Menulis Menembak Diri
13 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Kualitas kehidupan memula dari dalam diri. Bantuan sesama adalah motivasi sesunguhnya. Hidup itu sendiri-sendiri dalam kebersamaan.
MEMPERMALUKAN. Wajar memang, bila kita (seseorang) berusaha menutupi apa-apa yang kurang pas membelut diri. Maunya, gambaran diri, apalagi yang mempublik, OK melulu. Sampai-sampai ada yang berusaha setengah hidup. Dalam kaitan menulis, gara-gara malu tulisan belum seperti karya Kahlil Gibran, ditumpuk saja di files komputer. Ada yang, karena malas membaca, seolah-olah telah membaca ribuan buku, padahal dengkurnya mampu mengusir nyamuk paling ganas.
Tidak heran pula, bila ada saudaranya —sesama manusia— mendemdam resah minta tolong, dimaki-maki tanpa ampun. Bertanya —di wilayah publik— tentang, apakah Rasululah gondrong atau ‘gelar haji’ pantas dipakai —terlepas para Kiai memakai gelar kiai plus haji— dilebarkan kesegala penjuru angin. Lengkap dengan makian, berapa sudah buku yang dibaca, sudah paham belum Al-Quran atau Hadis dan seterusnya. Wong bertanya saja tentang praktik kehidupan, ‘agama’ kog dijadikan alat menakut-nakuti orang yang mau berpikir, belajar praktik agama.
Apa pula hal-hal sepele, bisa pula sangat serius, seperti merokok. Merokok itu kan pilihan. Kasihan orang seperti saya yang dibelenggu rokok. Dari kecil sudah merokok. Naga-naganya tidak punya persoalan mendapatkan rokok. Belakangan bahkan lebih gila. Saya berteman dengan bos-bos rokok di daerah saya. Sering disanggui rokok. Sangat sering.
Sampai-sampai dipercaya meneliti rokok-rokok terpopuler. Kalau mampir, biasanya dua bal —dua ratus bungkus lho— dihadiahi. Satu bal untuk saya dan satu bal untuk teman yang kepala daerah. Kalau tidak mampir, dikirimkan. Rutin. Kini saya tolak. Kalau merokok beli. Mau tahu puncak prestasi merokok saya? 5 bungkus sehari. Kini, hanya satu-dua bungkus. Tahun ini mau meminimalkan menjadi satu bungus. Mudah-mudahan bulan Ramadhan ini, nol rokok (kalau bisa).
Merokok, dalam pergulatan pikir saat ini, dipahami banyak mudarat dari manfaatnya. Kalau mampu meminimalkan, Alhamdulillah. Kalau tidak bisa ke kilo meter nol, ya sudah. Mengurangi saja sudah satu prestasi luar biasa. Kenapa?
Dalam hidup dan berkehidupan, memerangi diri, tepatnya memenej, diri bukanlah hal gampang. Rasulullah, sehabis perang, ketika memasuki Ramadhan pernah bersabda: Kita baru selesai perang kecil, kini mari siap-siap menghadapi perang besar. Apa itu? Puasa. Perang melawan diri, melawan hawa nafsu.
Ya, merokok, adalah pelampiasan nafsu. Saya sedang berusaha mengarahkan daya diri melawannya. Tidak mudah. Makanya minta para sahabat bloger mendhamabhaktikan pengalaman nyata, melawan kebiasaan merokok. Bukan maki-maki. Tapi, kalau dimaki, yah sudah ngak apa-apa. Nasib.
Oh ya, maksud saya, apa saja bisa kita tulis. Banyak hal dalam diri yang perlu diperbaiki. Memang, kewajiban memperbaiki itu nafsi-nafsi. Namun, tidak ada salahnya belajar dari sesama. Terkadang ‘meniru’ pengalaman baik orang lain bisa lebih jitu.
Ketika malas membaca, dungu menulis, atau tidak piawai bersajak, kita baca, dengar, amati hal-hal mengangumkan dari orang, kita akan tertarik. Lalu proses internalisasi berlaku. Ujung-ujungnya, di diri terasa, dan kehendak berkarya tertanam.
Sasaran panahnya, jika selalu memikir tentang susah, membaca hal-hal menyusahkan, didekati susah-susahan, berteman dengan orang-orang susah, ya susahlah. Ya, bisa jadi persoalan mindset. Mindset pasti bisa dirobah.
Merubah mindset, perilaku, kebiasaan, atau pindaian hal-hal sederhana dalam tata kehidupan memerlukan ‘keterbukaan’ pada diri sendiri. Akan lebih baik, manakala dianggap patut, juga dipelajari dari orang lain. Dalam praktik kehidupan, kita mengenal istilah curhat.
