Menulis: Manusia Prasejarah dan Jahiliayah
17 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
JAHILIAYAH. Sejak belajar sejarah di bangku SD, guru-guru kita mengajarkan, bangsa Indonesia —padahal masa itu belum ‘terbentuk’ euy, wong Indonesia diproklamirkan 17 Agustus 1945— memasuki era sejarah 400 M. Sebelum itu itu masih hidup di jaman purna. Apa sebab? Ya, satunya karena belum mampu menulis. Menulis pertanda peradaban.
Itu pulalah sebabnya, suku-suku bangsa yang tinggal nun jauh di pedalaman, terutama dalam lihatan antropologis, dikategorikan hidup di jaman batu atau di atasnya. Hebatnya, sekalipun sama dengan ‘ras binatang’ lainnya, manusia tetap unggul, sebab lebih mampu menggunakan akan pikirannya. Manusia adalah ras terunggul. Keterunggulan tersebut semakin menjadi karena bermampuan menulis.
Pentingnya kemampuan menulis, menjadi kajian pakar berbagai kedisiplinan tersebab dari tulisan tersebut sejarah (peradaban) manusia bisa ditilik lebih dalam. Bahkan, gambar-gambar di gua, kadang bentukannya membingungkan, menjadi begitu bermakna. Pada tingkat lanjutannya, tentu saja, kajian apa ‘isi’ tulisan, apa maksudnya, dan … pelajaran apa yang dapat dipetik lebih penting.
Jadilah perintah Allah SWT kepada Rasulullah yang pertama: Iqra, iqra, iqra … dapat dipahami sangat mendasar dan strategis, bahwa manusia (Muslim) ‘wajib’ membangun peradaban; peradaban yang bukan peradaban jahiliyah. Rasulullah, dengan kecepatan teramat mengagumkan, memerintahkan menuliskan firman-firman Allah yang kita kenal sekarang dengan Al-Quran. Al-Quran yang dapat diartikan bacaan sehari-hari.
Artinya, ilmu-ilmu Allah terkandung dan terangkum dalam Al-Qur’an dalam tandem simpanan di jagat raya, Bumi Allah. Dapat dimengerti, mengapa Rasulullah sejak masa awal kenabian mendidik umatnya membaca, menulis, dan belajar dalam arti sangat luas: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cinta. Subhanallah.
Membaca dan menulis, penanda eksistensi kemanusiaan. Terlepas dari debat manusia ‘bersepupu nenek moyang’ dengan binatang, selama memelihara kemampuan membaca dan menulis sebagai wahana pengembangan pikiran, manusia akan menjadi ras terunggul.
Sejarah telah membuktikan. Ketika Kordoba (Spanyol) menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, bangsa-bangsa Eropa yang dungu saat itu, belajar ke pusat sinar keilmuan tingkat dunia tersebut. Ilmu Pengetahuan yang dibangun berdasarkan nilai-nilai Islam. Terlepas kajiannya juga dipengaruhi oleh pemikiran Yunani.
Ironisnya, setelah Ferdinand dan Isabella di tahun 1492 menghancurkan kerajaan (Muslim) di Andalusia yang kemudian dimana bagsa-bangsa Eropa bergiat mempelajari dan mengembangkan ilmu pengetahuan, memanfaatnya untuk merambah dunia. Muncullah apa yang disebut ancient imperalism, bertonggal: Gospel, Gold, dan Glory; menyebarkan agama (Katholik/Kristen, merampas kekayaan, dan menegakkan kejayaan). Negara-negara Muslim kehilangan pamor. Memikri menjadi modern imperalism, akhirnya umat Muslim menjadi kasta paria dalam pergaulan masyarakat dunia.
Dalam kontek Indonesia, dengan mayoritas Muslim (populasi terbesar di dunia), yang porak-poranda dalam berbagai segi kehidupan, selayaknya kembali ke ajaran, ke perintah paling fundamental Allah SWT, membaca, membaca, membaca, dan menulis. Belajar dalam dalam arti luas.
Jangan lagi sebagai negara kaya raya potensi, kog mengimpor beras (Vietnam), durian (Thailand), kedelai (AS). Apalagi, produk-produk tehnologi. Saatnya ilmuan, PT, dan Balitbang-Balitbang, mempertanyakan diri: Kenapa sih hasil pemikiran tidak berkesan buat bangsa tercinta?
Ya, kalau tidak, jangan-jangan terperosok ke kategori manusia prasejarah, manusia jahiliyah. Mungkin, membaca dan menulisnya mampu, tetapi belum dalam artian sebagai produk pemikiran yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Kesitulah, wahai —terutama— generasi muda, tugas kita ayunkan. Say good bye: manusia prasejarah, manusia jahiliyah.
Lihatlah ufuk masa depan yang sarat ilmu dan tehnologi dalam persaingan, bisa jagi berkategori hukum rimba, siapa kuat dia memang. Masih pantaskan kita malas membaca, menulis, dan membangun peradaban, dalam bentuk paling sedehana sekalipun? Masih pantaskah kita hanya menjadi penikmat Dora Emon, serial Rambo atau James Bond, budak-budak American Idol, atau aneka freid chicken sementara produk aneka ayam kampung kita lebih mantap? Tidak ada yang salah dengan mBah Einstein atau Paman Hawking, apalagi Dan Brown atau J.K. Rowling, tetapi, tidak bisakah kita memproduk kebutuhan yang berayun dari rumah sendiri?
Membangun peradaban; membaca, menuliskan pikiran, dan merubahnya menjadi aneka wujud kebudayaan yang membuncak menjadi peradaban, adalah tugas kita.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 17 Februari 2008.









48 Responses to “Menulis: Manusia Prasejarah dan Jahiliayah”
By Mega on Feb 17, 2008 | Reply
Kajiannya dalam banget…awam aku
By ichal on Feb 17, 2008 | Reply
mmm.. kayaknya gak mau lagi balik ke jahiliyah setelah endengar cerita-cerita sejarah.
***Ngak usah memang … terlalu jauh sudah kita tinggalkan he he
By anung on Feb 17, 2008 | Reply
Salam kenal Pak, (makasih juga buat commentnya)
saya setuju dengan tulisan Bapak, kita mungkin masih belum bisa maju karena apa yang kita baca dan tulis itu belum bisa diwujudkan untuk memajukan kualitas hidup kita. kita boleh bangga karena generasi muda kita banyak meraih olimpiade di bidang ilmu pengetahuan alam, tapi itupun masih jauh dari memuaskan karena hasil pengetahuan itu juga harus diterpkan.
kalo saya sih masih jauh dari tahap itu, wong sekedar buat menulis saja saya masih harus belajar banyak kok, belum jadi budaya hehehehe.. berarti saya jahiliyah ya??
