Menulis Membelajarkan Diri
16 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis mengaktifkan otak yang mendorong untuk mencari hal-hal baru, ide, gagasan, dan kalau perlu, membentuk pola pikir baru.
SABAR. Dari kecil, apalagi sejak bersekolah, di pikiran sudah ditanamkan, kalau ingin pintar banyaklah membaca, belajar. Inti dari pendidikan —TK sampai PT— adalah belajar yang setelah menamatkan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan sebenarnya. Oleh karena itu, sekolah dikategorikan ke ranah pendidikan formal. Banyak jenis pendidikan di luar sekolah. Yang paling esensial, membelajarkan diri sendiri. Dari dasar pikiran demikian lahirlah konsep long life education.
Kalau dipilah, sejauh yang saya pahami, dalam membelajarkan diri, mempelajari apa saja dapat dengan membaca; membaca ide dan atau apa yang pernah diperbuat manusia lain. Tidak kalah pentingnya belajar dari kajidan-kejadian, atau hal-hal terkaitnya.
Belajar, bisa pula lebih afdol dari pengalaman; baik diri sendiri atau orang lain —yang tentu saja setelah diinformasikan atau dikomunikasikan. Bahkan, jagat raya adalah ladang pelajaran buat manusia yang mempergunakan akal pikirannya. Sangat banyak firman Allah atau Hadis Rasulullah sebagai pembenarnya. Bagi yang kurang nyaman dengan Sang Pencipta atau Utusan Allah, dapat menabalkan dengan kajian-kajian psikologis atau pendidikan.
Ringkasnya, sekolah adalah candradimuka sebagai modal untuk dikembangkan pada kehidupan pribadi. Terkadang, maklumlah banyak diantara kita yang mengklaim sebagai orang sibuk, terkadang waktu dijadikan alasan pengendala. Tidak mengapa, sejauh dari kesibukan itu kita mampu belajar.
Dus, dari apa saja kita bisa belajar apabila memang menempatkan diri sebagai pembelajar. Dalam kaitan itulah, sesibuk apa pun, dalam kondisi apa pun, sebenarnya akselarasi belajar dapat lebih terpacu. Belajar yang bergerak seirama kehidupan akan lebih kencang derapnya manakala ‘diselipi’ dengan menulis. Maksudnya? Aya aya wae Si Ersis.
Begini. Tarohlah Sampeyan manusia yang sangat sibuk dengan pekerjaan kantor atau berkelana berbisnis ke berbagai tempat. Atau, dalam belajar itu sendiri. Yang terakhir jamak dialami siswa dan mahasiswa, bahkan dosen. Nah, apa-apa yang dilakukan, apa yang dialami, ditulis. Lalu?
Kalau kita menulis, apa yang ditulis membawa kita kepada belajar, membelajarkan diri dari dalam. Dari tulisan, tulisan dari apa yang kita lakukan, membuka peluang mengkaji plus-minusnya hingga mendorong pencarian solusinya.
Misalkan, apa yang kita alami, kurang dapat dipahami. Kita akan terdorong untuk membaca, mencari dasar teori, rujukan, dan atau solusi dari pengalaman orang lain. Setidaknya, menulis memudahkan jalan bagi pemecahan masalah yang kita hadapi. Sebab, dia tertulis. Kalau di pikiran saja, kadang-kadang bisa hilang atau menguap begitu saja.
Bukankah mencatat hal-hal penting akan mengingatkan? Menulis, pada dataran tertentu, adalah mencatat. Mengikat ilmu dengan menuliskannya. Mengikat kehidupan dengan menuliskannya. Mengikat keindahan dan kegundahan, melestarika kisah cinta derita kehidupan, dengan menuliskannya. Masih ingat kisah Laila dan Majnun, Hamlet, Rama dan Shinta? Bukankah kisah-kisah Rasulullah dan Napoleon atau Shidarta karena kita membacanya?
