Mungkinkah Babu Menulis

13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

2.1 Mungkinkah Babu Menulis

BABU. Menulis itu tidak gampang. Bahkan sangat sulit. Hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berbakat saja. Atau … orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi.
 
Itulah jawaban dari beberapa orang yang sempat kudengar saat kutanya tentang menulis.  Memang sebagian besar orang beranggapan, menulis itu suatu kegiatan atau profesi yang tidak mudah.  Bahkan, sangat sulit. Tidak bisa dilakukan sembarang orang.  Atau dengan kata lain menulis hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berbakat, pintar, dan berpendidikan tinggi (saja).
 
Lalu, apa kata kebanyakan orang manakala mendengar  pembantu rumah tangga alias babu ingin menjadi penulis? Mereka akanmenggelengkan kepala. Nggak mungkin. Mana mungkin. Impossible.
 
Mereka akan tersenyum sinis. Harap maklum, masyarakat masih beranggapan,  pembantu rumah tangga adalah pekerjaan rendahan dan remeh. Apriori. Pembantu itu bodoh, norak, kampungan dan tidak berpendidikan. Jadi, mustahil bisa menulis.

Hujatan, Hinaan, dan Ejekan
 
Itulah kenyataan pahit yang harus kutelan. Padahal, aku berusaha keras mewujudkan impian menulis. Tidak muluk-muluk. Ingin belajar menulis, menuangkan ide-ide di kepala. Tidak lebih.
 
Senyum sinis, ejekan, cibiran, dan bahkan ada yang meludah saat aku bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) wilayah Hongkong. FLP lahir dan  berkembang di Indonesia dan telah menghasilkan penulis-penulis handal. Kebanyakan anggotanya pelajar dan mahasiswa.
 
Tetapi, lain halnya di FLP Hongkong. Anggotanya bukanlah pelajar atau Mahasiswa yang tengah menuntut ilmu, tetapi para tenaga kerja wanita (TKW) yang mengais rejeki di negeri Jacky Chan tersebut. Termasuk aku.
 
Alamaak, ketika mendatangi pejabat KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Hongkong mensosialisasikan organisasi kami ini, ditanggapi ‘seenaknya’. Sungguh diluar dugaan kami. ‘Sambal pedas’ KJRI, sungguh sangat pedas.
 
“ Hah… kalian ingin jadi penulis? Menulis apa? Daftar hutang?” kata salah seorang diantaranya.
 
“ Menulis bumbu masakan dan belanja harian kali” timpal yang lainnya diiringi gelak tawa.
 
Kata-kata tersebut bak topan dahsyat yang menghempasluruhkan benih-benih semangat kami yang baru bersemai. Heran. Kenapa orang selalu apriori dan memandang rendah profesi kami. Sehina itukah pekerjaan kami? Memandang kami hina, bodoh dan … selalu dibodohi (kalau yang terakhir ini tidak usah diperdebatkan).
  
Akan tetapi mereka lupa, babu juga manusia. Mempunyai otak dan dikaruniai pikiran. Faktor nasiblah yang membedakan. Kemiskinan menyebabkan kami tidak bisa bersekolah tinggi. Hingga, nasib mendamparkan menjadi babu.
 
Aku kecewa dan marah. Namun, tak lantas patah semangat. Kata-kata pedas itu kutanam dalam-dalam di benak sebagai ‘dendam postif’ dijadikan cambuk semangat menulis. Akan kubuktikan, akan kutunjukan pada dunia kalau aku bisa menulis.
 
Profesi boleh Kung Yan (pembantu). Tetapi, otak haruslah brilian seperti cendekiawan. Itulah kalimat yang menjadi motivasi dan penebar semangat. Meski tanpa bimbingan dan dukungan  siapa pun, aku keras menyalakan semangat menulis. Setiap dua minggu sekali, kami, babu-babu Indonesia ‘cabang’ Hongkong, memanfaatkan libur untuk pertemuan rutin. Membahas materi kepenulisan. Sharing pengalaman dan berdiskusi.
 
Kami hanyalah sekelompok perempuan yang punya semangat juang tinggi untuk menulis. Tidak lebih. Kami terpaksa, belajar menulis secara otodidak, seadanya. Mana pula, buku-buku tentang teori menulis tidak dijual di Hongkong. Dan, kami gaptek, gagap teknologi.
 
Jadi, bisa dibayangkan? Jangankan internet,  la wong yang namanya komputer saja nggak pernah pegang. Kalaupun sempat, hanya sekadar mengelap dan membersihkan punya majikan doang he he…
 
Tetapi, keterbatasan tidak menjadikan  semangat surut, apalagi minder. Aku menulis di buku untuk oret-oretan. Setelah diedit, diserahkan kepada tim pengurus FLP untuk dimuat dicetak bulletin. Setiap anggota diusahakan menghasilkan tulisan dalam bentuk apa pun. Puisi, cerpen, esai, opini, atau lainnya.
 
Karya anggota dikumpulkan dan dicetak menjadi buletin yang terbit setiap bulan.  Buletin dibedah bersama sehingga bisa melihat kekurangan dan kelebihan dari karya-karya kami. Dari diskusi dan sharing tersebut aku banyak mendapat masukan.
 
