Menulis Remeh Temeh
29 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menjadikan buah pikir pakar sebagai referensi dalam menulis sangat bagus, akan super bagus menulis dari diri, dari pikiran sendiri.
MENULIS pada hakikatnya menata pikiran secara ‘konkret’ karena produknya terlihat dalam bentuk tulisan. Kalau hanya menata pikiran, bisa jadi hanya renungan saja, atau angan-angan kosong. Mengenai tulisan-tulisan yang katanya ilmiah, hanya berupa kliping pemikiran orang (yang ditempel dari introduction sampai conclusi), bagus juga. Setidaknya mereka yang melakukan pernah membaca dan berusaha menulis; berusaha mensintesiskan pemikiran orang, walau hasilnya seperti kliping.
Begitu tulis seorang kawan yang tengah berjuang meraih prediket akademis doktor. Ya ya ya, soal menata pikiran tidak usah disoal lagi karena sudah pas. Kalau soal konkret dan tidak konkret lain kali kita diskusikan. Bisa ramai. Soalnya tergantung dari sudut pandang dan pemahaman, frame of mind.
Yang menarik adalah soal ‘kliping’ pemikiran orang lain. Bagi mereka yang pernah kuliah, hal tersebut sudah sangat akrab. Saya teringat apa yang dilakukan A.L Kroeber dan C. Kluckhon mengumpulkan definisi kebudayaan sampai 160 definisi. Mata kuliah Pengantar Antropologi saya ambil semester pertama, duh … kagumnya.
Sampai kuliah di pascasarjana, ‘tradisi’ tersebut masih terpelihara. Saya mengumpulkan puluhan definisi logika, filsafat, sejarah, pendidikan, kurikulum, politik, sosiologi, dan banyak lagi. Biasanya, pada alinea terakhir disimpulkan: Jadi … Ya, satu alinea saja.
Luar biasa, merasa hebat. Menulis makalah dengan banyak kutipan lengkap dengan footnote, ibid, op.cit, lop.cit, ect. dan seterusnya, rasanya hebat banget, ilmiah gitu. Dosen memberi nilai bagus pula. Ketika menjadi dosen, tradisi tersebut dilanjutan. Memahami dari sebuah definisi sungguh menantang. Suatu ketika muncul tanya: mau mendidik mahasiswa sebagai pemulung tulisan orang atau melatih daya pikirnya? Melatih berpikir dan berpendapat?
Ketika berdiskusi dengan redaktur artikel opini satu media cetak, terkaget sulangnya: Bagaimana memuat tulisan para dosen kalau semarak kutipannya mendominasi, mana daftar pustaka berpuluh-puluh? Diskusi diselesaikan dengan saling pemahaman, menghargari tradisi akademis dan untuk media cetak, ya ikut ‘aturan’ media bersangkutan.
Jelas sudah hal tersebut soal ‘penempatan’ dimana kaki berpijak. Hasil diskusi berujung kampanye kepada teman-teman dan kemudian semakin banyak yang piawai penulis untuk media cetak. Tapi, ada hal menganjal: Begitu pentingkah kutikan dalam menulis? Ya, adakalanya perlu dan penting.
Revolusi yang dilakukan, berusaha sedikit mungkin mengutip dan beralih menayangkan pemikiran sendiri. Bahwa, bahan dasarnya bisa berasal dari pikiran banyak orang, ujaran atau tulisan para pakar, ya iyalah. Buah pikir pakar diinternalisasi, dianalogikan, disintesiskan, atau apalah istilahnya, lalu menjadi pikiran sendiri. Sesuatu yang baru, lain dari apa yang dibaca, dikutip atau dirujuk, dari pikiran sendiri.
Dengan kata lain, pikiran atau ide sendiri adalah core tulisan, kutipan atau pendapat pakar adalah penguat, pelengkap. Dengan dan berasal dari pikiran sendiri, kepercayaan diri semakin kuat, tulisan terasa lebih kekarakter, mandiri, tidak bertopang doang pada pikiran orang.
