Memulai Menulis
26 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KASUS: Saya suka berimajinasi, di kepala banyak ide, bagaimana supaya mudah memulia menuliskannya Pak? Kog susah amat sih keluarnya?
Samoeone in Somewhere.
KECUALI ANJING. Bagaimana memulai menulis? Sungguh pertanyaan mudah semudah melakukannya. Apalagi bagi mereka yang berkehendak menulis. Menulis, terkadang, jauh lebih mudah dari buang air. Tidak percaya? Buktikan.
Misalkan Sampeyan lagi berjalan-jalan sembari ‘cuci mata’ di mal. Tiba-tiba ada desakan mau buang air kecil dari dalam celana. Apa boleh buat ‘obatnya’ ke WC. Mata jelalatan mencari WC atau bertanya pada Pak Satpam: Dimana kamar kecilnya pak? Setelah itu bergegas untuk buang air. Setelah selesai, ditagih uang ‘kebersihan”.
Coba, kalau banyak orang berjejar, ya harus antri. Kalau air macet atau listrik PLN ngadat seperti kebiasaan PLN, suasana kencing tidak nyaman. Menulis dibandingkan buang air, bak jalan tol dibanding jalan arteri. Sulit buang air kan?
Buang air diperlukan dan dilakukan siapa saja. Begitu ada desakan, asal ada tempat, OK punya. Makanya, terkadang di pinggir jalan ada saja orang kreatif memegang slangnya dan memancurkan kencingnya. “Dilarang kencing disini, kecuali anjing”. Kalau kepepet, peringatan tersebut seolah-olah tidak terlihat. Cuuuuuur. (dibilang anjing kan ngak serta-merta jadi anjing, euy …).
Misalkan Sampeyan ‘gelisah’ dengan perilaku perkencingan sebagian warga bangsa tercinta ini. Konon, jembatan Ampera yang menghubungan dua sisi sungai Musi di Palembang sampai berkarat parah akibat dikencingi. Benar atau tidak, saya belum pernah ke Palembang. Kalau baut dan mur jembatan sungai Barito di Kalimantan Selatan dicuri orang, begitulah adanya.
Kita dapat menulis kegelisaan terhadap perilaku kencing. Tidak usah antri atau berprilaku seperti binatang bila kebelet kecing. Tidak perlu. Kalau lagi raun-raun di mall, tulis di otak. Perhatikan seksama perilaku mereka yang kebelet kencing, sarana dan prasarana, pengalaman pribadi, atau ingat-ingat referensi tentang perkencingan.
Begitu sampai di rumah hidupkan komputer salin apa yang dipkirkan sedari mall melalui tuts komputer. Beberapa menit kemudian jadilah tulisan tentang perkencingan. Tidak perlu antri atau kesal segala macam, tapi tulis. Mudahkan?
Dengan demikian memulai menulis itu sangatlah mudah. Tidak usah berteori macam-macam atau dibelenggu berbagai aturan. Begitu ada ide, begitu ada yang dipikirkan, mulai saja menulis. Mudah. Sangat mudah. Tidak usah pakai antrian.
Kalau soal apa yang ditulis atau bicara kualitas tulisan, itu baru serius. Itulah pentingnya membaca, memperhatikan, meanologikan, menganalisis, atau meramu bahan-bahan yang akan ditulis. Kesemua itu dilakukan di otak, sekali lagi di otak. Siapa yang bisa mengintervensi sampai ke otak? Tidak bakalan ada, kecuali pikiran kita sendiri.
Artinya, memulai menulis ya tergantung kita, tergantung apa yang kita pikirkan, yang akan ditulis. Bisa jadi, sudah berhari-hari mematangkan sesuatu di otak untuk dikeluarkan (ditulis). Tapi, berbagai alasan menghalangi, membelenggu. Ya, pasti tidak akan pernah jadi ulisan. Janganlan berhari-hari, bisa bertahun-tahun atau sampai dibawa mati menjadi ide doang. Kenapa? Karena tidak ditulis, tidak dimulai menulisnya.
Dalam konteks itulah diperlukan latihan menulis dengan menulis. Jangan berteori melulu. Lakukan saja, mulai saja, habis perkara. Setelah selesai, koreksi, renungkan, analisi, cocokkan dengan teori —kalau perlu. Sadarilah, teori itu dibangun dari apa yang telah dilakukan, dari pengalaman. Penulis hebat, kadang tidak sekolah lho, bukan ahli teori. Justru, dari karyanya ahli teori ‘membangun’ teori.
