Rasulullah Buta Huruf?

15 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Oleh Ersis Warmansyah Abbas

TAULADAN. Sejak lama, jujur saja, mendengar kisah Rasulullah, ada pertanyaan yang susah dijawab: Apakah Rasulullah tidak bisa membaca alias buta huruf? Sebagai anak ingusan, waktu itu, tidak puas, bagaimana orang yang begitu dipuja, yang tingkah laku, perbuatan, dan pola hidupnya sebagai manusia (biasa) bagaimanapun adalah teladan sejati. Apalagi dalam kapasitas sebagai utusan Allah SWT. Tapi sudah, sosok Rasulullah tiada duanya; teladan sempurna.

Belajar Sejarah Islam, khususnya Sejarah Muhammad Rasulullah SAW, patokan dasarnya dalam kaitan tersebut sangat jelas sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 20:
 

Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku.” Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi. “Apakah kamu (mau) masuk Islam.” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya

Ke-ummi-an Rasulullah artinya tidak tahu tulis baca. Ke-ummi-an bisa pula merujuk kepada bangsa Arab saat itu (Q.S. Aljumu’ah: 2):
 

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata,

Sampai disini, kalau dibahas, dan itu telah dibuktikan oleh orang-orang terdahulu bisa menjadi debat hebat. Membaca buku Syekh Ahmad Bin Hajar, Sejarah Baca tulis; Sifat Ummi (Tidak Tahu Baca Tulis) Nabi Muhammad SAW adalah contoh nyatanya. Bagaimana tidak, Syaikh Abdul Latif al-Hindi mencoba ‘memaparkan’ logika bahwa Rasulullah pandai membaca. Bisa jadi, ummi dalam pengertian sebagaimana katanya ummi yang lebih ‘tinggi’.
 
Diketengahkan pula, berdasarkan hadis (entah sahih apa tidak), ketika Perdamaian Hudaibaiyah Rasulullah mendiktekan isi perjanjian kepada Ali bin Abi Thalib. Kaum musyrik tidak setuju tentang identitas Raslullah. Rasulullah memerintah Ali menghapus. Ali ngak ‘berani’. Akhirnya Rasulullah menghapus dan menganti dengan Muhammad bin Abdullah.
 
Konon, suatu kali meminta Muawi’yah menuliskan sesuatu. Setelah selesai diserahkan kepada Rasulullah. Kira-kira ‘dibaca’ lalu Rasulullah berkata: Engkau telah menuliskan apa yang kuucapkan.
 
Karena itu, karena pengetahuan tidak cukup untuk itu, dan tidak mau berdebat tentang teks Al-Qur’an tentang ke-ummi-an Rasulullah, ya sudah. Baca dan baca, cari dan cari buku-buku seputar itu. Sampai sekarang gairah untuk itu belum padam.
 
Suatu kali, seorang kawan yang baru meraih Doktor, menggoda pikiran: Alangkah lebih bangga kalau Rasulullah pintar baca-tulis, katanya menggoda pikiran. Spontan dijawab: Mungkin kita harus mendalami maksud ummi itu, konteks, dan makna sejatinya.
 
Kami bicara bagaimana Rasulullah ‘membaca’ domba peliharaan, ketika berdagang ke Syam, menyurati Kaisar Romawi Timur dan Persia. Atau agungnya perintah Rasulullah menyuruh umatnya belajar —sampai ke Cina lho. Belum lagi soal membaca dan menulis. Lengkap deh.
 
Tapi, Rasulullah kan ummi. Saya berdoa, moga-moga Allah SWT memberikan pencerahan langsung atau pun tidak langsuag mengenal manusia sempurna tersebut, khusunya perihal baca-tulis.
 
Seorang bloger malahan menghoda yang mungkin dapat dijadikan analogi ‘agak nakal’ dan ‘terbalik’ ketika iblis melawan perintah Allah agar tunduk kepada Nabi Adam AS, Allah marah dan mengusirnya dari syorga. Pada perkembangan selanjutnya, Adam dan Hawa memakan buah khuldi karena dibujuk iblis (Setan?). Nah, iblis sudah diusir dari syorga bagaimana membujuk Adam dan Hawan kan diperlukan pemahaman ‘tingkat tinggi’. Entahlah.
 
Yang pasti, Allah SWT dapat langsung menjadikan Rasulullah ‘pandai membaca’ ke jantung hati, membaca yang jauh lebih tinggi derajatnya dari membaca yang kita pahami. Begitukah?
 
Mana tahu para bloger punya informasi atau argumen lebih yahudm. Saya tak hendak berdebat atau memperdebnatkan hal sesnsitif tersebut. Punya mau mendapatkan informasi agar lebih mantap memahaminya.
 
