Menulis Mewassalam Alasan
23 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
KHATAM ALASAN. Dalam sharing menulis bagi yang ‘bercengkema’ di darat, kesan saya galak, ada benarnya. Ya, tidak suka memberi ampun. Jangankan yang sharing, mahasiswa saja, kalau sudah beralasan atas deadline tugas yang disepakati, tau rasa deh. Kesepakatan harus dijalankan tanpa negosiasi. Banyak orang kecewa karena sikap sedemikian. Biarin.
Kebetulan, bulan Januari 2008, Qomar dan Suciati dibaptis dari trainee menjadi pewarta penuh Bandjarbaore Post. Dapat gaji penuh, jadi bekerjalah profesional. Sebagai pewarta mereka lulus, … sebagai penulis belum. Jumat-Sabtu-Minggu di Banjarbaru mengasah kemampuan. Saya tidak mau tahu, mau capek mau ngantuk, pokoknya apa yang disepakati wajib dilakukan.
Sebenarnya kasihan juga. Coba, tanggung jawab pelatihan menulis dan internet di beberapa SMP dan SMA Banjarbaru, Jumat-Sabtu, dilimpahkan. Mana pula, mereka ujian skripsi (25 dan 26 Januari 2008). Saya katakan, itulah kehidupan. Hidup bukan untuk orang-orang pemalas, orang-orang jago alasan, tetapi untuk yang memanfaatkan waktu berbuat dan berkarya.
‘Diperkenalkan’, mulai dari rapat di Pokja PMPB, negosiasi dengan Kepala Sekolah dan pemegang otritas laboratorium sekaligus melatih, ke petinggi-petinggi LPMP, sampai meliput pengabdian masyarakat malam hari. Begitu sampai di markas, meresensi buku. Kog kejam amat?
Bagi saya tidak. Menulis jangan sampai merusak ritme kerja rutin, kerja profesional. Karena itu, diperkenalkan program PakeMaker, InDesign, melayout buku sampai menjilid. Semua itu merupakan bekal agar ketika menjadi bos kelak bukan hanya sekadar memerintah, tetapi paham apa yang diperintahkan. Kedua makhluk ini kan lebih khusus, mereka berbakat dan berniat menjadi penulis.
Alhamdulillah, membiasakan menulis dalam waktu sesempit apa pun kini mulai terbiasa. Target saya, jangan sampai waktu dijadikan alasan. Sebab, waktu untuk digunakan. Waktu disediakan Allah SWT, gratis. Manfatkan maksimal.
Begitulah. Kalau pada awal sharing banyak ragu dan takutnya menulis, kini kalau menulis mulai lempang. Dongeng-dongeng teori, mood, tempat khusus, situasi khusus, dan belenggu-belenggu menulis diusir, dicampakkan. Menulis ya karena hendak menulis.
Dua bulan terakhir, tidak pernah lagi beralasan. Ya menulis liputan, artikel, resensi, atau komentar, sudah bak menghela nafas. Kalau sudah demikian, menghatamkan alasan, menulis menjadi hal mudah dan memudahkan. Kiat-kiatnya akan didapat sendiri, sebab yang menulis mereka, bukan saya. Apa-apa yang saya punyai, to tidak bisa ditranspalantasi. Harus ditemukan sendiri.
Satu hal yang sangat mengembirakan, kemajuan mewassalamkan alasan. Kalau tidak paham arti kata tiny, lihat kamus, jangan bertanya. Kalau sulit mendisain buku, pelajari pagemaker, beres. Ingin sukses menjadi pelatih IT, perdalam pengetahuan IT.
Satu hal yang tidak saya penuhi, memiliki peralatan kerja super canggih. Fasilitas kantor, memang standar minimal. Kalau mau memiliki sendiri, harus beli, dan …. peluang dingangakan. Semangat mandiri dimulai dengan melatih diri, rizki apa pun yang didapat dari aktifitas menulis, tabung 10%. Tanpa alasan. Pokoknya menabung. Memiliki fasilitas sendiri jauh lebih mulia dari punya kantor.
Entahlah. Yang pasti, nampaknya berhasil mendidik kedua orang ini untuk tidak beralasan, melawannya melalui bekerja, menulis cepat. Yang agak diragukan, entry behaviour. Untunglah selepas kerja seharian, mereka masih sempat membaca Harry Pottrer; And The Deathly Hallows.
Bercanda saya katakan serius, kalian hanya mengorbankan waktu tidur, saya membelinya. Manfaatkan saja. Ah sudahlah, saya lagi senang-senangnya, berhasil memotivasi untuk tidak beralasan. Semoga kalau ‘dilepas’ alasan-alasan yang biasanya dijadikan portal dalam menulis dilawan dengan menulis itu sendiri. Amin.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 24 Januari 2008.










