Puisi Cinta: Go Lomba
14 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Para Blogerwan, Yth.
Lomba Puisi Cinta bulan Januari 2008 mengambil tema umum. Artinya, bukan cinta kepada Allah, Rasulullah, Orang Tua, Negara, Alam, dan sebagainya. Yah, cinta sesama manusia, bukan sejenis, lho.
Aturan? Ngak pakai aturan, diregulasi habis. Terserah Sampeyan; atur sendiri. Menulis kog di atur-atur. Bikin ribet aja. Berkreasi sajalah. Mengingat puisi tidak lazim diedit, usahakan jangan ada salah ketik, apalagi salah konsep, he … he …
Puisi terpilih langsung ditransfer ke format buku. Perhatikan contoh. Puisi pertama untuk halaman 1, puisi kedua untuk halaman 2. Usahakan jangan lebih panjang, sebab bisa menyusahkan layouter. Contoh sudah distandarkan dengan rencana buku. 120 puisi terpilih akan dibukukan dalam Antologi Puisi Cinta.
Oh ya, pengiriman cukup pada bagian komentar postingan ini, Puisi Cinta: Go Lomba. Di ranah komen? Yes. Jangan dikirim via email ya.
Direncanakan, pada bagian akhir buku akan disertakan komentar ‘terbaik’ atas puisi yang diposting. Itu saja petunjuk, ngak usah tanya-tanya, atau menyoal. Kita ambil ringkasnya saja. Kirim saja puisi atau komen. Puisi Contoh:
Ersis Warmansyah Abbas
Lipatan Cinta
Malam ini, Kasih
lipatan hati memanah darah
wisata terminal masa
terhenyak di ujung senja
Angin menarikan senandung rindu
di ujung rambut di pangkuan dada
menusuk hati jantung asmara
fajar menyangkau ulu kala
lipatan jarak lipatan nafas lipatan cinta kita
Perjalaan terlalu jauh
seyummu menyapa ubun-ubun
salam perdamaian yang tak terjangkau
pada jarak kita bersatu
khatam cinta tak ditulis kamus
Banjarbaru, 1 Januari 2008
Ersis Warmansyah Abbas
Malam Itu Kasih
Malam itu, Kasih
angin selimut kalbu
sepasang merpati melintas nyanyikan tembang malam
dendang ria kepakan sayap melayang jauh ke ujung rasa
menyibak awan menghalau halimun
nyanyian kasmaran
Malam itu, Kasih
jemari lincah mainkan keyboard rasa
ketika kutakan: I Love You
ketika kau katakan: I Love You
lalu, dunia tak berasa
malaikat menyiulkan madah-madah makna
kita membuang tawa melambaikan tangan,
Alhamdulillah
Malam itu, Kasih
aku tergagap terbata-bata,mainkan piano pinta
Tuan Qadi memukulkan palu nyaring-nyaring
Allah menghalalkan kita
Malam itu, Kasih
malam sesunguhnya
syurga memiliki tempatnya
ujung jubahnya kita robek
bekal kita menuju syurga sesungguhnya
di rumahNya
Banjarbaru, 1 Januari 2008
***Ada yang minta, regulasi habis; mau satu puisi atau dua puisi, suka-suka perserta.. OK saja. Bebaaaaaaaaaaaaaas.
263 Responses to “Puisi Cinta: Go Lomba”
By noorlatifah on Jan 1, 2008 | Reply
Kekasihku
Ketika mentari beranjak keperaduannya
dilangitpun tampak cahaya keemasan
suara jengkrek menghiasi indahnya malam
menyentuh hati nan gundah gulana
Kasihku,
malam semakin larut
rembulanpun terseyum menatap sanubari
bayang-bayang semakin merapat
membuat hati kecil berteriak sunyi
Kekasihku
embun malam seraya selimut salju
hatiku pun terasa beku
tanpa suara kubisikan
jangan biarkan kusendiri
Banjarbaru,01 Januari 2008
***EWA: Minimal dua puisi lho
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
hiyaa hahahaha.. puisi cinta
melankolis juga bang Ersis nih kalau bicara cinta…
wah kalau saya harus pengalaman dulu nih
cari wanita yang kuncintai dulu
baru bikin puisi yaa hehehehe
cinta sahdunya dikau
tak seperti wangi bunga setaman
tapi tak seindah kue donat di tangan
meraihnya hanya sekejap
luruhnya tanpa batas
cinta aliranmu besemai
dalam kalbu sekujur badan
tak kuasa menahan cinta
tak bisa membuang kata
cinta sekujur badan
tak bisa diubah sebadai
langit bumi bertaut
cintaku padamu takkan pisah
cinta oh cinta
dirimu memakna segala
dirimu merangsangi senjata
melumer kata jiwa dan harta
bersamamu tergadai semua makna
bersamamu menggapai syahdu angkasa
oh cinta
aku mencinta
dirimu dicinta
dirimu lebur
aku lebur
dalam syahdu
dalam makna
udah lah pokoke™
I love u
dah dua menit selesai tuh hehehe
***Siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
Bisa dilomba gak nih pak
hahahah bener enak juga setelah dibaca.. padahal asal njeplak … aku tanya nih, kalau bikin puisi tanpa dipikir bagus gak sih.. swer aku bikin kurang dari dua menit asal njeplak.. tapi kok enak yaa dibaca.. saya tidak percaya bener gak percaya dengan tanganku sendiri dan otakku…
maaf bukan sombong tapi curhat .. sayakalau bikin kata2 gawean yaa begitu tak terpikir apalgi mikir
***Soal courage … aja lah
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
cintaku dimakan angsa
kemana aku bersahut
kemana aku mengadu
kemana aku mengaku
sedang aku tanpamu
sendiri tanpa kamu
berdua bersama buahmu
sedang dia asalamu
teganya kamu di sana
malamku diradang gelap
cintaku dimakan angsa
sepiring nasi jadi basi
sepotong roti berderai jamur
sepenggal kata hanya dikunyah
cinta dimana harus kusambut
sendiri tanpamu sepi berkabut
malam dingin takkan ada api
siang panas dingin membeku
cintaku tergadai
bersama angan di sini
kapanpun kau datang
kan kusambut sejuta hasrat
***sepotong roti berderai jamur
sepenggal kata hanya dikunyah
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
Kepanjangan tidak yaa..
puisi kedua itu gambaran nyata
barusan saya chatting dengan seseorang
yang ditinggal si abang sayang
pada saat tengah meradang
kasihan yaa..
tapi bikinnya susah
tidak segampang yang pertama…
itulahkalau direkayasa jadi sulit yaa
btw, bang eris juga katanya gak pake aturan
tapi nyatanya harus begitu dan begini…
heheh
***Ya ya regula blas ya
By unai on Jan 2, 2008 | Reply
Ujung Tahun dan Sebentuk Harapan, Tuan…
Hujan penghujung tahun, tuan…
Induk malam menggeliat pelan
dalam kelambu kusam pembalut mimpi
hati bimbang, tuan
Antara ingin dan tak ingin
Datang dan tak datang
Bersegera dalam gegas
Terengah dalam lintas batas harap dan impian
Dendangku terpatah, tuan
Melesak dalam not yang kacau tak beraturan
Imaji terbebat kawanan kata yang hanya bisa mencekik
Tak ada persembahan, tuan
Hati terlanjur kebas dijilati mimpimimpi tentang sua yang entah kapan?
Waktu kian jatuh
Kita tinggal menghitung mundur satu satu
Mari rangkai pecahan kaca dalam genggaman
Membentuk lukisan yang tak melulu kelam sewarna malam
dan…gegapgempita, riuhrendah pesta pergantian tahun
akan mengantar kita pada asa yang entah akan menjadikan kita
tetap ada…atau tiada….
By unai on Jan 2, 2008 | Reply
baris paling atas itu judulnya pak
By unai on Jan 2, 2008 | Reply
Selamanya Kau Akan Tetap Ada
Aku menemukanmu di semesta mungil tak berpenghuni
Hampa udara, dan kita mengapung di sana
Saat itu lentik jemarimu menoreh bait menjelma kata,
membentuk gugusan puisi
Indah penuh makna
Kau lewati pintu yang sedianya tak terkunci
Berlalu…berlalu saja
Melempar senyum, menawarkan damai
Sama seperti ketika aku melenggang
di peron berisi bangku-bangku
yang juga menawarkan obat mujarap bagi penat
Gelap mengintai kita di lengang lalang
dan kau…
adalah dongeng yang menjelma nyata
Wujud dan juga bayang
Sebagian nyata, sebagian lagi entah di mana
Namun…
Selamanya…Kau akan tetap ada
Bertahta, memahkotai mimpi yang terlanjur bisu
By Kurt on Jan 2, 2008 | Reply
Wah bang kalau puisinya unai dibikin kurang kurang dari satu menit … wah ternyata bikin puisi itu gak perlu berlama2 yaa. saya dua menit, unai satu menit… bang Ersis setengah menitkah? luar biasa… !
Menulis adalah singkat!
***Ntar saya tulis ‘teorinya’ he he … tumpukan bacaan, pengalaman, persaaan, di otak … dipanggil lewat puisi lebih cos … jadi waktu tidak menjadi ukuran. Salam.
By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply
Ikutan ah…,
puisi 1:
TUHAN
Tuhan
Kutulis nama-Mu
Di setiap gerakku
Kutengadahkan tanganku
Di atas kumpulan benang persegi
Namun Engkau
Tak pernah datang
Walau sekedar mengetuk pintu
Atau kirim bingkisan roti
Kukirim sms setiap hari
Melalui nomor 42443
Namun tak pernah dibalas
Tapi aku tetap yakin
Kau nyata diantara mimpi
Menjaga setiap tidurku
Selalu menyuguhkan madu dan kopi
Di setiap pagi
Puisi 2:
ZIKIR KATAK
Meski badai menerpa
Hujan lebat tak berhenti
Petir saling bersahutan
Banjir datang menerjang
Aku katak
Akan terus memuji-Mu
Subhanallah
Rek….Rek….Rok….Rokk
Rek….Rek….Rok….Rokk
Meski tanah retak
Air tinggal airmata
Matahari tak berganti bulan
Aku katak
Akan terus mengagungkan-Mu
Allahu Akbar
Rek….Rek….Rok….Rokk
Rek….Rek….Rok….Rokk
Aku katak
Akan selalu menyebut nama-Mu
Laa ilaha ilallah
Rek….Rek….Rok….Rokk
Rek….Rek…..Rok….Rokk
By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply
Kesalahan karena ga baca tulisannya dengan benar ternyata puisi untuk sesama ya…jadi malu…:)
***Ha ha kenapa sih takut salah … emang kita ngak bleh salah? Salah itu jalan menuju betul lho. Itu prinsip saya, ngak usah merendah pual salah. E … kalau jadi shaleh yang manusia, janganlah ntar jadi dua he he … tapi saleh sebagaimana dituntut agama kita, ya iyalah. Kita berusaha kesitu. Salam.
By efa sutarjo on Jan 2, 2008 | Reply
LIMA HURUF
C I N T A……
K A S I H……
R I N D U……
Lima huruf yang membawa sejuta rasa padaku.
Saat cinta datang aku menjadi gila padamu.
Saat kasih hadir aku manjadi naif padamu
dan saat rindu hampiriku, aku menjadi nelangsa karenamu.
By efa sutarjo on Jan 2, 2008 | Reply
JINGGA SENJA
Senja….
Di sini aku berdiri di ambang senja
Berharap engkau hadir hampiriku
Mencoba tegak menanti menski rapuh atas angin
Lihat, lihat aku di sini kasih
Mencoba menahan perih getirnya kerinduanku padamu
Begitu kuasanya cintamu padaku
Senja….
Aku berharap jingga ini akan terus ada
Hantarkan malam padaku
Hingga aku dapat terlelap dan bermimpi
Bermimpi engkau hadir hapiriku dan memiliki ku
By SHALEH on Jan 2, 2008 | Reply
Replay…
puisi 1:
SENDIRI LAGI
Duduk
Termenung
Mengkhayal
Sendirian
Temanku telah pergi
Menjauh entah kenapa
Apa lacur dan dosaku
Hingga tak ada lagi cerita darimu
Untukku
Hatiku
Dan hidupku
Orang ketiga
Melihatmu
Mengenalmu
Dan merebutmu
Dariku
Dan ceritaku
Tapi tak apa
Asal kau Bahagia
Aku pun bahagia
Pergilah yang jauh
Aku takkan menangis
Takkan bersedih
Kau selalu ku kenang
Kau teman terbaik
Yang pernah ku miliki
Semoga kau bahagia
Puisi 2:
CINTA
Tergores pena asmara
Pada kertas putih
Hingga terlukis warna-warni
Tuliskan kata penuh diksi
Merangkai penuh makna
Ungkapkan hati penuh rasa
Keluar dari nurani
Terucap sebuah kata
Aku cinta padamu
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
puisi patah hati boleh ngga kang?