Bagaimana menurut Sampeyan?
 
Banjarbaru, 15 Januari 2008.

  1. 19 Responses to “Rasulullah Buta Huruf?”

  2. By M Shodiq Mustika on Jan 15, 2008 | Reply

    Masalahnya, definisi “buta huruf” itu apa?
    Beda budaya, beda negara, lain pula dengan yang dimaksud dengan “buta huruf”.
    Di Indonesia, tampaknya yang dimaksud dengan “buta huruf” adalah “tidak mampu membaca huruf”.
    Di negara lain (saya lupa negara mana), ada yang berpatokan bahwa “buta huruf” adalah “tidak mampu memahami kalimat”.

    ***Ya lalu, menurut Mas Shodig gimana? Apa tu maksud ‘buta huruf’ alias ummi pada teks Al-Quran dimaksud?

  3. By EWA on Jan 15, 2008 | Reply

    Ya ya ya. Saya dah kunjungi Mas Shodiq

  4. By andi bagus on Jan 16, 2008 | Reply

    apik sekali cerita mengenai rasulullah ttg baca-tulis..

    ***ha lah … yang bener nivh, lalu apa pendapatnya Mas?

  5. By Mega on Jan 16, 2008 | Reply

    Masih Awam tentang Rasulullah..


    ***Tinggal baca he he

  6. By Toni on Jan 16, 2008 | Reply

    Menurut saya sih yang masih awam juga, mungkin yang dimaksud dengan ummi dalam konteks tersebut adalah kepandaian bersyair yang di jaman tersebut merupakan suatu kebanggaan. Just IMHO.

    ***Yoi makin berkembang …

  7. By titiw on Jan 16, 2008 | Reply

    IYA!!! aku juga dari dulu selalu mikir lho.. “Kenapa iblis yang udah diusir dari surga bisa goda2in adam sama hawa yg lagi kongkow di surga?” Halah.. Wallahualam Bisawab..
    Kalo dari perspektif aku nih bang.. Rasulullah emang buta huruf.. pada pertamanya.. dengan bantuan sahabat2 dan “ala bisa karena biasa”, maka beliau jadi bisa. tapi ini cuma pespektif hambaNYA yang pengetahuannya gak tinggi lho.. Hehe..
    PS: kemaren ke gramed baca2 buku situ.. hihihi.. (tapi gak beli.. maaf.. sayah cuman window shopping alias belanja jendela..) :D

    ***Emang salah apa dengan berpendapat … mana tau benar. Nah, salah itu … beli dong. Itu dimana? D banyak tempat habis tu. Bisa ngak beliin saya, habis cetakan 3 belum, padahal saya butuh buku itu untuk pelatiahan. Bisa bantu ngak?

  8. By Yari NK on Jan 16, 2008 | Reply

    Weleeh….. kok saya nggak bisa menemukan artikel yang dimaksud sih?? Abisan linknya cuma menuju di halaman utamanya. Ya udah deh, biarin, saya komentarin yang ini aja, menarik juga kok.

    Menurut saya, walaupun rasulullah ummi, namun rasulullah diciptakan oleh Allah dengan kelebihan2 lain yang segudang banyaknya sehingga ke-ummi-annya menjadi tak berarti karena telah ditutupi dengan kelebihan2 tersebut.

    Sekarang pertanyaannya, kalau rasulullah ummi, apakah ummatnya harus ikut2an ummi?? Ya, tentu saja tidak dong! Dalam Al-Quran aja, ayat pertama yang turun saja adalah “Iqra’!” alias “mbaca”, itu berarti Allah mengharuskan kita ummat Islam untuk membaca, sehingga biarpun rasulullah ummi, namun perintah Allah telah jelas kita harus beriqra’, iqra’ di sini tentu bisa dalam arti luas, bisa iqra’ baca tulis, bisa juga iqra’ penalaran terhadap situasi, iqra’ terhadap diri sendiri dan memperbaiki sifat2 negatif dalam diri kita, dan lain sebagainya.

    Mungkin begitu, karena maklumlah ini hanya pendapat dari orang awam saja! Hehehehe…. :mrgreen:

    ***MUngkin aja to, kenapa tidak he he

  9. By gempur on Jan 16, 2008 | Reply

    Boleh jadi Rasulullah SAW pada awalnya adalah benar2 tak bisa baca tulis yang kemudian karena proses waktu yang mewajibkan beliau bisa baca tulis akhirnya pada saat tertentu beliau sudah tak lagi buta huruf.

