Menulis Berlatih Berpikir

5 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Setiap melakukan apa saja, pada dasarnya kita belajar, kita berpikir. Setiap menulis kita berpikir; belajar menulis bukankah berarti kita melatih berpikir.

BERLATIH. Menulis melatih berpikir. Yes, sejak menyadari makna menulis, lebih menyadari bahwa menulis bukanlah (hanya) menuangkan pikiran atau menyampaikan pikiran. Harap maklum, sebagai manusia wajar alpa bergayut. Guru terkadang bisa lupa diri lho. Betapa tidak. Sehari-hari memintarkan orang (mahasiswa). Bisa jadi, tergelincir, seolah-olah bak orang ‘pintar’, padahal kada (tidak). Sebab, semakin belajar semakin sadar, semakin banyak yang harus dipelajari.
 
Kalau ‘penyakit’ sok tau, merasa hebat, merasa pintar menghinggapi diri, ya tertutuplah pintu-pintu untuk membelajarkan diri. Pikiran sudah tertutup, merasa hebat. Jangan-jangan, peringatan Allah SWT: Allah menutup pintu hati mereka … khatamallahuala qulubihim …
 
Coba perhatikan Pak Guru, Ibu Dosen, atau Pak RT, apabila diberi masukan, kalau bawaannya marah melulu … itu pertanda dia merasa cukup, tidak perlu belajar lagi. Sangat sulit menerima hal-hal dari luar dirinya, hal-hal baru —yang tidak diketahuinya.
 
Belajar dari Mahassiwa
Suatu kali seorang mahasiswa meminta keadilan: Pak, kalau kami terlambat menyerahkan tugas, nilai tidak didapat. Kalau terlambat masuk ruang kuliah, diomelin. Tapi, … kalau dosen terlambat memberi nilai, tidak mengembalikan tugas, tidak apa-apa. Apakah adil?
 
Sejak itu minta mahasiswa mengontrol perilaku kodosenan saya. Dari sikap terus terang tersebut, dari keinginan mendapatkan perilaku adil, dari nahasiswa, pikiran sehat mengeluar: Iya ya. Selama ini merasa benar saja. Apalagi, saya termasuk orang yang tidak doyan memberi ampun kalau mahasiswa tidak menyerahkan tugas sesuai kesepakatan.
 
Pikiran merambah ke banyak hal. Terlepas ada asisten, ada kalanya seenaknya saja, tidak memberi kuliah tanpa pemberitahuan, tidak mengembalikan tugas, tidak transparan dalam penilaian. Dibuat kesepakatan, saling mengingatkan. Pikiran lebih tajam, lebih terlatih menatap diri dan perilaku keseharian. Melatih pikiran, melatih berpikir.
 
Apa yang disepakati dipatri dalam pikiran, dan ditulis. Untuk apa? Ditulis untuk dijadikan rujukan, pengingat, bahwa antara dosen dan mahasiswa telah ada kesepakatan. Cara berpikir sedemikian tentu sangat sederhana, namun melatih diri untuk tidak jumud, untuk tidak berpikir dan atau memikirkan tindakan keseharian.
 
Di akhir tahun 2007, ‘ditugaskan’ seorang teman membuat delapan butir refleksi tahun 2008. Apa yang ditulis diingat, dipikirkan, bagaimana merealisaskannya. Alhamdulillah, 18 kolam ikan terisi ikan-ikan. Duh, dipandang saja asyik. Dengan menulis, menulis apa yang dulunya tidak disukai, berujung pada berpikir bagaimana merealisaikannya.
 
Internetisasi, menyebarluaskan blog fever di kalangan guru dan siswa, sudah bergulir. Pada setiap Jumat dan Sabtu, di SMAN 1 dan 2, SMPN 1 dan 2 Banjarbaru, kini asyik merlatih internet, blog, dan menulis di kalangan guru dan karyawan. Insya Allah, bulan Maret 2008 melebar sampai ke siswa.
 
