Menulis Cinta Yang Terpotong
14 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
“Hidup tidak surut ke belakang, ia lurus ke depan”.
GAGAP. Setiap manusia punya masa lampau. Apa-apa yang terjadi pada masa lampau, dalam terminologi sejarah, dinamakan sejarah. Sejarah, sebagaimana yang kita kenal, pasti subyektif. Tidak ada yang obyektif. Kalau ada yang mengatakan obyektif, pertanda tidak paham ilmu sejarah. Yang obyektif adalah kejadian atau peristiwanya. Tulisan tentang persitiwa tersebut tentu ‘sesuai’ dengan siapa yang menulis. Pasti subyektif; sesuai subyek, si penulis.
Begitulah. Menulis rangkaian kehidupan masa lalu, gimana gitu. Ada kenangan, ada pelajaran, ada meaning; tinggal bagaimana mengambil manfaat. Pada serial tulisan My Kampoong, Muaralabuh, saya cuplik tulis ‘perjalanan’ cinta pertama. Wuiw … diledek cewek-cewek (ibu-ibu).
Sebelum menikah, saya menyayangi seseorang. Sayang? Apa sih makna definisionalnya? Ya, sudah tidak usah dibahas. Sebagai lelaki dewasa, berkehendak menikah. Dia (maaf), masih childish. Menyebalkan, dalam dua tahun, kedewasaannya, lambat banget. Saya mengambil kesimpulan, dia bukan jodoh saya, dan tidak layak dicintai.
Padahal, hari-hari kami sering bersama. Kami punya diari bersama, surat-suratan. Dia pasti masih menyimpannya, sampai sekarang. Ketika sudah kawin pernah saya pinjam, untuk novel saya. Seru.
Kakakku, selamat malam …
Mimpi indahlah di tidurmu …
salam jauhku untukmu …
Tataplah kesunyian yang berkaca bening
Akan kau temukan hatimu yang rebah, letih
Berikan ia kemerduan suara alam
Atau kelembutan belai sang puteri salju
Agar ia bangkit dari kesedihan panjang
Tanpa keharuan, tanpa air mata
Yang jauh lebih agung
Saya tulis puisi cinta di Banjamasin Post, Seonggok Dahaga, dan Pesan Hati untuk … Mau yang lebih seru? Kupetikkan isi diari.
Tentang …; sejak mula aku perhatikan, tapi eling. Aku takut jatuh cinta, dan itu tidak boleh. Aku ingin agar dia benci. Namun, tidak berhasil. Bencinya tidak pernah abadi. Kami malah akrab. Surat-suratan, punya diari bersama, dan jujur … Aku sayang.
Dia adik dalam pikiran dan jiwa, walaupun harus melawan rasa lelakiku melihat dia sebagai wanita. Aku tidak mau, akan menyakitkan. Ada peristiwa spesial 6 Januari, dan 11 Januari 1992. Kami ngobrol sampai pagi, di kos saya. Tapi, jangan curiga dulu. “Kalau sesorang mencintaimu, dia takkan ‘merusak’ kamu. Kalau sesorang mengedepankan nafsunya, dari gegabah mencium, mengambil perawanmu, itu bajingan”.
Ketika dia pulang kampung, kukirim surat, aku hanya bisa menaganggap adik. Kuminta agar jangan mesra dalam surat atau menulis di diari. Tapi, ada yang tertusuk berdenyut-denyut dalam hati diam-diam, pain. Secara logika aku bangga, dalam rasa bak dihantam palu bertubi-tubi.
Ya, ditengah-tengah menulis tesis, tadi siang dia SMS. Seperti biasa, saya jawab, y, he he, dan seterusnya. Satu hal menarik, di telepon dia sudah bisa berbahasa Jawa. Mudahan dah kawin dan punya anak. Amin.
Rupanya dia menyimak www.webersis.com. Sungguh, sampai detik ini, di hati saya dia adik dalam arti sesungguh. Marahnya saya, beberapa hal telah dinasehati, dia jujur mengakui, tadi sore. Dalam keseharian mungkin saya keras, atau sok keras, tapi pada dasarnya, sungguh menyayangi (…oi..). Saya menjalin persahabatan dengan mantan-mantan. Bercinta sepanjang kehidupan dengan banyak orang tidak mungkin, isteri cukupah satu.
