Menulis Lamunan

12 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Berpikir, kalau dilakukan secara benar, bukan tidak mungkin bisa menjadi benar, menjadi kenyataan.

IMAJINASI. Hari cerah. Mobil melaju di jalan lintas Banjarbaru-Banjarmasin. Hari itu, Senin, 11 Januari 2008. Kalau lagi duduk di bawah pohon di pinggir kolam, mungkin sedang melamun; termenung-menung, pikiran melayang-layang, berangan-angan, berfantasi. Atau, katakanlah berimajinasi membayangkan yang, tentu saja, susah menjadi kenyataan. Ah, kalau ‘khayal kosong’, ogah ah. Kan lebih elok ‘menyenangkan’ pikiran, ‘melawak’ di otak. Kog iso?
 
Ya, begitulah. Tiba-tiba teringat bercakapan di bulan Desember 2007, saat membenahi kolam ikan. Pak Steven dan Pak Bush, katakan begitu nama sahabat yang membantu membenahi kolam, sopan berkata: “Pak, bagaimana kalau upah kami dinaikkan menjadi Rp40.000,00?”. “Emang kenapa”, tanya saya.
 
“Harga-harga pada naik”. Lalu, saya merasa dikuliahi bahwa jaman Pak Harto dulu hidup tenang. Beras murah, lombok murah, apalagi tempe tentunya. Tidak ribut-ributan, tidak demo melulu, PSSI menang, kita jura umum SEA Games, partai-partai bikin pusing saking banyaknya, wakil-wakil rakyat sibut berdebat dan studi banding, dan bla-bla. Yang membanggakan, sekalipun Pak Steven dan Pak Bush pekerja serabutan, mereka mengikuti perkembangan bangsa.
 
“Ya lah”, kata saya bangga. Sebenarnya saya mau kasih Rp50.000,00 kalau Sampeyan …”. Ucapan saya dipotong: “Tidak Pak. Rp.40 ribu cukup. Lalu, sembari bercanda Pak Steven bilang: “Kalau dapat intan, nanti kita bagi dua ya Pak. Separoh untuk Bapak, yang separoh kami bagi dua”. Tidak dapat tidak, saya ketawa ngakak. Saking serunya, ponakan dan mertua yang sedang membersihkan kolam bergabung.
 
Pecahlah ketawa kami. Sekujur tubuh basah, bertambalkan lumpur bau, panas menyengat, dan keletihan membalut. Azan lohor mengalun. Luar biasa, canda mereka mengobat penat kami.
 
Ketika menulis tulisan ini, 12 Februari 2008, pukul 22.31 Witeng, mencoba mengingat perjalanan tersebut. Bagaimana suasana bundaran LA (Liang Aggang), memasuki kota Banjarmasin, kampus, eit … tak ada yang nyantol. Yang ingat ketika memarkir mobi, ke lantai 2, ke ruang 26, menguji skripsi sebagai kelanjutkan ujian hari Sabtu. Saya dapat jatah menguji enam skripsi mahasiswa. Artinya, selain menyetir, ‘pikiran’ digunakan untuk yang lain. Apa itu?
 
Pak Steven dan Pak Bush berteriak-teriak: “Pak-pak Galuh —sebutan pendulang Banjar kalau menemukan intan. Ada sepuluh, sebesar ibu jari”.  Secepat kilat kami menatap intan di tangan Pak Steven dan Pak Bush. Masing-masing memegang intan. Ada yang merah delima, biru, safir, jambon, buggi, pelangi, hitam, kristal, dan unggu. Lalu, mertua, istri, anak-anak saya, dan para tetangga bergabung.
 
Lalu, di tanah seluas 25 hektar di samping kolam, kami membangun kompleks modern pendidikan lengkap dengan perpustakaan konvensional dan digital. Tentu, setalah intan ke Arab Street di Singapura. Dan, teman-teman bloger direkrut membangun pusat pengembangan IT. Mimpi menyainggi Bill Gates, Lary Yang, Brin dan Page, Azim Premji menjadi kenyataan. The Lenovo Affair ala Ling Zhijun tak ada apa-apanya. Banjarbaru menjadi lebih bergensi dari Silikon Valley. Indonesia menjadi pemain high technology.
 
Ah, terserahlah Sampeyan mau tertawa atau menetawai tulisan ini. Yang pasti, saya telah menulis lamunan. Lagi pula, dapat penyadaran, rupanya menyetir yang dilakoni hari-hari telah menjadi  reflektif, dan … otak dapat digunakan untuk yang lain. Kali itu, ya itu tadi, melamun.

