atau tata sosial akan mempengaruhi pola pikir dan sebaliknya. Dalam kajian-kajian ilmu sosial kita mengenal istilah mentifact, sociofact, dan artifact.
Kini, tinggal bagaimana kita mengambil manfaat dari kajian antropologi dalam semangat membangun, membangun yang dimulai dari diri; memperbaiki perilaku kehidupan. Bagaimana sebenarnya kita berpikir, bagaimana berbuat, dan bagaimana hasilnya? Hanya masing-masing kita yang tahu. Kalau hal sedemikian sudah ‘duduk soalnya’, mari bicara tentang masyarakat, tentang bangsa ini.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaeu, 20 Februari 2008.













97 Responses to “Antropologi: Kebudayaan Korupsi”
By syaharuddin on Feb 20, 2008 | Reply
aku pertama ui…..wah ulasan EWA luar biasa, menyentuh sampai ke lubuk hati seraya berharap semoga saya tidak termasuk di dalamnya, amin. Sepertinya kita harus memutus rantai korupsi dengan memulainya dari diri sendiri, karena ia sudah membudaya dalam masyarakat.
***Ya ya ‘memutus rantai’. Soalnya, kalau semua adalah rantai, lalu apa yan tertinggal?
By syaharuddin on Feb 20, 2008 | Reply
pertama uiy,….wah tulisan EWA kali ini benar-benar merasuk sampai ke lubuk hati. Aku pun berharap agar tidak termasuk tuan korup. Mungkin salah satu memutus mata rantai korupsi adalah dengan rumus 3M. Yakni mulai saat ini tidak korupsi, memulai dari diri sendiri, dan memulai dari yang kecil-kecil saja, misalnya tidak mengubah kuitansi UUD 45 (ujung-ujungnya Duit, beli 4 ditulis 5)he…he..hee..
By thalib on Feb 20, 2008 | Reply
salam kenal pak, saya temannya pak syaharuddin dari Tembilahan Riau. Yang jelas korupsi itu sama dengan maling. Nilainya lebih baik maling ayam daripada korupsi….
***Sama-sama, yang penting biasakan menulis ya. Staman S2 seperti saya pesankan sama Syaharuddin, bikin beberapa buku. Ya dari makalah-makalah (selama dibuat secara benar) dan dari tesis. Generasi saya mungkin termasuk malas menulis. Semoga dari generasi sampeyan berobah ke arah lebih baik. Hiiik, tidak menulis juga korup euy.
By alfaroby on Feb 20, 2008 | Reply
memang tidak dapat dipungkiri lagi… jjur saja… saya sendiri… contohnya ingin memperoleh SIM C atau SIM A… dari saya memarkir sepeda sampai dengan masuk ruang kantor urusan SIM…. ada sekitar 20 orang yang menawarkan biro jasa “supercepat”.. dari mulai tukang parkir… penjual bakso di area seitar.. sampai dengan saya akan masuk ke kantor di cegat oleh seseorang dan menawarkan dengan harga 20.000 lebih mahal daripada harga biasa… bahkan bukan menjadi pemandangan yang langka jika beberapa oknum polisi juga berbuat hak yang sama seperti calo calo di luar…
apakah sudah sedemikian hebatnyakah para “orang lama” yang telah mengajarkan kepada kita budaya yang “super cepat” atau “jalan pintas” atau bisa juga “uag adalah segalanya”….?
***Ya, kita sudah terkurung. Mari jangan layani calo model apa pun.
By sawali tuhusetya on Feb 20, 2008 | Reply
J.J. Honigman? Yap, pendapatnya juga saya gunakan sbg rujukan utk mostung tulisan http://sawali.info/2008/02/10/perceraian-antara-budaya-dan-pendidikan-tanya-kenapa/ pak ersis. perspektifnya cukup luas. korupsi pun yang dianggap telah menggurita di negeri ini pun bisa menggunakan pendakatan model JJ honigman di mana aktivitas manusia pada “zaman edan” ini demikian mudah terseret arus hedonisme sehingga cenderung menggunakan cara2 ala machiavelli yang menghalalkan segala cara. Mudah2an di negeri ini tidak lahir lagi Tuan-Tuan Korup yang demikian gampang menggunakan uang sebagai “tuhan” dalam mewujudkan impian2 hidupnya. *halah*
By eNPe on Feb 20, 2008 | Reply
mantapz tulisan abah <b>dalem</b> banget.
ngomongin korupsi repot lah, gak ada habisnya
***Maksih … ih jadi malu (malu tapi senang dipuji anak he he)
By edratna on Feb 20, 2008 | Reply
Memang sulit ya budaya yang sudah mengakar kuat, jika ingin diubah. Karena masyarakat Indonesia pada umumnya patriarchal, sebaiknya dimulai dari pimpinan…bisa juga pimpinan unit kecil. Entah sejak kapan ada budaya menyontek, atau saya yang bego, karena sampai SMA saya tak kenal dan tak melihat teman-temanku menyontek. Ini ada kemungkinana karena saya duduk paling depan.
Pas masuk PTN, saya ujian pas dapat tempat dibelakang, rasanya sedih sekali melihat teman-teman saling menyontek…dan saya tak bisa berbuat apa2, dan kawatir kalau nilaiku jelek…ternyata justru jawabanku yang benar. Entahlah, saya tak bisa menyontek, karena udah gemetaran dulu, jadi saya pilih di bangku terdepan jika ujian. Dan anakku juga mengalami yang sama…rasanya puas hasil kerja sendiri walau nilainya biasa.
Suami dan saya sepakat untuk melanjutkan tradisi ini…cari SIM juga harus mengikuti prosedur, begitu juga saat membuat KTP, paspor dsb nya. Sayangnya orang lain begitu bangga jika bisa menyelesaikan dengan cara nembak….
***Ya itulah mBak. Pada tataran mana[un kita dijerat pratik haram tersebut. Yang paling membuat hati pilu, dunia pendidikan juga dah dirambah sikap korup … kita hraus berusaha menghentikan dimulai dari lingkungan sendiri. Saya bebas murni korupis? Kiranya ngak juag, sebab kadang ada tugas terabai. Minimal kita berusaha. Makasih atensinya.
By dwi setiowati (A1A105027) on Feb 20, 2008 | Reply
membicarakan tentang korupsi tidak akan ada habisnya, dalam kehidupan siapa pun, sengaja atau tidak sengaja orang pasti pernah terlibat dalam korupsi, walaupun kecil-kecilan. tidak terkecuali saya sendiri, untuk memperoleh SIM, saya juga menggunakan jalan belakang (jalan pintas) dengan cara mendatangi bagian pengurus SIM di kantor polisi dan dengan membayar uang lebih, saya sudah bisa mendapatkan SIM tanpa melalui tes. bahkan saya pun berbohong tentang umur saya yang sebenarnya belum dapat memperoleh SIM. seperti yang telah disebutkan di atas, menurut Koentjaraningrat (2000:186-187): wujud kebuyaan yang pertama 1) ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan dan sebagainya. 2)aktivitas serta tidakan berpola dari manusia dalam masyarakat. 3) benda-benda hasil karya manusia. mengikuti wujud kebudayaan yang pertama yang berupa ide-ide atau gagasan, tindakan korupsi juga tercipta dari ide-ide atau gagasan manusia yang menjalankan pola hidup serba praktis dan konsumtif. dengan banyak tindakan korupsi yang tidak tercium atau bahkan terkuak oleh masyarakat menyebabkan aktifitas korupsi menjadi budaya bagi manusia yang menganut pola hidup serba praktis dan konsumtif. seperti yang kita ketahui manusia yang hidup serba praktis dan konsumtif, tidak suka membuang waktu, tenaga, bahkan uang mereka hanya untuk mengerjakan hal-hal yang menurut mereka sangat sepele dan dapat diselesaikan dengan cara membayar uang lebih. dan hasil karya dari ide-ide negatif ini (hidup serba praktis, konsumtif dan korupsi)adalah generasi-generasi muda yang lemah dalam mental untuk menghadapi masalah dan terutama moral. untuk mengatasi ini semua yang terbaik adalah berusaha untuk memperbaiki diri sendiri, berusaha untuk jujur pada diri sendiri, menghargai hasil karya sendiri dan juga menyelesaikan dengan lebih rasional dan akal sehat dan berusaha mencapai satu tujuan dengan jalan yang baik.
By juwita sari A1A106016 on Feb 20, 2008 | Reply
Assalamualaikum………
Tulisan bapak sangat bagus,semoga bapak mau membagi tips bagaimana memotivasi diri agar semangat menulis dan bagaimana cara menulis yang baik dan benar………..
menurut saya memang benar kalau korupsi itu tidak bisa lepas dari kehidupan manusia dan sangat sulit untuk “membasmi” nya dari muka bumi ini……,
seperti kata bapak bahwa sejak kecil kita sudah ditanamkan bibit korupsi…,
di rumah sering ngebohongin ortu bilang bayar ini itu padahal ngak ada,di sekolah kita terbiasa menyontek,di kuliah kita terbiasa “menitip” absen,di kehidupan di luar kita sering beli tiket di calo,bikin SIM pakai calo dan nambah biaya dikit biar cepat selesai,masuk kerja jd PNS sampai mau jadi guru banyak orang yang memberi “uang pelicin”, …dulu saya ngak tahu pak kalau hal-hal diatas termasuk korupsi,soalnya di “sah”kan saja dan dianggap sebagai dosa kecil he…,ternyata setelah membaca tulisan bapak saya tahu bahwa yang saya anggap sebagai dosa kecil tadi adalah dosa besar karena salah satu bagian dari tindak korupsi..kalau kayak gini gimana korupsi bisa hilang,judul tulisan bapak kebudayaan korupsi sangat pas untuk menggambarkan keadaan ini.