*ngga tau. dulu, kl lagi patah hati, tiba2 jadi kreatif berpuisi
***Lha kog pake nanya … bungkus, yang ngak pas itu kalau cinta; bisa membara, menyetihkan patah tiga sama … kambing misalnya he he. Selamat bergabung.
By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply
Kau sajak itu
Engkau sajak itu
yang nakal melonjak-lonjak di batinku
menyoraki kekalahan membentengi keangkuhan
Engkaulah rima yang membawa serenada
bertangga bianglala
mencipta irama; yang menggugah, menggairah
Engkaulah musik
pengiring tarian nan cantik
melentikkan api gelora
merasuk, memabuk, di raga dan sukma
Tuhan bisakah kusamarkan rasa
sedang Engkau pemegang semua rahasia
salahkah bila aku lebur
bersama bianglala?
Lamreueng, 9 Juni 2004
By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply
Cukuplah saja dimatamu kutemukan indah
Debar tak biasa
jiwa yang gelora
dan dihati bertahta puisi
diam dalam semadi
mencari arah kembara
Cukuplah saja dimatamu
kutemukan indah.
By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply
Nyanyikan nadaku di hujan
petik
petiklah nadaku seperti gitar
kita nyanyikan lagu getar
pada ritme hujan
meriahkan tarian
nadi menggelepar
gairah merah
meruah darah
hati berdebam
aku membara
masih sama
renjana kan rasa
ah mendera dera
halus namun menggempa
By Putireno Baiak on Jan 2, 2008 | Reply
Pak aku kirim 3 puisi boleh ya, saking bergairahnya hehehe
Baru keluar rimba, kontemplasi, segernya…
Happy New Year Pak EWA. Moga bahagia selalu, penuh cinta…:)
***Amin, kita terlahir dari dan dengan cinta, mari hidup berama cinta
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
Poetry 1 …
—-
artimu bagiku
wahai mentari…
masihkah ada dia yang merindukanku
dalam laju waktu yang mengalir mengalun lembut
tatkala kelopak mata menyapa isi dunia
bukan dalam senyap malam
tapi dalam hiruk pikuk riuh celoteh embun pagi
wahai sang surya
masihkan ada dia yang mengingatku
dalam derap langkah yang memutarimu
bukan dalam sepi
tapi dalam jutaan lelah fikir yang berkebat disudut sudut otak
tatkala tumpukan sampah masalah menjejali ruang dan waktu
wahai matahari
masihkah ada dia yang menjadikanku api yang kobarkan semangat dan gelora
tatkala adaku tak mengusik lembar lembar hidup
tatkala mengenangku memberinya ruang tak berbatas
wahai senja
masihkah ada dia yang hangat senyumnya tepersembahkan untukku
dalam ribuan tawa yang diberai sepelosok semestamu
tatkala kenangan tentangku mampu lenyapkan letih yang menusuk relung hati
wahai malam
adakah dia di ujung sana yang adaku tentramkan tutup waktu
tatkala dering suaraku lepaskan diri dari penat
tatkala memimpikanku lelapkan tidurnya dalam kelumit senyum damai
hingga sang mentari menjemput dipagi hari
karena seperti itulah dia untukku…
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
additional :
“artimu bagiku” wrote on Monday, September 26th, 2005. 07.37 pm
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
hanya satu
—
sudah kualami perih karena kehilangan
sudah kureguk kecewa karena ditinggalkan
sudah ku didera luka karena dikhianati
semuanya belum seberapa
hanya satu derita yang paling menyiksa
jatuh cinta
tapi tak bisa memiliki
*wrote on Thursday, June 09, 2005. 12.17 AM
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
Kerinduan
—
izinkan aku merindumu
agar aku tahu bahwa hatiku tak binasa
agar aroma kehidupan tetap menjamahku
izinkan aku mengisi hati
dengan cinta
agar mengalir darah bekuku
agar terpancar aura ku
izinkan aku menebar kasih
agar dapat kusempurnakan hidupku
merasakan kedamaian membelai memabukkan
agar terbakar sekujur tubuhku
hingga aku dapat membagi kehangatan
menebar senyum keseluruh rongga alam raya
dan merekapun kan tersenyum
izinkan aku
untuk melesat
menembus batas nirwana
merobek kerasnya bongkah inti bumi
aku hanya ingin berbagi
agar kita bisa tersenyum
dengan tulus…
wrote on Monday, November 15, 2004. 04.33 AM
By edo on Jan 2, 2008 | Reply
udah ah..
segitu dulu..
ntar bosen lagi
sorry udah ikutan nyampah ya mas ersis
btw, kalo tak lihat2, itu koleksi bisa jadi 1 buku sendiri kynya hihihi
anyway, thank buat mas ersis
yang sengaja atau tidak udah bikin saya mau “mempublikasikan”nya
setelah sekian lama tersimpan di lemari hati
*abis ngubek2 arsip…
***Yoi, siiip. Mari kita karyakan karya he he
By Gus Maul on Jan 2, 2008 | Reply
Maghligai
tlah tumbuh lama
rasa di dalam jiwa
tumbuh bersemi dan berbunga
menjadi asa penuh warna
kini …
kau tlah menjadi hati
yang menghiasai hari-hari
meski masih paro impian
karena belum ada ikatan
ukhtiy …
ku sadar tak mudah menjaga hati
karena aral di luar sangat terjal
terlebih jiwa2 kita yang lemah
juga terbentang dalam jarak
tapi ukhtiy …
ku yakin kita bisa
untuk tetap melangkah bersama
penuh setia dan harapan
menggapai maghligai cinta
ya Allah, ya Rabb
himpunlah kami dalam ridha-Mu
By hadi arr on Jan 2, 2008 | Reply
KEKASIH-KEKASIH
Alun ombak bergerak pasti
berkejaran menuju pantai
setelah itu terhempas
lalu pergi
Lembut sang bayu berhembus
menggerak batang dan dedaunan
bergesek bagai symponi
kadang sunyi sesepi hati
sembilu rindu menikam kalbu
pada apa yang terpatri
kukira akan abadi
ternyata hanya sesaat bersemi
ada aku disini,
menatap mu dengan luka
kututup lembar-lembar asa
kusimpan dalam fatamorgana
2 januari 2008, hadi arr
By hadi arr on Jan 2, 2008 | Reply
KERINDUAN
Andai sekarang engkau disini
akan kuceritakan semua padamu
tentang hening dan sunyinya bukit
tentang dingin dan kelamnya malam
suara percikan air menerpa bebatuan
berpadu dengan kicau burung-burung
ditingkahi gesekan dedaunan, berpadu begitu serasi
masih tak mampu mengusirmu dari anganku
sudut-sudut mata mulai memanas
pandangan mulai kabur terselaput air bening
rongga dada serasa terhimpit selaksa beban
bayangan mu masih melekat kuat dalam ingatan
ketika jarak memisah kita dan waktu tak berkompromi
selalu ada kerinduan yang menyeruak
beginikah….?
bila aku jatuh cinta
hadi arr 2 januari 2007
By Gempur on Jan 2, 2008 | Reply
Pak Ersis, Maaf looh, kalo produk ini produk lama, sekedar sarana menumpahkan emosi di masa lalu… Link Asli ada di blog saya.. gak papa kan?!
<b>Puisi Pertama</b>
<a href=”http://gempur.blogsome.com/2007/06/24/sepenggal-harapan-dalam-penantian/” rel=”nofollow”>Sepenggal Harapan Dalam Penantian</a>
Aku antar engkau ke peraduan
Bersembunyi di balik rasa rindu
Yang menggunungkan nistaku
Telah kukobarkan api peresah sukma
Dalam selimut mimpimu
Rintik hujan saat itu
Menegangkan saraf kita yang terpacu dingin…
Mega-mega dalam khayalku
Menggambar senyummu dalam tangis haru
Tautan hatiku kuat memelukmu
Tonggak hatimu mengukuh
Dalam pusaran batinku
Sekayuh kita dayung perahu
Halaman baru telah kita buka
Berdua kita memaknai
Perpaduan dua hati terikat tali kasih
Hadir gelap kelabu menghadang kita
Dilambari cahaya di langkah berikutnya
Adalah harapanku terhadapmu kekasihku
Selalu dan selalu akan seperti itu
Di akhir epos hidupku dan hidupmu
Sang utusan berkilau cahaya menghampiri
Aku dan dirimu
Bersama menuai berkah dari Sang Kuasa
Dan harta titipan-Nya
Berdua kita tinggalkan dalam rela dan pasrah
Berbekal keyakinan dalam penjagaan-Nya
Imogiri, 13 Maret 2002
<b>Puisi Kedua</b>
<a href=”http://gempur.blogsome.com/2006/11/27/menyerpih/” rel=”nofollow”>MENYERPIH</a>
Seserpih luluh lantak
Dari serpihan-serpihan perih
Ada keluasan tak terhingga menjadikannya terhimpit.
Segala duka tersembunyi dalam tirai-tirai samar mengawini amarah
Aku menjangkaumu
Tapi kau menjauh penuh malu ragu
Aku memanggilmu
Tak bergeming kau melukaiku!
Aku pun merayu sungguh
Kau membisu batu angkuh
Hampir saja menguap
Serpih perih merintih
Ditikam sedih
Meraung-raung dalam sunyi
Menggetar menggelegar dzikir
Melintasi selaksa tabir
Menjumpaimu di simpang akhir
Aku serpih yang tak terhenti
Hingga sunyi menjemput mati
Bulaksumur, 28 Desember 1999
***Pak Ersis, Maaf looh, kalo produk ini produk lama, sekedar sarana menumpahkan emosi di masa lalu… Link Asli ada di blog saya.. gak papa kan?!. … Siiip mari kita menulis dengan mudah, memudahkan menulis. Kita tampilkan karya …. Sama-sama berjuang. Jabat alam Menulis.
By hanna on Jan 2, 2008 | Reply
Senandung Lilin
Oleh: Hanna Fransisca
dalam redup cahaya lilin
ujung pena menjelma seruling
melantunkan senandung kehidupan
memantulkan cahaya rindu
melewati selaput mata terang
menembus kegelapan malam
asap-asap purba menari
mengiring irama syahdu
menggembirakan
menyejukkan pandang
membaca sebait puisi
tertulis di sana
api kehidupan baru
menggetar membakar sukma
melewati malam panjang
debu-debu beterbangan
di udara malam
aku merasa
ada kekuatan memanggil-manggil arwahku
gejolak hati yang kuat membuatku mampu mencium
bau harum rambut dan tubuhmu
Jakarta, 2 Januari 2008
By noorlatifah on Jan 3, 2008 | Reply
Masih kurang satu ya Pak? Mun kaya itu ulun tambahi gen sabuting lagi, boleh aja kalo Pak?
Suara Hati
Pagi yang indah
kubuka jendela kamarku
kutatap jauh tanpa batas
menembus cakrawala bebas
Rasa hampa mulai menebar
merasuk relung hati paling dalam
jiwa pun mulai bergetar
mengguncang sukma sekuat gelombang
Mentari pagi pun terus bersinar
menyadarkan setiap insan
oh,
indahnya pagi
ku tarik napas dalam-dalam
membuat hatiku menjadi nyaman
ku usir semua kehampaan
kugapai cinta yang pernah hilang
Banjarbaru,2 Januari 2008
By fira on Jan 3, 2008 | Reply
BELENGGU CINTA
Bagai kilatan halilintar
Kerasnya dentuman petir
Memayungi asmara getir
Bagimu itu cinta yang terikrar
Pucuk pinus tegak dan tegar
Berdiri melambai kuat dan kekar
Senandung alam mengkuak tabir
Aku dan cinta dalam pelukan belenggu getir
Cinta yang tercipta
Cinta yang terdalam
Cinta yang menghanyutkan
Membelenggu asa mengoyak cintaku…
Puisi 1 By: Fira
CINTAKU TULALIT…
Ku bisikkan rindu
Ku semaikan nada indah
Ku rangkul kehangatan
Ku hanyut dalam bara asmara
Di mataku engkau nyata
Di hatiku engkau bersemayam
Di tarikan nafasku harum namamu
Di denyut nadiku engkau tercipta
Tiba-tiba aku terjaga di malam pekat
Duduk dan terdiam seribu kata
Memandang sekelilingku dalam remang
Ku tersentak oh, tidak…cintaku kemana?
Tulalit…..
Tulalit…..
Cintaku hanya semu belaka
Cintaku tak pernah ada….
