Menulis Kisah Bermuara Persaudaraan
14 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
“Kasih sayang abadi seperti Allah titipkan pada kita. Endless love belum tentu menjadi karena nafsu kadang menyertainya (wuele … sok filosuf).
NOSTALGIA. Kata orang, nostalgia itu indah. Kata saya, tergantung bagaimana melihatnya. Yang pasti, masa lalu tidak untuk dihapus, disesali atau dikutuki. Masa lalu adalah bagian kehidupan. Ada manis-pahit, kegembiraan atau kekonyolan, terkadang denda-denda dan harap-harap tersimpan. Dari masa lalu kita ke saat sekarang menuju era masa depan; kehidupan sesungguhnya. Masa lalu bermuatan pelajaran, hikmah, dan atau, the mirror of life.
Tapi, jangan pernah hidup di masa lalu. Hiduplah saat ini menuju masa depan yang lebih baik. Oh, tulisan Menulis Cinta Yang Terpotong, direspon banyak orang. Dan, dari ‘obyek’ tulisan tersebut. Saya mohon maaf kalau kurang berkenan. Tujuan saya demi memotivasi orang menulis. Berikut tanggapan dari Si Dia yang ditulis melalui e-mail yang disalin pada postingan ini. Saya sadar, ini kurang elok … tapi, demi memotivasi menulis, nga apa-apa. Asal jangan berkelanjutan. Salam maaf.
Dear Uda … Ba a Kaba? Kemarin ulun happy banget, bisa komunikasi lagi. Lawas ya missing you. Kangen? Jujur, iya. Tapi sungkan bo’ mo bilang langsung. Lagi, pian somse. Ga pernah mo kasih kabar lagi. Ga kangen apa?
Btw, dari dulu ulun pengagum tulisan pian. Meski suka ga paham maksudnya (dulu lo …), dong nya baru sekarang. Maklumlah mas, jaman itu otak masih pentium2. Suka terobsesi. Dalam beberapa tulisan, terinspirasi gaya tulisan pian. Tapi, ga plagiat lo.
Dua minggu lalu, iseng mencai artikel tentang ’penulisan’, nemu website pian. Apa iya? Penasaran … o la la … e’ mak. Meneketehe!. Tambah penasaran dooonk. Terus ulun telusuri, gedubraakkkk. Alamak, ada fotonya pula. Tapi apa iya? Ulun zoom aja, Wooow … semelekete ! Iya dah, ngak salah, ga mungkin salah.
Tapi, kok pakaiannnya aneh gitu. Soal rambut sih bisa dimaklumi. Peci dan surbannya itu ma’, bikin ngak tahan. Apa yang terjadi? Spontan otak kanan agak protes dan sedikit berimjinasi, terbayanglah sinetron: Rahasia Ilahi. Wes wes wes, hebat kali.
Setengah ngak sabar ulun telusuri bagian lainnya. Ga salah. Pasti. Hm… ni dia ni, komentar ulun; asyik, enak dibaca. Sarat ide-ide pembebasan yang menggiring pembacanya pada cakrawala pemahaman mendasar dan kritis, sebagai wujud refleksi diri yang pada gilirannya akan munumbuhkan kesadaran. Sangat jeli dan cerdas menangkap fakta dan fenomena sekitar, memotretnyapun tidak dalam bingkai yang mainstrem plus dibunyikan dengan gaya bahasa menggelitik en dikit nakal (kadang suka ’menelanjangi’ orang). Maka, jadilah ia tulisan yang ”Crispy”. Ilmiah tapi ga berbau ilmiah, malah lebih dalem (jebolan filsafat, bo). Jauh dari kesan logika hitam putih. Sangat essensial. Lugas sekaligus tegas. Celakanya, bagi orang awam ide-ide tersebut kerap dianggap ga lazim dan agak aneh. Kerenlah pokoknya.
Nah, sekarang soal buku. Karena rasa pengen tau, besoknya pergilah ambo ke toko buku, hunting ceritanya. Ga nemu. Ke toko buku lain, ga nemu juga. Bete bos! Laris manis rupanya. Ya sudah, pulanglah dengan hati penasaran (pengen tau kaya apa sih isi buku itu?).
Begitulah ceritanya. Pokoknya ulun sueneeeeeng banar bisa bergurau sekaligus berguru lagi. Gimana? Selebihnya ga bisa diungkapkan. Lucunya lagi, yang klepek-klepek justru temen di samping yang ikut nimbrung baca. Kacau deh dunia. Pertanyaannya sungguh nakal: “Hayo ngapain aja tu ngobrol berduaan sampai pagi! Anak kecil ini mo tauuuuuuu aja.
Soal jalan hidup jelaslah amat panjang. Senang, sedih dan bahagia silih berganti. Satu hal, kisah kita selalu ‘mengintip’ kemanapun pergi. Matur suwun, uda mo berbagi cerita lagi. Tapi sayang ulun tak punya cerita indah untuk dibagi. Piye yaaaaaa.