By M.AGUSTIANNUR (A1A105032) on Feb 20, 2008 | Reply
Korupsi dan hadiah adalah dua kata yang berbeda baik dari segi etimologi maupun cara pandang kita mengartikan dua kata tersebut. Dilihat dari cerita tentang Tuan Korup saat masih anak - anak dimana ibunya tidak ingin Tuan Korup ikut kepasar memang terlihat didikan ibunya adalah menipu dan mencurangi anaknya tapi kita juga perlu mendengarkan alasan sang ibu untuk tidak mengajak Tuan Korup, bisa saja sang ibu mengajarkan bahwa seorang lelaki tidak harus pergi kepasar, tugas lelaki adalah mencari uang untuk sang perempuan berbelanja kepasar! Memang ini tidak bisa dijadikan dalih untuk membenarkan kecurangan dan penipuan sang ibu tapi intinya jangan keburu untuk mengabil pendapat bahwa itu salah dan ini benar sama halnya seperti cerita selanjutnya dimana Tuan Korup memberikan ikan telang dan kain sarung pada saat lebaran, bisa saja niat dari Tuan Korup adalah menyenangkan hati dosen dengan memberikan hadiah tergantung bagaimana sang dosen menganggap hadiah tersebut. Apakah ini salah? menyenangkan hati seseorang hingga seseorang itu senang pada kita! Jadi menurut saya antara korupsi dan hadiah adalah hal yang sangat tipis batasnya tergantung niat dari yang memberi hadiah dan bagaimana sang penerima dalam menyikapi pemberian dari seseorang. Bukankan senang andaikata memberi dan mendapatkan hadiah menjadi suatu kebuadayaan masyarakat sebagai bentuk penghargaan atas apa yang dicapai tanpa muncul kecurigaan bahwa apa yang kita lakukan itu adalah kecurangan, manipulasi serta korupsi…
By Tria Sakkti Lianti (A1A105004) on Feb 20, 2008 | Reply
Korupsi di era serba praktis sekarang ini sudah menjadi budaya yang mendarah daging di hampir seluruh kalangan masyarakat Indonesia. dalam kepraktis-an itulah, memberikan peluang besar masuknya “Virus korup” dalam jiwa masyarakat. bukan hanya masalah uang saja yang dapat di korupsi, waktu pun dapat dengan mudah bisa dikorupsi apalagi para petinggi ataupun pejabat pemerintah yang seharusnya menjadi wadah dari segala aspirasi rakyatnya malah menyalah gunakan wewenang yang telah di percayakan kepada mereka. hal ini sudah tentu menjadi rahasia umum, siapa sih yang tidak ingin punya uang yang menggelembung di dompet tanpa kerja keras? itu semua dapat diperoleh melalui bekal tampuk kekuasaan mereka, maka pundi-pundi kekayaan yang berasal dari “uangnya rakyat” bisa datang melimpah pada mereka dengan jalan yang tidak halal. di Negara tercinta kita ini, korupsi telah menjadi suatu budaya yang tidak dapat dipisahkan dengan namanya KEKUASAAN.
korupsi juga disebabkan karena individu masyarakat itu sendiri tidak pernah puas akan apa yang telah ia peroleh. hal ini dikarenan mental orang indonesia belum di perbaiki. Mulai dari atasan sampai bawahan hanya mau memikirkan diri mereka sendiri dan bagaimana caranya mendapatkan lebih dari apa yang telah mereka miliki. padahal pemerintah telah membentuk suatu badan pemberantasan korupsi tapi itu tidak memberikan kontribusi besar dalam “pemutusan hubungan” masyarakat serta pejabat kita dengan yang namanya budaya korupsi itu tadi karena korupsi sudah dianggap bagian dari hidup masyarakat indonesia. salah satu sebab gagalnya pemberantasan korupsi adalah kurangnya fungsi pengawasan sesama masyarakat akibat ketidakpedulian sosial.
menurut saya, masalah korupsi di negri ini dapat dikurangi melalui kerjasama institusi dalam operasionalnya manjalankan suatu sistem dengan jujur dan mempunyai niat yang tulus agar mampu melepaskan diri dari “penyakit korupsi” sekecil apapun itu. semoga diri kita terlepas dari praktek-praktek korup yang telah mewabah di negeri ini. marilah kita tingkatkan IMTAK kita agar lebih mudah memerangi korup dimulai dari diri kita sendiri. MARI KITA BERANTAS KORUPSI DAN TINGKATKAN KEPEDULIAN SOSIAL!!!!!!!!!!!!!
HIDUP MAHASISWA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
By irma A1A106049 on Feb 20, 2008 | Reply
Assalamualaikum….
saya baru pertama kali ini masuk kewebsite bapak.Ternyata….banyak hal yang saya temui disini.Saya jadi banyak belajar nich….
saya tertarik dengan tulisan bapak mengenai kebudayaan korupsi.Menurut saya,korupsi sekarang udah mendunia bahkan sudah jadi kebudayaan,seperti pada tulisan bapak.Terkadang kita tidak menyadari bahwa curang merupakan bibit dari timbulnnya korupsi.Zaman sekarang orang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya,korupsi pun dijadikan salah satu alternatif untuk mewujudkannya….
Sekarang tergantung pada setiap individu bagaimana caranya agar tidak ikut-ikutan menjadi “tuan korup”.Insyaallah,dengan iman yang kuat dan berbekal ajaran agama,kita bisa menghindarinya.iyakan pak…….
Wassalamualaikum…..
By diah eka rini (A1A105011) on Feb 20, 2008 | Reply
Indonesia selain kebaya dan batik korupsi juga menjadi ciri khas bangsa kita yang di kenal orang seantero dunia. bahkan korupsi sudah mendarah daging dan bercampur darah sebagian besar penduduk indonesia. saking biasanya korupsi uang negara sudah di anggap uang sendiri. tapi apa daya hukum di negara kita tidak bernyali untuk menghukum mati para koruptor. mungkin alasanya begini:
Hakim:”kalo para koruptor saya hukum mati nanti bisa fatal akibatnya..!
rakyat:”lho kenapa pa’hakim ko bisa fatal
hakim:”ya iya lah soalny klo saya hukum mati kira2 tinggal separo
penduduk indonesia kaleee
rakyat:”waduh jadi sebanyak itu ya pa.lalu yang separonya gimana pa..?
hakim:”yang separonya kan ga ketangkep gimana mau di eksekusi..
lagian klo hukuman mati bangsa kita mungkin akan banyak
kehilangan pemimpin dan orang2 besar ..ya…. lu tau sendiri lah
makanya hukumannya sama dengan copet ato maling sendal biar
negara kita ga terlalu merasa kehilangan…he he…
rakyat:”oo githu ya pa ya udah lah asal bapa senang aja
nah kira2 begitu alasannya …………..
By Mega on Feb 20, 2008 | Reply
Ughh…aku hampir tiap hari ngebahas korupsi dinegara Indonesia ma hubby..malah doi yg lebih tahu koropsi2 diIndonesia..ichh..malu-maluin aja..
***He he nasib bangsaku …
By alpi on Feb 20, 2008 | Reply
cieee banyak banget nehh yang koment berlabel A1A1….,Waaah Mr Ewa dah banyak penggemar neh..(Tapi bukan karena Mr Ewa Dosennya kaann???.
Btw bos., paling ngga Indonesia kan jadi salah satu negara yang terkenal akibat korupsinya hehehe (boleh bangga ga yaa)
Pak, memang sih kalo kita bahas masalah ini bak lingkaran setan,. kita sadar tapi belum insyaf. saya coba soroti di dunia kampus misalnya,., yaah banyak sekalee dosen yang ngasih soal yang sifatnya pertanyaan2 teori yang jawabannya bisa langsung di copy paste lewat kerpeannya mahasiswa, kenapa tidak dalam bikin soal pertanyaannya kepada hal2 yang sifatnya interpetatif sehingga mahasiswa di beri kesempatan buat meng eksplor maupun mengeksploit ranah berfikirnya dalam menjabarkan suatu teori,. bukankah itu lebih asik dan mempersempit ruang contek-mencontek.yaah paling ngga salah satu benih embrio kecurangan udah di gagalin., karena waktu kuliah saya termasuk orang yang malas segalanya,. yaa membaca apalagi harus bikin kerpean sepanjang 1Meter. n kawan2 pasti malas nyontek kesaya karena bukan hanya saya ga terlalu pinter saja, tapi jawaban saya yang kesana kemari berkelana yang membuat kawan2 males nyontek akibat harus bisa2 nyuri waktu ditengah ketatnya pengawasan dosen.. tapi kalo kita liat dari mentifact bahkan sociofact yang kemudian di kongkritkan dalam artifact saya pikir sangat wajar korupsi itu peranak pinak wong budaya kita terbiasa dengan sesajen,piduduk,persembahan yang sering teraktualisassi dalam bentuk upacara adat., jangan kan manusia,. Tuhan ma setan aj di sogok hehehe bagaimana menurut bapa??
***Ya ya maaf … semua yang berkode itu mahasiswa saya, pengambil MK Antropologi. Saya sampai ngak mau ngasih ujian di kelas, take home leboh dipilih, mahasiswa bebas mengembangkan daya pikirnya. Dasar … koruptor dari sononya, ada aja yang copy paste … tap kini semakin jarang tu.
By gempur on Feb 20, 2008 | Reply
Ehhhmmm.. sepertinya saya korupsi banyak pak ersis.. gimana nih tobatnya? banyak sekali kesalahan dan perilaku saya yang mengarah ke korupsi bahkan sering dipaksa oleh sistem untuk korup.. lah susah banget pak?! doakan tobat saya diterima pak! hiks!
***Amin. Ya kita sama-sama tobat. Saya pikir kalau sistem yang menjerat dosanya lebih ringan he he … Tapi, kalau jujur kan dapat pahala tu, soalnya sadar, dan taubat. Tapi, yang paling parah kan mengorupsi diri sendiri. Semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian.
By Haryani A1A105015 on Feb 20, 2008 | Reply
yup!keren juga tulisannya.
oke lah saya juga bisa memahami kondisi yang ada,yang seakan-akan emang udah terpola sejak zaman “bahula”,dari zaman alif ampe zaman yaa.Menurut pemikiran praktis saya kebiasaan semacam itu(cz terlalu agung klo disebut budaya)lahir dari sebuah tekanan/keadaan kapitalis sekuler busuk yang memang bisa mendorong makhluk yang mempunyai nepsong bisa bertindak nekat,_ex:korupsi_demi memenuhi keinginannya yang memang tidak akan pernah habis.manusia yang memang punya naluri liar itu dalam kesekulerannya jelas mereka ga ngerti “ampun” pada Tuhannya,ya udah, kebiasaan tersebut seperti dinina bobokan.Selain itu juga didukung dengan sistem yang carut marut n ga tau “aturan”, ya jelaslah…….klop sudah penyakit bangsa ini.
By Linda Araini A1A106008 on Feb 20, 2008 | Reply
Menurut saya tulisan Bapa mengena pada sasaran.Realitanya di masyarakat memang korupsi sudah membudaya, dari anak kecil sampai orang dewasa. Sulit memang untuk membasmi
korupsi karena masyarakat kita kurang ” KESADARAN ” , selalu terbiasa dengan hal - hal yang serba praktis dan enak maka menghalalkan segala cara. Untuk menindak oknum yang melakukan korupsi apalagi jika menyangkut “pihak - pihak tertentu” sepertinya sulit dan memakan jangka waktu yang lama untuk membuktikan korupsi yang mereka lakukan, karena terdapat intrik - intrik dalam penyelesaian hukumnya.selain itu oknum yang mesti ditindak malah tidak di tindak dan yang harusnya ditindak malah dibiarkan begitu saja.
Contohnya saja, saya baru melihat salah satu tayangan berita. Disitu ditayangkan seorang anggota DPRD Bontang yang malah dengan sukarela menyerahkan diri untuk ditindak berkaitan dengan kasus korupsi, namun anehnya malah tidak ditindak juga. Akhirnya sebagai wujud protesnya, dia mengadakan demo di Bundaran HI sambil memperlihatkan Serabi sebagai simbol bahwa manusia akan kembali ke asalnya, dan jeruk kalo tidak salah sebagai simbol Ketuhanan.
Moga aja di tahun berikutnya, masyarakat kita ini benar - benar sadar bahwa korupsi itu tidak patut dilakukan, sehingga tidak perlu menghabiskan uang orang banyak untuk kenikmatan sendiri.
