Menulis Memaksa Diri
22 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Tidak seorang pun yang suka dipaksa-paksa, kecuali ada kelainan. Tapi, sadar atau tidak, justru banyak oarng yang maunya dipaksa-paksa.
PAKSAAN. Kosakata paksa, terpaksa, dipaksa, dan variannya dapat dikatakan menjadi momok banyak orang. Kalau dikaji lebih dalam, sebenarnya hal wajar saja. Sebab, berkaitan dengan pengalaman. Sedari kecil di rumah sering dipaksa orang tua, ketika bersekolah dipaksa guru, waktu kuliah dipaksa dosen, begitu bekerja dipaksa atasan. Ungkapannya saja yang berbeda, dididik, dilatih, diarahkan, atau dibina. Paling akhir, biar keren, sharing namanya. Intinya ada yang ‘di atas’ ada ‘yang di bawah’.
Begitulah. Hingga, wajar dimana-mana, kapan saja, pada situasi bagaimana pun ada kecendrungan orang menyuarakan ‘kebebasan’, ingin merdeka melakukan apa yang diinginkan. Jangan pula kalau dikaitkan dengan adat-istiadat, agama, aturan akademik, dan seterusnya. Sampai-sampai untuk makan saja ada aturan, ada etikanya. Dunia di luar diri seakan-akan menjadi belenggu, merajam kemedekaan. Seolah-olah menjadi musuh kehidupan. Kacien dech lo. Kenapa?
Ya iya lah. Kalau pola demikian dipermanenkan bisa-bisa diri selalu merasa terasing, tertekan, dan atau terbelenggu. Kini, mari berdamai dengan segala hal di luar diri. Yang berlangsung biarlah berlangsung, berupaya mengambil manfaat dari proses kehidupan tersebut. Caranya? Gampang.
Kalau tidak mau dipaksa-paksa, yo wis. Ya jangan mau dipaksa. Misal, dalam menulis. Paksa saja diri sendiri. Kalau dosen menugaskan membuat makalah, jadikan tantangan, kebutuhan, atau ladang prestasi. Dengan bersandarkan logika sederhana, kalau kuliah ya kudu menulis makalah, ya tulis. Lakukan dengan gembira.
Coba pikir, sampeyan mengaku-ngaku Muslim. E … perintah Allah SWT yang pertama membaca, ditawar-tawar, ya ngak lucu. Kalau ngak mau, ya pindah agama saja. Banyak kog agama lain. Misalnya.
Denan kata lain, kalau ngak mau dipaksa, kalau ada hal yang harus dilakukan, ya mulai dari diri sendiri. Pola ini mengambil alih ‘paksaan’ menjadi kebutuhan yang berawal dari diri, ya jadi enak. Mengerjakan sesuatu dengan merdeka, kita yang mengendalikan.
Dus, aneh menulis kog terpaksa. Sebenarnya resepnya sederhana saja. Tanya diri, apa tujuan menulis? Misal untuk menguarngi beban pikiran, lakukan, dan plong. Intinya, berawal dari ‘kebutuhan’ diri, dari diri sendiri, dan merdeka melakukan,
Kalau umur panjang, misalnya sampai 100 tahun, saya menyiapkan masa pensiun (dosen umur 70 tahun), menambah pensiun dari royalti buku. Dua puluh tahun ke depan, bodoh amat kalau tidak mampu menulis 20 buku. Dari 20 buku masyak sih ngak ada satu buku saja yang mendapat royalti.
Tekad tersebut menuntun diri, bahasa lugasnya ‘memaksa’ diri untuk menulis. Tidak dari presiden, apalagi kalau hanya rektor. Tapi, dari Ersis. Ya, Ersis. Apa dan bagaimana menulisnya, urusan Ersis. Dengan demikian —memaksa diri— menulis jadi mudah.
Memaksa diri sekaligus melatih diri. Kalau Sampeyan sarjana, tentu pernah membuat skripsi. Kalau dipahami sebagai ‘paksaan’, bukan latihan, ya wajarlah karya tersebut sebagai karya satu-satunya dan terakhir. Banyak lho yang berprinsip demikian. Akhirnya benci menulis. Namanya juga terpaksa.
Atau, kalau Sampeyan agak agamis, meniru-niru Rasulullah tidak mengapa. Menulis lahan ibadah, ranah berbagai, padang amal, lautan berkah, dan setrusnya. Tekadkan di hati, bulatkan di niat, mantapkan dengan melakukan, bukankah menulis menjadi menyenangkan? Harapan yang digantung jelas sasarannya.
Adalah keliru besar kalau menulis karena terpaksa. Menulis yang membahagiakan karena diri sendiri berkehendak, kehendak yang mencuat dari lubuk hati, kuala jiwa, danau qalbu. Menulis yang memenuhi apa yang dimaui (yang baik tentunya, bo).
Anggap saja, popularitas, dapat uang, pujian —juga makian dan sumpah serapah sebagi bonus.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 Septemebr 2007.










14 Responses to “Menulis Memaksa Diri”
By sawali tuhusetya on Jan 22, 2008 | Reply
jujur saja pak ersis, saya ndak pernah memaksa, dipaksa, atau terpaksa dalam menulis. semuanya serba otomatis, *halah* mengikuti geliat simpul2 imajinasi yang sering mengusik dan menggoda secara tiba2 untuk menulis.