Setidaknya, untuk kebutuhan pribadi, menulis akan menbelajarkan diri dengan kehidupan; membelajarkan diri dengan menulis. Sebab, dengan menulis kita lebih mungkin menimbang diri dan kehidupan itu sendiri.
Jadi, tunggu apa lagi. Menulis mengaktifkan otak yang mendorong untuk mencari hal-hal baru, ide, gagasan, dan kalau perlu, membentuk pola pikir baru. Ah, masyak sih?
Ah, percaya saja deh. Minimal, pengalaman saya dalam belajar, justru semakin bergairah setelah agak fasih menulis. Menulis adalah belajar; membelajarkan diri. Believe it or not.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Februari 2008.









7 Responses to “Menulis Membelajarkan Diri”
By Anang on Feb 17, 2008 | Reply
wis pokoke dari blog ini saya dapat satu benang merah… menulis menulis menulis menulis…
***Sip … akur.
By peyek on Feb 17, 2008 | Reply
Hm… seringnya.. kebanyakan dari diri saya masih menggunakan kesibukan sebagai kambing hitam atas kemalasan pribadi
***He he banyak orang, kawan … saya juga gitu, dulu ….
By sawali tuhusetya on Feb 17, 2008 | Reply
saya peraya kok pak apa yang disampaikan pak ersis itu. kita punya potensi otak berkekuatan dahsyat, tapi hampir tak pernah terasah karena belajar cukup hanya di sekolah saja. padahal, ada sekolah kehidupan yang sesungguhnya. di situlah sebenarnya hakikat belajar yang sesungguhnya. *halah, maaf kalo sok tahu, pak ersis*
***Ya ya kehiudpan adalah sekolah sesungguhnya, belajar di sekolah sebagai pengantar. Setuju banget Pak.
By Zulfaisal Putera on Feb 17, 2008 | Reply
Apa yang Sampeyan tulis ini sudah saya buktikan. Siswa-siswa bimbingan saya sudah betul-betul mengambil manfaat dari menulis. Pmebelajaran penulisan esai telah menjadikan mereka lebih cerdas dalam mengenal kehidupannya melalui esai yang mereka tulis.
Tabik!
***Ya ya saya dah lihat … dan bangga … ini akan saya ceritakan pada ‘teman-teman guru di Banjarbaru’ yang sednagn sharing menulis dan ngeblog.
By noorlatifah on Feb 18, 2008 | Reply
kesibukan memang selalu membelenggu diri untuk belajar, gimana melepasnya ya Pak? Keinginan tuk belajar menulis itu ada. Tapi ya itu kesibukan terus membelenggu.
***Gampang jangan jadikan alasan.
By Henny A1A106029 on Feb 20, 2008 | Reply
in the frist time ngeblok tulisan bapak nih, jd takut2 mo ngasih pendapat.bener lho kata bapak klo sibuk sering banget di jadikan alasan bwt absen nulis,mulai nulis aja malas apalagi klo harus rajin2 he,he,he,,,,
banyaaaaak banget alasan yang diikutkan gak ada waktu lah,capek lah,empty inspirasi lah,besok2 aja lah,,,,,,akhirnya ilang deh apa yang sudah ada di otak.padahal sih mudah aja bwt merubah sperti kata bapak tadi tinggal di catat aja apa yang dah dialami hari ini sperti klo kita nulis di diary kesayangan kita.
tiap orang mang gak ada yang sama,ada juga yang males nulis tapi rajin baca,sama2 belajar tapi beda cara,bener gak kira2 pak?????
By nurul huda on Feb 21, 2008 | Reply
“MEMBACA” adalah kunci lancarnya menulis , maaf ini hanya menurut saya lho Pa…. yach membaca apa saja, tidak hanya buku… tapi semua yag bisa kita tangkap dengan panca indra….!! tapi yang terpenting adalah kita mau menulis apa yang bisa kita baca …gitu lho pa…