Nyaman Menulis Menyamankan Menulis
13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |Ersis Warmansyah Abbas
1.01 Nyaman Menulis Menyamankan Menulis
MENULIS SUSAH. Sekalipun tidak terkatakan, apalagi tertuliskan, hal tersebut demikian banyak dipatri pada mindset banyak orang. Adakalanya disuarkan di pinggir-pingir, atau diteriakkan lantang. Di kalangan mahsiswa, hal yang lumrah nampaknya. Banyak mahasiswa kesulitan dalam menulis, dari hal remeh-temeh sampai tulisan imiah.
Dalam pada itu, perjalanan kepenulisan saya, kiranya bagus-bagus saja. Lancar-lancar saja. Menulis makalah, skripsi, tesis, jurnal ilmiah atau laporan penelitian, biasa-biasa saja tu. Apalagi menulis artikel populer.
Secara umum sudah saya tulis pada buku Menulis Sangat Mudah (2007), Menulis Mari Menulis (2007), dan beberapa sempalannya yang akan masuk pasar bebas tahun 2008. Buku-buku tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap pendapat, bahwa menulis susah dan menyusahkan.
Karena saya seorang guru dan peneliti untuk berbagai hal, iseng melakukan penelitian kecil-kecilan. Saya jadi curiga, sistem pengajaran kita, banyak sedikitnya punya andil. Saya mereview apa yang ‘diajarkan’ sejak Sekolah Dasar.
Pengajaran yang berbau menulis sampai tokoh-tokoh (penulis) sekalibar Boris Patersnak dan William Shakesire, tentu tidak salah. Tapi, ketawa geli membayangkan ‘didustai’ guru (dulu) bahwa menulis harus begini, begitu, begana, dan begene. Harus, harus, dan harus. Belum lagi harus memakai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Bukan hal itu yang membuat geli. Tapi, logikanya.
Bagaimana mau memasihkan menulis kalau yang didahulukan hadangan portal yang membuat nyali ciut. Menulis ini salah, menulis itu kurang ini-itu, menulis puisi, jauh dari karya Taufik Ismail, menulis cerpen tidak sebanding karya Hamsad Rangkuti, menulis novel, anak ingusan kog menulis novel. Tidak akan mengalahkan Shakespire.
Lucunya, setelah disalahkan, tidak pula ditunjukkan, bagaimana yang benar. Pokoknya dipulpenmerahi, dan dinilai sekian. Titik. Tanpa keterangan. Jangan coba-coba mendebat.
Apalagi, kalau sampai bertanya: Coba Bu, Pak, perlihatkan karya Ibu, tulisan Bapak yang bagus, yang memenuhi kriteria seperti yang dikatakan. Agar, ya agar dapat dicontoh. Bisa gempa besar. Rapor bisa lebih cantik karena ada warna merahnya.
Belakangan baru sadar, yang salah bukan guru, tapi saya. Lho, kog iso? Ya, iyalah, kenapa berguru kepadanya. Berguru kepada orang yang tidak kompeten, lebih parah dari kebodohan itu sendiri.
Tetapi, saya beruntung. Ada juga guru yang menyenangkan, yang membangkitkan semangat dan motivasi. Sisa-sisa Laskar Pajang kali ya. Saya sangat berterima kasih kepada guru yang memintarkan. Semoga jasa-jasa Beliau berlipatganda dari tulisan yang saya hasilkan.
Ironisnya, setelah agak ‘berilmu’ dan banyak menulis, bertemu dengan mereka yang merasa ahli menulis, yang kerjanya berceramah melulu. Saya akui kalau berteori, bolehlah. Tapi, mana hasil karyanya. Kerjanya menyalahkan ini-itu, hajar sana-sini. Pokoknya tulisan orang tidak ada baiknya. Dia sendiri tidak menulis. Dasar pecundang.
Tetapi, jujur saja, saya tidak hebat-hebat amat menulis. Sekalipun begitu, untuk menulis yang remeh-temeh, cukup populerlah. Lagi pula, buku-buku saya kini ada yang merambah kancah nasional. Itu pun disalahkan, he … he … Kalau yang mencibir hanya mampu menjual pada muridnya, kan lucu.
Maksud saya begini. Sebenarnya, dalam hal menulis, cukup saja pengetahuan yang telah didapat di bangku SD, kalau hanya sekadar untuk menulis apa adanya. Apalagi, kalau sudah tamat SMP, SMA, atau perguruan tinggi. Kita tidak usahlah saling menyalahkan, aplagi menyalahkan guru sendiri. Introdusir di atas sekadar pemantik minat saja kog.
Kelemahan dalam pendidikan kita kan pada ranah latihan, menulis itu sendiri. Nah, hal itu yang dikejar, kita biasakan. Latih diri sendiri. Menulis, menulis, dan terus menulis. Tuli, tulis, dan tulis, pasti jadi tulisan. Pengetahuan, teori, dan pilahan menulis tidak penting?
Siapa bilang. Ya, pentinglah. Tapi, abaikan selagi menulis in action. Sebelum menulis, baca. Setelah menulis, baca. Yang utama, jangan sampai dijadikan penghambat, belenggu menulis. Fasih jalan karena ditempuh, bukan karena berteori. Emangnya Taufik Ismail di Fakultas Peternakan IPB Bogor, belajar teori menulis?
