Menulis dan Pembiadab Bicara

1 February 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Berbicara dan menulis adalah penuangan pikiran. Berkah kemampuan berbicara sama baiknya dengan karuniah kemampuan menulis. Tapi, ‘kebiadaban’ berbicara bisa membantai potensi menulis.

TONG KOSONG. Sejelek-jeleknya image Goerge Walker Bush, saya suka mendengar pidato atau orasinya. Kalau isinya, ya lebih banyak sebelnya. Maklum, cara Bush memandang dunia dengan cara saya berbeda. Tapi, ya itu tadi. Gaya bicaranya mantap, meyakinkan, dan … tanpa teks. Padahal, pidatonya ‘mengaduk-aduk’ dunia. Berbeda dengan negara dimana pemimpin-peminpinnya ‘pembaca’ yang baik; membaca teks pidato doang. Guyonan Gus Dur tentang anak TK ada benarnya? Entahlah.
 
Maksud saya begini, ada orang yang diberkati kemampuan oral baik, bicara retorik, orator yang luar biasa. Soekarno, Ahmadinejad, Hugo Chaves contohnya. Ada orang yang bagus menulis. Hatta, Mahatir, dan banyak lagi. Tidak sedikit yang mengabungkan keduanya, hebat bicara, jago menulis, karena memang pikirannya bagus.
 
Yang akan ‘digelitik’ dalam tulisan ini, adalah orang yang berkemampuan hebat bicara, dimana kalau bicara seolah-olah apa yang diucapkannya benar. Sebagai pengajar di perguruan tinggi, kepada mahasiswa diutarakan, saya mungkin termasuk golongan sedemikian. Kenapa?
 
Kalau bcara di kelas, wui … susah dikontrol. Begitu bicara, di telan ruang. Bahkan sering lupa apa yang dibicarakan, mahasiswa juga lupa, he he. Jadi, tolong dorong menuliskan apa yang dibicarakan. Sungguh, saya malu, puluhan tahun memberi kuliah hanya sebagai corong pikiran orang, membanggakan buku-buku karya orang. Sudah begitu belagak pula di ruang kuliah. Ya, beraninya pada mahasiswa.
 
Begitulah, saya agak serius belajar menulis. Saya ingin masuk kelompok orang-orang yang menulis. Disitulah petaka bermula. Diserang dengan berbagai cara … oleh mereka yan tidak menulis. Apa yang ditulis salah melulu. Ah sudah. Orang punya pikiran dan gaya masing-masing to.
 
Ah, persetan mereka yang demikian, pembiadab bicara. Bicaranya mematikan semangat menulis, menumpulkan potensi menulis. Kepada seorang kawan saya katakan: “Coba uji kemampuan menulis dengan melempar karya tulis ke pasar bebas”. Maksudnya?
 
Tulis buku, jangan hanya berani menjual (paksa) kepada mahasiswa, tapi ke pasar buku dimana orang bebas memilih dan membeli. Kalau penerbitnya rugi, tau dirilah. Ini sudah menulis payah, karya tidak pernah diuji publik, e … belagak hebat pula. Konyol.
 
Maksud saya, kalau kita membiasakan diri menatap kekurangan karya orang, itu tidak elok. Yang bagus, beri masukan untuk perbaikan. Menulis perlu pembiasaan, berpikir perlu diasah, bukan dibunuh dengan kekuasaan atau retorita. Bicara gampang, tapi kalau menulis akan terlihat seketika kebodohan diri. Tertulis. Kalau salah mana bisa berkilah, wong tertulis. Dapat dimaklumi, kenapa orang banyak alasan untuk tidak menulis; takut ketahuan jeroannya he he.
 
Dengan kata lain, kalau mau belajar menulis, kurangi bicara, beralihkan ke menulis. Minimalkan bergaul dengan jago-jago bicara, bergaullah dengan pehobi menulis. Jangan mau ‘dikata-katai’ oleh orang yang pintarnya ngomong doang, bicara saja. Enak di dia, tidak menulis tapi menilai tulisan orang. Tinggalkan saja orang seperti itu, garbage. Ya sampah-sampah yang harus dienyahkan (walau sementara).
 
Kalau sudah fasih menulis, temui dia. Minta bicara berjam-jam, berhari-hari, atau berminggu-minggu, lalu ambil ide dari situ. Ingat, orang yang pintar bicara, cara kerja otaknya cepat, dia tidak paham saja bahwa kepintarannya itu akan sangat positif bilsa ditulis, bisa dinikmati oleh jutaan orang.
 
Kita siasati, dalam kerja-sama yang aneh. Anggap sampah ketika belajar menulis, tetapi begitu agak fasih, manfaat. Licik? Entahlah. Yang penting, ‘membenci’ Si Jago Bicara jangan permanen, sebab disamping berdosa juga merusak diri. Tapi, kalau agar kita ‘kuat’ dulu, kan tidak apa-apa juga, kiranya.
 
Mengutuk pembiadab bicara, barangkali elok, asal jangan permanen. Bagaimana pun, hal-hal baik, orang-orang baik, hal-hal buruk, orang-orang bersifat buruk, pada hakikatnya adalah memuat ‘pelajaran’. Dus, kalau begitu sampailah kita pandangan: pada dasarnya ada yang baik, ada yang jelek, yang keduanya baik manakala mampu mengambil kebaikannya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 1 Februari 2007.