By Novi.D (A1A105045) on Feb 20, 2008 | Reply
KORUPSI, membicarakan hal yang satu ini memang gak ada matinye…, yang ini bukan saja membudaya tetapi sudah mendarah daging. entah siapa yang harus disalahkan,kalo tiap orang ditanya tentang setuju or tidak dengan perbuatan tercela yang satu ini, pastinya ga da 1 orang pun yang sepakat melakukannya (kalo yang ditanya masih punya hati seeh..) tapi anehnya manusia2 yang ngelakuin perbuatan ini justru lebih senang dengan cara berjamaah (istilah berjamaah ga hanya ada dalam ibadah sholat lho… Korupsi Juga). Qeq…qeq..
bisa dikatakan hampir seluruh urusan di negeri ini akan sulit jika tanpa uang pelicin, mungkin dari biaya melahirkan seorang anak manusia, bikin akte kelahiran, masuk TK, SD, SMP,SMU,bangku kuliah… dst ampe manusia tersebut berhasil lebih2 menduduki jabatan tertentu dipemerintahan, perbuatan korupsi bahkan udah jadi kebiasaan. (Na’uzuBILLAHIMINDZALIK…)
tekad berbagai kalangan, termasuk pemerintah untuk memberantas korupsi sepertinya tidak mengurangi kecepatan laju korupsi. Korupsi di Negeri ini justru kian menggurita.
kasus KORUPSI yang paling HOT yang saya ketahui yang tentang Skandal BLBI,Skandal ini ga tanggung2 telah menyebabkan kerugian negara dalam jumlah yang sangat besar, Lo ga salah denger ampe ratusan Triliun (Waduh!!! seberapa duit tuh!!!) En pastinya beban utang yang harus ditanggung oleh negara akibat skandal ini pun lebih dari 1000 Triliun.
Ironisnya lagi neh..masyarakat tuh ga banyak yang tau tentang hal yang ginian padahal hal2 ini jelas2 sangat merugikan.
entah sampai kapan kita mau dibodohi dizholimi ama penguasa2.
Last… ( coz Udah Malem)
sudah sepatutnya disadari oleh semua manusia di dunia khususnya di Indonesia Khususnya lagi diBanjarmasin. bahwa kita Kudu cari Solusi yang betul2 bisa memberantas KORUPSI ini. yaitu kita harus betul2 menegakkan hukum serta aturan2 (Bukan yang dibikin oleh Manusia) tetapi aturan2 or hukum2 yang dibikin oleh yang MAHA PENGATUR.
So… Lets Back To ATURANNYA ALLAH SWT.
WALLAHU’ALAM BISHOWAB..
By toni februari ( A1A105038 ) on Feb 20, 2008 | Reply
Konsep yang pertama saya tangkap dari tulisan bapak adalah berpikir..dari sinilah kita memulai segala aktivitas yang akan dilakukan..kebudayaan memang adalah hasil dari pemikiran manusia..namun semuanya tergantung dari individu itu sendiri.bagaimana kita memulai dan menjalankan pikiran kita untuk melakukan sesuatu dan bagaimana hasilnya itu tergantung dari diri kita sendiri yang merangkai pikiran dari start sampe finishnya..jika pikiran kita negatif maka yang dihasilkan adalah kebudayaan negatif begitu juga sebaliknya..
By Bibidapi on Feb 20, 2008 | Reply
Apa yang ada di Indonesia tapi gak ada di luar Indonesia???…. ya Korupsi. hehe bagaimana menurut sampeyan?
***Ngaklah … Amerika Serikat atau jepang itu biang korupsi juga. gede-gedean lagi. Ciuman … kita menanganinya ngak cerdas.
By Edya on Feb 21, 2008 | Reply
Korupsi mending sadar diri aja.
yang korupsi mudahan cepat sadar amin 1…..to…..n
SEKEDAR INFORMASI :
Mas sekarang ada lagi frame work buat website yang berbasis PHP selain word press namanya frame work nya DRUPAL pasti lebih OK..!!!!
informasi di http://www.drupal.org atau http://www.drupal-id.com
THANKS
By alex on Feb 21, 2008 | Reply
By alex on Feb 21, 2008 | Reply
document.writeln(”selamat datang”); var Nama = prompt(”selamat”);
By ahim on Feb 21, 2008 | Reply
tes
By olangbiaca on Feb 21, 2008 | Reply
Asl…..begitulah bangsa ini, budaya Korupsi udah ditanamkan sejak zaman ORBA selama 32 tahun, sudah mendarahdaging…..kita juga lahir pada zaman ini, tapi mudah2an kita nggak ketularan korupsinya ya pak..
ada kejadian lucu didaerah saya, yakni ketika ada acara Muhasabah penyambutan tahun baru ISLAM, ketika itu sang Ustadz berceramah ttg budaya korupsi d beliau meng-ilustrasikan seseorang yg memangku sebuah jabatan publik…nah ketika itu Sang Bupati bilang ama panitia, tolong di rubah tema ceramahnya, namun sang Ustadz tidak bergeming malahan menjadi2….nggak tahan degan materi ceramah sang Ustadz, Bupati langsung berdiri, sambil berkata:
“Bukan saya saja yang korupsi namun semua orang di negeri ini pada korupsi”
sambil dia berlalu dari hadapan ribuan jama’ah.
Opini yg berkembang di masyarakat sang Ustadz-lah yg jadi tersalah, Sang Bupati adalah sang Pahlawan.
Betapa miris hati ketika itu, namun apa boleh buat, benar kata bapak Korupsi itu sudah membudaya. Na’uzubillah.
banyak hikmah yg dapat diambil dari kejadian itu.
By nurul huda on Feb 21, 2008 | Reply
korupsi sudah menjadi budaya…saya setuju pa ! disadari atau tidak, kadang kita dikondisikan untuk ikut korupsi ….yach … tidak hanya korupsi uang lho pa… sebagai guru saya juga pernah korupsi waktu … he..he..he..
By muridbodoh on Feb 21, 2008 | Reply
catatan kritis: kebudayaan itu kata benda, sedangkan korupsi adalah kata kerja. kalau menulis yang lazim sesuai kaidah bahasa indonesia yang benar, mestinya “budaya korupsi”, bukan “kebudayaan korupsi” pak dosen.
“Sampai-sampai dikatakan, korupsi sudah membudaya” : nah ini baru bener…
wah komentar saya dicoret ya…
**He he he
By Togar Silaban on Feb 21, 2008 | Reply
Korupsi di Indonesia…??
Ibarat perampok teriak maling ayam, bukan cuma sekedar maling teriak maling lagi.
Saya perhatikan di negara-negara maju, ada kejadian korupsi di berbagai lapisan dan tetap ada dari dulu sampai sekarang. Tapi mereka tidak menggurita. Dampaknya juga tidak seberapa, dan mereka bisa menyelesaikan.
Di Indonesia, seperti kata pak Ersis, sudah dimulai dirumah, sejak kita masih kecil. Menyelesaikannya, sepertinya juga harus dimulai di rumah dan sejak kecil seperti contoh Mbak Endratna.
***Ya ya sangat setuju.
By indra kh on Feb 21, 2008 | Reply
Kondisi yang memprihatinkan adalah orang-orang yang tidak berani korupsi saat ini justru dianggap sebagai orang “aneh.” Mereka dianggap sebagai orang yang tidak bisa masuk sistem atau bahkan mempersulit sistem, meskipun dari sisi kapabilitas mereka cukup mumpuni dibanding orang yang masuk ke jaringan para koruptor.
By ulan on Feb 21, 2008 | Reply
tapi apa kita sendiri udah bebas dari korupsi?? dalam bentuk seluas-luas nya atau sesempit-sempit nya??
By AM. Hamsin Fitriyadi on Feb 21, 2008 | Reply
Perbuatan korupsi merupakan perbuatan yang sangat merugikan pada umumnya. Memang benar tindakan korupsi dapat mempermudah segala urusan bagi salah satu pihak tapi kita harus sadar apa dampak negatif dari perbuatan tersebut. Indonesia kalau bisa dibilang saat ini, perbuatan korupsi sudah tradisi mewarnai dalam lapisan masyarakat.Dalam fenomena saat ini banyak dampak negatif dari perbuatan ini yang bisa kita lihat.
Dengan mempelajari mata kuliah Antropologi diharapkan dapat mengurangi perbuatan ini. Hal ini dapat kita ambil pelajarannya dimana manusia hidup ingin melakukan tindakan yang ingin diharapkan, sebelumnya harus berpikir
apakah perbuatan ini bagus atau tidak.
Dengan demikian dari pendapat koentjaraningrat: pemikiran, tindakan dan hasil karya kebudayaan, diharapkan dapat merubah tindakan korupsi demi kebaikan bangsa kita dan membangun kepribadian yang bagus sejak dini.
By Abdul Rahman S on Feb 21, 2008 | Reply
perbuatan korupsi merupakan sangat merugikan dalam masyarakat pada umumnya. tapi kita harus menyadari bagaimana dampak dari semua perbuatan tersebut. Dengan adanya pendapat koentjaraningrat saya sangat setuju. Kalau bisa dibilang mau melakukan sesuatu harus pikir dulu dong mas masak-masak. Sebab penyesalan itu datangnya belakangan, liat aja indonesia sekatang bagaimana keadaanya tidak karuan, banyak utang lagi.Dengan demikian hasil dari perbuatan korupsi ini tidaklah baik malah merugikan bangsa indonesia, bukannya untuk memajukan tapi malah mengalami keterpurukan dibandingkan dengan bangsa lain.
By Kurt on Feb 21, 2008 | Reply
ideas, activities, dan artifacs. …..
di tiga wilayah inikah korupsi berkecamuk?
ada lagi teori: Kejahatan disebabkan bukan saja oleh pelaku tapi karena ada kesempatan…
karenanya, menurut saya koruptor tetap bisa jadi pejabat, maling tetap bisa menjadi penjaga toko tapi system dan manajemen yang akurat, akan meminimalisir si maling dan si koruptor…
bagaimana bos?
***Ya, meminimalisir …
By ogi fajar nuzuli on Feb 21, 2008 | Reply
Susah kalau dipikirkan dari mana kita harus mulai memberatas korups, yang telah membudaya ini, NAMUN ITU HARUS DILAKUKAN JIKA KITA INGGIN MENJADI BANGSA YANG LEBIH BAIK KEADAANNYA DARI HARI INI….
***Setuju Pak.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 22, 2008 | Reply
LAWAN dari segala penjuru.. Mulai dari diri sendiri, lalu lingkaran terkecil dan seterusnya. Bangkitlah Negeriku, Harapan itu masih ada. Allahu Akbar3X…
By unai on Feb 23, 2008 | Reply
aduh yang komen banyak amat yak…hebat hebat pulak..saya jadi tukang baca ajalah
By dinna barada on Feb 23, 2008 | Reply
ya mau bagaimana lagi, budaya korupsi sudah berkembang biak di negeri kita tercinta ini, yang saya tau sejak datangnya VOC, dan ketahuan ketika bubarnya VOC karena bangkrut banyak yang korupsi. tidak mustahil, bisa jadi waktu jaman kerajaan sudah banyak raja, patih, ataupun pengawal kerajaan, yang melakukan korupsi upeti dan sebagainya. sekarang korupsi beranakpinak di berbagai segi, baik ekonomi, niru budaya orang lain, di keluarga, bahkan di kampus dan sekolahpun banyak dosen dan guru korupsi waktu… jalan satu-satunya untuk memberantas hal ini tidak lain adalah kesadaran orang-orang indonesia untuk mengubahnya tidak korupsi lagi. ya intinya, keadaan itu tidak berubah, kecuali orang itu sendiri yang merubahnya.