***Jadi tulisan deh … makasih.
By mathematicse on Jan 22, 2008 | Reply
Horeeeeeee saya dapat bonus gara-gara dipaksa saya sendiri menulis….
Btw, bonusnya apa? Bisa kenal dengan banyak orang, kenal dengan banyak penulis, bisa berbagi (berbagi itu menyenangkan).
Bonus lainnya? Belum sepertinya… ntar deh saya nanntikan kedatangan bonus-bonus yang lainnya…
***Jadi tulisan deh … makasih ya.
By Ani on Jan 22, 2008 | Reply
Melakukan sesuatu termasuk menulis karena terpaksa, sungguh nggak enak.
Tetapi…kadang-kadang…dipaksa melakukan sesuatu itu juga asyik kok, suatu bentuk care dari yang memaksa kepada yang dipaksa, tergantung bagaimana caranya si pemaksa mengungkapkan paksaannya dan bagaimana caranya yang dipaksa menyikapinya *halaaaah ngomong apaan sih ini?*.
***Kadang-kadang lho, memaksa diri lebih asyiiiiiiiiik. Ngak percaya, coba.
By Mega on Jan 22, 2008 | Reply
Kalau menulis secara terpaksa kalau aku, pasti tidak akan menjadi tulisan…wong ini menulis diblog sehari2an aja yang secara semangat dan menggebu gebu,tetap juga ga jadi jadi tulisan yang bagus..apalagi kalau terpaksa ya..?
***Ya soal bagus atau tidak, kan soal penilaian, dan itu tergantung selera kog. Udah nulis aja terus Neng.
By Mega on Jan 22, 2008 | Reply
Barusan aku alan jalan kebilik orang..dan disana aku tertarik akan satu kaliamt sederhana sekali yang bunyinya: “Menulis Mencerahkan Diri Sendiri dan Mencerahkan Diri orang Lain”..
Nah si EWA.com ini dah termasuk yang paling Jitu ntuk hal yang diatas ..terbukti aku menulis diblgo dan semangat lagi karena Virus2nya yang setiap hari selalu berkembang biak hehe..salam boss
***Wow bagus, rada-rada mirip to dengan apa yang saya tulis. Kira-kira frekuensinya sama dong.
By edo on Jan 22, 2008 | Reply
tapi kl saya dipaksa untuk macari luna maya, sepertinya sulit untuk saya tolak bang… :p
By meiy on Jan 22, 2008 | Reply
kalau menulis dg senang, bonusnya juga kenyamanan hati, fresh
coba kalau ke dokter lagi stres, abis uang utk obat, obati saja dg menulis, gratis…
By esa on Jan 22, 2008 | Reply
heheh..sy baca yg terbaru dulu, jadi aja baru tau kata2 dsini. Setuju sama komentator-komentator.
*
Dan kadang ide menulis muncul setelah *atau saat* memberi komen seperti ini, sampe akhirnya komen sendiri di blog orang jadi tulisan di blog sendiri. Memaksa diri? Sebenernya menulis tuh dah paksaan diri, ga usah dipaksa-paksa lagi. Semua orang bakal suka nulis..nulis semua yang emang pengen ditulis *kaya sa
So..semua bener-bener otomatis seperti yang dikatakan responden (heheh) alias komentator pertama di tulisan ini.
Makasih, inspiring banget..
***Yoi, plese.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 22, 2008 | Reply
Ya, saya telah membiasakan nulis tiap hari, insyaALLAH saya nulis tiap hari lho. Amin.
***Alhamdulilah. Insya Allah Allah akan memberkati. Doa saya bersama usaha sampeyan.
By hanna on Jan 24, 2008 | Reply
Jangan menulis bila hati sedang tidak ingin menulis. Menulislah ketika hati sudah berkehendak dengan sepenuh hati dan jiwa. Ia akan mengalir dengan sendirinya.
***Ya itu satu cara sekaligus kesimpualn.
By Suci on Jan 26, 2008 | Reply
Hmmm…Menulis dan karena dipaksa (gw banget tuh), tapi, dulu….
Sekarang coba untuk terus memaksa diri sendiri…Paksa terus…terus paksa…tapi semoga jangan sampai terpaksa ajah…
By dwi jauri utami on Jan 26, 2008 | Reply
Iya sih..itu kan menurut yang berkecukupan
tapi kadang-kadang yang memang mata pencahariannya sbg penulis,modd or nggak mood tetap harus nulis biar bisa dapet sesuap nasi,walau harus memaksa kerja otak
***Mood atau apa pun istilahnya, ‘diciptakan’ bukan ditunggu. Jadi, buat saja mmod sesuka kita, kalau ditunggu kita tergantun ama die tu nulisnya, tergantung si mood.
By STR on Jan 27, 2008 | Reply
Selama itu adalah kebutuhan, tidak mengapa bila dipaksa. Tapi, yang menjengkelkan adalah sudah bukan kebutuhan, masih dipaksa-paksa juga.
***Ya, jangan mau euy … memaksa diri sendiri kebutuhan bukan?
By Anang on Jan 31, 2008 | Reply
pada awal belajar menulis kan juga sebuah pemaksaan untuk bisa menulis… kalau ditelateni maka irama pemaksaan itu akan luntur… karena otak sudah paham betul bagaimana sebuah keterpaksaan itu akhirnya menjadi sebuah kebiasaan… bisa karena biasa… yah seperti itu mungkin…
***Ya ya ketika awal menulis … menuju kemerdeaan menulis.