Menulis Nikmat Menyenangkan

26 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Saya menemukan suatu kenikmatan menulis, aku seorang sahabat bloger, kini …menyesal semasa SMA malas belajar Bahasa Indonesia, apalagi membuat karangan bebas atau tanggapan atas suatu tulisan.
Someone in somewhere.

SEORANG kawan mengaku meyesalkan sikapnya semasa di SMA, malas belajar bahasa Indonesia. Sikap tersebut tentu bukan monopoli kawan kita yang satu ini saja. Ada yang karena ‘bawaan lahir’, ada yang karena ‘nasib’.
 
Tidak sedikit orang yang dari sononya tidak menyukai pelajaran bahasa. Kalau ditambah pengalaman belajar bahasa (Indonesia) yang tidak menyenangkan, tentu ketidaksenangan akan menjadi-jadi. Ujung-ujungnya, pelajaran bahasa dipandang bak hantu. Menakutkan.
 
Kalaulah pengalaman menulis, membuat tugas mengarang misalnya, disalahkan melulu oleh guru, kebencian terhadap pelajaran bahasa, sekaligus pada guruya menjadi lengkap. Akan lebih sempurna manakala guru bisanya menyalahkan tok, tidak memberikan contoh karyanya. Pokoknya, salah dan salah.
 
Sudah dari sononya tidak ‘bakat’ belajar bahasa —menulis, mengarang— diajar pula oleh ‘guru hantu’, guru yang menakutkan dan memberi takut, lengkaplah ‘nasibnya’. Menulis menjadi momok. Kalau sudah demikian akan sangat susah mendapatkan kembali jalar lurus dan benar, menulis menyenangkan. Semoga Sampeyan bukanlah seorang yang bernasib sial sedemikian.
 
Sebaliknya, ada orang yang memang dari sononya ‘bakat’ menulis, dapat pula guru yang benar-benar guru bahasa, guru menulis, yah tentu saja kegiatan tulis-menulis akan terpantik dan sangat menyenangkan. Sangat beruntunglah mereka yang mendapatkan hal sedemikian.
 
Ada pula orang yang bakatnya ala kadarnya, dapat guru sedang-sedang saja. Menulis bukan hal menyenangkan, tetapi bukan pula dibenci. Sedang-sedang saja. Pokoknya terpenuhi sebagai kewajiban mata pelajar dan dapat nilai, yah sudah. Cerita berakhir sampai disitu.
 
Bisa pula terjadi, sesorang berbakat menulis, celakanya ‘bernasib buruk’ mendapat guru yang bukan guru sejati. Ketika bebas menulis, tanpa ada belenggu ini ini, tanpa timpaan salah-melulu, apalagi kalau kerja profesional keluarannya produk tulisan, wui … nikmatnya, hidup terasa semakin hidup.
 
Kenikmatan akan lebih lengkap, kalau tulisan direspon. Bayangkan pula kalau dipuji, menjadi terkenal, dapat honor, atau tawaran pekerjaan, lengkaplah kebanggaan. Kalau diprotes, dicacimaki, atau ‘disidangkan’, akibatnya bisa baik atau buruk bagi aktivitas menulis. Intinya, menulis akan lebih bergairah kalau tulisan ‘mewaikili’ diri dan mendapat respon positif pembaca.
 
Pada ranah demikian, aktivitas menulis jadi menyenangkan, bisa sangat menyenangkan.   Betapa tidak. Manakala menulis ‘memuaskan’ diri, apalagi kalau sampai tingkat ajang aktualisasi diri, aktivitas menulis akan menjadi candu. Akan lebih lengkap kalau dalam relasi sosial mendapat respon yang layak, menulis menjadi membanggakan.
 