Puisi 2 By: Fira
By Sindu Putra on Jan 3, 2008 | Reply
HANYA CINTA
hanya Cinta
yang masih dapat
menyehatkan dunia
dunia yang menyesat
ke dalam hujan asam
di tangan lelaki
yang membuat rumah dari asap
di tangan perempuan
yang mengeram burung pendoa terakhir
di tangan rahib yang raib
di tengah hujan merah
hujan yang paling tajam
di tengah hari Oktober
maka
karena hanya tinggal Cinta
yang masih dapat
menyelamatkan dunia
mari, beri warna hujan
dari warna-warna manusia
hingga dunia ditemukan kembali
dunia yang takjub
milik kanak-kanak
Mataram 2007
PENDOA MATARAM
aku hamba yang hampa
tangan yang meniup harpa
tangan yang terpejam nestapa
aku tak kuasa
selami tangga air
menuju hening
aku peluk dirimu
aku pintakan obat terbaik
bagi cintamu
bulan mati
ke lengang arah pandang
di atap senyap
laut dipaangi arung
burung-burung kehilangan murung
batu-batu kehabisan dengung
betapa dalam gunung air ini
aku tak kuasa selami
menuju hening
aku yang hampa meniup harpa
aku, harpa yang meniup hampa
Mataram 2007
By unai on Jan 3, 2008 | Reply
aku vote Nimeiy..keten banget puisinya..huhuy..eh yang lain bagus bagus euy..bikin minder
By via on Jan 3, 2008 | Reply
19 Oktober 2007
bila ini puisi yang tercipta hanya untukmu
mungkin aku
bukan pemerhati kata yang baik
bukan pujangga yang pandai
bukan penulis puisi terkenal
bukan pula satrawan muda
aku hanyalah
seorang biasa yang sembunyi dibalik awan
seorang tolol yang tak berani ungkapkan
seorang bodoh yang takut untuk besar
seorang lemah yang tak mampu berkata-kata
biarlah perasaan tak terungkap ini
biar ia tahu dengan tatapanku
biar ia merasa dengan sentuhanku
biar ia mengerti dengan senyumanku
meski harus menunggu seribu tahun lagi….
sory kalo gue pake puisi yang lama yang pernah gue buat di blog gue..
nih link ke blog gue…^^
http://kepleset.blogspot.com/2007/10/bila-ini-puisi-yang-tercipta-hanya.html
original kok
By via on Jan 3, 2008 | Reply
Arti Mencoba Bertahan
Adakah cara melepas rindu?
Selain bertemu dengan mu
bisakah mimpi menjadi kenyatan?
Jika sendirian?
Kenapa ada begitu banyak tanya?
Aku tak mampu menjawabnya
Aku hanyalah manusia kayu
Yang lapuk dimakan waktu
Aku tak mampu meneteskan air mata
Aku hanyalah manusia batu karang
Yang pecah diterjang ombak
salahkah aku?
Mangharap satu yang mustahil
Benarkah aku?
Melepas mimpi terindahku
Berdiamkah aku
Melihat dirimu melewati waktu
Tapi bukan aku yang mampu menghentikan waktuku, waktumu
Sembuhkan sakit itu
Aku hanya berbohong pada diriku dan dirimu
Kita akan baik-baik saja
Waktu akan mengahapus semua
Air mata dan cinta kita
Jika saat itu tiba
Kita akan tersenyum menatap dunia
Aku tahu butuh waktu yang lama
Tapi dunia tahu, jika saat itu tiba
Semuanya takkan lagi sama
Mungkin kau akan lebih bahagia
Mungkin aku akan terlihat tua
Mungkin kita akan lebih mengenal cinta
Mungkin dunia akan tertawa melihat kita
Insan manusia
Nb: Untuk dia yang telah pergi, dia yang meninggalkan luka, dia yang mengajari menahan tangis dan dia yang mampu membuatku merasakan rasanya dicintai
By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply
Secercah Harap di Pagi yang Cerah
Pagi yang cerah…
Secerah hatiku saat ini
Secercah harap menyapaku
Dia yang ada di sana
Seakan hadir menemaniku di sini
Ketika pesan-pesan cinta dia kirimkan
Sebagai ungkapan rasa cinta kasih dan sayangnya yang tulus padaku
Aku begitu bahagia…
Anganku pun melayang jauh
Membayangkan sejuta pesona yang dia tebarkan
Yang setia menemani hari-hariku kini
Mewarnai hidupku dengan penuh cinta
Yang telah mengapus jejak masa laluku
Mengobati sejumlah goresan luka di hatiku
Menawarkan seberkas sinar
Tuk menerangi hatiku yang hampir redup
Menjadi kembali bercahaya
Sayang…
Kau datang dengan membawa seuntai harapan
Akupun menyambutmu dengan penuh cinta
Kau adalah gairah hidupku
Kau mampu membangkitkan aku dari keterpurukan
Di saat asa yang ku damba seolah hilang entah ke mana
Di kala diriku gontai, jiwaku galau, keputusasaan menyeruak
Kau hadir membawa penawarnya
Kau hapus putus asaku dengan secercah harapan
Kau papah diriku yang gontai, kau bangkitkan aku, akupun kembali berdiri tegak
Penuh gairah menatap hidup
Kau hilangkan kegalauanku
Kau semai kedamaian
Kau taburi jiwaku dengan benih-benih cinta dan sayangmu
Kini, aku terus menunggu
Ku berharap semaian benih cinta dan sayang yang kau taburkan ke dalam jiwaku
Akan tumbuh bersemi indah
Sampai akhir hayat kita
Amiiin….
By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply
Ketika Dua Hati Telah Menyatu
Tiada saat yang paling indah,
Selain saat menyatunya dua hati
dalam balutan cinta dan kasih sayang
Saat ketika dua insan berlawanan jenis
merengkuh bahagia di bawah naungan ridlo-Nya.
Anugerah terindah inilah..
yang saat ini aku rasakan
Betapa bahagianya aku
Hatiku kini telah menemukan pautannya
Jiwaku kini telah menemukan pasangannya.
Puji syukur tak terhingga…
Aku haturkan padamu Ya Allah…
Engkau telah menyatukan dua insan ciptaan-Mu ini
Dalam bingkai kasih sayang.
Inikah kehendak-Mu yang selama ini aku nantikan?
Semoga…
By via on Jan 3, 2008 | Reply
BIla Dia Orang Yang Kau cintai
22 Mei 2007
Aku melihat kucing sekarat ditengah jalan
Tertabrak kendaraan yang berlalu lalang
Kucing kecil itu masih mencoba ketepian
Orang-orang berkata “Kasihan”
Aku bergidik ngeri
Melihat muntahan darahnya
Merah dan segar
Jalannya terseok-seok
Matanya berkaca-kaca seakan menangis
Mulutnya bergerak-gerak seakan merintih minta tolong
Sekali lagi kucing itu masih di tengah jalan
Mencoba ketepian, berharap ditolong
Namun tidak ada yang bergerak
Hanya bergumam tak jelas, seakan tak penting
Gerakannya melambat
Sinar matanya meredup
Nafasnya satu-satu
Skali lagi kucing itu masih ditengah jalan
Kali ini ia tak mencoba ketepian
Ia terdiam kemudian terlambat
Sebelum ia pergi
Ia berkata dalam hati
Bersalahkah aku pada mu?
Semua menjawab”Tidak”
Ia berkata lagi
Mengapa kau tak menolongku?
Semua terdiam
Tak mampu menjawab
Apakah cinta kasih Tuhan telah hilang dimakan waktu?
Apakah dirimu lebih hebat dan tidak butuh kucing kecil itu?
Apakah hatimu telah mati, tega melihatnya mati?
Bagaimana Bila Dia Orang Yang Kau Cintai?
http://kepleset.blogspot.com/2007/12/bila-dia-orang-yang-kau-cintai.html
By didi junaedi hz on Jan 3, 2008 | Reply
Sajak Cinta Buat Yang Tersayang
Sayang…
Pesonamu yang menggelayut manja di lubuk hatiku
Mampu menyihir jiwa dan ragaku
Seakan jiwaku terbelenggu, ragaku pun hanya terpaku
Mengikuti setiap gerak langkahmu
Sayang…
Aku tak bisa melepaskan bayangmu dari hidupku
Walaupun hanya sekejap saja, aku tetap tak mampu
Kau selalu hadir di setiap waktuku
Dalam kesendirian, bayangmu nampak begitu jelas menyapaku
Dalam keramaian, kaupun ‘hadir’ menyertaiku
Sayang…
Ku rindu hadirmu…
Ku kangen candamu, tawamu, manjamu…
Ku tak bisa melupakan semua itu…
Saat kita bersama
Hari-hari terasa begitu indah
Sayang…
Akankah kita selalu bersama?
Mengukir hari penuh cinta
Mewarnai hidup dengan kasih sayang
Merenda masa depan dengan cinta dan kasih sayang
Sayang…
Aku hadir untuk mu
Kau hadir untukku
Hidupmu adalah jiwaku
Hidupku adalah jiwamu
Cinta dan Sayangku ini hanya milikmu
Cinta dan Sayangmu itu hanya milikku
Kita jaga anugerah terindah dari Allah ini
Kita jadikan cinta, kasih, dan sayang ini jalan menuju ridlo-Nya
Semoga…
By via on Jan 3, 2008 | Reply
Sepotong coklat cadbury
Lumer perlahan di mulutku
Seperti itulah hatiku
Saat kau tawarkan cinta padaku
Sepotong coklat cadbury
Kupatahkan satu-persatu
Seperti itulah egoku
Saat kau rela demi aku
Sepotong coklat cadbury
Kukulum perlahan-lahan
Seperti itulah cinta mu
Aku menikmati tiap sensasinya
Sepotong coklat cadbury
Kucari-cari isi coklatnya
Seperti itulah perasaanku
Rasa penasaran menikmati cintamu
Nb:
Untuk seseorang yang tau seberapa berharganya sepotong coklat Cadbury Balck forest apabila diberikan dengan cinta ( 8 oktober 2007 )
By via on Jan 3, 2008 | Reply
maaf lupa dikasih judulnya sama link nya….
http://kepleset.blogspot.com/2007/10/sepotong-cadbury-black-forest.html
judulnya “sepotong cadbury black forest”
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman DidiKhamdani:
Sajak Cinta buat Dik Ajeng Srintil
cinta, jangan kaukatakan
jika hanya kenal lewat mata
cinta, buanglah jauh-jauh ia
jika untuk bersenang-senang saja
cinta, lupakanlah
jika kau memberikannya hanya untuk
mendapatkannya kembali
cinta, marilah tak lagi kita
merisaukannya
karena ia hanya dongeng dan
omong kosong kini
di negeri liliput ini
05-060600
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Lewat Malam
senyummu adalah kelelawar
yang menggelepar
menahan luka di sayap
saat langit tak lagi jingga
ia terbang bersama angin
menuju utara
menuju cakrawala ke tiga
menuju sang Hyang Widi Wasa
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Balada Kurusetra
ketika Arjuna melepaskan anak
gandewanya ke leher Karna
langit bergetar
meruntuhkan awan-awan
ke pangkuan Kunthi
menyeretkan duka
yang masih saja kubaca
sampai hari ini
2000/2003
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Aceh: 261204 (1)
ini bukan isyarat
sebab isyarat
telah lama kehilangan
maknanya
hilang tak berbekas
di cakrawala
ini bukan pula tragedi
sebab tragedi
hanya dongeng dan mitos
tentang air mata
: air mata pun
kini telah kehilangan
maknanya
hilang entah kemana
dari nurani kita
ini hanya sebentuk pengakuan
lain
: Tuhan memang
begitu menyayangi
kita
301204/020105
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Padamu Cinta
tiba-tiba aku merasa rindu padamu
padahal tiga puluh menit yang lalu
baru saja kukecup keningmu
tiba-tiba aku merasa sangat kehilanganmu
padahal bertahun-tahun telah kita
lalui hari-hari dalam kebersamaan
tiba-tiba aku merasa sangat asing padamu
padahal cinta yang telah kita semai
telah tumbuh sebagai bocah
ah, betapa cinta kian tak kumengerti
di saat aku kian mencoba tuk
berdamai dengannya
apakah hanya kepura-puraan dan
kepalsuan yang telah kita jalani
sebab masih saja ada luka-luka
di sana-sini?
aku ingin bisa memelukmu erat
tanpa harus membisikkan ‘I love you’
aku ingin bisa pergi dengan tenang
tanpa harus menanggung kerinduan
yang menikam dan terus merasuk di dadadu
aku ingin bisa menggenggam cinta
seperti aku menggenggam sapu tangan putih
yang bisa kuberikan sewaktu-waktu padamu
tuk menghapus airmata yang tiba-tiba
membasahi pipimu
sungguh aku ingin bisa mengucap ‘I love you’
padamu
tanpa harus terburu-buru mengejar bis kota
yang tak menentu …
Ruas tol Cawang, 280507 12:11
By unai on Jan 3, 2008 | Reply
aku ingat semuanya, panas matamu yang menjangkau parasku, bibirmu yang terlalu lambat mengucapkan kata, dan gelisah tanganmu mengaisi ujung kemeja. aku ingat suaramu yang sedikit goyang, juga warna kemerahan pauh pipimu, serta bayang tubuhmu yang ditempiaskan mentari pagi.
aku ingat,kita bertemu di pangkal duha itu. aku menjamah keseluruhanmu, dengam mataku, untuk pertama kali. aku berharap, kita bertemu untuk mendekatkan hati.
dan waktu kemudian berlalu, kita terhubung dari satu kenyataan dan berjuta impian: telah tak ada dermaga. kapal-kapal telah dilepaskan, nahkoda sudah tentukan arah: kita penumpang yang gelisah. hanya dari kejauhan, kugaris pelangi, agar kamu bisa menitinya, suatu pagi, dari ujung takdirmu di sana.
pelangi itu, masih aku gambari, sampai kini. dan dengan doa, setiap malam, kusisipkan ke dalam mimpimu. satu-satu.
maukah suatu kali kau igaukan namaku, maukah?
