Menulis Nyaman dan Menyamankan

24 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

MENYAMANKAN. Menulis itu gampang. Menulis itu mudah. Menulis sangat mudah. Menulis nyaman. Menulis menyamankan. Menulis menyehatkan pikiran dan jiwa. Menulis menjalin silaturrahim. Menulis ibadah. Kata-kata itu atau kalimat sedemikian akan ditemukan dalam berbagai varian dalam aneka tulisan saya. Ya, menulis mudah, dan memudahkan. Menulis nyaman dan menyamankan.
 
Sebagai motivator, kata-kata dan atau kalimat tersebut, kini telah menjadi ‘obat’ bagi banyak orang guna melawan kemandulan menulis. Kata-kata dan atau kalimat tersebut dimaksudkan agar self-image tentang menulis susah dan menyusahkan beralih menjadi sikap optimis. Yang mudah kog disusah-susahkan.
 
Pada awalnya, kebanyakan pelibat sharing membawa ‘pedang loyo’, bertimbun-timbun ide telah antri di kuala otak untuk ditulis, e … begitu ditulis, satu atau dua alinea, mandeg. Jari-jari tangan mogok, otak tidak berfungsi, dan hal-hal serupa yang memandulkan menulis. Ada apa?
 
Diri, bisa jadi, telah dibelenggu self-image, telah terbentuk, menulis harus begini begitu, wajib dirangkai seperti ini seperti itu, dan bla-bla. Mana pula, belum selesai, dibaca. Lalu, dikoreksi. Kalau ada kosakata yang meragukan sibuk mencari kamus, membolak-balik majalah, buku, atau bertanya pada suami atau siteri, bahkan anak. Begitu kembali ke komputer, lupa deh.
 
Jelas saja, menulis kog dibiarkan diintervensi hal-hal sedemikian. Bodohnya lagi, hal tesebut diulang, diulang, dan diulang setiap menulis. Ya, hasilnya tetap sama, berhenti sebelum selesai. Pusing. Memaki diri. Memaki-maki, menulis susah. Wajarlah, tidak belajar dari pengalaman.
 
Buku ini, Menulis Berbunga-Bunga, disengaja untuk melawan belenggu-belenggu menulis yang diundang oleh (calon) penulis sendiri. Nyamankan kondisi sebelum, ketika, dan sesudah menulis. Menulis jangan djadikan beban. Caranya?
 
Ya, gembirakan diri, perasaan dan pikiran. Tanamkan menulis itu bak berkelana ke tempat-tempat indah menyamankan, kenapa sih? Apa susahnya dijadikan sebagai wahana pemerdekaan diri, memderdekan pikiran dan perasaan. Bukankah begitu yang bergelora di kuala pikir, di danau rasa, di smudera ingin akan menyehatkan manakala telah menjadi tulisan?
 
Campakkan dulu teori, simpan ujaran-ujaran bagus tentang menulis, nasihat guru bahasa, menariknya paparan Kahlil Gibran, indahnya kata-kata Hamka, ketegangan buatan Agatha Cristy, bualan meninibobok Ian Flemming, kelana misteri J.K. Rowling atau godaan Andre Hirata.
 
Wajar saja berkehendak menulis seperti Renald Kasali, esai-esai mantap Goenawan Mohammad, guncangan ala Samuel P. Hungtington, peringatan-peringatan Francis Fukuyama, indahnya sirah Rasulullah oleh berbagai penulis, sampai mimpi-mimpi bagaimana menjadi orang berpunya ala Robert T. Kiyosaki. Yah, mereka penulis-pemulis hebat sebagi referens. Tapi, manalah mungkin kemampuan kita (menulis) sebanding orang-orang hebat tersebut. Angan boleh digantung setinggi langit (dimana sih, apakah memang ada langit?), kita hidup dalam realitas.
 
Karena itu menulislah apa yang ‘dikuasai’; dipahami atau dialami. Menulis dari dalam diri, sesuai kemampuan diri. Buang ke laut tak bertepi hal di luar diri, di luar kemampuan. Jadikan sebagai pengingat atau pendorong. Manalah mungkin menandingi Shakespiere, wong dia hanya seorang saja seperti juga Albert Eisntein.
 
Kenali diri, pahami diri. Bak nasehat para tetuha, pandai-pandailah mengukur bayang-bayang. Setelah itu saha kemampuan, latih menulis dengan menulis sembari memperbaykan isi kepala. Pengetahuan OK, pratik OK. Membelajarkan diri.
 
