Menulis Tanpa Berpikir

1 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Otak belantara pikiran; menyimpan yang pernah dipikirkan mematri beragam info pindaiannya. Menuangkannya, bisa jadi, tidak perlu berpikir keras (lagi).

REFLEKS. Ada pertanyaan cukup menantang: Apakah mungkin menulis tanpa berpikir? Mudah menjawabnya, agak sulit memahaminya. Pertama, tergantung bagaimana kita mendefinisikan berpikir. Kedua, kalau menulis itu ‘mengoperasikan’ atau ‘menuangkan’ pikiran, apa yang dipikirkan, tidak mungkin menulis tanpa berpikir. Tapi, kalau menulis sudah pada tingkat refleks, sekalipun fungsi berpikir tetap berlaku, dapat pula dikatakan menulis tanpa berpikir bisa jadi.
 
Dalam beberapa tulisan, saya ‘membagi’ aktivitas menulis dengan menganologikan bak menyetir. Ketika baru melajar menyetir, mula-mula diajarkan: Buka pintu mobil, masuk, duduk yang pas, pegang stir, pandangan ke depan, kaki kiri menginjak pedal, kaki kanan menekan rem, putar kunci kontak, dan bla bla. Prosedur baku tersebut tidak boleh tertukar, harus runtut. Kalau tidak? Pasti sudah, begitu gas diinjak suara mesin mobil menggelagar atau mesin mati mobil, dan seterusnya.
 
Ketika sudah fasih, buka pintu, jari-jari tangan mengisyaratkan kiss bye pada anak, sembari berkata: Bapak ke kantor ya. Pintu mobil terbuka dan tau-tau sudah di jalan umum. Yang namanya prosedur tidak ingat lagi. Terkadang teleponan atau menjawab SMS, lagu kesukaan mengalun dari tape mobil, siulan kecil pun mengudara, dan … pikiran bisa berkelana ke Patung Singa di Singapura atau Menara Kembar Kuala Lumpur. Atau, ‘menyiapkan’ argumen untuk menghadapi bos yang bandel.
 
Begitulah. Ketika menyetir sudah fasih,  semuanya menjadi refleks, authomaticly. Tidak ada yang dipikirkan lagi. Berlaku begitu saja. Padahal, pada dasarnya proses berpikir terjadi. Hanya saja, karena begitu cepatnya prosesnya seolah-olah tidak sempat memikirkan, dan untuk apa juga dipikir he he. Begitu juga menulis. Ngak mungkin lah yaw.
 
Menulis adalah kepercaan diri, menulis berasal dari mindset, dari apa yang digambarkan sendiri atas diri, dari bagaimana diri berpikir tentang diri. Banyak orang-orang dungu karena mendungukan diri. Saya tidak bakat Pak, emang apa itu bakat? Tidak mood. Padahal melihat arti kata mood saja belum pernah di kamus. Tidak punya calling. Dan seabreg pilihan kata untuk ‘menjatuhkan’ dirinya sendiri.
 
Padahal, dari dalam diri ada keinginan besar menampakkan diri, menuangkan pikiran; Menulis. Tapi, ibu-bapaknya, guru-gurunya, teman-temannya, dosen-dosennya, tetangga-tetanggannya, mengirim kabar ke dasar pikirnya, bahwa dia tidak mempunyai syarat-syarat sebagai penulis.
 
Dorongan dari dalam diri ada, pengalaman kehidupan yang ditanamkan mematikan keinginan dan potensi menulis. Kedua hal tersebut, kemauan cerdas dan kedunguan, ‘berperang’ dalam diri, akhirnya ya itu, yang ‘dimenangkan’ pendunguan diri.
 
Memaki diri menjadi kebiasaan, menghina tulisan sendiri dengan mencari kesalahan sampai hal terkecil. Yang diperhatikan selalu kekurangan, bukan kekuatan. Lalu, berdiskusi dengan para ahli atau yang mengaku-ngaku ahli, mencar–cari kesalahan-kesalahan, dibanding-bandingkan dengan karya Karl May atau Hamzah Fansuri, terbunuhlah potensinya tanpa darah.
 