By Lauda Ima on Feb 23, 2008 | Reply
bicara tentang korupsi, tidak akan pernah ada habisnya, karena menurut pendapat saya, korupsi adalah sebuah tindakan yang didasarkan pada keinginan seseorang untuk dapat mencapai tujuan, tidak peduli jalan yang ia lakukan itu salah atau benar, atau malah merugikan banyak pihak. di kehidupan nyata kita sekarang hal itu merupakan hal yang lumrah yang tidak akan bisa dihapuskan begitu saja, seperti menghapus tulisan di papan tulis.
By Riduan Saidi on Feb 24, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum….. EWA
Mudahan saja tulisan saya tambah bagus dari yang pertama. Kalau melihat dari ilutrasi EWA tentang tiga wujud kebudayaan yaitu ideas, activities, dan artifacs. Yang EWA gambarkan dalam bentuk kebudayaan korupsi. Bahwa kebudayaan itu sudah ditanamkan sejak kita masih minum ASI. Lalu setelah besar, kita bawa pada kegiatan yang dilakukan sehari-hari. Setelah menjadi manusia, akan terus terbawa pada hasil yang kita capai. Terlepas apakah budaya itu baik atau buruk bagi kita.
Kebudayaan adalah warisan sosial dari anggota-anggota masyarakat. Kebudayaan memang hal sulit untuk diubah. Apalagi telah menjadi milik sekelompok orang. Kita sulit mengubahnya, karena kebudayaan tersebut sudah mengakar pada pikiran orang-orang ini. Saya salut pada orang yang bisa mengubah suatu kebudayaan kurang baik menjadi baik. Kebudayaan yang baik bagi sekelompok orang belum tentu baik bagi kita.
Menurut saya pribadi, mungkin ada yang setuju maupun tidak. Hampir sebagian mahasiswa, memiliki kebudayaan tidak baik seperti membuat krepian dan nitip absen. Mungkin ini adalah warisan dari kakak senior mereka. Ini sangat tidak layak dilakukan, para mahasiswa sering menyuarakan hapus korupsi, berantas korupsi, adili koruptor, dll. Padahal ia sendiri secara tidak sadar telah korupsi absen. Maaf saja buat yang merasa.
Setelah mereka menjadi sarjana, lalu mereka menjabat sebagai kepala-kepala bagian, staf, maupun biasa saja. Kebudayaan ini terus dan terus terbawa. Bisa kita lihat pada sebuah acara tv, bagaimana para bapak dan ibu pegawai negeri yang keluyuran pada jam kerja. Isi absen pagi, lalu pergi entah kemana. Gampang-gampang susah buat mengubah kebudayaan yang tidak baik, mulailah dari kita sendiri. Oke….
reduanebarkaoi@yahoo.co.id
By budimeeong on Feb 25, 2008 | Reply
budaya adalah segala sesuatu yang dibuat dan dilakukan manusia. jd jgn heran kalau korupsi itu dinamakan budaya. akan tetapi budaya di ikat oleh aturan. korupsi juga punya aturan lo pa..hehe
aturanya adalah harus memberi “keuntungan” haram bagi si korup. tanpa keuntungan, bagaimana pun bentuknya, orang tidak akan mungkin korupsi. dikalangan masyarakat awam, korupsi identik dengan uang, padalah masih banyak lagi embel-embel yang ditawarkan.
“maaf” bahkan dikalangan civitas dan dosen(oknum) pun masih enak tidur dengan “kasur” korupsinya. saya heran mengapa oknum dosen masih senang makan “ikan telang” berlabel korupsi. konon semakin cerdas dan pandai seseorang, maka semakin hebat juga korupsinya. apa benar begitu pa ersi……?
***Kira-kira.
By Akhmad fauji on Feb 26, 2008 | Reply
Suatu wujud kebudayaan itu memang bermula dari ide-ide atau pikiran-pikiran seseorang,yang kemudian diwujudkan nya dalam bentuk aktifitas/kegiatan,dan ada akhirnya terciptalah suatu benda.KAlau koropsi dikatakan sebagai suatu budaya saya tidak sependapat pa.Karna koropsi itu tidak menghasilkan suatu wujud benda,koropsi itu hanya merupakan sutu sifat saja yg mulanya dari pemikiran2 yg kotor dan diwujud kan dlm bentuk aktifitas namun tidak meng hasilkan suatu benda.
kalo bicara koropsi menurut saya tidak semata2 menyalah kan orang yg koropsi tersebut,karna bisa saja dia melakukan koropsi itu karna harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhannya yang memang tidak bisa dia lakukan tanpa koropsi.Atai dengan kata lain sekedar menyambung hidup.Karna seperti kita ketahui dijaman sekarang ini yg serba sulit dan susah,jd wajar saja untuk memenuhi kebutuhan itu dengan melakukan segala cara,toh hampir semia orang sekarang ini melakukan kecurangan2 dusegala biang baik politik,sosial,ekonomi,bah kan dunia pendidikan.
Jada pada intinya semiunya itu tergantung pada ZEDGEST nya(jiwa jaman nya),toh jiwa jaman sekarang kita ini sangat susah,coba bangsa kita tidak mrngalami krisis pasti ga bakalan banyak orang yg koropsi,toh kehidupannya terpenuhi saja.Tapa saya yang tidak sependapat kalau koropsi itu diterapkan juga di dunia pendidikan.sekarang ini para dosennya saja banyak yang main tusuk dari belakang,dan mengajarkan/memberitahukan pada muridnya keburukan2 dosen lain,dan mengatakan beginin,begitu yang benar.Pada akhirny sang murid jadi bingung siapa yang harus ditiru dan dicontoh.
Parahnya hasil dari semua itu banyak murit yang jadi PENJILAT di hadapan dosen.Dihadapan dosen yg satu sependapat,ke dosen yg lain juga sapendapat yang pentung katanya NILAI BAGUS.apa benar toh nilai bagus dlm pendidikan melalui hasil MENJILAT????????????????
By Handari Y Alchosih on Feb 26, 2008 | Reply
Handari Yektiwi Alchosih
Untuk Ibu dan Bapak ku
Ibu, ma’afkan anakmu ini
Yang hanya mengingatmu saat berduka
Ibu, masih adakah pintu ma’af
Ketika aku menumpahkan kesal dengan suara kerasku
Ibu, masihkah ada ridhlomu,
Saat aku terlalu banyak mengabaikanmu
Ibu, masihkah aku boleh,
Bersujud dan mencium kakimu
Untuk pintu ma’afmu
Untuk ridhlomu
Untuk menghapus dosa-dosa ku
Karena hanya engkaulah Ibu,
Yang mampu memintakan semua itu kepadaNya
Bapak, aku sudah tak lagi menangis,
Tetapi bukan berarti aku tidak bersedih.
Bapak, aku mendengar semua nasehat
Tentang orang-orang terpilih
yang datang ke Tanah Suci
sebagai tamu Allah
dan kembali kepada Nya
di Tanah Suci
Bapak, aku sudah tak lagi galau
Saat mengingatmu ketika alam sedang sunyi,
Tak lagi marah ketika tak ada uluran tanganmu
Saat beribu tanya susah terjawab
Bapak, bagiku tak ada guru terbaik selainmu
Tak ada teman terbaik selainmu
Tak ada lawan terbaik selainmu
Hanya satu Bapak tanyaku,
Banggakah engkau padaku?
26 Februari 2008
Saya dokter gigi yang pensiun paksa dari Dinkes Prop. Jatim sejak 2006. Sepanjang hidup saya terhitung sejak saya mahir menulis huruf, kata dan kalimat, sudah banyak puisi yang saya buat tapi hanya ditumpuk di kotak wasiat dan dipamerkan untuk kalangan terbatas maksudnya hanya keluarga dekat dan anak2 juga keponakan. Cita2 awal sebetulnya ingin jadi penulis, penyair, penyanyi dan aktris berkarakter. Yang terjadi malah nyasar jadi dokter gigi. Tapi efeknya bagus, dalam bekerja masuk jiwa seninya, enterpreneushipnya, keberanian mengekspresikan pikiran lewat tulisan. Dan hasil dari semua cita2 masa kecil, saya bisa jalan2 ke konggres internasional maupun Asia Pasifik untuk HIV-AIDS krn tulisan yang saya buat. Selain itu beberapa modul pelatihan yang beredar di tingkat nasional dan diterbitkan di journal internasional. Cita2 kedepan ingin menerbitkan buku dan kumpulan puisi. Semoga.
By Linda Araini on Feb 26, 2008 | Reply
Kebudayaan dikatakan sebagai hasil karya manusia, entah itu baik atau buruk termasuk contohnya, korupsi. Segala tindakan yang dilakukan manusia semuanya pasti terekam dalam otak masing - masing berawal dari sebuah ide kemudian tindakan dan hasil dari tindakan tersebut.
Jika korupsi itu dianggap sebagai tindakan yang salah, kenapa masih banyak yang melakukannya, itu artinya korupsi itu enak dan menguntungkan. Dengan melakukan korupsi semuanya jadi mudah, misalnya mau dapat nilai bagus tinggal nyogok. Jika hal seperti itu sudah tertanam di otak kita sejak kecil maka sulit untuk mengubahnya. Biasanya karena sudah terbiasa makanya jadi suka, jika sudah suka lama - lama jadi betah dan akhirnya keterusan dan menjadi keharusan untuk melakukan korupsi.Bagus atau tidaknya hasil kebudayaan semuanya tergantung pada manusia itu sendiri sebagai penghasil kebudayaan.
By DINA YULINDA on Feb 27, 2008 | Reply
Korupsi…..ogh…Korupsi…
Indonesia dan korupsi seakan dua hal yang sangat sulit dipisahkan, bahkan Indonesia dengan “ bangga “ bisa termasuk di jajaran papan atas Negara terkorup di dunia. Menjadikan masyarakat kita berbudaya anti korupsi seakan pungguk merindukan bulan. Bagaimana tidak, budaya curang dan sogok-menyogok sudah tertanam di diri kita sejak dini. Misalnya saja, banyak orang tua berlomba-lomba memasukkan anaknya bekerja di sebuah instansi demi gengsi ataupun atas nama masa depan yang terjamin, sang orang tua pun rela merogok kantong sedalam mungkin asal sang anak dapat pekerjaan tersebut, dan setelah bekerja sang anak pun seperti ingin ” balik modal “ dengan mau nerima sogokan dari orang lain, dan begitu seterusnya hingga budaya curang, sogok-menyogok, korupsi, sepertinya biasa di masyarakat kita, bahkan bagi sang pelaku bukan hal tabu untuk jadi topic pembicaraan. Jika untuk memperoleh pekerjaan yang mapan semua harus menyogok, lalu bagaimana nasib si Miskin, yang tak mampu menyogok, apakah mereka tak berhak mendapat pekerjaan yang yang mapan?? Bukankah persaingan otak lebih mulia dari pada persaingan siapa yang paling besar menyogok..Namun,itu lah yang terjadi pada masyarakat kita sekarang…tragis…..
Pemahaman saya, mengenai wujud kebudayaan singkatnya yang yaitu, kegiatan yang dilakukan manusia secara terus-menerus dalam masyarakat, buah dari pemikiran dan menimbulkan hasil. Seperti halnya korupsi, tindakan tersebut hasil pemikiran manusia, dan terus-menerus dilakukan hingga akhirnya jadi sebuah budaya di Indonesia tercinta ini. Bila kebudayaan pada masyarakat kita saja sudah seperti itu ( korupsi maksudnya ) bagaimana bangsa kita bisa maju. Merubah tradisi memang sangat sulit, tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi kita memperbaiki bangsa kita dari budaya “ kotor” tersebut. Kita mempelajari antropologi, agar lebih memahami masyarakat kita termasuk budayanya, dan berusaha berbenah diri kearah yang lebih baik guna membangun kembali masyarakat Indonesia yang sudah mulai buruk di mata dunia.