Hasilnya jauh berbeda. Penulis —yang terus belajar menulis— semakin hari semakin piawai menulis. Ada kalanya, si ahli teori sibuk mepelajari apa yang ditulis penulis. Semakin hebatlah dia dengan keahlian teorinya. Menulis? Perhatikan saja guru atau dosen Sampeyan, apakah mereka kreatif menulis seperti penulis yang tidak dibelenggu teori? Jawab sendiri deh.
Lagi pula, seperti pernah saya tulis, ahli teori kan tidak harus menjadi penulis kreatif. Tapi, kalau kita belajar menulis, mau memulai menulis, dibelenggu teori-teori menulis, itu dongok namanya. Kalau teori memperkuat bangun tulisan kita, itu cerdas namanya.
Kalau menemukan ahli teori —siapa saja— dengan ujaran membuai tentang hebatnya tulisan Naguiz Mahfuz atau Rabinranath Tagore, lalu membandingkan atau ‘menghajar’ tulisan Sampeyan memakai karya penulis hebat-hebat tersebut, tinggalkan dia. Orang itu kurang waras dan tidak paham pendidikan. Manalah mungkin kita yang baru belajar menulis hasil karya sebanding dengan penulis hebat-hebat. Sesuatu yang tidak mungkin. Apalagi kalau dia membandingkan untuk membunuh nyali kita, preeeet.
Jadi, apabila ada ide tulis. Pasti jadi tulisan. Bagaimana kalau saya mau mematangkan di otak dulu Pak? (Eman telur dadar?). Ya, bagus saja. Mengeluarkan yang ‘matang’ pastilah lebih baik dari setengah matang, he … he … Tidak repot-repot lagi memikir atau merekonstruksinya sebab telah terpola di otak.
Sekalipun demikian, sepanjang pengalaman saya, adakalanya ketika kalimat pertama ditulis disitulah awal kepaduan atau pemaduan ide. Tidak jarang pula —hal tidak paham sampai saat ini— begitu menulis seolah-olah sudah terpola sedemikian rupa dan hanya sekadar menyalin saja dari otak.
Saya pernah mendiskusikan ini dengan beberap orang, tetapo tidak didapat jawaban meyakinkan. Hanya berasumsi, karena menulis dilatih dengan melakukan terus-menerus, ya ibarat menyetir, menjadi otomatis, refleks. Tidak perlu mikir bagaimana menginjak kopling, memegang stir, menghidupakn mesin, memasukan gigi, dan seterusnya. Terjadi begitu saja, apabila mau (ada ide) naik mobil dengan tujuan tertentu. Saya pikir, untuk sampai sedemikian, seperti menyetir, lakukan terus-menerus. Belajar menyetir ya dengan menyetir itu sendiri. Nyetir yang enak dengan nyetir, Mas.
Alakhir, kalau mau memulai menulis, tulis. Jangan yang lain. Bila memulai menulis, hanya ada dua kemungkinkan: pertama, tulisan itu selesai, kedua, mandeg pada kalimat berikutnya. Tinggal pilih, mau sampai selesai atau memandegkannya, bukan wewenang pemotivator. Itu hak paten masing-masing kita.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 26 Januari 2008.









11 Responses to “Memulai Menulis”
By mathematicse on Jan 27, 2008 | Reply
Pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa x ya?
Iya, beberapa hari lalu saya berusaha menulis. Tapi aneh, aneh bin ajaib! Saya gagal menyelesaikan tulisan saya. Alhasil cuma berupa draft, dua paragraf doang, kandas. Padahal idenya begitu berapi-api, bergejolak. Cuma pas ditulis, seperti tak keluar, susah! Setiap menghasilkan paragraf baru, saya hapus, hapus-hapus-hapus, dan hapus. Dan tidak jadi.
Barusan, nonton (di You Tube) sebentar, ketemu ide lain, langsung saya tulis. Dan alhamdulillah beres! Jadi tulisan! Karena saya langsung memulai saja, tanpa mikir lama-lama, tanpa beban. Beres deh…
Kenapa bisa begitu Pak?
