Menulis Menyamakan Frekuensi

23 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Banyak hal terpikirkan, banyak hal hendak disampaikan, banyak hal tak terkatakan karena hambatan-hambatan sosiologis … tulis

FREKUENSI. Manusia terlahir sebagai individu dan hidup sebagai makhluk sosial. Sebagai individu, kalau ingin hidup sebenar-benarnya hidup, ya harus menjadi indvidu tangguh, berkepribadian agar mampu mengharungi kehidupan soasil. Manusia-manusia sukses adalah manusia yang sukses sebagai individu dalam kehidupan sosial. Kita tidak  membahasnya mendalam. Kita serahkan kepada ahlinya. Apa pun argumennya, banyak diantara kita yang belum berkehidupan sosial yang baik.

Banyak hal pengendala yang kalau dipetakan bisa ditulis dalam beribu-ribu buku. Jangankan memahami orang lain, memahami diri sendiri saja terkadang kita tidak mampu. Hidup paling sulit adalah memahami diri sendiri.
 
Kalaulah diri sendiri sudah ‘diketahui’ mantap, tidak syak lagi, memudahkan dalam relasi sosial. Tetapi, itulah susahnya, kita terlahir dengan ego; sesutu yang sangat diperlukan, namun apabila tidak dimenej berakibat buruk dalam kehidupan. Ego —dalam berbagai kadar dan pemuncuannya— menjadi bagian sangat menarik kajian-kajian psikologis, agamis, sosiologis, apalagi, individualis.
 
Dalam pada itu, suatu ketika, seorang teman bertanya setengah menggugat: “Kalau anjuran EWA tentang menulis diamini semua orang, semua orang menjadi penulis, lalu bagaimana dengan bidang-bidang kehidupan lainnya”.
 
Pertanyaan agak dongok tersebut dijawab: “Saya tidak menganjurkan semua orang menulis, atau jadi penulis. Ajakan bagi yang berkehendak menulis”. Sekalipun, tentu akan asyik semua orang adalah penulis sekaligus pembaca. Lalu, kenapa?
 
Dalam kaitan tersebut, setidak seorang penulis adalah mereka yang mampu menyamakan frekuensi pikirannya dengan yang lain. Ketersambungan frekuensi itulah yang menjadikan tulisan bisa dipahami.
 
Saya punya contoh sederhana. Suatu kali menulis tentang bagaimana merindukan orang tua dalam kandungan berbakti sebagaimana diamarkan Allah SWT dan Rasulullah. Tulisan tersebut dimuat media cetak dan diikutkan dalam buku Nyaman Memahami ESQ bertitel: Menitikkan Air Mata Rindu Allah.
 
Sungguh, mendapat atensi dan respon tak terkirakan. Seorang pembaca —kalau mau mengecek, Hamdi Djunaid, pengusaha sukses Banjarbaru— mendatangi saya mengagumi tulisan tersebut. Sampai-sampai keluarganya dari kampung tertangis-tangis saking terharu.
 
Hari-hari berikutnya semakin banyak yang mengatakan hal serupa. Popularitas sebagai penulis semakin terdongkrak tulisan tersebut. Padahal, bagi saya biasa-biasa saja. Penasaran disigi, kira-kira kenapa bisa begitu menggugah.
 
Kesimpulan sementara, muatan isinya mampu memyambungkan apa-apa yang ditulis dengan apa yang dirasakan banyak orang. Betapa tidak. Setiap orang pastilah mencintai orang tuanya, pernah berbuat salah, ketika ‘jadi orang’, disengaja atau bukan, pernah mengabaikan, setidaknya membuat hatinya kurang enak. Agak dramatis memang gaya penyajian tulisan dengan panah, mari kita memuliakan orang tua, memuliakan Rasululah, memuliakan Allah SWT. Nyambung deh frekuensinya.
 
