Puisi Cinta: Go Lomba

14 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

Para Blogerwan, Yth.

Lomba Puisi Cinta bulan Januari 2008 mengambil tema umum. Artinya, bukan cinta kepada Allah, Rasulullah, Orang Tua, Negara, Alam, dan sebagainya. Yah, cinta sesama manusia, bukan sejenis, lho.

Aturan? Ngak pakai aturan, diregulasi habis. Terserah Sampeyan; atur sendiri. Menulis kog di atur-atur. Bikin ribet aja. Berkreasi sajalah. Mengingat puisi tidak lazim diedit, usahakan jangan ada salah ketik, apalagi salah konsep, he … he …

Puisi terpilih langsung ditransfer ke format buku. Perhatikan contoh. Puisi pertama untuk halaman 1, puisi kedua untuk halaman 2. Usahakan jangan lebih panjang, sebab bisa menyusahkan layouter. Contoh sudah distandarkan dengan rencana buku. 120 puisi terpilih akan dibukukan dalam Antologi Puisi Cinta.

Oh ya, pengiriman cukup pada bagian komentar postingan ini, Puisi Cinta: Go Lomba. Di ranah komen? Yes. Jangan dikirim via email ya.

Direncanakan, pada bagian akhir buku akan disertakan komentar ‘terbaik’ atas puisi yang diposting. Itu saja petunjuk, ngak usah tanya-tanya, atau menyoal. Kita ambil ringkasnya saja. Kirim saja puisi atau komen. Puisi Contoh:
 
Ersis Warmansyah Abbas
Lipatan Cinta

Malam ini, Kasih
lipatan hati memanah darah
wisata terminal masa
terhenyak di ujung senja

Angin menarikan senandung rindu
di ujung rambut di pangkuan dada
menusuk hati jantung asmara
fajar menyangkau ulu kala
lipatan jarak lipatan nafas lipatan cinta kita

Perjalaan terlalu jauh
seyummu menyapa ubun-ubun
salam perdamaian yang tak terjangkau
pada jarak kita bersatu
khatam cinta tak ditulis kamus

Banjarbaru, 1 Januari 2008

Ersis Warmansyah Abbas
Malam Itu Kasih

Malam itu, Kasih
angin selimut kalbu
sepasang merpati melintas nyanyikan tembang malam
dendang ria kepakan sayap melayang jauh ke ujung rasa
menyibak awan menghalau halimun
nyanyian kasmaran

Malam itu, Kasih
jemari lincah mainkan keyboard rasa
ketika kutakan: I Love You
ketika kau katakan: I Love You
lalu, dunia tak berasa
malaikat menyiulkan madah-madah makna
kita membuang tawa melambaikan tangan,
Alhamdulillah

Malam itu, Kasih
aku tergagap terbata-bata,mainkan piano pinta
Tuan Qadi memukulkan palu nyaring-nyaring
Allah menghalalkan kita

Malam itu, Kasih
malam sesunguhnya
syurga memiliki tempatnya
ujung jubahnya kita robek
bekal kita menuju syurga sesungguhnya
di rumahNya

Banjarbaru, 1 Januari 2008

***Ada yang minta, regulasi habis; mau satu puisi atau dua puisi, suka-suka perserta.. OK saja. Bebaaaaaaaaaaaaaas. 

  1. 263 Responses to “Puisi Cinta: Go Lomba”

  2. By noorlatifah on Jan 1, 2008 | Reply

    Kekasihku

    Ketika mentari beranjak keperaduannya
    dilangitpun tampak cahaya keemasan
    suara jengkrek menghiasi indahnya malam
    menyentuh hati nan gundah gulana

    Kasihku,
    malam semakin larut
    rembulanpun terseyum menatap sanubari
    bayang-bayang semakin merapat
    membuat hati kecil berteriak sunyi

    Kekasihku
    embun malam seraya selimut salju
    hatiku pun terasa beku
    tanpa suara kubisikan
    jangan biarkan kusendiri

    Banjarbaru,01 Januari 2008

    ***EWA: Minimal dua puisi lho

  3. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    hiyaa hahahaha.. puisi cinta
    melankolis juga bang Ersis nih kalau bicara cinta…
    wah kalau saya harus pengalaman dulu nih
    cari wanita yang kuncintai dulu
    baru bikin puisi yaa hehehehe

    cinta sahdunya dikau
    tak seperti wangi bunga setaman
    tapi tak seindah kue donat di tangan
    meraihnya hanya sekejap
    luruhnya tanpa batas

    cinta aliranmu besemai
    dalam kalbu sekujur badan
    tak kuasa menahan cinta
    tak bisa membuang kata

    cinta sekujur badan
    tak bisa diubah sebadai
    langit bumi bertaut
    cintaku padamu takkan pisah

    cinta oh cinta
    dirimu memakna segala
    dirimu merangsangi senjata
    melumer kata jiwa dan harta
    bersamamu tergadai semua makna
    bersamamu menggapai syahdu angkasa

    oh cinta
    aku mencinta
    dirimu dicinta
    dirimu lebur
    aku lebur
    dalam syahdu
    dalam makna

    udah lah pokoke™
    I love u
    :)

    dah dua menit selesai tuh hehehe

    ***Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip

  4. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    Bisa dilomba gak nih pak
    hahahah bener enak juga setelah dibaca.. padahal asal njeplak … aku tanya nih, kalau bikin puisi tanpa dipikir bagus gak sih.. swer aku bikin kurang dari dua menit asal njeplak.. tapi kok enak yaa dibaca.. saya tidak percaya bener gak percaya dengan tanganku sendiri dan otakku… :)
    maaf bukan sombong tapi curhat .. sayakalau bikin kata2 gawean yaa begitu tak terpikir apalgi mikir

    ***Soal courage … aja lah

  5. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    cintaku dimakan angsa

    kemana aku bersahut
    kemana aku mengadu
    kemana aku mengaku
    sedang aku tanpamu

    sendiri tanpa kamu
    berdua bersama buahmu
    sedang dia asalamu
    teganya kamu di sana

    malamku diradang gelap
    cintaku dimakan angsa
    sepiring nasi jadi basi
    sepotong roti berderai jamur
    sepenggal kata hanya dikunyah

    cinta dimana harus kusambut
    sendiri tanpamu sepi berkabut
    malam dingin takkan ada api
    siang panas dingin membeku

    cintaku tergadai
    bersama angan di sini
    kapanpun kau datang
    kan kusambut sejuta hasrat

    ***sepotong roti berderai jamur
    sepenggal kata hanya dikunyah

  6. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    Kepanjangan tidak yaa..
    puisi kedua itu gambaran nyata
    barusan saya chatting dengan seseorang
    yang ditinggal si abang sayang
    pada saat tengah meradang
    kasihan yaa..
    tapi bikinnya susah
    tidak segampang yang pertama…

    itulahkalau direkayasa jadi sulit yaa

    btw, bang eris juga katanya gak pake aturan
    tapi nyatanya harus begitu dan begini… :)

    heheh

    ***Ya ya regula blas ya

  7. By unai on Jan 2, 2008 | Reply

    Ujung Tahun dan Sebentuk Harapan, Tuan…
    Hujan penghujung tahun, tuan…
    Induk malam menggeliat pelan
    dalam kelambu kusam pembalut mimpi
    hati bimbang, tuan
    Antara ingin dan tak ingin
    Datang dan tak datang
    Bersegera dalam gegas
    Terengah dalam lintas batas harap dan impian

    Dendangku terpatah, tuan
    Melesak dalam not yang kacau tak beraturan
    Imaji terbebat kawanan kata yang hanya bisa mencekik
    Tak ada persembahan, tuan
    Hati terlanjur kebas dijilati mimpimimpi tentang sua yang entah kapan?

    Waktu kian jatuh
    Kita tinggal menghitung mundur satu satu

    Mari rangkai pecahan kaca dalam genggaman
    Membentuk lukisan yang tak melulu kelam sewarna malam
    dan…gegapgempita, riuhrendah pesta pergantian tahun
    akan mengantar kita pada asa yang entah akan menjadikan kita
    tetap ada…atau tiada….

  8. By unai on Jan 2, 2008 | Reply

    baris paling atas itu judulnya pak :)

  9. By unai on Jan 2, 2008 | Reply

    Selamanya Kau Akan Tetap Ada

    Aku menemukanmu di semesta mungil tak berpenghuni
    Hampa udara, dan kita mengapung di sana
    Saat itu lentik jemarimu menoreh bait menjelma kata,
    membentuk gugusan puisi
    Indah penuh makna

    Kau lewati pintu yang sedianya tak terkunci
    Berlalu…berlalu saja
    Melempar senyum, menawarkan damai
    Sama seperti ketika aku melenggang
    di peron berisi bangku-bangku
    yang juga menawarkan obat mujarap bagi penat

    Gelap mengintai kita di lengang lalang
    dan kau…
    adalah dongeng yang menjelma nyata
    Wujud dan juga bayang
    Sebagian nyata, sebagian lagi entah di mana
    Namun…
    Selamanya…Kau akan tetap ada
    Bertahta, memahkotai mimpi yang terlanjur bisu

  10. By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply

    Wah bang kalau puisinya unai dibikin kurang kurang dari satu menit … wah ternyata bikin puisi itu gak perlu berlama2 yaa. saya dua menit, unai satu menit… bang Ersis setengah menitkah? luar biasa… !
    Menulis adalah singkat!

    ***Ntar saya tulis ‘teorinya’ he he … tumpukan bacaan, pengalaman, persaaan, di otak … dipanggil lewat puisi lebih cos … jadi waktu tidak menjadi ukuran. Salam.

  11. By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply

    Ikutan ah…,

    puisi 1:

    TUHAN

    Tuhan
    Kutulis nama-Mu
    Di setiap gerakku
    Kutengadahkan tanganku
    Di atas kumpulan benang persegi
    Namun Engkau
    Tak pernah datang
    Walau sekedar mengetuk pintu
    Atau kirim bingkisan roti
    Kukirim sms setiap hari
    Melalui nomor 42443
    Namun tak pernah dibalas
    Tapi aku tetap yakin
    Kau nyata diantara mimpi
    Menjaga setiap tidurku
    Selalu menyuguhkan madu dan kopi
    Di setiap pagi

    Puisi 2:

    ZIKIR KATAK

    Meski badai menerpa
    Hujan lebat tak berhenti
    Petir saling bersahutan
    Banjir datang menerjang
    Aku katak
    Akan terus memuji-Mu
    Subhanallah

    Rek….Rek….Rok….Rokk
    Rek….Rek….Rok….Rokk

    Meski tanah retak
    Air tinggal airmata
    Matahari tak berganti bulan
    Aku katak
    Akan terus mengagungkan-Mu
    Allahu Akbar

    Rek….Rek….Rok….Rokk
    Rek….Rek….Rok….Rokk

    Aku katak
    Akan selalu menyebut nama-Mu
    Laa ilaha ilallah

    Rek….Rek….Rok….Rokk
    Rek….Rek…..Rok….Rokk

  12. By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply

    Kesalahan karena ga baca tulisannya dengan benar ternyata puisi untuk sesama ya…jadi malu…:)

    ***Ha ha kenapa sih takut salah … emang kita ngak bleh salah? Salah itu jalan menuju betul lho. Itu prinsip saya, ngak usah merendah pual salah. E … kalau jadi shaleh yang manusia, janganlah ntar jadi dua he he … tapi saleh sebagaimana dituntut agama kita, ya iyalah. Kita berusaha kesitu. Salam.

  13. By efa sutarjo on Jan 2, 2008 | Reply

    LIMA HURUF

    C I N T A……

    K A S I H……

    R I N D U……

    Lima huruf yang membawa sejuta rasa padaku.
    Saat cinta datang aku menjadi gila padamu.
    Saat kasih hadir aku manjadi naif padamu
    dan saat rindu hampiriku, aku menjadi nelangsa karenamu.

  14. By efa sutarjo on Jan 2, 2008 | Reply

    JINGGA SENJA

    Senja….
    Di sini aku berdiri di ambang senja
    Berharap engkau hadir hampiriku
    Mencoba tegak menanti menski rapuh atas angin

    Lihat, lihat aku di sini kasih
    Mencoba menahan perih getirnya kerinduanku padamu
    Begitu kuasanya cintamu padaku

    Senja….
    Aku berharap jingga ini akan terus ada
    Hantarkan malam padaku
    Hingga aku dapat terlelap dan bermimpi
    Bermimpi engkau hadir hapiriku dan memiliki ku

  15. By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply

    Replay…

    puisi 1:

    SENDIRI LAGI

    Duduk
    Termenung
    Mengkhayal
    Sendirian
    Temanku telah pergi
    Menjauh entah kenapa
    Apa lacur dan dosaku
    Hingga tak ada lagi cerita darimu
    Untukku
    Hatiku
    Dan hidupku
    Orang ketiga
    Melihatmu
    Mengenalmu
    Dan merebutmu
    Dariku
    Dan ceritaku
    Tapi tak apa
    Asal kau Bahagia
    Aku pun bahagia
    Pergilah yang jauh
    Aku takkan menangis
    Takkan bersedih
    Kau selalu ku kenang
    Kau teman terbaik
    Yang pernah ku miliki
    Semoga kau bahagia

    Puisi 2:

    CINTA

    Tergores pena asmara
    Pada kertas putih
    Hingga terlukis warna-warni
    Tuliskan kata penuh diksi
    Merangkai penuh makna
    Ungkapkan hati penuh rasa
    Keluar dari nurani
    Terucap sebuah kata
    Aku cinta padamu

  16. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    puisi patah hati boleh ngga kang?
    *ngga tau. dulu, kl lagi patah hati, tiba2 jadi kreatif berpuisi :)

    ***Lha kog pake nanya … bungkus, yang ngak pas itu kalau cinta; bisa membara, menyetihkan patah tiga sama … kambing misalnya he he. Selamat bergabung.

