Menulis Memelihara Otak

25 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Saya menulis karena campuran antara kesenangan dan kewajiban. Senang ketika tulisan mendapat respon.  Sedangkan kewajiban dalam arti terus-menerus mengasah otak; menulis seperti membuka lembaran-lembaran ilmu yang pernah dipelajari. Ada penelitian, kalau otak diasah terus-menerus kemungkinan menjadi pikun lebih kecil kalau sudah berumur.
Someone in somewhere.

SENANG alias suka atawa gembira menulis, tentu karena menulis bermanfaat dan dirasakan manfaatnya. Pada contoh tulisan seorang kawan sebagaimana dikutip, rasa senang karena mendapat respon. Itu satu penanda kenapa seseorang suka menulis. Banyak hal lain sebagai penopangnya seperti populer, mendapat uang, dan sebagainya. Tema tersbut sudah kita bahas.
 
Membuka lembaran-lembaran pengetahuan di memori? Yes. Tidak usah pula diperdebatkan. Menulis berarti memanggil apa-apa yang tertanam di memori, bahkan sekaligus mengisi memori dengan informasi baru. Bukankah dengan menulis kita bisa mengingat-igingat masa lalu? Bukan saja soal pelajaran di sekolah, ketika pertama kali mendapat penghargaan atau dibelikan baju oleh Bapak. Semua bisa ‘dipanggil’ manakala kita menulis.
 
Karena menulis, saya kog jadi ingat tugas pertama meresume buku, Pengantar Antropologi karangan Koentjaraningrat dari Pak Amir B. di IKIP Padang. Masih terbayang delapan lembar folio bergaris dan mendapat nilai tertinggi. Karena menulis, jadi ingat betapa gagunya menjawab pertanyaan pujaan hati: Apa nan ka uda katokan? Itu pertanyaan cewk cinta pertama saya. Ih, geli mengingatnya, dan … kog bisa ya.
 
Karena menulis ingat pernah membaca karya Romien, Aera Euroe,  bahasan MacClleland tentang need for Achievemen (nACh), calling apungan  Weber atau Hirarki Kebutuhan Maslow. Dulu, lupa Ernest Hemingway, Agatha Cristy, Anton Chekov, Boris Patersnak, Asmaraman Kho Ping Ho, Anny Erow sampai Abdullah Harahap. Setelah menulis seolah-olah datang tanpa diundang.
 
Ya, jadi ingat apa itu hadis sahih apa itu hadis dhaif. Film layar tancap Kapten Sobur adalah film pertama yang saya tonton. Terkagum-kagum kata-kata Tariq bin Ziad ketika sampai di Andalusia: “Di belakangmu laut, di depanmu musuh …”, katanya membakar semangat pasukannya setelah membakar kapal-kapal. Ditaklukannya Spanyol.
 
Ya ya ya, dengan menulis sebagian apa yang pernah dibaca, dilakukan, dan atau dialami menjadi terpelihara. Saya hanya mampu menjawab, dimandikan Bapak sepulang dari Pasar Kamis di Muaralabuh, ketika seorang teman bertanya: Kejadian paling awal apa yang diingat pada masa kecil. Kira-kira dia mengetes daya ingat saya. Tidak syak lagi, apa yang dikatakan kawan kita, mengingat ilmu yang pernah dipelajari, ya dengan menulis. Semua itu akan otomatis keluar. Menulis memelihara ingatan.
 
Tidak syak pula, dengan menulis kita menggunakan otak. Konon, apabila otak dipakai, kalau ada sel-selnya yang haus akan tergantikan, kita mendapat sel baru sampai umur tertentu. Manakala tidak digunakan, dia akan tertidur, lalu mengerut, dan … hilang. Terlepas, apakah hidup-matinya kita ditentukan oleh bekerja atau tidaknya otak, yang pasti kalau otak masih aktif, berarti hidup. Dalam konteks ini, kita tidak bicarakan tentang, bisa saja otak wassalam, tetapi jantung masih berdetak, atau roh masih di jasad. Itu didiskusikan pada lain kesempatan.
 
