Menulis ‘Diri’ dan Kutang
16 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulis sebagai pengungkapan pikiran, pengungkapan diri, lebih afdol dirakit dari ‘lingkungan’ diri.
PIAN. Kalau disimak ungkapan banyak orang tentang mengapa menulis akan didapat beragam sebab, motif, dan tujuan. Terserah saja. Mau narsis, berdakwah, menggurui, atau apa, bebas-bebas saja. Begitu pula penyajian atau gaya tulisan. Mau berteori ilmiah, bercanda, bagarah-garah atau maulu-ulu, juga Bebas. Bukankah menulis adalah ‘kebebasan’, kebebesan berekspresi? Begitu pula, mau bersandar tata bahasa ketat, etika, atau apa, terserah saja. Menulis adalah pilihan-pilihan.
Ya, pada tataran lebih tinggi, tulisan yang ditulis bukan ‘ditentukan’ oleh siapa yang menulis tentang apa, bagaimana, mengapa, dan dengan tujuan apa, tapi … oleh pembaca. Sampeyan bersikukuh sekokoh cadas bukit Ten Comandemens atau karang laut Banda, kalau tidak dibaca, kalau tidak dimengerti, mau apa? Terserah pembaca. Pembaca adalah hakim setiap tulisan.
Atau begini, berkoak-koak menegakkan kebenaran kosakata yang benar adalah ‘dari’ bukan ‘daripada’. Kalau Pak Harto memilih kosakata daripada, bukan dari, para pelawak atau pejabat negara berdaripada, menangnya mau mengapa? Dan, masyarakat paham makna daripada. Hayo?
Begitulah. Dalam hidup dan kehidupan selalu ada ‘apa yang seharusnya’ dan ‘apa yang terjadi’, ada dassain ada dassollen. Oh … penulis itu ‘pendidik’ jadi harus selalu mengikuti hal-hal ideal, hal-hal seharusnya. Setuju. Namun, kenyataan adalah kenyataan. Kenyataan adalah ‘kebenaran’.
Saya punya pengalaman unik. Saya bukan Urang Banjar, terlepas perasaan kebanjaran saya semakin tebal, tinggal di Banjarbaru (Kalimantan Selatan), dan terlahir dari akar Urang Awak (Minang), lebih nyaman sebagai Orang Indonesia. Tetapi, kini, sebagai bagian masyarakat Banjar, hari-hari sebagai Urang Banjar. Saya suka. Menulis tidak lepas dari kebanjaran.
Ketika mengirim buku Menulis Sangat Mudah ke penerbit, diminta mengoreksi beberapa hal. Sebab, naskahnya sangat lokalis sedangkan bidikan pasar nasional. Saya tidak mau. Saya, juga daerah saya (Kalimantan Selatan), adalah bagian Indonesia. Bertempat boleh lokal, tapi berpikir global, he he.
Buku itu akhirnya menasional. Bahkan, saya membawanya ke Singapura dan Malaysia. Beberapa kosakata Banjar dipopulerkan. Memangnya bahasa Padang, Sunda atau Jawa saja yang bisa meramaikan bahasa Indonesia. Seingat saya, kosakata serapan dari bahasa Banjar hanya gambut. Saya ingin mempebanyak. Ada bloger yang bertanya, apa arti pian, sidin, maulu-ulu dan sebagainya. Begitu dijawab dimengerti. Alhamdulillah.
Apa salahnya mempromosikan diri, lingkungan, daerah, apalagi Indonesia (kita). Boleh saja orang luar banda (mancanegara) menganggap kita (saat ini), bangsa gimana gitu. OK. Tapi, bagaimanapun sangat banyak hal-hal hebat kita punyai. Kita bangsa besar yang akan semakin besar kalau potensi daerah lebih kita satupadukan dalam kerangka nasional.
Membangun bangsa kuat, dimulai dari diri, lingkungan, daerah, dan seterusnya. Lupakan pola pikir dan pola tindak top down, mekarkan button up. Sudah terlalu lama kita tergadai semboyan, kini mari praktik nyata dalam keseharian.
Setidaknya, dalam memasihkan menulis, ada dua keuntungan sekali sambar. Pertama, memudahkan menulis. Kedua, mempromosi diri dan lingkungan terdekat. Dari pada berkoar-koran tentang kecintaan daerah, bangsa, dan region, tetapi otak dan tindakan terpaku pada fried chicken sembari memaki goreng ayam. Padahal, apa sih bedanya?
Sudahlah, kalau tidak tahu kepanjangan dan arti BH, ngak usah pakai BH. Bukan berarti nobra lho, lebih afdol yang nasionalis, kutang. Apa sih beda BH dan kutang? Sama-sama untuk … (tulis sendiri).
Akhirnya, dalam memudahkan menulis, tulislah apa yang dikusai, yang ‘dekat’ diri, yang hari-hari kita jalani. Tidak boleh yang hebat seperti di planet Mar atau kehebatan-kehebatan Amerika serikat sembari memaki negara dewe? Boleh saja, siapa yang melarang. Tulisan adalah ungkapan pikiran, diri kita. Jadi, mau jadi apa dan mengapa, sekali lagi, soal pilihan. Saya menganjurkan dalam kerangka menudahkan menulis, kog.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 16 Februari 2008.