Kalaulah mampu mengisolir diri, untuk dijadikan ‘menyapa’ publik, menghindari belenggu-belenggu, menulis akan nyaman dan menyamankan. Contoh-contoh ril tulisan-tulisan dalam buku ini adalah fresh from the oven; bukan dari teori atau peniruan. Terlahir dari pemahaman, menulis itu menyenangkan, nyaman dan menyamankan. Tidak membeban.
 
Tidak usah malu memulai menulis dari hal-hal kecil, hal-hal sederhana, hal-hal yang dekat diri. Menjadi penulis besar bisa jadi cita-cita semua kita, memulai menulis adalah jalan menjadi penulis besar. Kali aja, he he.
 
Pesan utama buku ini, jadikan menulis hal nyaman dan menyamankan, bukan membeban. Dan, dimulai dari susana ‘kebatinan’, self-image, menulis adalah jiwa itu sendiri.
 
Menulis, karena itu sekali lagi, dimulai dari diri dalam kaitan silaturahmi pemikiran. Alhamdulillah jika bermanfaat, bukan saja untuk diri sendiri, tetapi juga buat sesama.
 
Bagaimana Menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 24 Januari 2007.

  1. 12 Responses to “Menulis Nyaman dan Menyamankan”

  2. By Dee on Jan 24, 2008 | Reply

    Bagaimana halnya dengan menulis thesis Pak Ersis? Saya ingin bisa menulisnya dengan nyaman dan tanpa beban, nikmat senikmat saat saya menuangkan gagasan dan pemikiran dalam tulisan-tulisan lepas saya, di blog maupun di catatan harian saya.

    ***Lebih mudah dong, sebab sudah ada atura ‘kaca mata kuda’, tinggal ikuti alurnya. Buku tentang menulis populer dikit saja menjadi 7 bukua, nah sesudah itu ada rencana yang lebih akdemis. Saya pengampu mata kuliah Penelitan dan Bimbingan Karya Imiah. Menurut saya itu terlalu ringan, … gampang banget. Biar terbatas peminatnya, sekarang mulai ditulis. Satu hal, percayalah itu lebih muda. Susahnya, ’selera’ pembimbin. Terkadang seleranya gombal he he.

  3. By hanna on Jan 24, 2008 | Reply

    Wuih! kalau menulis terasa membeban tidak akan jadi tulisan, lho. Ini sih pengalaman saya. Hmm… tentang penulis-penulis hebat itu, ya kita tidak usahlah membandingkan diri kita dengan mereka. Toh, setiap kekurangan ialah kelebihan, setiap kelebihan ialah kekurangan.

    ***Yap, setuju. Mulai berfilsafat nich ye.

  4. By esa on Jan 24, 2008 | Reply

    nah..jadi inget kata-kata “untuk sampe puncak mulai dengan langkah pertama”, dan langkah pertama nulis ya menuliskan apa yg ingin ditulis. Jujur pa..untuk bikin buku itu, sy terdoktrin utk ngikutin aturan ini-itu..jadi ga jadi-jadi. Nah mulai sekarang sa lebih suka nulis apa yg ingin sa tulis..trus nulis apa yg nyambung sm bahasan yg ingin sa bikin buku..mudah-mudahan jadi buku deh :P

    ***Ya ya ya, bagus. Apa yang bisa saya bantu?

  5. By eNPe on Jan 24, 2008 | Reply

    kalo ita, sejak di Banjar (SMA kelas 1) suka nulis diary tapi stlh kul jarang pang handak menulis diary lagi. jadi begitu ada blog langsung menyalurkan hobi,hehehe..menulis mengalir begitu saja, malah kadang pas ada ide tapi jauh dari komputer, yaa…save dulu di hape :-D
    kebiasaan nulis tanpa tata bahasa yg resmi & benar jadi repot juga pas mau nulis modul utk pembelajaran di sekolah,kekeke..
    *handak komen pake bahasa banjar tapi ulun kada ingat lagi*

    ***kada pa pa jua, terusin saja. Apa sih bedanya nahasa resmi dan tidak? Yang penting konsepnya, nah ketiak mau nulis tinggal pilih, pakai yang mana. Spal pembiasaan saja kali tu.

  6. By sawali tuhusetya on Jan 24, 2008 | Reply

    menulis, *halah* ini menurut saya lho, pak ersis, itu merupakan ekpresi pikiran dan perasaan dengan bahasa sebagai mediumnya. ekspresi yang terkadang liar dan mencengangkan seringkali muncul pada saat2 yang serba tak terduga. Makanya, ketika ingin menulis, saya membiasakan diri untuk menciptakan atmosfer ruang yang khas, yak, seperti almarhum iwan simatupang yang suka menciumi bau busuk apel ketika berada di kamar hotel abadinya saat menulis. rangsangan semacam itu agaknya bisa jadi nyaman untuk memicu adrenalin dalam menulis.