7 Responses to “Menulis Mewassalam Alasan”
By Yari NK on Jan 24, 2008 | Reply
Saya mendukung ‘kegalakan’ Pak Ersis, <strike>saya sendiri juga galak</strike> dengan anak buah huehehehe, walaupun galaknya juga penuh kasih sayang dan lindungan. Itu artinya selain galak tentu kita juga seyogianya membimbing mereka dan ‘melindungi’ mereka jikalau ada kesulitan2 yang wajar di luar kemampuan mereka.
Bagaimanapun juga anak buah merupakan asset yang paling berharga, jauh di atas aset2 lainnya kalau mereka diasah dengan benar. Mereka adalah bagian dari korps kita juga, jikalau nama mereka harum, harum juga nama kita, kalau nama mereka rusak, rusak pula nama kita. Namun seperti halnya di Jepang, kebersamaan dalam suatu perusahaan atau korps adalah di atas segala2nya, jangan sampai ada anak buah kita yang berprestasi emas lantas diabaikan sehingga mereka berpaling kepada pesaing kita, sebuah kekeliruan dan kebodohan yang sangat.
Kesejahteraan bawahan tentu juga harus diperhatikan. Jangan sampai ada perkataan2 miring: “Eh, kerja di kantor A nggak enak, fasilitasnya dikit, enakkan di kantor B fasilitasnya banyak” atau “Wah, pegawai di kantor A kalau jajan irit, gajinya kecil kali ya!” Wah, kalau ada yg seperti itu, seyogianya malulah kita seperti orang Jepang yang malu kalau melihat bawahannya tidak makmur.
Namun tentu karyawan/bawahan jangan pula terlalu dimanjakan dengan fasilitas berlebihan sementara si karyawan sendiri dalam mengoperasikan komputer cuma bisanya ngetik dan chatting di internet saja. Sebagai karyawan juga jangan mau kalah dengan karyawan kantor tetangga atau pesaing. Jangan sampai ada pergunjingan “Wah, karyawan di kantor A bego2 ya, padahal fasilitasnya udah berlebih” Wah, jangan sampai terjadi seperti itu, kalau gunjingan spt itu terjadi, wah seyogianya malu lah si karyawan tersebut.
***Makasih supornya. Saya sedang (coba-coba) mengembangkan manajelem kecilkecilan ala Rasulullah, tapi sangat embriologis. Dengan masukan Pak Yari semoga makin semangat. Troms.
By esa on Jan 24, 2008 | Reply
Hmm..klo sy g akan membawa-bawa asset perusahaan..cm ngerasa malu sama kata-kata pa ersis..
*
soalnya, TA sy blm beres sampe sekarang *pa ersis tau?*
Bukan menulisnya klo saya, tapi program nya. Sy ga punya komputer d rumah, ngerjain d kmpus pun g selalu buka apalagi d kntor wuih..dy g bisa curi waktu *alesan lagi deeh* klo draft TA nya sendiri sih udah beres, cuma masalah program aja yang ditambahin dosen *bukan keinginan objek penelitian*, beliau minta ini-itu karena beliau menganggap sa spesial..wal hasil blm kelar sampe sekarang *meski yang lain juga belom
***Ha ha ha … fasilitas kan ngak harus dipunyai. Dulu, masa saya kuliah selalu ada mesin tik di kosan. Kenapa? Saya suka bantu teman-teman, dan … mereka menaroh mesin tiknya, he he. Apabila ada kemauan, pasti ada jalan. Tapi, kalau mengandalkan fasilitas kampus … saya ngak doyan, sebeeeeel.
By hanna on Jan 24, 2008 | Reply
Saya ingin mengucapkan “Selamat” untuk Qomar dan Suci. Moga kedua sahabat saya itu sukses selalu dan tetap semangat. Bukunya dah saya terima lho. Bagus-bagus karya kedua sahabat ini.
By eNPe on Jan 24, 2008 | Reply
kalo ingin menulis lupakan alasan
kalo ada alasan lupakan menulis *terlupakan*
semoga kita bisa memanfaatkan waktu *gratis* yg diberikan ALLAH utk hal2 yang bermanfaat dgn berbagi ilmu pengethauan n pengalaman *eNPe mode on*
***Ya ya ya, yang penting jangan samai lua diri, ya ngak?
By meiy on Jan 25, 2008 | Reply
kejamnya dikau paaak hehe kekejaman membawa nikmat!
pak nanya nih, di Kalbar Pendidikan Lingkungan masuk nggak di Kurikulum?
Makasih pak.
***Tapi belum sebaik ibu tiri lho. Saya di Kalsel, beluuum. Biar tunggu hancurlebur dulu, kali aja.
By meiy on Jan 28, 2008 | Reply
Hihi jadi malu, jadi Banjar Baru itu di KalSel toh Pak, perlu belajar geografi lagi nih kayanya.
thx pak
By Anang on Jan 31, 2008 | Reply
kadang kejam itu juga perlu lho pak…. hehe
***Kalau pada tempatnya.