Menulis dan ‘Jeratan’ Bacaan

6 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Bahan bacaan ‘membentuk’ pola pikir, tulisan adalah tuangan pikiran, namun tidak semua bacaan berpengaruh terhadap pola pikir dan tulisan.

MENJERAT. Cara seseorang menulis dan berbicara  dipengaruhi dari apa yang dibacanya. Tidak mungkin orang yang kesehariannya membaca buku Karl Marx, lantas jadi hebat bikin puisi, atau orang yang membaca novel lantas jadi hebat bicara politik. Perluaslah bahan bacaan agar bahan tulisan  bertambah, tulis seseorang bersemangat. Ya, sepintas apa yang ditulisnya rasional saja. Masuk akal. Tetapi, sesungguhnya tidak sesederhana itu. Maksudnya?
 
Tidak semua bacaan mampu mempengaruhi ‘pikiran’. Apalagi, tindakan seseorang. Pada tingkat lebih tinggi, justru sebaliknya. Orang-orang cerdas, adakalanya membaca sesuatu justru untuk melawan bacaan, apa yang ditulis orang lain.
 
Ambil contoh para orientalis. Orientalis paling populer dalam sejarah Indonesia, Snough Hurgronje Meneer yang satu ini mempelajari (membaca) ‘pikiran’ orang Indonesia, apalagi agama Islam sampai ke Mekah, bukan untuk ‘membentuk’ pikirannya, tetapi justru dipergunakan untuk kepentingan nafsu menjajah bangsanya, Belanda.
 
Dalam psikologi, kepribadian seseorang dibentuk atas bangun tiga pilar, pengetahuan, perasaan, dan naluri. Pada masa pembentukkan, terutama pada ranah pengetahuan, membaca bisa jadi berpengaruh besar dalam membentuk kepribadian. Tetapi, tidak selalu. Misalkan sedari kecil, seseorang dididik —bacaan dan pikirannya— berdasarkan nilai-nilai keislaman. Pengetahuan (dan bacaan) sangat islamis. Namun, tidak serta-merta menjadikannya Muslim sejati?
 
Perhatikan sebagian koruptor bangsa ini. Bahkan ada yang ‘pakai’ titel haji segala macam, namun tidak paraler dengan tindak kehidupan. Artinya, jangankan sekadar tulisan, terkadang tindak kehidupan tidak berkorelasi signifikans dengan bacaan.
 
Saya membaca tulisan Frederick Engel, Karl Max, Mao Tse Tung, dan terkagum-kagun dengan perjuangan Che Guavera dan Fidel Castro. Begitu juga dengan American Dreams, dari mendaratnya My Flower ketika para filgrims mendarat di Benua Amerika sampai bualan Apolo mendarat di Bulan. Bahwa banyak hal positif yang dapat dipetik, ya. Tapi, kalau membuat seolah-olah berpikir ala mereka, tunggu dulu.
 
Bacaan bisa mempengaruhi ketika pikiran, ketika kepribadian belum tangguh, belum mantap. Sejarah Nabi-Nabi Allah adalah sejarah keteguhan pendirian. Biarkan bumi berguncang, tsunami menghantam, nyawa di ujung wassalam, hanya ada satu keyakinan, la illaha illallah.
 
Jadi, jangan pernah takut membaca apa pun. Apa pun yang ada di jagat raya, baik yang tertulis atau pun yang tidak tertulis, kasat mata atau pun tak terlihat, semampu bisa dibaca, bacalah. Disitu tersimpan aneka pembelajaran.
 
Tinggal, bagaimana memilih. Saya barangkali tidak termasuk orang yang alergi dengan berbagai hal, sebab semua itu datangnya dari Yang Mahatahu. Ketika kedewsaan sudah menjadi ciri, pilihan ada di tangan masing-masing. Ketika masih ‘anak-anak’ adalah tanggung jawab orang tua atau pendidik meletakkan dasar kokoh kepribadian. Membaca adalah kebebasan seperti juga berpikir.
 
Kalau kita sudah memilih, berusahalah konsisten dengan pilihan. Jangan gusar, misalnya, kenapa belakangan banyak teman-teman lulusan IPB menjadi pewarta? Jangan ditanyakan, apakah karena ‘ilmu pertanian’ tidak membumi lagi —nyatanya kita pengingpor aneka produk pertanian —atau lembaga pendidikan jurnalistik yang rada sewot? Kegusaran sedemikian bisa membuat masalah baru.
 
Taufik Ismail yang dokter hewan, ternyata adalah penyair besar. Jadi, bacalah apa yang disukai, itu akan menumpukkan pengetahuan, meperluas wawasan, dan bisa menjadikan ‘mengapa’, jadi apa, atau ‘menghasilkan’ apa Sampeyan. Jangan berpikir di hulu saja, berlayarlah sampai ke muara, kalau perlu ke laut lepas. Jangan takut atau menakut-nakuti membaca, sebab bacaan adalah musuh ketakutan. Jangan takut membaca, sebab dengan banyak membaca kita lebih leluasa menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 6 Februari 2008.

