Menulis Itu Belajar

21 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Kejaiban menulis yang berharga tanpa batas adalah belajar; belajar dari menulis, dari apa yang ditulis, dan akan ditulis.

BELAJAR. Kalau ada pertanyaan tentang belajar, tepatnya pembelajaran diri, kiranya tidak salah jawabannya, menulis. Ah, aya-aya wae. Betapa tidak. Misal, tulis kata ‘praktek’, lalu cek di kamus, ternyata, praktik. Dengan menulis satu kata, lalu dicek di kamus, kita dapat yang benar. Bukankah itu belajar? Kalau proses itu terus bergulir, tetap bebal menulis ‘praktek’ itu baru salah, tidak mau belajar, tida mampu belajar, alias bodoh. Membodhi diri sendiri.
 
Atau yang agak serius, kalau Muslim, misalnya saya tanya: “Sampeyan sembahyang apa ngak?”. Tentu dijawab, ya iyalah. Kalau dilanjutkan, ngak usah sembahyang, ngak ada gunanya. Sia-sia. Bisa jadi melempari saya dengan asbak rokok.

Sekalipun demikian, beberapa tahun lalu, saya suka menulis kata sembayang. Entah dari mana datangnya, tiba-tiba di pikiran muncul ‘teguran’, jangan tulis kata itu. Lalu? Tulis salat (shalat, sholat). Pikiran mendebat, apa bedanya? Ya bedalah, kosakata sholat jelas termaktub dalam Al-Quran dan Hadis Rasulullah. Sembahyang?
 
Secara etimologis, konon, berari: menyembah Yang, menyembah Dewa. Ah tanpa menelusuri asal muasalnya, dapat dipahami, secara kultural sebagai masyarakat Indonesia (Muslim) ‘wajar’ saja karena dulunya nenek-moyang menganut agama yang mengenal sembahyang. Warisan historis tersebut tetap dipakai, sekalipun kita Muslim.
 
Saya tak hendak mengatakan, itu salah kaprah. Namun, ketika kita salat kan ngak pernah pakai kata-kata sembahyang. Ya apa tidak lebih afdol mengikuti apa yang diajarkan Al-Quran dan Hadis Rasulullah? Kalau diperdebatkan, bisa mengakibatkan pertengkaran atau hal-hal buruk lannya. Kalau salat, begitu ditulis, begitu diucapkan klir. Tanpa ikutan negatif.
 
Itu baru tentang kosakata. Dengan menulisnya kita (semakin) belajar lebih mendalam. Bagaimanapun kata mengandung konsep. Kita mempelajari makna dibalik konsepnya secara tepat. Dijamin deh, tidak akan ada praktik perintah dosen atau guru dungu: tanda tangani absensi. Bagaimana menandatangani absensi, pertanda orang mangkir, ditandatangani oleh orang yang hadir. Tidak logis. Seharusnya, presensi.
 
Karena itulah, kepada yang sharing menulis, saya katakan, tulis, tulis, dan tulis. Jangan takut salah. Justru dengan menulis, dengan salah tersebut kita belajar benar. Bagaimana belajar benar kalau tidak tahu mana yang salah, kecuali dalam tataran teori. Menulis itu kan pratikal. Salah, jalan menuju benar. Kalau salah melulu, selalu mengulang kesalahan yang sama, itu bodoh namanya. Kalau demikian, tidak usah menulis. Menulis bukan untuk orang bodoh.
 
Dengan kata lain, logika konvensional menulis, mari dibalik. Belajar dulu, baru menulis. Kini, kibarkan gaya baru, menulis sembari belajar. Belajar dari pengalaman langsung, dari apa yang dilakukan. Dus, menulis itu pembelajaran.
 
Lagi, pula kalau punya ilmu bergudang-gudang (eman benda) tidak ditulis, ya bikin kepala ‘penuh’. Kalau tidak dikeluarkan, bisa ‘meledak’. Betapa banyaknya orang berpengetahuan, bodoh menulis. Kata Rasulullah: Ikatlah ilmu dengan menulisnya.
 
Pada tingkat lebih serius, kalau menulis sudah menjadi kebutuhan, bila bermaksud menulis sesuatu secara mendalam, kita akan terpacu untuk membaca, belajar. Kalau dulu ditancapkan di botak kepala, membaca, menuntut ilmu (emang apa salah ilmu kog sampai dituntut) doang, dengan menulis justru otomatis membaca dengan sendirinya.
 
Minimal, dengan menulis membelajarkan diri. Kalau mau meningkatkan kualitas tulisan, bukankah dengan membaca yang tersurat dan tersirat, membaca hal-hal berkualitis atau bermuatan kualitas, tulisan akan lebih berkualitas?
 
Belive it or not, buktikan sendiri.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 21 Septemebr 2007.

  1. 10 Responses to “Menulis Itu Belajar”

  2. By mathematicse on Jan 21, 2008 | Reply

    Pertamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaax. :D

  3. By mathematicse on Jan 21, 2008 | Reply

    Saya sangat terpesona dengan yang dikatakan Rasul (hadist ya?): “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.”

    Dan perkataan rasul (hadist) ini benar! Bila kita menuliskan apa-apa yang kita pelajari, apa-apa yang sudah kita mengerti, maka dia akan terus melekat dalam diri kita. Ilmu akan terikat dalam diri ini. Pantas saja dikatakan ilmu itu diikat dengan menulis.

    Betul! Ketika menulis, sebetulnya kita juga belajar. Apa saja? Belajar menggunakan kata yang tepat. Belajar membuat kalimat yang dapat dimengerti orang lain. Belajar menyampaikan ilmu yang kita pahami lewat kata dan kalimat yang kita buat. Jadi, dalam menulis, sekaligus kita belajar. Tak hanya bidang garapan kita, juga bahasa.

