Menulis Bagarah-Garah
16 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Berpikir, kalau dilakukan secara benar, bukan tidak mungkin bisa menjadi benar, menjadi kenyataan
.
MAULULU. Serial tulisan saya tentang menulis pada prinsipnya mengajak teman-teman, terutama para pemula, melatih menulis, memasihkan menulis dengan menulis, menulis, dan menulis. Tidak usah pakai teori pendidikan, betapa pentingnya peran latihan, atau teori komunikasi, apalagi iklan, bahwa intensitas akan mempengaruhi pola tingkah laku. Pepatah lama, fasih jalan karena ditempuh, cukup sebagai pembenarnya. Menulis ya dengan menuliskan apa yang akan ditulis.
Suatu kali, seorang mahasiswa setengah protes setengah mengeluh berkata: “Pak, nilai makalah saya kog jelek sih. Teman-teman pada bagus tu”. Saya ketawa saja sembari membuka makalahnya. “Coba perhatikan, kenapa Sampeyan selalu menulis kosakata guwa, dikit, atau kalimat, kebudayaan daerah kan ngak semestinya tidak diperhatikan. Kenapa, hayo?”.
Sebagai mahasiswa cerdas, dia menangkap maksud pertanyaan balikan saya. Ya, menulis untuk keperluan akademik berbeda dengan untuk media, atau untuk blog. Kalau ‘gaya bebas’ menulis dipakai untuk menulis keperluan akademik, yo opo rek.
Pada lain kasus, seorang teman mengeluh: “Bos, kenapa sih tulisan saya tidak dimuat-muat media cetak anu?”. Penasaran, saya baca tulisannya. Oi, bagaimana mungkin dimuat, wong pakai daftar pustaka berpanjang-panjang lengkap dengan kutipan ‘gaya ilmiah’. Waduh, kawan ini tidak bisa membedakan kolam ikan dengan mal.
Suatu kali, berbincang dengan seorang redaktur media cetak. Kenapa sih kog tulisan teman-tema kampus susah dimuat? “Bos, bagaimana mungkin dimuat, daftar pustakanya saja bisa menghabiskan seperempat halaman. Artinya, kalau menulis untuk media cetak, ya pandai-pandailah menyesuaikan diri. Tulisan yang bagus menurut ukuran akademis belum tentu baik untuk media cetak.
Kembali ke kasus awal, kalau Sampeyan membiasakan menulis dengan bahasa ‘gaul’, bahasa slank, ya lama-lama jadi habit. Kalau membiasakan menulis bagarah-garah, maulu-ulu, ya lama-lama jadi kebiasaan. Kalau kita sudah terbiasa melakukan sesuatu, ya permanenlah. Pada tingkat lebih tinggi, kita bisa tidak bisa lagi membedakan, mana yang serius mana yang main-maian, Mana celana dalam mana celana kolor. Serasa podo wae.
Kebiasaan adalah buah dari melakukan sesuatu berulang-ulang. Kebiasaan bisa menjadikan sesuatu menjadi porisitf, bisa pula negatif. Bahkan, ‘menghilangkan’ sesuatu. Untuk yang terakhir misalnya, karena terbiasa mencium bau tahi hidung, serasa tidak berbau. Lho?
Lha, iyalah. Cungkil tahi hidung Sampeyan, dekatkan ke hidung teman, bisa langsung mabuk tu orang. Atau, oleskan ke hidung kucing, si kucing akan lari tunggang-langgang. Saya tidak bertanggung jawab lho kalau kucing itu mati di sudut rumah. Tidak percaya? Coba saja.
Karena itu, dalam berlatih menulis, berlatihlah mengembangkan gaya penulisan sendiri. Jangan meniru gaya siapa pun, sebab si peniru tidak akan pernah lebih hebat dari yang ditiru. Kenapa kelompok Unggu tiba-tiba digandrungi, ya karena musik mereka beda. Mereka menciptakan ‘warna’ baru. Khas.
Jadi, kalau ingin menulis lucu-lucuan, teruslah menulis lucu-lucu hingga tulisan Sampeyan lucu. Kalau ingin menjadi penulis yang tulisannya bernada marah, ya pilihlah materi tulisan bermuatan marah. Kalau ingin mengembangkan potensi menulis dakwah, ya menulislah berlandaskan firman Allah SWT.
Dus, memilih gaya, warna, ataupun stiil, urusan masing-masing. Pembaca hanya tahu dari apa yang ditulis. Sebab, tulisan adalah gambaran pikiran, gambaran diri Sampeyan.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Februari 2008.













12 Responses to “Menulis Bagarah-Garah”
By Mega on Feb 16, 2008 | Reply
kurang ngerti nih
***Ah … masyak sih
By Hair on Feb 16, 2008 | Reply
Sebagai seorang anak muda yang masih berumur 17 tahun, ya pastinya saya akan lebih suka menulis dengan sedikit memakai bahasa gaul. Tapi, adakalanya juga saya menulis dengan sedikit serius, walaupun itu tidak sering.
