Menulis Pertanda Waras
10 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Mereka yang mampu berpikir pertanda pikirannya masih sehat; sehat jasmani dan rohani adalah garansi menulis.
WARAS. Kadang-kadang, apalagi kalau ditanya mendadak tentang menulis, ada kalanya dijawab rada-rada aneh. Otomatis sih. Setelah itu baru mikir. Padahal, teorinya mikir dulu baru menjawab. Fenomena tersebut —belum bisa dipastikan— yang dilabeli dengan berpikir reflektif. Begitu juga kalau menulis sesuatu, berproses begitu saja. Kalau menulis buku teks, agak beda memang. Setelah selesai, baca buku terkait. Tidak semua hal mampu kita ketahui. Paling-paling cuilannya.
Ketika seorang guru yang ‘belajar’ menulis menyelesakan artikelnya kegirangan sembari berseru: “Pak saya bisa menulis”, langsung dijawab: “Pertanda Sampeyan waras”. Dia kaget, saya juga kaget. Kog kata-kata tersebut keluar begitu saja dari mulut. Biasa becanda memotivasi.
Ya. Kalau tidak waras mana mungkin menulis. Waras itu kan artinya orang yang sehat rohani dan jasmani, fungsi-fungsi diri masih normal. Agak ngawur memang, tapi dia menyimak. Untung saja pertanyaan tidak dilanjutkan: “Kalau begitu selama ini saya tidak waras ya Pak?”. Wah, kalau dia bertanya sedemikian, saya bisa kelimpungan. Waras menulis mungkin baru ‘dibuktikan’, waras yang lain, waraslah.
Mereka yang menulis pastilah waras. Orang gila, orang tidak waras, pikirannya tidak karu-karuan, mana mungkin menulis. Kalaupun menulis, dia bisa ‘tambah gila’ membacanya, apalagi orang lain. Menulis menuangkan pikiran, pikiran yang tertata, pikiran yang ada ‘nilainya’. Bukan sembarangan pikiran. Waras, tapi tidak menulis. Ya, ngak apa-apa juga. Tidak semua orang waras harus menulis atau jadi penulis kan?
Karena itu, kalau berkehendak menulis, menjadi penulis, agar pikiran bisa lincah beroperasi sebaiknya diberi asupan memadai melalui bacaan. Pati sari bacaan ‘digiling’ di rumah pikiran (otak) dan dituangkan melalui pipa tulisan menuruti tatanan logis, disajikan di nampan kertas atau layar monitor dalam anyaman kata-kata, kalimat, paragraf, menjadi halaman-halaman dalam kesatuan pikiran.
Jelas, proses tersebut taat pada alur berpikir waras. Kalau ada cela ‘tidak sehat’ menyusup, keluaran tulisan bisa ‘bau’ atau cacat bawaan, tidak nyaman dinikmati. Jangankan orang lain, penulisnya saja (yang waras), bisa puyeng membacanya. Artinya, bisa saja dalam ukuran kehidupan sesorang waras, namun tulisannya kurang waras.
Agar orangnya waras, tulisannya waras, ya menulis perlu berlatih. Bukan tidak mungkin, mereka yang baru belajar menulis, lalu langsung berkehendak menjadi penulis sekaliber Ernest Hemingway atau Pramudya Ananta Tour, pertanda pikirannya kurang waras (he he maaf dangsanak ai, becanda).
Juga, mana tahu, para pelatih, guru, atau motivator menulis, kalau ‘memeriksa’ tulisan pemula lalu memaki-maki, membanding-bandingkan dengan karya penulis tingkat dunia, pertanda jalan pikirannya kurang waras. Manalah mungkin karya pemula, orang yang baru belajar menulis, tulisannya langsung berstandar tulisan penerima Hadiah Nobel. Mungkin kurang waras juga, he he.
Berita baiknya, bagi pemula, tulis, tulis, dan terus tulis. Berpikir waras berarti proporsional, meletakkan sesuatu pada tempatnya. Ketika belajar, ya belajar dululah. Wajar, sangat waras belum sempurna. Namanya juga baru belajar. Fasih jalan karena ditempuh, sebuah pepatah klasik. Artinya, memang ada salah, ketidaksempurnaan yang waras.
Dus, tulisan yang menjadi, menjadi dari pikiran waras melalui proses kerja kewarasan otak yang waras. Kalau Sampeyan girang-gemirang, melonjak gembira ketika berhasil menyelesaikan tulisan, pastilah bukan karena gila, tetapi karena waras. Tapi, kalau tidak mampu menulis, mengkritik, mencela, menghujat, apalagi sampai memaki-maki penulisnya, hati-hatilah. Datangi psikiater, jangan-jangan ketidawarasan sudah memasuki stadium berapa gitu.
Satu tambahan, senang, gembira, bangga, dan saudara-saudaranya boleh saja. Namun, jangan berlebihan, apalagi sampai sok atau riya. Pandai-pandai mengahrgai karya sendiri. Pandai-pandai menjaga kegembiraan dalam menulis. Kepandain adalah pertanda kewarasan. Yakin, kita orang waras he he. Minimal waras dalam menulis, menyempurnakan waras-waras yang lain. Ya, kita orang waraslah. Minimal menurut kita.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 Februari 2008.