Kalau sudah begitu  tulisan menjadi dirasakan perlu bagi pembaca. Coba kunyah-kunyah aneka tulisan saya tentang menulis. Bukan geer lho, saya yang menulis, tetapi kan seolah-olah seperti apa yang Sampeyan rasakan, alami, kehendaki, dan bla-bla. Frekuensi kita dah sama, nyambung.
 
Dengan kata lain, kalau kita tidak bisa mengatakan secara langsung, apa pun yang ada dalam pikiran atau persaan, menulislah. Pandai-pandailah memindai apa yang ada di pikiran, perasaan, pengalaman,  dan atau ‘mimpi’ orang lain. Bukan saja bermanfaat untuk ‘mengatakan’ apa yang kita mau, tetapi juga ‘mengatakan’ apa yang dimaui orang. Itulah menulis.
 
Jadi, tunggu apa lagi. Mari menulis, menulis, dan terus menulis.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 23 Januari 2008.

  1. 11 Responses to “Menulis Menyamakan Frekuensi”

  2. By mathematicse on Jan 23, 2008 | Reply

    Pertamaaaaaaaaaaaaaaaaa x lagi.

    Memang tak mudah menyamakan “frekusensi” yang kita miliki ke “frekuensi” orang lain. Tak mudah membuat orang lain itu menegrti dengan apa yang kita maksudkan. Itulah intinya berkomunikasi, saling mngerti dan saling memahami.

    Menulis adalah salah satu bentuk komunikasi. Bila tulisan kita belum dipahami pembaca, artinya komunikasinya masih satu arah, pembaca belum mengerti apa yang kita maksudkan. Dan ini berarti komunikasi belum efektif, belum mencapai tujuan… Iya ga sih? :D

    ***Mudah. Ingat Asmaul Husna? Allah SWT telah memberi kita semua, siapa saja. Nah, kalau kita butakan, ya dia ngak saling bertaut. Atau, ingat on-of pada DNA, kalau sama-sama hidup akan nyambanung. Contoh: kenapa kita tak bisa mencintai semua orang? Karena gen yang sama on ya yang saling tertarik.

  3. By meiy on Jan 23, 2008 | Reply

    ini mungkin kelebihan penulis yg bener2 penulis ya pak, frekuensi.

    saya sendiri kadang masih gak bisa melepas ego, tak peduli orang mau ngerti atau nggak, yg penting nulis hehehe,
    tersadar…:)

    (8-> nyoba icon, nongol gak ya…)

    ***Ngak juga, kira-kira hasil dari proses latihan, kali aja. Ingat Asmaul Husna? Semua manusia diberi sama, nah ngasahnya aja yang beda, hingga frekuensi itu bisa ngak nyambung.

  4. By meiy on Jan 23, 2008 | Reply

    waah kok kadang2 bisa ya pak. mau smile aja :)

    ***Itu soal proses di komputer aja, kalau dia lagi kerja, lalu diperintah, suka ngadat, ngak nurut perintah.

  5. By Anang on Jan 23, 2008 | Reply

    wah menulis memang perlu keahlian khusus nih……

    ***Ha ha ha ngak juga, ngak ada khusus-khususan. Yang utama nulis, nulis, dan nulis, gitu aja.

  6. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 23, 2008 | Reply

    Pak EWA, yang menyamakan frekuensi para pembacanya atau penulisnya? ini dalam konteks menyamakan frekuensi dalam menulis.

    Pernah suatu kali, sewaktu di JOGJA, ada sebuah pelatihan psikoterapi, ternyata pematerinya gak datang karena pingin mengetahui frekuensi para audiens-nya dulu melalui kuesioner. Nah, ternyata hasilnya diluar dugaan pemateri, sehingga beliau tidak mau memberikan pelatihan karena frekuensinya tidak sama. Beliau begini, audien/ trainee begitu.
    Walhasil, berabe deh.