  17. By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply

    Kau sajak itu

    Engkau sajak itu
    yang nakal melonjak-lonjak di batinku
    menyoraki kekalahan membentengi keangkuhan

    Engkaulah rima yang membawa serenada
    bertangga bianglala
    mencipta irama; yang menggugah, menggairah

    Engkaulah musik
    pengiring tarian nan cantik
    melentikkan api gelora
    merasuk, memabuk, di raga dan sukma

    Tuhan bisakah kusamarkan rasa
    sedang Engkau pemegang semua rahasia
    salahkah bila aku lebur
    bersama bianglala?

    Lamreueng, 9 Juni 2004

  18. By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply

    Cukuplah saja dimatamu kutemukan indah

    Debar tak biasa
    jiwa yang gelora
    dan dihati bertahta puisi
    diam dalam semadi
    mencari arah kembara

    Cukuplah saja dimatamu
    kutemukan indah.

  19. By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply

    Nyanyikan nadaku di hujan

    petik
    petiklah nadaku seperti gitar
    kita nyanyikan lagu getar
    pada ritme hujan
    meriahkan tarian
    nadi menggelepar
    gairah merah
    meruah darah
    hati berdebam
    aku membara
    masih sama
    renjana kan rasa
    ah mendera dera
    halus namun menggempa

  20. By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply

    Pak aku kirim 3 puisi boleh ya, saking bergairahnya hehehe

    Baru keluar rimba, kontemplasi, segernya…

    Happy New Year Pak EWA. Moga bahagia selalu, penuh cinta…:)

    ***Amin, kita terlahir dari dan dengan cinta, mari hidup berama cinta

  21. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    Poetry 1 …
    —-
    artimu bagiku

    wahai mentari…
    masihkah ada dia yang merindukanku
    dalam laju waktu yang mengalir mengalun lembut
    tatkala kelopak mata menyapa isi dunia
    bukan dalam senyap malam
    tapi dalam hiruk pikuk riuh celoteh embun pagi

    wahai sang surya
    masihkan ada dia yang mengingatku
    dalam derap langkah yang memutarimu
    bukan dalam sepi
    tapi dalam jutaan lelah fikir yang berkebat disudut sudut otak
    tatkala tumpukan sampah masalah menjejali ruang dan waktu

    wahai matahari
    masihkah ada dia yang menjadikanku api yang kobarkan semangat dan gelora
    tatkala adaku tak mengusik lembar lembar hidup
    tatkala mengenangku memberinya ruang tak berbatas

    wahai senja
    masihkah ada dia yang hangat senyumnya tepersembahkan untukku
    dalam ribuan tawa yang diberai sepelosok semestamu
    tatkala kenangan tentangku mampu lenyapkan letih yang menusuk relung hati

    wahai malam
    adakah dia di ujung sana yang adaku tentramkan tutup waktu
    tatkala dering suaraku lepaskan diri dari penat
    tatkala memimpikanku lelapkan tidurnya dalam kelumit senyum damai
    hingga sang mentari menjemput dipagi hari

    karena seperti itulah dia untukku…

  22. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    additional :
    “artimu bagiku” wrote on Monday, September 26th, 2005. 07.37 pm

  23. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    hanya satu

    sudah kualami perih karena kehilangan
    sudah kureguk kecewa karena ditinggalkan
    sudah ku didera luka karena dikhianati

    semuanya belum seberapa

    hanya satu derita yang paling menyiksa
    jatuh cinta
    tapi tak bisa memiliki

    *wrote on Thursday, June 09, 2005. 12.17 AM

  24. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    Kerinduan

    izinkan aku merindumu
    agar aku tahu bahwa hatiku tak binasa
    agar aroma kehidupan tetap menjamahku

    izinkan aku mengisi hati
    dengan cinta
    agar mengalir darah bekuku
    agar terpancar aura ku

    izinkan aku menebar kasih
    agar dapat kusempurnakan hidupku
    merasakan kedamaian membelai memabukkan
    agar terbakar sekujur tubuhku
    hingga aku dapat membagi kehangatan
    menebar senyum keseluruh rongga alam raya
    dan merekapun kan tersenyum

    izinkan aku
    untuk melesat
    menembus batas nirwana
    merobek kerasnya bongkah inti bumi

    aku hanya ingin berbagi
    agar kita bisa tersenyum
    dengan tulus…

    wrote on Monday, November 15, 2004. 04.33 AM

  25. By edo on Jan 2, 2008 | Reply

    udah ah..
    segitu dulu..
    ntar bosen lagi
    sorry udah ikutan nyampah ya mas ersis :)
    btw, kalo tak lihat2, itu koleksi bisa jadi 1 buku sendiri kynya hihihi

    anyway, thank buat mas ersis
    yang sengaja atau tidak udah bikin saya mau “mempublikasikan”nya
    setelah sekian lama tersimpan di lemari hati :)

    *abis ngubek2 arsip…

    ***Yoi, siiip. Mari kita karyakan karya he he

  26. By Gus Maul on Jan 2, 2008 | Reply

    Maghligai

    tlah tumbuh lama
    rasa di dalam jiwa
    tumbuh bersemi dan berbunga
    menjadi asa penuh warna

    kini …
    kau tlah menjadi hati
    yang menghiasai hari-hari
    meski masih paro impian
    karena belum ada ikatan

    ukhtiy …
    ku sadar tak mudah menjaga hati
    karena aral di luar sangat terjal
    terlebih jiwa2 kita yang lemah
    juga terbentang dalam jarak

    tapi ukhtiy …
    ku yakin kita bisa
    untuk tetap melangkah bersama
    penuh setia dan harapan
    menggapai maghligai cinta

    ya Allah, ya Rabb
    himpunlah kami dalam ridha-Mu

  27. By hadi arr on Jan 2, 2008 | Reply

    KEKASIH-KEKASIH

    Alun ombak bergerak pasti
    berkejaran menuju pantai
    setelah itu terhempas
    lalu pergi

    Lembut sang bayu berhembus
    menggerak batang dan dedaunan
    bergesek bagai symponi
    kadang sunyi sesepi hati

    sembilu rindu menikam kalbu
    pada apa yang terpatri
    kukira akan abadi
    ternyata hanya sesaat bersemi

    ada aku disini,
    menatap mu dengan luka
    kututup lembar-lembar asa
    kusimpan dalam fatamorgana

    2 januari 2008, hadi arr

  28. By hadi arr on Jan 2, 2008 | Reply

    KERINDUAN

    Andai sekarang engkau disini
    akan kuceritakan semua padamu
    tentang hening dan sunyinya bukit
    tentang dingin dan kelamnya malam

    suara percikan air menerpa bebatuan
    berpadu dengan kicau burung-burung
    ditingkahi gesekan dedaunan, berpadu begitu serasi
    masih tak mampu mengusirmu dari anganku

    sudut-sudut mata mulai memanas
    pandangan mulai kabur terselaput air bening
    rongga dada serasa terhimpit selaksa beban
    bayangan mu masih melekat kuat dalam ingatan

    ketika jarak memisah kita dan waktu tak berkompromi
    selalu ada kerinduan yang menyeruak
    beginikah….?
    bila aku jatuh cinta

    hadi arr 2 januari 2007

  29. By Gempur on Jan 2, 2008 | Reply

    Pak Ersis, Maaf looh, kalo produk ini produk lama, sekedar sarana menumpahkan emosi di masa lalu… Link Asli ada di blog saya.. gak papa kan?!

    <b>Puisi Pertama</b>

    <a href=”http://gempur.blogsome.com/2007/06/24/sepenggal-harapan-dalam-penantian/” rel=”nofollow”>Sepenggal Harapan Dalam Penantian</a>

    Aku antar engkau ke peraduan
    Bersembunyi di balik rasa rindu
    Yang menggunungkan nistaku
    Telah kukobarkan api peresah sukma
    Dalam selimut mimpimu

    Rintik hujan saat itu
    Menegangkan saraf kita yang terpacu dingin…

    Mega-mega dalam khayalku
    Menggambar senyummu dalam tangis haru
    Tautan hatiku kuat memelukmu

    Tonggak hatimu mengukuh
    Dalam pusaran batinku
    Sekayuh kita dayung perahu

    Halaman baru telah kita buka
    Berdua kita memaknai
    Perpaduan dua hati terikat tali kasih
    Hadir gelap kelabu menghadang kita
    Dilambari cahaya di langkah berikutnya
    Adalah harapanku terhadapmu kekasihku
    Selalu dan selalu akan seperti itu

    Di akhir epos hidupku dan hidupmu
    Sang utusan berkilau cahaya menghampiri
    Aku dan dirimu
    Bersama menuai berkah dari Sang Kuasa
    Dan harta titipan-Nya
    Berdua kita tinggalkan dalam rela dan pasrah
    Berbekal keyakinan dalam penjagaan-Nya

    Imogiri, 13 Maret 2002

    <b>Puisi Kedua</b>

    <a href=”http://gempur.blogsome.com/2006/11/27/menyerpih/” rel=”nofollow”>MENYERPIH</a>

    Seserpih luluh lantak
    Dari serpihan-serpihan perih
    Ada keluasan tak terhingga menjadikannya terhimpit.
    Segala duka tersembunyi dalam tirai-tirai samar mengawini amarah

    Aku menjangkaumu
    Tapi kau menjauh penuh malu ragu
    Aku memanggilmu
    Tak bergeming kau melukaiku!
    Aku pun merayu sungguh
    Kau membisu batu angkuh
    Hampir saja menguap

    Serpih perih merintih
    Ditikam sedih
    Meraung-raung dalam sunyi
    Menggetar menggelegar dzikir
    Melintasi selaksa tabir
    Menjumpaimu di simpang akhir

    Aku serpih yang tak terhenti
    Hingga sunyi menjemput mati

    Bulaksumur, 28 Desember 1999

    ***Pak Ersis, Maaf looh, kalo produk ini produk lama, sekedar sarana menumpahkan emosi di masa lalu… Link Asli ada di blog saya.. gak papa kan?!. … Siiip mari kita menulis dengan mudah, memudahkan menulis. Kita tampilkan karya …. Sama-sama berjuang. Jabat alam Menulis.

  30. By hanna on Jan 2, 2008 | Reply

    Senandung Lilin

    Oleh: Hanna Fransisca

    dalam redup cahaya lilin
    ujung pena menjelma seruling
    melantunkan senandung kehidupan
    memantulkan cahaya rindu
    melewati selaput mata terang
    menembus kegelapan malam

    asap-asap purba menari
    mengiring irama syahdu
    menggembirakan
    menyejukkan pandang
    membaca sebait puisi
    tertulis di sana

    api kehidupan baru
    menggetar membakar sukma
    melewati malam panjang
    debu-debu beterbangan
    di udara malam

    aku merasa
    ada kekuatan memanggil-manggil arwahku
    gejolak hati yang kuat membuatku mampu mencium
    bau harum rambut dan tubuhmu

    Jakarta, 2 Januari 2008

  31. By noorlatifah on Jan 3, 2008 | Reply

    Masih kurang satu ya Pak? Mun kaya itu ulun tambahi gen sabuting lagi, boleh aja kalo Pak?

    Suara Hati

    Pagi yang indah
    kubuka jendela kamarku
    kutatap jauh tanpa batas
    menembus cakrawala bebas

    Rasa hampa mulai menebar
    merasuk relung hati paling dalam
    jiwa pun mulai bergetar
    mengguncang sukma sekuat gelombang

    Mentari pagi pun terus bersinar
    menyadarkan setiap insan
    oh,
    indahnya pagi

    ku tarik napas dalam-dalam
    membuat hatiku menjadi nyaman
    ku usir semua kehampaan
    kugapai cinta yang pernah hilang

    Banjarbaru,2 Januari 2008

  32. By fira on Jan 3, 2008 | Reply

    BELENGGU CINTA

    Bagai kilatan halilintar
    Kerasnya dentuman petir
    Memayungi asmara getir
    Bagimu itu cinta yang terikrar

    Pucuk pinus tegak dan tegar
    Berdiri melambai kuat dan kekar
    Senandung alam mengkuak tabir
    Aku dan cinta dalam pelukan belenggu getir

    Cinta yang tercipta
    Cinta yang terdalam
    Cinta yang menghanyutkan
    Membelenggu asa mengoyak cintaku…

    Puisi 1 By: Fira

    CINTAKU TULALIT…

    Ku bisikkan rindu
    Ku semaikan nada indah
    Ku rangkul kehangatan
    Ku hanyut dalam bara asmara

    Di mataku engkau nyata
    Di hatiku engkau bersemayam
    Di tarikan nafasku harum namamu
    Di denyut nadiku engkau tercipta

    Tiba-tiba aku terjaga di malam pekat
    Duduk dan terdiam seribu kata
    Memandang sekelilingku dalam remang
    Ku tersentak oh, tidak…cintaku kemana?