*** Sama-sama. semua orang pada dasarnya selalu dalam proses belajar, kecuali manusia-manusia sombong di Bumi Allah.
By alfaroby on Feb 17, 2008 | Reply
semua ini perlu proses… dan proses yang saya maksud adalah proses yang terus meningkat walaupun peningkatannya relatif kecil.. tapi terus bersemangat tuk maju ke depan dan lebih baik lagi…
aku pikir bukan saatnya kita menyalahkan atau membenarkan… kita kembali pada diri masing masing tuk saling berinstropeksi diri… aku pikir sesuatu yang dari luar dan baik dipertahankan juga tidak apa apa.. dan sesuatu yang udah lama dan masih baik tetap harus dipertahankan
***Ya ya Amin. Introspeksi itu adalah ‘pelajaran’ paling tinggi tempatnya.
By yudika on Feb 17, 2008 | Reply
ahh, memang tidak pernah bosan kalo baca tulisannya pak sis, meski ada beberapa kata yang asing, keseluruhan selalu ada ide yang baru didalamnya. ( ini jujur, bukan menjilat lho pak :D)
***Ahai … muji nich, bisa GR kita. Ya, makasih.
By sawali tuhusetya on Feb 17, 2008 | Reply
saya akan merasa bangga apabila kaum ilmuwan kita mampu memproduksi teknologi sendiri. sayangnya, para ilmuwan kita itu masih tiarap juga, pak, belum tergerak untuk menciptakan piranti teknologi yang merakyat hingga kalangan bawah. bisa jugakah itu menjadi indikasi bahwa para ilmuwan juga kena penyakit malas membaca, pak?
***Tiarap? Kata-kata bagus, bisa jadi memang. Apa ya kerja merka dan kita selama ini untuk bangsa ini? Ngambil jatah gaji sembari menggarong negeri ini? I dont know
By jimmy on Feb 17, 2008 | Reply
baru tau saya kalo sejarah itu dimulai ketika mulai ada tulisan, tambah ilmu lagi nih..
<blockquote>
Membangun peradaban; membaca, menuliskan pikiran, dan merubahnya menjadi aneka wujud kebudayaan yang membuncak menjadi peradaban, adalah tugas kita.
</blockquote>
saya setuju dengan pernyataan bapak di atas, cuma yang sering jadi kendala adalah bagaimana cara kita menuliskan pikiran kita dengan baik.. seperti saya kalo nulis apa yang ada di kepala ini seringkali kacau, saya bisa ngerti tapi belum tentu pembaca ngerti
***Soal latihan saja lagi … sudah dibahas dalam beberapa topik pada rulisan terdahulu. Saya yakin Sampeyan bisa bila melihat cara menyajikan pikiran, tulisan.
By DV on Feb 18, 2008 | Reply
Salam kenal dari Jogja, Pak!
Apa buku Bapak dengan judul “Menulis Mari Menulis” ada dijual di Jogja? Kalau ada dimana ya..?
Terimakasih sebelumnya!
***Sama-sama. Biasanya sih ada … kalau Menulis Sangat Mudah … dah habis. Oh ya penerbitnya kan di Jogya: matakhatulistiwa@yahoo.com.
By Yari NK on Feb 18, 2008 | Reply
Strategi juga perlu untuk mengembangkan kemajuan suatu bangsa. Membaca alam lalu menggunakan akal fikiran dan imajinasi serta kreativitas yang diberikan oleh Allah swt guna menciptakan inovasi2 teknologi merupakan strategi yang tidak dapat dielakan agar sebuah bangsa menjadi bangsa yang maju, namun tentu sisi2 moral juga harus dibangun agar tidak tubuh menjadi bangsa Eropa di abad pertengahan di mana perkembangan intelegensia yang pesat tidak didukung oleh perkembangan moral hingga timbul semangat imperialisme yang berujung kepada penaklukan bangsa2 lain.
Kemajuan ekonomi saja dari penanaman modal asing dan dalam negeri saja?? Itu tidak cukup! Barang yang diproduksi harus mempunyai nilai tambah yang tinggi! China yang kini perekonomiannya tumbuh pesat sadar bahwa negara mereka tidak akan ada apa2nya jika mereka hanya bisa menjual beras dan kedelai saja, mereka harus bisa menjual kamera digital, komputer, sepeda motor, mobil bahkan jasa peluncuran satelit! Mereka sadar akan pentingnya alih teknologi.
Yah, lagi2 kita merenung, wong nanem kedelai saja kita nggak becus kok! Ya udah…. seperti yang pernah saya utarakan, yuk manfaatkan maksimal potensi kita yang ada, jangan melihat masa lalu, tapi tataplah masa depan. Namun masa depan yang ditatap memerlukan langkah yang tepat dan tidak salah jalan yang hanya membanggakan kekayaan alam semata. Mendingan kita punya teknologi untuk membor minyak tapi tidak punya cadangan minyak mentah daripada kita punya banyak minyak mentah tapi tidak punya teknologi untuk mengebornya seperti Jepang. Syukur2 punya cadangan minyak yang banyak dan punya teknologi untuk mengebor minyak seperti Amerika Serikat. Emangnya ngebor minyak cuma pakai cangkul dan sengkop aja??? hehehe…
***Ha ha … ini saya anggap bagian dari tulisan saya he he
By Inaz on Feb 18, 2008 | Reply
Setiap buka warnet saya selalu buka website Bang Ewa, akhirnya saya “terprovokasi” untuk menulis pengalaman pribadi tentang menulis. Saya berharap komentar Bang Ewa atas tulisan saya, terima sebelumnya atas kunjungan ke http://danummurik.wordpress.com
***Alhamdulillah. Yap, saya dah berkunjung … ajarin dong nulis dalam bahasa Inggris. Jadi, sampeyan kalau komen bahasa Inggris. Gimana?
By asmia ulfah (A1A106031)sejarah 06 on Feb 18, 2008 | Reply
jujur pa, sbelum’y saya lom pernah masuk ke web bapa, tp setelah browsing”an eh ketemu web bapa, tu juga awal’y nyari bahan,,,,he
ternyata lengkap ya tulisan bapa, ampe masalah sejarah juga ada,,
emang bener tuh pa, tanpa adanya mbaca dan menulis, kita hanya sebuah Hard Disc kosong seperti “drum” yang gung-gung gitu deh bunyi’y,,,hehe ;]
tapi saya juga bingung dengan budaya kita(uknum) yang malas membaca dan nulis, padahal membaca itu kan ngga mesti dengan buku-buku mahal, membaca lewat “bungkus(koran)” nasi pun bisa, ,
soo kita liat aja pa entar jaman yang akan datang, apakah negeri kita tercinta ini (khusus’y banua) agar dapat bersaing dalam ilmu pengetahuan(biar dikata’in ketinggalan 20 tahun)
=salut untuk pa ersis=
***Pas
By funkshit on Feb 18, 2008 | Reply
duh sayangnya saat ini saya males untuk membaca AlQuran, padahal semua ilmu ada disitu
*kecapekan baca blog duluan seh.. hehehehhe
***MUlai saja dulu … ntar jadi biasa, dan … jadi nyaman.
By Riduan Saidi on Feb 18, 2008 | Reply
Riduan Saidi (A1A106048)
Aduh bingung juga. Mo komentar apa. Pertama masuk, sendirian dari angkatan 06, eh langsung ditanya. Habis saya baru kali ini ngambil mata kuliah bapak, jadi untuk masalah kaya gini masih pra-sejarah,,,he he he. Tapi saya salut dengan cara kuliah bapak yang modern. Emank kita orang Islam disuruh baca,baca,baca dengan turunnya ayat Al-Qur’an pertama. Dulu waktu orang Islam berjaya dengan mendirikan Univesitas-Universitas di Andalusia, sehingga banyak orang Barat belajar. Sekarang kebalikannya, kita yang belajar. Seperti kata bapak good bye pra-sejarah.