***Sudah di jawab pada tulisan: Jangan mendelet Tulisan.
By mathematicse on Jan 27, 2008 | Reply
Tiba-tiba aneh baca judul artikel ini.
Memulai adalah kata kerja…
Menulis juga kata kerja…
Jangan-jangan saya terbelenggu oleh teori nih…
Ah ga tahu ah…
***Coba … ramai rasanya (populer di telinga, nyaman ‘dinikmati’, dan menarik jutaan orang untuk membelinya). Iti lho iklan nano-nano. Berani rasanya … ada lho ‘teorinya’. Ngak usah panik, bahasa itu diciptakan untuk dipakai. Jangan, dibelenggu bahasa. Tapi, …
By mathematicse on Jan 27, 2008 | Reply
Padahal di artikel-artikel saya juga, mungkin kejanggalan begitu ya? Coba ah saya cek artikel-artikel sendiri… *kabur ah… *
By Yari NK on Jan 27, 2008 | Reply
Iya ya….. kalau difikir2 banyak sekali hal2 di sekitar kita yang bisa kita jadikan bahan tulisan. Dari soal kencing sampai soal teknologi. Saya jadi ingat, saya pernah mau tulis di blog saya perihal kentut dan produk2 kreatif yang dihasilkan karena ide2 dari kentut. Tapi belum saya wujudkan karena “khawatir” bagi sebagian orang kentut adalah sesuatu yang tabu. **kalau saya sih di rumah dan di kantor kentut sih sembarangan aja kecuali kalo ada tamu lah** huehehehe….. ngaku nih yee?? Huehehe…. ngapain malu emang kenyataan kok!
Tapi nanti akan saya formulasikan lagi agar tulisannya dapat tampil di blog saya lagi. Jadi memang benar tuh, banyak di sekitar kita yang bisa dijadikan bahan tulisan, kalau kita memanfaatkannya, menulis memang bisa lancar seperti mobil yang meluncur di jalan tol…..
***Ya ya banyak sekali Mas Yari. Saya pikir kalau ingin ditulis, tulis saja. Soal kentut itu menarik lho, kentut bagian dari ‘kehidupan’ he he he …
By Hedwig™ on Jan 27, 2008 | Reply
Menulis tanggapan untuk artikel ini juga ternyata gak mudah, karena artikelnya menarik sekali.
Jadi cuman ucapan terima kasih aja untuk sharing
Salam
***Maksih, gampang aha ja kog. Malu aja kali he he he … justru dari tanggapan banyak lahir tulisan lho.
By STR on Jan 27, 2008 | Reply
Pak, masalahnya mengendalikan pikiran kita sendiri supaya ndak mengintervensi otak itu juga bukan perkara gampang, apalagi kalo lagi banyak pikiran seliweran bikin rusuh otak. Gimana caranya?
***Gampang nian, saya tulis jadi artikel.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 28, 2008 | Reply
Ya, terus terang saya juga belajar menulis dari menulis, mau tahu tulisan pertama saya, ya tulisan yang boleh saya sebut sebagai :”MENGARUT INDAH”_ bhs.banjar. he he he.
***Ya menulis ya menulis, belajar menulis ya menlis, … jangan dibalik belajar untuk menulis, lakukan saja .
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 28, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum.
NB: tapi hasilnya oke lho, jadi artikel maupun deskripsi psikologis. Makasih san Motivator. EWA…!!!
***Yap, yap, yap. Ngomong-ngomong mana konsep buku di Pagemaker?
By meiy on Jan 29, 2008 | Reply
tajam pisau krn diasah ya pak…hehe nyambung gak…
aku bahagia membaca buku kirimanmu pak. thx again
***Yo. Tajam pisau karano diasah, pasih jalan karano ditampuah, bodoh badan kalau nan ditanam mambodoi pikia.
By caplang[dot]net on Jan 29, 2008 | Reply
belajar menulis dengan… mulai menulis
makasih, pak
***belajar menulis dengan… mulai menulis.
By Anang on Jan 31, 2008 | Reply
wah iya nih.. saat dingin tiba-tiba hasrat pipis melonjak… karena terngiang-ngiang terus di otak.. yah saya salurkan aja menulis di blog… begitupun saat hawa dingin menyergap kantuk di tubuh…. wis pokoke blog sebagai sarana pelampiasan hasrat wae lah… sing penting kan belajar belajar dan belajar ya pak?
***Belajar dengan menulis