Menulis Melecut Membaca
5 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Membaca dan menulis dua sisi keterampilan saling melengkapi. Membaca membawa kita ke tataran menulis, begitu sebailknya. Saling menunjang.
KEMBARAN. Menulis melatih membaca. Menulis melecut membaca. Menulis membiasakan membaca. Menulis ‘belajar’ membaca. Ya ya ya. Antara menulis dan membaca bak two side in one. Karena itu, ketika seorang yang sharing menulis bersikukuh, bahwa untuk menulis dia tidak perlu (rajin) membaca, saya tidak punya nyali sharing. Bisa saja, untuk sekadar menulis cukup apa yang telah tersmpian di memori (otak), tapi akan lebih baik kalau ditambah terus-menerus.
Pengalaman saya mungkin tergolong sederhana. Dulu, ketika kuliah, melahap beragam buku. Misalnya, pernah membaca karya monumental Romein, Weber, Maslow, Clleland, Owel, sampai karya ‘gimana gitu, seperti Anny Arrow. Ketika menulis, agak ragu bagaimana urutan Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow, ya cek dibuku. Baca lagi.
Suatu kali, anak saya yang kelas IV SD, agak kesulitan mengerjakan PR matematika; Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) dan Faktor Persekutuan terbesar (FPB). Waduh … saya tamatan PGA. Baca saja, belajar Matematika untuk Kelas IV SD. Malahan sampai kepada Operasi Kaprekar, itu tu formula Shri Dattathreya Ramachandra Kaprekar. Simpulan saya, belajar matematika mengasyikkan.
Ya, menulis itu membaca, menulis melecut membaca. Saya buat beberapa tulisan bernuansa matematika. Kalau ragu, minta diajarin anak saya yang kelas 3 SMP. Dia jago matematika dan IPA. Pernah juara 3 se-Kalsel dan tentu juara di sekolahnya. Dalam utak-atik komputer, dia guru saya.
Malam kemarin, dia mengerjakan tugas powerpoint. Jujur saja, saya tidak paham. Saya tongkrongin. Gurunya, karena sedang belajar menulis dan ngeblog dengan saya, diminta memberi tugas lewat blog. E … dia bertanya: “Bagaimana menampilan rumus-rumus matematika di blog, Pak?”.
Tentu, dikatakan, saya belum bisa. Dipelajari dulu, ya. E … ngak taunya, anak saya kebagian tugas, he he. Sekalian saja belajar. Gara-gara menulis, memotivasi menulis, apalagi ngeblog, membaca. Belajar pada anak. Menulis melecut belajar, membaca.
Terima Kasih Blogger
Melansir tulisan di blog, www.webersis.com melecut membaca lebih ‘ganas’. Betapa tidak. Ada saja pertanyaan atau kasus yang di-sharing-kan dimana saya tidak paham. Gampang. Baca buku atau berselancar di internet, setelah bahan dapat, tulis. Jadilah tulisan.
Banyak tulisan terinspirasi dari para blogger. Karena itu terima kasih diucapan. Saya dapat satu hal lagi, bukan sekadar mendorong membaca, silaturrahim itu mendatangkan berkah tak terkira. Apa itu?
Pertama, mengingat kembali bacaan yang mungkin sudah jadi kerak di batok kepala. Tidak pernah digunakan, mengendam di danau otak. Kini mencair dan bermanfaat. Trim’s kawan.
Kedua, terlecut membaca. Berkomunikasi ternyata memantik apa yang pernah dibaca, melecut membaca yang belum dibaca. Bergulir begitu saja. Sampai ada yang bertanya, apa tidak kehabisan ide menulis tentang menulis.
Kalau yang terakhir, saya malah bingung, bagaimana caranya membunuh ide. Kenapa? Begitu ada pantikan tentang tulis-menulis, kog ya ide datang tanpa diundang, bahan muncul tanpa dicari, dan berpikir berproses begitu saja. Jadi, tidak mungkin kehabisan ide.
