Menulis, Enak Dibaca

24 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

KASUS: Bagaimana caranya agar tulisan yang kita buat  enak dibaca orang?
Samoeone in Somewhere

MENGELITIK. Beberapa orang yang sharing menulis di pustaka kerja EWAM’Co. diminta membaca buku Menulis Sangat Mudah dan Menulis Mari Menulis. Sejaman saya perhatikan mimik mereka. Ada yang cengar-cengir, ketawa, geleng-geleng kepala, dan ada yang mengerutkan dahi. Setelah selesai ditanya: Kenapa kog senyum-senyum begitu?
 
Ramai. Bahasanya mengelitik, nyleneh, dan serasa berdialog dengan Bapak. Begitu rata-rata jawaban teman-teman KP EWA’MCo. ketika latihan memahami bacaan. Tentu, varian komennya bermacam-macam. Kalau diurut, paling banyak menjawab, serasa berdialog dengan penulisnya.
 
Ya, berdialog dengan pembaca adalah kiat menulis. Saya menyadari, buku adakalanya ‘guru’ yang bodoh. Betapa tidak, ketika kita punya pertanyaan atas apa yang tertulis, buku tidak mampu menjawab. Jadi, jawab duluan sebelum ada pertanyaan pembaca, ya di sajian buku.
 
Hal tersebut, kalau dipikir-pikir ‘ditemukan’ karena proses belajar yang panjang. Apabila kita membaca, kalau sajian bahasanya ruwet tentu bikin pikiran ruwet dan malas membacanya. Pilihan jatuh pada gaya tutur (seolah-olah) berdialog dengan pembaca; pembaca ada dalam tulisan.
 
Menulis, orang mau bilang narsis atau apa silahkan, pada hakikinya tentu agar dibaca. Karena itu, perhatikan ‘kebutuhan’ pembaca. Keliru besar kalau berprinsip, menulis terserah saya dong.  Peduli amat dengan pembaca. Wong tulisan hendak dibaca orang, bersikukuh dengan diri sendiri, yo opo rek. Itu egois.
 
Dengan kata lain, yang ingin kita pesankan dibungkus sedemikian rupa dalam ‘kepentingan’ pembaca. Jangan menggurui, menyinggung, atau memaki-maki pembaca. Kalau saya sih sekalipun hal sedemikian terkadang dilakukan, ditulis dalam bentuk canda. Kalau dibaca serius, bisa saja tertawa-tawa, tetapi adakalanya: Dasar Si Ersis.
 
Lebih penting, jangan pernah meniru-niru gaya orang lain. Buat gaya sendiri. Gunawan Mohammad itu penulis hebat, kalau meniru dia, dan bisa, jadi tidak menarik. Biarlah Gunawan jadi Gunawan, Ersis jadi Ersis. Pernah dibayangkan ngak, kalau semua penulis memiliki gaya yang sama, apa asyiknya dibaca. Wong rada-rada mirip.
 
Itulah sebabnya saya bersikukuh, pada dasarnya —bukan tidak boleh— menulis ‘menemukan’ diri sendiri. Tidak usah berguru. Apalagi meniru-niru penulis lain.
 
Coba perhatikan, tiba-tiba kita tertarik membaca serial Harry Potter, Ayat-Ayat Cinta, atau Laskar Pelangi. Kenapa? Karena ada yang baru, yang lain dari karya penulis terdahulu. Enak dibaca. Saya pernah menulis, penulis adalah kreator, tukang kreasi, menyajikan hal-hal baru.
 
Bahwa kita mengagumi karya Hamzah Fansuri atau Hamka, ya iyalah. Baca misalnya Tenggelamnya Kapal Van Der Vijck atau Dibawah Lindunga Ka’bah. Pikiran dan perasaan akan dibuainya, nyaman mengharukan. Namun, kalau gaya Hamka di-rerun tidak sesuai dengan jaman sekarang, apa tepat. Biarlah karya orang-orang hebat itu sesuai masanya, kita nikmati Maknanya, namun kehendak zaman jangan diabaikan.
 