    ***Cocok ya di ranah psikologis, para psikolog. Ada teorinya ngak tu?

  7. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 23, 2008 | Reply

    Alhamdulillah, detik ini saya sempat memasuki 10 besar pengomentar terbanyak, he he he.
    Biar dapat hadiah lagi, he he he

    Jazakallahu khair

    ***Amiiiiiiiiiin.

  8. By unai on Jan 23, 2008 | Reply

    Iya pak, saya sekarang jadi produktif menulis, apa saja saya tulis, saya tak menunggu harus ada ide. Menulis kecil2an…makasih lah pak motivasinya. eh iya sms saya kok balasnya singkat?

    ***Alhamdulillah. Sampeyan dah di kalan yang benar, jalan yang lurus. Amin.

  9. By hanna on Jan 23, 2008 | Reply

    Moga saya juga bisa menyamakan frekuensi menulis. :oops:
    Dengan segala kekurangan dan keterbatasan saya mencintai dunia penulisan. Tidak berharap muluk-muluk. Hanya menulis apa yang tersirat dalam pikiran, apa yang tersemayam dalam hati, dan apa yang dirasakan. Tentang nilai sebuah penulisan terserah pembaca. Dibilang bagus ya, terima kasih, dicacimaki jadikanlah motivasi untuk terus mengembangkan diri agar bisa melakukan dengan lebih baik lagi.

    ***Yap, frekuensi itu penting dalam komunikasi menulis … dua arah yang bermuara saling memahami, memberi, dan berbagi. Slamat.

  10. By esa on Jan 24, 2008 | Reply

    <blockquote>“Kalau anjuran EWA tentang menulis diamini semua orang, semua orang menjadi penulis, lalu bagaimana dengan bidang-bidang kehidupan lainnya”.</blockquote>
    Sebenernya, klopun anjuran Pa EWA ni utk jd penulis, sy pikir gapapa. Kenapa? Ksrena setiap orang yang menjadi penulis akan menulis apa yang dia tahu, termasuk apa yg ingin dia bagikan. Jadi ga salah klo programmer jd penulis, biar orang yang mo belajar programming tau caranya. Guru menulis biar muridnya sedikit-demi sedikit sama frekuensinya. Biar saja, semua orang jadi penulis, penulis sesuai bahasan dan kemampuan masing-masing, jadi profesi yang lain tetep ada dan menjadi penulis ga harus bikin orang megang satu tempat sebagai penulis saja kan?!
    Gimana dengan para penulis bahasa pemrogaman? mereka penulis juga kan? Ilmu jadi manfaat..dapet keuntungan duni-akhirat deh, deal? :?:

    ***Wow … aku senang kalimat cerdas seperti ini. Salam.

  11. By Suci on Jan 26, 2008 | Reply

    Saya punya contoh sederhana. Suatu kali menulis tentang bagaimana merindukan orang tua dalam kandungan berbakti sebagaimana diamarkan Allah SWT dan Rasulullah. Tulisan tersebut dimuat media cetak dan diikutkan dalam buku Nyaman Memahami ESQ bertitel: Menitikkan Air Mata Rindu Allah.

    Yah, saya ingat betul ketika membaca pertama kali buku Bapak itu. Hati rasanya benar-benar tersentuh dan akhirnya, saat itu juga, sebuah ide kepala seolah mendesak untuk keluar. Dan serasa dikomando jari-jari langsung mengetik tuts komputer dengan sangat lancar. Jadilah sebuah cerpen yang saya persembahkan untuk Bapak saya. Setelah membacanya, saya seolah meluapkan perasaan rindu yang amat menggebu kepada orangtua.

    Dan memang benar, ketika membaca artikel itu, berarti… saya mempunyai frekuensi yang sama dengan apa yang berusaha bapak sampaikan.

  12. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 28, 2008 | Reply

    Ada kali, ye teorinya…he he he.
    Ah yang penting, posisikan aja diri kita, saat jadi penulis ya samakan aja frekuensinya dengan calon para pembaca setianya. Tapi dlm konteks sebagai pembaca, ya samakan aja frekuensi kita dengan penulis buku yang kita baca, iya apa iya? iya aja deh…

    ***Itu makrifatnya.

Post a Comment