Menulis Gerbang Rizki
22 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
Menulislah … menyitir seperti termaktub dalam Al-Quran … akan kau dapatkan rizki dari sumber yang tak kau duga sebelumnya.
ALHAMDULILLAH. Horeeeee … saya dapat bonus. Kenal dengan banyak orang, dengan banyak penulis, berbagi hal-hal menyenangkan, menuangkan pikirin, menambah dan menabalkan ilmu, saling berliturahim, semakin percaya diri, dan sebagainya. Sesuatu yang didapat dalam waktu pendek, yang mungkin susah didapat dengan cara lain. Ya, bonus-bonus menulis membahagiakan. Hanya dari menulis menjadi orang kaya, sekalipun bukan kaya materi.
Sebagai penulis, saya tersenang dengan komen seorang teman bloger yang menangkap apa yang saya maksudkan dengan bonus menulis. Ada hal mendasar yang dikampanyekan, sekalipun kalau dipakai analisis logika (bahasa) kurang pas, menulis karena memang berkehendak menulis. Tak mengapalah.
Jika kita menulis karena ingin mendapatkan uang, misalnya, sekalipun sah dan halal, kalau tidak terealisir, kecewalah akibatnya. Kalau menulis diniatkan untuk menyakiti orang lain, sasaran cuek-cuek saja, kesal semakin bertambah. Manaka menulis agar populer, tulisan tidak dibaca orang, kecewa deh. Diskrapensi antara harapan dan kenyataan semakin menganga, dan balik menyerang diri.
Karena itu, menulislah karena memang ingin menulis. Lalu, apa ‘pendorong’ menulis dalam diri seseorang? Maaf, saat ini tidak membahasnya. Lho? Soalnya satu buku sedang dipersiapkan khusus membahas hal dimaksud.
Sebagai penulis, saya sering dapat bonus. Oi, saya lama pingin berjumpa Pak Ersis. Kalau makan dibayarkan, diminta jadi nara sumber, membeli buku didiskon. Bahkan, seperti saya tulis di buku Menulis Mari Menulis, ketika istri hamil dan perlu kontrol ke dokter, atau anak sakit, di Banjarbaru, kota saya, para dokter tidak mau dibayar. Pokoknya, banyak bonuslah. Bonus menulis.
Coba perhatikan blog saya. Ada teman menasihati, jangan terlalu sering memposting tulisan, susah mengikutinya; sering ketinggalan. Ya, itu katanya. Menurut saya lain lagi. Karena sering berkelana ke blog teman-teman, membaca buku, atau demi merespon hal-hal tertentu, ya menulis. Ada kepentingan pribadi dan ada kebutuhan orang lain.
Menulis, menulis, dan terus menulis. Meminjam kata-kata seorang bloger: Jujur saja Pak Ersis, saya ndak pernah memaksa, dipaksa, atau terpaksa dalam menulis. Semuanya serba otomatis, mengikuti geliat simpul-simpul imajinasi yang sering mengusik dan menggoda secara tiba-tiba untuk menulis.
Ya ya ya. Kawan yang satu ini sudah sampai di puncak gelora nafsu, e … maksudnya makrifat menulis. Saya membahasakan, refleks menulis. Kalau tingkatnya sudah demikian, ya itu tadi, menulis karena berkehendak menulis, memenuhi dorongan dari dalam diri. Pada tingkat paling sempurnah tidak memikirkan hal lain, selain menulis. Hal di luar itu, bonus.
Kalau menulis sudah fasih, tulisan sudah tangguh, yang ditulis bukanlah kesia-sian, maka pintu gerbang bonus, rizki, terkuak sudah. Tinggal bagaimana memenej dan atau memanfaatkan manakala sudah di samudera menulis. Menulis sekadar menjadi seleb di blog, misalnya, terserah. Mau jadi komentator tangguh di ratusan blog, ya monggo.
Semua itu soal pilihan. Kalau saya memilih sebagai pilahan buku. Menulis di blog, di media cetak, dan atau makalah untuk berbagai keperluan, untuk dijadikan buku. Ada memang strategi khusus, setiap tulisan, sekalipun tulisan lepas, selalu dari ancangan menuju tema-tema tertentu. Begitu sampai 20-30 tulisan, edit, jadilah buku.
Ada yang mengatakan, menulis di blog semacam diari dunia maya. Kata saya tidak. Apabila tulisan selesai, di publish, kalau dianggap pantas dikirim ke media cetak. Hampir tidak ada yang tidak dimuat. Kalau jadi buku, nyatanya laku.
Dengan kata lain, menulis mengantarkan kita ke kegerbang rizki. Percaya atau tidak itu urusan Sampeyan. Buktikan.
Tapi, kalau sudah mematok harga: Tulisan saya tidak pantas untuk jadi buku, hanya sekadar ‘meramaikan’ blog, ya sudah. Ntar, puluhan tahun ngeblog, ribuan tulisan dihasilkan, ya begitu-begitu saja. Bisa-bisa menutup gerbang bonus, gapura rizki yang tinggal seayunan langkah. Terserah. Merasa dan menjadi bloger hebat, juga bonus dan rizki kog.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 22 Januari 2008.