Semangat yang saya apungkan dalam ratusan tulisan dan beberapa buku dalam hal menulis, ya kepada menulisnya itu. Abaikan yang lain, utamakan menulis, kalau mau menulis, apalagi bermaksud menjadi penulis. Pada label yang agak keren buah pikir tentang menulis dilabeli, Ersis Writing Theory. Tandem katanya saya patenkan dalam kalimat, Menulis Tanpa Berguru.
Setidaknya gurui, ajari diri sendiri menulis. Eksperimen yang saya lakukan, walaupun belum valid, dalam sharing menulis, mengembirakan. Ideolagi yang saya usung, siapa yang mau belajar menulis, belajarkan saja diri sendiri. Jadilah guru sekaligus murid.
Dengan demikian, setelah berhasil membuang belenggu-belenggu menulis —ada yang bilang ini ala posmodernis— tulislah apa yang hendak ditulis, apa yang ada dipikiran. Tanpa dihadang aturan-aturan yang memusingkan, belenggu-belenggu menulis, menulis akan nyaman. Oh ya, untuk semua itu silahkan baca buku-buku saya atau unduh dari www.webersis.com.
Dalam pada itu, saya lagi geotol-getolnya menyebar virus menulis. Nah, satu hal penganjal, semakin banyak orang menulis, tentu membutuhkan media. Saya merasa bertangung jawab.
Jawabannya, disamping sharing menulis gratisan di dunia nyata atau maya, ya dalam bentuk berbagai lomba. Yang mengagetkan, pesertanya kog bisa begitu banyak. Heran saya. Syukuri saja. Pertanda, menulis memang disuka banyak orang.
Buku Menulis Mudah: Dari Babu Sampai Pak Dosen bagian dari gelombang besar tekad memasihkan menulis. Saya yakin, semakin banyak orang menulis itu pertanda baik bagi ‘peradaban’ kita ke depan. Entah iya entah tidak, mboh.
Akhirnya, kepada mereka yang tulisannya dimuat pada buku ini semoga menjadikan bahan pembakar semangat tambahan dalam menulis. Menulis apa saja, dimana saja, kapan saja, atau dalam bentuk apa pun.
Pada gilirannya, menulis bukan saja menjadi nyaman, nyaman menulis, tetapi … menulis menyamankan. Insya Allah.
Bagaimana menurut Sampeyan?
Banjarbaru, 20 April 2007
Ersis Warmansyah Abbas
Motivator Penulisan













3 Responses to “Nyaman Menulis Menyamankan Menulis”
By unai on Jan 15, 2008 | Reply
menulis membuang beban..bak melepaskan balon udara di genggaman ke udara..
***Perumpmaan yang pas
By Penulis on Jan 15, 2008 | Reply
Situs pertemanan makin banyak bertebaran di internet. Dari sekian banyak nama, friendster, adalah satu nama yang paling populer. Sebab, dari situs ini, kita bisa banyak mendapat teman, dan bahkan mencari teman yang sudah lama tidak berhubungan dengan kita. Situs pertemanan, bagi sebagian orang memang telah menjadi semacam media yang sangat menyenangkan. Selain bertemu teman, berkenalan, hingga saling mengirimkan undangan pertemuan, menjadikan media ini bukan sebatas media maya belaka.
Nah, bagi yang mempunyai hobi sama, situs pertemanan bisa jadi juga memberi kemudahan untuk saling bertukar informasi, Salah satu situs petemanan khusus satu hobi ini bisa ditemui di http://www.penulis-indonesia.com. Seperti namanya, situs pertemanan ini memang hendak mengumpulkan jaringan para penulis di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia.
Menulis, belakangan memang menjadi sebuah fenomena yang makin berkembang di Indonesia. Makin banyak bermunculan penulis berbakat di tanah air yang tak hanya berbicara di tingkat lokal. Sebab, ada pula yang telah berhasil di ranah internasional. Hebatnya lagi, penulis di Indonesia itu sangat variatif usia pegiatnya, dari anak kecil hingga usia dewasa.
Dengan situs pertemanan http://www.penulis-indonesia.com, para penulis ini hendak dikumpulkan dalam satu wadah pertemanan untuk saling dukung, saling dorong, saling bina, saling bantu, hingga suatu saat nanti, akan makin banyak penulis berkelas internasional di Indonesia. Tentunya, harapan ini bukan harapan kosong belaka. Sebab, hanya dengan kekuatan pertemanan dan relasi, kita bisa saling bantu menumbuhkembangkan dunia kepenulisan ini. Jadi, siap bergabung di http://www.penulis-indonesia.com?
By swartiningsih on Feb 8, 2008 | Reply
menurut saya nyaman menulis menyamankan menulis memang benar, namun dalam menulis agar nyaman, haruslah memiliki bahan tulis yang bervariasi dan maksimaldan tentunya fasilitas lain yang mendukung sehingga terasa nyaman dan tidak menjenuhkan
***Persis…