    ***OK-OK saja, setiap orang kan beda. Si A begini, Si B begitu, Si C begana. Ya suka-sukalah, yang penting kan hasilnya, apalagi kalau bagus. Yang rusak itu kan mengingin semua orang sama padahal intinya berbeda. Tirms semoga drenalin menulisnya selalu terpicu dan terpacu.

  7. By Yari NK on Jan 24, 2008 | Reply

    kalau saya menulis itu karena campuran antara kesenangan dan kewajiban. Ya, kalau saya pribadi kesenangan utamanya dalam menulis adalah ketika saya mendapatkan feedback atau tanggapan dari orang2 yg minimal mampir di blog saya. Sedangkan kewajibannya adalah bahwasannya saya harus terus mengasah otak saya dengan menulis karena bagi saya menulis seperti membuka lembaran2 ilmu yang lalu2 yang telah saya pelajari dan itu akan membuat saya belajar dan belajar terus. Ada penelitian mengatakan kalau otak kita diasah terus maka kita lebih kecil kemungkinan untuk menjadi pikun kelak.

    Nah…. karena pertimbangan2 itulah mengapa saya kini muncul di blogsfer ini. :)

    ***Tq. Jadi tulisan malahan he he

  8. By mathematicse on Jan 25, 2008 | Reply

    Tapi kenapa ya setelah menulis itu bangga. Rasanya plong gitu… apakah itu yang dimaksud dengan nyaman setelah menulis? Bertanya… nih Pak? :D

    ***Bangga … alias puas kali, itu kan masalah psikologi apabila kita menyelesakan satu tahapan kerja ide dari diri kita. Yah perbanyak saja kebanggan diri, asal jangan berlebihan, dan itu akan menjadikan diri kuat.

  9. By SQ on Jan 25, 2008 | Reply

    menulis nggak membeban ini erat dengan pikiran ya pak?
    soalnya saya lagi baca baca-baca buku tentang pikiran, the secret sama quantum ikhlas, tentang hukum tarik menarik.

    katanya: “begitu kita berpikir itu buruk, maka hal-hal lain yang buruk mendatangi, sebaliknya, bila pikiran kita nggak membeban, maka selanjutanya nyaman-nyaman aja”.

    berarti bahasa mudahnya: “diulah santai aja pak ae” :-)

  10. By meiy on Jan 25, 2008 | Reply

    menulis bikin bahagia ya pak. dengan membaca terus disini saya jadi mengingatkan diri akan belenggu2 terutama nyalah2in waktu :)

    ***Ya ya ya

  11. By esa on Jan 25, 2008 | Reply

    menanggapai tanggapan Bapak..bantu dengan terus ngasih inspirasi.. :P
    oya, klo boleh mah ilmu-ilmu menulis *ada sistematika nya ga?* Berbagi pengalaman mengenai menulis pertama kali
    kemaren maen ke arsip nya Pa EWA, banyak banget..sampe pusing :mrgreen: heheh, soalnya akses di tempat kerja, jd rada terbatas klo mo baca sebanyak itu :)

    ***Ada dong … tapi kita kan membalik teori … lancar dulu nulis, baru perdalam sistematika.

  12. By Suci on Jan 26, 2008 | Reply

    saya mulai disiplin untuk mempraktekkan menulis menghilangkan belenggu. Jadi, ketika berbagai pikiran lewat sewaktu menulis, saya usahakan untuk mengusir jauh-jauh. Ketika ada satu kata atau bahan yang terlupa atau tidak dimengerti dibiarkan saja blank dulu. pokoknya sekarang mencoba kembali menulis dengan pikiran yang benar-benar jernih. Rasanya menjadi lebih ringan dalam menulis. Tulisannya juga lebih cepat selesainya. (Walaupun nggak secepat kemampuan menulis Bapak… :))
    But, at least…Try to focus only in a topic I wanna write…

  13. By STR on Jan 27, 2008 | Reply

    Menulis adalah salah satu praktek eksternalisasi terpenting di dalam model spiral pengetahuan. Dan pendekatan Pak Ersis yang menyenangkan seakan memberi referensi segar buat dunia manajemen pengetahuan saya yang lagi garing. Thanks a lot!

    ***Yoi.

Post a Comment