Menulis Membangun Konsistensi
3 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Keteguhan pada prinsip, atau pun untuk hal-hal sepele, adalah garansi kesuksesan. Konsisten, konsistensi adalah kata lain untuk tidak mencla-mencle.
SALAH. Pernah mencek arti kosakata salah di kamus? Menurut KBBI (1988: 770): tidak benar, keliru, menyimpang, luput, cela, kekeliruan. Perhatikan kalimat berikut: Salah satu sebab saya memacarinya karena keteknya tidak bau. Terlepas dari taken for granted, idiom atau apa, pemakaian kata salah memang bisa debatable … Apalagi, kalau tidak konsisten dengan makna dasarnya. Padahal, kalau kalimatnya: (Satu) Sebab Saya memacarinya karena keteknya tidak bau (tanpa salah). Klir.
Seorang mahasiswa membuat RPP yang tergolong bagus. Hanya saja pada ranah evaluasi dia merancang evaluasi pilihan ganda. Pada area tujuan ditulis: Tujuan pembelajaran agar siswa mampu menyebutkan nama-nama tokoh pemberontak masa pemerintahan Soekarno. Tujuannya, agar siswa dapat ‘menyebutkan’ yang dites kemampuan ‘menuliskan’. Wualah … wualah.
Kalau memilih hal ikwal ‘menulis’, lalu dilabeli dengan ‘berbicara’, kira-kira konsisten apa tidak? Berbicara memakai mulut, menulis dengan jari-jari tangan. Sangat jelas bedanya. Kalau ‘konsisten’ memilih diksi bicara untuk apa yang dimaksud menulis, pastilah konsisten dengan ketidakkonsistenan.
Konon katanya, bangsa Indonesia adalah bangsa sadar pendidikan. Pendidikan adalah garansi kemajuan bagsa ke depan. Sangat luhur. Secara satire, saking konsistennya, gaji guru-guru sangat tidak memadai, sarana dan prasaana luar biasa (binasa) cekak, tidak lupa proyek-proyek pendidikan dikorup … anggaran pendidikan sangatlah kecil (rendah) dalam komposisi APBN. Konsisten atau tidak?
Seorang pejabat (birokrat pendidikan), katanya sih, sangat prihatin dengan pendidikan. Rumahnya gedongan, mobilnya keren, hidupnya wah, tapi …. sekolah di lingkungannya bak kandang ayam. Si Pejabat sungguh berperhatian besar tehadap pendidikan.
Kalau berpikir radiks, pantas pertanyaan gugatan disandangkan: Kawan kita ini betul-betul peduli pendidikan atau ‘perampok’ pendidikan? Wong yang diurusnya, beban tugasnya ngak beres-beres, tapi … mendapatkan harta berlimpah darinya. Sebagai PNS, gajinya sudah terukur kog.
Tulisan ini tidak menukik membahas konsisten dalam pilahan sikap, sesuatu yang sangat fundamental, tetapi untuk hal remeh-temeh dalam kaitan ‘berpikir’ dan atau memilih diksi dalam kaitan menulis. Tepatnya, membiasakan menulis. Bahwa kita (pembelajar) belumlah tepat sempurna, ya wajar. Saya satu diantaranya. Sangat banyak melakukan kekeliruan dan atau kurang konsisten. Namanya juga belajar.
Sekalipun demikian, dalam katupan ideal, kita sebaiknya membiasakan konsisten. Kalau konsep air mengalir, janganlah membuat kalimat tanya: Apa air ledeng di rumah Sampeyan jalan? Emang air punya kaki, memangnya ledeng –dari pipa atau besi— bisa berjalan. Bisa geger tu penduduk sekota kalau air dan ledeng berbaris rapi, berjalan, berparede.
Pikir-pikir. Pantaskah kita bertanya: Wahai isteriku sayang sudahkan memanak nasi, suamimu tercinta, lapar banget nich? Hallo … pikir ulang, kalau nasi —hasilan beras sesudah ditanak, dimasak— ditanak lagi, apa mau bikin bubur? Tidak kan? Itulah gunanya berpikir.
Dalam sharing menulis, banyak orang mengatakan atau menuliskan: Pak Ersis tolong bimbing saya, saya berkeinginan (belajar) menulis, ingin menjadi penulis. Waduh senangnya, bakalan dapat teman (belajar) menulis. Tapi, rata-rata ‘bunuh diri’ sebelum belajar. Kenapa?
