Rasulullah Gondrong?
14 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Oleh Ersis Warmansyah Abbas
GONDRONG. Kesukaan saya berambut panjang, apalagi sebagai pengajar di perguruan tinggi, terkadang ditanggapi sebagai hal kurang pantas; ‘tidak sopan’. Ada yang risih melihat penampilan saya. Bahkan, ada pejabat kampus yang menyindir, walaupun tidak langsung. Misalnya, melarang mahasiswa berambut panjang, plus bungkusan ceramah etika yang melebar kemana-kama. Kalau saya sih cuek-cuek. Emang ada UU yang melarang PNS berambut panjang?
Lebih seru lagi, saya suka menandemkannya dengan celana jins. Dulu, bahkan pakai sepadu sandal. Seperi kebayakan dosen UGM ‘tempo dulu’. Ditambah pula, tidak suka ‘berdandan’ lengkaplah penderitaan saya sebagai orang yang tidak berpenampilan baik.
Pernah juga bosan penampilan ‘dilirik-lirik’, adakalanya saya pakaian lengkap —ala Barat. Pakai dasi, baju bersterika langan panjang plus pakai jas. Keren, euy. Dilirik jua. Akhirnya, dikombinasikan.
Lain pandangan sebagian orang yang cenderung menilai sesorang dari penampilannya, dalam pergaulan sosial saya beres-beres saja tu. Berteman dengan walikota, bupati, sampai gubernur. Apalagi para wartawan, pengusaha, pejabat partai sampai kalangan LSM. Sering diminta sebagai nara sumber dalam berbagai seminar.
Suatu kali, karena bosan melihat tampilan orang di TV (lokal) pakai jas lengkap atau batik, kalau saya tampil dalam tayangan interaktif pendidikan, pakai jins lengkap; ya celana ya jaket. Serba jins. E … banyak pemirsa senang.
Pernah pula diajak berbincang oleh seorang teman. Saya katakan saja suka. Karena agak menceramahi, ditambah pula dia mengatakan, orang gondrong identik dengan penjahat atau seniman yang suka narkoba, saya balas ke jantung pemahaman.
Sampeyan, Muslim atau bukan? Tentu saja dijawabnya dengan gagah, Muslim. Sering baca buku apa tidak? Dengan muka merah padam, terpaksa dia jawab suka (kalau yang ini terlalu tidak percaya). Pernah lihat gambar Imam Al-Gazali? Pemikir atau ulama besar Islam zaman dulu? Tentu saja dijawabnya, pernah. Rambut mereka panjang atau pendek?
Karena tidak suka membaca, mana tahu dia. Ya ya ya. Para pemikir dan ulama Islam terkenal zaman dulu penampakkan gambarnya, setahu saya berambut panjang alias gondrong. Lagi pula, menurut beberapa hadis, Rasulullah berambut sebahu, antara telinga dan bahu. Tertegori gondrong apa tidak, tidak tahu saya.
Lalu, saya serang: Sampeyan pakai safari, tahu ngak asal-muasal baju safari. Itu baju, baju penjagal binatang teramat kejam yang beroperasi di Afrika. Mereka main tembak saja, main bunuh makhluk Allah SWT demi kesenangan atau duit belaka. Banyak sakunya untuk berbagai keperluan. Ih … kejam.
Sejak itu, dia tidak doyan lagi ‘berceramah’. Saya mencari buku sejarah rambut pendek, sampai sekarang tidak dapat. Lagi pula, apa salahnya dengan rambut panjang? Rasulullah tidak pakai ‘gelar haji’, kita memakainya, apa tidak ‘melawan’. Rasulullah berambut antar telinga dan bahu, yang ikut ‘gaya’ Rasulullah dibilang ala penjahat, atau kafir, apa tidak ‘melawan’ Rasulullah?.
Belakangan, kalau ada yang bertanya: Kenapa berambut panjang? Saya jawab, pengikut Rasulullah. Kalau pertanyaan dilanjutkan, Rasulullah beristri banyak, kenapa tidak diiukti sekalian? Kalau yang terakhir jawabannya, kabur … he … he …
Rasulullah gondrong atau tidak, saya tidak tahu pasti. Apakah ada bloger yang tahu secara meyakinkan? Tolong dong informasinya.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 14 Januari 2008.