Konon, kalau otak tidak dipelihara, ketika umur menua, berbagai ‘penyakit tua’ akan lebih leluasa hinggap. Konon pula, kalau menggunakan otak secara teratur, membaca, berpikir, dan menulis, sangat berguna agar tingkat kehausannya melambat. Kira-kira, seperti yang dikemukan tadi, sel-sel saraf (neuron) tergantikan, diganti yang baru. Atau, keterpeliharaannya lebih terjamin, tidak berkarat karena tidak digunakan.
 
Sangat masuk akal, kalau dikatakan, menulis —sebenarnya bagian dari mengoperasikan otak— lebih memungkinkan terhinfar dari pikun. Bisa jadi, juga untuk fungsi otak dan organ tubuh yang lain. Bisa jadi, karena saya bukan ahlinya.
 
Dengan demikian, dapat disimpulkan, menulis memelihara otak. Benar atau tidak, silahkan baca buku-buku atau penelitian tentang itu. Saya, jujur saja, tidak punya pengetahuan memamadai tentang hal itu. Jadi, tidak berani memastikan. Yang saya rasakan, dengan menulis otak menjadi fresh.
 
Yang dapat dipastikan, saya bisa menulis tentang itu walaupun sangat ringan (emang debu).
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 25 Januari 2008.

  1. 18 Responses to “Menulis Memelihara Otak”

  2. By Dee on Jan 25, 2008 | Reply

    Setuju Pak Ersis. Saya lebih mudah memahami suatu tajuk dengan menuliskannya kembali setelah membacanya. Berarti memang menulis bisa memaksa otak untuk bekerja lebih optimal. Selain itu, menulis laksana sebuah kran untuk melepaskan ide dan gagasan yang sudah memenuhi otak. Apabila tidak dituangkan, tentu akan overload dan bisa meledak, seperti halnya mengisi balon dengan udara sampai penuh dan akhirnya meletus balon hijau, hatiku sangat kacau

    *** .. menulis laksana sebuah kran untuk melepaskan ide dan gagasan yang sudah memenuhi otak … wow bagus kesimpulan

  3. By bukan siapa-siapa on Jan 25, 2008 | Reply

    ah,
    alangkah bahagianya jika yang dikutip dan dituliskan sesuai dengan yang dilakukan…
    betulll?

    Bos, meningkatkan mutu pedidikan dan mutu pendapatan pribadi itu jauh berbeda… betulll?

    Halahhhh…
    Ersis didengarkan.
    Number 1 licker in town… hicks….

    ***Alhamdulillah, semoga Allah memberkati Sampeyan.

  4. By SQ on Jan 25, 2008 | Reply

    “memelihara otak”, saya kira, menulis memang alat yang hebat dalam memanggil pengetahuan yang tersimpan.
    Seperti buku-buku atau referensi lain yang pernah lupa, entah kenapa, begitu memfokuskan pada satu pokok pikiran (menulis), pasti akan muncul berbagai bibliograpi pendukung.

    susahnya, memanage nya itu loh pak, meramu supaya seimbang proporsinya..he :-)

  5. By Zulfaisal Putera on Jan 25, 2008 | Reply

    Otak itu satu-satunya organ tubuh manusia yang tidak bisa dibuatkan imitasinya. Sementara, organ tubuh yang lainnya sudah dapat dibuatkan organ palsunya. Sekali pun otak adalah rahasia Tuhan, tetapi pemeliharaannya sangat tergantung dengan manusia empunya. Fleksibilitas otak akan mampu untuk menerima apa pun asupan yang diterima pemiliknya. Jika tidak dipilih dan diseleksi asupannya, maka otak akan mendapat gelar negatif, seperti ‘otak kotor’, ‘otak mesum’, otak udang’, ‘otak dengkul’, atau ‘otak kapalan’. Dan jika positif, akan terdengar gelar, ‘otak jenius’ atau ‘otak jempolan’. Saya setuju jika menulis juga dapat memelihara otak. Menulis apa pun. Hanya apa yang ditulis akan lebih baik bagi otak jika bermanfaat bagi kemaslahatan orang banyak.

    Oke, Bang!
    Terus menulis, dengan cerdas dan independen!

    Tabik!