Saya tidak berbakat, susah mendapatkan mood, sepertinya calling saya rendah, ngak punya laptop, dan sebareg hal yang tidak ada hubungannya dengan (belajar) menulis versi Ersis Writing Theory. EWT berprinsip sederhana, kalau mau menulis, ingin menjadi penulis, tulis, tulis, dan tulis apa yang hendak ditulis. Pasti jadi tulisan. Kualitasnya?
Sampeyan mau belajar menulis atau berdiskusi tentang kualitas tulisan? Belajar, membiasakan, dan memasihkan menulis, ya dengan menulis. Bukankah dengan menulis kita belajar arti, memilih, memakai dan hal-ikhwal menyangkut kata. Pada ranah lebih tinggi, belajar atau lebih memperdalam ilmu yang ‘dilipat’ kata, memformulasikan dalam bentuk baru, sesuai pikiran kita. Belajar menuliskan pikiran.
Mau belajar, tapi ‘bunuh diri’ duluan. Apa-apaan. Itu Tidak konsisten bro? Menulis membangun konsistensi.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 3 Februari 2007













11 Responses to “Menulis Membangun Konsistensi”
By Anang on Feb 3, 2008 | Reply
pokoke saya berusaha konsisten nulis pak…. belajar dan belajar
***Kita seayun dong, saya sedang dan akan terus belajar, termasuk belajar konsisten.
By sawali tuhusetya on Feb 3, 2008 | Reply
bener itu kata pak ersis. jangan percaya bakat, halah, karena justru akan menjadi belenggu menulis, hehehehehe
biasanya bakat itu kan baru diketahui setelah seseorang menghasilkan karya besar. sebelum almarhum pram jadi penulis yang disegani dunia internasional, mana ada yang percaya kalu pak pram itu berbakat menulis?
By danalingga on Feb 3, 2008 | Reply
Saya juga memang sedang belajar menulis pak. Semoga tak mengalami mati yang belum saatnya.
By Dee on Feb 3, 2008 | Reply
saya mah konsisten, konsisten salah melulu… tapi ada niat untuk sedikit demi sedikit mengurangi kesalahan kok pak.
***Ha ha ha … janganlah, salah itu wajar. Kalau ngak ada salah gimana kita tahu ada betul. Kalau dah tahu salah, diteruskan, ya salah benar tu, he he
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 3, 2008 | Reply
Ass.Wr.Wb
Konsisten itu sangat berat, sangat butuh pengorbanan dan usaha yang sungguh sungguh, Mujahadah.
***Setuju. Harus dilatih dan dibiasakan.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 3, 2008 | Reply
Kalau tidak salah bahasa arabnya tuh, ILTIZAM.
Konsisten sangat dibutuhkan dalam segala hal, termasuk menulis. Ya, menulis…
***Asyik, ntar saya buat deh tulisan khusu tentang itu. Insya Allah.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Feb 3, 2008 | Reply
Doakan, ya Pak. Semoga saya bisa konsisten dalam menulis.
Saya kangen bisa menghasilkan tulisan setiap hari, yah yang seperti cita-cita saya. Amiiinnn
***Amin.
By Shanty on Feb 3, 2008 | Reply
jangan lupa konsisten aja ga cukup perlu hati untuk menjiwai tiap tulisan. itu baru siip
***Ya, tapi tergantung definisi hati itu apa?
By Willy Ediyanto on Feb 3, 2008 | Reply
Menulis setiap hari di buku harian. Menulis artikel/esei, baca-baca dulu. Gak ada laptop, konsep dulu supaya nggak hilang dari ingatan - bukan hilang ingatan - terus, di kantor kalau sempat berangkat pagi langsung duduk di depan komputer dan ketik tuh konsep yang ada di buku kecil atau potongan kertas. Menulis atau mengonsep bisa juga dalam pikiran, tapi sering hilang. Bukankah begitu?
Konsisten enggak yah?
***Ya ya ya, itulah yang saya lakukan dulu, kini nulis di otak lebih sering. Konsistenlah.
By unai on Feb 4, 2008 | Reply
setuju pak…menajamkan kemampuan menulis dengan banyak menulis
***Yap, … menulis, menulis, dan menulis.
By Yari NK on Feb 5, 2008 | Reply
Konsisten dan menulis??? Wah memang bagusnya sih konsisten dalam (terus) menulis atau menulis dengan konsisten…..
Tapi….. kalau menulis tidak konsisten hmmm. nggak apa2 juga kali ya, soalnya masih mendingan daripada udah nggak konsisten, nggak menulis pula!! Huehehehe…..
***Tasarah ai mun kaya itu …