Menulis Itu Ibadah

20 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

Menulis, pada pilahan positifnya adalah ladang ibadah; memberi, berbagi, dakwah, petuah, sampai pencerahan.

IBADAH. Kalau pada bab terdahulu tergambar betapa pilar-pilar menulis yang seharusnya dipancangkan mereka yang patut jauh dari harapan, pada bab ini dipapar pemahaman, bagaimana ‘pelit’ menulis direnggut dari dalam diri. Sangatlah mustahil menulis menjadi sesuatu menyenangkan, kalau filsafat menulis tidak didudukkan pada ranah memberi. Menulis, karena itu, bukan saja katarsis, tetapi berguna bagi orang lain, pembaca. Menulis, idealnya, untuk diri sendiri dan sesama.
 
Entah kenapa, mungkin akibat pindaian sadar bodoh saja, keinginan membaca menjadi-jadi. Ironisnya, semakin membaca, semakin sadar betapa bodohnya diri ini. Pada suatu perenungan, terlintas: Kalau membaca terus, berarti mengambil energi —entah dari mana— dan ketika terkumpul di kuala pikir, menandem lubuk rasa, medukung bentukan kepribadian, bukankah hanya menyalurkan nafsu-nafsu serakah diri? Hanya mengambil, tidak berbagi, tidak memberi. Puncaknya memaki diri, dasar egois.
 
Mula-mula mengaca diri: Menulis? Emang lo siapa? Pantaskah sudah menulis? Gimana kalau salah? Gimana kalau dihajar orang? Gimana kalau dikatatan sok tahu? Gimana? Gimana? Semua pertanyaan, dalam pikiran, bermuara pada: Nanti-nanti saja. Belajarlah  dulu ini-itu. Ujung-ujungnya, tidak menulis.
 
Alhamdulillah, entah datang dari mana, seolah-olah ada bisikan langsung ke lubuk hati: Tulis saja. Paling-paling salah, kalau salah perbaiki. Belajar lagi, nulis lagi, lama-lama akan bagus kog. Mahasuci Allah SWT, menulis menjadi begitu lancar. Ada ketika, tanpa ‘berpikir’, … mengalir begitu saja. Asal ada pemantik, dalam hitungan menit, jadilah.
 
Tapi, ya itu tadi. Bukan tulisan hebat, bukan tulisan berbobot, bukan yang mantap. Pokoknya bukan yang sempurna seperti ‘dituntut’ teori atau didengungkan kritikus. Tulisan seadanya.
 
Ya, tulisan ala kadarnya. Plessss. E … kog ya ada saja orang yang nanggap, merespon. Lebih takjub, puluhan orang terinspirasi, termotivasi, mengambil manfaat dari tulisan-tulisan saya. Tulisan tidak bermutu saja bermanfaat. Makin bersemangat deh kitorang. Tulis, tulis, dan terus tulis. Buku tentang menulis saja, sudah 7 dalam bentuk draft.
 
Sungguh luar biasa. Saya juga tidak tahu, kenapa ketika banyak orang bersliturahim mengatakan: Terima Kasih Pak. Buku Anda —Menulis Sangat Mudah— sungguh menginspirasi, membangkit kesadaran yang terlelap, dan bla-bla. Tiba-tiba, munul kesadaran; inilah sarana berbagi, berbagi dari apa yang diambil dari ‘membaca’.
 
Sejak lama, nampaknya telah terjerembab menjadi orang yang merasa selalu kekurangan. Kurang ilmulah, kurang pede berbagi karena diri merasa miskin, kekurangan, seolah-olah tidak ada yang pantas dibagi. Mungkin, karena kebanyakan masukan pikiran-pikiran kapitalis; segala sesuatu diukur dengan kebendaan. Kini, dapat merasa menjadi orang kaya; walaupun bukan karya harta.
 
Bayangkan, punya sedikit kemampuan menulis, dapat berbagi. Kalau pikran kolot yang dipakai, sekalipun Doktor, kalau merasa kurang terus, yah kapan mau berbagi. Ini orang konyol berpengetahuan sekadarnya saya, bisa berbagi. Apa tidak hebat?
 
Saudara-saudara sekalian, apa yang ditulis tersebut bisa jadi sangat sederhana, tetapi tidak untuk pemicu kesadaran dan semangat. Ketika merasa kaya —kaya yang tidak riya dan sombong— bisa berbagi, menyelinap suntikan baru: Jadikan menulis sebagai ibadah. Ini yang luar biasa.
 
Jadi, kita boleh saja miskin materi atau jabatan, pangkat atau capaian akademis, namun bisa ‘kaya’ dan mampu berbagai. Ya, dengan sedikit kemampuan, langsung membaginya. Mudah-mudahan menjadi ibadah.
 
Mudah-mudahan Allah SWT merestui, menulis bukan saja baik untuk belajar, untuk katarsis dan kebaikan diri, tetapi juga bermanfaat bagi sesama. Moga saja.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 19 Septemebr 2007.

  1. 11 Responses to “Menulis Itu Ibadah”

  2. By noorlatifah on Jan 20, 2008 | Reply

    Ulun setuju dengan pendapat pian, jujur saja pa dikepala banyak sekali hal yang ingin diceritakan, tapi bila mau dituangkan dalam bentuk tulisan susaaaaaaaaah sekali. Yah paling dapat beberapa kalimat dah habis kandas gak bisa dilanjutin gak tau hilang kemana semua yang ada di kepala tadi.