By unai on Jan 3, 2008 | Reply
Kau pasti ingat, saat kita pertama kali bersitatap. Mencuri pandang diantara debur ombak dada yang berkejaran. Senyum dan tawa kecil menyela percakapan kita yang tergagap. Kita tak pernah mengira bertemu di sini, di angan yang kita ciptakan sendiri.
Malam merapat kini, menunggu saat hujan meteor datang serupa mengharap senyummu yang mengembang. Tawa yang kubayangkan membuncah, kuharap ada ketika nanti kita bertemu nyata. Dan…. mimpi tadi malam akan kubawa serta, sebagai peta penunjuk arah, ketika aku harus melangkah ; pulangkah? atau melanjutkan berteman goyah?
Kubiarkan tanya berkeriap di jantung, dada, dan otak. Mencari makna sendiri setapak yang berliku yang kita lalui kini.
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Adakah Kau Tahu, Anakku?
in memoriam: Laleh - Laden
adakah dunia ini bulat, anakku?
ataukah ia sebuah tabung kosong?
tidak adakah orang-orang sae lakon panggung kita?
kenapa harus Anoman yang elek yang membumihanguskan Alengka
bukannya Rama yang gumagus itu?
kenapa Karna yang menjadi tokoh Kurusetra
padahal ia hanyalah seorang anak buangan?
kenapa harus Einstein yang amburadul itu
yang menuntaskan omong-kosong sains?
kenapa harus Edison?
kenapa harus Muhammad yang ummi itu?
kenapa, anakku?
kenapa harus Sumanto, Amrozi, …?
adakah Tuhan membisikkan nawaitu-nya membangun dunia ini
kepadamu, ngger; nduk?
lalu kenapa harus ada rasionalitas di meja makan kita
jika pisau-pisaunya tak mampu memisahkan Laleh - Laden?
tak mampu membedah dan membelah kegelisahan mereka yang
berlaksa-laksa tahun
menjadi mimpi buruk yang
menggelisahkan tidur mereka?
anakku,
adakah kau tahu?
210703/250903
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Mengeja Nama-Mu
aku mengeja nama-Mu
dari bentang kesunyian
hingga bentang kesunyian ini
kembali
namun selalu saja yang
tereja adalah
diam dan kebekuan
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Ode kepada Tuhan
setelah perjalanan panjang ini
aku masih saja selalu getir
menapaki takdirmu
maafkan aku, tuhan
dzikirku selalu patah
di setiap takbiratul-ihram
aku masih saja selalu gagap
melafal asmamu
sujudku tak menyentuh
maafkan aku, tuhan
tapi sungguh
nuraniku teramat kering
oleh nawaitu kepadamu
aku selalu saja gamang
…
tuhan
tapi pun sungguh
sebenar hatiku
aku selalu merindukan kasihmu
mengusap kotor kalbuku
aku selalu merindukan kasihmu
memberi daya bagi diri
yang tertatih menyusuri jalan
takdirmu
ini
ilahii lastu lil-firdausi ahlaa
wa laa aqwaa `alan-naaril-jahiimi
fahab lii taubatan waghfir dzunuubii
fainnaka ghaafirudz-dzanbil-`adziimi*
sinari selalu jalanku, tuhan
berilah cahayamu
bukakan mata batinku
berilah petunjukmu selalu
jangan sesatkan jalanku, tuhan
beri arti bagi kembaraku ini
sepenuh keridhaan dan ampunanmu
amin
* doa abu nawas
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Surat Putih 2
melewati hari dalam sepi
kadang dingin mencekam
menyelimuti tidurku
menawarkan mimpi-mimpi kelam
tentangmu
—setiap bangun tidur
aku selalu tertegun
meraba dan menatapi
senyummu dalam wajah
potret beku
lalu kembali segumpal
pilu menghantam
hari-hari yang panjang
dalam doa dan penantian
panjang menyeret angan
menyusuri jalanan ke
masa depan
—tumpuan harapan dan impian
bersamamu
aku selalu mengerti
bahwa dunia tidak hanya hari ini
tapi adalah kemarin dan esok hari
160399
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Usman Didi Khamdani
Sajak Rembulan Masa Lalu
—NH
ingin kugapai kembali
rembulan masa lalu
sering kutermenung
dari beranda
mebayangkan
kita berlari-lari
mengejarnya kembali
—yang tak pernah tergapai
dan memangkunya kemudian
tapi kembali aku sayu
bintang-bintang yang terang
kembali menegurku
bahwa rembulan masa lalu
telah lama berlalu
kabut-kabut telah
memintanya
lalu aku terdiam kembali
dari beranda
kutuju kamarku
kukunci dari dalam
lalu tidur
diam
sampai esok datang menjelang
bersama mentari
yang kan datang menerangi
dua hati kita
tanpa noda dan cela
rembulan masa lalu
biarlah pergi berlalu
hilang tanpa rintangan
namun sinarnya yang
pernah tersisakan
mari kita jaga
sebagai penerang
kamar kita
yang kini telah
terisi
oleh dua hati
kenangan kita pada sejarah
dua hati
sejawat kita melewati
sejarah
biarlah
dan kita melangkah
seperti rembulan itu
yang datang dan pergi
tanpa kita ingini
jatibarang, malam, 220199
By Usman Didi Khamdani on Jan 3, 2008 | Reply
Kang Ersis,
Titip yo??
Banyakan ga papa kan???
Semuanya bertema ‘cinta’ kok.
***Yoi, thums up.
By Ardan Setiansah on Jan 3, 2008 | Reply
Malam Tak Berbintang
waktu terasa terbebani
didalam ruang seribu ruang
yang terbayang hanyalah dirimu
penat terasa di pikiranku
gambaran wajahmu tak pernah hilang
walaupun seperti aku bercermin aku dapat melihatku
tapi ketika tidak bercermin aku dapat merasakan keadaanku
seperti itulah dirimu seperti aku yang bercermin
seperti malam tanpa bintang
jiwa ini selalu hampa
tapi diimpianku kau selalu nampak
walau seperti malam tanpa bintang..
By riri on Jan 3, 2008 | Reply
SAHABAT
BEGITU BANYAK UKIRAN YANG TERPAHAT
BEGITU BANYAK RINTANGAN YANG MANGHAMBAT
HANYA SENYUMMU PELEBUR SEDIHKU
HANYA TAWAMU PEREDAM AMARAHKU
SAHABAT…
TERIMA KASIH KAU BERI WARNA DALAM HIDUP
TERIMA KASIH KAU BERI SEGELAS SEMANGAT
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
DAN JADILAH NISKALA
Duduk di keningmu adalah niskala yang sejak lama kurangkum dalam sebuah rasa berwarna magenta.
Menyaksikan langit ketika jingga menyesaki sawangnya.
Lalu rumput, lalu tanah coklat, lalu daun jambu yang bertegur sapa dalam aroma sisa hujan dan ceruk kecil hasil pertemuan tetes hujan dan tanah lapang.
Ada larik samar di antara pendar hujan yang seketika saja meriap,
tepat ketika jarum jam menegur deretan angka
Kau ada di situ, diantara telisik kata yang mewujud samudera.
Bukankah kita telah sepakat,
bahwa hanya akan ada denting embun saja
dan kita akan menghimpunnya
menjadi telaga
menjadi muara
menjadi samudera.
Aku menurut saja
ketika diamdiam kau sisipkan sebuah mantra
Lalu Dia menciptakannya untuk kita,
lalu Dia meniupkannya untuk kita.
Dan Jadilah..
Jakarta, senja 19 Desember 2007
Special 4 my Princes :Hamasah Putri
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
KATA DEMI KATA
Gegapku di reruntuhan itu
di antara jeda pada rembulan yang merengkuh anggun
di antara suaku dengan mentari senja
di antara lengkung pelangi
Ah…
kau tak tahu saja
setiap desah keluhmu
setiap erang kesahmu
aku membacanya
runut
kata
demi
kata
Deruku di sini
menguapkan setiap pesan yang kau titip
mengemas setiap asa yang kau kemas
dan ketika gerimis
ketika bumi bersentuhan dengan langit
Aku berbisik
tentangmu pada-Nya
terus saja berdiri di sana
saksikan bagaimana aku bercinta dengan mentari
saksikan bagaimana aku berselingkuh dengan rembulan
Bogor, November 2007
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
MENJEJAK ANGAN
Lalu kita sua dalam cinta
Mengeja makna yang selalu saja ruah
Merunut langkah dalam getar-getar
Penuh pesona
Lalu kita rukuk dalam pasrah
Mengharap resah agar lekas sirna
Menyusun kata yang selalu saja ruah
Dan hilang …
Entah
Lalu kita sua di negerimu
Daratan yang selalu saja bertabur kata
Membaca hati yang tercipta
Dari rintik embun
Sisa tadi malam
Untuk bekal mimpi
Seribu tahun kedepan..
Bandung, 24 Juni 2007
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
BINGKAI KACA
Sore dingin yang basah
Bingkai kaca
di sini penantian yang tak berujung berakhir
Nama kerinduan itu
menyampaikan sapa pagi darimu
kau beri aku ulasan dan warna baru
buat mimpiku
Senja tetap turun
segumpal harapan menyiramku
lewat aliran air mata
kedinginan membekukan hatimu
izinkan aku menghapus luka itu
bersama sukaku
dan kuhantar sejumput kehangatan
Ku eja nama bagusmu perlahan
aku terjatuh dalam telaga
pada bening matamu
Jakarta, 02 September 2006
di ambang senja
By Dani Ardiansyah on Jan 3, 2008 | Reply
PASIR WAKTU
Pasir waktuku tak lagi cukup
habis ketika jalan belum lagi usai
bahkan rindu yang pernah ku uraipun
tak pernah tuntas
Akhirakhir ini senja tak pernah tersenyum
terkadang dia muram
mungkin tak punya lagi stok jingga
di gudangnya
Tapi sudahlah
karena pasir waktuku ternyata
tak sama banyak denganmu
sebentar lagi
waktuku habis
sambil masih
mengepal
rindu
Rdio dalam, 14-06-07
Menunggu senja
By Usman Didi Khamdani on Jan 4, 2008 | Reply
Satu lagi Kang Ersis:
Usman Didi Khamdani
Matematika Cinta
Sekantung permen tiga bocah
Sepertigaan dibagi rata
Satu cinta tiga hati
Siapa bisa membagi?
By verlita on Jan 4, 2008 | Reply
Verlita’s Wrote
Aku sedang menggoreskan namamu saat ini
Saat dimana hatiku sedang menjerit - jerit karna takut
Saat dimana hatiku sedang berdebar - debar karna takjub
aku tidak mampu berkata-kata, sayang
karna nikmatnya hari yg telah kujalani denganmu
tidak sebatas kata…
tidak sebatas bicara…
dan tidak sebatas tulisan…
Dan ketika aku bergeming…
kaku dan diam……..
itu karna aku sedang memandang lurus kehatimu
sedang mengorek cinta di sukmamu…
Yang ketika ku gigit, kucicipi dan ku kunyah…
aku berdoa sampai gemetar…
karna rasanya tak kan pernah terlupakan..
note : untuk cerita lama, untuk kenangan yang pernah aku jalani bersamamu…
By antar pulau on Jan 5, 2008 | Reply
*Fuihh….
*
sambil ngelap keringet di jidat….
Pusinya bagus-bagus…..
