Menulis Memenej Mau

10 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Landasan pijak menulis, pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan keterbukaan berkorelasi positif kualitas tulisan.

BACALAH. Jadi inget nasehat kakak tentang surat Al Alaq yang memerintahkan: “Bacalah”. Pada ayat keempat: “yang mengajarkan melalui pena/tulisan”. Memang, pengetahuan memiliki korelasi positif dengan bermutu atau tidaknya tulisan. Semakin banyak menulis, tuntutan untuk belajar menjadi semakin besar. Andai para pendidik kita hobi menulis, pendidik semakin pinter, anak didiknya lebih pinter. Sepertinya belum banyak dilakukan pendidik di indonesia.
 
Begitu komentar seorang teman blogger di www.webersis.com. Saya jawab: Ya kita menuju kesitu, makanya kita kompori terus. Komen tersebut menginspirasi tulisan ini. Yang perlu dicatat, tulisan-tulisan saya berbingkai motivatif, kalau ada kesan pesimis, saya justru optimis.
 
Apalagi komentar blogger berikut: Menulis bergaya berkehendak sempurna ketika memulai, mungkin dampak budaya instan Bang. Sehingga, malas melalui proses berdarah-darah. Maunya langsung  bagus. Banyak dikomen, baik-baik semua, dan seterusnya. Sulit menerima kenyataan, bahwa baik dan buruk, puji dan cela itu kekasih sejati.
 
Saya ‘menikmati’. Dari malas menulis, ingin menulis, terus … menulis. Mulai dari tidak peduli  komentar orang, sampai ingin dikunjungi dan dikomen banyak orang. Dari masa bodoh, mempertimbangkan alangkah baiknya jika tulisan mampu ’bring’ and ‘change’ mind set. Tulisan bukan cuma tempat sampah, tetapi menjadi sumber inspirasi. Masing-masing situasi itu butuh penyikapan berbeda.
 
Bang, bagi pemula seperti saya, butuh ‘kebanggaan’ dan ‘percaya diri’, agar terus menulis dan menulis. Sedangkan para pakar dan motivator seperti Bang Ersis PR-nya lebih ke agar tidak sombong, jumawa, terjebak menganggap tulisan orang jelek, dan seterusnya.
 
Ya, kalau kita memulai menulis dengan landasan bagus, sebagaimana dikutip, katakanlah dalam bingkai amanah sebagai orang beriman, sungguh sangat bagus. Jangankan menuliskannya, berniat saja bisa jadi dicatat malaikat sebagai kebaikan. Kalau salah pada prosesnya mudah-mudahan dimaafkan. Toh niatnya on the track.
 
Pada tataran demikian berlatih bermakna sangat penting. Dalam pada itu, harus cerdas memenej mau. Dalam bahasa lain, pandai-pandai mengukur bayang-bayang. Kita harus berani ‘menyiksa’ diri berlatih dengan mengambil manfaat pada setiap etape. Dalam kalimat cerdas kawan kita, jang sulit menerima kenyataan, bahwa baik dan buruk, puji dan cela itu kekasih sejati. Wuaw … bermakna dalam.
 
Artinya, kita pancangkan cita-cita setinggi-tingginya, namun kita sadar berpijak pada kenyataan. Berlatih, melatih tulis-menulis berkesinambungan. Menyadari dimana posisi saat ini, kemana kapal hendak didayung, bagaimana ‘menahan’ kehendak yang kadang mengebu-ngebu yang kalau tidak disikapi dengan tepat bisa menjadi bumerang.
 
Sebab, menulis adalah proses belajar. Menulis berarti kita terus belajar, semakin giat membaca, semakin rajin menambah kemampuan dan keterampilan menuju menulis, merakit tulisan yang lebih baik.
 
Akan halnya para guru, motivator agar tidak jumawa, tidak sombong, atau tergelincir menjadi riyah, mudah-mudahan tidak. Akan halnya saya pribadi, tolong diingatkan kalau ada tanda-tandanya. Bagaimanapun seperti saya tulis sejak awal, bagi saya menulis adalah pembelajaran.
 
Memang, bagi motivator pilihan diksi bermuatan motivatif terkadang bisa berkesan ‘menusuk’, namun maksud sesunguhnya agar memantik, lebih punya otot memotivasi. Kalau ada yang salah, kan bisa diperbaiki, no body perfeck.
 
Akhirnya, mari saling melengkapi, bukan saling mencederai atau ‘membunuh’. Mari menulis, menulis, dan terus menulis. 
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 10 Februari 2008.

  1. 7 Responses to “Menulis Memenej Mau”

  2. By mathematicse on Feb 11, 2008 | Reply

    Pertamax dulu aaaaaaaaaaaaaah :D

  3. By mathematicse on Feb 11, 2008 | Reply

    Iya, asal mau dan konsentrasi, insya Allah kita bisa menulis. Perkara bagus atau tidak itu urusan belakang.

    Tapi kalau saya sih, kalau ga bagus, ga mau diposting. Simpan aja dulu, edit lagi. Kalau ga bagus2 (setelah dibaca berulang-ulang). Ya ga usah diposting. Yang penting kan udah nulis. Kalau ga sempurna, itu sih biasa.

    Kalau ingin tulisan seperti para penulis hebat, tapi ga mau latihan, wah berabe tuh (saya juga penengen bisa menulis hebat seperti orang2… tapi belum bisa juga sepertinya. Masih belum bagus2… gemana dong Pak…? :D )

    ***Ha ha yang penting nulisnya. Insya Allah bisa.

  4. By Mega on Feb 11, 2008 | Reply

    tapi gmn juga itu ya dgn orang2..termasuk aku ya..walopun sdh mengembangkan kedua tangan untuk bisa terbang menulis..tapi sedikitpun ga bisa bisa..ehehhe emang burung kali ya bisa terbang..

  5. By meiy on Feb 12, 2008 | Reply

    jadi mikir aku kadang kalau nulis masih suka-suka, kurang mikirin kualitasnya . hadow

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 12, 2008 | Reply

    Kadang takut juga lho, mau meng-komen tuh. Tapi ya ini sebagai pembelajaran saya juga. Maka ya komen-lah…

    ***Ini resepnya. Baca, pahami, dan baru komen … Insya Allah akan jadi komen yang betul-betl komentar, bukan komen sambil lalu. Kita melatih membaca, memahami, dan menulis … dan bisa bermanfaat bagi banyak orang.

  7. By unai on Feb 13, 2008 | Reply

    kemauan sih besar pak, tapi kualitas penulisan, waaaa jangan tanya..masih di bawah standar banget. Perlu banyak berlatih, betul banget…

    ***Itu kata samopeyan lho, itu mindset.

  8. By arifr on Feb 17, 2008 | Reply

    mohon petunjuk Guru…

    ***Ha ha suka ngledek nich ye

Post a Comment