Ketika ada ide, bacaan tentang beragam pendapat begitu saja bergabung, ya itu tadi, sebagai pengguat, bukan intinya, bukan ‘panglima’. Sampai suatu ketika, dalam diskusi, seorang teman berkelakar: Kalau begitu, kalau hanya mengumpulkan pendapat orang —berkilo-kilo meter panjangnya, he he— itu menulis remeh-temeh ya. Yes, jawab saya.
Tentu saja itu candais. Namun, sangat bagus untuk memotivasi menulis. Kalau merujuk, bersandar, berpikir, dan berawal dari tulisan atau pikiran orang melulu, ya bak menulis remeh-temeh. Kadang hanya pikiran kita sealinea. Percaya atau tidak? Begitu ada yang bertanya tentang perihal tulis-menulis, langsung dijawab. 10-15 menit jadi tulisan. Remeh-temeh. Pikiran orang, dijadikan landas pacu menulis. Gampang. Setelah take of, wuih nyamannya.
Persis seperti menulis apa yang dipikirkan, dialami, dilakukan, atau diformulasikan. Kalau sibuk merujuk, membanding, atau mensejajarkan dengan pikiran orang, bukankah mengakibatkan takut menulis, rendah diri, salah melulu, kurang ini-itu, dan saudara-saudaranya?
Jadi, kalau mau fasih menulis, menulislah dari diri, dari pikiran sendiri.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 29 Januari 2008.









20 Responses to “Menulis Remeh Temeh”
By hanna on Jan 29, 2008 | Reply
aiiii….
kalau bertopang terus kapan mandirinya
***Dibalik, kalau mandiri kan ngak perlu topangan lagi kan, tinggal ….cuuuuuuuur.
By Yari NK on Jan 29, 2008 | Reply
Ya menulis memang harus dari fikiran sendiri kalau dari fikiran dari orang lain ya itu namanya plagiatur huehehehe… Tetapi bagaimanapun juga kalau teknik penulisan atau teknik penyusunan buku boleh melihat dari orang lain atau dari buku2 luar.
Yang saya nggak suka mbaca buku2 terbitan Indonesia, buku2 Indonesia itu jarang sekali yang ada “Index”-nya. Orang Indonesia kalau menulis buku pasti males deh bikin indeks. Ntah kenapa. Padahal indeks penting sekali jikalau seseorang ingin melihat kembali sebuah subtopik dalam sebuah buku. Lihat buku luar semua pasti ada indeksnya, bahkan buku anak2pun ada indeksnya. Di Indonesia?? Yah begitulah!
***Itu soal tidak paham penggiunaan dan pemanfaatan index he he … nah mari kita mulai menulis buku yang ada indexnya, biar mereka (orang Indonesia yang bukunya pakai idex) semakain banyak komunitasnya. Gimana Kang Yari berani membuat buku yang pakai index? Saya siap banu.
By lagi di semarang on Jan 29, 2008 | Reply
walah, kalau jenis tulisan perlu pakek daftar pustaka atu murni pikiran sendiri tinggal keperluan tulisannya untuk apa pak ersis. utk keperluan simposium seminar, atau pertemuan2 ilmiah, makin berjibun rujukannya konon makin sahih, hehehehe
beda lagi untuk tulisan di koran. karena bersifat populer, jelas sangat tidak bagus kalu tulisan ditumpuki kutipan yang serba ngilmiah dari sana-sini.
***Ya, tinggal keperluan dan tujuan. Kalau dah bisa nulis, kan tinggal over kemampuan, ya kan Pak?
By caplang[dot]net on Jan 29, 2008 | Reply
seperti kata pak sawali, tergantung media yang digunakan ya, pak?
dalam diri sendiri pun masih ada sedikit pengaruh orang lain
duh komennya ngaco…
***Ya ya ya … ‘menentukan’ kegunaannya, untuk apa, itu akan berkait dengan strategi menulis.
By Sangkan Paran on Jan 29, 2008 | Reply
Permisi…P. Guru-ku, he..he…
Walah..walah…seperti saya yg pemula ini, rasanya agak kerepotan deh..klu nulis MURNI dari otak dan pikiran sendiri. Jadi yah…sedikit-sedikit masih GONDHELAN dengan tulisan orang lain untuk PEMICU gar bisa berdiri sendiri dan MANDIRI sampai nantinya bener-bener FASIH…
Karena tetap saja harus banyak REFERENSI dengan membaca karya orang lain. he..he…seperti sekarang ini saya mencoba MENGAMATI, MENCERMATI Karya-karya nya P. Guru Ersis…kali-kali ada yg PAS dan COCOK buat mendukung Tulisan saya. Jadi…ALON-ALON yg penting bisa nulis..he..he…
Kabuuuurrrrr…nanti keburu ditarik ROYALTI…hkas..haks..
