Rasulullah Kenapa Dibangkangi?

17 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

KOTOR. Berdiskusi dengan mahasiswa sungguh menyenangkan. Bebas mengemukan pendapat, berargumen, saling ledek, dan seterusnya. Rata-rata pikiran mahasiswa ‘masih jernih’. Kecuali untuk satu atau dua hal. Mereka suka beralasan, dan atau, bisa juga alasan turunan. Sepanjang yang saya alami, kalau bicara tentang ‘kesungguhan’ membaca, ada saja alasan penyerta. Buku sulit, ngak bisa bahasa Inggris, sibuk, dan —pokoknya— ada saja.

Pada tataran itu, sebenarnya dalam rangka penyadaran, ‘menembak’. Hayo siapa yang lupa, ayat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad melalui malaikat Jibril? Dapat dipastikan, tidak ada. Termasuk beberapa mahasiswa non-Muslim.

Lalu, mulai menyitir hadis Rasulullah, tentang ‘kewajiban’ belajar dari dalam kandungan sampai liang lahat, mencari ilmu sampai ke Cina, atau Alqur’an, bahwa manusia tidak akan mampu menembus langit, kecuali berbekal ilmu. Dalam pemahaman masa kini, membaca bisa berarti belajar. Kemudian minta gambaran budgeting of time dalam bandingan porsi untuk membaca (belajar).

Tidak usahlah dipapar datanya, sebab Sampeyan toh mahasiswa dan atau mantan mahasiswa. Dengan istilah sangat populer, SKS, sistim kebut semalam, sudah merupakan gambaran keseriusan (sebagian) mahasiswa belajar. Jaranglah dalam tradisi belajar bersandar pada budgeting of time proporsional. Kalau penyediaan waktu saja sudah demikian bisa dibayangkan in antion-nya.

Secara bercanda terkadang keluar keisengan, kenapa kualitas pendidikan dikeluhkan? Karena semakin banyak penyandang gelar akademis, sarjana, magister, dan doktor pendidikan.

Kalau sudah begitu, susah sudah menampung aneka jawaban dan argumen mahasiswa. Yang iseng biasanya menimpali, wajar saja hutan kita semakin gundul karena ahlinya semakin banyak dihasilkan perguruan tinggi, dalam dan luar negeri. Kita mengimpor beras, durian, sampai kodom bekas karena ahli-ahli kita semakin banyak.

Yang agak tajam, sinis kali, banyak lulusan PT yang berlomba-lomba menjadi ‘pegawai di perusahanan asing, MNC. Makanya kita tidak akan pernah punya mobil nasional. Pokoknya kemana-mana. Dan, saya senang ketika ada yang berkata: Kalau begitu apa yang salah dibalik semua itu?

Diskusi, begitu biasanya, akhirnya ditutup dengan simpulan, karena kita belum mampu membaca secara radiks, baik yang tersurat atau tersirat. Zaman Rasulullah, tidak didenda urusan korupsi. Tetapi, ketika kita punya banyak sarjana hebat dibidangnya dan ‘mengawasi’ hukum, justru korupsi merajalela.

Ada saja mahsiswa yang cerdas, karena kita calon guru, ya mari kita perbaiki dari sekarang. Wuiw … senangnya saya. Berpikir dibalik realita. Entah nanti kalau sudah ‘jadi orang’ akan macam apa kelakuan mereka, tidak mampu meramal. Setidaknya, sudah memasukkan virus positif, kalau mau menjadi pengikut Rasulullah, rajinlah membaca, rajinlah belajar.

Pengalaman menunjukkan, kebanyakan mahasiswa rajin membaca, dan —kalau dengan saya— hampir tidak ada yang abai mengerjakan tugas. Soalnya, kalau membangkang, langsung kosong nilai tugas. Bakalan tidak lulus. Kalau mengerjakan tugas saja berani tidak membangkang, kenapa berani ‘membangkang’ perintah pertama Allah SWT kepada Rasulullah?

Pada akhir semester, biasanya ditambahkan satu ‘pelajaran’, kenapa ruangan kita kotor? Kenapa kampus kita kotor? Coba jalan-jalan ke sekolah yang diurus orang-orang beragama Anu, dan bandingkan. Kenapa kalau kita (Muslim) yang ngurus kotor?

Karena ada hadis, kebersihan sebagian dari iman, dan bukankah ketika berwudhu’ membersihkan diri, dan atau pada ritual agama Islam lainnya, kebersihan begitu penting? Sebagai penganut yang membangkang, membangkangi Rasulullah, makanya kita ternyaman dengan kekotoran. Kita pemunafik ajaran Rasulullah.

Mahasiswa biasanya senyum simpul. Saya berharap, mereka menangkap pesan maknanya. Ah, ngak ah. Mana ada diantara kita yang mau membangkang Rasulullah. Tul ngak? Kalau malas membaca, malas belajar, kotor, itu dicontoh bukan dari Rasulullah. Tapi, … ah keyboard komputer ngak mau menulisnya, he … he…

Bagaimana menurut Sampeyan?

Banjarbaru, 17 Januari 2008.

  1. 12 Responses to “Rasulullah Kenapa Dibangkangi?”