    Tulalit…..
    Tulalit…..
    Cintaku hanya semu belaka
    Cintaku tak pernah ada….

    Puisi 2 By: Fira

  33. By Sindu Putra on Jan 3, 2008 | Reply

    HANYA CINTA

    hanya Cinta
    yang masih dapat
    menyehatkan dunia

    dunia yang menyesat
    ke dalam hujan asam
    di tangan lelaki
    yang membuat rumah dari asap
    di tangan perempuan
    yang mengeram burung pendoa terakhir
    di tangan rahib yang raib
    di tengah hujan merah
    hujan yang paling tajam
    di tengah hari Oktober

    maka
    karena hanya tinggal Cinta
    yang masih dapat
    menyelamatkan dunia
    mari, beri warna hujan
    dari warna-warna manusia
    hingga dunia ditemukan kembali

    dunia yang takjub
    milik kanak-kanak

    Mataram 2007

    PENDOA MATARAM

    aku hamba yang hampa
    tangan yang meniup harpa
    tangan yang terpejam nestapa

    aku tak kuasa
    selami tangga air
    menuju hening

    aku peluk dirimu
    aku pintakan obat terbaik
    bagi cintamu

    bulan mati
    ke lengang arah pandang
    di atap senyap

    laut dipaangi arung
    burung-burung kehilangan murung
    batu-batu kehabisan dengung

    betapa dalam gunung air ini
    aku tak kuasa selami
    menuju hening

    aku yang hampa meniup harpa
    aku, harpa yang meniup hampa

    Mataram 2007

  34. By unai on Jan 3, 2008 | Reply

    aku vote Nimeiy..keten banget puisinya..huhuy..eh yang lain bagus bagus euy..bikin minder :)

  35. By via on Jan 3, 2008 | Reply

    19 Oktober 2007

    bila ini puisi yang tercipta hanya untukmu

    mungkin aku
    bukan pemerhati kata yang baik
    bukan pujangga yang pandai
    bukan penulis puisi terkenal
    bukan pula satrawan muda

    aku hanyalah
    seorang biasa yang sembunyi dibalik awan
    seorang tolol yang tak berani ungkapkan
    seorang bodoh yang takut untuk besar
    seorang lemah yang tak mampu berkata-kata

    biarlah perasaan tak terungkap ini
    biar ia tahu dengan tatapanku
    biar ia merasa dengan sentuhanku
    biar ia mengerti dengan senyumanku

    meski harus menunggu seribu tahun lagi….

    sory kalo gue pake puisi yang lama yang pernah gue buat di blog gue..
    nih link ke blog gue…^^

    http://kepleset.blogspot.com/2007/10/bila-ini-puisi-yang-tercipta-hanya.html

    original kok

  36. By via on Jan 3, 2008 | Reply

    Arti Mencoba Bertahan

    Adakah cara melepas rindu?
    Selain bertemu dengan mu
    bisakah mimpi menjadi kenyatan?
    Jika sendirian?

    Kenapa ada begitu banyak tanya?
    Aku tak mampu menjawabnya
    Aku hanyalah manusia kayu
    Yang lapuk dimakan waktu
    Aku tak mampu meneteskan air mata
    Aku hanyalah manusia batu karang
    Yang pecah diterjang ombak

    salahkah aku?
    Mangharap satu yang mustahil
    Benarkah aku?
    Melepas mimpi terindahku
    Berdiamkah aku
    Melihat dirimu melewati waktu

    Tapi bukan aku yang mampu menghentikan waktuku, waktumu
    Sembuhkan sakit itu
    Aku hanya berbohong pada diriku dan dirimu
    Kita akan baik-baik saja
    Waktu akan mengahapus semua
    Air mata dan cinta kita

    Jika saat itu tiba
    Kita akan tersenyum menatap dunia
    Aku tahu butuh waktu yang lama
    Tapi dunia tahu, jika saat itu tiba
    Semuanya takkan lagi sama

    Mungkin kau akan lebih bahagia
    Mungkin aku akan terlihat tua
    Mungkin kita akan lebih mengenal cinta
    Mungkin dunia akan tertawa melihat kita
    Insan manusia

    Nb: Untuk dia yang telah pergi, dia yang meninggalkan luka, dia yang mengajari menahan tangis dan dia yang mampu membuatku merasakan rasanya dicintai

  37. By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply

    Secercah Harap di Pagi yang Cerah

    Pagi yang cerah…
    Secerah hatiku saat ini
    Secercah harap menyapaku
    Dia yang ada di sana
    Seakan hadir menemaniku di sini
    Ketika pesan-pesan cinta dia kirimkan
    Sebagai ungkapan rasa cinta kasih dan sayangnya yang tulus padaku

    Aku begitu bahagia…
    Anganku pun melayang jauh
    Membayangkan sejuta pesona yang dia tebarkan
    Yang setia menemani hari-hariku kini
    Mewarnai hidupku dengan penuh cinta
    Yang telah mengapus jejak masa laluku
    Mengobati sejumlah goresan luka di hatiku
    Menawarkan seberkas sinar
    Tuk menerangi hatiku yang hampir redup
    Menjadi kembali bercahaya

    Sayang…
    Kau datang dengan membawa seuntai harapan
    Akupun menyambutmu dengan penuh cinta
    Kau adalah gairah hidupku
    Kau mampu membangkitkan aku dari keterpurukan
    Di saat asa yang ku damba seolah hilang entah ke mana
    Di kala diriku gontai, jiwaku galau, keputusasaan menyeruak
    Kau hadir membawa penawarnya
    Kau hapus putus asaku dengan secercah harapan
    Kau papah diriku yang gontai, kau bangkitkan aku, akupun kembali berdiri tegak
    Penuh gairah menatap hidup
    Kau hilangkan kegalauanku
    Kau semai kedamaian
    Kau taburi jiwaku dengan benih-benih cinta dan sayangmu
    Kini, aku terus menunggu
    Ku berharap semaian benih cinta dan sayang yang kau taburkan ke dalam jiwaku
    Akan tumbuh bersemi indah
    Sampai akhir hayat kita
    Amiiin….

  38. By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply

    Ketika Dua Hati Telah Menyatu

    Tiada saat yang paling indah,
    Selain saat menyatunya dua hati
    dalam balutan cinta dan kasih sayang
    Saat ketika dua insan berlawanan jenis
    merengkuh bahagia di bawah naungan ridlo-Nya.

    Anugerah terindah inilah..
    yang saat ini aku rasakan
    Betapa bahagianya aku
    Hatiku kini telah menemukan pautannya
    Jiwaku kini telah menemukan pasangannya.

    Puji syukur tak terhingga…
    Aku haturkan padamu Ya Allah…
    Engkau telah menyatukan dua insan ciptaan-Mu ini
    Dalam bingkai kasih sayang.
    Inikah kehendak-Mu yang selama ini aku nantikan?
    Semoga…

  39. By via on Jan 3, 2008 | Reply

    BIla Dia Orang Yang Kau cintai

    22 Mei 2007

    Aku melihat kucing sekarat ditengah jalan
    Tertabrak kendaraan yang berlalu lalang
    Kucing kecil itu masih mencoba ketepian
    Orang-orang berkata “Kasihan”

    Aku bergidik ngeri
    Melihat muntahan darahnya
    Merah dan segar

    Jalannya terseok-seok
    Matanya berkaca-kaca seakan menangis
    Mulutnya bergerak-gerak seakan merintih minta tolong

    Sekali lagi kucing itu masih di tengah jalan
    Mencoba ketepian, berharap ditolong
    Namun tidak ada yang bergerak
    Hanya bergumam tak jelas, seakan tak penting

    Gerakannya melambat
    Sinar matanya meredup
    Nafasnya satu-satu

    Skali lagi kucing itu masih ditengah jalan
    Kali ini ia tak mencoba ketepian
    Ia terdiam kemudian terlambat

    Sebelum ia pergi
    Ia berkata dalam hati
    Bersalahkah aku pada mu?
    Semua menjawab”Tidak”
    Ia berkata lagi
    Mengapa kau tak menolongku?
    Semua terdiam
    Tak mampu menjawab

    Apakah cinta kasih Tuhan telah hilang dimakan waktu?
    Apakah dirimu lebih hebat dan tidak butuh kucing kecil itu?
    Apakah hatimu telah mati, tega melihatnya mati?
    Bagaimana Bila Dia Orang Yang Kau Cintai?

    http://kepleset.blogspot.com/2007/12/bila-dia-orang-yang-kau-cintai.html

  40. By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply

    Sajak Cinta Buat Yang Tersayang

    Sayang…
    Pesonamu yang menggelayut manja di lubuk hatiku
    Mampu menyihir jiwa dan ragaku
    Seakan jiwaku terbelenggu, ragaku pun hanya terpaku
    Mengikuti setiap gerak langkahmu

    Sayang…
    Aku tak bisa melepaskan bayangmu dari hidupku
    Walaupun hanya sekejap saja, aku tetap tak mampu
    Kau selalu hadir di setiap waktuku
    Dalam kesendirian, bayangmu nampak begitu jelas menyapaku
    Dalam keramaian, kaupun ‘hadir’ menyertaiku

    Sayang…
    Ku rindu hadirmu…
    Ku kangen candamu, tawamu, manjamu…
    Ku tak bisa melupakan semua itu…
    Saat kita bersama
    Hari-hari terasa begitu indah

    Sayang…
    Akankah kita selalu bersama?
    Mengukir hari penuh cinta
    Mewarnai hidup dengan kasih sayang
    Merenda masa depan dengan cinta dan kasih sayang

    Sayang…
    Aku hadir untuk mu
    Kau hadir untukku
    Hidupmu adalah jiwaku
    Hidupku adalah jiwamu
    Cinta dan Sayangku ini hanya milikmu
    Cinta dan Sayangmu itu hanya milikku
    Kita jaga anugerah terindah dari Allah ini
    Kita jadikan cinta, kasih, dan sayang ini jalan menuju ridlo-Nya
    Semoga…

  41. By via on Jan 3, 2008 | Reply

    Sepotong coklat cadbury
    Lumer perlahan di mulutku
    Seperti itulah hatiku
    Saat kau tawarkan cinta padaku

    Sepotong coklat cadbury
    Kupatahkan satu-persatu
    Seperti itulah egoku
    Saat kau rela demi aku

    Sepotong coklat cadbury
    Kukulum perlahan-lahan
    Seperti itulah cinta mu
    Aku menikmati tiap sensasinya

    Sepotong coklat cadbury
    Kucari-cari isi coklatnya
    Seperti itulah perasaanku
    Rasa penasaran menikmati cintamu

    Nb:
    Untuk seseorang yang tau seberapa berharganya sepotong coklat Cadbury Balck forest apabila diberikan dengan cinta ( 8 oktober 2007 )

  42. By via on Jan 3, 2008 | Reply

    maaf lupa dikasih judulnya sama link nya….

    http://kepleset.blogspot.com/2007/10/sepotong-cadbury-black-forest.html

    judulnya “sepotong cadbury black forest”

  43. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman DidiKhamdani:
    Sajak Cinta buat Dik Ajeng Srintil

    cinta, jangan kaukatakan
    jika hanya kenal lewat mata
    cinta, buanglah jauh-jauh ia
    jika untuk bersenang-senang saja
    cinta, lupakanlah
    jika kau memberikannya hanya untuk
    mendapatkannya kembali
    cinta, marilah tak lagi kita
    merisaukannya
    karena ia hanya dongeng dan
    omong kosong kini
    di negeri liliput ini

    05-060600

  44. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Lewat Malam

    senyummu adalah kelelawar
    yang menggelepar
    menahan luka di sayap

    saat langit tak lagi jingga
    ia terbang bersama angin
    menuju utara
    menuju cakrawala ke tiga
    menuju sang Hyang Widi Wasa

  45. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Balada Kurusetra

    ketika Arjuna melepaskan anak
    gandewanya ke leher Karna
    langit bergetar
    meruntuhkan awan-awan
    ke pangkuan Kunthi
    menyeretkan duka
    yang masih saja kubaca
    sampai hari ini

    2000/2003

  46. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Aceh: 261204 (1)

    ini bukan isyarat
    sebab isyarat
    telah lama kehilangan
    maknanya
    hilang tak berbekas
    di cakrawala
    ini bukan pula tragedi
    sebab tragedi
    hanya dongeng dan mitos
    tentang air mata
    : air mata pun
    kini telah kehilangan
    maknanya
    hilang entah kemana
    dari nurani kita
    ini hanya sebentuk pengakuan
    lain
    : Tuhan memang
    begitu menyayangi
    kita

    301204/020105

  47. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Padamu Cinta

    tiba-tiba aku merasa rindu padamu
    padahal tiga puluh menit yang lalu
    baru saja kukecup keningmu

    tiba-tiba aku merasa sangat kehilanganmu
    padahal bertahun-tahun telah kita
    lalui hari-hari dalam kebersamaan

    tiba-tiba aku merasa sangat asing padamu
    padahal cinta yang telah kita semai
    telah tumbuh sebagai bocah

    ah, betapa cinta kian tak kumengerti
    di saat aku kian mencoba tuk
    berdamai dengannya

    apakah hanya kepura-puraan dan
    kepalsuan yang telah kita jalani
    sebab masih saja ada luka-luka
    di sana-sini?

    aku ingin bisa memelukmu erat
    tanpa harus membisikkan ‘I love you’
    aku ingin bisa pergi dengan tenang
    tanpa harus menanggung kerinduan
    yang menikam dan terus merasuk di dadadu

    aku ingin bisa menggenggam cinta
    seperti aku menggenggam sapu tangan putih
    yang bisa kuberikan sewaktu-waktu padamu
    tuk menghapus airmata yang tiba-tiba
    membasahi pipimu
    sungguh aku ingin bisa mengucap ‘I love you’
    padamu
    tanpa harus terburu-buru mengejar bis kota
    yang tak menentu …

    Ruas tol Cawang, 280507 12:11

  48. By unai on Jan 3, 2008 | Reply

    aku ingat semuanya, panas matamu yang menjangkau parasku, bibirmu yang terlalu lambat mengucapkan kata, dan gelisah tanganmu mengaisi ujung kemeja. aku ingat suaramu yang sedikit goyang, juga warna kemerahan pauh pipimu, serta bayang tubuhmu yang ditempiaskan mentari pagi.
    aku ingat,kita bertemu di pangkal duha itu. aku menjamah keseluruhanmu, dengam mataku, untuk pertama kali. aku berharap, kita bertemu untuk mendekatkan hati.

    dan waktu kemudian berlalu, kita terhubung dari satu kenyataan dan berjuta impian: telah tak ada dermaga. kapal-kapal telah dilepaskan, nahkoda sudah tentukan arah: kita penumpang yang gelisah. hanya dari kejauhan, kugaris pelangi, agar kamu bisa menitinya, suatu pagi, dari ujung takdirmu di sana.

    pelangi itu, masih aku gambari, sampai kini. dan dengan doa, setiap malam, kusisipkan ke dalam mimpimu. satu-satu.

    maukah suatu kali kau igaukan namaku, maukah?