Disamping itu, aku belajar komputer kepada seorang teman memanfaatkan fasilitas komputer di perrpustakaan. Aku belajar mengetik dan internet. Waktunya sangat terbatas. Sebenarnya komputer di perpustakaan lebih dari seratus.  Akan tetapi yang ada program microsoft wordnya sekitar…. Di Hongkong tidak ada pula rental komputer. Warnet, hanya  untuk akses internet. Tidak ada program microsoft word. Jadi, mana mungkin untuk mengetik. Padahal waktu untuk mengetik hanya seminggu sekali, saat libur. Selebihnya, berkutat seabrek pekerjaan di rumah majikan.

Kerja Keras Yang Membuahkan Hasil

Alhamdulillah, setelah hampir setahun jatuh bangun, bak setangkai ilalang yang terinjak, terhina, terseok-seok, usahaku membuahkan hasil.  Asma Nadia datang ke Hongklong dan memuji tulisanku. Asma ke Hongkong, bertepatan dengan setahun berdirinya FLP Hongkong. Beliau terkejut.
 
Cerpen kami kumpulkan. Tiga bulan kemudian, antologi cerpen FLP Hongkong terbit. Tiga cerpenku di dalamnya. Disambut hangat. Helvy Tiana Rosa, Taufiq Ismail dan penulis beken lainnya memberi apresiasi. Menteri tenaga kerja, Fahmi Idris, memberi kata sambutan.
 
Rasa percaya diriku kian menebal. Mengikis habis minder yang selama ini membelenggu. Lebih punya nyali mempublikasikan tulisan di internet atau media masa. Tulisanku dimuat majalah Annida, majalah  Alia, The Brunei Times (Brunei Darussalam), Apa Kabar, Suara Indonesia, Tabloid Iqro’ (Hongkong).  Aku juga pernah menjadi kontributor freelance Suara Indonesia (Hongkong).
 
Disamping itu, cerpen, esai, dan puisiku ikut mejeng dibeberapa buku. Tercatat tujuh buku yang memuat tulisanku.
 
Itulah sepenggal kisah pahit saat memulai menulis. Somoga dijadikan motivasi bagi penulis pemula. Percayalah! Siapa pun dan apa pun pekerjaanmu, kamu pasti bisa menjadi penulis.  Amin.

  1. 4 Responses to “Mungkinkah Babu Menulis”

  2. By unai on Jan 15, 2008 | Reply

    wah bagus….hebat, yang begini ini memang layak publish :)

  3. By Mega on Jan 15, 2008 | Reply

    Tersentuh membacanya..ikut kagum..
    emang hidup itu enaknya pahitnya dulu yang dirasakan..karena akhirnya biasanya kebanyakan mendatangkan nikmat dan indah..
    selamat ya.

  4. By Penulis on Jan 15, 2008 | Reply

    Situs pertemanan makin banyak bertebaran di internet. Dari sekian banyak nama, friendster, adalah satu nama yang paling populer. Sebab, dari situs ini, kita bisa banyak mendapat teman, dan bahkan mencari teman yang sudah lama tidak berhubungan dengan kita. Situs pertemanan, bagi sebagian orang memang telah menjadi semacam media yang sangat menyenangkan. Selain bertemu teman, berkenalan, hingga saling mengirimkan undangan pertemuan, menjadikan media ini bukan sebatas media maya belaka.

    Nah, bagi yang mempunyai hobi sama, situs pertemanan bisa jadi juga memberi kemudahan untuk saling bertukar informasi, Salah satu situs petemanan khusus satu hobi ini bisa ditemui di http://www.penulis-indonesia.com. Seperti namanya, situs pertemanan ini memang hendak mengumpulkan jaringan para penulis di seluruh Indonesia yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

    Menulis, belakangan memang menjadi sebuah fenomena yang makin berkembang di Indonesia. Makin banyak bermunculan penulis berbakat di tanah air yang tak hanya berbicara di tingkat lokal. Sebab, ada pula yang telah berhasil di ranah internasional. Hebatnya lagi, penulis di Indonesia itu sangat variatif usia pegiatnya, dari anak kecil hingga usia dewasa.

    Dengan situs pertemanan http://www.penulis-indonesia.com, para penulis ini hendak dikumpulkan dalam satu wadah pertemanan untuk saling dukung, saling dorong, saling bina, saling bantu, hingga suatu saat nanti, akan makin banyak penulis berkelas internasional di Indonesia. Tentunya, harapan ini bukan harapan kosong belaka. Sebab, hanya dengan kekuatan pertemanan dan relasi, kita bisa saling bantu menumbuhkembangkan dunia kepenulisan ini. Jadi, siap bergabung di http://www.penulis-indonesia.com?

  5. By Genx on Jul 16, 2008 | Reply

    Betul menulis memang tidak gampang, karena hanya orang2 berbakat saja yang bisa melakukanya dengan baik, hanya sedikit org yg bisa menulis karena latihan,…tetapi untuk menjadi seorang penulis tidak harus berpendidikan tinggi, karena bakat itu bisa dimiliki setiap orang entah itu babu atau apa saja karena bakat adalah karunia Tuhan,…….

Post a Comment