Karena itu, hal-hal sejaman, sesuai genre masa, jangan diabaikan. Penulis yang baik adalah penulis zamannya. Kalau menulis ala Wild West atau gaya renaisans ala paura Florence atau Majapahit, ngak asyiklah. Bisa terjebak anokronistis. Dus, menulis berarti memahami kondisi obyektif. Lebih tepat, maunya pembaca. Kalau begitu, jadi hamba pembacanya dong? Oh, no no. Maksu saya, kita tidak bijak mengabaikan pembaca karena memang tulisan ditujukan kepada mereka. Kalau tidak, tulis simpan dilaci.
 
Dengan kata lain, sajian tulisan menarik, tidak meruwetkan, tidak menggurui, sesuai zaman, dan bla bla. Lebih dari semua itu, sajikan dengan gaya khas, jangan meniru-niru, apalagi plagiat. Itulha yang dimaksud kampanye saya menulis dari dalam diri. Kenapa?
 
Setiap individu berbeda dari lainnya, indiviudal diffrences. Karena keberbedaan mencari kebersamaan, minimal hal-hal yang mirip. Naluri bersatu berawal dari hal tersebut. Menulis berarti menangkap pembaca berkepentingan. Dus … sajikan dengan nyaman.
 
Pak, berteori gampang, contohnya mana? Maaf, agak geger, perhatikan seksama tulisan-tulisan saya, bukankah seperti yang dituliskan? Selamat menyajikan tulisan enak (emang makanan) dibaca. Tidak usah didiskusikan sebab harus ‘ditemukan’ pada, dari, dan dalam diri masing-masing. Enak dibaca dan perlu, slogan Tempo.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 24 Januari 2008.

  1. 10 Responses to “Menulis, Enak Dibaca”

  2. By unai on Jan 24, 2008 | Reply

    Lebih penting, jangan pernah meniru-niru gaya orang lain. Buat gaya sendiri. Gunawan Mohammad itu penulis hebat, kalau meniru dia, dan bisa, jadi tidak menarik.

    –>saya mulai belajar manulis dari meniru pak…setelah itu, masri kita tentukan ciri kita..hehe sok ya, sok jadi penulis hebat padahal penulis abal abal heheh

    ***Ha ha semoga saja ngak kesasahnya ketika ‘mengembalikan’ menjadi diri sendir. Amin.

  3. By toni on Jan 24, 2008 | Reply

    Saya juga coba meniru Thomas Friedman kolumnis NY Times (wakakak), boro2 mirip, malah jadi aneh tuh. Memang sulit mengembangkan gaya tulisan sendiri, harus banyak berlatih, nulis, dan terus saja nulis. Salam Pak Ersis.

    ***Horeee … Sampeyan memagut intinya: Memang sulit mengembangkan gaya tulisan sendiri, harus banyak berlatih, nulis, dan terus saja nulis.

  4. By esa on Jan 24, 2008 | Reply

    mungkin bukan meniru klo saya tapi lebih suka menjadikan khazanah mengenai menulis. Sy suka dengan gaya bahasa bapak, sy juga suka gaya bahasa Habib, dan lain-lain..nanti dari sana terbentuklah “image” kita sebenernya, bener ga sih Pa?!
    Jadi semacam inspirasi gitu deh..
    Dan memang klo mo niru mah susah Pak..malah nantinya terkesan *emang bener deng* memaksakan untuk membohongi diri, jadi ntarnya menulis itu ga jadi nyaman lagi deh..

    ***Ya, benar. Namanya internalisasi … bahkan ada pemikir yang mengatakan, no new under the sun. Ketika keluar dari pikiran kita, ya punya kita. Soal terpengaruh, wajar saja, tapi bukan niru habis lho.

  5. By hanna on Jan 24, 2008 | Reply

    Saya malah bingung kalau dikatakan meniru gaya tulisan orang lain. Benar-benar tidak mengerti. Tapi, ada yang mengatakan ketika kita sering membaca karya orang itu, kita akan meniru gaya tulisannya dengan sendirinya. Benarkah? Sampai saat ini saya belum banyak tahu. Jalani sajalah apa adanya. Dengan berjalannya waktu, diiringi latihan, semoga saya bisa secepatnya menemukan gaya tulisan dan diri saya sendiri.