Ketika membaca ungkapan perasaan seseorang dalam menulis, terutama dikaitkan dengan kewajiban dakwah, saya dapat menangkap niat luhurnya, menulis itu adalah kewajiban sebagai Muslim dan berdimensi ibadah. Entahlah, kalau saya filsafatnya baru tingkat dasar, menulis karena ingin menulis, kalau dapat respon baik, syukur. Kalau berguna bagi teman-teman, Alhamdulillah.
 
Yang pasti, ketika ada lintasan ide menulis sesuatu, ada cuatan senang di hati. Membaca atau memikir tentang apa yang akan ditulis, begitu menggairahkan. Ketika menulis, apalagi. Kalau jadi tulisan, wuaw … Kalau ada yang merespon, bukan memuji ala bebek, jujur saja, rasa senang menyelinap begitu saja.
 
Artinya, lebih sering dari A sampai Z aktivitas menulis itu menyenangkan. Dus, wajar saja menulis menjadi hal menyenangkan. Lalu, bagaimana dengan hal-hal tidak menyenangkan?
 
Sederhana saja, ngapain mengingat-ingat hal-hal tidak menyenangkan atau membeban. Ambil pelajarannya, lalu say good bye. Patrikan hal-hal positif, Insya Allah memperkuat sikap positif dalam menulis. Menulis menyenangkan, menulis menjadi hal sangat menyenangkan.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 26 Januari 2008.

  1. 12 Responses to “Menulis Nikmat Menyenangkan”

  2. By Mega on Jan 26, 2008 | Reply

    Antriiiiii duluann

  3. By Mega on Jan 26, 2008 | Reply

    Baca dulu dech..dah banyak yang ketinggalan nih..

  4. By avartara on Jan 26, 2008 | Reply

    hehehe,…mksih ya pak,..ga nyangka kasus ini bisa jadi topik disini,..seneng bener rasanya,..td kaget jg,..rasanya kok mirip yak,..hhaha,..salam,..bilo kapadang bisuak janlupo agiah kaba,..pengen bana tuka pikiran jo apak,…jan lupo ndak pak,..

  5. By Suci on Jan 26, 2008 | Reply

    Mmmm, menulis menyenangkan. s’tuju. apalagi ketika ide di kepala sudah benar-benar matang, bukan saja menjadi mudah tapi sekaligus menyenangkan.

    Untungnya, pengalaman semasa sekolah dan belajar bahasa Indonesia, nggak pernah merasakan “guru hantu” tadi. Walau memang, guru yang mengajar seratus persen teori sih sering. hehe…

    Menulis, ya menulis. sisanya dipikirkan nanti sajalah… :)

  6. By Syaharuddin on Jan 26, 2008 | Reply

    “Menulis adalah ibadah”, saya sangat sependapat dengan kalimat itu. Karena, selama apa yang kita sampaikan itu membawa dampak dan manfaat bagi sesama maka itu sudah bagian dari dari dakwah bil kalam atau dakwah melalui tulisan.Ya boleh jadi EWA bukan seorang muballigh, tapi bisa jadi EWA sudah berperan lebih dari muballigh…….!!!

  7. By hanna on Jan 26, 2008 | Reply

    Menulis memang hal yang menyenangkan. Menulis membuat pintar. Menulis mengasah otak. Menulis mengobati luka di dada. Menulis menambah pengetahuan juga teman. Wah, pokoknya menulis itu indah, sangat-sangat indah.

    ***Sangat sepakaaaaaaaaaaaaat.

  8. By sawali tuhusetya on Jan 26, 2008 | Reply

    sejak dulu saya termasuk orang yang tidak percaya adanya bakat menulis. Allah memberikan talenta dan potensi yang sama kepada hamba-Nya ketika lahir. Intinya, aktivitas menulis lebih banyak ditentukan oleh minat, kesempatan, dan atmosfer lingkungan. akan lebih heboh lagi kalo gurunya cerdik memotivasi. wah, bener-benar akan mendapatkan “syurga menulis”. menulis memang nikmat dan menyenangkan. lontaran2 ide kreatif bisa dipahami dan dikimati oleh orang lain. Semangat!!!

