Menulis Kog Memaki-maki
16 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansya Abbas
Tulisan bukan saja penuangan pikiran, tetapi ia juga gambaran ‘jiwa’.
MAUK. Tulisan adalah ‘gambaran’ pikiran. Apa-apa yang kita pikir, apa yang terpikirkan, dapat dikeluarkan dengan dua cara. Pertama, lewat bicara atau omongan. Kedua, tulisan. Sekalipun begitu, manusia itu, selain raga, bukan saja hanya punya ranah rasa atau perasaan, tetapi juga naluri. Dalam kajian psikologi, misalnya, kepribadian seseorang, sebagai bentukan dari pengetahuan, perasaan, dan naluri. Soal mana yang leading sector pada saat tertentu, itu soal lain.
Suatu kali, seorang teman sharing menulis mengeluh: “Pak, bagaimana ini. Si Anu selalu saja mengomentari tulisan saya dengan nada miring? Di matanya, apa yang saya tulis selalu saja salah”.
Aha, saya kan tidak perlu bercerita kepadanya, saya bukan saja dicaci satu dua orang, bahkan ada orang yang ‘mengorganisir’ orang lain, bahwa apa yang saya buat selalu saja salah. Ketika membantu Rektor, salah. Mendukung Dekan, salah. Bahkan, ketika akrab dengan pejabat daerah, Sang Pejabat dikirimi ‘surat kaleng’, begini-begitu. Salah meneh.
Itu belum seeberapa. Menulis di media cetak, salah. Menulis di jurnal ilmiah, salah. Menulis buku, salah. Depercaya perusahaan raksasa meneliti, salah. Diminta jadi konsultan anu, salah. Salah melulu.
Kalau saya sih mana peduli. Tapi, sebagai peneliti, heran juga. Selidik punya selidik, wow … pantas saja. Dia tidak pernah menulis, hasil karyanya ngak jelas. Dengan kata lain, dia ingin menulis di media cetak, menulis di jurnal, menulis buku, menjadi nara sumber di seminar atau di TV. Tapi, tidak ditanggap orang, ya dicarilah konpensasi.
Pada tingkat ‘lebih nakal’, saya berkesimpulan, dia diberi ‘hidayah’ untuk melihat karya orang lain dari sisi jeleknya (dia). Semakin hari, kemampuan menjelekkan orang lain semakin terampil. Wajar kan di menganggap karya orang lain jelek melulu?
Kalau boleh agak berlagak, mindset telah terbentuk sedemikian. Diasah, dibiasakan, difasihkan, ya semakin hari semakin mantap. Pantulannya, melihat sesuatu (karya orang) dari jeleknya. Coba saja, mereka yang piawai menulis lebih bersimpati kepada tulisan siapa saja. Apalagi, tulisan pemula. Pasti disokong. Bukan ‘dibunuh’, baik tulisan maupun penulisnya.
Dengan kata lain, biarkan saja. Kalau, misalnya, apa yang dikatakannya buruk itu memang buruk, ya terima. Perbaiki tulisan. Jadikan hal positif. Kalau dia melontarkan energi negatif, balik jadi energi positif. Katakanlah untuk memacu agar lebih dalam belajar dan memasihkan menulis. Mudahkan?
Oh ya, dalam diri kita ada potensi ‘melihat’ sesuatu dari sisi jeleknya, atau sebaliknya. Katakanlah possitive thinking dan negative thinking. Soal mengasah yang mana, itu soal pilihan. Kalau punya teman yang mengambil jalan kiri, ya biarlah. Yang penting kita sudah tahu. Dia mau menjadi ahli sedemikian, biarlah. Kita melatih menulis saja.
Dengan kata lain, kalau ada orang yang mersepon tulisan kita dengan nada miring, ya biar saja. Ada hikmah dibalik sesuatu. Ambil hikmahnya. Bahkan, kalau dia mencaci-maki sekalipun, itu urusannya. Percayalah, pada hakikatnya dia merusak dirinya. Selama kita tidak terganggu, ya sudah. Anggap saja anjing lewat. Jangan mau diganggu. Beres.
Menurut orang Banjar, mauk. Ya, mengapa harus membuang energi, merusak pikiran, marah-marah atau memaki-maki segala. Mendingan menulis, jelas hasilnya. Kalau memula, bisa jadi jauh dari sempurna. Tapi, kalau dilatih terus, menulis, menulis, dan terus menulis, Insya Allah jadi baik.
Jadi, mari fokus menulis. Pergunakan energi untuk belaja menulis, memasihkan menulis, tinggalkan hal-hal yang merusak pikiran. Apalagi, kepribadian. Kafilah berlalu, anjing mengonggong. Apa yang Sampeyan tulis, adalah gambaran pikiran, gambaran diri. Kalau memaki-maki, itulah diri sebenarnya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 15 Februari 2008.










10 Responses to “Menulis Kog Memaki-maki”
By mhzen on Feb 16, 2008 | Reply
Dear Mas Ersis
Betul sekali, tulisan adalah gambaran pikiran.