  49. By unai on Jan 3, 2008 | Reply

    Kau pasti ingat, saat kita pertama kali bersitatap. Mencuri pandang diantara debur ombak dada yang berkejaran. Senyum dan tawa kecil menyela percakapan kita yang tergagap. Kita tak pernah mengira bertemu di sini, di angan yang kita ciptakan sendiri.

    Malam merapat kini, menunggu saat hujan meteor datang serupa mengharap senyummu yang mengembang. Tawa yang kubayangkan membuncah, kuharap ada ketika nanti kita bertemu nyata. Dan…. mimpi tadi malam akan kubawa serta, sebagai peta penunjuk arah, ketika aku harus melangkah ; pulangkah? atau melanjutkan berteman goyah?

    Kubiarkan tanya berkeriap di jantung, dada, dan otak. Mencari makna sendiri setapak yang berliku yang kita lalui kini.

  50. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Adakah Kau Tahu, Anakku?
    in memoriam: Laleh - Laden

    adakah dunia ini bulat, anakku?
    ataukah ia sebuah tabung kosong?
    tidak adakah orang-orang sae lakon panggung kita?
    kenapa harus Anoman yang elek yang membumihanguskan Alengka
    bukannya Rama yang gumagus itu?
    kenapa Karna yang menjadi tokoh Kurusetra
    padahal ia hanyalah seorang anak buangan?
    kenapa harus Einstein yang amburadul itu
    yang menuntaskan omong-kosong sains?
    kenapa harus Edison?
    kenapa harus Muhammad yang ummi itu?
    kenapa, anakku?
    kenapa harus Sumanto, Amrozi, …?
    adakah Tuhan membisikkan nawaitu-nya membangun dunia ini
    kepadamu, ngger; nduk?
    lalu kenapa harus ada rasionalitas di meja makan kita
    jika pisau-pisaunya tak mampu memisahkan Laleh - Laden?
    tak mampu membedah dan membelah kegelisahan mereka yang
    berlaksa-laksa tahun
    menjadi mimpi buruk yang
    menggelisahkan tidur mereka?
    anakku,
    adakah kau tahu?

    210703/250903

  51. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Mengeja Nama-Mu

    aku mengeja nama-Mu
    dari bentang kesunyian
    hingga bentang kesunyian ini
    kembali
    namun selalu saja yang
    tereja adalah
    diam dan kebekuan

  52. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Ode kepada Tuhan

    setelah perjalanan panjang ini
    aku masih saja selalu getir
    menapaki takdirmu
    maafkan aku, tuhan
    dzikirku selalu patah
    di setiap takbiratul-ihram
    aku masih saja selalu gagap
    melafal asmamu
    sujudku tak menyentuh
    maafkan aku, tuhan
    tapi sungguh
    nuraniku teramat kering
    oleh nawaitu kepadamu
    aku selalu saja gamang

    tuhan
    tapi pun sungguh
    sebenar hatiku
    aku selalu merindukan kasihmu
    mengusap kotor kalbuku
    aku selalu merindukan kasihmu
    memberi daya bagi diri
    yang tertatih menyusuri jalan
    takdirmu
    ini

    ilahii lastu lil-firdausi ahlaa
    wa laa aqwaa `alan-naaril-jahiimi
    fahab lii taubatan waghfir dzunuubii
    fainnaka ghaafirudz-dzanbil-`adziimi*

    sinari selalu jalanku, tuhan
    berilah cahayamu
    bukakan mata batinku
    berilah petunjukmu selalu
    jangan sesatkan jalanku, tuhan
    beri arti bagi kembaraku ini
    sepenuh keridhaan dan ampunanmu
    amin

    * doa abu nawas

  53. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Surat Putih 2

    melewati hari dalam sepi
    kadang dingin mencekam
    menyelimuti tidurku
    menawarkan mimpi-mimpi kelam
    tentangmu
    —setiap bangun tidur
    aku selalu tertegun
    meraba dan menatapi
    senyummu dalam wajah
    potret beku
    lalu kembali segumpal
    pilu menghantam
    hari-hari yang panjang
    dalam doa dan penantian
    panjang menyeret angan
    menyusuri jalanan ke
    masa depan
    —tumpuan harapan dan impian
    bersamamu
    aku selalu mengerti
    bahwa dunia tidak hanya hari ini
    tapi adalah kemarin dan esok hari

    160399

  54. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Usman Didi Khamdani
    Sajak Rembulan Masa Lalu
    —NH

    ingin kugapai kembali
    rembulan masa lalu
    sering kutermenung
    dari beranda
    mebayangkan
    kita berlari-lari
    mengejarnya kembali
    —yang tak pernah tergapai
    dan memangkunya kemudian

    tapi kembali aku sayu
    bintang-bintang yang terang
    kembali menegurku
    bahwa rembulan masa lalu
    telah lama berlalu
    kabut-kabut telah
    memintanya

    lalu aku terdiam kembali

    dari beranda
    kutuju kamarku
    kukunci dari dalam
    lalu tidur
    diam
    sampai esok datang menjelang
    bersama mentari
    yang kan datang menerangi
    dua hati kita
    tanpa noda dan cela

    rembulan masa lalu
    biarlah pergi berlalu
    hilang tanpa rintangan
    namun sinarnya yang
    pernah tersisakan
    mari kita jaga
    sebagai penerang
    kamar kita
    yang kini telah
    terisi
    oleh dua hati
    kenangan kita pada sejarah
    dua hati
    sejawat kita melewati
    sejarah

    biarlah
    dan kita melangkah
    seperti rembulan itu
    yang datang dan pergi
    tanpa kita ingini

    jatibarang, malam, 220199

  55. By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply

    Kang Ersis,
    Titip yo??
    Banyakan ga papa kan???

    Semuanya bertema ‘cinta’ kok. ;)

    ***Yoi, thums up.

  56. By Ardan Setiansah on Jan 3, 2008 | Reply

    Malam Tak Berbintang

    waktu terasa terbebani
    didalam ruang seribu ruang
    yang terbayang hanyalah dirimu
    penat terasa di pikiranku

    gambaran wajahmu tak pernah hilang
    walaupun seperti aku bercermin aku dapat melihatku
    tapi ketika tidak bercermin aku dapat merasakan keadaanku
    seperti itulah dirimu seperti aku yang bercermin

    seperti malam tanpa bintang
    jiwa ini selalu hampa
    tapi diimpianku kau selalu nampak
    walau seperti malam tanpa bintang..

  57. By riri on Jan 3, 2008 | Reply

    SAHABAT

    BEGITU BANYAK UKIRAN YANG TERPAHAT
    BEGITU BANYAK RINTANGAN YANG MANGHAMBAT

    HANYA SENYUMMU PELEBUR SEDIHKU
    HANYA TAWAMU PEREDAM AMARAHKU

    SAHABAT…

    TERIMA KASIH KAU BERI WARNA DALAM HIDUP
    TERIMA KASIH KAU BERI SEGELAS SEMANGAT

  58. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    DAN JADILAH NISKALA

    Duduk di keningmu adalah niskala yang sejak lama kurangkum dalam sebuah rasa berwarna magenta.
    Menyaksikan langit ketika jingga menyesaki sawangnya.

    Lalu rumput, lalu tanah coklat, lalu daun jambu yang bertegur sapa dalam aroma sisa hujan dan ceruk kecil hasil pertemuan tetes hujan dan tanah lapang.

    Ada larik samar di antara pendar hujan yang seketika saja meriap,
    tepat ketika jarum jam menegur deretan angka

    Kau ada di situ, diantara telisik kata yang mewujud samudera.
    Bukankah kita telah sepakat,
    bahwa hanya akan ada denting embun saja
    dan kita akan menghimpunnya

    menjadi telaga

    menjadi muara

    menjadi samudera.

    Aku menurut saja
    ketika diamdiam kau sisipkan sebuah mantra
    Lalu Dia menciptakannya untuk kita,
    lalu Dia meniupkannya untuk kita.

    Dan Jadilah..

    Jakarta, senja 19 Desember 2007
    Special 4 my Princes :Hamasah Putri

  59. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    KATA DEMI KATA

    Gegapku di reruntuhan itu
    di antara jeda pada rembulan yang merengkuh anggun
    di antara suaku dengan mentari senja
    di antara lengkung pelangi

    Ah…
    kau tak tahu saja
    setiap desah keluhmu
    setiap erang kesahmu
    aku membacanya

    runut
    kata
    demi
    kata

    Deruku di sini
    menguapkan setiap pesan yang kau titip
    mengemas setiap asa yang kau kemas
    dan ketika gerimis
    ketika bumi bersentuhan dengan langit

    Aku berbisik
    tentangmu pada-Nya
    terus saja berdiri di sana
    saksikan bagaimana aku bercinta dengan mentari
    saksikan bagaimana aku berselingkuh dengan rembulan

    Bogor, November 2007

  60. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    MENJEJAK ANGAN

    Lalu kita sua dalam cinta
    Mengeja makna yang selalu saja ruah
    Merunut langkah dalam getar-getar
    Penuh pesona

    Lalu kita rukuk dalam pasrah
    Mengharap resah agar lekas sirna
    Menyusun kata yang selalu saja ruah
    Dan hilang …
    Entah

    Lalu kita sua di negerimu
    Daratan yang selalu saja bertabur kata
    Membaca hati yang tercipta
    Dari rintik embun
    Sisa tadi malam
    Untuk bekal mimpi
    Seribu tahun kedepan..

    Bandung, 24 Juni 2007

  61. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    BINGKAI KACA

    Sore dingin yang basah
    Bingkai kaca
    di sini penantian yang tak berujung berakhir

    Nama kerinduan itu
    menyampaikan sapa pagi darimu
    kau beri aku ulasan dan warna baru
    buat mimpiku

    Senja tetap turun
    segumpal harapan menyiramku
    lewat aliran air mata
    kedinginan membekukan hatimu
    izinkan aku menghapus luka itu
    bersama sukaku
    dan kuhantar sejumput kehangatan

    Ku eja nama bagusmu perlahan
    aku terjatuh dalam telaga
    pada bening matamu

    Jakarta, 02 September 2006
    di ambang senja

  62. By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply

    PASIR WAKTU

    Pasir waktuku tak lagi cukup
    habis ketika jalan belum lagi usai
    bahkan rindu yang pernah ku uraipun
    tak pernah tuntas

    Akhirakhir ini senja tak pernah tersenyum
    terkadang dia muram
    mungkin tak punya lagi stok jingga
    di gudangnya

    Tapi sudahlah
    karena pasir waktuku ternyata
    tak sama banyak denganmu
    sebentar lagi

    waktuku habis
    sambil masih
    mengepal
    rindu

    Rdio dalam, 14-06-07
    Menunggu senja

  63. By Usman Didi Khamdani on Jan 4, 2008 | Reply

    Satu lagi Kang Ersis:

    Usman Didi Khamdani
    Matematika Cinta

    Sekantung permen tiga bocah
    Sepertigaan dibagi rata
    Satu cinta tiga hati
    Siapa bisa membagi?