26 Responses to “Rasulullah Gondrong?”
By Mc. Ichsan on Jan 14, 2008 | Reply
Dalam beberapa Hadits Rasulallah digambarkan berambut sebahu, penamplan anda gondrong pun cukup rapi, perhitungkan perintah untuk memanjangkan jenggot (ma’af bukan kumis !), untuk membedakan dg kaum Yahudi ! Tapi semuanya berpulang pada pribadi kita, dimana semuanya diorientasikan untuk dzikrullah, bukan untuk memberhalakan diri kita sendiri.Tolong di Counter pendapat yg negatif di Blog lain, moga Allah Selalu memberkati ! Amin.
***Makasih. Belakangan saya cukur kumis, tapi karena dah tua, e… ada putihnya. Jadi, berniat mencukur janggut yang semakin memanjang. Lagi pula setelah membaca buku-buku Rasulullah, saya temukan intinya, bukan pada penampilan tapi perilaku. Nah, saya mulai ‘belajar Islam’, belajar lagi. Semakin sadar tingkah laku, mungkin berpikir juga, belumlah sebagai Musli, pengikut Rasulullah. Saya lagi (mulai) berusaha untuk itu. Ada saran? Tapi, yang penting tolong doanya ya. Saya betul-betul ingin menjadi Muslim sesungguhnya, bukan Muslim tampak luar. Amin. Makasih Mas Ichsan.
By adit on Jan 14, 2008 | Reply
mas, ersis…. tulisannya selalu menggelitik….bikin tersenyum aja nih. Mudah2 an kita senantiasa diberi petunjuk dan hidayahnya ya mas ersis dan mas ichsan
***Amin. Amin. Amin.
By hanna on Jan 14, 2008 | Reply
Gondrong itu kan seni, Pak, he he he he he. Tidak ngampang lho merawat rambut panjang, butuh ketelatenan dan kesabaran untuk memanjangkannya. Harus rela kehilangan ketika memangkasnya.
***Ha ha ada pendukung, xie xie
By meiy on Jan 14, 2008 | Reply
Tulisan ini mengingatkan saya cerita jadul waktu abg, saya berdebat masalah lelaki rambut panjang n masalah pakaian dalam Islam dg teman, ya jawabannya persis seperti jawaban teman bapak, kaya penjahat. Saya sendiri cenderung suka cowo rambut panjnag (hidup Pak EWA heheh). Lalu saya tanya Mak Tuo yg kebetulan guru agama, betul katanya Rasulullah rambutnya panjang, dia lalu juga meminjami saya Majalah agama (saya lupa namanya) tulisan ttg rambut nabi tsb. Orang kita banyak yg nggak ngerti, asal ikut mode barat saja.
Emang gak enak bgt orang yg menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, apalagi dg standar yg tak jelas. Waktu kerja di perusahaan profit saya sering muak dg penampilan yg dipaksakan, harus berjas tebal, harus 3 pieces,dsb…padahal ini negeri tropis. Biar dingin lalu pakai AC, kasihan ozon tambah bolong
Lalu saya menemukan tempat diantara orang2 NGO yg memang cocok dg selera, informal, bebas tapi bertanggungjawab hehe…:)Ke kantorpun pake jins, gak masalah…
***Ya ya ya … Sungguh lucu soal berpakaian itu. Pernah perhatikan pakaian sementara ‘kiai’ yang suka memaki-maki Barat? Pakai jas (Barat) Baju dan sarung (Indonesia) ata baju gamis (Arab). Saya kira ini kreasi bagus, namun … Islam kan tidak diturunkan dengan ‘gaya’ pakaiannya, tapi … wajib menutup aurat.
Orang Barat memang lebih pratis … tapi kurang senang dengan sikap sok, pendusta, mau menang sendiri, jarang mengakyui orang lain., dan bla bla. Yang baik? Tentu banyak juga. Tapi, rata-rata penghisap potensi rakyat dan bumi negara-negara lain. Entah benar atau tidak, ngak pasti juga he he
By Mega on Jan 14, 2008 | Reply
Aku Idola cowok gondrong..sampe laki aja dari dulu tak suruh gondrongin… but ga boleh dikerjaannya..yaaaaa…..:((.
gondrong aku dooronggggg…:P
By Mega on Jan 14, 2008 | Reply
Hahahha..Alinea terakhrr tuhh….jangan kaburr dung..hayo jawabb….hahaaaaa..cekikian deh daku..alasannya harus karena PNS dung yak..:))
By ridu on Jan 14, 2008 | Reply
Di sinetron lorong waktu juga pernah yang ngebahas pangeran Diponegoro apakah beliau gondrong atau tidak.. tapi tidak terjawab di sinetron itu
**tanggung jadinya ya
By STR on Jan 14, 2008 | Reply
Orang sekarang lebih menghargai penjahat berpakaian rapi, daripada seorang Gandhi yang pakaiannya sederhana sekali.