Salut untuk semuanya…
***Fuihh … Makasih
By didi junaedi hz on Jan 5, 2008 | Reply
Jeratan Gelora Api Cinta yang Membara
Bermula dari percikan api cinta yang kecil
Menjelma menjadi kobaran api cinta yang menyala
Siapapun yang merasakannya
Tak akan dapat menguasainya
Tidak juga kita
Insan yang lemah
Ketika terjerat dalam kubangan nafsu
Terlilit belitan gairah yang membara
Raga tak berdaya mengelak
Jiwa tak kuasa menolak
Iman pun runtuh seketika
Hanya bisikan halus penuh janji manis
Bujuk rayu si durjana
Penyesat umat manusia
Yang senantiasa terngiang di benak kita
Kita pun terseret
Dalam kenikmatan semu yang dia janjikan
Kita pun terbuai
Dalam angan yang mengawang
Kita pun terlena
Dalam tipuan yang mematikan
Sampai akhirnya kita sadar…
Menyesal…
Meratapi…
Kekhilafan yang telah kita perbuat
Hanya untaian doa
Yang mampu kita panjatkan
Sebagai bentuk taubat kita kepada-Nya
Sebuah permohonan ampun kepada Yang Maha Pengampun
Selaksa permintaan maaf kepada Yang Maha Pemaaf
Semoga Dia mau membukakan pintu taubat-Nya
Semoga Dia mau mengampuni
Semoga Dia mau memaafkan
Kekhilafan dan kesalahan kita
Hanya itu yang kita pinta dari-Nya
Tiada yang lebih berharga
Selain ampunan-Nya
Tiada yang lebih mulia
Selain maghfirah-Nya
Semoga doa yang kita panjatkan
Mendapat perkenan-Nya
Menemui Ijabah-Nya
Menjumpai Qabul-Nya
Amiiin….
By Maulida Ok on Jan 5, 2008 | Reply
Someone In My Heart
Entah kapan perasaan ini bermula
Entah mengapa saat dia ada di hati, ku tak pernah menyadarinya
Dia datang dengan biasa
Dia dan aku hanya teman biasa
Hingga kita pun terbiasa
Bersama melakukan hal yang biasa
Membicarakan semua yang ada
Membicarakan apapun tentang dunia
Hingga sampai ke akhirnya
Ku tak tahu kapan saat tiba- tiba ku merasa beda
Saat dia menjauh dan ku tak kuasa
Ku merasa resah setiap kali ingat dia
Ku tak mengerti apa yang kurasa
Mungkinkah aku jatuh cinta??
Tuhan… tolonglah aku yang kini menderita
Ku mencintai hamba-Mu yang mungkin tak pernah mencintaiku
Ku mohon agar dirinya tak menjauh
Hingga kehendak-Mulah yang akhirnya mempersatukan hatinya dengan hatiku . .
By Dhikrotul Izzah on Jan 5, 2008 | Reply
Hadirkan Aku Dirinya
Dua kali tiga ratus enam puluh lima hari
Bertemu di temaram senja
Nan jingga elok paras budinya
Senandung ayat – ayat-Nya berirama
Tatkala lisan – lisan kecil melafalkannya
Seirama detak – detak jantung menggelora
Denyut nadi mengalun
Detak jantung semakin berdegup
Bidikan syair asmara pun merajut syahdu terasa
Rona wajah Sang kasmaran pun bak lembayung merona
Untaian rasa dititipkan-Nya
Bahagia, sedih, cemburu, gemas, malu menyatu rasa
Jikalau tak ungkapkan ini semua
Relung hati terdalam ini ‘kan merana
Meledak dahsyat tak tahu apa jadinya
Ketika lelah, tak menghiraukannya
Galau hati pasti ‘kan menyapa
Ku tak mau ada sesal nantinya
Sejenak menghela nafas
Kau hadirkan aku
Dirinya
Dalam kesyahduan
Dalam keheningan
Menyibak rasa cinta
Written by: Dhikrotul Izzah
In breezy afternoon, 14:20
Batu, January 4, 2008
By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply
Aku ikutan lombanya ya…
Tembang Cinta I
jam yang berdetak menepi
seperti menghitung langkah kekosongan
purnama setengah tiang
menyemburatkan cercah cahaya
menelusup ke balik poripori kaca
codot memanggilmanggil dari balik jendela
tahu, aku masih terjaga
menyenandungkan tembang Asmarandhana
agar hatiku tidak terkalut terlalu jauh
tentang arti cinta
Padang, 2007
By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply
Tembang Cinta II
;malam sepi.
purnama, ukir sebuah kata
pada lontar kesenduan.
catatlah sebuah kalimat,
tentang arti cinta,
di hati.
entah hati siapa yang gores
sebelum kata itu, selimuti kelam
rahwana malam
Sebelum senja itu habis
cepatcepat tulis
bila tidak
bias luka,
mencoreng wajah nan bersahaja
meratapi nasib.
yang tak segera dijemput.
Rumah Cinta-Padang, Januari 2006-April 2007
By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply
Kukirim Lagi…
Tembang Cinta IV
“cinta itu harus kuutarakan!”
kulepaskan sebutir luka pada laut
di tengah terik, kuteriakkan namamu sekali lagi
“oh, kasih. seperti inikah cinta itu kaukatakan?”
ilalang tajam, menerbangkan sekujur durinya
angin bertiup keras
dan aku masih berada pada kegetiran cinta
Rumah Cinta-Padang, Juli 2007
By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply
Selepas Doa Itu Kuucap
matahari telah beranjak padang
tinggalkan garisgaris sepi
berputar dua puluh kali
pada bumi
ucapkan salam pada rembulan
pada gegap gemintang
yang bertaburan di langit
cahya, jam 12 tengah malam
kuusap doa di ujung pelipismu
belai tiap helai juntaian rambutmu
meninggalkan senyum sesaat
yang kulemparkan pada rona wajahmu
“selamat ulang tahun kekasihku”
kutiriskan ucapan itu,
dan kutaburkan pada desauan angin
biar alam tahu
dirimu, yang dikalut rindu
padanghingarsebelumkoyak, 15 Maret 2007
By Sayyid Madany Syani on Jan 5, 2008 | Reply
Sketsa Wajah Di Bibir Senja
;disini
kuiringkan langkahku
menapaki tetes pasir yang basah
senyummu merekah marun
kuimpikan, agar cerahkan wajahku yang muram
hanyalah sketsa,
sketsa wajah yang halus kau ukir
di ujung lanskap penantian
;disini
menunggumu dengan penuh kasih
di bibir pantai
lelaut, temaniku
mengurai air mata pasir
selaksa mega, seutas barat
rona saga mewarna lelayar perahu yang kembang
sesayap, kuinginkan kau hadir
sesayup, kudambakan
sesayup suara dari bukit Karamuntiang, Mei 2007
By yunda on Jan 5, 2008 | Reply
hantu
cinta itu telah ku kubur
hidup hidup
geliatnya meronta,
merintih
mengiba meminta ku selamatkan
tapi maaf,
aku masih diriku
teguh tanpa ampun membunuh rasa yang belum saatnya lahir jadi nyata
perlahan ia kehabisan nafas
tiap sela parunya telah terisi tanah kuburan
ia batuk batuk
lalu mati lemas dengan pucatnya
berganti wajah bulan seiring deretan malam
aku mulai demam dan kembali mengigau
cinta itu
menghantui…
kenangan berbingkai hari
menjelma arwah yang berkelebatan
di tiap sinapsis otakku
merasuki detik dalam pikiranku
mungkin aku butuh terapi
dan belajar mensugesti diri
bahwa cinta itu telah mati!
tak perlu kuragukan lagi!
ia telah terurai
bersenyawa dengan partikel partikel tanah
melembut,
melumat di pencernaan cacing cacing
namun tak ku sadari bahwa ia melebur
menguncup menjadi bunga karang
yang menyuburkan perih
luka
lara
asin airmata
memberi nafas untuk menghantui ku
By syeeddath on Jan 5, 2008 | Reply
Satu Rasa
Satu rasa..
yang menguasa segala rupa
Kerinduan…
Kini dan esok
Maka…
Biarkan aku mencintai
dengan caraku
dengan keterbatasanku
dengan kemesraanku
dengan resah dan harapku
Biarkan..
walau dengan irama payah
berdentang berdenting bergantian
mengkreasi lirik lenguh nan manja
Biarkan…
mencipta selaksa gelora membuncah
berpacu syahdu dengan detak
Satu Rasa ..
yang menguasa segala asa
Kerinduan …
kini dan esok
By yayasz on Jan 6, 2008 | Reply
tersenyumlah..
karena bahagia
menangislah…
karena bahagia
sulit, kuukir kata saat melihatmu
sesak, kusemai kata bila didekatmu
lari saja…mungkinkah lebih baik?
tawamu saja, cukup bagiku
tangismu, tak cukup bagiku
aku siap menjadi kebimbanganmu, risaumu, kesalmu, dan segalanya…
tapi jangan pernah berpaling
tak perlu kau tahu rasaku ini
tersenyum saja, matahariku.
By edo on Jan 6, 2008 | Reply
Terima Kasih Cinta…
—
terima kasih kekasihku…
telah kau kenalkan aku keindahan yang tak terimagikan
telah kau kenalkan aku pada rasa sakit tanpa batas
telah kau kenalkan aku canda tawa lepas bebas
telah kau kenalkan aku derai tangis haru biru
telah kau kenalkan aku kebahagiaan hakikat
telah kau kenalkan aku pada kesedihan tak berujung
telah kau kenalkan aku kedamaian tak terlukiskan
telah kau kenalkan aku pada rasa hampa tanpa kata-kata
telah kau kenalkan aku kasih sayang yang sesungguhnya
telah kau kenalkan aku kebencian yang membusuk menyengat
telah kau kenalkan aku kehidupan penuh warna
telah kau kenalkan aku pada ruang pilu sunyi sepi
telah kau kenalkan aku semangat semesta
telah kau kenalkan aku pada kekosongan ruang waktu
telah kau kenalkan aku kehangatan yang menenangkan
telah kau kenalkan aku pada kebekuan menusuk kalbu
terima kasih kekasihku…
telah menghidupkanku…
dan membunuhku…
kini aku mati…
entah dengan tenang…
entah dalam gelisah…
wrote on Wednesday, September 15, 2004, 04.09 AM
*sorry bang, gatel ngirim lagi. gpp kan?
By edo on Jan 6, 2008 | Reply
Nyanyian sang Pendusta
—
Indahnya dunia jika tak punya rasa
hanya nafsu
tak perlu ada sedih
tak perlu ada duka
tak perlu ada resah
tak perlu ada gelisah
indahnya dunia jika tak punya hati
hanya logika
tak perlu ada sepi
tak perlu ada hampa
tak perlu ada sunyi
tak perlu ada pana
andai saja aku hanya punya nafsu dan logika
kan ku perkosa semesta
memburai kendali tanpa hasrat
membelah tengah malam dengan pedang terhunus
merdeka tanpa belenggu
menyayat cinta
merobek kasih
dan ya
aku telah berdusta…
*wrote on Friday, September 10, 2004, 02.33 AM
By bulan ayudinda on Jan 6, 2008 | Reply
Bulan Ayudinda
Peraduan Kisah
Guratan-guratan, sayat menyayat relung, sadarkan lewat perih dalam khayalku yang tak berbalas..
Dinding kelam hadirkan ruang hampa mengulang kerapuhan lalu, terlalu terbuai dalam sajak-sajak kedamaian, jatuhkan melebur tak sanggup lagi tuk bertahan…
Keluh adalah tanda pertama ku hancur!
Berikutnya hanya keikhlasan semesta yang berhembus lewat rintih, isak, sesakku..
Batu, jarum, duri, tengah merendamku dalam, menusuk cabik tanpa iba..
Takkan terbiarkan lemah menghantam sisi hangatmu, kan ku halau walau mati menjadi milikku,
takkan kubiarkan mentari tenggelam, aku pun takkan berlari menghempaskan jasadmu terpuruk, terlepas kisah bersama waktu..
Remas genggam tiap jemari ini, rasakan mendalam
layaknya aku dan kisah begitu merenggut nurani kasihmu..
Aku telah mengenalmu kini …
Jakarta, 06 January 2008
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Adalah Kita
Ingatlah saat aku hembuskan tawa renyah di liang matamu
Menarik hati, membasuh kelam
Dingin…
Kau terpaku dalam keanggunanku
Bergairah menyimak tawaku yang tak henti kau hirup
Berdetak dan berdetak
Saat binar matamu maknai rasa hati
Rengkuh jiwaku dengan gurun cintamu yang tak terbatas
Bagamana matahari mengukuhkan jiwanya menetap pada hati yang lugu ini
Bagaimana alam merelakan lengannya berpijak pada kulit yang lemah ini
Bangkitkanku, beri masa depan pasti
Mengajakku berlari menuju bintang, menjemput bulan
Rumput ilalang bukan penghalang
Asal ia tetap berpijak pada kedua pundakku
Lindungiku… sungguh melindungiku dari sakit dunia yang mengancam elokku
Tuhan….satukanlah kami
Aga bisa kurangkum rindu
Dan merengkuhnya…selamanya
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Melodi Kehidupan
Diri ini terhuyung diterpa renungan
Karena celahku sempit untuk menatapmu
Kau jauh di sana
Dan ragaku tak lelah menunggu wujudmu tiba
Jiwa keriput termakan rindu
Terbunuh sepi dalam keramaian
Mataku buta pada keindahan
Mulutku kaku pada kata-kata
Telingaku tuli pada suara-suara
Hanya mampu mendengar melodi darimu
Melodi kehidupanku
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Terbiasa Merindukanmu
Rindu ini sangat menyesakkan ruang hati
Gumpalan darah terus menghirup bayangmu
Betapa ingin ku berbagi batin
Untuk hilangkan hampa yang tergores di dadaku
Kian kuhitung buliran embun yang jatuh dari dahan setiap pagi
Setiap itu pula rinduku selalu tercetus untukmu
Wahai rindu
Aku yakin kau selalu bersemayam di hati
Sebab rindu ini hanya untuk bayang yang tak akan kembali menjadi sebuah wujud
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Api bahagiaku… Bahagiamu?