  1. 16 Responses to “Menulis dan Pembiadab Bicara”

  2. By caplang[dot]net on Feb 1, 2008 | Reply

    sepertinya saya pembicara sekaligus pengetik (ga ngerasa penulis) yg belum baik :lol:

  3. By Dee on Feb 1, 2008 | Reply

    wah pak ersis, saya kok masih lebih banyak ndobosnya ya. mudah-mudahan saya bisa menguranginya dengan lebih banyak menulis

  4. By Goop on Feb 1, 2008 | Reply

    iya… saya masih omdo ->> omong doang juga…
    belajar ah :D -mohon bimbingannya pak-
    makasih

  5. By noorlatifah on Feb 1, 2008 | Reply

    Ulun setuju pa. manfaatin aja pembiadap bicara itu ya bisa jadi inspirasi kita untuk manulis. Yah paling tidak nambahi kosa kata kita.

  6. By Anang on Feb 1, 2008 | Reply

    pokoknya belajar terus

    ***Yap

  7. By danalingga on Feb 1, 2008 | Reply

    Saya sering juga nemu ide menulis dari orang orang yang banyak bicara itu pak.

    ***Sama dong … mari kita kerjain mereka

  8. By senaz on Feb 2, 2008 | Reply

    betul skali tuh pak..menulis bukan perkara yg mudah..sebaliknya ngomong tinggal cas cis cus..hihihi..

    ***He he

  9. By mathematicse on Feb 2, 2008 | Reply

    Wah tema blog saya bicara matematika.. :D

    Tapi gpp deh, yang penting “yang dibicarakan itu” ditulis… :D

    ***Apa-apa dong, ntar aku nulis konsistensi ya

  10. By syaharuddin on Feb 2, 2008 | Reply

    saya pernah memperhatikan seorang mahasiswa saya, dia itu pandai berbicara dalam ssebuah diskusi yang dilakukan dikelas. Suatu waktu saya suruh dia agar apa yang ia bicarakan sewaktu diskusi tadi di tulis di media, kami pun (para dosennya ) berjanji jika berhasil keluar di salah satu media, maka kami akan memberi nilai A. Alhamdulillah sampai semester berakhir tulisannya gak juga muncul. Pertanyaan saya apa memang ada ya orang yang hebatnya cuma bicara tapi gak bisa nulis?

    ***Ya, pembicara cerdas uang dungu menulis he he

  11. By tan on Feb 2, 2008 | Reply

    saya buat omong ajah masih perlu belajar banyak pak, apalagi menulis, lebih susah tampaknya! :mrgreen:

    ***Ngak ada yang susahlah selama diri mengatakan mudah

  12. By Hanvitra on Feb 2, 2008 | Reply

    Saya sudah membeli bukunya Pak Ersis “Menulis Sangat Mudah” dan melihat blogs-nya di internet. Saya ingin sekali sharing pengalaman saya menulis dengan Pak Ersis. Tapi bagaimana saya menghubungi beliau yah ? Saya dulu sangat aktif di pers mahasiswa dan kecanduan menulis namun sekarang semangat itu meluntur. Saya ingin sekali sharing dengan pak Ersis. Mohon email saya dicatat hanvitra_97@yahoo.co.id.

    ***Silahken … di blog juga bisa kog

  13. By Totok Sugianto on Feb 3, 2008 | Reply

    tapi untuk bisa menulis juga diperlukan bakat lho, seperti halnya berbicara juga begitu. jadi kalau saya sekarang menulis diblog itu tidak berarti saya berbakat menulis tetapi karena sebuah proses pembelajaran saja hehehe… kalau pak Ersis pasti sudah ada bakat menulis jadi tinggal dicari medianya untuk menulis ya jadilah sebuah tulisan yg sangat layak untuk dibaca :D

    ***Kalau yang ini, maaf … kita ngak sependapat. Apa itu bakat? Dengan alasan bakat dan berbakat itulah banyak orang terbelenggu … dan (maaf) bagi saya persetan bakat. Kalau ngak percaya, coba tulis, tulis, dan menulis … berbakat atau tidak, jadi deh tulisa, jadi deh penulis.

  14. By mathematicse on Feb 3, 2008 | Reply

    Ha ha ha.. :D Iya, betul apa-apa…

    Salah satu alasan kenapa saya tak menggangti tema blog, itu biar konsisten aja… (alias istiqomah gitu loh… :D)

    Ok, deh ditunggu tulisan tentang konsistensinya… :D

    ***Siiip … nich lagi bikin dammy buku.

  15. By Al Jupri on Feb 3, 2008 | Reply

    Mmmmmmh… menarik euy… :D

    Tapi orang yang banyak bicara itu seperti “tong kosong berbunyi nyaring” betul ga?

    ***NGak persis, ortor kan positif. Namun, pasti orator bodoh nulis he he

  16. By Siti Jenang on Feb 3, 2008 | Reply

    kalo saya kok cara berbicara kadang kebawa bahasa tulisan nih… normal gak sih? :mrgreen:

    ***Normallah … bicara dan menulis kan sama-sama ‘keluaran’ pikiran. Saya terkadang nulis kayak ngomong tu.

  17. By unai on Feb 4, 2008 | Reply

    heheh andai saja aa yang kita omonkan langsung tertera di layar monitor, tak susah lagi jari ini mengetik yah pak ? :P

    ***Pelajari refleks menulis … iso ae mBak.

Post a Comment