Menulis dan Berpikir

29 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Menulis adalah berpikir, menuangkan pikiran adalah menulis, menuliskan pikiran dan memikirkan tulisan dua hal berbeda. Tanpa berpikir kita tidak bisa melakukan keduanya.

“BERPIKIR dulu baru menulis, ataukah memulai menulis dulu, baru berpikir Pak?”, tanya seorang sahabat blogger sembari mengomentari tulisan Mengendalikan Pikiran www.webersis.com. “Tinggal pilih. Tapi, yang bagus sekaligus. Siapa sih yang bikin dikotomi demikian? Kog ditiru pula, bukankah otak bukan hanya core2duo tapi … mutlicore”, jawab saya sedikit menggoda dengan harapan semoga dia memikirkannya. Ya, menulis adalah berpikir.
 
Menulis adalah rangkaian berpikir. Sebelum menulis, ketika menulis, dan setelah menulis. Dengan demikian, tidak relevan lagi adanya pertanyaan, memulai menulis dulu baru berpikir, atau berpikir dulu baru menulis. Kog begitu Pak?
 
Menulis adalah menuangkan pikiran. Kita punya segudang hal (yang dipikirkan) di kepala. Yang bisa ditulis hanya sebagian kecil saja. Simpanan informasi di memori tidak terhingga, proses memilahsatukan informasi ‘sejenis’ yang akan diformulasikan sangat cepat, dan tidak usah dipikirkan, authomaticly.
 
Kalaulah proses itu diputar slow motion akan terlihat rumitnya. Jadi, tidak usah dipikirkan. Langsung saja tulis, dan tindakan menulis tersebut berarti berpikir. Apalagi, ‘memikirkan’ apa yang akan ditulis. Akan semakin rumit, ‘memakan’ waktu dan enerji. Pikiran itu unlimeted, tidak terbatas, lalu kapan menulisnya?
 
Ingat, menulis adalah mengambil bagian kecil, sekali lagi, hanya bagian sangat kecil dari jagat raya pikiran. Ketika ‘searching’ ide, ‘menemukan’, atau ide datang tiba-tiba entah dari mana, proses berpikir terjadi. Rene Descarter mengatakan, cogito ergo sum. Dus, jangan lagi memikirkan untuk memulai menulis, kan sudah terjadi, tinggal ‘mencpulik’ pilihan yang akan ditulis, untuk ditulis. Sekali lagi, hanya mengambil bagian kecil pikiran untuk dinyatakan, ditulis.
 
Dengan kata lain, tulis apa yang dipikirkan. Sekali lagi, tulis apa yang dipikirkan. Apa masih perlu memikirkan apa yang akan ditulis, apa gunanya memikirkan untuk memulai menulis? Teori sedemikian dari mana sih asalnya? Tulis, habis perkara.
 
Pengalaman sharing dengan banyak dan beragam orang, membuktikan perangkap kubangan ‘teori gombal’ tidak karu-karuan tersebut. Bahwa kita wajib memikirkan sesuatu ya iyalah. Hidup itu adalah berpikir, tindakan adalah patok-patok nyata berpikir, berpikir yang dinyatakan.
 
Ketika memilih membaca buku Menulis Sangat Mudah, Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik, La Tahzan, atau Rumah Tangga Nabi Muhammad SAW, adalah tindakan berpikir. Menulis tentang —terlepas penilaian apakah Soeharto berjasa atau berdosa terhadap negara ini— ketika Soeharto memerintah, faktanya tidak ada krisis beras atau kedelai, adalah tindakan dari berpikir. Tidak perlu memikirkan cara memulai menulis kan?
 
Dengan kata lain, manakala ‘memikirkan’ apa yang dipikirkan tentang yang dipikirkan berarti kita menumpuk-numpuk pikiran dalam ruang dan waktu bersamaan, yang … wajar berakibat pikiran menjadi berbeban beban, ruwet, ribet, yang ujung-ujungnya bikin pusing. Ibarat komputer, hang. Tidak lucu membuat hang otak sendiri. Bodoh.
 
Akan sangat berbeda hasilnya manakala langsung ‘mengambil’ apa yang dipikiran, dari lintasan berpikir (sebagian kecil) dengan tindakan menulis. Itulah yang saya maksud, tulis, tulis, dan tulis. Jauh lho bedanya, pikirkan, pikirkan, dan pikirkan. Kalau begitu kapan menulisnya, kapan hasil menulis menjadi tulisan? Mari beralih ke berpikir cerdas.
 
