Menulis karena Tertekan
13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |2.4 Menulis karena Tertekan
TERTEKAN. Awalnya saya kebingungan, kata apa yang dipakai untuk memulai tulisan. Setelah menemukannya pun, masih bingung, kata selanjutnya apa? Begitulah seorang penulis pemula. Berbeda dengan penulis mahir, dari kata apa pun bisa langsung menggoreskan pena.
Ketika memulai menulis, jujur saja, karena terpaksa. Ketika belum berpengalaman, ‘ditugaskan’ menjadi pemimpin redaksi buletin Hibah Yayasan Dapur Ummat Bogor. Mula-mula, kaget. Tapi, saya pikir, tidak ada alasan untuk tidak menerima amanah tersebut. Ini tantangan.
Konsekuensinya, mau tidak mau harus menulis demi terbitnya buletin. Saya belajar menulis serius justru ketika menjadi pemimpin redaksi. Saya pikir, tidak ada yang tidak bisa kalau mau belajar.
Memang, ketika masih di SMA, guru mata pelajaran Bahasa Indonesia sering memberi tugas menulis cerpen atau berita. Namun, kondisinya sekarang berbeda. Kalau dulu hanya dibaca oleh guru bahasa Indonesia saja, kini puluhan, bahkan ratusan orang membaca dan akan menilainya.
Empat hari sebelum buletin terbit, saya belum tahu apa yang harus ditulis. Hari itu pengurus yayasan bertanya: “Bagaimana Abdul, tulisannya sudah selesai?” Saya kaget dan gelagapan. Tapi untuk menjaga harga diri dengan percaya diri menjawab: “Jum’at siap terbit”. Padahal dalam hati bergumam: “Boro-boro terbit, menulis sepatah kata saja belum”.
Solusinya, hari itu juga saya cari-cari referensi dan baca-baca buku. Hari berikutnya mulai menulis meskipun terasa berat. Tetapi akhirnya tulisan selesai. Langsung menghubungi percetakan. Hari kamis buletin sudah jadi dan Jum’at diedarkan.
Alhamdulillah. Buletin beredar. Lega rasanya meskipun saya tidak tahu, orang tertarik atau tidak. Yang penting, sudah terbit untuk bulan ini dan tinggal untuk bulan berikutnya.
Tekanan, terkadang diperlukan untuk memotivasi seseorang dalam bidang apa pun. Sebagai contoh, karena tekanan atau keterbatasan ekonomi,seseorang berjuang keras untuk merubah kehidupannya sehingga menjadi sukses. Tekanan tersebut yang menjadi pendorong menuju keberhasilan. Begitu pula dalam bidang tulis-menulis.
Banyak contoh mahasiswa yang enggan untuk menulis tetapi ketika diberikan tugas oleh dosen untuk membuat makalah, mau tidak mau harus menyelesaikan tugas tersebut tepat waktu. Kalau tidak ‘dipaksa’ dosennya, manalah mungkin mereka mau. Dengan kata lain, karena tekanan itulah mereka mau dan mampu menulis.
Menulis memang tingkatan intelektual yang ‘tinggi’. Setelah melihat, mendengarkan, membaca, dan memikirkan, barulah kita menulis. Dan, untuk sampai kepada menulis yang baik, memang diperlukan latihan dan kerja keras agar dapat menghasilkan sebuah karya tulis dapat dinikmati banyak orang.
Berangkat dari hal itu, saya terus mencoba untuk menulis. Setiap hari meluangkan waktu untuk menulis, dan menulis, demi menghasilkan karya yang bermanfaat. Terus belajar, mengasah kemampuan menulis.
Bak kata pepatah: Harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan karya yang dikenang terus sepanjang zaman”.
Marilah terus berkarya! dan berkarya!










One Response to “Menulis karena Tertekan”
By Abdul mutholib on Feb 15, 2008 | Reply
Ass. mohon maaf telat. Alhamdulillah tulisan saya masuk kategori makasih mas semakin semangat menulis! Abdul Mutholib, bogor, 6 September 1983. Bogor. Wass