Menulis Mengendalikan Pikiran

27 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Banyak teman sharing menulis kesusahan manakala menulis. Ada yang bertanya sembari menggugat: “Pak, mengendalikan pikiran bukan perkara gampang, apalagi kalau lagi banyak pikiran seliweran, bisa rusuh di otak. Gimana caranya?

Samoeone in Somewhere

OTAK RUSUH. Mengendalikan pikiran, pikiran sendiri, tentu tidaklah susah. Mudah. Sangat mudah malahan. Harus dimantapkan, yang punya pikiran itu siapa? Kalau demikian, mau  diarahkan kemana, siapa punya kuasa? Bisa ngak pikiran diintervensi pihak lain? Bisa. Siapa yang ‘membisakan’, ya Sampeyan. Banyak ahli mencari pola bagaimana caranya agar orang mudah terpengaruh, apalagi biro-biro iklan. Agar jualannya laku.
 
Kasus ini, setidaknya dapat didekati dengan dua pemahaman.
 
Pertama, intervesi dalam pikiran. Misalnya mau menulis jasa-jasa Soeharto sebagai presiden RI. Begitu menulis muncul ‘pikiran bandingan’, Pak Harto banyak salahnya. Menggunakan berbagi uang dari berbagai sumber untuk yayasan-yayasannya, memfasilitasi keluarga dan orang-orang dekatnya, dan seterusnya. Pertanyaannya: mau menulis tentang jasa-jasa Pak Harto atau apa?
 
Disinilah penting apa yang dimaksud dengan fokus. Kalau berkehendak menulis jasa-jasa Pak Harto, apa pun hal selain itu kesampingkan. Jangan biarkan pikiran, juga informasi ‘rusuh’ di otak, selain hal itu. Kalau mau menulis tentang jasa dan kelalaian Pak harto, lain lagi ceritanya.
 
Fokus, secara sederhana, dapat diartikan sebagai titik pusat perhatian. Kalau mau menulis hal sangat mengherankan semisal, bagaimana logikanya Indonesia yang konon 80% warganya berehidupan pertanian, bertimbun perguruan tinggi (fakultas petrtanian), ratusan lembaga penelitian (pertanian) kog ya menjadi pengimpor beras dan kedelai terbesar di dunia? Fokus ke hal tersebut. Jangan biarkan hal selain itu mengintervensi. Apatah lagi hal-hal bermuatan perasaan, dari kebencian sampai kehendak menyudutkan.
 
Perhatiakn serial tulisan saya tentang menulis. Sekalipun beragam pengetahuan atau pengalaman mengagyutinya, intinya adalah perihal atau seluk-beluk menulis. Artinya, hal di luar menulis adalah pengguat. Bukan mengintervensi. Bagaimana kalau pikiran lagi kalut?
 
Selesaikan kekalutan tersebut. Atau, sudutkan, karantinakan. Simpan. Lupakan. Fokus dihujamkan menulis. Mau menulis isteri marah kog dibawa-bawa, ya ribetlah. Memfokuskan pikiran susah ? Bisa dikatakan demikian. Karena itu perlu dilatih. Ingat: The life is problems. Problem must be solved. Ngapain lagi menjadikan menulis masalah, he he. Bikin ruwet pikiran saja.
 
Kedua, amankan otak dari intervensi pihak lain, dari otak-otak di luar otak sendiri. Caranya? Merdekakan berpikir. Misalkan mau menulis novel. Bahwa, Sampeyan membaca novel Andrea Hirata atau novel Habiburrahman El Shiray, bagus saja. Tetapi, kenapa harus meniru-niru. Bikin dong gaya sendiri. Buat plot, setting, alur, gaya sajian sendiri. Setiap orang berbeda dengan lainnya.
 
Bahwa teori menulis bagus, tuntunan buku-buku, ujar guru, atau nasehat penulis senior sangat baik, ada benarnya. Namun, manakala mau menulis memikirkan semua itu, yo opo rek. Membiarkan pikiran orang lalu-lalang dan menjadi polisi di pikiran sendiri. Kalau bermanfaat OK, kalau membelenggu, dan karena itu menulis mandeg, bodoh namanya.
 
Dengan kata lain, minimal pada tahap awal, menulis berarti membebaskan pikiran dari ragam intervensi. Menulis adalah menuangkan pikiran Jangan pernah menuangkan pikiran orang lain. Menulislah dari pikiran, dari pikiran yang fokus.
 
Say punya contoh lain. Karena banyak teman-teman berasal dari kampus, ketika menulis makalah atau skripsi, ‘diwajibkan’ mengutip pendapat pakar. Tidak boleh salah kutip atau dirubah kalimatnya. Begitu tradisi akademis (katanya).
 
Kalau untuk keperluan kampus, ikuti saja. Tapi, kalau menulis untuk keperluan publik, direvolusi saja. Kebiasaan saya, baca pendapat mereka, baca buku mereka, pahami, buat hal baru dari pemahaman tersebut. Kalau tidak bisa menghindar, tulislah: Menurut Larry King, seni berbicara itu adalah … bla bla.
 
Jangan sampai, apabila menulis sesuatu hanya mengumpulkan pendapat orang. Semakin banyak dijejar kutipan pendapat pakar, serasa diri semakin hebat, dan tulisan semakin yahud. Sampeyan mau menuangkan pikiran sendiri atau pamer pernah membaca pikiran orang? Atau, sedang dibayar untuk proyek mempopulerkan orang? Atau, sedang ‘fokus’ membuat parade pendapat orang?
 