  64. By verlita on Jan 4, 2008 | Reply

    Verlita’s Wrote

    Aku sedang menggoreskan namamu saat ini
    Saat dimana hatiku sedang menjerit - jerit karna takut
    Saat dimana hatiku sedang berdebar - debar karna takjub

    aku tidak mampu berkata-kata, sayang
    karna nikmatnya hari yg telah kujalani denganmu
    tidak sebatas kata…
    tidak sebatas bicara…
    dan tidak sebatas tulisan…

    Dan ketika aku bergeming…
    kaku dan diam……..
    itu karna aku sedang memandang lurus kehatimu
    sedang mengorek cinta di sukmamu…
    Yang ketika ku gigit, kucicipi dan ku kunyah…
    aku berdoa sampai gemetar…
    karna rasanya tak kan pernah terlupakan..

    note : untuk cerita lama, untuk kenangan yang pernah aku jalani bersamamu…

  65. By antar pulau on Jan 5, 2008 | Reply

    *Fuihh….
    sambil ngelap keringet di jidat….
    Pusinya bagus-bagus…..
    Salut untuk semuanya… :) *

    ***Fuihh … Makasih

  66. By didi junaedi hz on Jan 5, 2008 | Reply

    Jeratan Gelora Api Cinta yang Membara

    Bermula dari percikan api cinta yang kecil

    Menjelma menjadi kobaran api cinta yang menyala

    Siapapun yang merasakannya

    Tak akan dapat menguasainya

    Tidak juga kita

    Insan yang lemah

    Ketika terjerat dalam kubangan nafsu

    Terlilit belitan gairah yang membara

    Raga tak berdaya mengelak

    Jiwa tak kuasa menolak

    Iman pun runtuh seketika

    Hanya bisikan halus penuh janji manis

    Bujuk rayu si durjana

    Penyesat umat manusia

    Yang senantiasa terngiang di benak kita

    Kita pun terseret

    Dalam kenikmatan semu yang dia janjikan

    Kita pun terbuai

    Dalam angan yang mengawang

    Kita pun terlena

    Dalam tipuan yang mematikan

    Sampai akhirnya kita sadar…

    Menyesal…

    Meratapi…

    Kekhilafan yang telah kita perbuat

    Hanya untaian doa

    Yang mampu kita panjatkan

    Sebagai bentuk taubat kita kepada-Nya

    Sebuah permohonan ampun kepada Yang Maha Pengampun

    Selaksa permintaan maaf kepada Yang Maha Pemaaf

    Semoga Dia mau membukakan pintu taubat-Nya

    Semoga Dia mau mengampuni

    Semoga Dia mau memaafkan

    Kekhilafan dan kesalahan kita

    Hanya itu yang kita pinta dari-Nya

    Tiada yang lebih berharga

    Selain ampunan-Nya

    Tiada yang lebih mulia

    Selain maghfirah-Nya

    Semoga doa yang kita panjatkan

    Mendapat perkenan-Nya

    Menemui Ijabah-Nya

    Menjumpai Qabul-Nya

    Amiiin….

  67. By Maulida Ok on Jan 5, 2008 | Reply

    Someone In My Heart
    Entah kapan perasaan ini bermula
    Entah mengapa saat dia ada di hati, ku tak pernah menyadarinya
    Dia datang dengan biasa
    Dia dan aku hanya teman biasa
    Hingga kita pun terbiasa
    Bersama melakukan hal yang biasa
    Membicarakan semua yang ada
    Membicarakan apapun tentang dunia
    Hingga sampai ke akhirnya
    Ku tak tahu kapan saat tiba- tiba ku merasa beda
    Saat dia menjauh dan ku tak kuasa
    Ku merasa resah setiap kali ingat dia
    Ku tak mengerti apa yang kurasa
    Mungkinkah aku jatuh cinta??
    Tuhan… tolonglah aku yang kini menderita
    Ku mencintai hamba-Mu yang mungkin tak pernah mencintaiku
    Ku mohon agar dirinya tak menjauh
    Hingga kehendak-Mulah yang akhirnya mempersatukan hatinya dengan hatiku . .

  68. By Dhikrotul Izzah on Jan 5, 2008 | Reply

    Hadirkan Aku Dirinya

    Dua kali tiga ratus enam puluh lima hari
    Bertemu di temaram senja
    Nan jingga elok paras budinya
    Senandung ayat – ayat-Nya berirama
    Tatkala lisan – lisan kecil melafalkannya
    Seirama detak – detak jantung menggelora

    Denyut nadi mengalun
    Detak jantung semakin berdegup
    Bidikan syair asmara pun merajut syahdu terasa
    Rona wajah Sang kasmaran pun bak lembayung merona
    Untaian rasa dititipkan-Nya
    Bahagia, sedih, cemburu, gemas, malu menyatu rasa

    Jikalau tak ungkapkan ini semua
    Relung hati terdalam ini ‘kan merana
    Meledak dahsyat tak tahu apa jadinya
    Ketika lelah, tak menghiraukannya
    Galau hati pasti ‘kan menyapa
    Ku tak mau ada sesal nantinya

    Sejenak menghela nafas
    Kau hadirkan aku
    Dirinya
    Dalam kesyahduan
    Dalam keheningan
    Menyibak rasa cinta

    Written by: Dhikrotul Izzah
    In breezy afternoon, 14:20
    Batu, January 4, 2008

  69. By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply

    Aku ikutan lombanya ya…

    Tembang Cinta I

    jam yang berdetak menepi
    seperti menghitung langkah kekosongan
    purnama setengah tiang
    menyemburatkan cercah cahaya
    menelusup ke balik poripori kaca

    codot memanggilmanggil dari balik jendela
    tahu, aku masih terjaga
    menyenandungkan tembang Asmarandhana
    agar hatiku tidak terkalut terlalu jauh
    tentang arti cinta

    Padang, 2007

  70. By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply

    Tembang Cinta II

    ;malam sepi.
    purnama, ukir sebuah kata
    pada lontar kesenduan.

    catatlah sebuah kalimat,
    tentang arti cinta,
    di hati.

    entah hati siapa yang gores
    sebelum kata itu, selimuti kelam
    rahwana malam

    Sebelum senja itu habis
    cepatcepat tulis
    bila tidak
    bias luka,
    mencoreng wajah nan bersahaja
    meratapi nasib.
    yang tak segera dijemput.

    Rumah Cinta-Padang, Januari 2006-April 2007

  71. By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply

    Kukirim Lagi…

    Tembang Cinta IV

    “cinta itu harus kuutarakan!”

    kulepaskan sebutir luka pada laut
    di tengah terik, kuteriakkan namamu sekali lagi

    “oh, kasih. seperti inikah cinta itu kaukatakan?”
    ilalang tajam, menerbangkan sekujur durinya
    angin bertiup keras
    dan aku masih berada pada kegetiran cinta

    Rumah Cinta-Padang, Juli 2007

  72. By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply

    Selepas Doa Itu Kuucap

    matahari telah beranjak padang
    tinggalkan garisgaris sepi
    berputar dua puluh kali
    pada bumi

    ucapkan salam pada rembulan
    pada gegap gemintang
    yang bertaburan di langit
    cahya, jam 12 tengah malam

    kuusap doa di ujung pelipismu
    belai tiap helai juntaian rambutmu
    meninggalkan senyum sesaat
    yang kulemparkan pada rona wajahmu

    “selamat ulang tahun kekasihku”
    kutiriskan ucapan itu,
    dan kutaburkan pada desauan angin

    biar alam tahu
    dirimu, yang dikalut rindu

    padanghingarsebelumkoyak, 15 Maret 2007

  73. By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply

    Sketsa Wajah Di Bibir Senja

    ;disini
    kuiringkan langkahku
    menapaki tetes pasir yang basah
    senyummu merekah marun
    kuimpikan, agar cerahkan wajahku yang muram

    hanyalah sketsa,
    sketsa wajah yang halus kau ukir
    di ujung lanskap penantian

    ;disini
    menunggumu dengan penuh kasih
    di bibir pantai
    lelaut, temaniku
    mengurai air mata pasir

    selaksa mega, seutas barat
    rona saga mewarna lelayar perahu yang kembang
    sesayap, kuinginkan kau hadir
    sesayup, kudambakan

    sesayup suara dari bukit Karamuntiang, Mei 2007

  74. By yunda on Jan 5, 2008 | Reply

    hantu

    cinta itu telah ku kubur
    hidup hidup
    geliatnya meronta,
    merintih
    mengiba meminta ku selamatkan

    tapi maaf,
    aku masih diriku
    teguh tanpa ampun membunuh rasa yang belum saatnya lahir jadi nyata

    perlahan ia kehabisan nafas
    tiap sela parunya telah terisi tanah kuburan
    ia batuk batuk
    lalu mati lemas dengan pucatnya

    berganti wajah bulan seiring deretan malam

    aku mulai demam dan kembali mengigau
    cinta itu
    menghantui…

    kenangan berbingkai hari
    menjelma arwah yang berkelebatan
    di tiap sinapsis otakku
    merasuki detik dalam pikiranku

    mungkin aku butuh terapi
    dan belajar mensugesti diri
    bahwa cinta itu telah mati!
    tak perlu kuragukan lagi!
    ia telah terurai
    bersenyawa dengan partikel partikel tanah
    melembut,
    melumat di pencernaan cacing cacing

    namun tak ku sadari bahwa ia melebur
    menguncup menjadi bunga karang
    yang menyuburkan perih
    luka
    lara
    asin airmata
    memberi nafas untuk menghantui ku

  75. By syeeddath on Jan 5, 2008 | Reply

    Satu Rasa

    Satu rasa..
    yang menguasa segala rupa
    Kerinduan…
    Kini dan esok

    Maka…
    Biarkan aku mencintai
    dengan caraku
    dengan keterbatasanku
    dengan kemesraanku
    dengan resah dan harapku

    Biarkan..
    walau dengan irama payah
    berdentang berdenting bergantian
    mengkreasi lirik lenguh nan manja

    Biarkan…
    mencipta selaksa gelora membuncah
    berpacu syahdu dengan detak

    Satu Rasa ..
    yang menguasa segala asa
    Kerinduan …
    kini dan esok

  76. By yayasz on Jan 6, 2008 | Reply

    tersenyumlah..
    karena bahagia
    menangislah…
    karena bahagia

    sulit, kuukir kata saat melihatmu
    sesak, kusemai kata bila didekatmu
    lari saja…mungkinkah lebih baik?

    tawamu saja, cukup bagiku
    tangismu, tak cukup bagiku
    aku siap menjadi kebimbanganmu, risaumu, kesalmu, dan segalanya…

    tapi jangan pernah berpaling
    tak perlu kau tahu rasaku ini
    tersenyum saja, matahariku.

  77. By edo on Jan 6, 2008 | Reply

    Terima Kasih Cinta…

    terima kasih kekasihku…
    telah kau kenalkan aku keindahan yang tak terimagikan
    telah kau kenalkan aku pada rasa sakit tanpa batas
    telah kau kenalkan aku canda tawa lepas bebas
    telah kau kenalkan aku derai tangis haru biru
    telah kau kenalkan aku kebahagiaan hakikat
    telah kau kenalkan aku pada kesedihan tak berujung
    telah kau kenalkan aku kedamaian tak terlukiskan
    telah kau kenalkan aku pada rasa hampa tanpa kata-kata
    telah kau kenalkan aku kasih sayang yang sesungguhnya
    telah kau kenalkan aku kebencian yang membusuk menyengat
    telah kau kenalkan aku kehidupan penuh warna
    telah kau kenalkan aku pada ruang pilu sunyi sepi
    telah kau kenalkan aku semangat semesta
    telah kau kenalkan aku pada kekosongan ruang waktu
    telah kau kenalkan aku kehangatan yang menenangkan
    telah kau kenalkan aku pada kebekuan menusuk kalbu

    terima kasih kekasihku…
    telah menghidupkanku…
    dan membunuhku…

    kini aku mati…
    entah dengan tenang…
    entah dalam gelisah…

    wrote on Wednesday, September 15, 2004, 04.09 AM

    *sorry bang, gatel ngirim lagi. gpp kan? :)

  78. By edo on Jan 6, 2008 | Reply

    Nyanyian sang Pendusta

    Indahnya dunia jika tak punya rasa
    hanya nafsu

    tak perlu ada sedih
    tak perlu ada duka
    tak perlu ada resah
    tak perlu ada gelisah

    indahnya dunia jika tak punya hati
    hanya logika

    tak perlu ada sepi
    tak perlu ada hampa
    tak perlu ada sunyi
    tak perlu ada pana

    andai saja aku hanya punya nafsu dan logika
    kan ku perkosa semesta
    memburai kendali tanpa hasrat
    membelah tengah malam dengan pedang terhunus
    merdeka tanpa belenggu
    menyayat cinta
    merobek kasih

    dan ya
    aku telah berdusta…

    *wrote on Friday, September 10, 2004, 02.33 AM

  79. By bulan ayudinda on Jan 6, 2008 | Reply

    Bulan Ayudinda

    Peraduan Kisah

    Guratan-guratan, sayat menyayat relung, sadarkan lewat perih dalam khayalku yang tak berbalas..

    Dinding kelam hadirkan ruang hampa mengulang kerapuhan lalu, terlalu terbuai dalam sajak-sajak kedamaian, jatuhkan melebur tak sanggup lagi tuk bertahan…

    Keluh adalah tanda pertama ku hancur!
    Berikutnya hanya keikhlasan semesta yang berhembus lewat rintih, isak, sesakku..

    Batu, jarum, duri, tengah merendamku dalam, menusuk cabik tanpa iba..

    Takkan terbiarkan lemah menghantam sisi hangatmu, kan ku halau walau mati menjadi milikku,
    takkan kubiarkan mentari tenggelam, aku pun takkan berlari menghempaskan jasadmu terpuruk, terlepas kisah bersama waktu..

