Lintah Tehnologi Indonesia

31 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Kemajuan tehnologi informasi/komunikasi adalah hal yang wajib disyukuri dan dimanfaatkan. Menyimak tekad Meninfokom, apalagi yang tengah di galakkan Depdiknas, begitu juga di hampir semua lini kehdiupan, tak ayal, tehnologi adalah janjian masa depan Indonesia.

BEGO: Ya, tehnologi tidak bisa ditolak atau diabaikan kalau tidak mau dilibasnya. Kita pantas bersyukur, beragam usaha dan upaya yang tengah digalakkan lebih memberi harap —terutama di bidang pendidikan. Tidak mau main-main, Meinfokom tak kalah ‘garangnya’, sampai-sampai di seluruh alun-alun kota-kabupaten di Jawa Timur, dipasangi hot spot.
 
Lebih mendengungkan harap, konon, seluruh desa Indonesia yang hampir 50-an ribu, akan dipasangi jaringan telepon. Agar, para petani, nelayan, dan penduduk perdesaan tidak kalah telak dalam meraup informasi. Sungguh mulia maksud yang digaungkan.
 
Pertanyaannya, apakah logis berbagai program tersebut akan menghadirkan kehidupan lebih baik bagi masyarakat perdesaan? Teoritis, ya. Tapi, pada kenyataannya, bisa jadi yang terjadi sebaliknya. Ya, sebaliknya. Selama, ya selama, para pemimpin ‘melihat’ pakai kaca mata kuda, tidak melihat secara multi side argumentation. Kog bisa begitu?
 
Saya lagi terkagum-kagum, karena barusan membaca buku Azim Premji “Bill Gates” Muslim dari India, karangan Haris Priyatna. Premji dengan bendera perushaannya, Wipro, tengah menghentak dunia, ya dunia, dengan aneka ‘kreativitas’ hasilan tehnologi informasi yang membuat perusahan-perusahan besar negara-negara Barat ‘tergantung’ padanya. Premji, ‘menciptakan’ tehnologi tinggi dengan ragam programnya.
 
Tentu tidak hak kita ‘menuntut’ bangsa yang terbiasa berpikir ala saudagar agar beralih sebagai produsen bukan konsumen belaka. Jangankan berharap meluncurkan mobil nasional, lebih asyik kan ‘membesarkan’ perusahaan-perusahan otomotif Jepang atau Korea, —kini Malaysia dan India. Jangan pula tanya, kenapa sih kita tidak bisa memproduk beras dan kedelai dari lahan kita yang begitu luas? Jangan, sekali-kali, jangan bertanya. Sudah siap jawabannya.
 
Jangankan hal-hal mendasar dan serius tersebut, untuk konvensasi minyak tanah ke gas saja, para pengambil kebijakan lebih memilih menginpor tabung elpiji dari Thailand, puluhan ribu, dibanding ‘bersabar’ dan membuatnya di dalam negeri. Padahal, itu tehnologi sederhana. Itulah tipe bangsa saudagar. Kerjakan, dapat untung.
 
Saya ambil analisis sedeharana. Provinsi Kalimantan Selatan, provinsi saya,  berpenduduk ‘hanya’ 4 juta orang —sebanyak penduduk Singapura— kira-kira berapa yang memakai handphone? Ambil angka serampangan, seperempatnya, 1 juta. Kalau setiap pemakai menghabiskan Rp100 ribu sebulan, berarti belanja pulsanya Rp100 milyar per bulan. Setahun hitung sendiri deh. Itu urusan ponsel saja. Uangnya dibawa kemana?
 
Tentu saja, perusahaan-perusahaan halo-halo itu bermarkas di jakarta. Uang sebanyak itu, berapa yang dikembalikan ke Kalimantan Selatan? Paling-paling untuk membangun BTS atau sponsor kecil-kecilan even olahraga. Kecil, kecil sekali. Pegawai-pegawai, apalagi para managernya, di datangkan dari Jakarta. Setelah uang itu dihitung sana-sini, untung bersihnya dipersembahkan ke Singapurua? Kenapa? Mereka yang punya kog, pemegang saham mayoritas.
 
Kalau saya ‘investor’ Singapura, ya pasti juga berlaku demikian, keruk ‘jantung’ Indonesia. Mumpung, mau melego apa saja. Jangan-jangan PLN juga dilego. Kalau perlu, beri pinjaman atau beli saham murah-meriah, kalau perlu seharga sebulan keuntungan saja cukup euy.
 