Salam
Kariyan
si Murid di Dunia Maya.
***Ha ha ha … saya guru Sampeyan, Sampeyan guru saya. Lebih pas kan, sama-sama berguru.
By mathematicse on Jan 30, 2008 | Reply
<blockquote> Begitu tulis seorang kawan yang tengah berjuang meraih prediket akademis doktor… </blockquote>
Mudah-mudahan ini sebuah do’a. Amin. (Tapi belum sekolah doktor lho Pak, wong masih berjuang untuk meraih master kok…
)
Iya sih, aneh. Kenapa ya tulisan-tulisan yang dikatakan ilmiah itu bentuknya seperti kliping pemikiran orang? (ini yang saya lihat di Indonesia sih… ). Isinya kutipan-kutipan melulu, sedangkan pemikiran sang penulis “hanya beberapa alinea” doang.
Tapi untuk meraih gelar akademik, proses menulis seperti bikin “kliping” itu perlu dijalani. Dan itu ternyata tidak mudah. Butuh ketekunan yang luar biasa. Butuh kesabaran untuk memahami pemikiran orang. Kita dipaksa mencocokkan pemikiran orang ke dalam pemikiran kita.
***Amin-amin. Itu pertanda jalan ke doktro kali ya, he he. Jangan pulang sebelum doktor (maksudnya, sampai S3).
By Kurt(menulis dalam tidur) on Jan 30, 2008 | Reply
hahah … kelakar yang menarik. Bisa aja bos kita ini!
Para kandidat S1, S2 dan S3 berpayah2 mengumpulkan (mengkliping) pikiran orang lain dalam tulisan-tulisannya masuk dalam kategori “menulis remeh-temeh” …
Tapi masih lumayan bos daripada tidak mengerjakan apa2 kaya saya…
(MAAF JAWABAN SMSNYA DI SINI YAA)
***Alhamdulillah, Pak Kiai dah nonggol lagi. Duh senengnya, dapat belajar agama lagi nich.
By Anang on Jan 30, 2008 | Reply
wah kalau saya menulis rememeh temeh terus… belum bisa menulis mandiri.. huhuhu… perlu perjuangan rupanya untuk menulis dengan baik.. mengeluarkan ide-ide segar dalam diri sendiri tanpa harus mengkliping otak orang lain…
***he he bisa aja kawan nich.
By syaharuddin on Jan 30, 2008 | Reply
menurut pengalaman saya, tidak semua tulisan (ilmiah atau tidak) menggunakan kutipan. Beberapa dosen saya di UGM yang bertitel doktor, semisal Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra Antropolog UGM, jarang sekali kita melihat ada kutipan. Yang ada adalah hasil dari pemikiran beliau tentang sebuah kajian tertentu, misalnya tentang persoalan multikultural, kebudayaan, dsb. Tapi apa yang kita dapatkan dari jenis tulisan itu adalah sebuah ketuntasan mencerna sebuah masalah, karena ia disajikan dengan tuntas, cermat, sekan mengajak berdiskusi dengan penulis. Pokoknya setelah membaca banyak yang dapat didapatkan, bukannya malah bingung. Saya sendiri sih masih tergolong penulis remeh temeh, tapi saya yakin kalau kita mau belajar terus menerus, insya Allah bisa…..
***Ha ha … yang penting pengungkapan pikiran, dan kalau dimaksudkan orang lain membaca, orang paham, tidak melenceng dari kaidah ilmu, ya itulah menulis.
By daeng limpo on Jan 30, 2008 | Reply
Waduh, saya jadi nggak bisa nulis…semuanya udah ditulis disini
salam hangat bang Ersis.