    ***Tabik, makasih. Saya mereguk makna terdalamnya. makasih.

  6. By syaharuddin on Jan 25, 2008 | Reply

    tampaknya, bujur pa ai, semakin lama otak kada dipakai berfikir, otak semakin buntu. contohnya saya sendiri. Kalau di jogya saya sering diskusi tentang berbagai hal, mulai soal agama sampai soal konsep dan metodologi sejarah.Tapi di Banjar, karena jarang diskusi dan membaca karena banyaknya gangguan aktivitas lain, maka otak terasa buntu. Akhirnya saya pun kadang nulis di media atau minimal di webku….?!

  7. By sawali tuhusetya on Jan 25, 2008 | Reply

    sungguh keliru kalau anugerah Tuhan yang luar biasa ini dibiarkan aus, lapuk, dan tak terurus. menulis jelas akan melibatkan kerja otak. otak kiri dan kanan sekaligus. ini artinya, dunia menulis akan mampu menyeimbangkan otak kiri dan kanan, sehingga sang penulis tidak hanya memiliki kecerdasan secara intelektual, tapi juga memiliki kepekaan rasa dan akal budi. *walah, maaf kalo sok tahu pak ersis *

    ***ya Pak, jangan sampai … jangan biarkan anugera tersebut aus, lapuk, dan tak terurus.

  8. By yudika on Jan 25, 2008 | Reply

    pak, bagi saya menulis adalah pekerjaan yang paling sulit :D
    tapi sy mau bisa menulis :D

    ***Kalau sudah mulai … ntar jadi paling mudah. Percaya deh.

  9. By avartara on Jan 25, 2008 | Reply

    memang bener pak,….saya menemukan suatu kenikmatan didalam menulis,…hal ini juga berkaitan dengan pekerjaan saya yang outputnya juga berupa suatu tilisan,….nyesel saya pada waktu SMA dulu males blajar Bahasa Indonesia,..apalgi saat disuruh buat karangan bebas atau tanggapan atas suatu tulisan,…

    ***Ngak usah nyesal … kini menulis saja, hasilnya Insya Allah bagus.

  10. By Bibidapi on Jan 25, 2008 | Reply

    saya setuju sama mas/pak yudika, bagi saya menulis perkerjaan yang susah. tapi itu akan menjadi mudah bila terbiasa. Otak ini titipan milik Allah, jadi harus kita optimalkan penggunaannya biar yang nitip tidak kecewa. makanya menulislah kawan-kawan, biar otak kita olahraga terus. kalo didiemin aja ntar jadi ndut..

    ***Biar yang nitp ngak kecewa … kalimat cerdas.

  11. By meiy on Jan 25, 2008 | Reply

    saya sendiri belum tau/baca hasil riset ttg ini, tapi dari yg saya lihat dr pengalaman sehari-hari atau liat2 penulis,emang jarang penulis yg pikun, sebab otaknya aktif terus…menulis selain mengaktifkan otak juga ‘mengobati’ dirinya sendiri.

    ***Kalu gitu ngak perlu riset lagi … kalau kenyataan dag gitu, tiru aja …

  12. By ozank on Jan 25, 2008 | Reply

    Saya juga pernah dengar, “menulis itu obat hati” entah karena banyak penulis bermunculan sewaktu patah hati yang menghasilkan ratusan puisi, puluhan cerpen dalam diarinya.

    ***Obat hati, obat jiwa. Ngak, itu lebih ke ranah katarsih … dan, soal dari patah hati nulis kan bagus, ada hasilnya. Dah patah hati patah nulis pula, dua kali rigi dong.