    Remas genggam tiap jemari ini, rasakan mendalam
    layaknya aku dan kisah begitu merenggut nurani kasihmu..

    Aku telah mengenalmu kini …

    Jakarta, 06 January 2008

  80. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Adalah Kita
    Ingatlah saat aku hembuskan tawa renyah di liang matamu
    Menarik hati, membasuh kelam
    Dingin…
    Kau terpaku dalam keanggunanku
    Bergairah menyimak tawaku yang tak henti kau hirup
    Berdetak dan berdetak
    Saat binar matamu maknai rasa hati
    Rengkuh jiwaku dengan gurun cintamu yang tak terbatas
    Bagamana matahari mengukuhkan jiwanya menetap pada hati yang lugu ini
    Bagaimana alam merelakan lengannya berpijak pada kulit yang lemah ini
    Bangkitkanku, beri masa depan pasti
    Mengajakku berlari menuju bintang, menjemput bulan
    Rumput ilalang bukan penghalang
    Asal ia tetap berpijak pada kedua pundakku
    Lindungiku… sungguh melindungiku dari sakit dunia yang mengancam elokku

    Tuhan….satukanlah kami
    Aga bisa kurangkum rindu
    Dan merengkuhnya…selamanya

  81. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Melodi Kehidupan

    Diri ini terhuyung diterpa renungan
    Karena celahku sempit untuk menatapmu
    Kau jauh di sana
    Dan ragaku tak lelah menunggu wujudmu tiba
    Jiwa keriput termakan rindu
    Terbunuh sepi dalam keramaian
    Mataku buta pada keindahan
    Mulutku kaku pada kata-kata
    Telingaku tuli pada suara-suara
    Hanya mampu mendengar melodi darimu
    Melodi kehidupanku

  82. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Terbiasa Merindukanmu

    Rindu ini sangat menyesakkan ruang hati
    Gumpalan darah terus menghirup bayangmu
    Betapa ingin ku berbagi batin
    Untuk hilangkan hampa yang tergores di dadaku
    Kian kuhitung buliran embun yang jatuh dari dahan setiap pagi
    Setiap itu pula rinduku selalu tercetus untukmu

    Wahai rindu
    Aku yakin kau selalu bersemayam di hati
    Sebab rindu ini hanya untuk bayang yang tak akan kembali menjadi sebuah wujud

  83. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Api bahagiaku… Bahagiamu?

    Telah bersama-sama kian kita susun kayu-kayu kering
    Dan menyulutnya dengan penuh ketabahan
    Berkobarlah api yang sering disebut-sebut setiap mahkluk dalam tidurnya…
    Nyaman ku dipinggirnya, kau juga
    Serempak kulit ini ikut menyanyi atas hangatnya

    Tanpa suara angin yang mengantarnya
    Melesat es-es yang mencekam punggung belukar
    Menembus alur yang telah kita tetapkan
    Dinginnya yang membawamu pada kebenaran, kenyataan, dan kecerahan

    Selintas padam semua pada pandangan
    Namun ada yang tersulut kecil pada sebuah lilin
    Ternyata ku lumpuh terbujur kaku mencium tanah
    Tapi tetap kujaga agar tetap menari pada sumbunya
    Ku tak pernah ikatkan simpul mati
    Tapi kumohon… berikan aku lilin lagi
    Agar tetap kusambung keringatku pada tubuh dan jiwa yang tak berdaya…

  84. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Safana

    Dalam lumpur pasir seorang pria terbaring
    Dia mabuk, sangat sangat mabuk
    Semua partikel berputar
    Mata menggandakan segalanya
    Gulana kian menikam sekujur tubuhnya
    Yang dia butuhkan hanya sebuah jentik sudut bibir yang tersenyum
    Dari wanita yang rela menyisihkan berjuta detik hidupnya
    Untuk pria yang sesaat lagi kehilangan nyawa
    Safana……

  85. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Aku Mencintai Sajak

    Tak pernah kutanyakan mengapa
    Karena ku tak tahu jawabnya
    Tak pernah kurisaukan kemana
    Karena tetap ku tak tahu jawabnya
    Aku hanya menuangkannya dengan tulus
    Tak ada yang memaksaku berbuat ini
    Pun aku tak terpaksa hidup di dalamnya
    Aku hanya mencintai sajak
    Hingga darah yang mengalir di sekujur tubuh,
    Mata yang memandang, juga hati yang bergetar ini
    Adalah sajak…

  86. By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply

    Hari Kasih Sayang

    Hari kasih sayang…
    Hanya doktrin yang menggelikan ruang benakku
    Aku memang mencintai cinta
    Tapi, haruskah cinta terklimaks di hari itu?

  87. By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply

    Aku Rindu Kamu

    Pagi katakan padanya
    Aku rindu kesejukkan suaranya
    Siang katakan padanya
    Diantara teriknya matahari
    Aku rindu panas asmaranya
    Senja katakan padanya
    Diantara redup cahayamu
    Aku rindu redup matanya ketika memandangku
    Malam katakan padanya
    Diantara dingin bekumu
    Aku rindu hangat peluknya
    Bintang katakan padanya
    Aku Rindu kerlipan matanya
    Jutaan kata sayangnya
    Tak akan sanggup melewati waktu tanpamu

  88. By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply

    Semakin Berharap Padamu

    Tiap detik aku mikirin kamu
    jarak yang jauh terasa dekat
    jika dirimu bersanding

    suaramu yang khas
    sapaanmu yang unik
    teguranmu yang lembut
    aku semakin mencintaimu
    aku semakin merindukanmu
    aku semakin ….
    berharap padamu…

  89. By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply

    Cintaku Abadi

    sayang..
    ..keindahan itu tak terperikan..
    ..rasa itu tak tergambarkan..
    …keinginan itu tak terlukiskan..
    …….di sebuah kisah yang terputus..
    aku berkaca..
    aku bertanya..
    kemana perginya dia dulu…
    …kenapa menghilang…
    …aku yang terlarut dari beberapa kisah..
    .. tidak pernah tahu ..
    ..tidak pernah merasa..
    ….bahwa kisah yang belum terwujud..
    itulah yang sebenarnya..

    sayang..
    kukatakan..
    selamat datang dikeabadian cinta kita..

  90. By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply

    Kukatakan

    Berjuta keindahan yang memukau
    Terpancar dari sebuah kisah yang ribuan hari terunda
    Aku kamu dan cerita cinta yang tak berlakon
    Suatu hari aku ingin….
    Kukatakan pada malam kepada siapa hati ini merindu
    Kukatakan pada bintang bolehkah aku meminjam kerlipnya
    Bolehkah aku meminjam pijarnya
    Agar dia tahu kepadanyalah aku bertaut

  91. By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply

    Cinta dalam Jiwa
    Sayang…..
    Hari-hariku selalu ingat dirimu
    Malam-malamku selalu berkhayal tentangmu
    Sungguh cintaku tulus untukmu
    Aku sangat menyayangimu
    Aku tak rela kamu meninggalkanku

    Tapi kutahu ‘Cinta ada dalam jiwa dan bukan dalam raga’
    Mungkin aku sedang diuji, kesetiaanku,
    kesabaranku, dan kedewasaanku

    Sayang……
    Aku akan tetap menyayangimu
    Dan mungkin kaulah segalanya bagiku
    Sungguh hebat kekuatan cinta ini
    Aku akan berusaha apapun itu
    Meraih kebahagiaan bersamamu suatu saat nanti

    Percayalah sayang
    Aku akan tetap menantimu
    Dan aku tak mau gantikan kamu dengan yang lainnya
    Aku akan coba hayati saat saat bersamamu
    merenda kasih kenangan-kenangan kita
    Karena kamu sangatlah berarti bagiku
    Dan aku akan selalu menunggumu

  92. By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply

    Tentang kata, tentang kita

    Terankai indah kata menjadi kalimat,
    bagai rangkaian bunga yang menjadi indah dan menebar bau wangi
    kesekeliling ruang yang ada,
    biarkan dia tetap begitu,
    mungkin wangi dan indahnya akan hilang
    tertelan gelapnya malam, terkikis panas mentari.

    Kalimat yang keluar dari ketulusan hati,
    didengar dengan keikhlasan batin,
    ditemani angin surgawi…. merasuk hingga sanubari,
    memasrahkan jiwaraga,
    dan dia tetap disana di dasar terdalam hingga sulit ternoda.

    Biarkan saja tetap seperti itu,
    karena terlalu berharga untuk ditepiskan.

  93. By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply

    Kasih

    Terbentang telaga kasih
    Kasih yang dalam tiada tersurut
    Kasih yang memancarkan suatu ketulusan
    Indah, lembut bak sinar rembulan

    Kekasih tempatku bersandar
    Merapikan sendi-sendi putus
    Menghapus lelah langkah
    Mendamaikan gemuruh hati
    Merajut Impian menuju kebahagiaan
    Meniti Harapan menuju Keindahan di ujung keheningan

    Kau Ucapkan kata sayang saat kuresah
    Dalam desahan nafasmu yang masih selalu kurasa saat memelukku
    Kau ucapkan kata cinta saat kulelah
    Dalam iringan lirih angin yang membelai jiwaku
    Kau tatap mataku dengan sorot matamu
    HIngga aku tersadar bahwa kau begitu menyayangiku
    Aku terlena dalam gemuruh jiwa sang pencinta.

  94. By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply

    Salam Kenal mas,

    Ikutan kirim 3 puisi ya mas, :)
    maaf puisinya masih begitu, maklum masih belajar

    thanks ya mas

    ***Yoi, dengan senang hati.

  95. By lubis grafura on Jan 7, 2008 | Reply

    Assalamualaikum wr.wb

    Yth. Bpk Ersis Warmansyah Abbas

    Pak Ersis, Saya Lubis Grafura mengirimkan beberapa puisi. Mungkin lebih tepatnya banyak puisi. Berikut adalah biodata saya: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116

    Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

    Singkat Kata

    seperti seorang gadis yang jatuh hati
    kepada seorang lelaki yang wajahnya
    larut pada laju bingkai jendela kereta
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007

    Kata tak Pernah Dusta

    rindu yang terlewat kau baca
    pada isyarat sepasang mata
    kusimpan rapi di balik kata
    dan saat kuucapkan lewat gurauan
    ternyata, luput juga kau eja
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Pada Sebuah Stasiun

    ___Dian Hartati
    Kita sama-sama memandang rel
    yang bersejajar dari awal hingga akhir

    tapi tak pernah saling bertemu
    Malang, 2006

    Pertemuan Senja

    ___Wa Oda Wulan Ratna
    Kenapa kita musti bertemu
    Pada waktu yang sesingkat itu?
    Malang, 2006

    Arbitrer

    Sepatutnya
    kuketuk daun pintumu terlebih dahulu
    daripada diam menunggu
    sebabnya
    aku sendiri tak tahu alasanku
    kenapa aku berdiri di depan pintumu
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007

    Wijayanti

    Sempat kuintip sebait kesedihan di kelopakmu
    menjelma telaga peluh yang sedang kau kurung
    bersambut kabut yang menggulung mendung
    penantianmu telah melewati hitungan jari
    seseorang yang memekarkan kembangmu
    belum juga melunasi hari yang dulu kaupinjami
    kau selalu sembunyikan derai air matamu
    pada bulir-bulir air hujan atau sisa embun tadi pagi
    tapi, kau tak selamanya bisa membiarkanku
    berdiri diam menunggu hingga layu.
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
    Di Bawah Cahaya Rembulan, Kutulis Puisi Seorang Diri

    ___kepadamu, kekasih
    Kutuliskan puisi ini seorang diri
    hanya berteman sepasang bayang
    yang dihadirkan cahaya rembulan
    yang bersembunyi di balik reranting daun jati

    dua tiga dan empat kata sudah kugoreskan
    di atas angin yang mengusik gemerisik
    bunga-bunga melati layu menjadi tirai kelambu
    menemaniku menuliskan puisi ini
    seorang diri

    lantas bulan telah merangkak naik
    memberanikan diri memandangku
    walau separoh wajahnya ditutup selendang awan
    kelabu

    tak luput dari untaian kata-kata puisiku
    kutulis juga sebuah syair untuknya
    kutitipkan juga kepada angin yang mengusik gemerisik
    dedaunan dan reranting
    berharap ada sehelai daun yang jatuh
    melayang seperti selendang jatuh
    terbawa angin masuk ke jendela kamar menembus
    tirai kelambu pada ranjang seorang perawan
    yang tengah terlelap dalam dekap mimpi-mimpinya

    kuharap daun itu jatuh
    tepat di tengah dadanya.