Sekalipun tulisan ini belum menghujam pada tema menulis melatih berpikir, sebagai pengantar cukuplah. Beberapa tulisan sedang disiapkan. Hal mendasar yang ingin disampaikan, menulis itu melatih pikiran, melatih berpikir. Minimal, memikirkan apa yang akan ditulis, dan syukur, memikirkan apa yang telah ditulis untuk direalisasikan. Bagaimana kalau hanya sekadar ditulis?
 
Setidaknya melangka satu tahap. Memikirkan saja tidak, apalagi menuliskannya, lebih apa lagi, melakukannya. Memang, idealnya menuliskan apa yang dipikir, memikirkan apa yang ditulis, menyatukan perbuatan berpikir dengan menulis dengan tindak nyata.
 
Kalau saya, belum mampu merealisasikannya. Karena itu, menulis untuk melatih pikiran. Dengan menulis berpikir, dan … ‘belajar’ sedikit demi sedikit merealisasikannya. Saya memang bukan manusia hebat, mampu merealisasikan apa saja yang ditulis. Namanya saja, belajar. Beda-beda dengan manusia-manuisia hebat yang mampu merealisakan apa yang diucapkan, yang ditulis, jadi kenyataan. Saya baru pelajar pemula.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 5 Februari 2008.

  1. 4 Responses to “Menulis Berlatih Berpikir”

  2. By prayogo on Feb 5, 2008 | Reply

    Wah kalau menurut saya, sampean ini bukan lagi pemula akan tetapi sudah dedengkotnya penulis. Soal tulisan di implementasikan atau tidak, itu soal lain. Memang lebih baik selain di tulis juga harus di implementasikan. Soal tulisan2 di blog ini, sudah terlalu banyak tulisan sampean yang mengilhami banyak orang untuk tergerak hatinya menulis, seperti saya. Terus terang banyak sekali tulisan2 Anda yang menggugah.

    Teruslah berkarya…..dan janganlah pernah bosan.

    ***Amin. Kita sama-sam aja deh belajar, saya kan dapat inspirasi toh dari teman-teman. Ya, sama-sama belajar.

  3. By Anang on Feb 6, 2008 | Reply

    wah saya harus berguru sama njenengan pak…. boleh tau padepokannya dimana? hiakakakakaka

    ***Ha ha ha tenang saja bos, ntar bukunya dikirim deh … nunggu kiriman dari penerbit.

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 6, 2008 | Reply

    Pak EWA, kalo saya ibaratkan sebagai bisnis MLM, EWT pian ini, pian sepertinya sudah bintang berapa ya Pak. Bintang paling tinggi, kali ya. Ya, iya lah.
    Dan kalo diibaratkan sebuah kerajaan, waduh, pendukung pian sudah banyak banget, yang terserang virus EWT sangaaaaaaaaaat banyak sekaliiii.

    Saya berharap, EWT pian ini mendapat NOBEL/ AWARD dari siapapun yang layak memberikan. Sebab EWT ini merupakan teori yang sangat simple banget dan mudah diaplikasikan. Kayaknya tidak berlebihan.

    ***Ha ha kada iluk maambun tarus wal ai. Ulun rasa sanang mun pian sabarataan manulis. Nang itu aja cukup buat manyanagkan ulun.

  5. By Mega on Feb 9, 2008 | Reply

    dialinea pertengahan tulisan diatas ini saya menyimpulkan: Kalau diUniversitas itu dosen adalah orang tua dari mahasiswa..untuk mendidik mahasiswa jadi benar ,,maka dari itu sebelumnya dosen juga harus memperlihatkan kelakuan dan cara mendidik yang benar ya..ga harus main perintah dan mutusin seenaknya,,hehhe,begitupun dirumah..mendidik anak,,orang tua harus memperlihatkan sikap yang bisa ditiru oleh sianak,,kalau main perintah melulu,anak malah menunjuk kita..Bapak dan Ibu sendiri belum melakukan yg benar..lha..gimana…

    ***Ya begitulah idealnya ‘pendidik’, kita berusaha .. soal kenyataan kan lain lagi he he

Post a Comment