    ***Ngaj benar itu … ketika membaca karya orang kita melakukan internalisasi, proses belajar di dalam diri, lalu diproses maka keluarlah tulisan (kita). Tidak mungkin sama, tidak mungkin niru, … yang keluar kan dari ‘kita’. Soal ada pengaruh, itu soal lain lagi, wajar. Kalau nit plek … itu namanya plagiat.

  6. By mathematicse on Jan 24, 2008 | Reply

    Kalau saya sih menulis itu ga bisa meniru orang lain. Soalnya ga biasa niru sih. (Ga bisa nyontek). Hahahahaha…. :D

    Nah, kalau ingin enak dibaca, sebelum dipublish, tulisan kita perlu dibaca dulu berulang-ulang, rasakan sendiri, enak engga?

    Kalau dibaca sendiri aja ga enak, apalagi dibaca orang lain. Wakakakakakak.. :D

    ***Ya ya ya … artinya timbangan itu ada di diri kira … Kalau ‘rasa enak’ itu masuk wilayah universal, ya berarti bagi orang lain juga OK. Yang cilaka kan enake dewe wakakakakak.

  7. By eNPe on Jan 24, 2008 | Reply

    “Pilihan jatuh pada gaya tutur (seolah-olah) berdialog dengan pembaca; pembaca ada dalam tulisan”

    itu yang perlu diperhatikan, karena menulis kan sebenarnya komunikasi dua arah antara penulis dan pembaca tapi gak semua penulis bisa mengajak pembaca berkomunikasi dgn baik.
    ita suka dgn gaya bahasa abah (boleh ita panggil abah?)
    byk hal yg bisa ita pelajari stlh membaca tulisan2 abah :-D

    ***Amin. Suka-suka ajalah. Kita sma-sama belajar sajalah.

  8. By meiy on Jan 25, 2008 | Reply

    emang gaya yg membedakan satu orang dg lainnya, soal enak dibaca akan nampak dari respon pembaca, otomatis.

    ***Yap, itu teori umum, saya setuju dan meyakini. Tapi, … adakalanya ‘pembaca’ itu ketinggalan dan baru beberapa generasi dapat memahami. Contoh, ketiak Bruno, Copernicus, atau Gailie menagatakan … bukan matahari yang mengitari bumu, tapi sebaliknya. Hukuman kaum agamawan (gereja) adalah konsekuensinya.

  9. By Suci on Jan 26, 2008 | Reply

    saya suka sekali menggunakan kata-kata sastra atau apalah namanya dalam tulisan. Dan itu tanpa saya sadari. Tapi lama kelamaan malah merasakan kalau dengan cara seperti itu saya bisa menjadi diri sendiri. Menemukan gaya menulis saya sendiri.
    Karena itu, sebenarnya lebih nyaman ketika menulis cerpen. Lebih enak menulisnya, dan.. kata teman-teman (katanya lho, ya) cerpen atau cerita fiktif dari saya, enak dibaca. Alhamdulillah… hehe
    (Numpang narsis, Pak. haha)

  10. By STR on Jan 27, 2008 | Reply

    Ya ya ya … Memang. Bapak menulis dengan gaya dialogis, maka itu pula yang Bapak ajarkan. Sudah jadi referensi buat banyak orang.

    ***KIta sama-sama belajar saja, saling memberi dan mengambl manfaat.

  11. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    kadang memang gaya bahasa meniru dari lingkungan… lingkungan kan juga turut serta membentuk pribadi seseorang itu.. entah dalam tulisannya atau perilakunya.. jadi sudah sewajarnya kodrat manusia kalau sedikit banyak mengkopi apa yang mereka dengar, lihat baca dan cermati.. tapi memang lebih enak jadi diri sendiri ya… wah makasih banget pak pencerahannya… kekeke

    ***Ya, individual differences, maklul sosial.

Post a Comment