Menulis Menghina Karya Sendiri

8 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Mamasihkan menulis dari keberanian memulai, aplikasi percaya diri, dibarengi sikap menghargai karya (tulisan) sendiri.

KONYOL. Dari hari ke hari, sejak ‘buka praktik’ sharing menulis dengan sekitar 100 guru-guru selama tiga minggu, sungguh mengasyikkan. Sebab, mendapat hal berharga dalam mengembangkan motivasi menulis; menyebarkan virus menulis. Betapa tidak. Saya mendapatkan jawaban mengapa banyak orang —terutama guru-guru— kesulitan menulis. Mulai dari alasan kuno bakat sampai belenggu mood, tema, dan hal-hal lucu seperti tidak ada waktu.
 
Yang paling menyebalkan, guru yang suka beralasan. Pokoknya ada saja alasan. Kalau ada mata kuliah Membangun Alasan, akan mengusulkan dia menjadi pengampu mata kuliah tersebut.
 
Yang paling dominan, tidak percaya diri. Setelah membaca kembali ratusan komentar tentang aneka tulisan saya di www.webersis.com., rupanya epidemi tersebut sudah ‘mendunia’. Apa itu?
 
Pak, saya sangat berkeinginan secepatnya bisa menulis yang bagus. Tapi, tidak berbakat. Aneh. Wong dia sudah menulis, sudah ada karya. Lalu, yang ditulis itu apa? Dia sudah melangkah, tapi kog cara berpikirnya kuno begitu.
 
Lebih parah lagi, menvonis karyanya tidak mutu. Kog bisa-bisanya begitu. Dia mikir sendiri, nulis sendiri, berkesimpulan, menilai, dan ‘membunuh’ tulisan sendiri. Seolah-olah pelaku, penuntut, pembela, sekaligus hakim. Orang lain tidak diberi tempat. Diborong sendiri. Kalau sudah demikian, yah mendingan kagak menulis aja deh.
 
Saya punya contoh lebih soft. Selama tiga bulan ‘menongkrongi’ blog seseorang. Ada ide, ada informasi, ada analisis, ada pesan, ada hal-hal ‘baru’, cukup syarat sebagai tulisan bagus. Pengunjung blognya banyak. Ketika dianjurkan diedit dan dibukukan, dia jawab: “Tulisan saya tidak ada apa-apanya. Jelek”. Bagaimana mungkin tulisan jelek digandrungi.   

Tapi, sudahlah. Kan banyak orang tidak mau dikatakan sombong atau mau menjolkan diri. Ok-lah. Sebagai motivator harus belajar lebih banyak. Buktinya, menurut saya Ok punya, katanya tidak. Kata saya bagus, ujarnya jelek. Jadi, yang salah saya. Hanya saja, khusunya pada guru-guru, mbok ya mulailah menghargai karya sendiri, tulisan dewe.
 
Hargai, hormati, banggakan, dan perbaiki tulisan terus menerus. Di dunia ini tidak ada yang sempurna. Masih ingat long life education? Itu dia. Perfeksionis itu bagus. Tapi, harus diingat, kita lahir tidak serta-merta pakai baju, tidak sekonyong-konyol bisa berjalan atau bicara, apalagi menulis.
 
Ada proses di lintasan pembelajaran. Ya, ketika tulisan berkategori sedang-sedang saja, sebagai pemula, kan sudah baik. Tidak ada hubungannya dengan sombong, apalagi riya. Sebaiknya menulis dimaknai sebagai proses berkelanjutan. Pada dataran demikian, ketidaksempurnaan adalah wajar. lagi pula, memangnya mau menandingi Allah SWT atau malaikat dengan kesempurnaannya? Ingat euy, kita manusia.
 
Karena itu, saat sharing menulis —Jumat, 8 Januari 2008, saya katakan: Mari kita hargai karya kita, tulisan kita. Kita hargai dengan berusaha menulis lebih baik. Apa yang kita tulis hari ini adalah hasil terbaik. Tidak usah ragu, tidak usah malu, itulah kita. Rupanya guru-guru terpantik urat sadarnya.
 