Melamun, dapat pula dikatakan mimpi atau impian, terkadang bersarang di alam bawah sadar. Bahwa kalau kita hidup selalu dalam mimpi, jelas tidak elok. Bahwa mimpi adalah halal, barangkali ada benarnya. Bahwa konon komik science fiction berbuah flash Gordon, yang konon, lebih memicu ras manusia kepincut menjelajahi angkasa, entahlah.
 
Logikanya, khayalan saja bisa ditulis, apalagi kejadian yang dialami sehari-hari. Bahkan, khayalan dalam kontek berpikir, kalau dilakukan secara benar, bukan tidak mungkin bisa menjadi benar, menjadi kenyataan. Bukankah banyak hal keilmuan dan tehnologi dari hasil olah pikir pemikir? 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 12 Februari 2008.

  1. 7 Responses to “Menulis Lamunan”

  2. By mathematicse on Feb 13, 2008 | Reply

    Iya betul, hayalan itu bisa ditulis. Seringkali orang yang membaca menganggap itu kenyataan, padaal hanya lamunan semata. Seperrti cerita-cerita yang saya buat di blog, sebagian besar dari hayalan… dan orang-orang banyak yang menyangka asli kenyataan… saya hanya tersenyum…. :D

    ***Khalayan, dalam pengertian agak beda dan terstruktur, apabila dilandasi logika dan tatapan ‘kenyataan’ formulasinya berbuah hasil pikir, ujung-ujungnya bisa jadi teori lho … yang perlu disinerjikan dan diuji kenyataan. Aha, lain kali kita bahas. Saya sedang menyiapkan buku Penelitian dan Karya Ilmiah. Sabar ya.

  3. By mathematicse on Feb 13, 2008 | Reply

    Eits, tapi biar haylan kita itu bagus, perlu juga ditunjang dengan wawasan, pengetahuan, pengamatan terhadpa kejadian sehari-hari, dst.

    Jadi walau menghayal, tetap saja tak 100% hayalan.. :D

    Keduax…. pertmaxnya lupa nulis tadi… :D

    ***Yoi, itu yang ‘dimainkan’ penulis he he

  4. By edy on Feb 13, 2008 | Reply

    sepertinya tetep perlu hayalan
    untuk mendorong diri supaya mau berbuat
    kalo saya sih seringnya nyusun draft tulisan pake hayalan
    lebih enak :lol:

    ***ya. Tinggal diformulasikan, dan … dinyatakan.

  5. By Cabe Rawit on Feb 13, 2008 | Reply

    Iya Bang… Berkhayal adalah salahsatu keunggulan ras manusia. Karena khayalan dan mimpi manusia terlahir dari besarnya kapasitas dan potensi akal manusia. Dengan akal pula khayalan dan mimpi manusia mencoba mewujudkannya.

    Ane kagak tahu persis apa binatang juga berkhayal, ato ngelamun ketika mau bobok, ngekhayalnya kaya ras manusia, pengen ini, pengen itu, pengen bisa terbang dan laen-laen. Tapi kalopun iya binatang juga berkhayal, mereka kagak bakalan bisa sepintar manusia buat ngewujudin khayalannya. Ah, lagi-lagi karena akal pula.

    Dan ternyata nih bang, Allah sendiri sudah menyatakan bahwa kesempurnaan penciptaan ras manusia dibanding makhluk laennya adalah karena akalnya.

    Jadi kalo ada orang yang jangankan berkreasi menciptakan sesuatu, buat berkhayal aja pelit… masih layakkah disebut manusia? :mrgreen:

    ***Ras manusia lebih unggil lagi, karena menulis he he

  6. By Mega on Feb 13, 2008 | Reply

    KAlau aku disaat melamun dan dibawa menulis hasilnya pasti lari ke Puisi..jadinya isinya ga tanggung2 ..banyak gombal gombalan belaka yuhuuu..

    ***Itu kan penilaian Sampeyan sendiri.

  7. By unai on Feb 13, 2008 | Reply

    Nah saya suka ini, pak..menulis setiap lamunan saya..mencatatnya dalam buku yang sekarang lebih dari satu lusin jumlahnya. Hehehe masih musim juga yah menulis di buku :)

    ***Siiip. Bagus. Aku dukung deh.

  8. By meiy on Feb 14, 2008 | Reply

    karena kemampuan melamunlah manusia punya peradaban ya pak. asal jangan melamun kosong.

    ***Siiiip … melamun berpikir dalam bentuk lebif soft, kalau tidak terkontrol, sebaliknya … bisa ngak wasaras he he

Post a Comment