Kalau sudah demikian, wahai para perusak diri, perusak potensi menulis, jangankan kemampuan menulis sampai pada tingkat fasih, jangankan menulis tanpa berpikir, untuk memulai menulis saja hanya ada satu pegangan kokoh, takut dan ketakuan. Kalaulah demikian pola pikir yang ditanam, Sampeyan  menanam ‘bom kematian’ menulis.
 
Yang paling parah, potensi menulis dan atau kemauan menulis yang begitu menggebu-ngebu dihadapkan ‘pasukan’ pembunuhnya, ya itu tadi, mindset ciptaan sendiri, menghabisi potensi menulis. Semoga Sampeyan bukanlah dari tipe manusia sedemikian, penghancur potensi menulisnya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 1 Februari 2008.

  1. 7 Responses to “Menulis Tanpa Berpikir”

  2. By Goop on Feb 1, 2008 | Reply

    Hayah… memang bisa pak??
    lha kalo ga berfikir apa yang akan tertulis…
    barangkali macam ini… :
    asdhajdasdcn cahdajkdharur gsahdghadka
    hahaha :D ______________________________________________
    aih tapi saya suka pesan-pesan di bagian akhir tulisan…
    harus menghargai karya sendiri dulu ya pak :D -makasih-

  3. By Dee on Feb 1, 2008 | Reply

    Bagi yang sudah terbiasa menulis, mungkin bisa diistilahkan demikian pak ersis, artinya tanpa harus berpikirpun secara otomatis sudah mampu merangkaikan kata-kata yang tepat untuk mengkomunikasikan ide melalui tulisan. Sementara, untuk orang-orang setaraf saya yang baru belajar menulis, perlu proses panjang untung sekedar mengidentifikasi dan merumuskan ide, kemudian mencoba mencari pilihan kata yang tepat untuk mengkomunikasikannya melalui tulisan. Nah, memang biasanya setelah dituliskan, saat itulah muncul rasa ketidaknyamanan, atau ketidakpercayadirian untuk mempublishnya. Diulangi lagi, diulangi lagi, akhirnya berujung pada keputusasaan: ooh, ternyata aku nggak berbakat menulis …

  4. By Anang on Feb 1, 2008 | Reply

    wah iya.. bisa karena biasa……. ya pak

  5. By noorlatifah on Feb 1, 2008 | Reply

    Bagus juga tipsnya, ulun mau coba nulis dengan menuangkan apa yang ada dalam pikiran mudah-mudahan bisa ya pa!

    ***Yoi. Tuangkan anggur nyaman menulis

  6. By tan on Feb 2, 2008 | Reply

    wahh… kalo begitu tulisan-tulisan saya emang bagus, dan saya luar biasa!! *berpikir positif,dengan campuran narsis yg akut*

    bener pak, pembunuh paling kejam itu ya pikiran kita sendiri

    ***Kiranya begitulah he he

  7. By unai on Feb 4, 2008 | Reply

    h mana bisa atuh pak….emangnya kata kata yang keluar alami tanpa bantuan ortak hehe..mungkin untuk penulis top kaya bapak mah bisa begitu…seperti tanpa berfikir, menyerahkan sepenuhnya kepada jemari hehe…

    ***Maslah proses, saking cepat seolah-olah ngak berpkir.

  8. By meiy on Feb 5, 2008 | Reply

    Sebenarnya tetap berpikir ya pak, cuma otomatis seperti refleks lain yg kita lakukan, otak toh tak pernah berhenti; sadar, bawah sadar mengendalikan manusia–selalu bekerja, tergantung manusianya memikirkan apa, memfokus kemana.

    kalau refleks terlatih itu lebih ke bawah sadar kali pak. Kalau kata ahli di buku yg saya baca itu prose alpha (ah Bapak pasti lebih ngerti). pingin juga mencapai itu :)

    ***Ya, ya. Kita sudah lakukan itu di banyak hal dalam hidup sehari-hari. Banyak sekali.

Post a Comment