    ***Itu soal proses, nulis terus yang dialami, dan … ces ces jadi tulisan bagus.

  3. By jimmy on Jan 20, 2008 | Reply

    setuju pak! saya juga senang berbagi ilmu di beberapa blog saya, meskipun saya bukan ahli, dan ilmu saya masih sangat sedikit. tapi dengan menulis untuk berbagi ilmu, anehnya saya merasa ilmu saya sendiri juga meningkat.

    saya sangat percaya bahwa kita harus memberi dulu baru menerima, bukan menerima dulu baru memberi..

    ***Ya memberi dulu baru menerima. Kalau kita mempraktikkan ajaran rasululah, akan datang rizki dari sumber yang tak terduga.

  4. By Mega on Jan 20, 2008 | Reply

    AMin..semoga orang2 selalu senang dengan apa yang dipamerkan di EWA ini..tentang menulis dan MARI MENULIS,,, tidak bosan2nya mengajak dan himbau para bloger NTUK MENULIS..
    aKU PRIBADI JADI IKUT TERGUGAH..dan hanya bisa ucapan..salute dan arigato

    ***Aha … ntar coba di Bulan Desember tulisan Sampeyan sudah 60 tulisan … tahu-tahu Allah SWT Yang Maha tahu mengirim editor … jadi deh buku bagus. Amin.

  5. By mathematicse on Jan 21, 2008 | Reply

    Setuju! Menulis adalah ibadah. Apa yang kita tahu, bila kita langsung bagikan pada orang lain, maka ilmu/pengetahuan “lain” akan datang.

    Menulis juga dikatakan ibadah karena bernilai dakwah. Bukankah dalam ajaran agama kita (islam), kita wajib menyampaikan suatu ilmu/kebajikan walau satu ayat?

    Karenanya menulis sebagai bentuk berbagi, dan meyampaiakan sesuatu kebajikan adalah ibadah.

    Iya, sih kalau kita menurutkan ego: kita ini selalu kurang. Kurang pengetahuanlah, kurang PD-lah, dst. Padahal kita kan punya kekurangan (tidaklah perfect). Dari situ saja harusnya kita sudah bisa berfikir…, :D

    ***Yap makaih atas dukungannya. Jadilah orang-orang PD. SEmoga.

  6. By unai on Jan 21, 2008 | Reply

    Menulis itu membagi ilmu, membagi pengetahuan…dan membaca itu penting

    ***Ya ya, itu intinya.

  7. By meiy on Jan 21, 2008 | Reply

    ilmu yg bermanfaat, itu yg penting ya pak, seberapa besar gak usah dipikirkan, yg penting nambah ilmu terus, n kalau bisa berbagi :D

    soal semakin membaca semakin merasa bodoh kok sama ya kaya saya pak, jadi inget tulisan ini http://putirenobaiak.blogspot.com/2007/09/hal-hal-menggairahkan_11.html#comments

    ***Ya ya ya

  8. By Mega on Jan 21, 2008 | Reply

    ***Aha … ntar coba di Bulan Desember tulisan Sampeyan sudah 60 tulisan … tahu-tahu Allah SWT Yang Maha tahu mengirim editor … jadi deh buku bagus. Amin.

    ____Wow..Apa bisa begitu..?..Blon yakin dan PD deh aku..

  9. By Suci on Jan 21, 2008 | Reply

    Menulis untuk berbagi. Seringkali saya terinspirasi dari membaca sebuah tulisan. kemudian, dari membaca itulah saya langsung mendapat ilmu berharga. Jadi, memang benar kalau dikatakan menulis merupakan ladang untuk berbagi dan beribadah.

    Membagi ilmu yang bermanfaat termasuk amal yang mulia di mata Allah SWT. dan melalui tulisan, beribu-ribu ilmu bermanfaat bisa dibagikan kepada banyak orang. Begitulah kekuatan tulisan. Sebuah jalan untuk mendapat keridhoan dan kemuliaan disisi-Nya.

  10. By SQ on Jan 21, 2008 | Reply

    gini lho pak, sering banyak ketakutan yang mewujud. Pengennya ingin berbagi dengan menulis, takutnya begitu jadi tulisan, koq kesannya jadi menggurui, padahal maksudnya bukan seperti itu.

    menulis refleksi diri, saya tidak menyangsikannya, tapi kadang masa iya ya? bisa terjadi “blunder” sperti demikian?

    (saya berusaha untuk tidak jadi orang yang terlalu banyak berpikir lho pak…) he..he..he :-)

  11. By atah on Jan 21, 2008 | Reply

    setuju banget, pak!!
    menulis itu adalah ibadah. sebaiknya emang diniatkan begitu. sebab apa yang kita tuliskan, juga akan diperhitungkan di hari kemudian…

    alangkah bahagianya jika tulisan kita bermanfaat bagi orang banyak!

    ALLAHU AKBAR!!!

  12. By Heru on May 10, 2008 | Reply

    Pekerjaan yang mendatangkan manfaat,jelas bernilai ibadah. Menulis bila bertujuan untuk kebaikan, insya Allah mendapatkan keberkahan dan Hikmah yang tak dapat kita duga datangnya, Namun bila menulis menimbulkan mudharat, menulis untuk fitnah, dan menulis dengan tujuan menmbulkan kerusakan dimuka bumi, akan mendapat ganjaran yang setimpal … ok …

    ***Amin.

Post a Comment