18 Responses to “Menulis ‘Diri’ dan Kutang”
By ahmad simanjuntak on Feb 16, 2008 | Reply
Setuju pak
Mantap kali postingan ini
*kalo itu logat medan :)*
***Mantapkal halak hita jua, he he. Bagimana kabar Medan, kangen ama Brastagi dan Danau Toba nich.
By steelheart on Feb 16, 2008 | Reply
Wah pak, saya baca profilnya ternyata bapak penulis buku juga. Dah banyak lagi tulisannya n dimuat dimana2. Hebat pak, saya jadi mau belajar banyak nih sama pak abas.
Tapi sebelumnya saya minta maaf loh pak, saya blom berani kasih komentar buat tulisan bapak yang ini. Salam kenal aja dulu deh pak.
***Ha ha ha … kita sama-sama belajar saja, habis perkara. Salam kenal dengan sangat senang di hati, he he
By ridhocyber on Feb 16, 2008 | Reply
SETUBUHHHHHHHHHH……
(baca : setuju…, bahasa waktu lagi rapat pas kegiatan masahasiswa di kampus sama teman2 kalo udah penat… alhasil suasana jadi santai lagi)
***H h h h h … mari menyetubuhi menulis
By Cabe Rawit on Feb 16, 2008 | Reply
Makkk…! keselek spam ya komen ane???
***NGak tu …
By Cabe Rawit on Feb 16, 2008 | Reply
Test
***Please
By bedh on Feb 16, 2008 | Reply
huhuhuhu
bukannya BH itu kepanjangan dari Br#@st Holder pak?
tapi memang menulis sesuatu yang dekat dengan kita terasa lebih mudah daripada menulis hal-hal yang sebenernya tak kita mengerti atau kita alami
***He he he … coba tanya kepada 10 orang teman perempuan, bisa-bisa lebih banyak yang ngak tau he he. So, ya, menulis lebih bagus yang kita pahami.
By Anang on Feb 17, 2008 | Reply
cocok.. menulis itu apa yang kita rasakan dekat di otak.. biar ga terlalu menghayal hahahahaha
***Berkhayal juga bagus, menulis hayalan he he
By Mega on Feb 17, 2008 | Reply
AKu ga tau arti BH..padahal make tiap hari..who ho ho..
***Sampeyan pakai yang bahasa Jepun saja. Apa itu?
By Mega on Feb 17, 2008 | Reply
wakakakss..bahasa Jepunnya “BURAJA”…..:D
***Buraja … asik di telinga tu
By ichal on Feb 17, 2008 | Reply
setuju bangettt pak !! teori kebebasannya
lagian emang isi kepala kan berbeda-beda.
makasih pak!
***Samo-samo
By edo on Feb 17, 2008 | Reply
ah… uda..
ternyata uda ini urang awak :p
samo wak mah heheh
***Yo, baa kaba, tingga dima, samo-samo Urang Awak, kan labiah rancak bakanalan nang labiah dalam.
By Yari NK on Feb 18, 2008 | Reply
Haha…. memang potensi negara kita sangat besar….. pertambahan jumlah penduduk sayangnya tidak diikuti oleh peningkatan kualitas penduduk itu sendiri….. tapi ya udah… nggak apa2… daripada kita terus2an meratapi diri mendingan kita mulai memanfaatkan apa yang ada demi kemajuan bangsa ini.
Potensi yang besar termasuk dari Kalimantan Selatan tentu sangat sangat boleh dimasukkan ke pentas Nasional kalau perlu di pentas internasional. Beberapa kata dari Bahasa Jawa sudah berhasil menembus Kamus Merriam-Webster’s Dictionary (AS) ataupun The Chambers Dictionary (Inggris) seperti: Gamelan, Gong, Wayang, Kalong dan lain-lain, dan sudah diakui resmi menjadi bagian dari Bahasa Inggris tanpa mengalami perubahan satu hurufpun. Yah, mudah2an lebih banyak lagi bahasa2 daerah di Indonesia ini yang menembus leksikografi internasional… pasti bisa! Hidup Indonesia! **halaah**
****Amin. Mari kita ‘coba-coba’ memperbanyak kata Melayu ‘amuk’ ke bahasa Inggris (mimpi yang bukan tidak mungkin kan Pak Yari).
By meiy on Feb 19, 2008 | Reply
benar pak , mantap kalee, setuju dg abang pertamax orang medan bah! aku juga kalau nuis suka masukin kata-kata yg akrab di tempat tinggalku, mudah-mudahan aja jadi menasional, kalau tidak mendunia hehehe…
By meiy on Feb 19, 2008 | Reply
to mega..hihi lucu gak tau ya artinya bh hahah sama! gimana kalo pake bahasa ponakanku saja waktu keicl dulu: ‘ikat mimik’ hahaha :))
By unai on Feb 19, 2008 | Reply
hahaha NiMeiy..kok ikat mimik hahaha..malah ketawa saya baca komen komennya pak
By mathematicse on Feb 21, 2008 | Reply
Saya juga ga tahu Pak arti BH? Apaan sih? Heheheeheheheehe…

Iya gitu artinya Breast Holder?
By nurul huda on Feb 21, 2008 | Reply
Aha…bapak sudah membuat perumpamaan mudah n sangat jujur tentang mudahnya menulis …. tapi sebagai perempuan saya jadi ngeri juga dengan istilah itu ….memang perumpamaannya harus yang di pakai cewe itu ya pa!
By DEWI ALFIANTI on Feb 23, 2008 | Reply
Asw. Saya pemenang 3 lomba menulis kemarin, no rekening saya
bank Muamalat atas nama Dewi Alfianti no. rek 601923901352559
Saya tunggu berita baiknya di rekening saya. w3