Malamnya, ketika beberapa orang guru datang ke rumah saya, memasihkan menulis dan mempublish di blog masing-masing, e … koneksi internet ngadat. Satu hal teratasi sudah; guru-guru mulai memagut percaya diri, dan … menerima karyanya apa adanya. Menghormati dan menghargai tulisan sendiri. Saya bangga.
 
Angan saya, bila rasa percaya diri (dalam menulis) tumbuh berkembang mekar, Insya Allah ke depannya menulis itu bak bersendagurau belaka. Mari, mari, mari hargai tulisan sendiri sembari bertekad lebih baik.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 8 Februari 2008.

  1. 17 Responses to “Menulis Menghina Karya Sendiri”

  2. By sawali tuhusetya on Feb 9, 2008 | Reply

    yes, setuju banget pak. penulis mesti memiliki rasa percaya diri. asal jangan terlalu narsis *halah* ntar terlalu bangga dengan tulisan sendiri, malah gantian njelek2in karya orang, hiks. enaknya, sharing, saling memberi masukan, maju bersama. 2 hari ini ada seorang pemuda dari negeri tetangga (malaysia) chat sama saya *halah*. rencananya dia mau ikut “pertandingan” (perlombaan) “esai” (cerpen). ndak pede betul dia. padahal kubaca cerpennya bagus jugak. kenapa bisa begitu, ya, pak! banyak penulis punya potensi, tapi masih merasa diri ndak pede jugak, halah!

    ***Itu dia Pak, kalau pendidikan mandiri (berpikir mandiri) tidak melekad sedari awal (kecil) itulah. Kalau sampai menjelek-jelekan tulisan orang lain, itu penyakit Pak, kompensasi atas kedunguan diri he he. Ya, sharing.

  3. By danalingga on Feb 9, 2008 | Reply

    oh iya pak, sampai sebatas mana sebenarnya kita harus menghargai tulisan sendiri. Soalnya kalo bangga terus, perbaikannya kira kira bisa muncul di sebabkan apa ya:

    ***Wah kalau bangga terus (tanpa batas) itu dungu namanya he he. Bangga memotivasi diri tentu beda dengan bangga karena sombong atau riya. Ntar kita bahas deh.

  4. By ella LPMP on Feb 9, 2008 | Reply

    Motifasi! itulah yang selalu ada pada seorang EWA. Sejak saya jadi mahasiswa EWA dari tahun 1993 hingga sekarang kumpul di POKJA Banjarbaru selalu memberi perubahan dalam berfikir, walau pun tidak langsung tatap muka eh maksudnya ditularkan oleh suami saya. terus terang pa saya ingin sekali berkarya tapi kadang-kadang muncul perasaan gak pede. di notebook saya kadang menulis tapi ketika kembali dibaca ada saja yang kurang sreg,tapi tau-tau tulisan yang kurang sreg tadi muncul di media, selidik punya selidik ternyata suami sendiri yang mengirim tulisan tersebut ke media eeh ternyata bisa bisa juga di muat. Terima kasih buat motifasi dari EWA untuk kami para pendidik dan tenaga kependidikan.