By Erina Marsiana on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamualaikum…
Menurut saya Korupsi memang bukan hanya persoalan hukum semata,tetapi juga merupakan persoalan sosial, ekonomi, politik dan agama. Budaya korupsi seakan memperoleh lahan yang subur oleh karena sifat masyarakat nya kita sendiri yang mengganggap masalah Korupsi adalah perkara yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang diibaratkan seperti wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan yang berpola dari manusia dalam masyarakat.Indonesia yang katanya adalah negara yang kaya, tetapi pemerintahnya banyak utang,tidak hanya itu rakyatnya pun juga terlilit dalam kemiskinan parmanen,tragis memang.
knp semua orang membenci korupsi, tetapi kenyataannya hampir semua orang melakukan perbuatan yang mulia itu. pemberantasan korupsi memang sudah dilakukan oleh pemerintah sejak duelo kala, tapi faktanya sampai sekarang tidak berkurang secuilpun tapi malah bertambah banyaaaaak,knp? Y karena yang memberantas korupsi itu sendiri mbahnya Korup..
By Hanik Puspitasari on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuh
Ketika membaca artikel Anda “Kebudayaan Korupsi”, yang saya tangkap adalah adanya kebiasaan melakukan “korupsi” yang terjadi dalam suatu lingkungan masyarakat dalam jangka waktu yang sangat panjang, sehingga tertanam kuat dalam diri setiap anggota masyarakat dan cenderung tidak dirasa sebagai suatu tindak korupsi lagi. Misal seperti yang Anda contohkan di atas, tentang seorang ibu yang sengaja membohongi anaknya supaya bisa pergi ke pasar. Apa, sang ibu merasa kalau Dia sudah mngajarkan berbohong kepada anaknya? Tentu saja tidak. karena yang ada dibenak sang ibu adalah bagaimana caranya ke pasar supaya bisa membeli sayur dan keperluan lain untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup yang lain.
Itu merupakan contoh kecil yang mungkin sangat mudah kita cerna dan bukan tidak mungkin untuk mengubah kebiasaan itu, karena yang saya liat dalam keluarga lain berbeda. Ada mama saya terbiasa jujur ketika beliau mau keluar rumah dan ternyata itu justru membuat anaknya tenang, karena dia tahu kemana mamanya pergi. Ya… Semua itu tentu tidak bisa dilepaskan dengan didikan awal ORTU. Beranjak dari contoh kecil itu, ternyata secara tidak langsung memberi contoh kepada anak-anaknya untuk tidak terbiasa bohong dalam hal-hal yang memang “tidak perlu bohong”.
Korupsi, bisa terjadi karena beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk melakukannya. Kalau dikaitkan dengan 3 wujud kebudayaan yang dikaji dalam ilmu Antropologi. Menurut saya, korupsi pada awalnya tentu berasal dari sebuah ide, yaitu ketika seseorang mula berfikir bagaimana caranya mencapai hasil maksimal dengan cara yang praktis. Lahir sebagai sebuah aktivitas manusia, dari ide itu kemudian orang itu pasti akan mencoba menerapkan apa yang ada dalam otaknya yang berupa ide tadi, dalam setiap aktivitas pemenuhan kebutuhan hidupnya. Setelah manusia menerapkannya dalam aktivitasnya tentulah akan melairkan sebuah karya dalam berbagai bentuk.
Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan, yaitu:
Pertama, suatu kebudayaan / kebudayaan korupsi bisa lahir dan tumbuh subur karena telah diberi contoh dan dibiasakan sejak kita mulai mengenal kehidupan (lingkungan keluarga) bahkan sebelum kita mengenalnya (lingkungan sekolah dan masyarakat).
Kedua, suatu kebudayaan / kebudayaan korupsi bisa mengakar dalam setiap aktivitas karena hal itu dirasa dapat dijadikan jalan supaya bisa hidup praktis dan tidak perlu terlalu repot.
Ketiga, kita tidak merasa bahwa kebiasaan / kebudayaan korupsi itu dapat merugikan kita dan menyebabkan kita mendapat sanksi, baik dari orang-orang yang ada disekaliling kita maupun dari ALLAH SWT.
Wassalamu’alaikumwarohmatullahiwabarokatuh
By Dewi Komalasari on Feb 27, 2008 | Reply
Budaya Korupsi…
sudah identik dengan bangsa kita karena sudah turun temurun ilmunya disebarkan tidak hanya dari kalangan pejabat saja ,tetapi sudah masuk dalam dunia pendidikan.seperti dalam ujian menyontek dilakukan dengan berbagai cara untuk mendapatkan nilai A,sering kali juga banyak mahasiswa menjilat dosen dengan bermacam cara.seperti ilmu hitam makin banyak penggemarnya yang menuntut sebab bisa bikin kaya.
Sadar dan tidak sadar budaya korupsi ada dalam diri kita masing-masing , seperti bakat yang terpendam kalau di gali terus akan menjadi muncul keatas.menjadi keahlian yang hebat.sama halnya dengan bakat korupsi kalau kita gali terus akan muncullah kita sebagi ahli korupsi.
jadi budaya korupsi tidak hanya identik bagi para pejabat saja,tetapi juga dimiliki diri kita,sehingga kalau ingin menghilang kebudayaan korupsi itu mulailah dari diri kita sendiri,yang dilakukan dengan penuh kesadaran.
By Puji Astuti on Feb 27, 2008 | Reply
ass..
Dari tulisan Ewa tentang kebudayaan korupsi ini tidak terlepas dari 3 wujud kebudayaan karena dari 3wujud kebudayaan tersebut sedikit banyaknya akan mempengaruhi ide atau pemikiran-pemikiran dalam suatu kompleks aktivitas serta tidakan dari manusia itu sendiri dan dari ide atau pemikiran tersebut akan berpengaruh terhadap hasil karya manusia itu sendiri
By Akbar A Hidayat on Feb 27, 2008 | Reply
ASS………..
Dalam tulisan Ewa membuat saya tahu bahwa dari kecil saya sudah dibohongi dan diajarkan korupsi, jadi bukan salah saya nantinya kalau saya tidak sengaja korupsi….
terima kasih
ws…………
***ha ha kesimpulan kurang elok tu …
By Helmi Hakim on Feb 27, 2008 | Reply
Dalam tulisan ewa mengenai budaya korupsi, merupakan contoh dari 3 bentuk kebudayaan yang mana menurut saya tidak perlu dilestarikan.
Bentuk kebudayaan yang berupa ide, aktivitas, dan hasil dari aktifitas tersebut menurut saya disetiap lingkup masyarakat sama yang membedakannya hanyalah hasil dari kebudayaannya itu.
By Dwi Setiowati on Feb 27, 2008 | Reply
Perbaikan…
Langsung saja ya…sebelum membahas tentang wujud kebudayaan. Perlu jugakan kita mengetahui apa yang dimaksud dengan kebudayaan. Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Bila dilihat dari pengertian tersebut, berarti kebudayaan bisa tercipta dari proses belajar. Bila diilustrasikan dengan keadaan Tuan Korup, menurut saya memang benar korupsi bisa disebut sebagai kebudayaan karena manusia-manusia pengikut kebudayaan itu memperoleh ide-ide, aktivitas(korupsi), dan hasilnya(harta melimpah)dari proses belajar yang dimulai sejak kecil dan juga diajarkan oleh orang-orang di lingkungan sekitarnya.
Seperti yang kita ketahui dalam proses belajar seseorang, biasanya dipengaruhi oleh lingkungan sekitar(terutama keluarga). Sehingga tidak salah bila kita ingin wujud kebudayaan seseorang(khususnya generasi muda)bersifat positif dan berguna untuk dirinya dan lingkungan sekitar(terutama membantu pembangunan bangsa dan negara). Maka lingkungan yang pertama kali harus diperbaiki adalah lingkungan keluarga, dimana generasi muda tersebut diajari untuk mengenal dunia.
Keluarga harus membantu dan membimbing penerus-penerusnya agar dikemudian hari dapat menciptakan ide-ide atau gagasan yang lebih berguna, menjadikan ide tersebut sebagai aktivitas, dan dapat menghasilkan karya yang memang berasal dari pemikirannya.
By Rumadi on Feb 27, 2008 | Reply
ass…
Menurut saya dari isi tulisan ewa banyak menggambarkan secara gamblang tentang kebiasaan buruk dari bangsa ini yang ada dan terjadi secara turun temurun…..
wss….
By SRI WAHYU. A on Feb 27, 2008 | Reply
Membicarakan masalah budaya korupsi tidak akan habis – habisnya karena telah mendarah daging dalam diri bangsa kita, kita hanya bisa mengatakan korupsi itu haram dan dilarang oleh pemerintah tanpa bisa membuktikan, apakah kita yakin agama sekalipun tidak melakukan korupsi???lebih baik mereka yang tidak tahu apa – apa dibandingkan mereka yang pintar yang menyalah gunakan kepintarannya hanya untuk KEPUASAN. kebudayaan ini mah tidak perlu dilestarikan karena sudah menyebar sendirinya dan subur sendirinya. Jangankan orang dewasa, anak2 sekalipun sudah pandai korupsi walaupun ga korupsi banget, karena orang tuanya sendiri sudah mengajarkan dia untuk korupsi. Tanpa kita sadari Dosen yang sering korupsi waktu pada perkuliahan, malah sangat disenangi oleh mahasiswanya. Ya… ga perlu munafik saya sendiripun menyenanginya heeeee…
Dengan korupsi berarti kita bunuh diri,didalam Indonesia sendiri kalau kita kaji lebih dalam malah banyak orng-orang Indonesia yang tanpa sadar menghancurkan bangsa dan negaranya sendiri dengan adanya korupsi yang bertaburan sana sini. Walaupun sekarang sudah ada BPK kalau masyarakat tidak mendukung yaaaa sama saja bohong. Jadi kita sebagaim orang baik maka bersikaplah yang baik, contohkanlah yang baik gituuuuu….saya harap dengan memepelajari Antropologi kita bisa kembali ke Budaya kita yang asli tanpa terkontaminasi korupsi.OK!
