Menulis itu Memahami

21 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Banyak hal yang tidak kita sukai, adakalanya hal tersebut sangat bermanfaat. Begitu juga menulis. Pahami sebagai proses positif.

PEMBELAJARAN. Perhatikan kegundahan sekaligus ‘jalan ke luar’ seorang sahabat bloger berikut: “Kalau disodori buku manajemen keuangan oleh dosen, saya akan muak. Tapi, kalau ada buku manajemen pengetahuan disembunyikan, saya akan mencarinya. Menurut saya, kemalasan para mahasiswa/siswa untuk belajar banyak disebabkan unsur pemaksaan atas materi yang hendak dipelajari. Pendidikan tidak lagi membebaskan. Kurikulum justru jadi penjara paling sistematis.
 
Bulu kuduk berdiri, pengalaman puluhan tahun hadir, kegeraman mampir, keprihatinan tiada tara menyeruak, membaca kalimat: Pendidikan tidak lagi membebaskan. Kurikulum justru jadi penjara paling sistematis.
 
Ya, saya memahami apa yang dia tulis. Saya adalah korban diantara jutaan peserta didik, di tangan guru-guru dungu. Pendidikan tidak lagi membebaskan. Kurikulum justru jadi penjara paling sistematis. Mengerikan.
 
Tapi, itu dulu. Kini sudah terbebas. Kini dapat memamahi, tidak lagi mengeluh. Jalan ke luar sudah didapat. Ternyata, semua itu adalah proses dalam bentangan jalan agar kita memahami, memahami apa yang ada dan terjadi untuk mengambil manfaat guna melakukan hal-hal yang benar.
 
Saya teringat ketika tahun 1978 ‘diwajibkan’ mengikuti pelatihan militer, sebagai anggota Resimen Mahasiswa angkatan pertama. Sebagai penerima beasiswa di IKIP Padang, tidak mampu menolak. Dongkol. Ada satu hal yang saya dan teman-teman pertahankan, tidak mau rambut gondrong dipotong. Melihat foto-foto puluhan tahun lalu, ketawa geli, memakai seragam tentara berambut gondrong menyandang senjata Cheko tanpa peluru, he … he … Namun, bisa bongkar-pasang dengan mata ditutup, juga pistol FN.
 
Indah dikenang. Minum air mentah sungai memakai topi baja bau, long march ala Mao dari Kayu tanam ke Padang, ih … tak terpikirkan. Saya ingin berjumpa guru-guru militer yang mengajarkan disiplin tiada tara, tapi sampai hari ini tidak kesampaian. Akhirnya, sampai pada satu kesimpulan: kesemua itu adalah proses kehidupan yang harus dijalani. Kini memahami, dan … bersyukur.
 
Bukan sombong atau pun sok, semoga Allah SWT memaafkan. Saya termasuk orang yang suka protes kepada guru-guru lamban, yang membelenggu kebebasan belajar. Saya yang tidak suka mencatat, sampai hari ini sangat jarang membawa pulpen, apalagi mencatat di buku pelajaran, selalu saja dapat masalah. Kira-kira, itulah yang menjadikan sebagai ‘pemberontak’. Tapi, dulu.
 
Kini, bisa memahami. Itu proses. Rupanya proses membentuk kepribadian, menata diri, sabar, sembari mengambil hikmah-hikmah. Proses pelatihan (dalam pembelajaran) diperlukan. Masalahnya, setelah menjadi guru, dosen, perlu rupanya inovasi agar jangan lagi korban-korban kedunguan guru bertebaran.
 
Apalagi dalam kaitan menulis. Mungkin, pergelutan ambilan pengalaman tersebutlah yang melahirkan patokan; tulis, tulis, dan tulis. Menulis itu adalah latihan itu sendiri, belajar, pembelajaran, Menulis Tanpa Berguru.
 
Formula tersebut nampaknya sebagai antitesis yang ternyata bermanfaat. Saya membuktikan dan banyak teman-teman telah membuktikan. Hal itu merupakan solusi ‘pemaksaan dari guru’. Kini ‘paksa’ diri masing-masing manakala mau menulis. Dalam kalimat lebih bersahabat, Menulis Tanpa Berguru. Belajari diri sendiri, gurui diri sendiri.
 
Sekalipun demikian, tetap saja pelatihan —dari, oleh, dan buat diri sendiri — diperlukan, dan penting. Hanya saja, satu hal paling ‘dibenci’, dipaksa orang lain tidak ada lagi. Wong oleh diri sendiri.
 
Pada dataran demikian, kita jadi merdeka belajar, merdeka menulis, pembelajaran sesunguhnya. Kalau sudah begitu, apa pun —apalagi hanya menulis— kitalah yang menentukan. Mau bagarah-garah (main-main), serius, memilih menulis sapi atau mutiara, soal micro atau macro organism, tentang quark core atau local genius, menimbang Suharto atau Rasulullah, ya terserah kita. Asyik kan?
 