Telah bersama-sama kian kita susun kayu-kayu kering
Dan menyulutnya dengan penuh ketabahan
Berkobarlah api yang sering disebut-sebut setiap mahkluk dalam tidurnya…
Nyaman ku dipinggirnya, kau juga
Serempak kulit ini ikut menyanyi atas hangatnya
Tanpa suara angin yang mengantarnya
Melesat es-es yang mencekam punggung belukar
Menembus alur yang telah kita tetapkan
Dinginnya yang membawamu pada kebenaran, kenyataan, dan kecerahan
Selintas padam semua pada pandangan
Namun ada yang tersulut kecil pada sebuah lilin
Ternyata ku lumpuh terbujur kaku mencium tanah
Tapi tetap kujaga agar tetap menari pada sumbunya
Ku tak pernah ikatkan simpul mati
Tapi kumohon… berikan aku lilin lagi
Agar tetap kusambung keringatku pada tubuh dan jiwa yang tak berdaya…
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Safana
Dalam lumpur pasir seorang pria terbaring
Dia mabuk, sangat sangat mabuk
Semua partikel berputar
Mata menggandakan segalanya
Gulana kian menikam sekujur tubuhnya
Yang dia butuhkan hanya sebuah jentik sudut bibir yang tersenyum
Dari wanita yang rela menyisihkan berjuta detik hidupnya
Untuk pria yang sesaat lagi kehilangan nyawa
Safana……
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Aku Mencintai Sajak
Tak pernah kutanyakan mengapa
Karena ku tak tahu jawabnya
Tak pernah kurisaukan kemana
Karena tetap ku tak tahu jawabnya
Aku hanya menuangkannya dengan tulus
Tak ada yang memaksaku berbuat ini
Pun aku tak terpaksa hidup di dalamnya
Aku hanya mencintai sajak
Hingga darah yang mengalir di sekujur tubuh,
Mata yang memandang, juga hati yang bergetar ini
Adalah sajak…
By Bibidapi on Jan 6, 2008 | Reply
Hari Kasih Sayang
Hari kasih sayang…
Hanya doktrin yang menggelikan ruang benakku
Aku memang mencintai cinta
Tapi, haruskah cinta terklimaks di hari itu?
By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply
Aku Rindu Kamu
Pagi katakan padanya
Aku rindu kesejukkan suaranya
Siang katakan padanya
Diantara teriknya matahari
Aku rindu panas asmaranya
Senja katakan padanya
Diantara redup cahayamu
Aku rindu redup matanya ketika memandangku
Malam katakan padanya
Diantara dingin bekumu
Aku rindu hangat peluknya
Bintang katakan padanya
Aku Rindu kerlipan matanya
Jutaan kata sayangnya
Tak akan sanggup melewati waktu tanpamu
By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply
Semakin Berharap Padamu
Tiap detik aku mikirin kamu
jarak yang jauh terasa dekat
jika dirimu bersanding
suaramu yang khas
sapaanmu yang unik
teguranmu yang lembut
aku semakin mencintaimu
aku semakin merindukanmu
aku semakin ….
berharap padamu…
By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply
Cintaku Abadi
sayang..
..keindahan itu tak terperikan..
..rasa itu tak tergambarkan..
…keinginan itu tak terlukiskan..
…….di sebuah kisah yang terputus..
aku berkaca..
aku bertanya..
kemana perginya dia dulu…
…kenapa menghilang…
…aku yang terlarut dari beberapa kisah..
.. tidak pernah tahu ..
..tidak pernah merasa..
….bahwa kisah yang belum terwujud..
itulah yang sebenarnya..
sayang..
kukatakan..
selamat datang dikeabadian cinta kita..
By awan965 on Jan 7, 2008 | Reply
Kukatakan
Berjuta keindahan yang memukau
Terpancar dari sebuah kisah yang ribuan hari terunda
Aku kamu dan cerita cinta yang tak berlakon
Suatu hari aku ingin….
Kukatakan pada malam kepada siapa hati ini merindu
Kukatakan pada bintang bolehkah aku meminjam kerlipnya
Bolehkah aku meminjam pijarnya
Agar dia tahu kepadanyalah aku bertaut
By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply
Cinta dalam Jiwa
Sayang…..
Hari-hariku selalu ingat dirimu
Malam-malamku selalu berkhayal tentangmu
Sungguh cintaku tulus untukmu
Aku sangat menyayangimu
Aku tak rela kamu meninggalkanku
Tapi kutahu ‘Cinta ada dalam jiwa dan bukan dalam raga’
Mungkin aku sedang diuji, kesetiaanku,
kesabaranku, dan kedewasaanku
Sayang……
Aku akan tetap menyayangimu
Dan mungkin kaulah segalanya bagiku
Sungguh hebat kekuatan cinta ini
Aku akan berusaha apapun itu
Meraih kebahagiaan bersamamu suatu saat nanti
Percayalah sayang
Aku akan tetap menantimu
Dan aku tak mau gantikan kamu dengan yang lainnya
Aku akan coba hayati saat saat bersamamu
merenda kasih kenangan-kenangan kita
Karena kamu sangatlah berarti bagiku
Dan aku akan selalu menunggumu
By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply
Tentang kata, tentang kita
Terankai indah kata menjadi kalimat,
bagai rangkaian bunga yang menjadi indah dan menebar bau wangi
kesekeliling ruang yang ada,
biarkan dia tetap begitu,
mungkin wangi dan indahnya akan hilang
tertelan gelapnya malam, terkikis panas mentari.
Kalimat yang keluar dari ketulusan hati,
didengar dengan keikhlasan batin,
ditemani angin surgawi…. merasuk hingga sanubari,
memasrahkan jiwaraga,
dan dia tetap disana di dasar terdalam hingga sulit ternoda.
Biarkan saja tetap seperti itu,
karena terlalu berharga untuk ditepiskan.
By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply
Kasih
Terbentang telaga kasih
Kasih yang dalam tiada tersurut
Kasih yang memancarkan suatu ketulusan
Indah, lembut bak sinar rembulan
Kekasih tempatku bersandar
Merapikan sendi-sendi putus
Menghapus lelah langkah
Mendamaikan gemuruh hati
Merajut Impian menuju kebahagiaan
Meniti Harapan menuju Keindahan di ujung keheningan
Kau Ucapkan kata sayang saat kuresah
Dalam desahan nafasmu yang masih selalu kurasa saat memelukku
Kau ucapkan kata cinta saat kulelah
Dalam iringan lirih angin yang membelai jiwaku
Kau tatap mataku dengan sorot matamu
HIngga aku tersadar bahwa kau begitu menyayangiku
Aku terlena dalam gemuruh jiwa sang pencinta.
By Vitri on Jan 7, 2008 | Reply
Salam Kenal mas,
Ikutan kirim 3 puisi ya mas,
maaf puisinya masih begitu, maklum masih belajar
thanks ya mas
***Yoi, dengan senang hati.
By lubis grafura on Jan 7, 2008 | Reply
Assalamualaikum wr.wb
Yth. Bpk Ersis Warmansyah Abbas
Pak Ersis, Saya Lubis Grafura mengirimkan beberapa puisi. Mungkin lebih tepatnya banyak puisi. Berikut adalah biodata saya: Lubis Grafura. Lahir di Kediri, 8 Juli 1984. Juara I Lomba Puisi tentang Keagungan Nabi Muhammad IRIB 2007, juara III Lomba All About Women, Tiga karyanya mendapatkan penghargaan Menteri Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan CWI. Beberapa karyanya pernah dimuat di media Suara Pembaruan, Seputar Indonesia. Radar Banjarmasin, Surya, Malang Pos, Siar, dan Komunikasi. Aktif di Bengkel Imaji Malang dan mengelola blog sastra dan pendidikan di http://www.lubisgrafura.wordpress.com. Nomor HP 08563693116
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih.
Singkat Kata
seperti seorang gadis yang jatuh hati
kepada seorang lelaki yang wajahnya
larut pada laju bingkai jendela kereta
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Kata tak Pernah Dusta
rindu yang terlewat kau baca
pada isyarat sepasang mata
kusimpan rapi di balik kata
dan saat kuucapkan lewat gurauan
ternyata, luput juga kau eja
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Pada Sebuah Stasiun
___Dian Hartati
Kita sama-sama memandang rel
yang bersejajar dari awal hingga akhir
tapi tak pernah saling bertemu
Malang, 2006
Pertemuan Senja
___Wa Oda Wulan Ratna
Kenapa kita musti bertemu
Pada waktu yang sesingkat itu?
Malang, 2006
Arbitrer
Sepatutnya
kuketuk daun pintumu terlebih dahulu
daripada diam menunggu
sebabnya
aku sendiri tak tahu alasanku
kenapa aku berdiri di depan pintumu
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Wijayanti
Sempat kuintip sebait kesedihan di kelopakmu
menjelma telaga peluh yang sedang kau kurung
bersambut kabut yang menggulung mendung
penantianmu telah melewati hitungan jari
seseorang yang memekarkan kembangmu
belum juga melunasi hari yang dulu kaupinjami
kau selalu sembunyikan derai air matamu
pada bulir-bulir air hujan atau sisa embun tadi pagi
tapi, kau tak selamanya bisa membiarkanku
berdiri diam menunggu hingga layu.
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Di Bawah Cahaya Rembulan, Kutulis Puisi Seorang Diri
___kepadamu, kekasih
Kutuliskan puisi ini seorang diri
hanya berteman sepasang bayang
yang dihadirkan cahaya rembulan
yang bersembunyi di balik reranting daun jati
dua tiga dan empat kata sudah kugoreskan
di atas angin yang mengusik gemerisik
bunga-bunga melati layu menjadi tirai kelambu
menemaniku menuliskan puisi ini
seorang diri
lantas bulan telah merangkak naik
memberanikan diri memandangku
walau separoh wajahnya ditutup selendang awan
kelabu
tak luput dari untaian kata-kata puisiku
kutulis juga sebuah syair untuknya
kutitipkan juga kepada angin yang mengusik gemerisik
dedaunan dan reranting
berharap ada sehelai daun yang jatuh
melayang seperti selendang jatuh
terbawa angin masuk ke jendela kamar menembus
tirai kelambu pada ranjang seorang perawan
yang tengah terlelap dalam dekap mimpi-mimpinya
kuharap daun itu jatuh
tepat di tengah dadanya.
Malang, 2006
Kepadamu, Ibu
Kau datang menyulut kendil pada ruang gelap
merajut jantungku dari benangbenang cinta pilihan
mendetakkan jantungku
mengalirkan darahku
menghembuskan nafasku
lantas kau ajarkan kepadaku
tentang penglihatanku
tentang lisanku
tentang pendengaranku
tentang seluruh organ tubuh
padaku
dengan apa aku harus membayar ini semua, ibu
kau tak pernah menjawab
berpaling
pura-pura tak mendengar
“kau sudah makan siang ini?”
jawaban itu yang selalu kudengar.
Malang, 2006
Pada Sebuah Stasiun
___Dian Hartati
Kita sama-sama memandang rel
yang bersejajar dari awal hingga akhir
tapi tak pernah saling bertemu
Malang, 2006
Pertemuan Senja
___Wa Oda Wulan Ratna
Kenapa kita musti bertemu
Pada waktu yang sesingkat itu?
Malang, 2006
Dua Bintang
___Aziz San
Dulu, kau pernah bercerita tentang
dua bintang yang bersinar di langit malam-
malammu
dulu, kau enggan menyebut bintang
kau lebih suka menyebutnya dina
bintang adalah dina yaitu bintang
sama saja bukan?
Apapun kau sebut benda langit itu
Kau tetap sahabatku!
Malang, 2006
Hahan
___ Handoko, untukmu
suatu malam kau ketuk pintu rumahku
kaugambar wajahmu sendiri pada
mawar layu pada pot samping rumahku
“Tolong aku, Gar. Tolong aku…”
ada sesuatu semacam kabut yang meng-
gelayut pada sorot wajahmu.