Pertanyaannya: Kira-kira akan sebandingkah apa yang dikeluarkan rakyat perdesaan untuk kemajuan (perekonmian) mereka dengan masuknya tehnologi informasi? Entahlah. Kalau belajar dari kasus HP, selayang panjang memang mengairahkan, tetapi kalau dianalisis dengan keberpihakkan kepada daerah, rakyat perdesaan, justru tertampak bak lintah, lintah tehnologi. Benarkah?
 
Saya tidak tahu pasti. Soalnya bukan ekonom apalagi pejabat, hanya berpikir isengn saja he he.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 31 Januari 2007.

  1. 7 Responses to “Lintah Tehnologi Indonesia”

  2. By Arif on Jan 31, 2008 | Reply

    Menurut pendapat saya, kalau teknologi yang diimplementasikan ke pedesaan itu secara langsung dapat meningkatkan perekonomian masyarakat pengguna teknologi tersebut maka perkara duit yang dibayarkan oleh pengguna teknologi yang diberi contoh sebesar Rp 100 Milyar per bulan itu lari ke mana tidak menjadi masalah. Duit itu merupakan pengeluaran untuk komunikasi yang bisa dihitung apakah menjadi pendorong bertumbuhnya bisnis atau malah menjadi pemicu faktor pengeluaran tanpa imbal balik kepada pertumbuhan bisnis.

    Dalam usaha idealnya telepon/fax/internet merupakan fasilitas komunikasi yang diperlukan oleh pelaku usaha untuk memperbesar keterjangkauan usahanya. Akan tetapi, kalau semua teknologi itu tidak membawa manfaat bagi usaha, ya tidak usah dipakai (walaupun tidak ada usaha yang tidak terbantu dengan teknologi komunikasi ini). Paling tidak, telepon itu kan cukup dibayar abonemennya saja kalau hanya dipergunakan untuk menerima order.

    Menjadi tidak sebanding apabila rakyat pedesaan dipaksa menerima teknologi informasi tanpa diberi edukasi untuk memanfaatkan teknologi informasi tersebut untuk mengembangkan perekonomian mereka.

    ***Setuju, artinya pengambil kebijakan memperhitungkanhal tersebut, mulai dari edukasi sampai strategi bagaimana hasil nilai tamha tehnologi justru tidak menyedo uang untuk memperkaya negara lain. Perlu pengambil kebijakan yang cerdas. Itu kuncinya.

  3. By Goop on Jan 31, 2008 | Reply

    waduh seperti lintah ya pak…
    nah parahnya kan yang disedot kayak ga sadar kan??
    aih, bagaimana caranya biar nyadar yakkk
    saya aja masih sering lupa :D

    ***Ha ha sama dong kita. Minimal kita lebih hati-hatilah dan lebih ‘perhitungan’. Makasih atas atensinya.

  4. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    Cuman mau komen tentang pemasangan hotspot di jawa timur tepatnya di alun2 kota kbupaten… alah lha wong ternyata buktinya ga semuanya terpasang.. malah sebagian ga berfungsi maksimal.. xixixi.. cuman dipake promo tuh kali ya… hehe…

    ***Berarti … Meninfokom gombal juga tu bicara berapi-api di TV. Saya tanya teman-teman di Malang, katanya ada tu. Atau lagi nunggu antrian? Tapi, itu proyek 2007 lh. Kalau kami di Banjarbaru, walikota beli sendiri tu untuk warga Banjarbaru. Alun-alun kota kami punya hot spot.

  5. By sawali tuhusetya on Jan 31, 2008 | Reply

    wah, repotnya pak kalo bangsa yang hanya bisa jadi konsumen teknologi. bagsa lain sudah melaju mulus di jalan tol, kita masih berkutat di semak-semak dengan darah disedot sama lintah teknologi. wah, kapan bangsa kita jadi produsen tekno ya pak?

    ***Ya itulah,kalau kita kan produsen he he … produsen menulis (hix hix … biasa, bela diri)

  6. By meiy on Feb 1, 2008 | Reply

    duh pak kenyataan yg menyedihkan. susah untuk komen, kaya inconvenient truth ini…:(

  7. By edo on Feb 1, 2008 | Reply

    hehehe..
    komentar saya bisa panjang. kayaknya daripada ngeribetin blog bang ersis saya tak tulis di blog saya aja. :)

    ***Siap

  8. By humai on Feb 11, 2008 | Reply

    tolong lihat ke PSP Sejarah..

Post a Comment