By Helma novieanty on Feb 27, 2008 | Reply
ya….ya….ya…koropsi lagi lagi dan lagi,memang menyedihkan sekali masyarakat kita ini yang sudah menjadikan korupsi sebagai budaya bahkan sudah melekat dalam diri dan menjadi tindakan yang di anggap halal dalam masyarakat.Korupsi ini sendiri menjadi suatu kebudayaan karena ada yang memulai sampai akhirnya ada yang meniru..bahkan menjadi darah daging sampai ke generasi-generasi muda sekarang..!! akan tetapi koropsi ini sendiri tercetus dari akal fikiran manusia ,yang kemudian dilakukan dalam suatu aktifitas atau kegiatan sebagai warga masyarakat dan akhirnya menjadi sebuah suatu yang dihasilkan…….kapan kah bangsa kita tidak korup lagi???/////
By NURIL NAJMI on Feb 27, 2008 | Reply
Gara-gara korupsi,Indonesia yang dulu dikenal sebagai negeri yang baik di mata dunia,sekarang menjadi negara yang terkenal selain banyak “Hutangnya” juga terkenal dengan sebutan negeri koruptor paling banyak di dunia..sungguh keadaan yang sangat memprihatinkan sekaligus menyedihkan.
membicarakan masalah korupsi adalah masalah yang tidak ada habisnya,masalah yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan.Korupsi bukan hanya mengambil uang yang bukan hak miliknya akan tetapi Korupsi juga termasuk mengangkat keluarga atau orang terdekat dalam jabatan tanpa mempertimbangkan apakah layak atau tidaknya segi kemampuan seseorang yang diangkat tersebut,apakah berkompeten atau malah tidak sama sekali.Dengan kejadian ini,bagaimana bangsa kita mau maju kalau yang duduk di suatu pemerintahan adalah orang-orang yang di tunjuk seperti itu.maka tidak diherankan jika mereka bekerja menjadi kaum korup……
By HAMIDAH ULFAH on Feb 27, 2008 | Reply
Berbicara ataupun berpendapat mengenai korupsi tentu tidak ada habisnya,dan jika diibaratkan dimasukkan kedalam kaset VCD,bisa-bisa sampai puluhan bahkan ratusan kopi.Sepertinya budaya korupsi ini sudah mendarah daging dan tidak bisa dihindarkan lagi khususnya bagi bangsa kita tercinta ini,karena dari hal yang sekecil apapun orang-orang selalu saja menghalalkan segala cara agar tujuan yamg diinginkan tersebut tercapai dengan mudah,tanpa mempedulikan apakah yang mereka lakukan tersebut pantas atau tidak,baik atau buruk bagi dirinya sendiri dimasa yang akan datang.
Tindakan korup ini tidak hanya terjadi dikalangan pemerintah saja atau bagi mereka yang duduk dilembaga-lembaga pemerintahan,tetapi terlihat juga pada masyarakat kecil,seperti yang terjadi ditempat tinggal saya sendiri,setiap harinya di pasar ada petugas pembagi karcis untuk sewa kantin tempat mereka berjualan,yang mengherankan kenapa setiap kali melakukan penagihan tersebut petugas itu tidak menyerahkan karcis sebagai tanda bukti malahan bisanya cuma memugut uangnya saja dan uang tersebut langsung masuk kantongnya.Untuk itu dari sekaranglah membiasakan diri untuk jujur,karena kesadaran itu lebih baik hasilnya timbul dari diri sendiri dan berdasarkan pada hati nurani.
By Kamsinah on Feb 27, 2008 | Reply
KEBUDAYAAN KORUPSI
Menarik sekali!setelah saya membaca tulisan ini,saya pun tersadarkan bahwa yang namanya kebudayaan itu sangat besar peranannya dan penting dalam kehidupan manusia bermasyarakat,karenayang namanya budaya itu adalah dasar atau landasan orang dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.Dan budaya itu pada umumnya sulit untuk dirubah,karena dalam budaya terdapat 3 wujudyang pentingdan kompliks yang telah dipaparkan dalam tulisan tersebut.Kita tidak sadar dari hal yang kecilpun ternyata besar dampaknya,seperti contoh yang dikemukan pada tulisan ini,yag mana sang ibu sudah mendidik anak untuk tidak jujur atau bohong.Kebanyakan kita menganggap hal itu hanya biasa saja dan itu sudah tertanam di otaknya perilaku curang,menipu sampai ia dewasa pun akan melakukan hal yang sama,dan jika ia menjadi seorang pemimpi maka akan menjadi pemimpin yang tidak bertanggung jawab pada jabatannya,ia akan menyalahgunakan kedudukannya dapemerintahan.Mungkin besar akan melakukan yang namanya korupsi.
Mungkin yang dapat diambil daru tulisan ini yaitu:
- Pentingnya pendidikan yang baik dan jujur,pendidikan yang bersih yang mana didapatkan sejak dini atau kecil di mulai dari lingkungan keluarga,baru lingkungan sekitarnya
- Budaya yang sopan
- Budaya yang taat dengan aturan,norma-norma dan nilai-nilai sesuai dengan hukum pemerintah dan agama
Jika sebagian apa yang saya kemukakan dilakukan akan lebih baik,dan tidak ada kebudayaan yang curang dan bohong.
By Haryani on Feb 27, 2008 | Reply
Perbaikan….
Tiga wujud kebudayaan Menurut Koentjaraningrat (2002: 186-187) ada tiga wujud kebudayaan:
1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma peraturan dan sebagainya.
2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ativitas serta tidakan berpola dari manusia dalam masyarakat.
3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.
Jika nilai-nilai,norma-norma yang tertuang bersifat negatif maka sebagian besar aktifitas yang dilakukan obyek (orang yang melihat nilai-nilai yang dicontohkan oleh orang lain kepadanya)juga akan negatif, begitu pula hasilnya sebagian besar akan negatif pula,disini dapat diambil contoh benda hasil kebudayaan “negatif” manusia diantaranya yaitu:patung manusia telanjang(yang menurut saya pribadi merupakan bentuk dari vulgaritas dan ke-porno-an),akan tetapi bagi orang-orang yang mendapat didikan kebudayaan “negatif” mengangggap bahwa patung telanjang tersebut sebagai bentuk karya seni yang patut dihargai yang harus dilihat dari beberapa sudut pandang. Sungguh sebagai muslim saya sangat berat hati menerima alasan tersebut.
Hal ini(ajaran-ajaran yang tidak baik) sangat berbahaya bila kebiasaan ini terus menerus menurun dan menular kepada orang lain. Dan hal ini dapat diindra oleh fakta yang ada sekarang yakni menjalarnya korupsi dimana-mana,disegala bentuk lini kehidupan, sebagai akibat dari budaya yang tidak baik yang telah terlanjur diturunkan dan diajarkan oleh para pendahulu bangsa Indonesia(tetapi tentu saja tidak semuanya berlaku seperti itu).
By Ganda Resnadi on Feb 27, 2008 | Reply
Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya, baik hatinya, dan senyumnya. Orang Indonesia dikenal oleh orang bukle “nice”. Kebaikan ini “mungkin” disalah artikan, senang berbagi terkjadang dinilai sebagai suapan. Dari zaman kerajaan dulu, telah ada bentuk penghormatan terhadap raja dari bawahannya terhadap raja berupa memberikan upeti. Tapi, dizaman Reformasi ini “upeti” dinilai sebagaio suapan dan memang benar karena dibalik kebaikan itu sering ada tujuan lain.
By fahrian hefni on Feb 27, 2008 | Reply
Korupsi kok jadi budaya???
Alasan orang melakukan hal sekeji ini adalah dipengaruhi oleh pola fikir bagai mana seseorang yang melakukan korupsi,lalu setelah adanya pemahaman dia untuk melakukan korupsi maka ia mulai melakukan kegiatan ini, lalu dengan adanya pola fikir dan praktek korupsi maka akan terlihatlah atau terbukti bahwa yang bersangkutan emang korupsi.
Dilihat fenomena sekarang ini korupsi seolah-olah menjadi bagian dari kehidupan para pembesar-pembesar kita yang katanya wakil rakyat, eh tau-tau menyalah gunakan kepercayaan rakyat dengan cara makan uang rakyat dalam rangka kebahagiaan ia beserta keluarganya.
waduh repotkan jadinya klo sudah kaya gini!!!
Korupsi sebenarnya bukanlah sebuah budaya dari bangsa kita, akan tetapi hanyalah sebuah ke khilapan dan keserakahan para pembesar-pembesar kita dalam menyelewengkan jabatan yang diembannya karena pengaruh pola fikir, lalu terbentuk kebiasaan dan perbuatan sehari-hari.
By Muhammad Hidayat on Feb 27, 2008 | Reply
Indonesia dikenal dengan bangsa yang mempunyai kebudayaan, diantaranya “korupsi” tapi apakah itu sebenarnya layak dibilang sebagai sebuah budaya?
Dalam kajian sosiologi dan antropologi kebudayaan adalah sebuah hasil karya pemikiran atau ide yang diciptakan oleh manusia yang menjalani kebudayaan tersebut, selain itu terdapat pula benda-benda peninggalan dari karya manusia tersebut yang disebut benda kebudayaan.
Nah dalam pengertian diatas nampaknya “korupsi” hanya bagian kecil dari sebuah kebudayaan, suatu hal layak disebut kebudayaan apabila mempengaruhi daerah-daerah lain dan menciptakan pemikiran baru tentang pemikiran tersebut.
Korupsi nampaknya lebih layak untuk disebut sebagai trend baru dalam kehidupan bermasyarakat karena tidak mempunyai landasan atau sejarah bahkan benda peninggalan, hanya saja korupsi adalah trend yang akan menjelma sebagai sebuah budaya apabila hal ini terus menerus dibiarkan, maka sebagai seorang manusia yang mempunyai otak untuk berpikir baiknya kita dapat menghapus trend tersebut dan menciptakan trend baru yaitu memberantas korupsi.
By Helma novieanty on Feb 27, 2008 | Reply
Lagi….lagi..korupsi!!! ya..ya..ya.. memang menyedihkan sekali masyarakat kita ini yang sudah menjadikan korupsi sebagai budaya bahkan sudah melekat dalam diri dan menjadi tindakan yang di anggap halal dalam masyarakat.Korupsi sendiri menjadi suatu kebudayaan karena ada yang memulai sampai akhirnya ada yang meniru kebudayaan korup tersebut bahkan mendarah daging sampai ke generasi-generasi muda sekarang.Akan tetapi korupsi sendiri tercetus dari akal fikiran manusia,yang kemudian melekat dalam suatu aktivitas atau kegiatan sebagai warga masyarakat dan akhirnya menjadi suatu yang di hasilkan,yang menguntungkan bagi dirinya sendiri,tetapi tidak memikirkan mudaratnya yang berdampak pada orang lain..yah…begitu lah menurut saya!!! kapan yaa bangsa kita ini tidak korupsi lagi???
By Asmia ulfah on Feb 27, 2008 | Reply
Korupsi merupakan kata yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita.Korupsi tidak hanya dilakukan oleh kalangan-kalangan pejabat yang mempunyai kekuasaan tetapi sadarkah kita kalau korupsi juga dilakukan di lingkungan rumah,bahkan seorang istri juga sering korupsi terhadap suami nya misalnya saja masalah keuangan.selain itu juga seorang guru memberikan jawaban pada anak murid pada saat ujian nasional yang menyebabkan anak yang seharusnya tidak layak lulus tetapi dia mendapatkan nilai yang baik.hal seperti itu sebenarnya juga termasuk korupsi.
Jadi sangat sulit untuk menghilangkan kata korupsi pada kehidupan sehari-hari,karma hal ini sudah menjadi budaya pada masyarakat kita.jadi bila kita ingin membantu menghilangkan kebudayaan korupsi di Negara kita maka harus dimulai pada diri sendiri.
By Novi Ariyanti on Feb 27, 2008 | Reply
saya sangat setuju dengan tulisan bapa yang menyatakan bahwa korupsi bisa dikatakan menjadi semacam budaya di masyarakat kita. Memang, segala nilai yang kita pegang dalam hidup akan tercermin dalam perilalu kita sehari-hari. Baik itu buruk maupun baik. Apa yang terjadi dalam hidup kita tergantung dari nilai dan perilaku kita sehari-hari.Adapun perilaku korupsi sudah pasti merupakan hasil dari nilai-nilai buruk yang tidak perlu diwariskan.