Jadi, menulislah dari diri, dari pikiran, dari pikiran yang fokus. Intervensi atau masukan pihak lain boleh-boleh saja, namun jangan sampai fokus tulisan beralih. Dan, akan jadi dagelan yang tidak lucu, manakala fokus dihajar intervensi. Kendalikan pikiran.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 27 Januari 2008.

  1. 10 Responses to “Menulis Mengendalikan Pikiran”

  2. By Dee on Jan 27, 2008 | Reply

    Berpikir dulu baru menulis, ataukah memulai menulis dulu, baru berpikir Pak?

    ***Tinggal pilih, tapi yang bagus sekaligus. Siapa sih yang biki dikhotomi demikian? Kog ditiru bula, bukankah otak bukan core2duo tapi … mutlicore.

  3. By mohamadkholid on Jan 28, 2008 | Reply

    banyak info di blog ini, pak. akan selalu saya kunjungi.

    ***Monggo, dengan senang hati.

  4. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 28, 2008 | Reply

    Ya, betul juga memang. Mengendalikan pikiran tuh bisa dilatih melalui Menulis, tapi harus hati-hati juga ya kayaknya. Berlatih dan terus berlatih, semoga berhasil. Amiin.

    ***He he mengendalikan ikiran … lebih hebat psikolog dong.

  5. By mathematicse on Jan 28, 2008 | Reply

    Ya ya ya… menulis pada hakiakatnya adalah menata pikiran secara konkret. Dikatakan konkret karena produknya terlihat dalam bentuk tulisan.

    Dari tulisan kita, bisa terlihat seperti apa produk “tata-an”kita.

    Kalau hanya menata pikiran, tapi masih abstrak, bisa jadi itu hanya renungan saja. Atau bahkan hanya angan-angan kosong… :D

    Mengenai tulisan-tulisan yang katanya ilmiah, namun cuma berupa kliping pemikiran orang (yang ditempel dari introduction sampai conclusi), itu bagus juga. Setidaknya mereka yang melakukan itu pernah membaca dan berusaha menulis. Sudah berusaha mensisntesis pemikiran orang, walau hasilnya seperti kliping. Wakakakakakakak.. :D :mrgreen: (Jangan-jangan saya juga seperti itu… hehehehhee.. mohon maaf bila ada yang tersinggung… )

    ***He he bisa jadi, sebelum terlanjur ingat-ingat. Kalau dah mencapai tingkatan tertinggi akedemik (doktor) namun tak bisa mengungkapkan pikiran sendiri, hanya sekedar mengutip … itulah dia. Jangan sampai. Selamat menjadi dktor. Sampeyan akan membuktikan beberapa waktu lag he he

  6. By hanna on Jan 28, 2008 | Reply

    Wih! menulis sajalah. Kutipan2 mungkin hanya untuk memperkaya tulisan. :mrgreen:

    ***Ya, kutipan untuk memperkuat jangan dijadikan hal utama. setujuu.

  7. By Zero on Jan 29, 2008 | Reply

    Iya nih, saya kok susah ya nulis hal-hal yang tak terkait dengan bidang saya. PAdahal kan saya juga ingin nulis yang umum-umum? Aneh… :D

    ***Justru itu yang betul dan lebih bagus. Bisa runyam bila tidak sesuai: Apabila pekerjaan tidak diserahkan ahlinya, tunggulah …

  8. By aha on Jan 29, 2008 | Reply

    Menulis mengendalikan pikiran? Saya rasa ungkapan tersebut bisa dimengerti, namun dalam menulis yang bermain murni yang ada dikepala kita.. Tapi adakalanya menulis bisa menyebabkan pikiran kita menjadi terfokus pada itu-itu saja, ada baiknya sambil menulis di barengi pemahaman yang baik… So, menulis menentramkan hati dan otak kita…

    ***Ya iyalah, kalau ngak paham yang ditulis, ngak dibarengi dengan pemahaman, ngawur namanya khan? Tapi, adalah lho yang sudah sangat paham sesuatu namun tidak paham menuliskannya. Lebi kaca lagi he he. Ngak bakalan tenteram dong hatinya.

  9. By daeng limpo on Jan 30, 2008 | Reply

    Tulisan abang sangat bermanfaat bagi saya pribadi, karena saya baru mencoba belajar menulis. Tidak banyak orang yang bersedia dan mau membagikan ilmunya kepada orang lain secara gratis. Semoga Allah membalas kebaikan abang. Salam

    ***Menoca saja begitu bagusnya, gimana ya kalau sudah ngaku penulis … huebat. Salam.

  10. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    dapat pelajaran lagi dari sini.. jadi intinya menulis itu harus fokus ya pak.. fokus pada titik bahasan apa yang akan diangkat…. sip!

    ***Alhamdulillah.

  11. By meiy on Jan 31, 2008 | Reply

    paling penting latihannya kali ya pak, kdg2 pikiran memang gampang terintervensi sikon diluar diri. mau nulis satu fokus kdg2 jadi kemana-mana.

    ***Menulis, menulis, menulis … ntar fokus otomatis.

Post a Comment