***Ha ha itu kata Sampeyan lho
By unai on Jan 15, 2008 | Reply
hhihi saya suka endingnya, loh kok ndak kutan beristri banyak? lah kalau dalam bahasa jawa banyak = angsa…Bapak mau? eniwey, mau gondrong, cepak, klimis, yang penting hatinya saja kan pak?.
***Ha ha ha
By Yari NK on Jan 15, 2008 | Reply
Huahahahaha…… lha iyalah, sebenarnya memang penampilan tidak bisa dilihat dari potongan rambutnya atau model bajunya. Semuanya harus dilihat dari perangainya dan fikirannya. Saya juga heran, kenapa terkadang pakaian resmi itu (buat laki2) harus pakai dasi dan jas, padahal kita seharusnya punya pakaian2 sendiri yang pantas juga dikembangkan sebagai pakaian resmi. (walaupun terus terang saya senang pakai dasi dan jas
).
Juga masalah model rambut sebenarnya tidak usah diributkan. Mau gondrong seperti pemusik rock kek, mau cepak seperti <strike>saya</strike> polisi, tentara atau satpam kek, mau dipilin2 seperti pemusik reggae kek, mau botak seperti…. seperti…. seperti… ah seperti apa ya botak itu?? Ya pokoknya gitu deh, terserah masing2 yang penting kita membawa pengaruh positif pada masyarakat itu saja yang penting, perkara baju atau rambut, ya itu sih suka2nya individu masing2.
Mengenai rasulullah gondrong atau tidak, itu tidak masalah, yang penting dari rasulullah bukan fisiknya tetapi adalah tauladan dan spiritualnya. Itu menurut saya lho. Bagaimana? setuju??
***Ya sepakt ajalah Pak Satpam. Sampeyan nulis intinya, kog masih nanya, he he
By gempur on Jan 15, 2008 | Reply
Saya dulu pencinta GPK, bukan gerakan pengacau keamanan lhoo.. tapi, Gonfrong Penuh Kasih.. hehehehehehe
***Kirain pengacau he he
By Dhan on Jan 15, 2008 | Reply
“Belakangan, kalau ada yang bertanya: Kenapa berambut panjang? Saya jawab, pengikut Rasulullah. Kalau pertanyaan dilanjutkan, Rasulullah beristri banyak, kenapa tidak diiukti sekalian? Kalau yang terakhir jawabannya, kabur … he … he …”
Nggak usah dijawab dan gak usah kabur dong Pak. Tinggal dipraktekkan.
Ah… rambut gondrong. Teringat masa2 jadi mahasiswa dulu. Nah, ternyata bener, tidak ada larangan PNS untuk gondrong. Hmm… gondrong lagi ah. Hohoho… kalo diprotes tinggal sodorin tulisan Pak Ersis aja yak. Minta izin dari sekarang.
***ha ha … Praktikkan? Bagus juga tu.
By Willy Ediyanto on Jan 16, 2008 | Reply
Pakaian yang cocok buat negeri kuta adalah baju hem, lengan pendek atau panjang. Lalu kancing depan dibuka dua, bukan satu, karena lebih sering keringatan. Terus kalau masih pagi atau sudah sore baru dikancingkan lagi satu.
Celana panjang, atau di bawah lutut. Jangan sampai lututnya kelihatan. Rasa saya itu nggak sopan.
Terus jangan seperti anak sekolah yang di sinetron, hem bagian bawah pendek sehingga pusar atau atas bokong kelihatan kalau berdiri tegak atau menunduk. Ngaak sopan itu. Menurut saya, lho.
Kalau masalah rambut, sih, ikuti saja selera. Dulu saya panjang, sekarang pendek karena lebih mudah merawatnya. Mau gundul malu deh saya.