    *Hlah … nlis trus aja

  5. By Hair on Feb 9, 2008 | Reply

    Sekali lagi saya mendapat ilmu yang sangat bermanfaat dari pak Ersis. memang benar, orang-orang banyak yang menghina tulisan sendiri karena takut hasilnya nanti tidak sesuai dengan harapan. Kita pertama kali menlangkahkan kaki di Blogsophare ini, saya juga sempat ingin mematikan fungsi pemberi komentar di Blog saya, karena saya takut isi dari komentar itu nantinya akan memojokkan saya. Tapi sekarang saya sudah mulai percaya dengan kemampuan menulis saya.
    ————————————————————————-
    lagi pula, memangnya mau menandingi Allah SWT atau malaikat dengan kesempurnaannya? Ingat euy, kita manusia.
    ————————————————————————-
    kalau menandingi Allah memang kita tidak bisa, tapi kalau menandingi malaikat kita bisa kok, buktinya:
    1. Semua malaikat bersujut kepada Nabi Adam AS
    2. Nabi Musa As pernah memukul Malaikat Maut, ketika sang malaikt mau mencabut nyawa beliau, tapi malaikat Musa tidak mau.
    3. Semua mahluk ciptaan Allah Bershalawat atas Nabiullah Muhammad SAW.
    4. Keimanan malaikat terhadap Allah itu selalu stagnan, tidak pernah ada peningkatan ataupun penurunan. Sedangkan manusia Keimanannya terhadap Allah SWT bisa terus meningkat.
    5. Malaikat sesalu membentangkan sayapnya untuk mengiringi seorang manuasia yang pergi menuntut ilmu, tidak pernah ada manusia mengiringi malaikat untuk menuntut ilmu.
    6. Sebenarnya masih banyak bukti2 lain, tapi karena keterbatasan keilmuan saya, maka cukup hal2 tersebut yang saya sampaikan.
    Mohon maaf sebelumnya pak.

    ***Sip makasih komen dan infonya.

  6. By Hair on Feb 9, 2008 | Reply

    Maaf pak ada ejaan yang salah. pada kalimat ke tiga, kata “kita” seharusnya menjadi “ketika”. Pada kalimat no 5, kata “sesalu” seharusnya “selalu”.
    Nulisnya buru2 sich pak, Karna habis baca tulisannya mas danalingga (danalingga.wordpress.com) tentang menulis komentar cepat.

    ***Yoi itulah ‘khasnya’ saya he he … saya jarang periksa lagi. Jangan ditiru ya … Makasih koreksinya.

  7. By Mega on Feb 9, 2008 | Reply

    Hem emang sulit sich untuk meghargai dan mengakui kalau tulisan sendiri itu bagus dan memuaskan,,yah harus ada orang lain yg menilai..
    saya sendiri juga ga bisa tuh menilai tulisan2 sendiri..saya lebih bangga sama orang orang yang berhasil menulis dan berblog ria…tapi aku..?..belum berhasil..

    gimana ya..?

    ***Ha ha ha

  8. By edy on Feb 9, 2008 | Reply

    takutnya nanti malah cepat berpuas diri, pak
    mending merasa tulisan belum berkualitas kan
    jadi selalu membaca memacu menulis :)

    ***Ha ha tergantung konteksnya … Kalau berpuas diri, sombong, riya, … ya itu lain lagi soalnya.

  9. By noorlatifah on Feb 9, 2008 | Reply

    Merasa tulisan kurang baik, kurang memuaskan dan sebagainya itu baik, berarti dia tau kekurangannya maka dia akan selalu berusaha untuk belajar untuk memperbaiki. Betul gak Pak?

  10. By -tikabanget- on Feb 10, 2008 | Reply

    sayah kadang ngerasa tulisan sayah jelek.. hehehe.. betewe, kadang sayah juga ndak abis pikir kalo ada yang bilang, “ndak tau mo nulis apa”, lhaa.. ngomong lancar, tapi nulis bingung.. padahal nulis kan kayak nggedabus lewat keyboard.. hihi..

    ***Soal mengalihkannya saja … gampang … wong tulisannya apik kog.

  11. By mathematicse on Feb 10, 2008 | Reply

    Pak mau nanya. Tulisan saya bagus engga? :D Hehehehehe…

    Kalau saya sih PD, merasa tulisan saya bagus. Wlaau beum sebagus penulsi hebat! Hahahahahaha.. (maaf kalau dikira sombong, sengaja ah… :D )

  12. By mathematicse on Feb 10, 2008 | Reply

    Pak mau nanya. Tulisan saya bagus engga? :D Hehehehehe…

    Kalau saya sih PD, merasa tulisan saya bagus. Walau belum sebagus penulis hebat! Hahahahahaha.. (maaf kalau dikira sombong, sengaja ah… :D )