Jadi, menulis itu adalah berpikir. Berpikir manakala ditulis akan menjadi tulisan. Kita tidak akan pernah menghasilkan tulisan kalau terus-menerus berpikir, terus-meneruskan berteori, terus-menerus ‘belajar’ dari orang sedunia tentang, bagaimana menulis, bagaimana memulia menulis. Karena itu, mari lagsung menulis, dijamin hasilnya berupa tulisan. Belive it or not.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 29 Januari 2008.

  1. 9 Responses to “Menulis dan Berpikir”

  2. By isnuansa on Jan 29, 2008 | Reply

    Saya baru baca postingan tentang Bapak di blog Bang Ichal. kalo saya, menulis bisa kapan saja. seringnya sih ide muncul di atas bis kota, atau 5 menit sebelum tidur, atau lagi baca buku. biasanya saya langsung ketik di HP. Kalo “memikirkan” dulu apa yang akan ditulis, malah jarang ide bisa keluar.

    ***Wow … bagus itu. Itu namanya menulis di otak. Sudah tahu tehniknya? Baca dalam bebagai postingan di blog ini. alam.

  3. By Zero on Jan 29, 2008 | Reply

    Ya setuju, menulis adalah aktivitas berpikir. Berpikir yang tak sekedar angan-angan. Tapi ada produk yang bisa dilihat dan dinikmati oleh kita dan juga orang lain.

    :D

    ***Ya ya ya. Belajar menulis dengan… mulai menulis

  4. By caplang[dot]net on Jan 29, 2008 | Reply

    intinya memang harus mulai menulis ya?
    tapi saya masih kesulitan dng masalah draft yg numpuk
    kok kayanya udah basi, jadi males dilanjutin, hapus aja
    karena yg ada di draft ga lagi melintas di pikiran
    masih harus banyak belajar nih

    ***Ini hal paling inti … belajar menulis dengan… mulai menulis

  5. By Yari NK on Jan 31, 2008 | Reply

    “Belajar menulis dengan….. mulai menulis”, tapi bagaimana dengan “mulai menulis”?? “Mulai menulis” mulai dengan apa??
    Mudah sekali:
    “Mulai menulis dengan……. belajar menulis”. Nah lho?? Hehehe…. :D

    ***He he he

  6. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    udah pokoknya tulis aja apa yang ada di otak.. sebagai pelampiasan hasrat daripada ditumpuk2 seperti bom waktu malahan nantinya.. hehehe… begitu ya pak

    ***Ya ya ya

  7. By santos on Jan 31, 2008 | Reply

    Wah kalu menulis sih gampang, tapi sampai saat ini tulisan says banyak yang ga rampung, gtw kenapa????
    maksud hati ingn mbuat opini, ehhh ternyata jadinya…
    Curhat…!!

    Semrwaut juga…

    Payahhhh…!!!

    Sebenarnya tulisanya banyak tapi kurang terarah, bagimana ya

    Plis oin di Blog saya ya…

    Trims


    ***Kasus sedemikian sudah dijawab, kalau ngak salah, dalam empat tulisan. ya kalau perlu ntar dibuat tulisan kelima deh …

  8. By meiy on Feb 1, 2008 | Reply

    pokekoke tulis ya pak, bagi saya memang begitu, kalau sudah menulis biasanya malah susah berhentinya hehehe…

    nyatanya manusia yg hidup memang terus berpikir, tak henti, kalau jantung berhenti sekejab masih mungkin manusia hidup, tapi kalau otak berhenti berarti sudah mati.

  9. By meiy on Feb 1, 2008 | Reply

    waduh salah salah ketik :d *pokoknya

  10. By nurul huda on Feb 8, 2008 | Reply

    saya setuju banget dengan pendapat bapa, karena saya dulunya juga termasuk orang yang selalu terlalu banyak berpikir untuk menulis sehingga akhirnya memang tidak ada tulian yang saya hasilkan, kemudian saya mulai mencoba menghilangkan ketakutan salah dalam menulis dan mulailah saya menulis, dan akhirnya meskipun setelah saya baca hasil tulisan saya yang semrawut, tapi saya bangga dan mulailah saya perbaiki hasil tulisan saya, kadang dimanapun kalau lagi dapat ide… bisa saat mandi, jalan-jalan atau mau tidur maka …..teruslah saya menulis….. tapi hasil tulisannya belum dimasukkan blog nich….

    ***Asyiiik, itu baru siiiiiiip.

Post a Comment