***Ya ya kalau orang Barat walau matahari cerah, tetap saja dingin, nonton bola saja pakai jas. Nah, di daerah tropis gini … pakai dasi, jas, … duh dasar dongok. Bayangi kalo di ruangan yang ventilasi saja ngak karu-karuan, boro-boro AC. Saya tidak mau ngikutin acara wisuda ya karena tu. Sudah pakaiannya … entah niru sekte (K …) dari mana, … ih basah kuyup deh.
By ugie on Jan 16, 2008 | Reply
Salam,
Wah, soal rambut gondrong, saya punya pengalaman yang hampir sama dengan mas ersis. Tapi itu tentu di tempat2 tertentu. (Wong saat saya nyantri di UGM, tak sedikit malah salah seorang dosen yg gondrong sesekali mengisi khutbah Jumat di masjid Fakultas? Padahal dia anak seorang kiai di sebuah pondok pesantren yang cukup ternama di Jogja. He… he… he….)
Soal gondrong emang sampai saat ini saya belum temukan dasar hukum baik dari Quran maupun hadis. Soal Rasullah gondrong, memang saya pernah dengar dan baca soal itu. Nah, soal perintah mencukur kumis dan memanjangkan jenggot untuk membedakan dg Muslim dengan kaum Yahudi, itu kan lantaran adat/kebiasaan. Lho, intinya kan bukan jenggot dan kumis, tetapi bagaimana menunjukkan identitas kita sebagai seorang Muslim. Jangan salah lho, beberapa teman saya non-Muslim pakai baju koko dan peci saat pergi ke tempat ibadah mereka. Apa mereka salah? Nah, lantas apa bedanya dengan masalah rambut, kumis, dan jenggot? Ah… pokoke, hidup gondrong!!!!
Salam….
***Yang paling penting esensi memang.
By mawar on Jan 16, 2008 | Reply
Kadang-kadang juga gundul. Hanya saja saat ini jika gondorng, pemborosan dan ribet
***Ha ha itu pendapat … boleh-boleh saja.
By Dee on Jan 16, 2008 | Reply
aku berrambut sesenti, bukan karena ngeyel sama kanjeng rosul lo Pak, masalahe kulit kepalaku sensitif banget, kalau gondrong jadi ribet ngerawatnya, sekalian aja dipangkas nyaris habis. tapi aku suka juga kok lihat orang gondrong, asal kelihatan rapi dan tidak mengesankan kumal dan dekil.
“jangan menilai isi kepala seseorang dari rambutnya”
By sawali tuhusetya on Jan 17, 2008 | Reply
gondrong apa nggak kayaknya nggak jadi persoalan serius. itu menyangkut soal pola dan gaya hidup. halah. kalo saya sih lebih mementingkan isinya ketimbang luarnya, hehehehehe
tapi salut juga lihat temen2 penyair yang suka gondrong. kayaknya punya imajinasi yang liar banget. aku hanya kagum saja sama temen2 yang suka memanjangkan rambut. kalo aku sih sejak dulu memang ndak pernah gondrong, pak. hehehehe
*8* Setuju banget … lebih penting isinya yang gondrong he he … artinya berkelebihan.
By pake rimba on Jan 17, 2008 | Reply
we lha.. kalau masalah gondrong, sejak masuk kuliah dulu saya sudah bela-belain ga ikut ospek gara-gara rambut sudah sebahu, sayang kalo dipotong. awalnya saya cuma heran aja kenapa kok bapak nglarang saya berambut gondrong, nah biar ngerti kenapa, ya akhire saya malah sengaja nggondrongin diri, eh lha kok keterusan.. jare temen-temen saya agak-agak mirip lorenzo lamas he. yah akhirnya ketrusan deh gondrongnya. tapi selama ini kok saya ga menemukan akibat buruk rambut gondrong pada perilaku, ha..ha.. apa harus pake penelitian dulu kali ya..
By indra kh on Jan 17, 2008 | Reply
Saya juga kadang heran apa salahnya laki-laki berambut panjang? Padahal yang penting akhlaqnya. Tapi ngomong2 jadi kangen juga, sudah hampir 7 tahun saya meninggalkan rambut gondrong.