    Pokoknya menulis itu salah satu cara ampuh membelajarkan diri! :D

    ***Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” .Ya ya hadis harus itu kita jadikan pemotivasi agar menulis, menulis, dan terus menulis.

  4. By sawali tuhusetya on Jan 21, 2008 | Reply

    sepakat, pak ersis, menulis, menulis, dan menulis, itulah resep jitu utk mengembangkan potensi menulis sebagaimana yang dinasihatkan almarhum pramudya ananta tour.

    ***SEpakat, sungguh sepakat.

  5. By meiy on Jan 21, 2008 | Reply

    betul sekali pak, dulu saya sering ditanya teman atau anak-anak yg saya ajari bahasa Inggris, bagaimana bisa belajar Bahasa Inggris dengan cepat, saya bilang dengan menulis! Dengan menulis kita akan belajar banyak hal, tata bahasa, kosa kata, pilihan kata, ilmu yg akan disampaikan dsb. Jadi bukan dengan conversation, itu ke dua bagi saya.

    kalau kita bisa menulis, pasti bisa bicara jika diperlukan.

    ***Minimal itu satu cara efektif.

  6. By Mega on Jan 21, 2008 | Reply

    Hmm..Dulu semasa sekolah juga sering diajarkan begitu,,jangan suka melafalkan kata SEMBAHYANG ntuk Shalat..
    yg benarnya gimana sih itu..?..

    ***Siip tinggal diparktikkan to

  7. By Suci on Jan 21, 2008 | Reply

    Kalau begitu, saya boleh bersyukur nih, Pak. sedari kecil sudah dibiasakan menggunakan kata shalat. he..

    Ikatlah ilmu dengan menlisnya. Ya, saya pribadi pernah merasakannya. Seperti ketika saya banyak mengajar privat bahasa Ingris. Umumnya permasalahan murid saya adalah sulitnya memahami aturan tensis yang kata mereka menjelimet. padahal saya sendiri pun terkadang khilaf dengan aturan tensisi itu, he..

    Sampai satu ketika, dimana saya merasa “desperate” mengajar tensis secara lisan tanpa hasil yang memuaskan, terpetiklah ide: “Kenapa tidak menuliskannya dengan cara sendiri”. maka, saya tulis semua aturan tensis yang diperlukan beserta verb dari satu sampai tiga yang sering digunakan. Bentuknya pun saya buat sesederhana mungkin hingga mudah dimengerti.

    Akhirnya, membuahkan hasil. Tulisan yang saya tulis membuat mereka lebih mudah paham bahkan digunakan oleh teman-teman sekelasnya. Yang lebih menyenangkan, dengan menuliskan tensis dengan cara sendiri, khilaf dalam menggunakan tensis juga dapat terkurangi.

    Karenanya, memang benar: ikatlah ilmu dengan menuliskannya. Itu contoh nyat yang saya pernah alami. :)

  8. By SQ on Jan 21, 2008 | Reply

    menurut saya yang terpenting, saling bertautan semua pak? keberanian menghadapi kesalahan sehingga menghadirkan pemahaman, memaknai kesalahan itu mungkin ya, lebih tepatnya terus menerus belajar.

    saya punya contoh lain mungkin pak? sesuai sesuatu yang saya kenal, menulis sama halnya seperti belajar bahasa inggris. kebanyakannya yang pertama kali dipelajari adalah teori, hingga yang hadir, ketakutan melanggar teori.

    banyak yang takut menggunakan (tutur) bahasa inggris karena takut salah, padahal sudah banyak yang mengolok-olok. begitu juga seperti menulis, gara takut salah. jadi… :-0

  9. By atah on Jan 21, 2008 | Reply

    aku sadari banget manfaat menulis…
    makanya, aku lebih suka membaca dan menulis ketimbang nongkrongin bangku kuliah…
    hehehe

  10. By esa on Jan 22, 2008 | Reply

    saya baru tau, Ikatlah ilmu dengan menulis itu kata-kata Rasululloh saw. Sy pikir bukan, jadi di blog sy pake kata-kata “meminjam istilah Andrea Hirata”.. Heheh
    Menulis itu belajar,,bener banget. Klo mo nulis harus nyari referensi tentang yang akan ditulis. Dan mau ga mau referensi itu kita baca.
    Menulis dan Membaca adalah saudara kembar, bukan hierarki atau tingkatan. Ga ada nulis dulu baru baca, atau sebaliknya. Yang ada, menulis sambil membaca, membaca sambil menulis. Jangan dibayangin pekerjaannya bareng tapi maksudnya adalah, semua itu harus dilakukan bersamaan..bersamaan bukan berarti pada saat yang sama membaca dan menulis karena itu tidak mungkin.
    Tapi sy bukan tipe orang yang senang mencatat sejak dulu. Klopun mencatat, pasti berantakan, makanya ga kepake sama temen-temen. Gpp yang penting sy ngerti, itu kata-kata sy dulu. Tapi itu dulu, sekarang saya senang menuliskan apapun ilmu yang sy dapet, karena dengan itu ilmu terikat, melekat. Sehingga ketika kita lupa, ada “bekas”nya di buku catatan.
    Great!!!

    ***Siiip mari sama-sama kita ambil hal-hal positip. Ilmu iti bisa datang dari mana-mana, sebab asal muasalnya memang dari Sang Maha Pencipta.

  11. By Anang on Jan 31, 2008 | Reply

    yup learning by doing…

    ***yeas, itulah belajar sesungguhnya.

Post a Comment