***Salam lebih hangat kembali. Ah jangan gitu ah, kesindir kite nich.
By mathematicse on Jan 30, 2008 | Reply
Wah ternyata tulisan tentang “kliping” pemikiran orang banyak ditanggapi nih sama orang-orang…
***He he idenya nendang (kaya Titi Kamal aja)
By indra kh on Jan 30, 2008 | Reply
Setuju pak. Masalahnya kadang suka kurang PD kalau melihat hasil tulisan sendiri (khususnya untuk dikirim ke media).
***Kurang PD? Dipedeen aja lagi. Banyak kasus bukan kurang PD aja, tapi malah ditolak, tap … kemudian terbukti dimau oranf sedunia. Jadi, nulis, nulis, dan nulis …. kirim ke media.
By ndoro kakung on Jan 30, 2008 | Reply
kalau nulis di blog kan ndak perlu bawa sebatalyon kutipan dari penulis lain kan ya?
***Pada perinsipnya ya, tapi … kalau diperlukan bisa saja. Tapi, jangan sebatalionlah ntar pembac takut he he
By Paman Tyo on Jan 30, 2008 | Reply
Setuju. Menulis itu kan mengorganisasikan benak.
***Ya Paman … mengorganisasikan dan mengeluarkannya … tapi bukan isi benaknya lho, ih ngeri … pikirannya he he. Saya senang dikunjungi nich. Waduh jadi ngir tu minum kopi ama Erwin. Salam.
By Prabu Dian Sori on Jan 31, 2008 | Reply
kalo saya mah.. kadang nulis sendiri tapi ga sedikit juga nyontek dari orang lain
karena ada istilah kalo mo jadi pinter ngikut dulu mirip orang itu setelah udah ada bahan baru deh kita kembangkan sendiri.
***Ha ha ha
By Yari NK on Jan 31, 2008 | Reply
Wakakakakak…. lah kalo nunggu aku sampai nulis buku…. ya kapan para penulis bikin index-nya???? Lha wong bikin index gampang kok di software MS-Word juga ada…..
***Tapi kan kalau orang ngak mau, gimana? Jadi, itu untuk yang mau aja he he he
By yon's revolta on Jan 31, 2008 | Reply
menulis dari hati, akan sampai ke hati
***Makrifat nich ye
By eNPe on Jan 31, 2008 | Reply
huehuehue..kalo menulis remeh temeh berarti cuma kopas alias copy paste
bukan mengarang tapi buat kliping, hanya memadukan satu tulisan dgn tulisan yang lain…
***He he
By Arif on Jan 31, 2008 | Reply
“Jadi, kalau mau fasih menulis, menulislah dari diri, dari pikiran sendiri.”
Saya setuju dengan kalimat itu. Selama ini saya lebih suka menulis dengan gaya itu daripada kutip sana - kutip sini.
Memang sih, saya tidak banyak membaca sehingga miskin kutipan. Akan tetapi, kadang-kadang dalam kemiskinan kutipan itu saya merasa memiliki kekayaan pemikiran pribadi. Walaupun pemikirannya tidak dalam alias remeh-temeh, saya lebih merasa mantap karena pemikiran itu merupakan produk orisinil otak saya.
***Bagus. Setuju. Tapi, percayalah, kalau banyak membaca pikiran itu akan lebih luas, leluasa, semakin mudah membuat formaula baru, dan seterusnya. Saya yakin, kalau lebih banyak membaca, quantum menulis menjadi milik Sampeyan.
By meiy on Feb 1, 2008 | Reply
Rujukan syah-syah saja sih karena ilmu berkembang sejak zaman batu s/d sekarang melalui tahapan-tahapan diantaranya dibukukan, kita tak mungkin mempelajari semua ilmu sekalian atau tak sekalian, jalannya ya dg merujuk tulisan ahli yg sudah terbukti, aplagi untuk tulisan ilmiah.
tapi seperti kata Bapak jangan sampai hanya berupa kliping, kecian banget bisa jadi doktor krn klippingan doang? (bisakah???)
***Sah. Rujukan bukan tulisan sendiri kan?