By Akhmad Fauji (NIM:A1A105029) on Feb 19, 2008 | Reply
Memang pa sepertinya sudah mendarah daging di masyarakat kita ini yang menganut budaya pemalas,dan maunya selalu menikmati kemewahan2 belaka tanpa mau berusaha.Terlebih-lebih kehidupan para remajanya yang hobinya rame2,hidup dgn gaya ngikuten trend2 yang ga bakalan ada habisnya.bisa di bilang pengen nya mau jadi MANDOR KAWAT mulu(kerja kendor makannya kuat).Bahkan mereka punya obsesi muda poya2,tua kaya raya,mati masuk syurga.Mustahil banget kan?
Yang parahnya sifat seperti ini juga merambah pada pelajar2 kita,terlebih-lebih para mahasiswa sebgai calon intelek dan penerus perjuangan bangsa.Apalagi mahasiswa FKIP sbgai calon pengajar generasi bangsa.Yang males membaca,apalagi mau menulis.kekampusnya saja cuma bawa buku selembar.apalagi mau beli buku jihad pisabilillah deh.Tapi kalo urusan gaya ga kalah orang.Dari pakayannya,HP nya,kendaraanya bagus2 semua.
Mungkin memang aga susah mengubah kebiasaan yang sudah membudaya ini.Seperti pribahasa orang tua dahulu NGALIH MAMBUANG BATU DI PALATAR(ngalih mambuang laku mun sudah dasar).Tapi setidaknya mulai sekaranglah kita sebagai mahasiswa untuk sadar diri guna kebaikan kita dan bangsa kita,terlebih2 kita yg mhsiswa FKIp ini sebagai calon pengajar.Barang kali mulai dari kita sendiri kita terap kan rajin membaca dan menulis,dan setelah kita jadi guru kta tanamkan pada murid2 kita dan seterusnya.Barang kali kita mahasiswa sejarah bisa membuat sejarah memajukan masyarakat kita.HIDUP SEJARAH!!!!!
By Novi Ariyanti (A1A106023) on Feb 19, 2008 | Reply
Assalamualaikum pa…
Susah bgt ya msk ke web bp, tp itu terbayar stlh membaca tulisan-tulisan bp yg sarat akan makna tnp meninggalkan segi ajaran agama. Namun, cara pemilihan kata yg bp gunakan msh terlalu tinggi shg membuat saya sdkt susah utk memahaminya, mklum otak sy msh prasejarah pa,he…
Sukses selalu buat bp.!
By Tria Sakti Lianti (A1A105004) on Feb 19, 2008 | Reply
Dewasa ini, masyarakat indonesia banyak memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk kepentingan pribadi masing-masing. penggunaan teknologi yang canggih seperti laptop merupakan pertanda masyarakat modern. tapi jauh dari itu banyak masyarakat indonesia yang gaptek akan kecanggihan teknologi dikarenakan masalah finansialnya. merujuk dari pernyataan bapak tersebut, memang sangat menyedihkan kalau dizaman yang serba modern ini ternyata di antara kita masih ada yang terjerat dalam zaman pra-sejarah yang membelenggu masyarakat kita. kuranganya akan pemahaman makna belajar merupakan salah satu penyebab dari sekian banyak penyebab. hal ini dikarenakan otak manusia Indonesia “terkontaminasi” akan pengertian belajar yaitu sesungguhnya belajar adalah kegiatan pembelajaran di sekolah yang bersifat Formal, padahal sesungguhnya belajar disekolah ataupun di kampuz yang kebanyakan hanya mendengar ceramah guru atau dosen membuat kita ngantuk. padahal di luar sana juga banyak cara untuk belajar termasuk dengan “membaca” walaupun tidak pandai menulis. selain dari pada itu pikiran masyarakat indonesia adalah untuk dapat mempertahankan hidup dan bagaimana caranya agar dapat makan hari ini.
Maka dari itu, perlu bantuan dari semua pihak yang berkepentingan untuk “memasyarakatkan” masyarakat yang gemar akan membaca dan menulis. diharapkan juga pemerintah kedepannya lebih memperhatikaan dan mengutamakan dunia pendidikan seperti dengan memperbanyak sekolah-sekolah gratis dan memperbanyak perpustakaan keliling di setiap pelosok negeri. Di samping itu pemerintah juga harus memperhatikan kualitas dari guru-guru baik SDMnya maupun Aspek kesejahteraannyav Agar cita-cita luhur bangsa indonesia bisa tercapai dan bangsa Indonesia kedepannya menjadi salah satu bangsa yang maju di segala aspek kehidupannya. Amiiiiiiiiiiiiieeeennnnnnnnnn.
By Fahrian hefni on Feb 20, 2008 | Reply
Tema Manusia Prasejarah dan Jahiliayah, boleh juga tuh..!
Akan tetapi yang kita perlu sadari bahwa kita sebagai seorang manusia di ciptakan oleh allah swt sebagai seorang khalifah dimuka bumi sudah tentu diberikan kelebihan - kelebihan yang lebih dari mahluk yang diciptan selain kita, yakni kita diberikan akal oleh allah swt sebagai modal kita untuk menjadi khalifah.
Selain diberikan akal, kita juga diberikan sebuah aturan -aturan yang bertujuan untuk mengontrol kegiatan manusia dimuka bumi yakni al- Qur’an dan sunah dari junjungan kita nabi muhammad saw.
akan tetapi deengan majunya teknologi dan arus globalisasi kita sebagai seorang insan yang diciptakan tidak sadar diri, lebih -lebih sering melangar aturan yang telah di buat oleh allah swt.
ngaku seorang yang beragama tapi kelakuan lebih parah dari jaman jahilayah…
Apa jadinya kita klo kelakuan lebih parah dari monyet…
hehe…
By Muhammad Hidayat (A1A105005) on Feb 20, 2008 | Reply
Assalamualaikum wr.wb…
Sebelum kita berbicara atau memberikan komentar hendaknya kita mengucapkan salam terlebih dahulu karena sebagai umat muslim kita wajib melakukannya.
Menyoal tulisan diatas nampaknya kita sedang dalam proses pembodohan oleh bangsa-bangsa barat hal itu terlihat sendiri dari tulisan saudara diatas yang mengatakan kita sering menikmati produk luar ketimbang produk asli buatan sendri.
Saya sependapat dengan saudara dimana kita kehilangan jati diri sebagai warga negara Indonesia, kita sebagai makhluk yang diberikan akal untuk berpikir oleh Allah SWT pasti dapat merubah hal tersebut ya caranya seperti yang saudara bilang yaitu membaca, kita sudah dapat melihat contoh nyata ketika Kristen mempelajari buku-buku tentang ilmu pengetahuan yang dikarang oleh filsafat-filsafat Islam mereka berhasil mendominasi separuh dunia ini, berkaca dari itulah kita mungkin dapat meniru hal tersebut dengan tujuan memajukan sendiri bangsa kita agar tidak terkebelakang.
Cara pertama yang mudah adalah dengan menghargai penemuan-penemuan lokal (local genius) dimana merupakan hasil karya anak negeri sendiri, adakalanya penemuan-penemuan lama berguna dalam kehidupan kita sekarang, jangan terlalu mendewakan IT karena yang membuatnya juga bukan orang kita, hanya saja dilihat dalam konteks berbeda.
Dalam hal membaca dan menulis kita hanya memerlukan otak untuk berfikir dan tangan untuk menulis kita tidak perlu lagi peralatan canggih yang lain, hanya saja sekarang ini teknologi lebih mempermudah dalam proses tersebut.