By Wiwik Norliyana on Feb 27, 2008 | Reply
Perbaikan….
Dalam pembahasan ini, kita diajukan pada tiga wujud kebudayaan yaitu :
1.Wujud ideal
Wujud ini berupa ide-ide dan gagasan-gagasan yang ada dalam suatu masyarakat. Wujud ini tidak dapat diraba atau dilihat, tapi dapat dituangkan dalam bentuk perkataan atau tulisan.
2.Wujud Social System
Wujud ini berupa aktivitas-aktivitas masyarakat yang melakukan interaksi.
3.Wujud Fisik
ini merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas masyarakat.
Tiga kebudayaan di atas saling terkait. Adanya budaya korupsi berasal dari pikiran manusia yang tercipta dari hal-hal kecil kemudian terlaksana dalam bentuk aktivitas sehingga menghasilkan suatu kebiasaan dan hasil dari itu semua adalah kebobrokan seperti yang dialami bangsa kita saat ini.
By Raihana on Feb 27, 2008 | Reply
Suatu kebudayaan terbagi atas tiga unsur, yaitu :
pikiran, aktivitas, dan hasil.
Dimana dari sebuah pikiran manusia bisa berkembang menjadi suatu aktivitas yang kemudian berkembang menjadi suatu hasil, baik atau tidaknya suatu kebudayaan bermula dari pikiran atau ide.
By Ni Luh Sri Arsini on Feb 27, 2008 | Reply
Perbaikan…..
Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Terdapat 3 wujud kebudayaan yaitu Idea, Aktivitas, dan Hasil Kebudayaan. Hasil dari pemikiran manusia dilakukan melalui aktivitas dan menghasilkan suatu kebudayaan. Contohnya korupsi. sedangkan kita ketahui bahwa korupsi itu sesuatu yang tidak baik. Tetapi pada kenyataannya masyarakat suka melakukannya, seakan-akan masyarakat kita sering menghasilkan kebudayaan yang tidak baik.
By Santy Dwi P. on Feb 27, 2008 | Reply
Menurut Koentjaraningrat, wujud kebudayaan terbagi menjadi tiga. Yaitu:
1.wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide – ide, gagasan, norma,peraturan(Pikiran).(Ideas)
2.wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dan masyarakat (Activities)
3.wujud kebudayaan sebagai benda – benda hasil karya manusia. (Artifacs)
Wujud kebudayaan sebagai ide disebut sebagai wujud ideal, ide manusia tidak dapat dilihat,diraba, didengar, ide bersifat abstrak. Ide tidak hanya ada pada Individu, tetapi menyebar dalam komunitas/ kebudayaan masyarakat. Kita bisa melihatnya dari norma – norma atau adat yang berlaku di masyarakat.
Wujud kebudayaan yang kedua adalah aktivitas/ tindakan dari manusia, masyarakat yang disebut juga social system. Berhubungan dengan kelakuan. Aktivitas masyarakat ini dapat diamati dan didokumentasikan.
Wujud kebudayaan yang ketiga adalah wujud kebudayaan sebagai benda – benda hasil karya manusia. Benda – benda hasil karya manusia ini disebut kebudayaan fisik, kebudayaan fisik dapat dilihat dengan Indera.
Ketiga wujud kebudayaan ini sebagai suatu sistem saling berkaitan. dengan mempelajari ketiga wujud kebudayaan kita dapat mengambil manfaat dari kajian Ilmu antropologi,kita bisa mengubah kebudayaan yang tidak baik menjadi kebudayaan yang baik hal ini dapat dimulai dari diri sendiri dengan berpikir dan berperilaku yang baik, sehingga akan menghasilkan sesuatu yang baik. Merubah kebudayaan yang notabene sudah menjadi kebiasaan yang mengakar kuat memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Bila kita bisa berubah menjadi baik, niscaya akan tercipta komunitas yang baik juga, artinya kita bisa mengaplikasikan ilmu Antropologi untuk kepentingan masyarakat dalam kehidupan sehari – hari.
By Ganjar Muttaqin on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamualaikum EWA
Kebudayaan korupsi sudah mendarah daging bagi bangsa kita, dimulai dari hal-hal yang kecil sampai berbudget besar. Korupsi awalnya merupakan tuntutan yang berasal dari lingkungan keluarga yang mengharuskan seorang individu untuk memiliki materi yang berlebih”uang”. Lalu individu terpaksa melakukan hal yang sangat dimurkai oleh masyarakat dan Tuhan.
melalui akalnya lah manusia melakukan korupsi dan sampai sekarang ini menjadi sebuah “trendsetter”. Mudah-mudahan bangsa kita bisa lepas dari krisis moral, krisis kepercayaan, serta berbagai macam krisis yang mampu menghancurkan bangsa kita yang tercinta. bagaimana kita sebagai mahasiswa menciptakan budaya baru yaitu budaya pemberantasan korupsi.
By M.AGUSTIANNUR on Feb 27, 2008 | Reply
Tiga Wujud Kebudayaan Oleh Para Ahli:
Ideas,Activities, dan artifacs = Berpikir,berbuat, dan menghasilkan.
Berpikir(ideas)= Berpikir bagaimana untuk berbuat baik tanpa melakukan kecurangan.
Berbuat(activities)= Berbuat sesuatu yang berguna tanpa merugikan orang lain.
Mengasilkan(artifacs)= Menghasilkan perubahan kearah yang lebih baik.
Kalau yang demikian diterapkan sulit jalannya untuk merubah kebudayaan korupsi karena terlalu lurus untuk dilaksanan. Ada baiknya jalan itu berbelok – belok agar tidak bosan.
By hadi_er on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Dalam pembahasan tentang tulisan Anda yang berjudul “Kebudayaan Korupsi” ini mengetengahkan tentang Tiga Wujud Kebudayaan, yakni:
1. Wujud Ide.
Ide adalah apa-apa yang sudah ada di dalam kepala masing-masing orang dan terekam dengan jelas.
2. Wujud Aktivitas.
Aktivitas adalah dalam hal ini berkaitan dengan segala pekerjaan yang dilakukan berdasarkan ide yang sudah tertanam dalam otak.
3. Wujud Artifact.
Artifact adalah hasil dari aktivitas yang dilakukan oleh seseorang yang berdasarkan ide yang sudah tertanam dalam otaknya.
Berhubungan dengan tulisan Anda bahwa Kebudayaan Korupsi yang begitu mengakar pada bangsa Indonesia ini tidak lepas dari 3 wujud kebudayaan di atas. Sejak kecil kita sudah ditanamkan ide tentang kecurangan, sehingga itu terbawa dalam segala aktivitas yang dilakukan.
By Setyawan Dharma on Feb 27, 2008 | Reply
Sepertinya Kebudayaan akan terus mengalami proses dan selalu mengarah pada sebuah dinamika entah kemana saja. Kebudayaan yang berubah itu niscaya terjadi atas gugatan terhadap apa yang dipandang telah stagnan, tak berubah dan mati saya rasa tidak ada yang menolak jika dikatakan bahwa budaya memang berbeda-beda dan dinamis.
Apabila kebudayaan adalah keseluruhan dari hasil kelakuan manusia yang teratur dari tata kelakuan yang harus diperoleh dengan belajar, dan yang tersusun dalam kehidupan masyarakat. (koentjaraningrat). Artinya, kebudayaan akan dapat diwarisi secara turun temurun walaupun anggota masyarakat tersebut berganti-ganti. Memang kebudayaan tiada artinya tanpa manusia, namun pada kenyataannya kebudayaan dapat bertahan melebihi usia manusia itu sendiri.
Kebudayaan dan kepribadian akhirnya menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan. Kepribadian menjadi dasar terjadinya sifat masyarakat sedangkan kebudayaan menjadi hasil dari aktifitas masyarakat. Ini berarti faktor-faktor pembentuk kepribadian seseorang juga perlu diperhatikan dalam pembentukan sebuah kebudayaan, apakah itu faktor geanologis, geografi dan lain-lain..
By M.Yumni Rasyid on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamualaikum EWA
Menurut saya, kebudayaan korupsi sudah tertanam dalam diri masing-masing. Hal ini di sebabkan karena tradisi ini mulai berkembang dari nenek moyang kita contoh saja kerajaan-kerajaan terdahulu. Jadi solusi terbaik adalah mulai dari diri kita sendiri yang mencoba memutus mata rantai korupsi dimulai dari hari ini.
Selanjutnya tugas kita sebagai bangsa Indonesia adalah memusnahkan kebudayaan korupsi yang telah melekat dalam kehidupan kita. Mulai dari sekarang kita jangan lagi saling menyalah kan tapi cobalah saling bahu-membahu untuk memberantas kebudayaan yang laknat ini.
By Henny on Feb 27, 2008 | Reply
Pada dasarnya kebudayaan tercipta dari akal di setiap manusia, dari akal tersebut terjadi gerak dan dari gerakan iniah kebudayaan terjadi. Dengan kata lain ada tiga wujud kebudayaan yaitu wujud kebudayaan pertama berbentuk ide-ide yang terletak di dalanm otak di setiap kepala manusia, wujud kebudayaan kedua berupa kreatifitas dari apa yang telah dipikirkan, wujud yamg ketiga yaitu hasil dari apa yang telah di kerjakan.
keinginan untuk mendapatkan peringkat pertama di kelas membuat salah satu siswa di sekolah formal maupun non formal menyontek saat ujian, alhasil saat bagi rapor dia mendapat hasil yang dia inginkan. Ini menjadi salah satu contoh dari tiga wujud kebudayaan walaupun harus dengan kerja keras dan curang. Kebudayaan curang tersebut menjadi suatu kebudayaan yang telah mengakar pada masyarakat bangsa ini, Sulit untuk di basmi bukan tidak dapat dibasmi lho,,,, jika orang sulit untuk meninggalkan budaya ini kenapa tidak dimulai dari diri kita sendiri.
By Rizal Hasannor on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamualaikum EWA
Korupsi memang telah menjadi budaya di bangsa ini. Hal ini terbukti dengan kenyataan yang bisa kita lihat langsung dimasyarakat mulai dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Bahkan anak kecil pun sudah bisa melakukan korupsi. Pegawai negeri juga tidak terlepas dari praktek korupsi, seperti bolos kerja yang dapat dikategorikan sebagai korupsi waktu. Seakan tidak mau ketinggalan, pejabat tinggi pun ikut-ikutan korupsi. Justru korupsi di kalangan atas inilah yang paling parah. Karena sebagai pejabat tinggi yang seharusnya mengayomi masyarakat tetapi malah menguras kas negara yang sebenarnya adalah uang rakyat.
Tidak mudah tentunya menghilangkan budaya korupsi ini, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dengan menanamkan akhlak yang baik pada anak-anak yang merupakan calon generasi penerus bangsa ini.
By Siti Nurhapsah on Feb 27, 2008 | Reply
Assalamualaikum
Sejak dahulu korupsi sudah membudaya, berakar ke dalam kebiasaan sehari-hari. Menurut Koentjaraningrat dari gagasan di salurkan melalui perlakuan dan menghasilkan suatu dari perlakuan tersebut. Jika ide awalnya mendapatkan kekayaan tanpa jerih payah, akhirnya keluarlah keinginan untuk korupsi. Dari dalam diri saja sering korupsi yang kecil, misalnya waktu. Dari hal kecil dan sejak kecil menjalaninya untuk korupsi, dalam taraf besar kenapa tidak?.