Di atas segala itu, silaturahim persaudaraan, apa pun alasannya, tidak elok tidak disambungkan. Satu sisi ‘dosa’ kewajiban kakak tidak ditunai sebagai diniatkan 15 tahun. Saya tidak cukup kuat rupanya. Maaf. Kehidupan pada akhirnya adalah pilihan.
Saya hanya berdoa, semoga S2nya cepat selesai lanjut ke S3. Di SMS dia menulis: “Uda. Hidup itu tidak surut ke belakang, ia lurus ke depan”. Kata-kata saya 15 tahun lalu. Aku menyayangi, tapi tidak bisa mencinta.
Gampang kan menulis? Sampeyan punya kisah kehidupan yang mungkin lebih segalanya. Jadi, kenapa tidak ditulis demi memasihkan menulis?
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Februari 2008.









15 Responses to “Menulis Cinta Yang Terpotong”
By Mega on Feb 14, 2008 | Reply
Wah…pertamax lagi…
By Mega on Feb 14, 2008 | Reply
Ciee..masih terbayang bayang ma cinta dikampoeng ni yee..hahaha..rasain aku ledek lagi..:))
***Ledek trus …
By Goop on Feb 14, 2008 | Reply
bahkan pak ersis pun mengalami dilema cinta
hohoho…
***He he …
By syaharuddin on Feb 14, 2008 | Reply
sejarah memang subjektif, tapi dengan menggunakan berbagai konsep dan teori serta metodologi, maka sejarah itu akan dapat mendekati objektif. Artinya, sesuatu yang dikisahkan itu benar-benar mendekati kebenaran atau realitas masa lalu sesungguhnya…itu kata dosen saya pak….
By meiy on Feb 14, 2008 | Reply
suit…suit…asyik banget bacanya pak, love is always indah ya, kasih sayang maksudnya
***Jadi malu …
By Yari NK on Feb 14, 2008 | Reply
Adik apa adik??
Wah… pengalaman cinta enak ditulis kalau dengan perasaan ya?? Haha…. memang betul tuh…. terkadang hanya batas tipis aja antara sayang dan cinta (definisinya sama hanya mungkin manusianya saja yang sengaja membedakannya agar dapat ‘mengelabuhi’ perasaannya sendiri…hehehe…)
Ngga apa2, normal itu, asal perasaan dan pengalaman seperti itu jangan dipupuk saja, saya juga sering melihat rumput tetangga lebih bagus dari rumput di halaman sendiri walaupun sebenarnya rumput di halaman sendiri mungkin lebih bagus kualitasnya (yg memang seharusnya begitu). Dan sialnya rumput di sebelah tetangga itu juga sering melihat diriku sebagai tukang kebon **halaah cuma setingkat tukang kebon huehehe** yang lebih cakap dalam mengurus diri mereka, rumput2 yang indah itu!
Memang cinta enak ya kalau ditulis dengan perasaan (dan pengalaman), tuh kan…. komen saya ini aja udah bisa jadi tulisan mini tuh!
***Ha ha ha … yang penting saya rasakan nikmatnya to … sembari nyakiti diri. Ibarat dipijak, kan sakit tu, tapi … nyaman.
By Hedi on Feb 14, 2008 | Reply
cinta kan ga harus memiliki, Pak…jadi bener, terus melangkah aja ke depan sambil memelihara cinta itu….caelah…sok tau saya ini
*** he he
By sawali tuhusetya on Feb 14, 2008 | Reply
membayangkan pak ersis kayak don juan pada masa mudanya, hiks, dikerubuti cewek-cewek, asyik, euy … wah, nostalgia masa lalu ternyata indah untuk dikenang. tapi kalau terus diungkit, penyakit “cinta” bisa kambuh loh, pak, hehehehehe
*sesekali kabur, takut ditimpuk asbak dan diary pak ersis, kekekekeke …. *
***Ah ngaklah untuk yang tearkhir. Masa lalu adalah kenyataan dan pelajaran. Maksih nich atensinya.
By Samsul Hadi on Feb 14, 2008 | Reply
ternjata memang tjinta tidak mengenal oesia, dari djaman nenek mojang doeloe sampai sekarang.