Untuk itu yang perlu ditekankan adalah motivasi seseorang tersebut untuk maju bukan pada teknologi yang diperlukan, karena itu kita harus bersyukur telah mendapatkan otak yang dapat kita gunakan untuk berfikir toh teknologi sekarang ini juga lahir dari pikiran manusia.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
By NURIL NAJMI on Feb 20, 2008 | Reply
NURIL NAJMI (A1A105023)
Membaca tulisan Bapa saya menjadi lebih bersemangat dalam membaca dan menulis sebuah pikiran,memang kita sebagai generasi muda sekaligus sebagai calon pendidik kudu wajib dituntut membaca dan menulis untuk membangun suatu peradaban agar tak ketinggalan jauh daripada negara-negara tetangga yang sudah maju,seperti negaranya Mbah Einstein..Tanpa adanya kemampuan menulis dan membaca maka kita sebagai seorang manusia akan tertinggal jauuh dibandingkan manusia lainnya.apalagi dimasa sekarang,di zaman modern dan persaingan era globalisasi yang sangat ketat seseorang harus dituntut mempunyai kemampuan menulis pikiran dan membaca agar dapat membangun sebuah peradaban.Tetapi kita dihadapkan pada sebuah masalah,banyak orang acuh tak acuh dan tidak peduli pada masalah ini,padahal menulis sebuah pikiran dan membaca “dirumah sendiri” dengan kemampuan yang lebih baik mempunyai manfaat yang luar biasa dalam membangun sebuah peradaban,menjadikan kita maju selangkah dari negaranya Mbah Einstein.selain dari itu,kita dapat mengembangkan kemampuan baik untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan menerapkan dalam kehidupan kita sehingga kita tidak menjadi manusia purba meskipun berada dan tinggal di zaman modern….Sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan tidak akan sampai pada generasi akan datang tanpa sebuah tulisan.mari kita budayakan membaca dan menulis…….
By DEWI KOMALASARI on Feb 20, 2008 | Reply
NAMA :Dewi komalasari
NIM :A1A105002
sedikit membanggakan diri sebagai umat muslim,khususnya saya sangat merasa bangga sekali karena mempunyai sebuah bukti hasil peradaban islam yaitu al qur’an,yang awalnya merupakan wahyu yang diberikan allah swt untuk nabi muhammad yang diturunkan ayat demi ayat dengan secepatnya sahabat nabi menulisnya dipelepah kurma,daun dan juga ditulang,apalagi didalam al qur’an sangat lengkap dijelaskan mengenai kehidupan mulai dari ekonomi,hukum,sosial,dan sebagainya…sebagai manusia muslim kita patut membanggakan diri toh kita sudah punya bekal,tinggal kitanya sendiri untuk mengembangkannya agar tidak kembali kezaman jahilliyah.mudah-mudahan umat muslim lainnya sadar akan hal tersebut sebab peradapan islam sudah lebih tinggi dari peradapan barat.
By Ganda Resnadi A1A105012 on Feb 20, 2008 | Reply
Bismilahirrahmanirrahim.
Jadi minder saat membaca tulisan ini. Kita yang punya kitab suci Al Qur’an tapi kita juga yang tertinggal. Apa hanya Nabi Muhammad SAW yang bisa merubah keadaan saat jaman jahilliyah? Padahal beliau sudah mengajarkan cara-cara yang baik dalam kehidupan. Malah sebaliknya, bangsa -bangsa barat yang baru-baru saja mempelajari Al Qur’an bisa lebih dapat menerapkan dan mengembangkan ilmu yang seharusnya kita yang mengalami perkembangannya.
Nggak ada muslim yang ingin kembali ke jaman jahilliyah, karena sudah “sedikit” mengetahui keadaan pada masa itu. Tapi pemikiran muslim yang pada masa kini lebih dipengaruhi oleh kebudayaan negatif bangsa-bangsa barat yang “mungkin” sengaja disebarkan kepada ummat muslim menyebabkan kita terbuai dengan hal negatif tersebut.
Mari berpikir dan belajar agar tidak menjadi kafir karena kebodohan, oke coy???
Wassalam..
By DINA YULINDA (A1A105019) on Feb 20, 2008 | Reply
Menilik pada peristiwa sejarah, islam pernah mereguk manisnya kejayaan dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Bahkan, Bangsa Eropa ( Non Islam ) mencapai puncak kekuasaanya dengan ilmu pengetahuan yang dipelajari dari orang islam..
Intinya kekuasaan, kejayaan, bahkan kekayaan dapat diperoleh dengan mudah bermodalkan ilmu pengetahuan.Dan cara mudah memperoleh ilmu pengetahuan yaitu dengan suka membaca dan hobby menulis.Hal yang begitu mudah di ucapkan dan begitu sulit dipraktekkan.
Entah apa yang terjadi pada masyarakat kita, membaca dan menulis seakan jadi hal yang begitu berat dilakukan,mereka (anak muda khususnya) lebih doyan nongkrong di Mall atau pun melakukan hal-hal yang lagi trend..parahnya anak muda kita ( di Banjar Khususnya ) belum sanggup menjadikan membaca atau menulis sebagai suatu trend ataupun kebiasaan yang mengasyikkan.
membaca dan menulis seakan jadi hal yang langka dan sangat sulit di zaman sekarang ini, padahal hal itu sudah kita alami saat masa pra sejarah…ko bisa terulang lagi ya..Menyedihkan..padahal negara kita saat ini sangat membutuhkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan dan mampu mengembangkannya, guna membangun bangsa ini menjadi lebih maju kedepannya. dan kemajuan bangsa dapat kita mulai dengan mengenal dan mempelajari lebih dalam mengenai bangsa kita. Semuanya dapat kita peroleh dengan membaca dan menulis serta menjadikan dua hal tersebut suatu yang wajib bagi kita generasi muda khususnya, sebagai generasi penerus bangsa.
By M.AGUSTIANNUR (A1A105032) on Feb 20, 2008 | Reply
Membaca dan menulis sangat penting karena ilmu pengetahuan yang akan didapat, tapi yang perlu kita pahami dari wacana “Menulis : Manusia Prasejarah dan Jahiliyah” adalah bagaimana kita untuk mengamalkan kegiatan itu sehari - hari ditengah sibuknya urusan serta banyaknya pengaruh moderenisasi asing yang masuk, oleh karena itu janganlah kita kembali kemasa dimana tulisan dan bacaan itu belum ada/dilupakan caranya dengan banyak membaca dan menulis sesibuk dan sebesar apapun pengaruh yang menghalangi.
