Ingin Seusia Dunia

13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |

3.2 Ingin Seusia Dunia

AKU lahir 24 tahun lalu. Tidak memperlihatkan keistimewaan; bakat, minat bahkan prestasi. Hanya sibuk di dunia bersosialisasi, ya halusnya, keranjingan bermain. Bermain adalah dunia sosialisasi tingkat awal, dunia kanak-kanak.
 
Terlena dengan dunia bermain berimbas pada proses pembelajaran di Sekolah Dasar hingga memasuki perkuliahan. Tepat satu tahun sebelum beranjak ke bangku kelas tiga SMA aku kejenuhan  atas semua kebiasaan yang tidak memberi pengaruh secara intelegensi, spiritual, dan emosi dan akhirnya terpikir untuk merubah semuanya.
 
Telat. Tidak lulus sebagai mahasiswa melalui jalur PMDK, dan SPMB. Mengurus pendaftaran di IPDN saja tidak becus. Hah…
   ***
 
Tahun 2002, aku harus mengawali semua dengan sungguh-sungguh, walau tidak ada satu pun ilmu yang dapat dibanggakan. Matematika? Tidak. Bahasa? Tidak juga. Aku harus berprestasi! Tapi dengan cara apa? Yang jelas, semua ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi swasta dinikmati dan berharap dapat berguna untuk masyarakat luas.
 
Siang itu terik, bulir keringat deras keluar dari sekujur tubuh ini. Terik matahari membakar mengiringi kayuhan sepeda. Tak terlintas ingin terhenti di tengah perjalanan. “Yah inilah yang akan membawaku menuju prestasi nyata. Ya, kalimat yang selalu menyemangati, menguji imaji ilmu dan keterampilan komputer di kampus tersebut.
 
Untuk dapat mencetak prestasi jelas siapa pun perlu mempunyai komunitas yang mendukung. Manusia adalah makhluk zoon politicon, penjelasan teoris di pelajaran sosiologi SMA dulu. Akhirnya di tahun pertama, sebagai pijakan dasar mengukir prestasi, aku ikut serta dalam Kesatuan Amal Mahsiswa Islam, dengan singkatan KAMIL. Bergerak di dalam bidang nilai-nilai religius dan teknologi.
 
Lulus dengan predikat istimewa, tidak membuatku bangga. Belum ada prestasi yang perlu dibanggakan. Lalu, mencoba tes SPMB di perguruan tinggi negeri bergengsi. Lulus, Alhamdulillah.
   ***
 
Seusai kuliah di sekolah tinggi swasta, aku melanjutkan di Teknik Elektro di PTN di Kota Mataram. Melalui Kelompok Studi Islam (KSI) As Siroj aku mengawali aktivitas merangkai kata, menyusun kalimat bermakna. Di tahun pertama, ternyata menentukan arah perjalanan kreatifitas menulisku, mengambil arah penulisan pada tulisan ilmiah.
 
Bermula dari kajian politik di tiap tulisan yang kuterbitkan untuk mading As -Siroj, berlanjut hingga ada pengumunan Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) tingkat nasional di dinding Lembaga Dakwah Kampus (LDK) kampus, aku ingin sekali mengikutinya.
Rusydi Hikmawan
3.2 Ingin Seusia Dunia 

Dengan membaca referensi di perpustakaan fakultas, kampus, dan internet, akhirnya aku mulai menulis. Menentukan tema besar, tema kecil, objek tulisan yang lebih sempit, judul, dan yang terakhir kerangka tulisan. Lalu, menjabarkan menjadi tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan, tak di sangka ternyata lomba karya tulis yang di adakan PT PLN Persero wilayah NTB ini menetapkan juara kedua jatuh pada nama ku. Masya Allah.
 
Starting point dalam dunia penulisan telah dimulai. Aku lebih giat menulis. Prestasi terakhirku, juara pertama dalam Essay Youth Competition, Konsulat Jenderal Australia-Bali, Juni 2007.
   ***
Menulis gampang-gampang susah, dibutuhkan kemampuan baca ekstra. Ekstra kuantitas, ekstra kualitas, dan ekstra waktu untuk membaca. Membaca adalah gerbang awal dunia penulisan.
 
Taufik Ismail, mengawali proses kreatif sastranya sebagai sekretaris wilayah dan sebagai penjaga perpustakaan organisasi ditempatnya aktif. Dia banyak waktu untuk membaca. Habiburrahman El Sirazy penulis Ayat-Ayat Cinta-nya, mengawali karir dari komunitas sastra yang digelutinya dan kerja kerasnya di dalam ruko yang disewanya.
 
Dunia tulis menulis adalah pilihan. Penulisnyalah yang menentukan arah tulisannya. Dengan menulis, penulis akan dikenang selama tulisannya dibaca umat manusia. Artinya melalui tulisan, penulis mampu melebihi usianya; mejadi penduduk bumi secara maknawi. Wa’Allahu ‘alam.

Post a Comment