Entah ini yang keberapa kesekian kali-
nya
jantungmu berdarah oleh cinta seorang
perempuan. Entah yang keberapa kalinya
darahmu membeku berhenti mengalir
oleh dinginnya hati perempuan.
pada gemerisik daun rambutan aku ingin
menyampaikan kepadamu
“biarlah perempuan itu datang dan pergi
dari hatimu. Aku di sini tetap sebagai sahabatmu”
dan kau pamit pulang!
Malang, 2006
Di Jalan Itu
kisah kita begitu sederhana
kau sadarkan aku akan cintamu
ketika kubonceng kau di motor bututku
tiba-tiba saja kau kalungkan lenganmu
menalikan tali helm di bawah daguku
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
99 Jalan Menuju Mekah
sepasang kekasih bercerita di keremangan
tentang cendrawasih yang terbang ke bulan
dan ketika kita berdiri pada persimpangan
ingatlah ada sembilan-puluh-sembilan jalan
Malang, Desember 2007
Pulau Kenang
sampanku melabuh pada pulau kecilmu
kau hidangkan kelapa muda selembut bibir
perawan kesepian yang belajar meramu
sunyi pada galau yang menjadi tabir
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Saat Kembali
cuaca yang kau pesan masih sama juga
semi pada reranting bunga bakau
sampan tak lagi sauh, aku masih belaga
barangkali saat kukembali nanti, masih juga kau
Malang, Desember 2007
Ma’rifah
betapa hati ini sebegitu pekat
pada hijab-hijab relung menyekat
lewat pengetahuanmu adalah cahaya
mengangkat derajat dari para sahaya
menyingkap hijab pada relung pekat
Malang, September 2007
Mahabbah
aku bersaksi tiada selain tulusnya udara
yang memberikan jiwanya pada semesta
yang nyata ada, tetapi tak berupa
aku pun bersaksi tiada selain setianya laut
yang memberikan kedalamannya
pada setiap keluh ujung sungai
mendengarkan tangis langit
gemuruhnya ombak dalam badai
karam dalam satu kata cintamu
Malang, September 2007
Makhafah
ada yang lebih gelap dari gulita
menjelma pusaran pada berita cuaca
mencipta gempa pada lempeng jiwa
adalah kedalaman pada siksa neraka
ada yang lebih sepi dari kematian
Malang, September 2007
Mujahadah
perang yang sesungguhnya telah dimulai
adalah perjuangan melawan jiwa-jiwa rendah
adalah perjuangan suci besar
pada dzikirullah yang terus berkobar
di bawah bendera al jihad al akbar
Malang, September 2007
Munasabah
aku dan kau adalah sepasang kutub
pada lauh mahfud kisah pun termaktub
rindumu tak pernah usai kutulis
pada pelepah-pelepah tanah
yang samudra pun kering kujadikan tinta
Malang, September 2007
Kota Kenang
kutelusuri sendiri sepi kota ini
berharap temukan serpihan suaramu
barangkali jejakmu yang tertinggal
atau kisahmu yang masih tersimpan
untuk menyulam rindu yang berlubang
Malang, Agustus 2007
Sekat
batas itu sebegitu jelas
walau kau hadir di setiap:
sel darah dan urat nadi
hanya lewat kematian sajalah
batas itu akan segera tergilas
Malang, Agustus 2007
Setapak di Blitar
kulewati pada musim tahun lalu
menuju kampung kecil ke rumahmu
sekedar berteduh menggu reda hujan
saat kupulang, ada rindu yang tersimpan
Malang, Agustus 2007
Ode untuk Kekasihku
__kepada Wijayanti
kita bertemu pada gesekan
dedaun dan reranting kering
ketika angin mencoba mendahului
setelapak tanganku untuk membelai
rerambut panjangmu itu
adalah dirimu ketika
selaksa jiwa kering membutuhkan setetes embun
dari setiap paras teduhmu
dari setiap tutur tulusmu
dari setiap jengkal milikmu
lantas waktu membeku
dedaun dan reranting berhenti
pada satu titik tatapan sepasang matamu
pada satu titik takdir yang suatu saat
entah berpihak pada kita atau tidak
dan kita masih terdiam membeku
Tulang Rusuk
__Wijayanti
adalah sebentuk keresahanku
ketika kutahu bahwa hawa adalah
tulang rusuk adam yang hilang
dan dari segolongan umat manusia
adamlah yang paling beruntung
ia yakin pada pilihannya, ketika
memang hawa adalah satu-satunya perempuan di dunia
pun hawa, adam adalah satu-satunya pria di dunia
jodoh adalah sebentuk
tulang rusuk. Bagaimana
jika dirimu bukan tulang rusukku?
Malang, 2006
Madah Penantian
: Arifiani
perahuku tengah bersauh labuh di pulau kecilmu
tapi aku tak jua beranjak turun menujumu, sebab
ada pertanda yang tak rampung kueja
seperti ombak yang tak sampai menggapai daratan
sementara kau asyik-kusyuk bermadah penantian
mengusung simfoni yang sebegitu merdu
lewat orkestra angin dan pepucuk dedaun
aku turut melagukan sebait syair yang kau tulis
seperti pertemuan kawan lawas, rindupun terbalas
ada aksara di syairmu yang tak bisa kubaca
tapi aku tak beranjak turun menanyakanmu, sebab
perahuku tengah terkayuh jauh dari pulau kecilmu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Malam Penantian
: Dian Hartati
kalaupun pertemuan kita dulu
enggan berulang pada malam berikutnya
sementara kerinduan yang kau sisakan
belum sempat kau bagikan
kukirim saja sajak pengganti
suatu hari kau kan dengar ketukan pintu
saat kau buka, itu aku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Sesajak Kenangan
: Anam
aku tak punya banyak cinderamata sebagai kenang-kenangan
yang kuingat setiap subuh, pepucuk daun jati mulai belajar
menggambar wajah matahari yang tersembunyi di balik cadar fajar
lalu perempuan-perempuan tua menjinjing bakul menuju pasar
kita masih bermimpi di atas karpet yang ada noda bekas tumpahan kopi tadi malam
salah satu dari kita, diam-diam ada yang menyelimutkan koran menundung senyap
saat terbangun, kita tak pernah selalu tahu siapa yang menjaga kita semalam
dari dingin yang merayap menegakkan bulu-bulu remang
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Mencintaimu
Mencintaimu musti kusiapkan pertemuan
cukuplah aku menjelma sebatang nyala
yang kau buang selepas padam
pada hari-hari yang pasti akan ada perpisahan
mencintaimu musti kusiapkan kelahiran
cukuplah aku menjelma bulir hujan
yang kau hapus selepas membasahi tubuhmu
pada kenyataan-kenyataan tentang kematian
cukuplah aku memandangmu
barangkali kau bisa mencintaiku
Bengkel Imaji Malang, Maret 2007
Isyarat Cinta yang Tak Terjawab
kenapa aku masih berdiam diri
saat kau mengisyaratkan cinta
yang kau titipkan kemarau panjang
pada hujan yang menjadikan semi
kenapa aku masih juga tak menjawab
senyum tegur sapamu yang lalu
yang kau titipkan ombak beliung
pada rumah-rumah yang tunduk ambruk
yang tersisa tinggalah rasa
kenapa aku masih enggan membalas
surat-surat rindumu yang kau titipkan muhammad
yang tak rampung dikisahkan para penyair
hingga asat air samudra mereka jadikan tinta
yang tertinggal cukuplah sesal
hanya nisan masih setia menunggu
untuk menuliskan namaku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Surat Cinta yang Tak Sempat Dibaca
Aku meragu
menatap nisan yang menulis separo namaku
yang kuingat,
aku lebih sekarat dari golongan jin yang bejat
aku lebih bejat dari iblis yang kau laknat
indera-indera yang kau pinjamkan padaku
tak utuh kukembalikan padamu
sembilan lubang yang kau tunjukkan padaku
tak sempat kujaga seperti pintamu
jika suatu saat, nisan merampungkan menulis namaku
kubur memaksaku
tengoklah aku sehari saja
biar kutatap dan kusentuh wajahmu
kalaupun sehari itu tak bisa membawamu padaku
lantaran durhaka-durhakaku
aku tlah menjadi arang yang terbuang di dasar jahanam
sudikah kau tengok aku barang sedetik saja
kalaupun sedetik itu tak bisa membawamu kepadaku
lantaran dosa-dosaku
barangkali aku tlah menjadi abu
yang menempel di dinding-dinding nerakamu
cukuplah bagiku kau mengingat aku
yang dulu pernah menulis sajak cinta
namun tak sempat kubaca untukmu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Sesajak Rindu
Sungguh,
jiwa ini tak cukup jera
kalau toh mereka jadikan abu
pada tungku api nerakamu
tapi sungguh,
jiwa ini terlalu jera
bila kedatanganku pada hari itu
kau tak sudi menerimaku
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Kupu yang Hinggap di Pelipisku
Kau kupu yang hinggap di pelipisku
sungutmu ruas-ruas batang bambu
sayapmu lembar-lembar daun waru
kau bisikkan di pelipisku nama-nama
yang tak habis kueja pada lembaran hari
bahkan hingga ruas batang usia ini lapuk
lantas ambruk dan membusuk
disantap rerayap dan ngengat
tak satupun namamu kuselesaikan
dari sembilan puluh sembilan namamu
Bengkel Imaji Malang, April 2007
Puisi yang Terlahir dari Sehelai Rambut
/ Wijayanti
Ada puisi yang terlahir saat rambut panjangmu kau sisir
sekuntum bait pada parasmu yang terjebak di kaca
aroma tubuhmu menjelma rima-rima,
yang menelanjangi tubuhmu sendiri seperti kutelanjangi puisi ini
…
Katakan kepadaku berapa lama pengembaraan-pengembaraan kita
yang telah kau tandai jejak-jejaknya dengan puisi
kelak jika kita kembali, kita tidak akan tersesat
“akankah kita kembali setelah perjalanan panjang ini?”
daun yang jatuh tak akan kembali menjadi semi
asap yang mengepul tak bakalan berkumpul
namun kau masih percaya pada pengembaraan yang kau tandai jejaknya
: biarkan tuhan yang punya rencana, kita menjalani saja
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Wijayanti: aku pada labirinmu
: Andris Setyawan
Tadi malam kumimpikan dirimu
lewat kalimat-kalimat yang diucap oleh mantan kekasihmu
yang kini menjadi kekasihku
Dilabirin sunyi ini tak semua ruang terbuka untukku
ruang-ruang ada yang lekat – terkunci rapat
ada rantai-rantai yang mengikat erat, gembok sekepal yang berkarat
seseorang telah mematahkan kuncinya
tak ada celah untuk mengintip ada apa di ruangan sana
ada kembang-kembang yang ikut berkarat
jejak-jekak kaki dan telapak yang melekat
pada lantai-lantai relungmu
detik jarum jam yang kehabisan batrei mengajakku ke masa lalu
di ruangan ini pernah ada tempat yang indah
: tempat kalian bermain – mencipta imajinasi
seperti memecahkan misteri yang tak pernah usai
hingga kapan kau membiarkan aku terasing di labirin ini
bersama udara pekat dan ruang bersekat-sekat
biarkan aku menghias kembali ruangan ini
: tanpa harus membuka pintu yang kau tutupi dengan gembok dan rantai
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Simbur
Mari ciptakan hujan
biar kita bisa menari di atas tanah-tanah basah
mari ciptakan hujan,
menyiram air ke atas dengan tangan – simbur
kita telah mencipta hujan
lupakan janji-janji penguasa langit tentang hujan
biar bumi tak menderita kemarau berkepanjangan
mari ciptakan hujan
kita tunggu janji tuhan saja, sambil menunggu hujan
: karena tidak ada yang lebih bersetia dari pada janjinya
hentakkan kaki, terus menari
tak ada lelah pada rambut dan pakaian yang basah
mari menari – di bawah hujan buatan
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Solenoid
–Muhammad
Perjalanan yang kau tandai dengan waktu
tak habis kubaca: pada jejak-jejak sepatu
sementara tanpamu aku hanya lelaki buta tak bertongkat
ikan yang menggelepar pada danau asat
doaku: jangan biarkan angin menghapus sisa-sisa langkahmu
pada pasir-pasir waktu yang semakin berlalu
sementara tanpamu aku hanya menjadi kawat tembaga
berbentuk sulur batang – solenoid, tak berlistrik
: bimbing langkahku pada butaku
pada gelepar-gelepar sekarat mautku
hingga kupecahkan misteri jejak-jejak langkahmu
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Lindang Landai
jangan habiskan bekal kita di tengah jalan
sebab perjalanan kita masih panjang, kawan
…
Bisa jadi kita hanya mampir meneguk air
lalu, kita melanjutkan perjalanan panjang
yang, mungkin, tak berujung di ukur waktu
: tak bertepi, tak tertandai
bekal kita hanya segenggam amal
jangan tak disisakan sama sekali, menjadi
–lindang landai
yang membuat lalai kepada siapa kita musti kembali
yang habiskan bekal kita di separo jalan ini
karena perjalanan ini; mungkin tanpa henti
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Branwir
: masih kuingat kata-kata itu
jika aku mampu menahan luapan api
pada detak jantungku
pada didih ubun-ubunku
pada deras darahku
kau janjikan padaku, kelak suatu hari,
kau panggil aku untuk memilih bidadari
…
pada sunah-sunahmu ku melangkah
tentang kabar baik dan ancaman
tetapi, api ini terus berkecamuk,
hampir menjadikan utuh aku abu
tetapi air suci yang kuguyurkan pada tubuh-tubuhku
menjelma selang-selang pada mobil pemadam kebakaran
– branwir
Kau menyuruhku duduk pada berdiriku
Kau menyuruhku berbaring pada dudukku
dan pelan; api itu berangsur padam
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Bradikardi
adakah jalan yang lebih mudah daripada kematian?