By dwi setiowati (A1A105027) on Feb 20, 2008 | Reply
baca…kata yang selalu didengungkan oleh bapak setiap memberi kuliah memang sangat bagus. saya yakin kata itu keluar dari lubuk hati bapak yang paling dalam, bapak mengatakan hal tersebut agar mahasiswa bapak menjadi orang-orang yang lebih baik (saya g merayu atau menjilat lo pak). tapi yang seperti kita ketahui hal yang paling malas dilakukan oleh manusia terutama saya adalah membaca. melihat tulisan yang bertumpuk-tumpuk membuat saya pusing apalagi bila ada kata-kata yang asing dalam kamus otak saya. membuat saya makin malas untuk meneruskan kegiatan membaca tersebut. tapi saya juga tidak dapat memungkiri dampak dari membaca, mendapat tambahan ilmu, mengenal dunia lebih luas,dapat mempermudah kita bersosialisasi dengan orang lain dan juga memicu munculnya ide-ide yang dapat digunakan untuk membangun diri sendiri ataupun masyarakat untuk menjadi lebih baik.
salah satu dampak dari membaca memang adalah kemampuan untuk menuangkan ide-ide kita dalam tulisan. seperti kata bapak, tulisan membuat orang dapat terlihat kesalahannya. mungkin hal tersebut yang membuat orang enggan menulis, contohnya saya. sudah sifat alami manusia selalu ingin dianggap baik dan benar oleh manusia lain, mereka tak ingin dipersalahkan. tapi seperti yang saya pelajari manusia sejarah adalah manusia yang mengenal tulisan. bila hal itu jadi patokan maka agar saya dianggap manusia sejarah, maka saya harus menulis…kan (walaupun masih dalam proses dan tidak untuk diterbitkan)
By diah eka rini (A1A105011) on Feb 20, 2008 | Reply
hendaknya bangsa kita yang tercinta ini sadar akan perlunya suatu kebangkitan. kita harusnya malu apabila masih di bilang orang jaman prasejarah. dan ironisnya bangsa kita selalu bangga dengan julukan negara yang penduduknya paling banyak penganut agama islam seluruh dunia tapi masih belum mengerti isi ayat pertama yang turunkan ALLAH SWT di dalam Al quran yang menyerukan umat islam untuk iqra iqra dan iqra. sulit bangsa kita untuk bangkit dari keterpurukan karena kita sendiri masih senang dengan pembodohan dan racun westrenisasi yang di berikan pada kita. beberapa orang yang sudah sadar memang punya semangat untuk meneriakan kebangkitan tapi tidak punya nyali untuk melakukanya. saya sendiri pun merasa malu karena tidak punya nyali itu,padahal sudah berapa waktu yang terbuang dan berapa lama lagi waktu kita untuk lepas dari jaman prasejarah. kita memang berbudaya dalam bicara tapi tidak dalam menulis. sering kali kita berharap kepada generasi muda agar dapat memperbaiki nasib bangsa kita kedepannya.namun sebenarnya yang kita hadapi sekarang ini adalah krisis panutan,yang mana seorang guru tidak menjadi inspirasi bagi seorang murid dan seorang dosen hanya menjadi cibiran mahasiswanya karena hanya “OMDO” alias omong doang.hal ini merupakan PR besar bagi bangsa kita. hendaklah budaya menulis di terapkan juga untuk para panutan kita agar generasi akan datang siap untuk membebaskan bangsa kita dari jaman prasejarah. AAAAAAMMMIIIINNN…………..
By muridbodoh on Feb 20, 2008 | Reply
sebelum banyak mengeluarkan tulisan, apalagi buku tentang menulis, rasa-rasanya pak dosen ersis perlu berlajar menulis lagi deh. sebab, komentar pak ersis di banyak blog yang saya perhatikan, kalau nulis kata “nggak” pasti selalu “ngak”.
saat masih SD di Jakarta, saya diajari guru saya: kata “nggak” itu berarti tidak, tapi kata “ngak” di kamus bahasa indonesia tidak ada pak, terima kasih…
By HAMIDAH ULFAH (A1A105021) on Feb 20, 2008 | Reply
Sudah sepantasnya saya sebagai seorang muslim bangga terhadap perjuangan junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW,karena Beliau lah yang di utus pertama kali untuk menyampaikan wahyu yaitu alqur’an yang didalamnya memuat segala aspek kehidupan yang ada didunia ini.Padahal saat alqur’an itu diturunkan Nabi Muhammad tidak bisa membaca dan menulis,tapi dengan kegigihan beliau akhirnya bisa juga membaca dan menulis,dan buktinya sudah jelas terekam didalam alqur’an.Tetapi bila melihat pada kehidupan kita sekarang,kita selalu ketinggalan dengan negara-negara lain yang sudah jauh lebih maju,tentunya kita tahu apa penyebabnya?ya,.karena tidak lain dan tidak bukan kita malas untuk membaca dan menulis,seandainya semua penduduk bangsa ini rajin membaca dan menulis tentunya kita tidak akan lagi mengimpor beras dari vietnam atau yang lainnya lah,kita bisa mempergunakan keahlian yang kita miliki,guna membangun dan memajukan bangsa tercinta ini.Mulailah dari sekarang untuk belajar,belajar,dan belajar agar kita seperti tidak hidup kembali pada zaman kebodohan(jahiliyah).
By KAMSINAH on Feb 20, 2008 | Reply
Manusia pra sejarah dan jahiliayah,mempunyai arti yang sangat luas tergantung dari mana kita mengambil sudut pandang,kalau melihat kebelakang atau sejarah peradaban manusia zaman dahulu memang sangat banyak manfaat yang dapat kita ambil,kita dapat belajar dari kejadian masa lampau.Dizaman Rasulullah misalnya dimana penuh dengan keserhanaan,zaman belum canggih,tetapi kemajuannya sangat pesat dan berarti,Agama Islam memerintahkan kepada umat muslim melalui perantara nabi Muhammad saw hal yang pertama dan penting adalah Iqra yaitu Baca.Dengan semua ini maka Rasulullah dapat mengumpulkan wahyu dari Allah SWT dalam bentuk tulisan yaitu Alqur’an.Membaca dan menulis adalah langkah pertama dan modal kita untuk mencapai sesuatu.Tapi dizaman sekarang ini kayanya membaca adalah hal yang membosankan dan jarang sekali untuk dilakukan,entah apa yang menjadi sebab utamanya,mungkin salah satunya karena kemajuan teknologi yang canggih yang mengakibatkan orang-orang malas untuk baca.Bagaimana negara kita mau maju kalau orang-orangnya malas membaca dan tak banyak mempunyai pengetahuan,padahal itu yang dibutuhkan negara kita sekarang ini,kita harus sadar kita hidup dizaman modern,jadi kita harus berpikir kedepan untuk kemajuan negara dan diri kita sendiri,maka itu jangan kembali ke zaman prasejarah;dimana orang-orang belum mengenal tulisan,karena itu jadikan lah membaca dan memulis sebagai kebutuhan kita tanpa merasa ada paksaan.
By SRI WAHYU ASTUTI on Feb 20, 2008 | Reply
Menurut saya, seperti apa yang dipaparkan oleh artikel bapak, manusia Indonesia memang masih seperti dibawah jauh dari apa yang diharapkan. lebih dalam membangun peradaban. Lihat saja, cap yang diberikan kepada kita, yaitu sebagai salah satu Negara konsumtif. Dipandang dari sisi lain, masyarakat memang sudah memenuhi daripada kewajiban membaca dan menulis, tapi dari sisi yang berbeda, sesuai dengan cap yang kita terima, bangsa konsumtif.
Lihat saja, kita (masyarakat pada umumnya maksudnya) sangat gemar menulis, apalagi para pelajar dan lain sebagainya. Tapi dalam hal ini mereka menulis dari apa yang telah disampaikan dan apa yang sudah terpampang jelas dibuku pelajaran mereka. Dan juga, hampir seluruh kalangan masyarakat sangat suka membaca, tapi yang dibaca adalah majalah-majalah dan berita-berita surat kabar yang kebanyakan berkaitan dengan gosip, atau sekedar berita sport yang tidak mereka peroleh dari audio-visual.
