Menulis Membaca Alam
6 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Alam takambang jadi guru. Kita bisa membaca dan menulis dari dan tentang alam, bila mampu. Artinya, belajar, mempelajari, dan ‘mengajar’ dari alam.
GURU. Pepatah Minang sebagaimana dikutip, dalam kaitan belajar, membaca, dan menulis, bermakna dalam. Bagi saya, tusukan cakupan sasarnya tertancap pada hal paling esensial kehidupan. Alam sudah terbentang. Sejak roh ditiupkan, Allah SWT ‘menitipkan’ potensi, yang kalau boleh ditabalkan, Asmaul Husna. Diinstal bersamaan dengan ke hadiran kita di Bumi Allah. Dan, Bumi Allah dengan segala isi dan di luarannya adalah ‘guru’; simpanan tanda-tanda kebesaranNya, Sunnatullah.
Lebih menakjubkan, Allah SWT ‘memberi’ kita segenggam otak, kira-kira seberat 1,5 kg, yang kalau dimanfaatkan dapat ‘melipat’ alam dan segala isi dan luarannya pada ‘alam kecil’ tersebut; otak. Apa pun, kalau kita mau, dapat disimpan di memori (otak). Itulah yang membedakan manusia, yang menjadikan manusia lebih unggul, dari ‘ras’ lainnya.
Sungguh. Allah SWT Mahatahu. Diperintahkan kita belajar, ‘diajarkan’ membaca, diberi ‘tanda-tanda’ agar mampu memindai, memikir, kebesarnNya. Ilmu Allah tersimpan di jagat raya ciptaannya, di semua ciptaanNya —untuk kita pelajari. Di ujung banyak ayat, manusia (beriman) ditantang: apala taqqilun, apala tatafarrakun.
Hasil berpikir itulah, yang kita dapat dari membaca alam, yang ditulis. Kita tidak mungkin kehabisan bahan untuk dipikirkan, untk dipelajari, untuk ditulis. Kalau Rene Descartes berkata, cogito ergo sum, kita elu-elukan, apa yang dikatakannya hanya secuil dibanding pesan-pesan Allah SWT. Kenapa kita tidak lebih ‘mempelajari’ tanda-tanda ke besaranNya, belajar dari alam? Alam takambang jadi guru.
Belajar dari alam adalah keharusan sebagaimana kewajiban belajar dari diri sendiri. Belajar dari diri sendiri? Yes. Siapa yang tidak mengenal dirinya, tidak akan mengenal Sang Pencipta. Belajar kaffah, dari ciptaan Sang Pencipta.
Ambil bagian kecil. Otak kita, diberkahi setriliun sel syaraf, neuron. Setiap sel mampu berkoneksi 20.000. Kalau digunakan maksimal, ragam koneksinya susah dihitung mengunakan kalkulator, apalagi menggunakannya. Wajar, Albert Einstein, manusia jenius itu, konon baru memakai 3% kapasitas otaknya. Sampeyan? Kira-kira sendiri aja deh.
Belum lagi mengkaji bentukan personality. Rumit. Karena itu, mari serahkan pada ahlinya. Namun, tugas mempelajari diri dan alam adalah tugas yang sifatnya nafsi-nafsi. Minimal agar kita paham diri kita dan di luar diri.
Dalam kaitan dengan menulis, semua itu bisa ditulis manakala kita mau dan mampu ‘belajar’ dan atau mempelajarinya. Bayangkan, selepas mengucapkan Alhamdulillah ketika bangun pagi hari, kita memulai aktifitas keseharian. Ketika berwudu’ bertemu apa yang bisa dipelajari, dan ditulis. Apa sih air itu? Kog dingin amat sih? Apalagi kalau sampai pada penyadaran, ternyata sebagian besar unsur pembentuk tubuh kita dari air. Subhanallah.
Lihat, lihatlah. Bunga yang pelan-pelan mekar di pagi hari. Kabut merambat menghilang berganti sinar mentari. Atau …ih ngeri, en sebel. Alam yang marah ketika tidak dielus ‘kasih sayang’. Banjir dimana-mana, di tangan manusia durhaka. Durhaka pada alam, pada Sang Pencipta.
Jadi, masih pantaskan kita mengeluh, bahwa belajar itu susah? Bahwa menulis apa yang dipelajari itu sulit? Bahwa, kita tidak diberkati berkah belajar dan menulis? Ah, yang benar saja. Soal mau dan mampu adalah hal keterampilan yang memerlukan latihan, bukan alasan. Alasan adalah kebermusuhan pada alam, pada Sang Pencipta.
Mari, mari para ikhwan. Kita bergandeng tangan belajar pada alam, menulis dari alam, dari diri kita sebagai calling. Buang ke laut lepas segala alasan. Lumatkan alasan-alasan tidak punya bakat, tidak punya waktu, tidak punya kesematan, tidak ‘pintar’, dan tidak-tidak yang ‘diciptakan’ sebagai portal alasan.
Kini, saatnya bersama-sama memjadi manusia pembelajar, pembelajar dari alam. Alam takambang jadi guru.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 6 Februari 2008.