  13. By esa on Jan 25, 2008 | Reply

    setuju sama kata-kata Dee <blockquote>menulis laksana sebuah kran untuk melepaskan ide dan gagasan yang sudah memenuhi otak</blockquote>
    memang, otak klo diisi terus bisa meluap isinya..makanya isi terus keluarkan..konsep yang bagus kan? Dapet trus ngasih..ke kitanya untung dobel, otak terasah, pahala bertambah. Mengajarkan salah satunya dengan nulis. Dan coba kita perhatikan guru-guru, mereka seolah sudah menguasai semua topik pembelajaran..kenapa? Karena mereka mendapat lalu memberi..
    dan menuliskan itu, seperti yang pernah bapak singgung juga untuk mengikat makna dari apa yang kita dapat.
    Menulis lebih tersusun kata-kata..klo mengajarkan kadang tak terkontrol juga ya :D
    Oya, kata-kata Jendral Thariq bin Ziyad itu memang menyemangati.. Beliau membakar semua kapal setibanya di Andalus *bener ga sih nama tempatnya? :lol: *, kontan para prajuritnya kelabakan..kenapa kapal dibakar.. Dengan tenangnya sang Jendral mengatakan “Kapal telah dibakar, di belakang kalian ada lautan yang ganas, dan di depan kalian ada musuh. Silahkan pilih, mati konyol di lautan atau syahid dalam peperanga?” Sungguh kata yang bijak.. Dan memnyemangati!!

    ***Ya ya Andalus, Andalusia, Spain, spanyol … kalau ngak salah sama saja; soal istilah, pemakaian istilah dalam kontek zaman dan sudut pandang.

  14. By moch. iqbal chahyadi on Jan 25, 2008 | Reply

    ya, begitulah………
    terkadang kita jadi lebih “pintar” mengungkapkan sesuatu lewat tulisan ketimbang lewat lisan………

    ***Ya, betulah … semoga betitulah.

  15. By unai on Jan 25, 2008 | Reply

    waduh, kalau ndak nulis otak jadi berkarat yah pak? saya nulis terus pak…walaupun cuma nulis sms hehe…

    ***Kira-kira euy. Kita nulis saja mana tahu benar …

  16. By Arif on Jan 26, 2008 | Reply

    Saya setuju, Pak Ersis. Menulis melibatkan kerja otak yang sangat kompleks. Saya sendiri tidak dapat membayangkan kompleksitas kerja otak yang dilakukan ketika kita menulis. Banyak sekali yang bekerja mulai dari otak sampai simpul-simpul sayaraf kita.

    Misalnya:
    Ketika kita menuliskan kembali apa yang ada di buku atau selembar kertas maka ada pekerjaan membaca. Pekerjaan ini sendiri cukup kompleks dan melibatkan mata. Kemudian ketika kita menuliskannya baik itu dengan tulisan tangan atau mengetikkannya, ada kerja otak yang lain.

    Bayangkan kalau kita menuliskan seuatu yang merupakan pikiran kita sendiri. Peran otak kita di sana pasti sangat vital.

    ***Wah … wah … saya jadi pingin deh membaca gambaran begitu rumitkan kerja otak ketika menulis, ada bahan ngak mas?

  17. By Suci on Jan 26, 2008 | Reply

    Tapi, nogmong-ngomong soal otak jadi inget satu cerita (nih buktinya otak saya bekerja karena mampu mengingat..hehe) Rupanya orang Indonesia boleh berlega hati. karena jika ingin menjual otaknya msih bernilai dan dihargai tinggi dibanding orang Jepang atau Jerman. Pasalnya, kan masih “baru” dan jarang dipakai. hehe… :)

    Sadis sih joke-nya. Tapi mungkin sinisme seperti itu bisa saja meluntur. Dan menulis adalah salah satu jalan mengurangi “kebaruan” otak tadi. :) …Bukankah kalau semakin banyak orang menulis, anggapan orang Indonesia jarang “mengasah” otaknya bisa hilang dengan sendirinya.

  18. By STR on Jan 27, 2008 | Reply

    <p>Lha … Gara-gara baca tulisan ini, saya jadi ingat ungkapan populer: “Aku berpikir, maka aku ada.” Tapi yang ngomong gitu siapa, itu yang saya lupa! :mrgreen:</p>
    <p>Saya sepakat. Menulis itu memelihara otak. Itu sudah jadi aksioma rasanya. :D</p>

    ***<em>Rene Descarter … cogito ergo sum</em>

  19. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    jadi penulis sama aja menjaga kesehatan ya…. wah kalo gitu menulis terus ah… biar ga cepet tua dan pikun… ya pak?

    ***Katanya sih begitu.

Post a Comment