  1. 10 Responses to “Menulis dan ‘Jeratan’ Bacaan”

  2. By Anang on Feb 6, 2008 | Reply

    setuju pak.. membaca meningkatkan daya nalar kita terhadap kosakata baru yang kadang memperkaya khasanah penulisan kita… kadang malah bisa mempengaruhi pola pikir bahkan perilaku kita… hehehe…. tapi yang pasti satu.. membaca kitab suci adalah wajib! hihihi…

    ***Ya ya ya, Al-Quran itu artinya bacaan sehari-hari to. Jangan diplesetkan jadi koran, dan perlakuan terhadap Al-Quran bergeser. Siiiiiiiip.

  3. By danalingga on Feb 6, 2008 | Reply

    Sangat sangat sepaham pak. Semakin banyak membaca, varisi tulisan pun akan semakin kaya , tetap dengan gaya kita sendiri.

    ****Siiiiiiiiiiiiiip. Kini mari kita berlomba-lomab menulis, menulis kebaikan, minimal berusaha menulis yang baik-baik. Amin.

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 6, 2008 | Reply

    Ya..ya..ya, membaca merupakan jendela dunia. Jadi sepakat deh dg Pak EWA, jangan takut membaca apapun, yang penting bisa memilih dan memilahnya.

    ***Ya ya ya. Sepakat.

  5. By Iwan Awaludin on Feb 7, 2008 | Reply

    dalam bahasa Inggris, memang Koran Pak :)
    Ada info cerpen2 dalam bentuk pdf ga? Istri saya perlu bahan bacaan nih di rumah. Maklum rumahnya jauh dari peradaban.

    ***Juga bahasa Indonesia, koran alias surat kabar kan berarti bacaan harian. Nah, jangan lupa membaca Al-Qur’an tiap hari.

  6. By tan on Feb 7, 2008 | Reply

    bener, katanya bacalah semua tulisan, walaupun itu rekening listrik, siapa tau suatu saat bisa jadi sumber buat kita menulis!

    membaca memang bagian tak terpisahkan dari menulis

    ***Siiiip. Menulis, menulis, dan terus menulis, kapan saja dan dimana saja.

  7. By Willy Ediyanto on Feb 8, 2008 | Reply

    Membaca apa saja. Buku tertua yang dimiliki, buku loakan yang sudah dimakan kutu buku (asal masih bisa dibaca), yang penting baca saja lah. Hasilnya nanti. Seperti beramal, jangan berharappahala karena pahala urusan Allah. Baca Al-Quran juga karena kita inginmemahami isinya, bukan berharap pahala.
    Baca buku jangan karena maumenulis atau karena ingin mendapatkan ilmu, karenaitu punbelum tentu didapat. Seperti sholat, ya karena rindu shalat, bukan karena takut neraka.

    ***Wuaw ke esensi nich ye. Selamat.

  8. By indah on Feb 8, 2008 | Reply

    Saya setuju dengan tulisan bapa, bahwa bacaan membentuk pola pikir.Sehungga dengan banyak membaca maka akan semakin banyak informasi yang dia dapatkan. jika seseorang berpola pikir yang terbuka maka ketika dia mendapatkan kebenaran dari apa yang ia baca.maka otomatis pikirannya juga akan ikut terbuka.

    ***Dan … pikiran terbuka untuk menulis.

  9. By mathematicse on Feb 10, 2008 | Reply

    Bacaan yang kita baca:
    1. Bisa berpengaruh terhadap pola pikir kita. Tapi bisa juga tidak berpdngaruh apa-apa. Seperti yang diuraian di artikel ini.

    2. Tapi yang jelas, dengan banyak membaca (dan tentunya kita mengerti), maka insya Allah wawasan dan pengetahuan bertambah, walaupun mungkin sedikit. Dan ini merupakan perbendaharaan yang berharga. Suatu saat akan muncul dan kita keluarkan, baik dalam bentuk perkataan atau tulisan. Atau bisa juga ga muncul, cuma sebagai koleksi pribadi saja. :D

  10. By mathematicse on Feb 11, 2008 | Reply

    Tapi kok knapa ya? saya sering baca tulisan Pak Ersis, kok belum terpengaruh gay tulisannya ya? Aneh,,,… apa yg salah?

    Berarti masuk kategori 2 (lihat komentar saya yag tadi). :D

    ***Ngak usah terpengaruh, he he

  11. By unai on Feb 13, 2008 | Reply

    Gak semua buku menarik dibaca juga pak…tergantung selera. Tapi emiiki minat baca itu sudah baik.

Post a Comment