By chairi ramadhan on Feb 27, 2008 | Reply
korupsi???korupsi memang ga baik, korupsi sebaiknya jangan ditanamkan sejak dini,korupsi yang sudah membudaya di negara kita sangat merugikan diri kita sendiri maupun orang laen,korupsi dapat timbul karena dari segi perekonomian,apalagi perekonomian kita sekarang terkena krisis moneter yang mencekik rakyat, dengan harga sembako yang melonjak tinggi,dari sinilah orang-orang kalangan atas mencari kesempatan dengan mencari keuntungan misalnya minyak tanah yang sekarang ini sangat langka,orang-orang kaya menyetok nya kemudian menjual nya dengan harga yang tinggi,jadi jangan mencari kesempatan dalam kesempitan para koruptor
By Arien Noor Rahman on Feb 27, 2008 | Reply
weleh welehhh… korupsi koq dianggap kebudayaan, ada-ada aja dunia macam sekarang. Dalam hal ini,penjelasan anda mengenai korupsi sangat bagus untuk dikupas atau diperdebatkan.
Disini saya ingin mengutarakan bagaimana cara mengatasi korupsi.
1.Mulai dari kecil anak-anak jangan diajari berbohong dan bagi yang tua pun jangan suka membohongi anak,karena mereka belajar dari orang tua yang mendidik mereka.
2.Adanya kesadaran untuk tidak saling suap menyuap\menyogok.
3.Kalau bisa UU tentang korupsi berisi hukum pidana seumur hidup\Hukum mati.
Memang korupsi dianggap halal bagi yang melakukan,karena uang korupsi dianggap rejeki bagi dia dan sebaliknya dianggap haram bagi yang tidak mau melakukan korupsi,karena uang itu dianggap uang orang lain….
By wa2r on Feb 27, 2008 | Reply
3 wujud kebudayaan :
1. ideas = ada di pikiran
2. activities = perbuatan
3. artifacs = hasil
kalau yang ada dalam pikiran kita keinginan untuk membuat tulisan, terus kita melakukannya, lalu jadilah sebuah tulisan….
weeeee….bisa jadi saingan om ewa yang jago nulis nich, hee
NURKHULIS WARDANI
By Randy Ahmad on Feb 27, 2008 | Reply
korupsi? Hal yang sudah mendarah daging bagi masyarakat kita. bagaimana tidak, sedaari kecil kita sudah diajarkan untuk korupsi, namun tidak semua menyadarinya. bahakan tidak tanggung-tanggung, orang tua kita sendiri, pemikiran untuk mencari jalan pintas menjadi faktor utamanya. memang hal ini tidak lepas dari cara berfikir masyarakat kita yang serba instan.
yah tidak bisa dipungkiri bahwa korupsi sudah menjadi bagian dari hidup kita. mungkin hal yang mustahil untung menghilangkan budaya korupsi di negara kita…..
***Bisalah … minimalisir pada diri masing-masing.
By ihsan on Feb 28, 2008 | Reply
Budaya korupsi bangsa Indonesia memang sudah sangat menghawatirkan.Hal ini sebetulnya sudah mendarah daging dalam hidup masyarakat kita.Kebudayaan korupsi sudah tertanam sejak Indonesia masih berupa kerajaan-kerajaan dizaman dahulu jika kita lihat dari segi historisnya.Dikaitkannya budaya korupsi dengan tiga wujud kebudayaan yang disebutkan Koentjaraningrat saya sangat setuju sekali.
By seashell on Feb 28, 2008 | Reply
Ass…EWA..,
Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa kebudayaan korupsi sudah ada sejak dulu.Manusia dengan kemampuan akal atau budinya,telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya,sehingga ia menjadi makhluk yang paling berkuasa dimuka bumi ini,yang mana berbagai macam sistem tindakan tadi telah menjadi kebiasaan sejak ia lahir sampai akhir hidupnya.
By MUHAMMAD FAUZI on Feb 28, 2008 | Reply
NAMA : MUHAMMAD FAUZI
NIM : A1A104003
WAAAH…sepertinya bicara soal Korupasi kayaknya anak TK pun sudah tidak asing lagi untuk mendengarnya. Korupsi di INDONESIA…WAAADUUH makin parah saja…Yaaa ialaaah, kalau saya baca dari tulisan Pa Ersis, gimana korup nggak membudaya, dari lingkungan yang kecil saja misal di keluarga…anak sudah di ajak berpikaran
yang nggak bener oleh Bapa atau Ibunya…di sekolah juga, guru memberi ide-ide yang kotor pada anak didiknya…bagaimana nanti terjun di masyarakat…?TENTU ANDA TAHU SENDIRI JAWABNYA seprti apa. YAAA…kalau mau menghilangkan budaya korupsi…beri anak ide-ide/pikiran yang baik atau ajak anak melakukan perbutan-perbuatan yang arahnya munuju pada kebenaran.
By Farida Ariyani on Feb 28, 2008 | Reply
Ass…
Menurut pendapat saya,memang benar apa yang dikatakan pa Ersis tentang kebudayaan korupsi itu suada ditanamkan pada kita sejak kita masih kecil.Kebudayaan itu sudah menjadikan pikiran, aktivitas, dan hasil karya kita terkontaminasi akibat suatu yang ditanamkan sejak kita masih kecil. Gambaran dari kebudayaan itu menjelaskan tentang tiga wujud kebudayaan yaitu pikiran, aktivitas, dan hasilnya dimana ketiga wujud kebudayaan tersebut saling berkaitan satu sama lainnya.
Wslm…
By VIDA AULIA RAKHMAN on Mar 2, 2008 | Reply
Berbicara masalah korupsi hampir disetiap sudut kehidupan telah terjangkit wabah mendunia ini.Namun hal ini sangat sulit untuk dapat dihilangkan karena sudah menjadi suatu budaya yang sangat melekat.Permasalahan bangsa ini tak akan pernah habis mengenai korupsi,bahkan menurut saya bukan hanya oknum-oknum tertentu saja yang melakukannya,pemerintah pun ikut dalam polemik masalah ini.Sebagai contoh para pejabat-pejabat daerah maupun pusat secara tidak langsung telah mendapatkan hasil tindakan itu,bagaimana tidak banyaknya fasilitas-fasilitas pemerintahan yang mereka dapatkan yang membuat kita bertanya darimana dana yang dikeluarkan untuk memebeli fasilitas tersebut,contohnya saja mobil dinas dengan flat merahnya “bagincu bhsa banjarnya”tidak sesen pun uang pejabat itu keluar untuk membeli itu.Bukankah uang rakyat yang digunakan yasng pada awalnya diberikan sebagai bentuk kewajiban rakyat kepada negara dengan maksud dapat mensejahterakan rakyat tetapi dalam prakteknya rakyat malah tambah sengsara.
Saya menilai faktor inilah yang mungkin menyebabkan benyaknya orang yang tertarik untuk terjun dalam permainan politik pemerintahan yang sangat menjanjikan kesejahteraan.Apakah sudah pas penggunaan dana pemerintah untuk masyarakat?Hanya sedikit kontribusi yang didapat.
Thankz.. VIDA.A.R (A1A106015)
By Setiyadie on Mar 3, 2008 | Reply
ass,EWA
Dari tulisan yang anda buat ini, saya beranggapan sma dengan anda. Saya menyadari memang benar bahwa budaya korupsi itu sudah dimulai sejak kita masih kecil sehingga dalam kehidupan sekarang kita tidak bisa lepas dengan yang namanya korupsi. kita mungkin saja tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya adalah bentuk budaya korupsi karen bentuknya dapat bermacam-macam, contohnya saja waktu. setiap orang bisa saja korupsi terhadap waktu kareana ap? karena waktu itu terus berjalan dan kita tidak dapat mengulang kejadian yang sudah terjadi. seorang guru misalnya, sengaja atau tidak sengaja datang terlambat untuk memnuhi tugasnya menjadi seorang pengajar di kelas adalah contoh kecil dari prilaku korupsi yang mungkin saja disadari maupun tidak dilakukan oleh smua orang.
3 wujud kebudayaan itu berasal dari adanya ide atau pikiran yang kemudian diwujudkan melalui sebuah aktivitas yang berlanjut munculnya sebuah karya. Semua kebudayaan manusia berawal dari pikiran manusia itu sendiri jadi apa pun yang dilakukan manusia merupakan sebuah kebudayan dan mungkin akan dapat berkembang menjadi sebuah peradaban bagi umat manusia.
By Septha on Mar 4, 2008 | Reply
Kebudayan merupakan hasil dari daya pikir manusia yang di pengaruhi oleh keadaan lingkungan dimana orang itu tinggal. Idealnya setiap orang itu punya pemikiran yang positif dalam hidupnya untuk bagaimana dia bisa memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman tuntutan hidup manusia semakin banyak dan sangat terbatasnya sarana dan prasarana dalam pemenuhannya. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang berpikir bagaimana cara yang efisien untuk memenuhi hajatnya untuk hidup tersebut, tanpa memperdulikan lagi apakah jalan yang di tempuhnya itu salah. Yang terpenting bagi sebagian mereka itu bisa mempertahankan kalangsungan hidupnya dan keluarga. Dan mendapatkan prestise di lingkungan masyarakatnya.
Pola pikir seperti itulah yang akhir – akhir ini sering diterapkan oleh hampir seluruh lapisan masyarakat kita ini. Hal ini dapat teratasi jika pembangunan kualitas SDM Indonesia melalui dunia pendidikan merata di seluruh wilayah NKRI ini dan menyentuh segala lapisan masyarakat. Dan tentunya juga diimbangi dengan pembangunan kualitas IMTAQ Individu masyarakat sesuai dengan ajaran agamanya masing – masing. So tergantung diri kita sendiri mo jadi apa dalam hidup ini??
By Risma Yunyta on Mar 5, 2008 | Reply
Menyoal korupsi nampaknya bangsa ini sudah menjadikannya suatu yang harus ada dalam setiap sendi kehidupan, seperti yang Anda tulis. Saya rasa sistem yang tercipta sejak dulu lebih dikarenakan oleh terjadinya Dialog Budaya yang bersifat negatif semasa Orde Baru sehingga tercipta suatu kecenderungan untuk korupsi dalam setiap sendi kehidupan.
By M.Rizal on Apr 11, 2008 | Reply
Hidup KKN!!! Itulah kebudayaan kita yang patut kita banggakan! tidak usah munafik, tanpa sadar kita juga pernah melakukan yang namanya KKN! hanya saja kita anggap itu karena masalah “kekeluargaan” saja! padahal itu sudah termasuk KKN!
By A. Muzain on Apr 21, 2008 | Reply
dalam budaya seseorang mempunyai ide karena situasi dan kondisi yang menunjang artinya ada kesempatan.sebut saja budaya korupsi,menjadi kesempatan karena pada posisi penguasa,atau lebih dipersempit lagi dalam pemerintahan soal mengurus keuangan.ide akan berhasil apabila ada kesempatan untuk bertindak.
***He he
By danang on Oct 8, 2008 | Reply
terkadang belajar antropologi susah2 gampang budaya selalu berubah dan tergantung masyarakat tidak seperti ilmu alam yang pasti mudah ditebak hehehe
kembangkan ilmu antropologi pelihara budaya kita heheh
By MOH. RIDWAN on Dec 31, 2009 | Reply
bagus tapi tdk perlu ditiru