Dengan kata lain, selama kita membaca, menulis tidak bermuara. Selama kita menulis, membaca tidak akan berakhir. Menulis jalan membaca, membaca lintasan menulis.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 5 Februari 2008.













10 Responses to “Menulis Melecut Membaca”
By Yari NK on Feb 5, 2008 | Reply
Huahaha…. pertamax juga!
***Ha ha balas nich ye
By Hair on Feb 5, 2008 | Reply
Cara orang menulis dan berbicara emang dipengaruhi dari buku apa yang ia baca. Tidak mungkin orang yang kesehariannya membaca buku Marx, lantas jadi hebat bikin puisi, atau orang yang kesehariannya baca novel lantas jadi hebat ngomong politik. Perluaslah bahan bacaan kita, agar bahan tulisan kitapun jadi bertambah
***ya ya ya. Tapi, tidak semua bacaan mampu mempengaruhi ‘pikiran’ kita. Tidak semua. Orang-orang cerdas, membaca tentang yang tidak sesuai dirinya, justru untuk melawan bacaan.
By Inas on Feb 5, 2008 | Reply
“…Karena kau menulis, namamu akan abadi sampai jauh, jauh dikemudian hari…” Pram dalam Bumi Manusia
***BIsa jadi.
By noorlatifah on Feb 5, 2008 | Reply
Sip banget!
***Siiiiiiiiiip again.
By Anang on Feb 6, 2008 | Reply
menulis dan membaca adalah saling berkaitan.. saat menulis tentunya kita juga membaca hasil tulisan dan mendorong untuk membaca tulisan orang lain… begitupula saat melihat tulisan orang lain dan membacanya.. kita akan terdorong untuk menulis tulisan kita sendiri… yah saling berkaitan.. kata berkait.. *lah itukan nama kuis jaman jadul* ahahahahaha
***Ha ha bisa aja nich
By avartara on Feb 6, 2008 | Reply
Menulis dan membaca bagaikan alis dan mata,…mata yg indah didukung dengan alis yang cantik (apa iya pak,..hehehe)
ilmu yang dituliskan didapat dari kemampuan membaca,..baik yang tersurat maupun yang tersirat,…seperti pepatah minang,…alam takambang jadi guru,…
oya pak,…link saya dunk (hiks hiks berharap)
***Ya ya, alam takambang jadi guru.
By Mega on Feb 6, 2008 | Reply
Artinya melecut disini apa yach..?..memukul..? or..
Agak lupa2 ingat nih..
***Ha ha ha … ingat bendi? Nah agar larinya kencang ‘dilecut’ kuda penaiknya.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 6, 2008 | Reply
Yang namanya belajar memang bisa dari siapa saja, memang. dari bayi sampai lansia. yang intinya dari makhluk apapun kita bisa bealajar. Kayaknya, gitu pang.
***Begitu yang saya pahami dari Al-Quran, Benatr ngak sih? Dari psikologi ada benarnya juga ngak?
By tan on Feb 7, 2008 | Reply
kita memang perlu banyak membaca, buat peluru tulisan
***Peluru menulis, kosakata bagus.
By edo on Feb 10, 2008 | Reply
heheheh…
jadi inget nasehat kakak saya. tentang surat al alaq. surat pertama turun yang memerintahkan “bacalah” namun diayat ke 4 dikatakan “yang mengajarkan melalui pena/tulisan”. sebuah anomali, namun sebenarnya sebuah cara berfikir yang sangat maju
menurut saya pengetahuan memiliki korelasi positif dengan bermutu atau tidak tulisan.
makin banyak menulis, menurut saya tuntutan untuk belajar menjadi semakin besar.
andai para pendidik kita hobi menulis, pasti secara otomatis pendidik kita jadi pinter. dan siswanya ikutan pinter. makanya kl di LN dosen2nya sering sekali mengirim jurnal, dan punya point luar biasa terhadap karirnya. hal yang sepertinya belum banyak dilakukan pendidik di indonesia
***Ya kita menuju kesitu, makanya kita kompori terus.