Jadi, saya mendukung cap sebagai akan (mungkin) terperosok ke kategori makhluk prasejarah karena bukannya jarang membaca atau menulis, tetapi pantaskah yang kita baca dan tulis tersebut untuk keadaan kita pada saat ini, terlebih di era persaingan global pada saat ini. Bukannya kita munafik tapi memang begitu adanya.
By hadi rahman (A1A106024) on Feb 20, 2008 | Reply
kegiatan membaca dan menulis memang hal yang sangat penting untuk dibudayakan, karena dengan membaca dan menulis kita bisa mendapatkan ilmu dan menularkan ilmu. orang yang senang membaca, insya Allah maka ia akan terbebas dari kebodohan atau kejahiliyahan. maka aktivitas membaca dan menulis yang telah dilakukan nenek moyang kita dulu sangat berpengaruh karena dengan itu kita, bangsa Indonesia (khususnya kita di banua) terbebas dari kebodohan dan kejahiliyahan. hal itu harus terus dibudayakan agar bangsa kita tercinta ini mempunyai SDM yang berkualitas dan berkompeten di bidangnya.
By Santy Dwi P (A1A105024) on Feb 20, 2008 | Reply
Menulis dan membaca adalah dua hal yang amat penting, namun sayangnya banyak orang yang malas untuk melakukannya. padahaldengan membaca dan menulis, kita dapat menambah pengetahuan dan menambah kapasitas diri kita, kita memang harus mengikuti kebiasaan orang barat yang senang menulis dan membaca, karena dengan kebiasaan mereka itu,mereka dapat menjadi bangsa yang besar. setuju buanget sebagai generasi muda must say goodbye with manusia prasejarah and manusia jahiliyah,hare genee membaca, menulis dan meguasai Teknologi itu penting.
Hm g salah kalo kita mengagumi Dan Brown, J.K. Rowling, American Idol dan hal -hal lain dari barat karena menurut saya karya - karya mereka memang worth it untuk dikagumi,dan saya memang sangat suka sekali dengan hal - hal dari barat, karya - karya mereka membuat saya terpacu untuk bisa membuat hal yang bagus juga, yang berguna bagi bangsa kita boleh mengagumi karya - karya mereka,tetapi kita juga harus mampu melakukan hal yang hebat seperti mereka dan mau menghargai karya bangsa kita sendiri, so menulis, membaca, menguasai Teknologi, cinta bangsa, g malez, modal kita untuk membuat kita menjadi manusia yang lebih berkualitas, and bukan jadi manusia jahiliyah pastinya:p
By hanik puspitasari (A1A105047) on Feb 20, 2008 | Reply
bismillah…..
orang jahiliah merupakan orang yang hidup tanpa terikat or mengikat diri terhadap suatu aturan terutama aturan dari sang Khalik.masyarakat jahiliah yg kita kenal selama ini adalah masyarakat yg ada di zaman para nabi.lantas percayakah kita apabila dikatakan bahwa pada saat ini masih ada masyarakat or orang-orang jahilah??? mari kita analisis,kalau dulu orang-orang malu punya anak perempuan dan menguburkannya hidup-hidup ketika baru lahir kedunia. sekarang, jangankan anak perempuan, anak laki-laki pun tidak segan-segan dibunuh, bahkan ketika masih berada dalam rahim sang ibu, karena malu melahirkan anak yang tidak punya bapak or takut tidak dapat membiayai hidup sang anak kelak.saya rasa yang dilakukan oknum masyarakat saat ini yang terkenal sudah “modern dan pintar” lebih bejat dari pada masyarakat jahiliah masa lalu.tidak hanya itu, saat ini tidak jarang orang terbiasa hidup dengan mencuri, menipu,korupsi, menyembunyikan kebenaran, memakan hak anak yatim,mengumbar aurat, berzina, menahan hak rakyat dan masiiiiih banyak lagi kalu dijabarkan disini. sebenarnya bukan tidak tahu, tetapi tidak mau tahu dan peduli!! sebab, saat ini sudah sangat banyak fasilitas yang bisa menunjang kita untuk banyak belajar ilmu agama apalagi ilmu umum, cuma fasilitas-fasilitas tersebut malah membuat kita manja dan terlena.
oya pak, mengenai menulis, membaca, berkarya dan melakukan perubahan, itu bukan tidak bisa. nampaknya anak-anak sekarang kehilangan motivasi untuk kearah itu, di prodi sejarah saja hanya beberapa dosen yang selalu mengajak menulis dan berkarya. trus ditambah lagi dengan media masa yang saat ini seakan menjadi tontonan wajib masyarakat, sangat jarang mengajak dan memotivasi kearah perubahan. di daerah kabupaten tempat saya tinggal,kebanyakan anak-anak yang antusias dan bercita-cita untuk menjadi artis, penyanyi…..memang, pada saat ini seolah-olah menuntut kita untuk menjadi orang yang terkenal dengan terjun kedunia -intertainment- begitu yang saya tangkap dari acara-acara te-ve, terbukti dengan banyaknya audisi-audisi untuk menjadi penyanyi, pelawak, pemain sinetron de-el-el deh, pokoknya “terkenal”. ya, itu mungkin sedikit realita yang dapat kita tangkap ketika nonton te-ve. ditambah lagi dengan minimnya penghargaan yang diberikan oleh masyarakat terhadap hasil karya yang menjurus pada mengajak berfikir, bergerak dan melakukan perubahan. intinya, saat ini ada ketimpangan penghargaan yang diberikan masyarakat terhadap seorang artis dengan penulis, seorang penyanyi dengan guru pelajaran disekolah atau guru ngaji. entah apa yang sedang terjadi dengan masyarakat kita saat ini? sampai bisa lebih menghargai penyanyi ketimbang guru-guru kita yang ga kalah cape dalam hal tarik suara untuk menjelaskan pelajaran………
kalo kita sedikit melihat sejarah mas lalu, berbeda banget dengan ketika islam masih memimpin dunia, penghargaan terhadap seorang penulis sangat sebanding, yaitu emas seberat buku yang ditulisnya. subhanallah…
trus, emang sewajarnya kita masyarakat indonesia yang juga mayoritasnya adalah muslim, untuk segara bangkit dan berhenti untuk bergantung pada luar negeri apalagi negari-negari imperialis. seperti yang bapak sebutkan diatas, bukankah kita punya potensi untuk menghasilkan beras dan buah-buahan unggul dari tanah kita sendiri?? lantas mengapa mesti mendatangkannya dari luar negeri………?
mungkin…zaman prasejarah sudah berlalu, tetapi masyarakat jahiliyah belum terhapus. hanya saja, sekarang sedikit berganti nama yaitu JAHILIYAH MODERN.
By Erina Marsiana (A1A105014) on Feb 20, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum Pak…
Memang sejauh ini kita bisa melihat dan menilai masyarakat Indonesia khususnya generasi muda sungguh masih kurang membudayakan yang namanya membaca, karena itu sudah menjadi akar budaya bangsa kita dan tidak adanya kemauan dari pribadi itu sendiri untuk belajar.
lalu..mengapa sekarang pola pendidikan di dunia Islam sangat ketinggalan, yang bisa dibilang masuk katagore manusia jahiliyah ataupun manusia prasejarah, ya tentu saja banyak faktornya. namun, yang paling penting saya kira visi Islam untuk memimpin dunia sudah redup sekali di hati umat sendiri, apalagi di hati pemimpin negara, karena kalau kita punya visi memimpin dunia, kita jadi berfikir apa yang harus kita kuasai, lalu apa yang harus kita lakukan, kalau sekedar ingin jadi buruh saja, ya itu tadi tidak usah berfikir lebih luas dengan membaca untuk menambah pengetahuan. namun,bisa diibaratkan kalau kita ingin memimpin dunia, kita tentu perlu lebih banyak dan lebih menekankan membaca dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.
maka dengan berfikir bagi saya adalah salah satu kunci dalam keniscayaan hidup.