***He he he nostalgia itu asyik lho, bila sampeyan gondrong saya yang cukur he he
By helgeduelbek on Jan 18, 2008 | Reply
Yang penting merasa nyaman… enjoy waelah… orang mau kata apa terserah. Feel free man…
***Enjoy …
By Ani on Jan 19, 2008 | Reply
Hm…aku juga suka cowok berambut gondrong, asal ngganteng dan rambutnya terawat he..he…
Soal dosen UGM jaman dulu, betul tuh, aku inget dosen2ku pada suka pakai sepatu sandal seperti yang dibilang mas EWA.
***Ya ya … kalau saya hanya gondrong saja, tidak ganteng. Tapi, kata isteri saya dan mantan-mantan pacar … lumayanlah he he (Khusus becanda mBak Ani).
By sam on Jan 24, 2008 | Reply
Mass….
beneran kalo mas pengikut Rosulullah, sampe-sampe berani ngomong kayak gitu. Menurut mas, kira-kira kalo ada Rosulullah (cuma kalo) didepan mas apa mas berani ngomong kayak gitu? Kyai Gede yang ilmunya segudang aja gak berani bilang kalo istri nya lebih dari satu itu karena sunah atau ngikut Rosulullah. Soalnya orang yang bilang kayak gitu dianggap melecehkan Rosulullah dan melecehkan Islam.
Gak usah deh ngomongin dalil kalau gak ada ilmunya. Apa Al-Qur’an sudah dihapal? Apa tahu asbabunnuzul-nya? Berapa hadist (sanad dan matannya) yang sudah dihapal? Kitab-kitab fiqih siapa aja yang sudah dihafal dan tau cara bacanya dengan benar? Berapa kitab (bukan novel atau cerpen) yang sudah ditulis?Kalo jawabannya lebih banyak NO! baiknya jangan mengatasnamakan Rosulullah deh kalo mau berbuat yang tidak sesuai dengan adab.
Tobat
Rapikan sikap dan adab
***Beluuum …lagi belajar saja … ajarin dong. Ya begitulah kalau lagi sedang mencari, belajar … Emangnya apa yang salah? Kalau melecehkan Rasulullah atau Islam … ngak berani deh. Taubat. Maaf saya tak akan mengatas namakan Rasulullah, baca deh tulisan itu … menulis dari pikiran, kalau keliru … itulah jalan mencari kebenaran. Ya kalau salah kasih tahu dong dengan dalil naqli dan aqlinya. Prinsipnya belajar, dan … dalam pencarian.
Btw, Rasulullah itu gondrong apa ngak sih? Itulah percatanyaan saya, kalau ya apa dalillnya, kalau ngak apa, gitu. Saya lagi mencari jawabannya nich. Makasih kalau dikasih tahu. hab
By jey on Jan 31, 2008 | Reply
smoga gpp
By jey on Jan 31, 2008 | Reply
daripada gimbal,whudu nya gmn.gondrong sampe sebahu masih bisa wudhu dgn benar,..
***Yang penting wudu’nya kan?
By dayat on Feb 4, 2008 | Reply
iya mas boleh2saja gondrong tapi asalkan yg rapi tapi jangan seakan akan rosulullah SAW berambut gondrong trs kita semaunya sendiri sebelum kita mengetahui asbabul urut hadist tersebut.jangan pernah merasa puas dengan argumen yg kurang memuaskan dan masih ngambang untung tukang cramahnya agak kurang tau cobak tau mungkin argumen mas akan d ketawakan apalagi anda sebagai dosen,mas hidup ini harus seimbang kita juga harus mengukur akhlak yg sesuai dengan uref(adat) yg ada d sekitar kita selama itu baik dan tidak bertentangan dengan syar’i dan perlu di ingat mas belajar ilmu agama itu membutuhkan waktu yg lama mas(tuluzaman)
***Ya ya ya Mas, tulisan saya ’setengah’ becanda toh … makanya diakhir tulisan itu mohon dalil naqli dan aqli … agar lebih mantap. Sampeyan orang ketiga yang agak gregetan … wong saya bertanya dan minta masukan kan? Nah, kalau banyak Muslim yang suka ngamuk, kasihan orang-orang yang sedang ‘mencari’ kemantapan seperti saya. Apalagi sampai nyrempet kepada status, dan kehebatan pengatahuan agama segala macam. Intinya, saya bertanya. OK, makasih masukannya. Semoga Allah selalu memberi petunjuk pada kita semua. Terutama pada saya. Amin.
By males on Mar 11, 2008 | Reply
waduh aq males bacanya banyak amirrr,…… mmaaafff yah kload slh2 kt…