    Yang pasti saya yakini, Rasulullah SAW tidak buta hati dan pikirannya. Sehingga membaca baginya bukan sesuatu yang sulit. Membaca kontekstual maksudnya.. hehehehehe

    ***Ya ya ya …

  10. By STR on Jan 16, 2008 | Reply

    Pandai membaca ke jantung hati? Itu yang saya belum bisa. :D

    ***Insya Allah akan bisa tepat pada waktunya. Doa saya bersama Sampeyan.

  11. By Siti Jenang on Jan 16, 2008 | Reply

    kalo menilik sejarah Rasulullah SAW sebelum mendapat wahyu, tidak ada kisah soal tulis-menulis. kalo soal membaca tulisan, gak jelas juga apakah di Mekah dulu ada tulisan di dinding, petunjuk jalan, penulisan nama gedung, dll. kalo menurut seorang teman, wawasan Rasul baik soal perdagangan maupun spiritualisme ala Ibrahim AS sudah lumayan sejak kenal calon istri pertamanya, Khadijah. jadi, ada kemungkinan (cuma kemungkinan) beliau setidaknya bisa membaca.

    berbeda lagi ketika bertemu Jibril, lalu ada perintah, “Bacalah!”
    di sini tidak disebutkan apakah Sang Malaikat itu membawa buku seperti yang kita kenal pada umumnya lalu disodorkan di hadapan Sang calon Rasul? dalam pemahaman fiqih setahu saya tidak dijelaskan atau belum jelas. tapi, di ranah tarekat ada istilah “lauhul mahfudz” atau kitab yang ada dalam diri Muhammad. beliau tidak bertemu Jibril dalam kondisi melek ragawi, tapi secara ruhani, kesadaran sejati. dengan begitu, ayat yang dimaksud tidak berbentuk huruf ala manusia.

    benar atau tidaknya, masing-masing pendapat tentu punya rujukan. tinggal pilih mana yang lebih pas bagi pemahaman kita. sekian opini dari saya.

    ***Kadang-kadang kita (manusia) kan sok tahu. Wong bahasa Allah SWT, bahasa Jibril ‘disamakan’ dengan bahas manusia biasa. Ya, kadang ngak pas, dan jadilah aneka pemahaman. Pada contoh lain, coba: gimana orang seeenakudelnya menyatakan sesuatu: Itu dosa, itu pahala. Itu kan sudah wewenang Allah SWT Kan, menentukan itu dosa atau pahala. Jadi, kita hanya bisa berbuat sesuai kriteria yang dipahami … ngak usah masuk wilayah yang bukan teritoril.

  12. By hanna on Jan 17, 2008 | Reply

    Saya petik ilmunya sajalah. Belum bisa komen.

    ***Amin.

  13. By meiy on Jan 17, 2008 | Reply

    wah tingkat tinggi nih pak. saya belajar juga dari sini, mungkin dg mencari terus bisa dpt jawabannya pak, krn memang belum byk yg mengkaji ini mungkin, bapak saja kali yg trusin risetnya…

    ***He he sama-sama dongm bahasa Perancisnya urung rembug. Bahasa Swisnya, kto cari jawabannyo basamo-sama.

  14. By danalingga on Jan 17, 2008 | Reply

    Sepertinya saya pernah membaca argumentasi di salah satu forum yang mengatakan bahwa ternyata Nabi Muhammad itu bukan buta huruf. Sayangnya saya dah lupa linknya pak. :D

  15. By ridu on Jan 17, 2008 | Reply

    gak bisa comment.. cuma bisa baca dan dapet ilmunya aja.. :)

  16. By M Shodiq Mustika on Jan 23, 2008 | Reply

    Menurut saya, ummi (buta huruf)-nya Nabi saw. adalah seperti pada kisah wahyu pertama. Oleh Jibril, beliau diminta iqra’ (bacalah), lalu beliau jawab, “Aku tidak bisa membaca.” Hanya saja, pengertian “membaca” itu pun berbeda antara kita sekarang dan kebiasaan “membaca” pada orang-orang Arab di masa itu. ….

    (Saya rasa, Pak Ersis bisa menelusuri lebih lanjut. Punya banyak buku sejarah Nabi, ‘kan?)

    ***Ya ya, cuman gimana analisis dan pemahamannya Mas.

  17. By baby on Mar 20, 2008 | Reply

    Nice website!!

    ***Tq 4 u atenrion.

  1. 3 Trackback(s)

  2. Jan 15, 2008: Buat apa menulis bersama kalau bisa menulis sendiri? « Dunia Penulis
  3. Feb 22, 2008: Mengapa Orang Indonesia Membaca? « Arif Kurniawan as Bangaiptop
  4. Mar 10, 2008: IQRO’ Pembacaan Muhammad Atas Tuhan « Mata Air

Post a Comment