Hujatan yang Mujarab
13 January 2008 | Ditulis oleh: EWA |2.3 Hujatan yang Mujarab
MENDENGAR kata menulis, tidak semua orang bisa menjelaskan bagaimana sebuah tulisan itu bisa bernilai bahkan bisa membuat suatu hal yang buruk atau yang luar biasa. Benar saja, menulis telah kita kenal sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Kita mengenal yang namanya mengarang. Tapi cukup menjadi jaminan untuk menjadi penulis?
Aku mengenal dunia tulisan sejak duduk di bangku kelas 3 SMA. Tulisan pertamaku adalah sebuah puisi. Alhamdulillah, guruku mengatakan, puisiku ‘terlalu berlebihan’. Artinya, tidak pantas dikonsumsi publik. Tidak puas, kuperlihatkan kepada teman. “Wah Din, kalau seperti ini, kasihan kertasnya. Kalau kertas bisa ngomong pasti akan tertawa, ha … ha … haa …”
Sakit. Sedih. Geram. Perasaan tidak mengenakkan bergelut di dadaku. Sejak itu aku menulis untuk diriku sendiri.
Setelah kuliah, ketika jenuh, ada rasa hampa, keinginan untuk mengungkapkannya melalui tulisan kembali berkecamuk. Tatkala berbaring di sebuah kasur, dengan ukuran ruangan yang 2,5 kali 2,5 meter, ide-ide menulis mengalir. Pernah, dalam waktu singkat sebuah esai selesai. Wah, kataku membatin, bagus ini tulisan.
Keesokan harinya, dengan percaya diri, kulangkahkan kaki ke kampus. Di depan gerbang kampus seorang teman sedang melamun sambil menikmati sebatang rokok. Kudekati sembari menyodorkan tulisanku. “Din ini tulisan anak SD,”. Brakk, brakkk, brakkk sebuah tamparan yang keras menghujani hatiku.
Alangkah terkejutnya aku mendengar kata SD. Lagi–lagi kekecewaan yang cukup mendalam kuhadapi, hingga rasa enggan dan malas belajar menjalar begitu cepat ibarat sebuah sengatan listrik 5000 watt.
Sejak kejadian itu, tulisanku tidak pernah lagi kuperlihatkan kepada teman-teman. Apakah tulisan ku sejelek itu? Apakah tulisanku memang tidak berbobot? Ataukah diriku yang memang tak punya bakat menulis? Pertanyaan tersebut bermain di alam pikiran. Jeritan hati yang hanya pikiran saja yang bisa mengerti menjadi buih hitam yang menutup sel darah otakku.
Dua tahun berlalu, saat seorang sahabat karib mendapatkan seorang pacar. Dia sangat suka puisi. Dengan memaksa, meminta puisiku. Seyum simpulnya diakhiri dengan: “Bang, sejak kapan Abang menulis?”. Dari sekian banyak orang yang membaca tulisanku hanya dia yang balik tanya.
Aku baru sadar, tulisan yang kugoreskan buku sebuah buku lusuh; berisikan getir hidup di tanah perantauan. Perjuangan yang berat. Akhirnya, ada yang mersepon.
“Kenapa Bang Didin tidak bawa saja tulisan ini ke penerbit atau ke surat kabar saja ”. Tanpa dikomando, otak bekerja: “Ejekan atau motivasi?”.
Saran tersebut selalu terngiang–ngiang di telinga, menggema di rongga dada, menyatu di aliran darah. Penasaran, kuperlihatkan pada seorang dosen. Katanya, layak diterbitkan sebagai sebuah kisah; potret kehidupan nyata, apa adanya.
Mimpi, dan terus bermimpi, hingga sekarang, sampai buku itu hilang. Tulisan–tulisan itu telah melebur dalam dosa seseorang yang mencurinya.
Setelah selesai kuliah, tanpa menunggu lama aku bekerja sebagai reporter sebuah media cetak. Sebagai wartawan baru aku mendapat kepercayaan menjadi hunting menggali berita hingga tuntas. Hal ini berlangsung selama tujuh bulan sebelum dipindahkan ke dibagian lain.
Bukan berarti bodoh, bukan berarti tak layak, bukan berarti narsis, bukan sebuah kesombongan, namun karena pengalamanku kini mebawaku menjadi seorang penulis, seorang wartawan. Semua karena menulis, karena pernah dihujat, hujatan yang mujarab.