By Haryani A1A105015 on Feb 20, 2008 | Reply
Iqro’bismirobbikalladziikholaq………..So!klo membacanya menjurus kehal-hal yang mesum n bisa mengkaratkan otak n bisa memalingkan diri dari ke Maha -an Alloh,jelas!gw ga setuju.jd menurut gw ayat itu emang sangat perlu diteruskan.
Sekali lagi gw emang setuju banget dengan kebudayaan membaca,menulis spt yang diungkapkan EWA. Sebagai seorang muslim jujur gw malu banget klo masih ada orang Islam yang buta huruf,apalagi ga bisa membaca ayat-ayat Agung Alloh.
soal “menulis”…….Ewa is my motivation,ce ileeee,he he. but gw blm pernah me “loncing” tulisan gw.
truzz klo pengen jd masyarakat yang modern jg harus modernin tu otak/Pemikiran ,so pasti dgn pemikiran sbgmn yang telah difirmankan oleh Alloh SWT,(cz otak generasi muda sekarang otaknya emang empot-empotan plus gaya’x bak manusia purba), So!membaca dan menulislah biar jd manusia yang sebenarnya(peringatan bwt gw sndr)
thanx bngt EWA…………….
By Linda Araini A1A106008 on Feb 20, 2008 | Reply
weitch, saya salut sama tulisan bpa, bagus dan menarik untuk dibaca. Harap maklum ya pa, saya ni baru 1 baca tulisan - tulisan bpa jadi lum terbiasa dch.
lo menurut saya, apa yang bp tulis t benar semua. Lo g bisa baca dan tulis bisa2 kita jadi bodoh dan orang yang pintar dari kita bisa bodohin kita donk hehe….
kaya kata Tantowi Yahya : Orang yang malas membaca dan menulis dekat dengan kebodohan, sedangkan kebodohan dekat dengan kemiskinan.
gitu dech menurut saya pa hehehe…..Benar g pa ?
By Helma novieanty(A1A105007) on Feb 20, 2008 | Reply
Menurut pendapat saya,setelah membaca artikel tersebut membuka wawasan saya bahwa betapa bodohnya masyarakat khususnya Indonesia yang berkiblat pada peradaban barat yang menerima mentah-mentah semua pengaruh barat tanpa ada filternya.Sehigga akal fikiran,kreatifitas,dan pengetahuan masyarakat Indonesia terbelenggu akan hal-hal yang berbau ke barat-baratan.Oleh karena itu manusia masyarakat Indonesia saat ini tak ubahnya seperti manusia prasejarah dan masyarakat jahiliah dahulu kala.Memang benar cara membaca dan menulis dapat membuka fikiran dan wawasan kita akan terbukanya suatu kebenaran bahwa kita sudah banyak di ” bodohi” oleh bangsa-bangsa barat pada akhirnya kita dituntut untuk memilah-milah yang mana yang sesuai untuk kita dan yang mana yang tidak.Akan tetapi kita tidak menutupi juga dengan adanya modernisasi di masyarakat kita dengan masuknya berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi.Namun bagaimanakah cara kita untuk menghilangkan budaya malas yang terlanjur melekat pada kehidupan kita sehari-hari? Semoga kita segera insyaf dan tersadar dari penjajahan modern dengan sering-sering membaca dan menulis….
By Wiwik Norliyana A1A106006 on Feb 20, 2008 | Reply
Saya baru pertama kali membaca tulisan bapak. Menurut saya apa yang bapak tulis itu benar. Pada jaman seperti sekarang ini, anak muda tidak begitu peduli dengan ilmu pengetahuan. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengn jalan2, ngumpul bareng teman2, mojok ma pacar dll yang tentunya tidak begitu berarti jika dibandingkan dengan mengerjakan suatu hal yang berhubungan dengan buku. jada gak heran klo kita mudah sekali dibodohi. ya itu saja komentar dari saya.
By toni februari ( A1A105038 ) on Feb 20, 2008 | Reply
Tulisan bisa menjadi pembuktian bahwa manusia dapat eksist dan peka dengan perkembangan zaman,,salah satu cara agar pikiran kita bisa dibaca orang dalam bentuk yang berbeda,, yaitu dalam bentuk tulisan..
By ihya ul ihsan (A1A106033) on Feb 21, 2008 | Reply
Ass…
Mohon maaf jika minggu kemarin saya tidak hadir dalam mata kuliah bapak.
Memang yang membedakan pra-sejarah dengan sejarah hanyalah TULISAN.Orang yang bisa menulis dianggap sudah modern.Tapi sebutan sebagai manusia modern harus didukung dengan kemampuan bisa menulis dan membaca.Jika manusia tidak memiliki kemampuan ini maka tidak bisa disebut sebagai manusia modern.
Wass…
By Septha Yudha Herliandita (A1A1050049) on Feb 21, 2008 | Reply
Memang sich menilik dari pernyataan bapak di atas, manusia Indonesia sekarang ini masih banyak yang terjembab dalam masa Pra Sejarah, terutama dalam konteks menulis maupun membaca. Adanya pergeseran pola piker masyarakat Indonesia dewasa ini yang cenderung konsumtif akan kebutuhan barang-barang yang sifatnya “Tersier” dan celakanya itu sudah menjadi trend dan mengakar kuat di kalangan masyarakat kita. Materi sekaranglah yang menjadi tolak ukur masyarakat melihat seseorang itu mulia atau tidaknya, bukan hal yang lain termasuk prestasi akademik. Bagi sebagian masyarakat kita yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan sudah barang tentu bangku pendidikan sekarang ini dirasakan mereka seperti barang yang mewah,karena semakin mahalnya biaya pendidikan yang tidak sejalan dengan kondisi perekonomian bangsa kita saat ini, sudah tentu hal ini tak terlepas dari kebijakan – kebijakan pemerintah kita yang sekarang ini banyak yang merugikan rakyat kecil, termasuk dalam dunia pendidikan. Jangan heran jika saat ini banyak masyarakat Indonesia yang lebih mementingkan kariernya dari pada pendidikannya, hal ini tak terlepas dari pola piker masyarakat kita yang konsumtif saat ini.
Dunia pendidkan memang tak bisa terlepas dari dua hal yakni “Membaca dan Menulis”, memang jika di bandingkan dengan Negara – Negara lain Negara kita kini sangat tertinggal dari hampir semua aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Hal ini di karenakan tingkat kesejahteraan hampir sebagian besar masyarakat Indonesia berada di bawah rata – rata. Jadi jika di suruh memilih antara Menulis atau bekerja, kebanyakan masyarakat kita pasti akan memilih bekerja agar bisa makan untuk mempertahankan hidupnya dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang lain. Hal ini mungkin akan berbeda jika kondisi perekonomian masyarakat kita berada di atas rata-rata, seperti bangsa jepang, mungkin saja masyarakat kita tidak konsumtif lagi tapi mereka akan mencoba berkarya termasuk membuat tulisan. Yach tapi semua itu membutuhkan proses yang panjang, tapi yang terpenting saat ini bagaimana caranya kita berusaha untuk membantu diri kita sendiri dan bangsa kita terlepas dari belenggu jaman pra sejarah, sudah tentu dengan mulai menggalakan budaya menulis dan membaca tentunya. Agar kelak bangsa kita bisa sejajar atau bahkan lebih unggul dari bangsa-bangsa yang lain yang ada di alam semesta ini. Amien ya robbal alamien.