hehe.. kenapa ya cinta itu tidak seperti teknologi kayak komputer? selalu ada yang terantuk pada;bug< yang sama tanpa bisa menghindarinya. mungkin kalo cinta dibikin;open source; akan ada orang lain yang menemukan kesalahan dan memperbaikinya. hihihi, kayak linux aja
***Itulah hebatnya ras manusia, unik.
By mathematicse on Feb 15, 2008 | Reply
Wah Pak Ersis punya kenangan cinta juga rupanya…
Saya jadi pengen lagi nulis tentang cinta… ah .. indahnya…
Btw, tulisan ini ketahuan ga nih sama istri Pak Ersis? Hahahahahaha…
***Ya iyalah, kan saya manusia jua. Bahkan, seabreg lagi he he
By unai on Feb 15, 2008 | Reply
huhuy, semangat banget bacanya pak lah…kebayang masa mudanya, bisa2 cewek dibuat klepek klepek karena kata2nya hehe
***Ha ha ha … buktinya kali. Kalau kata-kata kan gombal aja tu.
By Arif on Feb 15, 2008 | Reply
Makin menyimak blog Pak EWA, makin yakin saya bahwa menulis itu sangat mudah karena semua hal bisa ditulis. Kebodohan kita bisa kita tulis. Kemarahan kita bisa kita tulis. Yang klise-klise semacam cinta pun bisa ditulis.
Membaca cerita yang ini, saya jadi teringat sepuluh tahunan lalu saya mencintai seseorang yang hanya pernah menyayangi saya, bukan mencintai. Dan sampai saat ini, saya tidak pernah membunuh rasa itu. Untuk apa dibunuh kalau hanya akan menyakiti hati. Biarlah dia hidup apa adanya, tanpa dipupuk tanpa disiram.
***Ya, jangan menyusahkan diri, kenangan adalah bagian kehidupan, ambil manfaatnya saja untuk memperkuat batin.
By ikaasgar on Feb 15, 2008 | Reply
pa !terima kasih banyak atas bimbinganya dan motivasinya sampai saya kebeli lektop ini .
***Yoi, selamat ber-laptop-ria. Tulis, tulis, dan tulis apa saja.
By budimeeong on Feb 15, 2008 | Reply
duh soal cinta ye emang ngga tau banyak si….
cz kebanyakan ditolak na,,,,he
tapi ye sekarang menyayangi “ade” yang ampe sekarang udah 1 taun setengah ( ga bisa kurang yaaa,,,hehe)kami selalu berbagi dalam kisah kehidupan, dia (ade) selalu dalam hati ye. padahal dia punya segudang mantan yang selalu menghantui ye. but enjoy aje. terinpirasi dari tulisan pa ersis “menulis cinta yang terpotong” ye berharap kasih sayang bukan hanya untuk menjadi istri/suami yang terpaku,soo kasih sayang bukan untuk dilupakan tapi akan memjadi pelajaran bagi kita sekarang, esok, minggu depan, bulan depan and to be continue.
ye juga mendo’a'in moga eje lovely na pa ersi 18 taunan yang lalu itu dapat menerima “pilihan” itu.
waskum Pa’
***He he … moga tuntung pandang kata orang Banjar.
By toni februari on Feb 20, 2008 | Reply
Kisah kehidupan yang tidak mudah dilupakan adalah kisah yang paling pahit dan yang paling manis yang terjadi dalam kehidupan kita..ketika kita tuangkan dalam tulisan,, ada rasa yang aneh yang muncul.. apakah esensi kisah ini akan mempengaruhi kita lagi atau tidak..dalam kehidupan,,ada yang mesti kita lupakan dan ada pula yang harus kita kenang..