    ***ya ya ya ‘ciptakan’ saja apa yang diperlukan agar menulis lancar, potensi sudah ada kan.

  9. By mathematicse on Jan 27, 2008 | Reply

    Saya termasuk orang yang tidak mudah belajar bahasa….

    Nilai bahasa Indonesia saya, sewaktu SMA, nilai Ebtanas bahasa Indonesia saya hanya 7,00.(Ebtanas tahun 2000 ketika belum ada katrol-katrolan lho…). Dan nilia itu adalah yang terkecil ketimbang nilai Ebtanas saya untuk pelajarn lain . :D

    Saya baru sadar pentingnya berbahasa Indonesia yang benar itu saat nulis skripsi (nyadar setelah draft skripsinya dicoret-coret ga berbentuk… Wakakakakakakak… :D ).

    Sejak saat itu, saya bertekad untuk bisa menulis dengan baik. Alhamdulillah, ternyata menulis itu menyenangkan. Memang agak terlambat sih.. kenapa ga dari kecil merasakan nikmatnya menulis. Mungkin kalau ngerasain nikmatnya sejak kecil, saya bakalan masuk jurusan bahasa kali ya… :D

    ***He he itu soal perjalanan hidup dan proses kehidupan, no problem. Yang enting posisi dan aktivitas saat ini … saya malah ngak senang-senang amat belajar belajar bahasa Indonesia, tapi … menggunakannya doyan. Ngapain belajar kalau ngak digunakan, ngapain pintar dan ngabisin waktu kalau ngak dimanfaatka. Jadi, pemangaatan yang lebih penting.

  10. By STR on Jan 27, 2008 | Reply

    Ya!! Menulis memang menyenangkan, apalagi kalo dilakukan sambil senyum-senyum sendiri di depan layar monitor! :lol:

    Btw, memuji ala bebek adalah konsekuensi logis dari kehadiran seleblog. :lol:

    ***Ha ha ha

  11. By meiy on Jan 28, 2008 | Reply

    memuji ala bebek hihihi lucu yg gimana sih pak, suer aku gak ngerti
    menulis menikmatkan so pasti…:)

    ***Ya seperti bebek … ngak jelas yang dipuji, pokoknya memuji, menganguk-angguk terus he he, mengamini terus. Lalu, … (lanjutan sendiri ya).

  12. By esa on Jan 28, 2008 | Reply

    Heheh..klo saya termasuk orang yang di tengah-tengah itu Pa, dan sepertinya saya sempet nulis di blog, klo nilai bahasa saya gede.. 9, so it is 90% dari 100%
    Cuma ya itu dia, sy jarang banget belajar bahasa tapi nilainya gede, karena saya pikir bahasa itu ga usah belajar, asal enak dibahasakan, ya sudah saya ambil jawaban itu :oops:
    Beruntung? Mungkin. Karena sa sendiri ga tau cara sa belajar bahasa sampe bisa dapet nilai segituh. Ga kaya Fisika yang harus mati-matian belajar, tetep ajeh nilai tertinggi di raport 7, meski paling rendahnya 6 :cry:
    Soal tulisan bapak,,wuih pokoknya setuju banget dah :P

    ***Ha ha ha … saya tertarik, banyak orang diperbodo belajr bahasa … padahal … bahasa adalah alat untuk mengungkapkan pikiran. Belajar boleh tapi dalam kerangka mengungkapkan pikiran. Belajar bahasa sampai langit ketuju, tapi … pikiran ngak diungkapkan secara bagus, yo opo rek.

  13. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    waktu sekolah males banget sama yang namanya bahasa indonesia… huhuhu… menjemuikan…

    ***Itu kan dulu, yang penting sekarang dan akan datang. Gunakan bahasa untuk mengungkap pemikiran.

Post a Comment