By Muhammad Fauzi on Feb 21, 2008 | Reply
Nama : Muhammad Fauzi
NIM : A1A104003
Bodoh sekali kalau kita mau disebut orang yang jahiliyah. Lalu bagaimana caranya agar kita tidak disebut orang yang bodoh? Jawabnya sederhana saja…pa Ersis sering mendengungkan kata-kata “TULIS…TULIS!”Tulis apa yang mau ditulis…Kalau salah itu urusan belakangan.
Kembali sedikit ke pelajaran sejarah, zaman dimana manusia mengenal tulisan disebut zaman sejarah, zaman dimana manusia belum mengenal tulisan disebut zaman prasejarah. Sekarang kita yang hidup di zaman modern ini, kalau nggak mau menulis yaaa…sama saja kita kembali ke zaman prasejarah.
Lalu bagaimana caranya agar kita bisa menulis? kata pa Ersis kita tidak perlu belajar dengan orang-orang yang sudah banyak menulis buku…belajar sendiri…sering-sering membaca buku. Kalau kita sudah menulis, Insya Allah, kita tidak termasuk dalam golongan orang-orang jahiliyah. Hidup menulis…!!!OK
By Catur Widyastuti PH on Feb 21, 2008 | Reply
Catur Widyastuti PH (A1A104019)
Saya sependapat dengan bapak mengenai manusia prasejarah dan jahiliayah,apakah dizaman semodern ini kita anak indonesia hanya bisa menikmati produk dari luar saja.Bukankah kita sudah lepas dari yang namanya zaman prasejarah dan jahiliyah.Seharusnya kita harus lebih produktif lagi,negara kita banyak memiliki anak-anak cerdas yang berotak brilian contohnya :pak Habibi,yang bisa membuat pesawat.Benar yang di ajarkan oleh Rasullullah yaitu baca,baca,dan baca..sehingga dari membaca kita dapat tau.Sekarang yang penting harus ada kemauan dan berbuat untuk tidak lagi dikatakan sebagai manusia jahiliayah.
Jangan takut salah dalam melakukan sesuatu hal yang bertujuan baik demi pencerahan masa depan kita.
By Vida Aulia Rakhman (A1A106015) on Feb 21, 2008 | Reply
Salam kenal buat pa ersis!sory ya pak kemaren Vd gk masuk kulnya bpk,he… terkait masalah zaman prasejarah dan Jahiliyah yang kedua zaman itu mempunyai peradaban yang sangat berbeda dari prasejarah dimana manusia belum bisa mengenal tulisan dan zaman jahiliyah merupakan zaman yang paling biadab yang pernah ada karena tidak mengenal pri kemanusiaan. zaman sekarang ini pun masih banyak terjadi tindakan-tindakan anarkis yang ujung-ujungnya merugikan oranglain,kadang Vd bertanya pada diri sendiri sekarang ini apakah zaman modern yang benar-benar merupakan transisi/pergantian dari zaman itu atau merupakan kelanjutan dari zaman jahiliyah itu sendiri???? n satu lagi tulisan bpk dahsyat abizzz n sangat menarik baru kali ini punya dosen hebat nulisnya aplagi gk segan-segan nulisnya dengan bahasa yang mungkin cukup kontroversial utk didngar,hee sukses selalu ya pak.oia pak Vida ini cowo ntar kalau Vd gk bilang dikira cewe lagi,heee Okeeeee Bapak……
By Ganjar Muttaqin (A1A106028) on Feb 21, 2008 | Reply
Ass.Wr.Wb salam kenal pak, ‘wah’ kalimat yang pertama terlontar dari mulut saya begitu memasuki dunia sampeyan pak:-). Sebuah tulisan yang bersifat revolusioner, menggugah selera ulun untuk menulis, yg menurut Sampiyan menulis ìtu kaya “urang bahira” hahahaha…
kapan lg pak nulis d radar bjm, d tunggu tulisan sampeyan pak… salute dari ulun dan eksis selalu.
***NTar ditanya orang … bahira itu apa?
By AM. hamsin fitriyadi on Feb 21, 2008 | Reply
Saya sependapat dengan komentar bapak, memang benar bangsa kita saat ini bisa dikatakan mengalami zaman jahiliyah. orang mudah mengatakan sesuatu tapi kemampuan menulisnya kosong..sama saja bohong.Dengan adanya perintah
Rasulullah untuk baca..baca..baca..insya allah kita dapat membaca dan menulis pikiran untuk dapat membangun peradaban kebudayaan Indonesia yang
mengalami kemunduran saat ini menuju kemajuan seperti bangsa lain.
By Abdul Rahman S on Feb 21, 2008 | Reply
Dengan adanya kesadaran kita saat ini bahwa negara kita mengalami kemunduran. tentu tidak terlepas dari perintah rasulullah untuk belajar diharapkan bangsa Indonesia dapat keluar dari zaman jahiliyah. Dengan demikian sejak dini kita harus bersama-sama berusaha untuk memperoleh kemajuan dengan mempelajari, memahami ilmu pengetahuan.
***Amin.
By Risma Yunyta on Feb 25, 2008 | Reply
Jahilliah dan prasejarah, dua hal yang saya nilai sungguh berbeda. Saya menilai prasejarah adalah suatu masa dimana belum ditemukannya tulisan atau dapat diartikan belum dikenalnya budaya tulis menulis, sedangkan Jahilliah adalah masa yang disebut zaman kebodohan.Zaman prasejarah jelas merupakan zaman yang tidak mengenal tulisan sehingga dapat dikatakan zaman kebodohan karena tidak adanya ilmu pengetahuaan yang bisa dipelajari.Akan tetapi zaman jahilliah adalah suatu masa yang saya kira sudah mengenal tulisan seperti masa sebelum islam di Arab namun kebudayaan yang ada tidak sesuai islam sehingga dikatakan zaman kebodohan . Jadi soal tulis menulis, saya menilai apa dulu yang ditulis, kalau itu tulisan yang bermamfaat tentu kita tidak kemali memasuki zaman jahilliah.
***Itu dia, buktikan dengan menulis kan? Kalau berargumen doang, ya itulah jahiliyah. Coba, banyak orang (mengaku-ngaku Muslim) tidak senang dengan Sinchan Harry Porter dan seterusnya … yang katanya merusak ‘keimanan’ anak-ana dan orang dewsa. Tapi, ya sebatas itu saja. Kalau tidak mau jahiliyah (alias bodoh tanpa dasar) ya tulis yang lebih bagus hingga lebih unggul. Dan, dapat dijadikan bacaan bagi generasi Muslim. Kalau berargumen dan beralasan sembari memaki karya orang, itulah jahiliyah.
By dharma setyawan on Jun 26, 2008 | Reply
kembali kepada aturan yang fundamental yaitu islam yang dijalan kan secara kaffah menjadi solusi dari carut marut keadaan sekarang…
tulisan akhirnya menjadi sekat yang nyata antara jahiliyah dan modernisasi, jadi saya sepakat bila dikatakan “dengan menulis menandakan kita berperadaban..”