15 Responses to “Menulis Membaca Alam”
By sawali tuhusetya on Feb 6, 2008 | Reply
sungguh mahabesar kekuasaan Allah SWT yang menganugerahkan otak hanya sebesar tempurung kelapa, tapi menjangkau kutub kehidupan tanpa batas. mampu mengingat peristiwa masa lalu, menjalani kehidupan masa kini, dan membayangkan peristiwa beberapa tahun ke depan. kenapa mesti harus disia-siakan, ya, pak. menulis ternyata juga bisa dijadikan sebagai manifestasi rasa syukur terhadap kekuasaan Sang Pencipta.
By ichal on Feb 6, 2008 | Reply
keanekaragaman flora dan fauna ternyata menginspirasikan juga untuk manusia supaya berkarya!!
By Hair on Feb 6, 2008 | Reply
benar sekali. Allah dan Rasulnya pun mengatakan bahwa alam itu adalah Al-qur’an. salah besar kalau kita belajar hanya berdasarkan Mushaf/kitab/buku, padahal jelas2 bahwa alam beserta isinya juga merupakan sumber pembelajaran bagi kita.
Akhirnya sekali lagi saya mendapatkan ilmu yang bermanfaat
By Mega on Feb 6, 2008 | Reply
Alangkah ruginya manusia yang tidak bisa belajar sesuatu dari alam..
***Kesimpulan cerdas.
By Inas on Feb 6, 2008 | Reply
Menulislah apapun yang ingin kau tulis, jika tidak tahu, tulislah tentang ketidaktahuan itu.
Bagaimana menurut sampeya?
***Kalau kita tahu apa yang tidak kita tahu, itu sangat hebat, dan menulisnya, wuaw super hebat.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 6, 2008 | Reply
Memang, semestinya-lah kita selalu memiirkan deluruh penciptaan Allah SWT. Apapun Dimanapun Kapanpun, tentu saja oleh kita ‘jalma manungsa’. Walhasil, bagi kita yang beakal pasti mau mentadaburi-nya.
***Di setiap helaan nafas
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 6, 2008 | Reply
Saya sambut seruan Pian,….
“saatnya bersama-sama memjadi manusia pembelajar, pembelajar dari alam. Alam takambang jadi guru”.
***OK. Mari kita praktikkan, menulis, menulis, dan menulis ‘dari’ alam.
By Yari NK on Feb 7, 2008 | Reply
Nah…. itu dia…. dari membaca alam kita dapat menghasilkan banyak sekali output….. mulai dari tulisan hingga produk teknologi canggih…..
***Ya ya itu dia … yap, langsung kekesimpulan. Siiiiiiiiiip.
By karlan08 on Feb 7, 2008 | Reply
Makanya ayat pertama yang turun dari Allah yang diwahyukan kepada Baginda Rasulullah SAW adalah ‘IQRA=Bacalah’.
Secara tersirat maupun tersurat sudah jelas bahwa Allah SWT memerintahkan kita untuk dapat mengetahui rahasia ciptaannya agar dapat dimanfaatkan untuk kemashalatan ummat dan sebagai bekal kita untuk menuju ‘Zannah’.
***Sangat setuju, OK banget.
By ridu on Feb 7, 2008 | Reply
Setujuh… sekarang juga banyak sekolah2 baik dari playgroup sampe SMA yang belajar dan berinteraksi dengan alam, dan hasilnya juga bagus banget.. selain mengetahui mengenal lebih dekat dengan alam, namun juga bisa membuat pikiran jadi fresh..
Ridu paling suka tuh kalo dulu sekolah disuruh mengarang di alam terbuka, sekalian rekreasi juga..
***Sama dong.
By shanti on Feb 7, 2008 | Reply
tapi sayangnya gak banyak manusia mau memahami dan mengerti bahasa alam. hanya demi keuntungan pribadi alam diperdaya dan dibuat menderita. mungkin menulis tentang alam adalah salah satu cara untuk menyadarkan para oknum manusia yang rakus akan duniawi.
terkadang manusia bukan manusia, lupa bahwa ia berlindung pada alam.
***Ya kita ngak usah ikut-ikutan ya. Alam itu adalah kita; tempat kita hidup dan berkehidupan.
By Titi3q on Feb 8, 2008 | Reply
Ujar manusia lebih pintar dari makhluk lain, tapi ternyata manusia harus juga belajar dari makhluk lain (alam). Teori apa yang cocok wan fakta nang ngitu ? Mun kada alasan untuk tidak menulis, terus apa yang bisa kita tulis ? Harga barang yang terus naik? Tetangga yang suka ember? Atau teman yang ga bisa dipercaya ?
***Apa saja, asl mau, he he
By unai on Feb 13, 2008 | Reply
balajar terus…selagi hayat di kandung badan
By meiy on Feb 14, 2008 | Reply
kok bisa ketinggalan aku baca ini pak, suai pak, blog ambo makonyo niru peribahasa minang iko.
tapi paling susah justru mempelajari diri sendiri ya pak
***Pemantik inspirasi tentang tulisan ini he he,makasih.
By mostam on Dec 10, 2008 | Reply
alam adalah hidupku cara aku membaca alam ini dengan media mimpi dan perasaan karna alam ini adalah hidupku sudah sejak kecil aku ingin mengetahui tentang rahasia alam