***Tidak ada hubungan dengan usia, semua hal soal pilihan. Dan, memilih itu bebasa …
By danalingga on Feb 16, 2008 | Reply
Sepertinya untuk masalah gaya menulis ini memang menggunakan falsafah ini gaya gue.
***Soal pilihan he he
By ella LPMP on Feb 16, 2008 | Reply
saya pernah ingin menulis tapi dalam kondisi emosi meluap luap karena membuka email gak bisa-bisa (internet di kantor kacau bleh…)sedang data yang ingin dikirim menyangkut nasib orang banyak (guru bantu sekalsel). Saking marahnya malah otak saya gak bisa diajak berfikir. Jadi menulis dengan keadaan marah bagi saya gak mungkin bisa.
***Emosi, marah juga harus dijinakkan, tuliskan kemarahan itu, kalau sampai ngak bisa menulis bahaya itu. Hayo, gimana kalau otaknya lumpuh gara-gara marah tak terkeluar?
By Inas on Feb 16, 2008 | Reply
“Karena itu, dalam berlatih menulis, berlatihlah mengembangkan gaya penulisan sendiri. Jangan meniru gaya siapa pun, sebab si peniru tidak akan pernah lebih hebat dari yang ditiru. Kenapa kelompok Unggu tiba-tiba digandrungi, ya karena musik mereka beda. Mereka menciptakan ‘warna’ baru. Khas.”
Nggak ada sesuatu yang baru (benar-benar baru) dibawah sinar matahari bos. Untuk menemukan ciri khas sendiri, pemula mesti belajar melihat dan mencontoh dari tulisan orang lain. Saya yakin banyak yang mencontoh tulisan bos EWA, setelah mereka tahu jalannya menulis barulah berimprovisasi untuk menemukan ciri khas masing-masing.
Gimana bos?
***Ha ha ha ya ginana ya.
By sawali tuhusetya on Feb 16, 2008 | Reply
betul sekali pak ersis. style tulisan perlu disesuaikan dengan sasaran dan segmennya. koran, misalnya, itu kan dibatasi rubrikasi, sehingga efektivitas tulisan dan panjang pendeknya sangat detil diperhatikan. tapi kalo dulu saya awal2 menulis uka nyontek gaya para penulis ternama tuh, pak. supaya kita bisa tersugesti untuk menulis sebagus mereka. lama-kelamaan akan menemukan style sendiri. *halah, maaf kalo sok tahu, pak*
***Pak Swali, kalau bertulnya jangan sekali saja he he, kenapa kog ngak berkali-kali?
By durenbangkok on Feb 16, 2008 | Reply
Saya setuju dengan kata2 ” Menulis ya dengan menuliskan apa yang akan ditulis “.Jangan pernah dipaksakan, kecuali buat yg selalu berurusan dengan deadline
***Terimah kasih atas atensi dan komennya.
By ichal on Feb 17, 2008 | Reply
wah … samo kayak tulisan awak,, bagarah-garah alias gak menentu,, heheh
By avartara on Feb 18, 2008 | Reply
artikel Pak EWS sebelumnya pernah membahas tentang menulis dan membaca adalah 2 hal yang tidak dapat dipisahkan,…so wajar jika apa yang ditulis sangat berpengaruh terhadap apa yang telah dibaca,..dan mungkin saja gaya penulisannya juga dipengaruhi sama apa yang dibaca,..begitu juga halnya grup music di Indonesia,…warna musik mereka juga masih “berkiblat” ke grup2 besar mancanegara kok,…seperti Dewa “mirip” Queen, Padi “mirip” U2 bahkan ungu juga mirip ama musik U2 (kali,…) n so on,….
***Kapan-kapan saya tulis tentang local genius … candi berasal dari India, bangsa Indonesia membuatnya lebih yahoi … Prambanan, Boroburur, dst. itulah local genius. Menulis bisa juga begitu
By meiy on Feb 18, 2008 | Reply
kalo saya gak pernah mikirin style saya sih pak, nulis ya nulis aja, entah pengaruh siapa tidak tahu, skrg terpengaruh pak ewa itu tuh kali…yg suka nularin virus hehehe
***Ya … dengan terus menulis … style akan terbentuk sendiri … jangan mau ditipu teori style ya … lakukan saja dia akan ‘terbentuk’ dengan sendirinya.
By nurul huda on Feb 21, 2008 | Reply
sebenarnya… menurut saya… sekarang ini tanpa disadari orang yang tidak sekolah atau katakanlah paman tukang jual pentol pun mampu menulis… hanya kapasitasnya nulis “SMS”, betul lho pa…karena paman sayur langganan saya pun klo lagi nulis sms ga peduli tuh jualannya masih sekeranjang belum laku ….he..he..he…
By ingsun on Feb 16, 2009 | Reply
………..”apapun teorinya, prakteknya teh tetap kita” bujur kada’ ai… oh ya hidup kalimantan , saya dari paser nih… salam kang