Jadi, menulis itu memahami. Memahami diri, memahami lingkungan, sampai nun jauh entah dimana atau dekat sedekat-dekatnya, tentang Sang Maha Pencipta.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 21 Septemebr 2007.

  1. 13 Responses to “Menulis itu Memahami”

  2. By Mega on Jan 21, 2008 | Reply

    <p>masih berlaku yg pertamak ga ni…</p>

    ***Apa itu pertamax … ngak kenal ah

  3. By Mega on Jan 21, 2008 | Reply

    memang setelah kita menulis dan mebaca ulang,,akan tau diri sendiri itu..jadi dengan menulis,,kita juga bisa menilai diri sendiri ya..

    Bantu aku menulis..hehe

    ***Itulah makrifat menulis. Selamat.

  4. By hanna on Jan 21, 2008 | Reply

    Menulis adalah proses pembelajaran diri. Ya, menulis itu memang butuh banyak latihan sambil menyantap gizi-gizi dari buku, lingkungan, atau apapun yang bergizi untuk dilahap. :mrgreen:

    ***Ya ya, ssiiiiipppp. Asal jangan kalau membaca melalahap semua buku ntar bukunya habis, rugi kita. Nah, nutrisi dari membaca itu kita jadikan energi menulis dengan melatih, melakukan. Menulis, menulis, dan menulis.

  5. By STR on Jan 21, 2008 | Reply

    Jadi, keterpenjaraan saat ini akan ada hikmahnya nanti?

    Saya bukan menolak sebuah proses, Pak … Tapi, yang ingin saya dapatkan adalah proses yang alamiah, tanpa satupun paksaan. Kalaupun ada unsur paksaan, biarlah kita yang memaksa diri kita sendiri, sebagai akibat kita sudah jatuh cinta pada satu proses yang memang cocok untuk diri kita.

    ***Sip … yang penting ‘memaksa diri’ perlu kepintaran, strategi, dan komitmen. Itu urusan kita dengan diri kita, kalau beres semua itu jadi mudah. Saya benci dipaksa-paksa, kalau maksa diri siapa yang larang he he

  6. By meiy on Jan 21, 2008 | Reply

    hmmm…filsafatnya dalam pak, memahami diri, lingkungan, Sang Pencipta.

    tapi saya kepikiran kata2 ini:

    “kurikulum justru jadi penjara paling sistematis.”

    bulan lalu saya bertemu guru-guru di Desa Tangkahan (Kab, Langkat, Sumut), mereka mengeluhkan hal yg hampir mirip dg ini, kurikulum selama ini memenjara mereka, membuat guru-guru jadi kurang kreatif. saya sendiri, jujur saja masih dalam tahap awal belajar ilmu pendidikan. wuah malu kalau ketahuan pak ersis, sampi dimana ilmunya hehe. perlu belajar byk nih dr Pak EWA.

    hanya saya senang mereka ‘haus’ ilmu-ilmu baru walau tak ada di dalam kurikulum yg mesti mereka ajarkan… Mereka minta kita tak berhenti memberikan ‘pelajaran’ pada mereka, mrk akan terima apa saja, asal bermanfaat.

    ***Ha ha ha … itu lagu lama, dan pertempuran antara ‘ahli pendidikan’ dan para ‘pengambil kebijakan’ yang merasa lebih paham tentang pendidikan. Intinya, selama pendidikan itu dikelola sper saat sekarang, selama itu akan begini-begini saja. Apa pun, alasannya. Ada hadis Rasulullah: Manakalh pekerjaan dikerjakan oleh yang bukan ahlinya, tunggulah kehancuran. Yah di negara kita, siapa saja kan bisa merasa ahli dan jdi pendidikan, he he he. Terima aja kenyataan, kalau didebat malahan makin ruwet to. Jadi, berbuat saja yang terbaik.

  7. By Ahmad Nur Irsan Finazli on Jan 21, 2008 | Reply

    Sepertinya saya dah ketinggalan kereta, jauh nih.
    Doakan saya bisa mengikuti program akselerasi, ya…
    Makasih…

    ***Yoi. Amin.

  8. By Aha on Jan 21, 2008 | Reply

    Adakalanya menulis membuat kita sulit dipahami oleh orang lain, dalam artian tulisan tersebut memuat jalan pikiran kita, yang tentu adakalanya sering bertabrakan dengan asumsi yang ada di kepala orang lain tersebut….Bapak tentunya pernah mengalami hal itu kan…???