15 Responses to “Menulis Pertanda Waras”
By Ridu on Feb 10, 2008 | Reply
Alhamdulillah,, kalo gitu ridu waras yah!
By Hair on Feb 10, 2008 | Reply
<p>Salut deh buat pak Ersis. ada-ada aja tulisan untuk memotivasi kita yang baru belajar menulis. kalau begitu saya termasuk orang waras donk pak? atau jangan-jangan orang yang menganggap dirinya waras itu sebenarnya ada kecenderungan sedikit ke arah gila?<br />
Jadi bingung sendiri nih</p>
***Bisa jadi …
By amaxbreaker on Feb 10, 2008 | Reply
Salam kenal Pak
Alhamdulillah, berarti saya waras
saya juga lagi belajar nulis nih, mohon bimbingannya…
***Sama-sama. Dengan senag hati kita sama-sama membiasakan menulis.
By sawali tuhusetya on Feb 10, 2008 | Reply
wakakakakaka … bisa jadi kebakaranm jenggot dan kelimpungan bagi pengunjung yang ndak suka menulis begitu mbaca post ini pak ersis, hehehehe
tapi emang bener sih, mana ada orang ndak waras yang bisa bikin tulisam, hiks. eh, tapi lantas berarti orang yang ndak bisa menulis berarti gila loh.
***Ha …
By Dee on Feb 10, 2008 | Reply
Saya waras lho Pak!
***Yoi.
By mathematicse on Feb 10, 2008 | Reply
Saya waras lagi kalau begitu. Waras menulis dalam bahasa Indonesia. Kemarin-kemarin ga nulis dalam bahasa Indoensia. Nulis dalam bahasa Inggris. Dua-duanya asyik.
***Waras menulis berarti makin menyempurnakan kewarasan yang lain.
By Mega on Feb 10, 2008 | Reply
Wakakakss..kocak sekalee….jadi sampe mesem2 ndiri baca ini…berarti masih waras ya..karena bisa ngerti tulisannya..jgn dibilang ga waras ya..secara aku tersenyum2 sendiri didepan monitor..hehe
***Wa kakakak … Ngak lah becanda aja kog. Kalau ketawa berhasil dong …
By windede on Feb 10, 2008 | Reply
Ddalam masyarakat yang gila, orang waras justru tampak gila. jadi, gila dan waras tak bisa diterjemahkan hitam-putih. sampeyan boleh merasa waras karena suka menulis, tapi jangan bilang yang tak suka menulis itu gila. di masyarakat yang tidak suka menulis, penulis (apalagi motivator penulisan) seperti sampeyan justru adalah orang gila…
***Kalau saya sih suka-suka orang sajalah menilai. Tujuannya memang memberi semangat siapa saja yang ingin menulis agar terlecut semangat menulisnya. Kalau ngatain yang tidak menulis gila, tobat. Kalau begitu cara berpikir dan konklusinya, bini gua, mertua, ayah-bunda ngak waras dong karena tidak menulis, ya ngaklah lah yaw.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 10, 2008 | Reply
Waras, Amin.
***Amin.
By Fakhriati on Feb 10, 2008 | Reply
Kalau guru/ dosen bahasa yang mengajar muridnya menulis dan sering memberi tugas menulis tapi guru/ dosen itu sendiri belum pernah menerbitkan satupun tulisannya, apakah dia tidak/ kurang waras?
***Ngak begitulah. Sebagai individu waraslah, mana mngkin orang jadi dosen atau guru ngak waras, kan ada syarat jadi guru. Tapi, kalau menulis, kewarasn lebih sempurna.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 10, 2008 | Reply
Terkadang, untuk mencitra seseorang sedang waras atau tidak memang bisa lewat sebuah karyanya, ya salah satunya menulis. Artinya menulis itu bisa aja lho dilakukan orang yang kurang waras.. he he he
***ha ha ha
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 10, 2008 | Reply
Yang tadi itu menurut saya lho, pak.. he-eh he
***ya yang nulsinya kan Sampeyan.
By meiy on Feb 12, 2008 | Reply
kalau tidak menulis aku jadi nggak waras hehehe..
menulis kdg2 gila-gilaan, gmn sih ya pak?
apa tanda2 tak waras?
***Kura-kura dalam perahu. yang pasti, kalau menulis, waraslah menulisnya.
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
Kalau yang tak menulis dikatagorikan tak waras, bagaimana dengan tidak membaca pak?
***Tinggal dikuadratkan saja he he
By esa on Feb 15, 2008 | Reply
heheh..yang menarik tuh kata-kata windede..lucu juga
Ya memang org waras diantara orang gila jadi gila, tapi kita waras kan?
Tulisan pa ersis cukup jelas sepertinya, waras dalam menulis..waras jg bukan berarti sakit jiwa alias sesuatu yang bisa dibilang “akal sehatnya” hilang. Tapi juga kesadaran..dan waras menulis berarti dia punya kesadaran menulis. Heheh.
Saya berarti sudah “menyempurnakan” waras saya..seperti halnya menikah menyempurnakan setengah ketaqwaan..menulis juga menyempurnakan kewarasan-kewarasan lainnya. Jadi yang ga suka nulis bukan ga waras, tapi kewarasannya blm sempurna
***Ya ya ya, waras menulis he he