Terhadap orang yang selalu mengkritik tulisan kita, mungkin sekali tempo perlu “ditantang”. Ditantang agar dia membikin karya sejenis, untuk menandingi karya kita.
Lebih baik berpolemik lewat artikel di koran (karena sama-sama dapat honor), daripada debat kusir yang tak berujung.
Oke Sukses Selalu Ya
Salam dari Kota Apel Malang:
Muhammad Zen
http://mhzen.wordpress.com
http://mzenmzen.multiply.com
***Orang tipe begituan mana berani he he he. Kita menulis sajalah, menulis apa saja dalam rangka memasihkan menulis. Gimana?
By Mega on Feb 16, 2008 | Reply
menulis trs ach..walo dimaki maki dan diledek teman juga..
***Tulis teruas …
By jimmy on Feb 17, 2008 | Reply
setuju mas! menulis itu ekspresi diri, terserah orang mau bilang apa, yang penting hati puas! orang yang suka menjelekkan karya orang lain adalah orang gagal yang sedang mencari “teman” untuk sama-sama gagal..
***Wow itu modal dasar Mas … nanti baru bagaimana agar orang senang.
By meiy on Feb 18, 2008 | Reply
pencerahan pagi pak, makanya aku suka kesini.
***Jujur nah, aku paling suka baca puisi Sampeyan … apalagi artikel tentang alam dikaitkan dengan pendidikan … wui, tapi saya ngak doyan komen di blogspot. Ribet. Jadi, maafkan saya.
By meiy on Feb 19, 2008 | Reply
wah jadi geer nih pak,
sudah pantas belum dibikin antologi, yo pak bikin bareng…
soal komen ‘hana masalah’ kata orang aceh, bagiku yg penting menulis dan membaca.
kapan-kapan bapak sebagai ‘empu’ bidang pendidikan harus kasih masukan lo untuk pendidikan lingkungan
By tomat on Feb 19, 2008 | Reply
Etika makan
Sepiring nasi lauk pauk dan sayur di meja makan
Menarik perhatian isi perut yang keroncongan
Panggilan pesta dan ca..ca..ca
Caing cacing yang kelaparan
Tangan lemah gemulai gemulai memainkan
Jari-jemari yang kebingungan mengepal
Memegang sendok dan garfu berebut menu makanan
Mulut yang berisik tak bisa diam
Sepiring nasi lauk pauk dan sayur di meja makan
Berpindah tempat masuk keperut melewati kerongkongan
Menghentikan tangis dan jeritan
Cacing cacing yang kelaparan
Sepiring nasi lauk pauk dan sayur dimeja makan
Tinggalkan remeh yang menghiasi meja makan
Menghiasi piring kotor di tempat cucian
Buat ibu bersihkan
Bandung ,13 Feb 08
Tomat ( luay L )
Pesan Malam Minggu
Sabtu malam
Jam menunjukan pukul dua puluh satu
Hmm…sudah malam
Sudah terlambat untuk pergi kencan
Suara hatiku ramah mengingatkan
Kedengan asing dan tak ramah
Sayang…
Jangan kau buka pintu atau jendela kamar
Malam ini aku tak mungkin datang
Membawa keranjang kasih dan sayang
Buah tangan yang kau pesan
tadi siang
Bandung ,16 feb 08
tomat ( luay L )
tiada banyak yang ingin aku sampaikan…yang inginku ketahuitentang bagai mana cara penulisan pesan dalamsebuah pusi
kiranya bapak sudi mengkoreksi puisi tadi
By tomat on Feb 19, 2008 | Reply
mohon kiranya bapak dapat membantu saya yang sedang belajar
***ha ha … sama-sama bantu aja, semua kita belajar. Monggo?
By Noor fahiani (A1A106007) on Feb 20, 2008 | Reply
Asslamualaikum bapak……..
hari ini rame-rame ke warnet ma temen buat isi komen bwt bapak….
tulisan bapak yang ne bagussssssssssss sekali…..
tpi menurut saya menjelek2an org memang kebiasaan atau kebisaan dari setiap manusia……tpi apabila seorang penulis pemula, tulisannya sudah dimaki-maki bukannya di motivasi utk menulis lg. mka kemungkinan besar ia tidak akan menulis lg…sedikit dari banyak org yg dapat menerima kritikan dgn baik dan bisa menerima kritikan itu dengan positif…
mpe situ dulu yak pak perkenalan saya….ini pertama kalinya saya isi blog bapa…..
Wasaalammualaikum wr,wb…… ^-^
By puji astuti A1A106009 on Feb 20, 2008 | Reply
Assaamualaikum.Wr.Wb Tulisan bapa sangat bagus,memberi motivasi agar kita jagan mudah berputus asa dalam melakukan sesuatu.jika kita rajin dan gigih dalam berusaha insyaallah hasil terbaik lah yang akan kita dapatkan,amin.Wassallam
By nurul huda on Feb 21, 2008 | Reply
tulisan saya di maki-maki!!! ah ga masalah…dari pada jadi orang uang hanya memaki-maki tulisan orang lain tapi dia sendiri ga pernah nulis … tul kan pa !