  2. By Siti Jenang on Jan 17, 2008 | Reply

    ahai.. he he he
    sepakat pak guru. kebersihan baru sebagian kecil dari keimanan. belum lagi sabar dan syukur. menurut saya, justru itulah awal indikasi tumbuhnya iman. *halah sok tau* kalo yang sebagian aja secara sadar maupun tidak, kita sering membangkang, gimana yang lebih besar? hanamun, seringkali kita risih dengan perilaku orang lain dan terdorong untuk berusaha “meluruskan”. kalo perlu menghakimi segala… tanpa disadari, ketika itulah kesadaran kita mulai bengkok…

    pertamax masih ada! :mrgreen:

  3. By avartara on Jan 18, 2008 | Reply

    sebelumnya mksih ya bang dah singgah di gubuk saya hhheheh,…….
    btw,..blog abg neh banyak memberi inspirasi buat saya untuk nulis,..apalagi postingan ayo nge blog,..heheheh,..jadi pengen nulis

  4. By Mega on Jan 18, 2008 | Reply

    Wah..aku yang Lupaaa..ayat pertama yg turun apa yahh..? ahhahaaa…
    Termasuk pembangkakng nih..

  5. By unai on Jan 18, 2008 | Reply

    Jadi teriris hati saya membacanya, pak…Indonesia ta juga leih baju meski di dunia pendidikan kita sudah banyak menghasilkan orang pintar. Sayangnya kita lebih bangga “bekerja untuk orang lain”, dari pada loyal kepada bangsa kita sendiri.

  6. By unai on Jan 18, 2008 | Reply

    saya pimdah ksini pak

  7. By meiy on Jan 18, 2008 | Reply

    mencari jawabannya hanya bikin bete pak, krn jawabannya carut marut hehehe

    mendingan setiap orang mencoba berbuat, walau kecil tapi nyata gitu loh :)

    ***Yoi

  8. By Yari NK on Jan 18, 2008 | Reply

    Kalau mau jujur, orang yang malas membaca, malas belajar, tahunya jorok, itu bukan membangkangi rasulullah tetapi itu membangkangi diri sendiri. Nggak percaya? Coba tanya pada mereka semua…. Siapa yang mau bodoh? Siapa yang mau jorok? Pasti kalau orang normal tidak ada yang akan menjawab ‘mau’, minimal di dalam hati kecilnya. Itu berarti mereka membangkangi hati kecil mereka sendiri. Iya kan?? hehehe…. :D


    ***He he bisa jadi, berarti ‘dirinya’ —pengikut Raslullah— ngak mengikuti tauladan Rasulullah kan Pak?

  9. By hadi arr on Jan 19, 2008 | Reply

    kedengarannya ringan tapi terdengar samapi ke lubuk hati, benar Pak, salut buat cara penyampaiannya.

    ***Amin, mudahn yang sampai ke lubuk hati pesan Rasulullah, bukan tulisan saya. makasih.

  10. By gempur on Jan 19, 2008 | Reply

    Wah saya tertohok nih! malas baca, malas denger, malas blajar.. malas apa lagi ya… hehehehe.. tang jelas gak malas nge-blog.. hehehehehe…

    ah, pak ustadz kalo bikin tulisan sungguh sangat dalam.. ringan tapi mengena.. ntar, anak didik saya tak suruh baca artikel bapak aja sebagai salah satu referensi.. boleh khan pak?! ;-)

    ***Ha ha ngaklah … emang siapa yang nohok? Waduh dengan senang hati kalau dibaca siswa-siswa, kalu tau yang kumau. Tq.

  11. By mathematicse on Jan 20, 2008 | Reply

    Wah saya juga tertohok nih. Kalau membaca sih saya mau, yang lainnya, suka males-malesan (males boong-boongan)… :D

    Memang sih makin banyak lulusan PT, makin banyak ahli, eh masalah juga makin dahsyat aja. Dulu ketika belum banyak ahli, masalah juga ga begitu rumit-rumit amat (kayaknya).

    Sepertinya antara masalah dan pemecah masalah itu proporsional jumlahnya… :D

    ***Maaf … maaf … pertama kan buat saya, kalau yang lain merasa kesindir juga, Alhamdulillah.

  12. By adit on Jan 20, 2008 | Reply

    weleh, weleh, ini tulisan bagus banget, ngena nih.. *lirik diri sendiri*

    ***Wele weleh, itu untuk diri sendiri (saya), nah kalau teman-teman ‘tersanjung’ ya mudahan bermanfaat he he

  13. By STR on Jan 21, 2008 | Reply

    Pak, saya malas belajar, tapi saya juga suka dan rajin belajar.

    Kalau disodori buku manajemen keuangan oleh dosen, saya akan muak. Tapi, kalau ada buku manajemen pengetahuan disembunyikan dari saya, saya justru akan mati-matian mencari.

    Menurut saya, kemalasan para mahasiswa/siswa untuk belajar pada saat ini lebih banyak disebabkan karena adanya unsur pemaksaan atas materi yang hendak dipelajari. Pendidikan tidak lagi membebaskan. Kurikulum justru jadi penjara paling sistematis di dunia.

    Lalu bagaimana?

    ***Ho oh … langsung tu kujawab atau tabalkan melalui tulisan. Makasih.

Post a Comment