    Malang, 2006

    Kepadamu, Ibu

    Kau datang menyulut kendil pada ruang gelap
    merajut jantungku dari benangbenang cinta pilihan
    mendetakkan jantungku
    mengalirkan darahku
    menghembuskan nafasku
    lantas kau ajarkan kepadaku
    tentang penglihatanku
    tentang lisanku
    tentang pendengaranku
    tentang seluruh organ tubuh
    padaku
    dengan apa aku harus membayar ini semua, ibu

    kau tak pernah menjawab
    berpaling
    pura-pura tak mendengar
    “kau sudah makan siang ini?”

    jawaban itu yang selalu kudengar.
    Malang, 2006

    Pada Sebuah Stasiun

    ___Dian Hartati
    Kita sama-sama memandang rel
    yang bersejajar dari awal hingga akhir

    tapi tak pernah saling bertemu

    Malang, 2006

    Pertemuan Senja

    ___Wa Oda Wulan Ratna
    Kenapa kita musti bertemu
    Pada waktu yang sesingkat itu?

    Malang, 2006

    Dua Bintang

    ___Aziz San

    Dulu, kau pernah bercerita tentang
    dua bintang yang bersinar di langit malam-
    malammu
    dulu, kau enggan menyebut bintang
    kau lebih suka menyebutnya dina

    bintang adalah dina yaitu bintang
    sama saja bukan?

    Apapun kau sebut benda langit itu
    Kau tetap sahabatku!
    Malang, 2006

    Hahan

    ___ Handoko, untukmu
    suatu malam kau ketuk pintu rumahku
    kaugambar wajahmu sendiri pada
    mawar layu pada pot samping rumahku
    “Tolong aku, Gar. Tolong aku…”
    ada sesuatu semacam kabut yang meng-
    gelayut pada sorot wajahmu.

    Entah ini yang keberapa kesekian kali-
    nya
    jantungmu berdarah oleh cinta seorang
    perempuan. Entah yang keberapa kalinya
    darahmu membeku berhenti mengalir
    oleh dinginnya hati perempuan.

    pada gemerisik daun rambutan aku ingin
    menyampaikan kepadamu
    “biarlah perempuan itu datang dan pergi
    dari hatimu. Aku di sini tetap sebagai sahabatmu”

    dan kau pamit pulang!
    Malang, 2006

    Di Jalan Itu

    kisah kita begitu sederhana
    kau sadarkan aku akan cintamu
    ketika kubonceng kau di motor bututku
    tiba-tiba saja kau kalungkan lenganmu
    menalikan tali helm di bawah daguku
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    99 Jalan Menuju Mekah

    sepasang kekasih bercerita di keremangan
    tentang cendrawasih yang terbang ke bulan
    dan ketika kita berdiri pada persimpangan
    ingatlah ada sembilan-puluh-sembilan jalan
    Malang, Desember 2007
    Pulau Kenang

    sampanku melabuh pada pulau kecilmu
    kau hidangkan kelapa muda selembut bibir
    perawan kesepian yang belajar meramu
    sunyi pada galau yang menjadi tabir
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007

    Saat Kembali

    cuaca yang kau pesan masih sama juga
    semi pada reranting bunga bakau
    sampan tak lagi sauh, aku masih belaga
    barangkali saat kukembali nanti, masih juga kau
    Malang, Desember 2007

    Ma’rifah

    betapa hati ini sebegitu pekat
    pada hijab-hijab relung menyekat
    lewat pengetahuanmu adalah cahaya
    mengangkat derajat dari para sahaya
    menyingkap hijab pada relung pekat
    Malang, September 2007

    Mahabbah

    aku bersaksi tiada selain tulusnya udara
    yang memberikan jiwanya pada semesta
    yang nyata ada, tetapi tak berupa
    aku pun bersaksi tiada selain setianya laut
    yang memberikan kedalamannya
    pada setiap keluh ujung sungai
    mendengarkan tangis langit
    gemuruhnya ombak dalam badai
    karam dalam satu kata cintamu
    Malang, September 2007

    Makhafah

    ada yang lebih gelap dari gulita
    menjelma pusaran pada berita cuaca
    mencipta gempa pada lempeng jiwa
    adalah kedalaman pada siksa neraka
    ada yang lebih sepi dari kematian
    Malang, September 2007

    Mujahadah

    perang yang sesungguhnya telah dimulai
    adalah perjuangan melawan jiwa-jiwa rendah
    adalah perjuangan suci besar
    pada dzikirullah yang terus berkobar
    di bawah bendera al jihad al akbar
    Malang, September 2007

    Munasabah

    aku dan kau adalah sepasang kutub
    pada lauh mahfud kisah pun termaktub
    rindumu tak pernah usai kutulis
    pada pelepah-pelepah tanah
    yang samudra pun kering kujadikan tinta
    Malang, September 2007

    Kota Kenang

    kutelusuri sendiri sepi kota ini
    berharap temukan serpihan suaramu
    barangkali jejakmu yang tertinggal
    atau kisahmu yang masih tersimpan
    untuk menyulam rindu yang berlubang
    Malang, Agustus 2007
    Sekat

    batas itu sebegitu jelas
    walau kau hadir di setiap:
    sel darah dan urat nadi
    hanya lewat kematian sajalah
    batas itu akan segera tergilas
    Malang, Agustus 2007
    Setapak di Blitar

    kulewati pada musim tahun lalu
    menuju kampung kecil ke rumahmu
    sekedar berteduh menggu reda hujan
    saat kupulang, ada rindu yang tersimpan
    Malang, Agustus 2007
    Ode untuk Kekasihku

    __kepada Wijayanti
    kita bertemu pada gesekan
    dedaun dan reranting kering
    ketika angin mencoba mendahului
    setelapak tanganku untuk membelai
    rerambut panjangmu itu

    adalah dirimu ketika
    selaksa jiwa kering membutuhkan setetes embun
    dari setiap paras teduhmu
    dari setiap tutur tulusmu
    dari setiap jengkal milikmu

    lantas waktu membeku
    dedaun dan reranting berhenti
    pada satu titik tatapan sepasang matamu
    pada satu titik takdir yang suatu saat
    entah berpihak pada kita atau tidak
    dan kita masih terdiam membeku

    Tulang Rusuk

    __Wijayanti
    adalah sebentuk keresahanku
    ketika kutahu bahwa hawa adalah
    tulang rusuk adam yang hilang

    dan dari segolongan umat manusia
    adamlah yang paling beruntung
    ia yakin pada pilihannya, ketika
    memang hawa adalah satu-satunya perempuan di dunia
    pun hawa, adam adalah satu-satunya pria di dunia

    jodoh adalah sebentuk
    tulang rusuk. Bagaimana
    jika dirimu bukan tulang rusukku?
    Malang, 2006

    Madah Penantian

    : Arifiani
    perahuku tengah bersauh labuh di pulau kecilmu
    tapi aku tak jua beranjak turun menujumu, sebab
    ada pertanda yang tak rampung kueja
    seperti ombak yang tak sampai menggapai daratan
    sementara kau asyik-kusyuk bermadah penantian
    mengusung simfoni yang sebegitu merdu
    lewat orkestra angin dan pepucuk dedaun
    aku turut melagukan sebait syair yang kau tulis
    seperti pertemuan kawan lawas, rindupun terbalas
    ada aksara di syairmu yang tak bisa kubaca
    tapi aku tak beranjak turun menanyakanmu, sebab
    perahuku tengah terkayuh jauh dari pulau kecilmu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Malam Penantian
    : Dian Hartati
    kalaupun pertemuan kita dulu
    enggan berulang pada malam berikutnya
    sementara kerinduan yang kau sisakan
    belum sempat kau bagikan
    kukirim saja sajak pengganti
    suatu hari kau kan dengar ketukan pintu
    saat kau buka, itu aku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Sesajak Kenangan
    : Anam
    aku tak punya banyak cinderamata sebagai kenang-kenangan
    yang kuingat setiap subuh, pepucuk daun jati mulai belajar
    menggambar wajah matahari yang tersembunyi di balik cadar fajar
    lalu perempuan-perempuan tua menjinjing bakul menuju pasar
    kita masih bermimpi di atas karpet yang ada noda bekas tumpahan kopi tadi malam
    salah satu dari kita, diam-diam ada yang menyelimutkan koran menundung senyap
    saat terbangun, kita tak pernah selalu tahu siapa yang menjaga kita semalam
    dari dingin yang merayap menegakkan bulu-bulu remang
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Mencintaimu

    Mencintaimu musti kusiapkan pertemuan
    cukuplah aku menjelma sebatang nyala
    yang kau buang selepas padam
    pada hari-hari yang pasti akan ada perpisahan

    mencintaimu musti kusiapkan kelahiran
    cukuplah aku menjelma bulir hujan
    yang kau hapus selepas membasahi tubuhmu
    pada kenyataan-kenyataan tentang kematian

    cukuplah aku memandangmu
    barangkali kau bisa mencintaiku
    Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
    Isyarat Cinta yang Tak Terjawab

    kenapa aku masih berdiam diri
    saat kau mengisyaratkan cinta
    yang kau titipkan kemarau panjang
    pada hujan yang menjadikan semi

    kenapa aku masih juga tak menjawab
    senyum tegur sapamu yang lalu
    yang kau titipkan ombak beliung
    pada rumah-rumah yang tunduk ambruk

    yang tersisa tinggalah rasa

    kenapa aku masih enggan membalas
    surat-surat rindumu yang kau titipkan muhammad
    yang tak rampung dikisahkan para penyair
    hingga asat air samudra mereka jadikan tinta

    yang tertinggal cukuplah sesal
    hanya nisan masih setia menunggu
    untuk menuliskan namaku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Surat Cinta yang Tak Sempat Dibaca

    Aku meragu
    menatap nisan yang menulis separo namaku
    yang kuingat,
    aku lebih sekarat dari golongan jin yang bejat
    aku lebih bejat dari iblis yang kau laknat
    indera-indera yang kau pinjamkan padaku
    tak utuh kukembalikan padamu
    sembilan lubang yang kau tunjukkan padaku
    tak sempat kujaga seperti pintamu
    jika suatu saat, nisan merampungkan menulis namaku
    kubur memaksaku
    tengoklah aku sehari saja
    biar kutatap dan kusentuh wajahmu
    kalaupun sehari itu tak bisa membawamu padaku
    lantaran durhaka-durhakaku
    aku tlah menjadi arang yang terbuang di dasar jahanam
    sudikah kau tengok aku barang sedetik saja
    kalaupun sedetik itu tak bisa membawamu kepadaku
    lantaran dosa-dosaku
    barangkali aku tlah menjadi abu
    yang menempel di dinding-dinding nerakamu
    cukuplah bagiku kau mengingat aku
    yang dulu pernah menulis sajak cinta
    namun tak sempat kubaca untukmu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Sesajak Rindu

    Sungguh,
    jiwa ini tak cukup jera
    kalau toh mereka jadikan abu
    pada tungku api nerakamu
    tapi sungguh,
    jiwa ini terlalu jera
    bila kedatanganku pada hari itu
    kau tak sudi menerimaku
    Bengkel Imaji Malang, April 2007

    Kupu yang Hinggap di Pelipisku

    Kau kupu yang hinggap di pelipisku
    sungutmu ruas-ruas batang bambu
    sayapmu lembar-lembar daun waru
    kau bisikkan di pelipisku nama-nama
    yang tak habis kueja pada lembaran hari
    bahkan hingga ruas batang usia ini lapuk
    lantas ambruk dan membusuk
    disantap rerayap dan ngengat
    tak satupun namamu kuselesaikan
    dari sembilan puluh sembilan namamu
    Bengkel Imaji Malang, April 2007
    Puisi yang Terlahir dari Sehelai Rambut
    / Wijayanti

    Ada puisi yang terlahir saat rambut panjangmu kau sisir
    sekuntum bait pada parasmu yang terjebak di kaca
    aroma tubuhmu menjelma rima-rima,
    yang menelanjangi tubuhmu sendiri seperti kutelanjangi puisi ini

    Katakan kepadaku berapa lama pengembaraan-pengembaraan kita
    yang telah kau tandai jejak-jejaknya dengan puisi
    kelak jika kita kembali, kita tidak akan tersesat
    “akankah kita kembali setelah perjalanan panjang ini?”
    daun yang jatuh tak akan kembali menjadi semi
    asap yang mengepul tak bakalan berkumpul
    namun kau masih percaya pada pengembaraan yang kau tandai jejaknya
    : biarkan tuhan yang punya rencana, kita menjalani saja
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Wijayanti: aku pada labirinmu
    : Andris Setyawan

    Tadi malam kumimpikan dirimu
    lewat kalimat-kalimat yang diucap oleh mantan kekasihmu
    yang kini menjadi kekasihku

    Dilabirin sunyi ini tak semua ruang terbuka untukku
    ruang-ruang ada yang lekat – terkunci rapat
    ada rantai-rantai yang mengikat erat, gembok sekepal yang berkarat
    seseorang telah mematahkan kuncinya
    tak ada celah untuk mengintip ada apa di ruangan sana
    ada kembang-kembang yang ikut berkarat
    jejak-jekak kaki dan telapak yang melekat
    pada lantai-lantai relungmu
    detik jarum jam yang kehabisan batrei mengajakku ke masa lalu
    di ruangan ini pernah ada tempat yang indah
    : tempat kalian bermain – mencipta imajinasi
    seperti memecahkan misteri yang tak pernah usai
    hingga kapan kau membiarkan aku terasing di labirin ini
    bersama udara pekat dan ruang bersekat-sekat
    biarkan aku menghias kembali ruangan ini
    : tanpa harus membuka pintu yang kau tutupi dengan gembok dan rantai
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Simbur