Gini aja, ulun penasaran dengan novel uda itu. Mana tau dari situ ide menulis bisa mengalir. Kalo masih punya kirim ya da … Ta’ tungguin bener lo. Nanti ulun akan bercerita sesuatu yang ulun simpan rapi selama ini. Sebuah pengakuan lah.
Btw, udah jam 12, jam satu ulun ada ujian. Doi’in ya. Ditunggu komentnya. Ga pake lama lo, lagi seneng soale … miss u.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Februari 2008.









12 Responses to “Menulis Kisah Bermuara Persaudaraan”
By isnuansa on Feb 14, 2008 | Reply
ada cerita terpendam?
**Mengambang kali lah yaw
By sawali tuhusetya on Feb 14, 2008 | Reply
wah, lagi kangen2an lewat dunia maya ini pak ersis. salut banget nih. memang bener, pak, nostalgia indah untuk dikenang, tapi *halah sok tahu yak! * kenyataan adalah hari ini dan masa depan. terkurung pada timbunan masa lalu bisa membangkitkan sensor2 purba yang menggelisahkan. BTW, jujur saja aku tertarik pada pada pernyataan si ulun:
<blockquote>
Tapi, kok pakaiannnya aneh gitu. Soal rambut sih bisa dimaklumi. Peci dan surbannya itu ma’, bikin ngak tahan. Apa yang terjadi? Spontan otak kanan agak protes dan sedikit berimjinasi, terbayanglah sinetron: Rahasia Ilahi. Wes wes wes, hebat kali.</blockquote>
kekekekekekek …. emang dah lama ndak ketemuan ya, pak ersis, kok sampai2 si ulun terkejut amat sangat dengan foto pak ersis yang alim. emang dulunya pak ersis tuh ndak alim, yak? wakakakaka …. pantesan, diuber-uber cewek mlulu di mana pak ersis berada. bener2 don juan abad 21 nih.
*kaboor untuk kedua kalinya sebelum ditimpuk sorbannya pak ersis*
***Wakakakakaka
By Dee on Feb 14, 2008 | Reply
saya senang tuh Pak Ersis, bernostalgia masa-masa lalu dengan menuliskannya. Serasa orang-orang itu, nuansa dan suasana itu, hadir kembali di sekitar saya, membuat saya semakin bersemangat dan membesarkan harapan akan indahnya masa nanti
***O o ou, ketahuan kamu … lagu siapa itu. Jadi malu
By kikibbrutara2 on Feb 15, 2008 | Reply
salam kenal om…ulun gak ngerti urusan nostalgia, maklum masih kelas 2 sd. Cuma mau tanya om apa itu THE MIRROR OF LIFE ? makasih om
***Salam kembali …
By syaharuddin on Feb 15, 2008 | Reply
waktu adalah hari ini titik. yang kemarin telah lalu tak kan pernah kembali, masa depan belum tentu di dapat –kalau Tuhan yang Maha Berkehendak memanggil saat ini kan bisa jadi.Kegagalan banyak orang hari ini karena tidak belajar dari masa lalu itu. Maka itu belajar sejarah itu penting, tapi bukan hanya mengenang masa lalu kita dengan kata…”oh saya dulu…..dst”
***Kira-kira begitu euy
By meiy on Feb 15, 2008 | Reply
sambungan semakin asyik nih pak, emang kasih sayang persahabatan lebih abadi yo pak
makasih, karena tulisan ini aku jadi merenung lagi ttg apa2 yg sudah aku lakukan, mirror.
***Ya ya … jangan suka marah pada spesial he he he
By unai on Feb 15, 2008 | Reply
waduhhhh siapa nih pak? hayoooo kok miss u miss u an segala..hehehe…ayo pak, bisa jadi novel bagus nih, tapi jan lupa covernya saya yang bikin yah *hehe tetep
***Cover maniac nich ye … bikin buku aja, aku bantu.
By Arif on Feb 15, 2008 | Reply
Wah… bisa CBLK nih, Pak EWA.
By Ade on Feb 15, 2008 | Reply
Bicara soal hidup … hanya mengikuti keputusan yang memiliki hidup kita, memiliki Ade. Belajar dan terus belajar untuk bisa melangkah, bisa bernapas terus.
-Ade-
***Yoi, manusia memperjuangkannya.
By Mega on Feb 15, 2008 | Reply
Wow…ruamuantekk dech…duuhh..yang lagi bernostalgilaann..hehee
AKu jadi latah sampe nulis kisah cinta ma orang MuaLab doeloee..hahaha….pret..:P
***Romantisme adalah hal perasaan he he
By budimeeong on Feb 15, 2008 | Reply
askum…pa’,,,,
lam kenal aje…lun jauh-jauh cuma mo liat fhoto p,,,he
iye tuh pa’, ner anget…
soal nostalgia emang ga’ bisa dimodif palagi di jual,,,,he
plg pake miss u sagala,,,,
ah dah lu ye pa
waskum
***Sama-sama.