Menulis Mendobrak Tradisi
10 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
… Jangan mimpi akan lahir para penulis dari masyarakat yang belum memiliki tradisi membaca. (Asep Saeful Muhtadi)
DONGENG. Paparan Asep Saeful Muhtadi pada pengantar buku Aep Kusnawan, Berdakwah Lewat Tulisan, cukup menyentil pemikiran. Menurutnya, masyarakat kita (Indonesia) masih akrab dengan tradisi lisan. Sebagai alternatif membaca, masyarakat kita masih lebih suka mendengar. Bahkan sekadar berpendapat secara lisan, tidak. Diketengahkan bagaimana masyarakat lebih suka mengikuti ceramah, mendengar dongeng, sampai kengandrungan pada sinetron. Pasif.
Asep lebih menggoda, padahal awalnya tertarik membaca buku Aep karena ingin menangguk gagasan bagaimana menulis berbingkai dakwah. Jujur saja, saya ingin menjadi penulis yang lebih berarti. Tulisan-tulisan saya selama ini kan masih sangat awal. Lagi pula, sangat ingin menulis tentang Rasulullah dalam bahasa ‘ringan’. Nyatanya, belum berani. Semakin banyak membaca, semakin kagum Rasullah, dan agak anggau menulis. Apa sebab?
Ingin menulis agak mendalam dengan bahasa ‘ringan’. Ternyata, tidak mudah. Apalagi menyangkut manusia tauladan yang berstatus Rasul Allah. Mudah-mudahan ‘keberanian’ semakin menebal. Entah akan tergapai atau tidak, soal nanti saja. Minimal, semakin rajin membaca sirah Rasulullah.
Bukan soal narsis atau apa. Sudah saatnya, ketika kefasihan sudah didapat, beralih ke menulis lebih dalam. Dengan demikian, motivasi menulis untuk diri sendiri semakin tebal, dan kalau teman-teman mendapatkan hal yang sama tentu akan lebih baik. Namun, tidak semua yang diingnkan harus menjadi kenyataan bukan?
Membaca pengantar Asep, nampaknya tidak sepenuhnya benar. Misal tentang minimnya sikap membaca masyarakat Indonesia. Saya berpandangan, hal itu semakin mengembirakan, dan menulis kini semakin digandrungi. Nyatanya, penulis bermunculan.
Sekalipun demikian, melihatnya dalam kerangka motivasi. Asep memotivasi agar bagaimana semua pihak lebih mentradisikan membaca, mentradisikan menulis. Hingga, ‘kebanggaan’ pada tradisi diam, tradisi mendengar terkurang adanya. Sebagai orang yang berprofesi guru, saya menatap diri, pada tingkat tertentu Asep ada benarnya.
Ya, sebagaimana ditulis sejak rangkaian tulisan tentang menulis dimulai, membaca adalah asupan pokok menulis. Mari kita isi hari-hari dengan membaca. Membaca yang tersurat dan tersirat, membaca alam dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Dilengkapi dengan membangun tradisi menulis, mengikat pengetahuan dengan menulis, mudah-mudahan tradisi diam, tradisi dongeng, semakin berkurang.
Entah kenapa, terutama dalam lingkungan terbatas, membaca dan menulis apabila dipantik bukanlah hal terlalu sulit. Sebab, pada hakekatnya semua orang, siapa saja memerlukan informasi. Bahwa informasi bukan hanya berasal dari bacaan tentu ada benarnya. Sebaliknya, mendapatkan informasi dengan membaca dan mengikatnya dengan menulis tentu tidak kalah positifnya.
Membangun tradisi membaca, membangun tradisi menulis, kesitulah kapal kita arahkan. Menulis, biarlah belum sempurna, kita (saya) masih belajar. Tepatnya, melatih menulis, memasihkan menulis.
Dus, mari kita bangun tradisi membaca dan menulis. Dimulai dari diri sendiri, lingkungan terdekat, dan terus melebar. Hingga, pada akhirnya kita membangun masyaraat membaca, masyarakat menulis, membangun peradaban.
Jangan pula Sampeyan sulang, kalau semua orang menulis, apa ngak kebanyakan tu? Saya menulis hal tersebut dalam katup memotivasi menulis. Menulis, menulis, dan terus menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 10 Februari 2008.










9 Responses to “Menulis Mendobrak Tradisi”
By Mega on Feb 10, 2008 | Reply
Dobrakkkkkkkkk…duluan..
***Cepat nich ye … per detik. Luar biasa.
By Mega on Feb 10, 2008 | Reply
DiNegara kita emang minim sekali ntuk kebiasaan membaca ya..?..Liat tuh di Jepang..orang dimana2 kerjaannya membacaaa trss..dikereta..dihalte..dibus..pesawat..diWC..heehe..baca n baca..
***Makanaya Jepang mau, kali aja
By Mega on Feb 10, 2008 | Reply
Hahaha..wong aku lagi duduk manis di EWA sini..makanya ngedobrak duluan..:P
***Ha ha ha … saya merasa dapat kehormatan he he
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 10, 2008 | Reply
Iya, memang kok tradisi kita lebih suka mendengarkan ceramah dll, padahal ada satu segmen lagi untuk mendkwahi orang-orang yang gak ada waktu untuk mendenagr ceramah, ya lewat tulisan. tulisan dakwah.
***Ceramah bagus, akan lebih bagus dilengkapi dengan membaca. Dus, harus ada yang nulis.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 10, 2008 | Reply
Pak Ersis, semoga terkabul cita-cita Sampeyan menulis tentang Rasulullah dengan gaya bahasa ringan, amiin.
Selamat membaca sirah nabawiyah dari banyak penulis.. selamat dan selamat.
***Amin makasih doanya.
By mathematicse on Feb 11, 2008 | Reply
Wah, saya pikir Pak Ersis sudah menulis lewat bingkai dakwah. Ya, dakwah alias mengajak pembaca di mana pun berada untuk menulis. Jadi, kayaknya udah cukup baca kata pengantar buku Aep, ga usah dibaca isinya. Hahahahahahaha… (becanda).
By mathematicse on Feb 11, 2008 | Reply
Btw, saya sebetulnya suka ngedenger orang dongeng. Suka ngedenger orang cerita. Suka ngedenger orang ceramah. Suka nonton (sinetron) Hahahaha…
Nah, dari ceramah2 atau dongeng2 orang yang suka dongeng itulah bisa lahir tulisan. Saya suka menuliskan apa-apa yang mereka katakan pendapat pribadi. Orang-orang yg pandai bercerita atau mendongeng atau berceramah tetap penting… (khususnya bagi saya).
MEndengar atau menonton lebih enak… ga usah mikir terlalu keras, tapi ilmu dapet.
(manfaatin aja mereka-mereka, sekedar refreshing). 
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
mungkin masa lalu juga pegang peranan penting yah pak, Kita yang dulunya terjajah ini sudah sangat terbiasa dan mengkonsisikan untuk hanya mendengar, tanpa membaca. Miskin material juga membuat hasrat membaca hanya mandeg pada bacaan2 yang gratis. Yaaaa seperti saya ini, senangnya ruar biasa mendapat buku2 bacaan gratis dari bapak :)…
***Ya masa lalu bukan wajan kehidupan kita, kita hidup di masa depan, berpijak apa yang diperbuat hari ini.
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
oh ya pak, suami saya yang tadinya tidak suka membaca kini tertular, menjadi orang yang tidak pede apabila sehari tanpa bacaan…
***Amin. Alhamdulillah.