  9. By mathematicse on Jan 21, 2008 | Reply

    Ya, yang bisa menggerakakna diri kita untuk belajar atau pun menulis atau pekerjaan apapun adalah motivasi dari diri sendiri. Nah, tinggal bagaimana melecut motivasi itu agar muncul dan menggerakkan. Sedangkan motivasi dari luar adalah untuk mendukung, membacking motivasi dari dalam diri.

    Tapi, dalam kaitannya dengan menulis, belajar dari orang lain pun sangat bagus. Dengan belajar dari orang lain, kita bisa lebih cepat berkemabng, lebih cepat maju ketimbang mengandalkan kemampuan diri. Dengan hanya belajar sendiri, kita butuh waktu yang relatif lama ketimbang bila kita belajar dari orang lain.

    Kalau cuma belajar mengandalkan diri sendiri, untuk memahami satu hal sepele bisa jadi butuh waktu lama (berhari-hari atau berbulan-bulan), padahal kalau belajar lewat orang lain, bisa lebih cepat (paling beberapa menit, atau bahkan detik). :D

    Jadi baiknya, menulis itu harus dimotivasi oleh diri sendiri perlu juga belajar dari orang lain. Biar lebih maju, lebih hebat… (katanya sih begitu… )

  10. By Suci on Jan 21, 2008 | Reply

    Pada hal apapun, yang namanya dipaksa sudah pasti merupakan hal yang paling tidak diinginkan. Dipaksa belajar, dipaksa membaca, dipaksa menulis. semua jadi serba tidak nyaman.

    Tapi, merunut dari pengalaman sendiri, benar juga bahwa semua merupakan sebuah proses. Proses untuk memahami. Ketika,semasa sekolah saya merasa sangat kesal karena selalu dipaksa untuk belajar sejarah atu sains. kini, setelah lebih dewasa, saya merasa apa yang telah guru-guru “paksakan” dulu tak lebih untuk diri saya sendiri.

    Tapi, paksaan paling baik adalah datang dari diri sendiri. Dan sayangnya, bagimana memunculkan “paksaan” dari diri sendiri itulah yang jarang berusaha dimunculkan oleh guru-guru semasa sekolah dulu. sehingga murid hanya memahaminya sebatas sebuah “paksaan”, titik.

    Seperti pengalaman menulis saya dulu, dipaksa tapi kemudian mulai bisa untuk memaksa diri sendiri. Tentunya apa yang saya maksud dengan dipaksa disini adalah disertai tahap dimotivasi dan “dikompor-komporin”. Mungkin itu yang tertinggal dari guru-guru semasa sekolah. Jadi, yang dirasa muridnya hanyalah sebatas sebuah proses “dipaksa” sehingga tak beranjak untuk melangkah ke tahap “memaksa” diri sendiri.

  11. By SQ on Jan 21, 2008 | Reply

    Ya, saya kira bukan hanya menulis, tapi segala hal dalam hidup dapat menjadi guru.

    Dalam satu contoh seperti diatas, menulis menjadi semakin baik karena ada yang buruk, yang buruk-buruk menjadi guru. Hal buruk = hal baik, maka oleh itu, mungkin bukti dari satu istilah pak? : tidak ada hal yang buruk di dunia kecuali hal baik yang diciptakan untuk manusia.

    Bedanya mungkin ya, tergantung cara memaknai, tidak semua orang bisa menganggap buruk=baik. segitu dulu bos :-)

  12. By gempur on Jan 21, 2008 | Reply

    Sepakat, menulis memang pengalaman luar biasa yang dulu mungkin barang antik dan bagi saya itu suatu kesulitan yang luar biasa.. dan kini menulis seperti candu..

    Perlu proses dan waktu untuk menentukan kualitas kepenulisan sampai di mana posisi kita dalam menulis..

  13. By esa on Jan 22, 2008 | Reply

    yang paling saya suka dari tulisan bapak adalah kata-kata yang membuat orang leave a comment, seolah mengajak diskusi *ato emang bener?*
    kata-kata
    <blockquote>Jadi, menulis itu memahami. Memahami diri, memahami lingkungan, sampai nun jauh entah dimana atau dekat sedekat-dekatnya, tentang Sang Maha Pencipta.</blockquote>
    Rada bikin mikir juga. Terutama kata-kata memahami nya itu. sesuai sama judulnya, ya benar..menulis itu memang memahami, dan dari memahami itulah muncul ide-ide dan muncullah tulisan-tulisan seperti ini.
    Salut buat Pak Ersis.
    Soal jadi guru..ternyata ngajar orang *jadi guru* itu ga gampang. Makanya “seburuk” apapun seorang guru, sa jadi selalu berteruma kasih, karena ternyata sa sendiri masih merasa kesulitan tentang itu :P

    ***Ya ya ya. Memahami … dalam ya makna dan sebarnnya.

  1. 1 Trackback(s)

  2. Feb 27, 2008: Lakukanlah Edwar « Alam Takambang Jadi Guru

Post a Comment