Menuangkan Pikiran Menebar Hikmah

31 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENULIS, menulis, dan menulis. Mari dendangkan  ode, menulis mudah, mudah menulis, memudahkan menulis. Menuangkan pikiran menebar madah-madah indah tebaran hikmah, menjangkau relung hati dari sanubari lipatan hikmah warna rupa, dari keindahan menuju kebaikan.
 
Tuangkan pikiran dari asal muasal kata, lautan hikmah dari surga, anyaman nyaman-menyamankan dari qalbu ke inti diri, firman Ilahi tauladan Rasulullah. Dari diri pada hati menuju ‘diri’ menjangkau hati, relasi tak berwatas silaturrahmi.
 
Wahai para pencinta kalimah, tak ada retak yang sempurna, tak ada duri yang tumpul, dan takkan pernah ada dan tiada, ada dalam kata; kata yang ditulis. Ada.
 
Menulis bukan memamah rupa, bukan menjangkau kala, tidak menuai harta, merebut tahta, mengumbar beda laknatullah. Menulis dari Asmaul Husna susuri relung-relung jiwa berbunga rona, nyanyian rindu, nyanyian kasmaran.
 
Jika kau tahu gelombang kata, bahana galodoh melanda dada, kan kau raih arti kata, kan kau regut pahala di padang lepas sebagaimana dijanjikan Maha Pencipta. Petiklah ia ketika pikirmu terjaga, ketika hatimu tersentuh, ketika jarinya tak terkulai dendaan ayan, saat jaga memagar diri.
 
Jika kau tahu buruknya diam, bisik-bisik warisan Iblis, sendagurau para pendusta, tajamnya lidah bertulang baja, silent is golden. Kau kan tahu beda siang dengan malam, abu-abu yang tak sedap dipandang, makna ucap goresan pena, irisan tuts-tuts berimana sujud, pada makna kau berpijak.
 
Jika kau tahu makna rupa, gerombolan takut balutan diri memecah benjolan nanah bertukar rupa senyum suci, elus lembut danau rasa. Disitu tegakmu akan sempurna, dada mengembang bukan riya, tengadah bukan pongah; muatannya berserah diri, suling suara hikmah-hikmah, pada kata-kata.
 
Jika kau tahu yang tidak kau tahu, tahumu adalah makrifat. Adam membawa khabar istana megah. Menulis adalah makna.
 
Tak usah ragu tak usah kecewa. Lahirmu adalah kepolosan, deritamu pelontos, jika tangguk hati menjaring ibadah. Tak kan kau debat isra’ mi’raj, tak kan kau cemooh makna ummi; sumber segala sumber, taudalan, Rasulullah.
 
Ada miliarn galaksi dititip di botak tengkorak, ada urat sekeliling jaga raya saling berpacu, ada lompatan energi yang takkan pernah kau mengerti, hadiah tanpa usaha. Ada ‘polisi’ di dadamu, ada Rakip dan Atip sahabatmu; mana hitam mana putih. Ada yang kau pahami sebelum kau mengerti, ada yang kau mengerti sebelum paham, kalau kau tak paham-paham, nyala kala mati tanpa ditiup, di dirimu.
 
Tumpahkan apa yang harus kau berikan, berikan apa yang harus kau sedekahkan. Luruskan jalannya ke sarang limbah apa yang harus dienyahkan, pelihara pancang-pancang sidratul mustaqim, menuju asal berawal. Jembatan baktimu.
 
Tuliskan kewajibanmu memancing kewajiban-kewajiban yang wajib, sunah yang memberkah, syair-syair kelana, nada-nada yang tak berkesudahan, dendang anak manusia. Tumpangkan pada angin, kirimkan melampaui awan menembus pori-pori jiwa, buahnya melimpah ruah. Petiklah di pikiran, tebarkan di hikmah, tuai kelak dikemudian hari, imbalan pahatan kata-kata, kata-kata bermakna.
 
Wahai para pencinta, goreskan, tancapkan, pahatkan, kata-kata. Kata-kata nyaman menyamankan. Ajarkan dirimu, mudahkan dirimu, kenalkan dirimu, nyamankan pikiran, nyamankan mata-mata hikmah, dalam anyaman kata-kata. Kata-katamu.    
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 1 Februari 2008

  1. 6 Responses to “Menuangkan Pikiran Menebar Hikmah”

  2. By mathematicse on Feb 1, 2008 | Reply

    Pertamax dulu aaaaaaaaaaaaaaaaaaah :D

  3. By mathematicse on Feb 1, 2008 | Reply

    Wah isinya kata-kata alais perkataan yang puitis. Saya bingung ngomentarinya… :D

    ***Aku ngak ngerti juga nulis kaya gitu he he

  4. By Goop on Feb 1, 2008 | Reply

    Waduh…
    hanya terpesona, pada kata…
    pada syukur, pada madah…
    bukan main…
    -mohon bimbingannya pak-

    ***Ha ha …

  5. By Anang on Feb 1, 2008 | Reply

    rangkaian kata yang wow…. perlu intelejensi mutakhir ni…..

  6. By meiy on Feb 4, 2008 | Reply

    walah kok komen aku minggu lalu gak keluar?

    indah dan bermakna pak, dahsyat!

    ***Mungkin ke sapam area tu, mungkin ke delete, soalnya langsung main delet tu … aneh komen beberapa teman kini nyandu ke spam tu

  7. By toeti on Feb 6, 2008 | Reply

    cuma Bisa Bilang WOW.. KEREENNN… Pacar baruku (kompi baru maksudnya) udah kudapat.. doain lebih menulis lagi ya Om..

    ***Wuaw .. keren abis …. bila menulis.

Post a Comment