Jadi, mengetahui kelemahan diri, menatap dan kemudian berusaha memperbaiki, sesungguhnya praktik peningkatan kualitas. Kalau sudah paham tidak mampu menulis, menelusuri penyebab, mendiagnosis, mendisain praktik, lalu melakukan, tidak ragu lagi, menulis akan menjadi mudah.
Gurui diri, belajarkan diri. Tidak usahlah, dalam katup ini, terlalu banyak pikir. Sadari. Tulis, tulis, dan tulis. Kita pasti bisa.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 12 Februari 2008.













9 Responses to “Menulis Menembak Diri”
By Mega on Feb 13, 2008 | Reply
Judulnya nembak..doorrrrrrrrrr……
By Mega on Feb 13, 2008 | Reply
Hmm..niat rupanya telah ada ntuk berhenti ngudut ya..alias tidak merokok..coba aja kalau tiba tiba untuk merokok yang tidak bisa ditahan dengan memakanin permen karet..diIndonesia ada ga ya..dijual permen karet ntuk peganti rokok..apa mau dikirimin dari Jepang..?
By olangbiaca on Feb 13, 2008 | Reply
ASL…Pak Ersis, Benar yg bapak katakan itu. oiya pak ngomong2 tulisan ini udah lama ya di pendam ya pak? karna ada tulisan ini “Mudah-mudahan bulan Ramadhan ini, nol rokok (kalau bisa)” ehe…Alhamdulillah, emang pak sy dulu susah kale lepas dari “temen duduk ini” tp Alhamdulillah dgn tekad yg kuat dan ditambah doa serta pengalihan yg laen spt permen, sy bisa lepas darinya..ehe….sedikit pengalaman….thanks pak.
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
“padahal dengkurnya mampu mengusir nyamuk paling ganas.” sebuah perumpamaan yang satir haha
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
uhuk, mulai belajar untuk meninggalkan asap okok yang tak sehat itu pak…
***Yoha, mengurangi.
By sawali tuhusetya on Feb 13, 2008 | Reply
pasti bisa! setuju banget pak ersis. siapa pun bisa menulis. yang penting diciptakan adalah selalu menciptakan admosfer yang “mood” dan enjoy utk menulis. kebetulan saya ptu punya kebiasaan unik, pak ersis, suka ke belakang buang hajat berlama-lama. si tempat itu seringkali muncul banyak bahan yang bisa saya tulis, ttg apa saja. tentu saja sambil merokok, pak, hehehehe …. dari tempat semacam itulah seringklali justru secara takl terduga mendapatkan bahan2 tulisan yang (nyaris) tak pernah terbayangkan sebelumnya. itu menurut versi saya saja pak. saya yakin setiap orang mampu menciptakan “mood” dan atmosfer yang memicu “adrenalin” untuk menulis. bravo!
***Ha ha setuju. Kalau yang unik itu, saya ngak akan mencobanya. Ngak tega he he.
By Arif on Feb 13, 2008 | Reply
Pak EWA, selain menembak diri, menulis juga bisa menembak orang lain, komunitas, masyarakat bahkan juga negara. Iya kan?
Nah, mengenai berhenti merokok, saya kira sangat mudah. Kekuatan pikiran Pak Ersis ketika mengendalikan jemari dalam menyentuh kibor — merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi alinea, alinea menjadi karangan — yang sudah sangat hebat tinggal ditanam satu chip saja. Chip itu bernama Chip Jangan Merokok.
Apapun yang terjadi, selalu ingat chip itu. Ketika Pak Ersis ingin merokok, ingat chip itu. Ketika Pak Ersis ditawari orang untuk merokok, ingat chip itu. Insya’ Allah, dalam keadaan apa pun, asal Pak Ersis ingat chip itu maka Pak Eris akan TIDAK MEROKOK.
Percayalah kepada saya karena sejak 16 Juni 2007 lalu saya mempraktekkan hal itu dan saat ini saya berubah dari tukang menyiksa orang lain dengan asap rokok menjadi orang yang selalu tersiksa asap rokok orang lain.
***Sip, maksih. Saya dah baca. Jeleknya saya, ngak mampu komen di blogspot … chipnya ngak tertanam. Karena beragam komentar, saya pingin bikin bukua Cara mudah Berhenti Merokok. Bagaimana menurut Sampeyan?
By meiy on Feb 14, 2008 | Reply
sebelum bikin buku cara berhenti merokok, pasti pak ersis dah sukses berhenti duluan kan…good luck!
***Amin.