15 Responses to “Menulis Gerbang Rizki”
By Mega on Jan 22, 2008 | Reply
Ngantri pertamaa hehe
By Mega on Jan 22, 2008 | Reply
Wah hebat benar ini Tuan EWA…gara gara menyebarkan virus yang beracun kan menulis.. dimana mana jadi terkenal..sampe ke rs juga dikasih bonus yak..ngiriiiii akuuuu
Salam menulis..*lagi menggigil kedinginan..
By meiy on Jan 22, 2008 | Reply
siip pak, iya rizki kadang tak dalam bentuk materi, juga kemudahan-kemudahn krn menulis. alhamdulillah
By edo on Jan 22, 2008 | Reply
heheheh..
racunnya bang ersis emang dahsyat.
lanjut bang
By esa on Jan 22, 2008 | Reply
setuju pa ersis..
dan setuju juga sama<blockquote>Hanya dari menulis menjadi orang kaya, sekalipun bukan kaya materi.</blockquote>
Banyak sodara, banyak ilmu dan banyak pengalaman, semua yang tak bisa dibeli hanya denga uang saja. Semua yang bisa lebih bernilai dari sekadar materi. Heheh..
Sy mo nulis juga yang sy link ke postingan Pa ersis yang ini..
***Siiiiiiiiiiiiiiip.
By tok on Jan 22, 2008 | Reply
Hidup menulis…….. Hidup mas Ersis…. Sekali menulis, tetap menulis…….
***Hidup yang hidup … hidup menulis, menulis, dan menulis.
By mathematicse on Jan 22, 2008 | Reply
Menulis di blog, terus berkomentar di blog orang lain itu adalah salah satau bentuk silaturahmi.
Nah katanya gerbang rizki itu terbuka gara-gara silaturahmi. Betul kan?
By Rahmadona Fitria on Jan 22, 2008 | Reply
Assalamu’alaikum.
Iya, benar sekali.
Dengan menulis memang bisa mendapatkan apa yang selama ini tidak pernah kita duga sebelumnya, bisa tercapai. Rizky tak disangka-sangka.
***Amin. Amin.
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 22, 2008 | Reply
Mantap banar, pak. Saya sepakat sekali. Memang menulis tuh merupakan gerbang Rizki dari ALLAH SWT, saya pernah merasakannya itu, bahkan sering setiap kali menulis dan jadi tulisan, ya pasti ada rezky dr ALLAH SWT, pasti itu,pak. Pasti.
Wassalamu
By noorlatifah on Jan 22, 2008 | Reply
Luar biasa, selain gerbang rezeki rasa ada kepuasan tersendiri bagi sang penulis. Betukkan Pa?
***Yoi.
By M Shodiq Mustika on Jan 23, 2008 | Reply
Menulis = mengubah takdir (termasuk takdir rezeki).
NB: Pak Ersis, dua email saya yang terakhir belum dibalas Pak Ersis. Belum sempat, ya, Pak?
***Ntar dilihat deh … biasanya nunggu sampai seribu he he
By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 23, 2008 | Reply
Iya, benar. Semoga gerbang rizky kita semakin banyak dengan menulis dan menulis. semoga, amin.
***Ya ya ya, di ujung usaha selalu ada rizki.
By unai on Jan 23, 2008 | Reply
Menulis mengantar kita ke gerbang rizki…betul sekali pak.
***Tapi, jangan samapi kelebihan gizi gara-gara rizki he he
By Suci on Jan 26, 2008 | Reply
Kdang saya berpikir seperti ini, Pak: saya sendiri merasakan bahwa banyak hal menyenangkan, termasuk rejeki, setelah saya menseriusi bidang tulis menulis. Padahal kita tidak perlu bercapek-capek di bawah panas siang, tidak perlu menghabiskan tenaga yang banyak. Cukup duduk kemudian mengetik tuts komputer atau memainkan pena di atas kertas, secara tidak langsung kita sudah mengundang banyak manfaat dari menulis. Otak kita terasah, pikiran menjadi lebih tenang, jiwa menjadi lebih bijaksana, pribadi menjadi pribadi yang lebih terpelajar,bahkan seperti poin artikel di atas, pintu rejeki juga InsyaAllah terbuka untuk kita yang berusaha. Begitu berharganya memanfaatkan waktu untuk menulis.
By Anang on Jan 31, 2008 | Reply
weeww… menulis itu harus ikhlas juga rupanya… ga boleh pamrih ya.. kekekeke… tapi yang pasti menulis kan untuk menumpahkan perasaan atau segala sesuatu yang bergolak di neuron ruang gelap di otak kita… sebagai pelampiasan hasrat… tapi kadang wajar menulis butuh suatu pengakuan… hihi.. manusiawi banget lah…
***Ya selain menulis … dampak, dapar rizki ya Alhamdulillah.