    ***Baguslah.

  13. By edo on Feb 10, 2008 | Reply

    mungkin ini juga impact budaya instan kali bang yah. sehingga malas melalui proses berdarah-darah dalam berbagai situasi. pengennya pertama belajar langsung pinter, bagus. bikin tulisan pengennya banyak yang comment, pada baik2 semua dll. kadang kita sulit menerima kenyataan bahwa baik dan buruk, puji dan cela itu kekasih sejati. dan tidak ada yang jelek. toh cuma masalah arah.

    saya sendiri merasakan prosesnya. dari males nulis, sampai pengen nulis, terus suka nulis. mulai dari nulis ngga peduli ama komentar orang, sampai nulis pengen dikunjungi orang, pengen comment yang banyak. mulai dari masa bodo pendapat orang, sampai mulai mempertimbangkan alangkah baiknya jika tulisan itu mampu “bring” and “change” mind set. mulai mempertimbangkan agar tulisan itu bukan cuma tempat sampah belaka tapi juga sumber inspirasi bagi orang lain. dan masing2 situasi itu butuh penyikapan berbeda.
    buat pemula seperti saya, butuh kebanggaan atas semangat menulis saya. dan butuh “percaya diri” bahwa tulisan saya dibaca orang dan mampu menginspirasi orang, agar saya terus menulis dan menulis. wong dari dulu ngga pernah mau hehehe… sedangkan orang-orang pakar dan motivator penulisan seperti bang ersis pr-nya toh lebih ke agar tidak sombong, jumawa, terjebak menganggap tulisan orang jelek etc. mohon maaf jika pendapat saya salah.

    menurut saya, setiap posisi punya PR nya masing-masing, dan butuh penyikapan berbeda. kl sudah kebalik, ya kebablasan hehehhe

    ***KIra-kira begitu. Tapi, jangan takut. Kita punya saudara-saudara, teman, yang siap mengingtakn, memberi masukan, dan bla-bla. Kita belajar menulis terus-menerus seperti menulis itu sendiri.

  14. By meiy on Feb 12, 2008 | Reply

    menghargai diri tapi tidak sombong ya pak, berlatih terus, saya kok lagi males ya, obatnya apaan pak

    ***Kalau tidak menghargai diri, sombong pula = kacau he he

  15. By unai on Feb 13, 2008 | Reply

    Setuju banget pak…kalo bukan kita yang meghargai karya sendiri, lalu siapa?

    ***Aksiomatik.

  16. By esa on Feb 15, 2008 | Reply

    iya..belajar menghargai karya sendiri. Klo sy sm temen - temen kumpul, suka narsis..dan jawabannya, “Klo bukan kita yg muji diri sendiri.. siapa lagi?” :lol: sekilas lucu, tapi bener juga ya gurauan seperti itu..klo bukan kita, siapa lagi? Diri sendiri aja udah ga menghargai..gmn orang lain mo menghargai

    ***ya ya ya. Kita jujur saja ya.

  17. By Willy Ediyanto on Apr 25, 2009 | Reply

    Sudah nulis, sedikit yang komentar.
    Sudah menerbitkan buku, sedikit yang membeli.
    Gak papa, sekalian numpang promosi di sini, Pak.
    Buku saya sudah terbit, berjudul
    “Guru Menggugat Mutu Pendidikan”.
    Maaf, kalau tak berkenann.

  18. By Willy Ediyanto on Apr 25, 2009 | Reply

    Oh, ya. Yang penting saya tetap menulis. Sebagai bukti bahwa saya mengeajar berenang, karena saya bisa merenang. Begitu juga saya mengajarkan menulis bagi anak-anak sekolah, karena saya menulis.
    Saya saja tidak pernah mau belajar berenangk kepada orang yang tidak berenang. Terlalu beresiko, bukan?

Post a Comment