    Mari ciptakan hujan
    biar kita bisa menari di atas tanah-tanah basah
    mari ciptakan hujan,
    menyiram air ke atas dengan tangan – simbur
    kita telah mencipta hujan
    lupakan janji-janji penguasa langit tentang hujan
    biar bumi tak menderita kemarau berkepanjangan
    mari ciptakan hujan
    kita tunggu janji tuhan saja, sambil menunggu hujan
    : karena tidak ada yang lebih bersetia dari pada janjinya
    hentakkan kaki, terus menari
    tak ada lelah pada rambut dan pakaian yang basah
    mari menari – di bawah hujan buatan
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Solenoid
    –Muhammad
    Perjalanan yang kau tandai dengan waktu
    tak habis kubaca: pada jejak-jejak sepatu

    sementara tanpamu aku hanya lelaki buta tak bertongkat
    ikan yang menggelepar pada danau asat
    doaku: jangan biarkan angin menghapus sisa-sisa langkahmu
    pada pasir-pasir waktu yang semakin berlalu
    sementara tanpamu aku hanya menjadi kawat tembaga
    berbentuk sulur batang – solenoid, tak berlistrik
    : bimbing langkahku pada butaku
    pada gelepar-gelepar sekarat mautku
    hingga kupecahkan misteri jejak-jejak langkahmu
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Lindang Landai

    jangan habiskan bekal kita di tengah jalan
    sebab perjalanan kita masih panjang, kawan

    Bisa jadi kita hanya mampir meneguk air
    lalu, kita melanjutkan perjalanan panjang
    yang, mungkin, tak berujung di ukur waktu
    : tak bertepi, tak tertandai
    bekal kita hanya segenggam amal
    jangan tak disisakan sama sekali, menjadi
    –lindang landai
    yang membuat lalai kepada siapa kita musti kembali
    yang habiskan bekal kita di separo jalan ini
    karena perjalanan ini; mungkin tanpa henti
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Branwir

    : masih kuingat kata-kata itu
    jika aku mampu menahan luapan api
    pada detak jantungku
    pada didih ubun-ubunku
    pada deras darahku
    kau janjikan padaku, kelak suatu hari,
    kau panggil aku untuk memilih bidadari

    pada sunah-sunahmu ku melangkah
    tentang kabar baik dan ancaman
    tetapi, api ini terus berkecamuk,
    hampir menjadikan utuh aku abu
    tetapi air suci yang kuguyurkan pada tubuh-tubuhku
    menjelma selang-selang pada mobil pemadam kebakaran
    – branwir
    Kau menyuruhku duduk pada berdiriku
    Kau menyuruhku berbaring pada dudukku
    dan pelan; api itu berangsur padam
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Bradikardi

    adakah jalan yang lebih mudah daripada kematian?
    persis ketika bercumbu di balik kelambu semu
    pada malam pertamamu
    atau pada saat kau bertemu kekasih pertamamu

    tak pernah ada yang pernah meramal secara pasti
    – ilmu pengetahuan tak bergeming,
    logika hanya membuat kita berpaling–
    kematian adalah silara yang jatuh dari reranting kering
    adalah rahasia alam yang dilipatsembunyikan
    : gulungan ombak, badai, tanah liat, udara
    seluruh semesta sebegitu tegak menjaga rahasia
    yang sewaktu-waktu membisikkan kepada kita
    tentang rahasianya:
    kita hanya menunggu saja; nafas kita terhenti
    pada detak jantung yang mati – bradikardi
    dan, hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai.
    Bengkel Imaji Malang, November 2006

    Onak

    Setiap dosa yang kugambar dengan sebilah kelamin
    menjadikan rotan berduri – onak
    pada jantungku, pada sepasang telapak kakiku
    : sementara, semakin cepat kuberlari
    semakin cepat detak jantung ini, berarti
    :semakin banyak duri di telapakku
    semakin dalam duri dalam detakku
    harapanku hanya semoga ada telaga di depan sana
    sebelum habis seluruh sisa tenaga
    untuk lelahku, menjumputi onak di jiwaku
    – satu persatu
    Bengkel Imaji Malang,
    Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah

    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir
    Kalaupun milyaran bebatuan menghadang
    Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu
    Jadikan saja aku angin, Ya Allah
    Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang
    Senantiasa bergerak selayak awan di langit
    Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu
    Knapa tak kau jadikan saja aku tanah
    Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang
    Telapak kaki telanjangnya
    Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu
    Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku
    Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
    Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api
    Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat
    Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
    Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan
    Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil
    Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah
    Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan
    Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu
    Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….
    Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca
    Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja
    Yang tengah luruh di atas pekuburan
    Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah
    Bahwa kesombongan manusia telah terbungkam
    Di balik nisan yang terpahatkan namanya
    Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
    Menjadi apa saja, asal jangan jadi manusia
    Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
    Wajah yang Beku di Saku

    Sebidang tanah di tengah kota ini
    yang dulu kau cat dengan warna langit
    tiba-tiba saja runtuh membentuk lingkar
    membenamkan gedung-gedung
    trotoar, lampu kota, mobil, aspal
    sementara aku berdiri terpaku
    diujung garis lingkaran itu
    pun dirimu tengah membeku
    yang wajahmu dulu masih kusimpan
    di salah satu saku bajuku
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Mempelai dalam Mimpi

    tadi malam aku bermimpi
    menjadi mempelai laki-laki
    tapi perempuan itu bukan kau
    tiba-tiba saja aku memilih lari
    mencari kau di tumpukan hari
    tak ingin hadirmu kupungkiri
    walau hanya sekedar mimpi
    Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
    Sebuah Nama yang Melintas Masa

    Ya Muhammad
    Waktu seolah telah bermain estafet
    membawa tongkat yang terukir namamu
    melewati tahun, melintasi abad
    menjelma air yang terus membisikkan tentangmu
    kepada tanah, kepada bebatuan di kali, rerumputan
    air tak mengenal lelah menceritakan dirimu
    saat ia berubah menjadi uap. Diberitakannya kepada
    udara tentang kebesaranmu, diceritakannya kepada
    matahari tentang kagunganmu
    airpun menjelma menjadi mendung
    mengisahkan kepergianmu kepada
    : langit, awan, dan bebintang
    Dan hujan adalah kesedihan alam tentang kepergianmu
    hingga air terus mengalir hingga ke tepi samudra
    waktu pun terus mengalir seolah bermain estafet
    membawa tongkat yang terukir namamu
    hingga waktu menyelesaikan permainnya di ujung finish sana
    Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006

  96. By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply

    assalamu’alaikum wr wb …

    saya ikutan juga ya … terima kasih ^_^

    ————————————————————

    “Lelaki Terindah”, JATUH CINTA KEDUA

    Kelakar yang biasa kubagi denganmu
    Menjadi alasan pasti melihatmu tertawa
    Entah …
    Kau terlalu serius
    Jarang mengganti pandangan
    Jika telah jatuh pada barisan kata di buku itu

    Mendengarmu berkata, walau hanya sesekali
    Adalah hal luarbiasa yang tak biasa
    Ku pikir kau bisu dulunya
    (Kalau ingat itu aku sibuk merutuki diri)
    Diammu telah meninggalkan goresan di hatiku
    Mengetuk pintu yang tertutup untuk sebuah kata … KITA

    Bila lakuku terasa asing
    Mungkin oleh sebab tak terduga
    Seolah terlupakan
    Aku bukan aku
    Atau inilah aku

    Jika cinta telah menyapa
    Membuatku tergila-gila
    Lantas manakah yang benar-benar waras?

    Ku membuang pandang
    Namun rasanya tak lega juga
    Parasmu menggantung di depan mataku
    Tak mau hilang meski kelopakku tlah terkatup

    Jatuh cinta kedua
    Terasa lebih parah

    Lihat …
    Aku tak bisa hentikan
    Ketika cinta mulai menyapa

  97. By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply

    “Lelaki terindah,” Aku sedang ingin menyebut namamu, tapi bibirku kelu

    aku bukan bisu

    tapi entahlah … bibirku kaku

    bahkan untuk mengeja namamu

    aku tidak membencimu

    hanya saja aku sedang kelu

    namamu hanya tersebut di hatiku

    mungkin aku malu

    karena jika kau tau

    mungkin kau akan lari menjauh

  98. By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply

    “LELAKI TERINDAH,” GANDRUNG AKU PADAMU

    Pada malam
    Yang menantangku untuk beradu pandang
    Aku cuma bisa berkata, “lepaskan aku dari lilitan jubah pekatmu”

    Karena aku gandrung
    Karena aku cinta
    Karena aku ingin jadi pendampingmu

    Aku adalah cahaya
    Lebih terang dari bintangmu
    Tawanan bukan gelarku

    Karena aku gandrung
    Karena aku cinta
    Karena aku harusnya jadi pendampingmu

    Pada malam
    Yang menantangku untuk beradu pandang
    Aku hanya bisa berkata,”jadikan aku pengantinmu”

    Balikpapan, di awal pekan kesibukanku

  99. By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply

    “LELAKI TERINDAH,” Sebuah Pinta

    Bernapaslah bersamaku

    Jangan lepaskan tanganku

    Aku hanya ingin tetap bersamamu

    hingga ujung keabadian …

  100. By didi junaedi hz on Jan 7, 2008 | Reply

    Senandung Malam Tuk Yang Tersayang

    Malam ini…
    Ketika kubuka jendela kamarku
    Ku tatap hamparan langit yang begitu indah
    Kupandangi ciptaan Tuhan itu dengan penuh ketakjuban

    Dan…
    Aku bertambah takjub!!!
    Ketika kuperhatikan…
    Ternyata tidak kudapati bulan dan bintang di sana
    Tetapi yang kudapati hanyalah…
    Bayangan wajahmu…

    Parasmu yang elok memesona
    Senyummu tersungging malu…
    Tatapan matamu begitu menggodaku…
    Aku tak kuasa menatap pancaran sinar wajahmu
    Aku tak mampu melukiskan senyummu itu..
    Aku hanya bisa terpaku
    Menikmati keindahan ciptaan Tuhan
    Yang mewujud pada dirimu

    Sayang…
    Ternyata baru kusadari…
    Di dunia ini
    Di jagat raya ini
    Ada yang lebih indah dari bulan
    Ada yang lebih menakjubkan dari bintang-gemintang
    Apakah kamu tahu?
    Siapa dia gerangan?
    Ya, itu adalah kamu!
    Sekali lagi, itu adalah kamu!
    Ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan
    Yang baru pertama kali aku jumpai sepanjang hidupku

    Hanya untaian syukur yang terucap
    Pada Tuhan Yang Maha Pencipta
    Tuhan Yang Maha Indah
    Yang telah menciptakan keindahan-Nya
    Dan dianugerahkan kepadaku
    Kamulah ciptaan itu
    Kamulah keindahan itu

    Sayang…
    Aku begitu bahagia dengan hadirmu dalam hidupku
    Aku berjanji tuk menjagamu, sampai akhir hayatku…

  101. By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply

    terumbu dipantaiku

    kekasih
    jangan angkat jangkarmu
    benamkan; dalam;
    meski bergelombang
    biarkan membatu
    jadi terumbu
    di pantai waktu

  102. By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply

    Aku Engkau dan perbedaan ini

    aku engkau
    langit bumi
    berkalang hijab
    di bentang rindu

    aku engkau
    langit bumi
    berkalang lancang
    suara sumbang kesombongan

  103. By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply

    Secangkir teh cinta

    di cangkir retak
    tak lagi ada secangkir teh

    sebait puisi kesedihan
    gantikan hangatnya dikala hujan

  104. By yunita p on Jan 7, 2008 | Reply

    Curahan Hati

    Gersang sukma meratap kasih
    Haus meracau tirai singgasana
    Pintu hati pekat berkabut

    Akankah…
    Jemari elok tersapu lembut
    Telaga hati tercurah mantap
    Sang kala menghapus pedih
    Mungkinkah…

    Kadang tatap menerawang sesal
    Kadang benak berkecamuk ego

    Apakah ini?
    Akankah berakhir?

    Sayapku patah tergolek iba
    Kian kerontang terbakar asa
    Aku ingin terbang lagi…

    Namun…
    Sang Pencuri cinta singgah memaksa
    Meninggalkan jejak miris teriris
    Akankah kembali rasa itu?

    Hanya kesetiaan yang angkat bicara…

  105. By yunita p on Jan 7, 2008 | Reply

    Anyaman Cinta

    Kusibak mahligai angkuh berlumur pedih
    Terbalur rindu sang topeng cinta menyulut luka
    Terkurung dalam jeruji besi tak bernyawa

    Aku hanyalah seonggok raga hidup tanpa hasrat
    Aku labirin tak berujung
    Gelap…
    Berliku…

    Andaikan kupu sanggup berucap,
    Rumit satu kata yang terucap…
    Andaikan malam sanggup mengadili,
    Aku adalah terdakwa…

    Mengapa benteng berpilar baja kau dirikan di atas istanamu?
    Hanyakah untuk membungkam ketidaksempurnaan angan?
    Tidakkah kau tersiksa?

    Biarkan saja air beriak gemericik…
    Biarkan saja kala bergulir mengikis…
    Biarkan terpulung kembali puing-puing cinta tak bersekat

    Aku mengerti…
    Aku sungguh mengerti…
    Engkau ibarat kaisar tampan bergelimang elok
    Sedangkan aku, hanyalah debu sesak menyesak

    Mungkin,
    Ragaku mengurungtkan niat berperang melawan beda
    Namun rasaku tetap saling bertaut dalam anyaman cinta…

  106. By yunita p on