persis ketika bercumbu di balik kelambu semu
pada malam pertamamu
atau pada saat kau bertemu kekasih pertamamu
…
tak pernah ada yang pernah meramal secara pasti
– ilmu pengetahuan tak bergeming,
logika hanya membuat kita berpaling–
kematian adalah silara yang jatuh dari reranting kering
adalah rahasia alam yang dilipatsembunyikan
: gulungan ombak, badai, tanah liat, udara
seluruh semesta sebegitu tegak menjaga rahasia
yang sewaktu-waktu membisikkan kepada kita
tentang rahasianya:
kita hanya menunggu saja; nafas kita terhenti
pada detak jantung yang mati – bradikardi
dan, hidup yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Bengkel Imaji Malang, November 2006
Onak
Setiap dosa yang kugambar dengan sebilah kelamin
menjadikan rotan berduri – onak
pada jantungku, pada sepasang telapak kakiku
: sementara, semakin cepat kuberlari
semakin cepat detak jantung ini, berarti
:semakin banyak duri di telapakku
semakin dalam duri dalam detakku
harapanku hanya semoga ada telaga di depan sana
sebelum habis seluruh sisa tenaga
untuk lelahku, menjumputi onak di jiwaku
– satu persatu
Bengkel Imaji Malang,
Ya Allah, Kutuklah Aku, Ya Allah
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi air yang senantiasa mengalir
Kalaupun milyaran bebatuan menghadang
Aku terus mencari celah untuk terus mengalir padaMu
Jadikan saja aku angin, Ya Allah
Agar aku bisa menyerukan kebesaranMu ke berbagai penjuru
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi gunung-gunung yang
Senantiasa bergerak selayak awan di langit
Agar aku dapat menjelaskan keagunganMu
Knapa tak kau jadikan saja aku tanah
Dimana Rasulmu pernah menjejakkan sepasang
Telapak kaki telanjangnya
Biar kujaga dari apapun yang kan menghapusnya hingga memfosil
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Menjadi matahari atau rembulan atau gemintang yang selalu patuh padaMu
Tanpa syarat, bukan manusia sepertiku
Yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
Aku iri Ya Allah, aku iri kepada tanah, dedaunan, air, angin, api
Segala yang kau ciptakan, sebegitu khusyuk mencintaimu – tanpa syarat
Bukan manusia sepertiku, yang bersujud saja kubutuhkan ribuan alasan
Ya Allah, kota tua ini sudah mengurungku pada kesibukan
Yang menjelma klakson-klakson pada mobil-mobil
Yang berebut jalan sebelum lampu di perempatan itu menyala merah
Seperti penguasa yang saling berebut kekuasaan
Gedung-gedung tinggi tak memberiku kesempatan menemuiMu
Waktu adalah milik perkantoran swasta, papan iklan, reklame, redaktur koran….
Hingga kulihat seorang pelacur di gang sana sedang mengetuk pintu kaca
Sebuah mobil berplat merah yang berparkir di tepi jalan
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Kutuklah aku menjadi daun kembang kamboja
Yang tengah luruh di atas pekuburan
Agar aku dapat selalu ingat, sebelum jatuh ke atas tanah
Bahwa kesombongan manusia telah terbungkam
Di balik nisan yang terpahatkan namanya
Kutuklah aku, Ya Allah, kutuklah aku
Menjadi apa saja, asal jangan jadi manusia
Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
Wajah yang Beku di Saku
Sebidang tanah di tengah kota ini
yang dulu kau cat dengan warna langit
tiba-tiba saja runtuh membentuk lingkar
membenamkan gedung-gedung
trotoar, lampu kota, mobil, aspal
sementara aku berdiri terpaku
diujung garis lingkaran itu
pun dirimu tengah membeku
yang wajahmu dulu masih kusimpan
di salah satu saku bajuku
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Mempelai dalam Mimpi
tadi malam aku bermimpi
menjadi mempelai laki-laki
tapi perempuan itu bukan kau
tiba-tiba saja aku memilih lari
mencari kau di tumpukan hari
tak ingin hadirmu kupungkiri
walau hanya sekedar mimpi
Bengkel Imaji Malang, Juli 2007
Sebuah Nama yang Melintas Masa
Ya Muhammad
Waktu seolah telah bermain estafet
membawa tongkat yang terukir namamu
melewati tahun, melintasi abad
menjelma air yang terus membisikkan tentangmu
kepada tanah, kepada bebatuan di kali, rerumputan
air tak mengenal lelah menceritakan dirimu
saat ia berubah menjadi uap. Diberitakannya kepada
udara tentang kebesaranmu, diceritakannya kepada
matahari tentang kagunganmu
airpun menjelma menjadi mendung
mengisahkan kepergianmu kepada
: langit, awan, dan bebintang
Dan hujan adalah kesedihan alam tentang kepergianmu
hingga air terus mengalir hingga ke tepi samudra
waktu pun terus mengalir seolah bermain estafet
membawa tongkat yang terukir namamu
hingga waktu menyelesaikan permainnya di ujung finish sana
Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006
By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply
assalamu’alaikum wr wb …
saya ikutan juga ya … terima kasih ^_^
————————————————————
“Lelaki Terindah”, JATUH CINTA KEDUA
Kelakar yang biasa kubagi denganmu
Menjadi alasan pasti melihatmu tertawa
Entah …
Kau terlalu serius
Jarang mengganti pandangan
Jika telah jatuh pada barisan kata di buku itu
Mendengarmu berkata, walau hanya sesekali
Adalah hal luarbiasa yang tak biasa
Ku pikir kau bisu dulunya
(Kalau ingat itu aku sibuk merutuki diri)
Diammu telah meninggalkan goresan di hatiku
Mengetuk pintu yang tertutup untuk sebuah kata … KITA
Bila lakuku terasa asing
Mungkin oleh sebab tak terduga
Seolah terlupakan
Aku bukan aku
Atau inilah aku
Jika cinta telah menyapa
Membuatku tergila-gila
Lantas manakah yang benar-benar waras?
Ku membuang pandang
Namun rasanya tak lega juga
Parasmu menggantung di depan mataku
Tak mau hilang meski kelopakku tlah terkatup
Jatuh cinta kedua
Terasa lebih parah
Lihat …
Aku tak bisa hentikan
Ketika cinta mulai menyapa
By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply
“Lelaki terindah,” Aku sedang ingin menyebut namamu, tapi bibirku kelu
aku bukan bisu
tapi entahlah … bibirku kaku
bahkan untuk mengeja namamu
aku tidak membencimu
hanya saja aku sedang kelu
namamu hanya tersebut di hatiku
mungkin aku malu
karena jika kau tau
mungkin kau akan lari menjauh
By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply
“LELAKI TERINDAH,” GANDRUNG AKU PADAMU
Pada malam
Yang menantangku untuk beradu pandang
Aku cuma bisa berkata, “lepaskan aku dari lilitan jubah pekatmu”
Karena aku gandrung
Karena aku cinta
Karena aku ingin jadi pendampingmu
Aku adalah cahaya
Lebih terang dari bintangmu
Tawanan bukan gelarku
Karena aku gandrung
Karena aku cinta
Karena aku harusnya jadi pendampingmu
Pada malam
Yang menantangku untuk beradu pandang
Aku hanya bisa berkata,”jadikan aku pengantinmu”
Balikpapan, di awal pekan kesibukanku
By gitacinta on Jan 7, 2008 | Reply
“LELAKI TERINDAH,” Sebuah Pinta
Bernapaslah bersamaku
Jangan lepaskan tanganku
Aku hanya ingin tetap bersamamu
hingga ujung keabadian …
By didi junaedi hz on Jan 7, 2008 | Reply
Senandung Malam Tuk Yang Tersayang
Malam ini…
Ketika kubuka jendela kamarku
Ku tatap hamparan langit yang begitu indah
Kupandangi ciptaan Tuhan itu dengan penuh ketakjuban
Dan…
Aku bertambah takjub!!!
Ketika kuperhatikan…
Ternyata tidak kudapati bulan dan bintang di sana
Tetapi yang kudapati hanyalah…
Bayangan wajahmu…
Parasmu yang elok memesona
Senyummu tersungging malu…
Tatapan matamu begitu menggodaku…
Aku tak kuasa menatap pancaran sinar wajahmu
Aku tak mampu melukiskan senyummu itu..
Aku hanya bisa terpaku
Menikmati keindahan ciptaan Tuhan
Yang mewujud pada dirimu
Sayang…
Ternyata baru kusadari…
Di dunia ini
Di jagat raya ini
Ada yang lebih indah dari bulan
Ada yang lebih menakjubkan dari bintang-gemintang
Apakah kamu tahu?
Siapa dia gerangan?
Ya, itu adalah kamu!
Sekali lagi, itu adalah kamu!
Ciptaan Tuhan yang begitu menakjubkan
Yang baru pertama kali aku jumpai sepanjang hidupku
Hanya untaian syukur yang terucap
Pada Tuhan Yang Maha Pencipta
Tuhan Yang Maha Indah
Yang telah menciptakan keindahan-Nya
Dan dianugerahkan kepadaku
Kamulah ciptaan itu
Kamulah keindahan itu
Sayang…
Aku begitu bahagia dengan hadirmu dalam hidupku
Aku berjanji tuk menjagamu, sampai akhir hayatku…
By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply
terumbu dipantaiku
kekasih
jangan angkat jangkarmu
benamkan; dalam;
meski bergelombang
biarkan membatu
jadi terumbu
di pantai waktu
By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply
Aku Engkau dan perbedaan ini
aku engkau
langit bumi
berkalang hijab
di bentang rindu
aku engkau
langit bumi
berkalang lancang
suara sumbang kesombongan
By noctilucent on Jan 7, 2008 | Reply
Secangkir teh cinta
di cangkir retak
tak lagi ada secangkir teh
sebait puisi kesedihan
gantikan hangatnya dikala hujan
By yunita p on Jan 7, 2008 | Reply
Curahan Hati
Gersang sukma meratap kasih
Haus meracau tirai singgasana
Pintu hati pekat berkabut
Akankah…
Jemari elok tersapu lembut
Telaga hati tercurah mantap
Sang kala menghapus pedih
Mungkinkah…
Kadang tatap menerawang sesal
Kadang benak berkecamuk ego
Apakah ini?
Akankah berakhir?
Sayapku patah tergolek iba
Kian kerontang terbakar asa
Aku ingin terbang lagi…
Namun…
Sang Pencuri cinta singgah memaksa
Meninggalkan jejak miris teriris
Akankah kembali rasa itu?
Hanya kesetiaan yang angkat bicara…
By yunita p on Jan 7, 2008 | Reply
Anyaman Cinta
Kusibak mahligai angkuh berlumur pedih
Terbalur rindu sang topeng cinta menyulut luka
Terkurung dalam jeruji besi tak bernyawa
Aku hanyalah seonggok raga hidup tanpa hasrat
Aku labirin tak berujung
Gelap…
Berliku…
Andaikan kupu sanggup berucap,
Rumit satu kata yang terucap…
Andaikan malam sanggup mengadili,
Aku adalah terdakwa…
Mengapa benteng berpilar baja kau dirikan di atas istanamu?
Hanyakah untuk membungkam ketidaksempurnaan angan?
Tidakkah kau tersiksa?
Biarkan saja air beriak gemericik…
Biarkan saja kala bergulir mengikis…
Biarkan terpulung kembali puing-puing cinta tak bersekat
Aku mengerti…
Aku sungguh mengerti…
Engkau ibarat kaisar tampan bergelimang elok
Sedangkan aku, hanyalah debu sesak menyesak
Mungkin,
Ragaku mengurungtkan niat berperang melawan beda
Namun rasaku tetap saling bertaut dalam anyaman cinta…
By yunita p on